Friday, 21 June 2013

Sinopsis I Hear Your Voice Episode 1 (Bagian 2)

shot0437

[Sinopsis Bagian 1 klik di sini]

Sekolah Hye Sung menganggap Hye Sung mengundurkan diri. Ini lebih baik untuk sekolah dan Hye Sung. Jika Hye Sung tidak menulis surat mengundurkan diri, maka Hye Sung akan dianggap dikeluarkan (DO) dari sekolah.

Saat Hye Sung pulang, ibunya telah mengangkut semua barang mereka ke truk. Seorang pegawai menyerahkan uang santunan dari Hakim Seo pada ibu Hye Sung. Hye Sung yang melihat itu langsung mencegahnya.

“Jangan terima. Jika Ibu percaya padaku, jangan terima uang itu.”

shot0331 shot0333

Pegawai itu menganjurkan agar ibu Hye Sung menerimanya. Sepertinya ia percaya Hye Sung tidak melakukannya, tapi tetap saja mereka membutuhkan uang. Hye Sung memohon agar ibunya tidak menerima uang itu. Tapi ibunya mengambil uang itu.

“Apa ibu tidak memiliki perasaan? Ibu tidak marah? Hari ini aku dikeluarkan dari sekolah. Aku tidak melakukan apa-apa tapi aku dikeluarkan dari sekolah.”

Ibu Hye Sung tidak mengatakan apapun dan membuka pintu truk. Hye Sung berkata ia tidak mau naik. Sampai ibunya mengembalikan uang itu, ia tidak akan bergeser dari tempat itu.

shot0334 shot0339

“Kalau begitu kau jalan saja,” ujar ibunya. Ia masuk ke dalam truk lalu pergi meninggalkan Hye Sung sendirian.

Hye Sung terkejut. Dari balkon rumah, Hakim Seo melihat peristiwa itu.

shot0346 shot0350

Ibu Hye Sung tiba di tempat baru. Ia menatap poster Hakim Seo yang tertempel di sebuah kedai dan melihat amplop uang yang dipegangnya.

shot0352 shot0354

Hingga malam hari, Hye Sung tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Hakim Seo keluar dari rumah lalu berjalan menghampirinya. Ia bertanya sampai kapan Hye Sung akan berdiri di situ.

“Berapa banyak yang Bapak beri pada ibuku sebagai santunannya? Seratus ribu won? Sejuta? Aku tidak tahu berapa jumlahnya, tapi itu adalah kompensasi karena hati nurani Bapak. Bapak memberikannya karena merasa bersalah. Bapak ragu aku pelakunya karena itu Bapak memberikan uang itu. Benar, kan?”

“Aku memberikan uang itu untuk menguji ibumu. Apakah ia benar-benar mempercayai puterinya atau tidak. Jika ia percaya padamu, ia tidak akan mengambil uang itu. Bahkan ibumu tidak percaya puterinya sendiri, bagaimana aku bisa percaya padamu?” tanya Hakim Seo.

shot0359 shot0373

Tapi ia melihat pemandangan yang aneh di depan rumahnya. Ibu Hye Sung menumpuk buku-buku lalu membakar uang pemberian Hakim Seo dan membakar semua buku itu.

Hakim Seo dan Hye Sung terkejut. Hakim Seo melihat buku-buku yang dibakar adalah buku-buku yang ia tulis.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

shot0380 shot0385

“Menginteropeksi diri membuat hati terasa hangat. Aku tidak menyadarinya ketika aku membaca semua buku itu. Tapi sekarang aku setelah aku membakar buku-buku itu, aku bisa merasakan kehangatannya.”

“Aku tanya apa yang kau lakukan?” seru Hakim Seo marah.

“Anda tidak mendengar kata-kataku jadi aku menunjukkannya pada Anda. Puteriku tidak melakukan apapun. Ia dikeluarkan dari sekolah dengan tidak adil. Puteriku yang benar dan Anda yang seharusnya interopeksi diri!!”

