Sabtu, 11 Juli 2020

Sinopsis It's Okay To Not Be Okay Episode 6



Kang Tae membuka pintu rumah Mun Yeong dan melangkah masuk. Ia menemukan kakaknya tertidur di sofa sambil memeluk botol soju yang sudah kosong. Kang Tae menyelimuti kakaknya dengan jaket lalu ia naik ke atas, menuju balkon tempat Mun Yeong berada.

Mun Yeong bertanya sejak kapan Kang Tae tahu siapa dirinya. Kang Tae berkata mungkin saat pertama kali ia melihat mata Mun Yeong (ketika ia menangkap pisau Mun Yeong). Mun Yeong berkata Kang Tae benar-benar pintar berpura-pura. Kau bisa memenangkan Oscar dengan mudah, sindirnya.

“Apa itu menyenangkan? Kau berpura-pura tidak tahu apapun. Betapa jahatnya kau. Kau berani membodohiku?”

“Kau juga melakukan hal yang sama,” Kang Tae mengingatkan.

Mun Yeong membela diri ia tidak berpura-pura tidak mengenali Kang Tae. Aku tahu, kata Kang Tae. Ia tahu Mun Yeong selama ini ingin ia mengenalinya. Tapi ia ingin menghindari Mun Yeong. Ia ingin terus berpura-pura tidak tahu dan mengabaikan Mun Yeong. Kenapa, tanya Mun Yeong.


“Seperti yang kukatakan malam itu,” jawab Kang Tae. Ketika Kang Tae berkata ia melarikan diri seperti seorang pengecut dan terus melarikan diri sejak saat itu.

Mun Yeong bertanya kenapa tiba-tiba Kang Tae mengakui semuanya kalau begitu. Apa sudah bosan berpura-pura? 

“Agar aku bisa mengakhirinya dengan benar. Terimakasih sudah menyelamatkanku hari itu di sungai yang membeku. Aku minta maaf karena melarikan diri di saat aku yang menyukaimu lebih dulu. Aku menyesalinya begitu aku membalikkan tubuhku...”

“Hentikan!” 

Kang Tae terus berbicara kalau ia tidak sempat mengatakan semua ini pada Mun Yeong (ketika ia kecil) dan itu terus mengganggunya. Karena itu ia tidak bisa melupakan Mun Yeong. 

“Lalu apakah sekarang kau tidak memiliki perasaan apapun lagi padaku?” 

Kang Tae berkata kakaknya sudah lebih dari cukup baginya untuk diperhatikan. Ia berbalik pergi. Mun Yeong memeganginya. Kau bisa memperhatikan kakakmu tapi kenapa aku tidak, tanya Mun Yeong.  
“Perhatikan aku juga. Aku memerlukanmu sama sepertinya,” desak Mun Yeong.

“Aku sudah lelah menjadi orang yang diperlukan oleh orang lain,” jawab Kang Tae. Ia meninggalkan Mun Yeong.


Mun Yeong mengejarnya, mengingatkan kalau ia sudah menyelamatkan Kang Tae hari itu. Kang Tae tidak bisa menolaknya. 

“Dan aku sudah berterimakasih padamu untuk itu,”  kata Kang Tae kesal. “Karena kau menyelamatkanku hari itu, aku telah menjalani hidup yang kacau.”

Mun Yeong terus mengejar Kang Tae bahkan mengancamnya akan membunuhnya. Kang Tae tidak bisa lari darinya.

“Kau milikku,...” Mun Yeong mengejar Kang Tae tanpa memperhatikan langkahnya di tangga hingga ia terpeleset.

Tapi Kang Tae dengan sigap menangkapnya. Mun Yeong memeluknya. Kang Tae memarahi Mun Yeong karena sudah melakukan hal berbahaya tanpa mempedulikan akibatnya. Bisa saja Mun Yeong terbunuh karena jatuh.

“Jangan pergi,” Mun Yeong memegang erat baju Kang Tae. “Mari kita hidup bersama.”

“Lepaskan aku,” Kang Tae berusaha melepaskan genggaman Mun Yeong.


 Sang Tae memanggilnya. Kang Tae cepat-cepat menghampiri kakaknya dan menanyakan keadaannya. Lalu ia mengajak Sang Tae pulang. 

“Ini...ini adalah rumah kita sekarang.”’

Kang Tae terkejut. Sang Tae berkata ia harus tinggal di rumah ini sekarang. Ia sudah berjanji. Lalu ia dengan gembira mengulurkan surat kontrak yang sudah ditandatanganinya. Ia sekarang adalah ilustrator Mun Yeong. Mun Yeong berkata ia mempekerjakan Sang Tae sebagai ilustrator buku-bukunya. Dan ia akan bekerja di sini.

“Sudah kukatakan, bukan? Kau tidak bisa melarikan diri dariku.” 

Kang Tae marah dan meminta Sang Tae  memberikan surat kontraknya. Tentu saja Sang Tae tidak mau memberikannya. Itu adalah miliknya. Kang Tae berkata Sang Tae sudah diperalat. Ia memaksa kakaknya memberikan kontrak itu. Sang Tae tidak mau. Ia ingin menjadi ilustrator. 

“Aku ingin tinggal di sini. Ini adalah rumah kita sekarang.”

“Kenapa di sini rumah kita?!” bentak Kang Tae.


Sang Tae terdiam. Kang Tae merebut kontrak itu lalu merobeknya. Sang Tae berteriak marah kalau itu adalah miliknya dan Kang Tae tidak boleh merobeknya. Kemarahannya tak tertahankan hingga ia mendorong Kang Tae.

“Itu adalah milikku! Milik Mun Sang Tae!”

Tenaga Sang Tae sangat besar. Ia mendorong hingga pintu terbuka dan Kang Tae jatuh tergeletak di tanah. Lalu ia memukuli Kang Tae dengan penuh kemarahan.

“Aku milik diriku sendiri! Kau tidak memilikiku! Mun Sang Tae milik Mun Sang Tae! Aku bukan milikmu!” teriak Sang Tae berulang-ulang sambil terus memukul.

Kang Tae terlalu terkejut dengan kemarahan kakaknya hingga ia hanya bisa menahan pukulan kakaknya dengan kedua tangannya. Mun Yeong memegang tangan Sang Tae dan menyuruhnya berhenti.
Sang Tae akhirnya berhenti memukul. Mun Yeong berjongkok di sisinya.

“Oppa, masuklah dalam rumah. Ayo...” katanya lembut sambil menepuk punggung Sang Tae. Sang Tae menurut. Ia berdiri sambil terus berkata kalau ia milik dirinya sendiri. Kang Tae terhenyak. Selain kaget dengan ledakan Sang Tae, juga betapa menurutnya Sang Tae pada Mun Yeong.
.
Mun Yeong mengulurkan tangannya tapi Kang Tae memilih bangkit sendiri. Kakakmu sudah membuangmu, kata Mun Yeong. Sekarang pilihan ada di tangan Kang Tae. 

“Apakah kau juga akan membuang kakakmu atau kau akan membiarkannya mengurungmu seumur hidupmu? Jangan plinplan seperti waktu itu.”


Kang Tae pulang ke rumah sendirian. Ia teringat peristiwa saat ia kecil. Ia pulang dengan begitu gembira karena berhasil mendapatkan ikat pinggang merahnya dari tempat les bela diri. Tapi yang diperolehnya adalah makian dan pukulan karena sudah membiarkan Sang Tae lebih dulu hingga Sang Tae dipukuli orang. 

Ketika itu Kang Tae sangat marah dan merasa diperlakukan tidak adil. Ia berteriak sambil menangis kalau pekerjaannya bukanlah melindungi kakaknya. Ibunya terkejut. Kang Tae berteriak kalau ia bukan milik kakaknya.

“Aku milik diriku sendiri! Mun Kang Tae milik Mun Kang Tae!”

“Apa yang kaukatakan?” tanya ibunya marah tak percaya.

“Mun Kang Tae milik Mun Kang  Tae,” kata Sang Tae sambil tertawa senang.

“Aku hanya ingin kakakku mati!” teriak Kang Tae  sebelum lari dari rumah.

Sang Tae memungut ikat pinggang merah Kang Tae dan berlari mengejar Kang Tae. Ibu Kang Tae terduduk lemas.

Sang Tae mengejar Kang Tae hingga ke sungai yang telah membeku. Ia berkali-kali jatuh terpeleset karena sangat licin. Tapi ia terus mengejar adiknya sambil mengacungkat ikat pinggang merah.
“Ini punya Mun Kang Tae!” teriaknya berkali-kali.

Akhirnya Kang Tae menghampiri kakaknya dan membantunya bangun. Mereka bermain dengan gembira di sungai itu. Seseorang memperhatikan mereka dari tepi sungai. Mun Yeong.


Ketika sedang bermain, tanpa sadar Sang Tae berlari ke daerah sungai yang lapisan esnya tipis. Ia melompat-lompat hiingga lapisan es yang diinjaknya pecah dan ia tercebur dalam air sungai yang sangat dingin. Sang Tae panik dan berteriak-teriak memanggil Kang Tae.

Awalnya Kang Tae hendak menolong. Tapi tiba-tiba ia berhenti dan menginjak-injak lapisan es agar lebih banyak yang pecah. Karena tidak bisa, ia membalikkan diri meninggalkan kakaknya. Mun Yeong tersenyum.

Kang Tae berhenti berlari. Ia menoleh melihat kakaknya yang terus menggapai-gapai memanggil namanya. 