Hye Sung terharu melihat sikap ibunya.

shot0390 shot0395

“Karena itu aku melakukan hal ini. Melihat reaksi Anda, sepertinya Anda mengerti maksudku. Hanya itu yang kuperlukan. Hye Sung, ayo kita pergi.”

Hakim Seo tidak bisa berkata-kata, sementara Hye Sung dan ibunya pergi dengan penuh percaya diri dari sana.

shot0401 shot0406

Tapi begitu mereka tak terlihat dari umah keluarga Seo, ibu Hye Sung melorot lemas. Ia bertanya apa aktingnya terlihat betulan.

“Hah? Jadi tadi ibu hanya berakting?”

“Tunggu sebentar, apa tadi aku sudah mengatakan semuanya. Sepertinya ada yang kelupaan,” Ibu Hye Sung melihat contekan di tangannya. Haha…like mother like daughter^^

“Anda tidak menyelamatkan orang dengan hukum, Anda membuat mereka menangis. Aku terlupa bagian ini padahal ini bagian yang terkeren,” keluh ibu Hye Sung.

shot0412 shot0418

“Ibu, ibu benar-benar percaya padaku,” Hye Sung memeluk ibunya.

“Anak ini…sudah kubilang aku percaya padamu,” ibunya menggetok kepala Hye Sung dengan gemas.

“Sudah kubilang jangan jitak kepalaku lagi,” Hye Sung mengambil tangan ibunya untuk mengelus kepalanya. “Aku harus menggunakan kepalaku untuk mengikuti ujian-ujian., pergi kuliah, dan menghasilkan uang. Ini adalah sumber uang kita mulai sekarang. Jadi jangan pukul lagi.” Cute^^

Ibunya tersenyum lalu tidak menjitak Hye Sung lagi tapi malah membenturkan kepalanya dengan sayang pada kepala Hye Sung. Keduanya tertawa.

shot0422 shot0427

Hye Sung menanti Do Yeon pulang sekolah dengan membawa sebatang kembang api. Do Yeon berjalan mundur ketakutan begitu melihat Hye Sung menghampirinya dengan kembang api dan pemantik di tangan. Heh, kalo ada salah pasti takut ~,~

shot0451shot0452

Hye Sung menyalakan kembang apinya. Do Yeon langsung merunduk dan berteriak ketakutan. Hye Sung menembakkan kembang api ke udara.

“Kau, benarkah kau melihatku menembakkan kembang api padamu?” tanya Hye Sung. “Kau tidak melihatnya, kan?” 

“Aku melihatnya! Aku benar-benar melihatnya!,” Do Yeon tetap berbohong. Sebenarnya ia tidak tahu pelaku sebenarnya tapi ia juga telah berbohong dengan mengatakan melihat Hye Sung melakukannya.

shot0460shot0466

“Jika kau memang melihatnya, mengapa waktu itu kau diam saja? Jika kau memang melihatnya, kau seharusnya menghindar seperti barusan.”

Do Yeon tergagap, “I…itu…”

Hye Sung tersenyum. Do Yeon pasti tidak mengetahui kalau ia sepintar itu kan.

“Kau tidak melihatnya. Mengapa kau masih berbohong seperti seorang pengecut?” Hye Sung mengembalikan kata-kata Do Yeon di rumah sakit.

Do Yeon bangkit berdiri dengan marah. Ia mengaku ia tidak melihat tapi ia yakin Hye Sung pelakunya, karena itu ia berbohong agar Hye Sung ketahuan berbohong. Heh?

Hye Sung mengajak Do Yeon memberitahu orangtuanya kalau ia telah berbohong. Tapi Do Yeon tidak mau. Ia bersikeras Hye Sung memang pelakunya dan ia ingin Hye Sung dihukum.

shot0482 shot0483

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara benturan keras seperti kendaraan bertabrakan. Mereka berlari ke jalan. Dan apa yang dilihat mereka betul-betul mengerikan.

shot0488 shot0491

Seorang pria berdiri di kap mobil dan membunuh pengemudi mobil dengan tongkat besi. Mereka juga mendengar suara tangisan anak kecil dari mobil itu. Lalu mereka melihat pelaku turun dari kap mobil lalu membuka pintu mobil. Siap untuk membunuh Su Ha kecil. 