“Pergi...” gumam Mun Yeong. “Tinggalkan saja dia.”

Kang Tae berbalik dan masuk ke dalam air. Ia membantu kakaknya naik ke lapisan es yang tebal. “Membosankan,” kata Mun Yeong.

Kang Tae  memanggil kakaknya untuk membantunya naik.  Sang Tae berjalan pergi dan tidak menoleh lagi. Saat itulah Mun Yeong memetik sekuntum bunga dan mempertimbangkan apakah sebaiknya ia menyelamatkan Kang Tae atau tidak. Meski pilihan terakhir mengatakan tidak, Mun Yeong memutuskan menyelamatkannya. Begitu Kang Tae selamat keluar dari air, Mun Yeong meninggalkannya.

Ah, ternyata inilah yang dimaksud munafik oleh Mun Yeong waktu itu. Bahwa ada satu waktu Kang Tae juga ingin membuang kakaknya. Ada satu waktu di mana Kang Tae juga tidaklah “sebaik” itu. Tapi jadi berpikjir, kalau Kang Tae benar-benar meninggalkan Sang Tae, apakah Mun Yeong juga akan menyelamatkan Sang Tae?

Sang Tae bolak-balik membuka pintu, melihat apakah Kang Tae akan kembali.  Mun Yeong meminta Sang Tae tidak khawatir.

“Ia tidak akan bisa membuangmu.” Dulu tidak, sekarang juga tidak...


Kang Tae melihat robekan setengah kertas kontrak yang dibawanya. Ia membaca persyaratan dari Mun Yeong bahwa pekerja akan bekerja di studio pemberi kerja dan menggambar di sana. Pemberi kerja akan mengakui pekerja sebagai ilustrator terbaik di dunia. 

Sementara persyaratan Sang Tae adalah pemberi kerja akan membelikan sebuah mobil van untuk camping sebagai gaji pekerja. Pekerja memiliki adik yang tidak suka pindah-pindah. Mereka menandatangani kontrak itu. Dan Kang Tae pun tidak bisa menahan tangisnya.

Sang Tae tertidur di dekat pintu. Mun Yeong menyelimutinya. Just a simple act but she cares too..


Direktur Lee membeli berbagai cake untuk diberikan pada Mun Yeong. Seung Jae bertanya memangnya Mun Yeong akan menerima Direktur Lee jika membelikan kue. Direktur Lee berkata Mun Yeong membutuhkan gula untuk menulis. Mereka harus memastikan Mun Yeong mendapatkan apa yang ia butuhkan. Seung Jae mengomel diam-diam kenapa Direktur Lee tidak bisa bersikap baik padanya juga. 
Direktur Lee berkata mereka harus lebih dulu ke rumah Mun Yeong sebelum Mun Yeong membawa orang lain.

Ibu Ju Ri mengantar makanan untuk Kang Tae. Ia melihat wajah Kang Tae yang terluka dan bertanya ada apa. Kang Tae berkata ia bertengkar dengan kakaknya. Itu bukan pertengkaran, tapi kau dipukuli kakakmu, kata ibu Ju Ri. Ia berteriak memarahi Sang Tae dari luar rumah.

Kang Tae berkata kakaknya tidak di rumah. Apa ia melarikan diri juga, tanya ibu Ju Ri. Kang Tae menjelaskan kalau Sang Tae diberi pekerjaan sebagai ilustrator buku. Ibu Ju Ri sangat gembira dan mendukung hal tersebut. 

“Apa itu benar-benar hal yang baik?” tanya Kang Tae.

“Tentu saja itu hal baik. Aku ingin berterimakasih pada penulis itu yang memberi Sang Tae kesempatan begitu baik.”

Melihat Kang Tae ragu, ibu Ju Ri menggenggam tangannya. Ia berkata Kang Tae seharusnya mendukung kakaknya. Kang Tae sudah mengurus kakaknya dengan baik sampai sekarang. Sekarang waktunya bagi Kang Tae membiarkan kakaknya melakukan apa yang ia inginkan. 

“Kau seharusnya tidak menghentikan orang melakukan apa yang mereka inginkan atau menyukai seseorang. Dan lagi itu hal yang tidak mungkin.” Ibu Ju Ri tersenyum hangat.

Kang Tae sepertinya menerima nasihat itu.


Direktur Lee mengetuk pintu rumah Mun Yeong. Sang Tae membuka pintu. Karena bukan Kang Tae, ia menutup pintu lalu menguncinya lagi. Seung Jae ingat kalau Sang Tae adalah kakak Kang Tae, yang menyebabkan keributan di toko buku waktu itu. Direktur Lee kesal karena lagi-lagi berhubungan dengan Kang Tae. Ia mengetuk pintu keras-keras sambil memanggil Mun Yeong. Mun Yeong turun dari lantai atas dengan kesal karena begitu berisik.