Do Yeon berbisik anak itu akan dibunuh. Dengan gemetar Hye Sung mengeluarkan ponselnya. Ia mengarahkan kamera pnselnya pada peristiwa di depannya.

Pelaku mengayunkan tongkat besinya. Aaaaack >,<

shot0503shot0504

“Smile!! Jepret!” Bunyi kamera memotret.

Pelaku menoleh mencari suara itu. Hye Sung dan Do Yeon terpaku. Do Yeon yang lebih dulu mengambil langkah seribu. Pelaku berjalan ke arah Hye Sung. Lari!!!

shot0510 shot0515

Hye Sung hendak lari, tapi ia bimbang dengan keselamatan anak kecil di dalam mobil. Pelaku berlari mengejar, Hye Sung tidak punya pilihan lain selain berlari menyelamatkan diri.

Ia dan Do Yeon bersembunyi di balik semak-semak. Pelaku berteriak marah lalu memukul-mukulkan tongkat besinya ke semak-semak agar Do Yeon dan Hye Sung keluar dari persembunyian mereka.

shot0519 shot0520

Hye Sung dan Do Yeon gemetar merunduk ketakutan dan berusaha untuk tidak bersuara. Mereka mendengar pelaku menyeret tongkat besi berjalan menjauh dari tempat persembunyian mereka.

Hiks…tiba-tiba Do Yeon cegukan. Pelaku mendengar! Ia berbalik dan menuju ke arah suara cegukan. Hye Sung buru-buru menutup mulut Do Yeon. Keduanya semakin takut. Pelaku mengacungkan tongkat besinya.

shot0532 shot0537

Dari jauh terdengar suara sirene polisi mendekat. Pelaku terlihat kesal.

“Jika bukan karena anak-anak itu, aku pasti sudah menyelesaikannya,” gumamnya.

Ia berseru pada Do Yeon dan Hye Sung yang masih bersembunyi.

“Kalian bisa mendengarku, kan? Karena kalian tidak jauh, kalian pasti mendengarku. Kalian melihatku, kan? Kalian tahu mengapa aku membunuh pria itu? Karena ia berurusan dengan orang yang salah. Ia mengatakan apa yang ia inginkan dan karena itu aku membunuhnya. Jika kalian ingin hidup, tutup mulut kalian. Maka tidak ada yang akan terjadi. Jika tidak saksi, peristiwa itu hanya menjadi kecelakaan mobil biasa. Jika kalian menemui polisi dan mengatakan pada mereka kalian melihatku dan berkata itu adalah pembunuhan, kalian akan mengalami nasib yang sama dengan pria itu. Jika kalia memberitahu orangtua kalian, aku juga akan melakukan hal yang sama pada mereka. Jadi agar aku tak membunuh kalian, kalian harus menolongku. Ya?”

Ia kembali memukulkan tongkat besinya ke semak-semak. Hye Sung dan Do Yeon memejamkan mata mereka rapat-rapat.

“Tetaplah bersembunyi seperti sekarang. Jangan pernah muncul dan mengatakan apapun. Atau aku akan membunuh kalian dan orang-orang yang kalian beritahu. Jadi, bersembunyilah seumur hidup kalian agar aku tak mendengar dan melihat apapun. Tetaplah bersembunyi.”

Lalu pelaku itu pergi sambil menyeret tongkat besinya.

shot0562 shot0564

Peristiwa itu segera menjadi berita. Su Ha berhasil diselamatkan. Supir truk (yang sebenarnya pelaku pembunuhan) diamankan oleh polisi. Ia mengaku kalau kejadian itu kecelakaan dan berkata ayah Su Ha mengemudikan mobil dengan kencang saat melewati persimpangan.

Tapi banyak yang menduga peristiwa ini adalah peristiwa pembunuhan, bukan hanya kecelakaan. Tapi tidak ada saksi maupun bukti. Seandainya anak kecil yang selamat bersaksi, belum tentu kesaksiannya bisa diterima sidang. Hye Sung mendengar perbincangan itu. Jika tidak ada saksi, maka kejadian itu hanya akan dianggap kecelakaan.

shot0576 shot0574

Hye Sung kembali teringat pada anak kecil yang ia lihat di mobil. Bagaimana pandangan memohon anak itu. Tapi di sisi lain, ia juga ingat ancaman di pembunuh. Ia sendiri sekarang hidup dalam ketakutan. Saat berada di tempat umum ia mengenakan topi lebar untuk menutupi wajahnya, seakan-akan takut bertemu lagi dengan si pembunuh.

Hal yang sama terjadi pada Do Yeon. Hye Sung memergokinya bersembunyi di balik pohon dan celingak-celinguk seakan bersembunyi dari seseorang.

shot0587 shot0589

“Apa yang kaulakukan bersembunyi di sini?” Hye Sung. “Begitu mencurigakan.”

Do Yeon membantah ia sedang bersembunyi. Ia ingin melihat nomor telepon di televisi untuk melaporkan si pembunuh ke polisi.

“Kau akan mengatakan pada mereka kalau kau saksinya?” tanya Hye Sung terkejut.

“Tentu saja,” ujar Do Yeon berusaha terlihat meyakinkan. “Memangnya kau tidak?”

Tidak mau kalah, Hye Sung berkata ia juga hendak menelepon polisi dan mengaku ia adalah saksi peristiwa itu.

“Kau bohong lagi,” ujar Do Yeon sambil tertawa meremehkan.

“Kau yang berbohong. Kau memfitnah orang yang tidak bersalah. Aku tidak pernah berbohong. Tidak satu kali pun.”

Do Yeon menantang Hye Sung membuktikan ucapannya tadi dengan menjadi saksi di persidangan. Dengan begitu ia tidak akan lagi menyebut Hye Sung pembohong. Hye Sung terdiam.

shot0598 shot0603

“Kenapa? Kau tidak bisa?” ledek Do Yeon.

“Tidak, aku akan melakukannya. Tapi kau juga harus menjadi saksi. Kau bilang kau akan menjadi saksi. Jika kau tidak berbohong, datanglah ke persidangan.”

“Baik, aku akan pergi. Aku memang akan melakukannya,” ujar Do Yeon.

Keduanya berpisah dan berjalan ke arah berlawanan. Begitu Do Yeon tidak terlihat, Hye Sung mengacak-acak rambutnya. Menyesali apa yang baru saja ia katakan pada Do Yeon tadi.

shot0630 shot0633

Ibu sibuk mengupasi bawang. Haha…cara ibu Hye Sung mengupas bawang patut dicoba tuh. Pakai kacamata selam supaya mata ngga perih XD

Hye Sung tidak bisa berkonsentrasi. Ia teringat pada omongan besarnya tadi dan menutup matanya karena frustrasi.

“Ibu, Miss Korea yang lebih cantik atau aku yang lebih cantik?”

“Tentu saja Miss Korea.”

“Itulah masalah ibu. Terlalu jujur. Kalau begitu, Do Yeon yang lebih cantik atau aku.”

shot0640 shot0647

Ibu Hye Sung menoleh melihat puterinya sekilas. “Yah…Do Yeon yang lebih cantik. Tapi jangan khawatir. Hasilkanlah banyak uang lalu operasi matamu ini. Mereka akan terlihat cantik.”

“Jika begitu mengapa Ibu memihakku dan tidak memihaknya? Apa karena aku anak Ibu?” ujar Hye Sung kesal.

Dan Hye Sung pun kembali dijitak oleh ibunya.

shot0656 shot0660

Hari persidangan. Hye Sung berdiri di hadapan gedung yang tinggi dan megah itu. Kata-kata ibunya terngiang di kepalanya.

“Aku tidak memihakmu karena kau puteri ibu. Tapi karena kau menangis. Seperti ayahmu.”

Hye Sung melangkahkan kakinya menuju pintu gedung pengadilan.

shot0666 shot0670

Persidangan dipimpin tak lain tak bukan oleh Hakim Seo, ayah Deo Yeon. Su Ha hadir di persidangan, matanya tak lepas dari si pembunuh. Si pembunuh melirik Su Ha lalu bersikap seakan tak mengenal Su Ha.

Hye Sung masih ragu untuk masuk ke dalam lift. Do Yeon tiba.

“Kukira kau tidak akan datang,” ujar Do Yeon. “Mengapa kau masih mengenakan pakaian seragam? Bukankah kau sudah keluar sekolah?”

“Kurasa aku tidak keluar,” sahut Hye Sung.

 shot0676shot0682 

Walau keduanya berusaha tampak berani, namun keduanya sangat gugup dan takut. Mereka berdiri di depan ruang persidangan. Masing-masing menuju pintu masuk kiri dan kanan ruang persidangan.

Hye Sung mengulurkan tangannya ke pegangan pintu. Mendadak kata-kata ancaman si pembunuh kembali terngiang di pikirannya. Demikian juga Do Yeon. Tangannya gemetar meraih gagang pintu. Keduanya tidak sanggup membuka pintu dan berbalik membelakangi pintu.

 shot0690 shot0698

“Mengapa kau tidak masuk?” tanya Hye Sung.

“Bagaimana denganmu?” Do Yeon balik bertanya. “Mengapa kau tidak masuk?”

“Kita masuk sama-sama,” usul Hye Sung. “Saat aku katakan: tiga, kita masuk sama-sama.”

Do Yeon setuju. Keduanya memegang gagang pintu di belakang mereka.

“1…2….3!”

Satu dari mereka membuka pintu. Satunya lagi melepaskan tangannya dari gagang pintu dan tidak jadi masuk.

shot0699 shot0703

“Jadi siapa yang masuk?” tanya Hakim Kim penasaran.

Hye Sung melihat puas melihat Hakim Kim begitu penasaran.

“Ceritaku hanya sampai di sini,” katanya. Huuuuu…..penonton kecewa >,<

“Mengapa!!” protes Hakim Kim, tanpa sadar ia telah berteriak. Mengapa Hye Sung tidak melanjutkan ceritanya?

shot0705 shot0704

“Aku harus jujur saat berada di kursi ini. Tapi jika aku mengatakan yang sebenarnya, aku tidak merasa akan membantuku mendapatkan pekerjaan ini.”

Hye Sung memperhatikan reaksi ketiga pewawancara di depannya. Yang satu berpendapat Hye Sung pasti tidak masuk, yang satu lagi berpendapat sebaliknya.

“Satu-satunya yang aku yakin adalah aku masih menyesali keputusanku hari itu hingga saat ini. Dan aku tidak akan ingin membuat keputusan seperti itu lagi. Itulah sebabnya aku di sini,” kata Hye Sung.

shot0715 shot0720

Su Ha berjalan pulang sekolah. Ia melihat Hye Sung di seberang jalan. Su Ha berlari mengejarnya menerobos lamu merah pejalan kaki. Hanya saja ia kehilangan jejak Hye Sung. Su Ha nampak kecewa.

shot0724 shot0726

Ia duduk sendirian di tempat ia berlatih karate sambil menulis diarinya. Ingatannya kembali pada waktu setelah kecelakaan itu terjadi. Dokter memeriksanya di rumah sakit. Karena trauma, saat itu Su Ha tidak bisa berbicara.

Karena tidak ada saksi dan Su Ha juga tidak bisa menceritakan peristiwa malam itu, terpaksa polisi berkesimpulan peristiwa itu adalah sebuah kecelakaan. Bahwa ayah Su Ha tertidur saat mengemudi. Sigh….emangnya ngga ada CSI ya? Emangnya luka tabrakan sama luka dipukulin tongkat besi bisa sama?

Su Ha menulis sesuatu di kertas lalu berusaha bersuara untuk menarik perhatian polisi. Polisi melihat tulisannya.

“Pengemudi truk membunuh ayahmu?”

Su Ha mengangguk.

“Jadi ini bukan kecelakaan tapi kasus pembunuhan?”

Su Ha kembali mengangguk. Tapi sayangnya mayat ayah Su Ha sudah dikremasi hingga tidak bisa diotopsi lagi. Polisi ragu untuk mempercayai seorang anak kecil yang kepalanya terluka. Kasus ini hanya bisa selesai hanya jika ada saksi yang berbicara. Su Ha sangat kecewa.

shot0729 shot0734

Si pembunuh bersikeras di persidangan kalau itu adalah kecelakaan dan bukan pembunuhan. Ia berkata ia memecahkan kaca mobil untuk menyelamatkan ayah Su Ha. Tapi setelah kacanya pecah ternyata ayah Su Ha sudah tiada. Su Ha menatap pembunuh ayahnya dengan penuh kemarahan. Si pembunuh berkata Su Ha sepertinya salah paham padanya.

Pembela mengatakan Su Ha masih terlalu kecil untuk menangkap situasi saat itu. Sulit untuk memutuskan kasus ini hanya berdasarkan ucapan seorang anak kecil yang terluka. Para Hakim mengangguk setuju.

shot0759 shot0757

Si pembunuh menunjukkan wajah memelas. Tapi begitu melirik Su Ha, lirikannya adalah lirikan membunuh.

“Anak kecil, kelihatannya para idiot di ruangan ini berpihak padaku.”

Hakim Seo menanyakan kondisi dan kemampuan Su Ha berkomunikasi. Penuntut berkata otak Su Ha baik-baik saja menurut para dokter.

Tiba-tiba Su Ha berdiri dan menunjukkan tulisannya. Hakim Seo menyuruh seseorang membacakan tulisan Su Ha. Perawat berdiri membacakan.

“Kelihatannya para idiot di sini berpihak padaku. Itulah yang dipikirkan terdakwa.”

shot0763shot0766

Si pembunuh kaget.

“Aku bisa membaca pikiran orang lain,” perawat kembali membaca tulisan Su Ha.

Pembela tersenyum menang. Penuntut garuk-garuk kepala. Sementara para hakim tersenyum geli. 

“Kalian lihat kan? Ia bahkan mengatakan kebohongan yang tidak mungkin. Bisakah penyataan anak ini menjadi bukti akurat?” kata pembela.

shot0774shot0780

“Mengapa semua orang ikut campur. Semua ini sia-sia saja,” keluh penuntut dalam hatinya.

“Aku tidak tahu bagaimana anak sepertimu bisa membaca pikiranku, tapi terima kasih. Aku selamat berkat dirimu,” batin si pembunuh sambil menatap Su Ha. “Jangan mengharapkan saksi karena aku telah mengatakan pada mereka bahwa aku akan membunuh mereka jika mereka berani datang.”

Su Ha menangis keras sambil memegangi kepalanya.

shot0788 shot0790

Tiba-tiba seseorang masuk ke ruang sidang. Hye Sung!! Yeaaaaay^^

Ia terkejut saat menyadari Do Yeon tidak ikut masuk.

Hakim Seo bertanya ada apa. Hye Sung terbelalak melihat si pembunuh di kursi terdakwa. Ia lalu melihat Su Ha. Ia teringat pada anak kecil yang terluka parah di mobil. Hye Sung menggelengkan kepalanya.

“Aku adalah saksi untuk kasus pembunuhan ini,” ujarnya tegas. “Namaku Jang Hye Sung.”

shot0792 shot0794

Si pembunuh kaget. Hye Sung berkata ia ada di tempat kejadian dan menyaksikannya.

“Pria itu….memukul kepala pengemudi mobil dengan tongkat besi. Ia juga menyuruh kami tutup mulut. Ia juga berkata pria itu mati karena berbicara terlalu banyak,” ujar Hye Sung. Awalanya ia mundur ketakutan. Tapi seiring dengan kata-kata yang keluar, ia semakin berani.

“Anak kecil, benarkah orang ini saksinya?” tanya Hakim Seo.

Su Ha mengangguk cepat.

 shot0811 shot0823

Hakim bertanya apa supir truk melihat Hye Sung di sana. Supir truk berkata ia baru pertama kali ini melihat Hye Sung. Hye Sung melihat si pembunuh dengan marah.

Pembela keberatan Hye Sung menjadi saksi karena Hye Sung belum pernah menghadiri pemeriksaan. Sedangkan penuntut ingin mengajukan Hye Sung sebagai saksi.

Pembela mengingatkan perkataan Su Ha tidak lagi bisa dipercaya. Bukankah tadi ia mengaku bisa mendengar pikiran orang lain? Bisa saja anak itu berbohong lagi.

Hakim cenderung menyetujui pendapat pembela. Hye Sung melihat si pembunuh tersenyum menang. Ia lalu melihat Su Ha yang nampak khawatir.

shot0831 shot0839

“Aku memiliki fotonya,” Hye Sung mengacungkan ponselnya. Bunyi ponsel itu yang mengejutkan si pembunuh pada malam itu,

Senyum si pembunuh lenyap. Hye Sung berkata ia mengambil foto saat si pembunuh memukul mobil dengan tongkat besi. Ponsel itu segera diserahkan pada penuntut.

shot0852 shot0858

Si pembunuh mulai terlihat tidak tenang. Hye Sung juga gugup. Su Ha meraih tangan Hye Sung untuk menguatkannya.

Penuntut membuka ponsel Hye Sung. Hye Sung berjalan masuk ke kotak saksi. Si pembunuh nampak gelisah. Lalu ia berteriak keras dan maju menyerang Hye Sung. Ia mencekik Hye Sung.

“Sudah kubilang aku akan membunuhmu! Aku bahkan mengatakan akan membunuh orang-orang yang kauberitahu!” serunya kalap. 

Beberapa orang langsung menarik si pembunuh dari Hye Sung. Hakim memerintahkan agar si pembunuh diamankan dari ruang sidang karena membahayakan saksi.

Si pembunuh berteriak-teriak terus mengancam akan membunuh Hye Sung. Ia akan menepati janjinya itu.

“Jangan anggap ini sudah berakhir! Ini baru permulaan!!” serunya. “Aku tidak bisa masuk penjara! Aku tidak bisa berakhir seperti ini!”

shot0874shot0885

Hye Sung terbatuk-batuk. Hakim bertanya apakah Hye Sung bisa melanjutkan. Atau perlukah mereka memanggil kembali setelah Hye Sung tenang.

“Tidak, jika aku tidak melakukanya sekarang, aku tidak akan bisa melakukannya. Harus sekarang,” ujar Hye Sung terengah-engah.

Dengan berani Hye Sung mengambil sumpahnya sebagai saksi.

shot0881 shot0889

“Hari ini aku melihat seseorang yang mirip denganmu lagi,” tulis Su Ha dalam diarinya. “Di mana kau sekarang?”

Setelah persidangan, Su Ha menghampiri Hye Sung yang menangis di taman. Su Ha mengambil batu lalu menuliskan “terima kasih” di tanah.

Hye Sung malah menghapus tulisan itu dengan kakinya.

“Tidak perlu berterima kasih. Aku bahkan menyesal aku telah datang.”

shot0894 shot0896

Ia berjalan pergi tapi Su Ha mengikutinya terus. Tak peduli walau Hye Sung memarahinya.

Hye Sung terjatuh dan menangis. Su Ha mendekatinya. Hye Sung memegang pundak Su Ha.

“Semua ini karena kau! Semua ini karena kau! Jangan ikuti aku karena aku tidak mau melihatmu!” Hye Sung lalu menangis keras-keras.

shot0908 shot0916

Su Ha mendengar pikiran Hye Sung. “Mengapa aku datang? Bagaimana jika orang itu benar-benar membunuhku? Apa yang akan aku lakukan? Ia bilang akan mengejarku setelah keluar dari penjara. Bagaimana aku bisa hidup sekarang?”

Su Ha memeluk Hye Sung. Lalu ia menatap Hye Sung.

shot0919 shot0920

“Aku akan melindungimu,” kata-kata itu meluncur dari mulutnya.

“Apa ini? Kau ternyata bisa bicara,” ujar Hye Sung.

Su Ha mengangguk.

Hye Sung mau tak mau tersenyum. Su Ha tersenyum.

shot0931 shot0932

“Aku belum melupakanmu. Jika aku bertemu denganmu lagi, aku akan melindungimu. Aku…akan melindungimu.”

Ternyata ia telah mencari Hye Sung selama bertahun-tahun. Dan diari yang selama ini ditulisnya adalah diari Hye Sung yang dulu terjatuh.

shot0933shot0934

“Aku merindukanmu.”

shot0937   shot0950

Komentar:

Sepertinya Hye Sung menjadi tidak peduli pada orang lain karena peristiwa itu. Mungkin ia takut jika ia terlalu peduli maka akan membahayakan dirinya sendiri seperti waktu lalu. Buktinya ia melakukan pekerjaannya dengan setengah hati.

Jika begitu, mengapa ia memilih karier dalam bidang hukum, khususnya menjadi pembela? Apa betul hanya karena uang? Atau seperti yang ia katakan, karena ia sangat menyesal menjadi saksi hari itu?

Sepertinya ada kontradiksi di sini. Jika ia menyesal, bukankah seharusnya ia menjauh dari apa yang namanya terdakwa dan sidang?

Su Ha menganggap Hye Sung dewi penyelamatnya. Apa yang akan terjadi jika ia menemukan Hye Sung, lalu melihat Hye Sung yang selama ini ia ingat dan bayangkan ternyata sama sekali berbeda?

Oya, aku membuat sinopsis ini sendirian, tidak duet dengan Dee^^ Seperti yang dikatakan Dee dalam postingannya mengenai drama ini, bila sempat Dee membuat spoiler untuk episode-episode terbaru juga memberikan link sinopsisnya. Bagi yang ingin langsung membaca terusannya, bisa kunjungi blog mumuzizi juga ya (sudah ada sampai episode 5) ^^

10 comments:

  1. wiiihhhh udah yg part 2 aja nih :)
    Kejar target ceritanya :D

    Thanks2 sinopsisnya :)

    ReplyDelete
  2. aku auka mba fanny yg bikin sinopnya..semangat mba..!!!

    ReplyDelete
  3. Yeaaaayyyy!!! (ˆ▽ˆ)°◦°◦°

    ReplyDelete
  4. waw aku suka drama ini...
    oya aku suka cara mba fannyt nulis cerita ini..
    thank :)

    #shany

    ReplyDelete
  5. Ceritanya menarik....pas Q buka blog mumuzizi ternyata ga selengkap yg mba fanny bkin..jd Q folow mba fanny aja deh..hehehe

    ReplyDelete
  6. Kyaaaaaaaaaa...mbk fanny bkin sinop IHYV jg.sneg bgt ~^^but tyz klnjutnny Dating agency cyrano gmn mbk..??i2 lnjut enggk mbk.?
    :(
    okey blik kTopik hye sung knp ambil hukum pdhl dy enggk trtarik dg pkerjaanny mgkn krn mami ny mbk,n enggk da plihan laen hye sung pzt akn mnuruti keinginan or2 satu-satuny.sbg ank pzt dy jg ingin membanggakn mami yg dy sayank n hormati.^^~

    ReplyDelete
  7. Wah seru bgt nc drakornya...hye sung bner2 pemberani...saluttt......kasian..ya sama su ha..hiks...mba fanny..lanjut ya..hee..please...mba fanny cantik dech..heehee ^.~
    -Rena-

    ReplyDelete
  8. semangat mbk...di tunggu selanjutnya....gomawo..

    ReplyDelete
  9. gomawo kak, ditunggu selanjutnya^^

    ReplyDelete
  10. Dramanya keren!!! seandainya artis sinetron di negara ini bisa berakting totalitas kayak pemain drama korea. Jika aja para penulis, sutradara, dan produser dinegara ini lebih peduli pada kualitas drama mereka dan bukan cuma sekedar kejar setoran duit....hemmmm

    ReplyDelete

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)