Direktur Lee siap mendobrak pintu. Tapi tiba-tiba pintu terbuka hingga ia terjatuh. Tepat di hadapan Mun Yeong. Kenapa ke sini, tanya Mun Yeong. Usir dia sekarang juga, kata Direktur Lee.

“Tapi aku tinggal di sini,” kata Sang Tae. Mun Yeong membenarkan.

“Kami tinggal bersama. Kami tidak menikah, tapi tinggal bersama. Kami tidak menikah, “ kata Sang Tae pada Seung Jae. Daebak, gumam Seung Jae.

“Berikan salam pada ilustrator eksklusifku,” kata Mun Yeong.

Sang Tae memperkenalkan namanya. Ia berusia 35 tahun dan bergolongan darah AB, lahir di tahun tikus. Dan memiliki ASD (autism spectrum disorder). Tapi ia tidak bermasalah mengurus dirinya sendiri.

“Aku Yoo Seung Jae, direktur seni yang menangani ilustrasi,” Seung Jae dengan ramah memperkenalkan diri. 

“Tidak, aku menolak tim ini!” kata Direktur Lee.

Aku setuju, kata Mun Yeong. Sang Tae dan Seung Jae ikut mengangkat tangan tanda setuju (ikut angkat tangan!). Direktur Lee frustrasi. Ia menasihati Mun Yeong kalau ia sering membuat masalah karena tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Jadi bagaimana ia juga mengurusi Sang Tae? Bagaimana kalau keduanya berakhir menyebabkan masalah?


“Pin pengamanku,” kata Mun Yeong. Ia melihat ke arah pintu. Pin pengamannya sudah datang jadi Direktur Lee tak perlu khawatir.

Kang Tae sudah tiba di rumah Mun Yeong. Sang Tae langsung memperkenalkannya sebagai adiknya. Adiknya yang penakut tapi tetap saja adiknya. Ia menghampiri Kang Tae dan menanyakan keadaannya. Lalu ia meminta maaf.

“Tidak apa-apa,” Kang Tae menenangkan kakaknya. “Ayo  kita masuk.”

Mun Yeong tersenyum. Detik berikutnya Direktur Lee dan Seung Jae terusir keluar. Kolaborasi antara penulis dengan kelainan kepribadian dan ilustrator dengan kelainan perkembangan. Itu bisa menjadi sukses besar atau bencana besar, menurut Seung Jae. Mun Yeong keluar hanya untuk meminta mobil SUV yang dikendarai Direktur Lee karena jalanan gunung yang cukup sulit. Dan lagi itu memang mobil Mun Yeong. Tukeran mobil kali ya ;p


Ibu Ju Ri panik seorang diri setelah tahu kalau penulis yang mempekerjakan Sang Tae adalah Mun Yeong. Ia merasa kasihan pada puterinya. Tapi ketika Ju Ri datang, ia tidak sanggup memberitahunya.
Sang Tae membantu menyiapkan kue yang dibawa Direktur Lee. Mun Yeong berkata Kang Tae memilih kakaknya lagi. Kang Tae berkata ia memiliki beberapa persyaratan. Tapi yang ingin Mun Yeong tahu adalah apakah ia memiliki bagian dalam membantu Kang Tae mengambil keputusan. Kang Tae tidak menjawabnya. 

Persyaratan yang ia ajukan adalah pulang ke rumah (rumah Ju Ri) tiap akhir pekan. Jika kakaknya ingin berhenti bekerja, ia akan langsung membawa kakaknya kapanpun juga. Dan ia ingin Mun Yeong menghormati kakaknya sebaik mungkin. Mun Yeong setuju.

Kang Tae tidak percaya Mun Yeong mengiyakan semudah itu. Apa perlu menulis kontrak darah, sindir Mun Yeong. Kang Tae mengingatkan kalau Mun Yeong pernah berkata janji adalah sampah. 

“Aku akan menepati janjiku. Karena itu janji yang kubuat padamu.”

Kang Tae terdiam.


Giliran Jae Su yang panik mendengar Kang Tae pergi. Ia berteriak-teriak memanggil Kang Tae. Kembalilah padaku, kumohon!! Teriaknya.

Ju Ri mendengar Jae Su teriak-teriak. Terpaksa ibunya memberitahu apa yang terjadi. Ju Ri pun kembali menangis di balik selimut. “Go Mun Yeong, kau penyihir jahat,” teriaknya geram.

Sang Tae sangat gembira melihat begitu banyaknya buku di rumah Mun Yeong. Bahkan Kang Tae pun nampak terkesan. Mun Yeong bertanya apa yang Kang Tae sukai. Tidak ada yang khusus, kata Kang Tae.

Mun Yeong berkata Sang tae meminta sebuah mobil camping, apakah Kang Tae senang pergi wisata. Aku tidak  pernah berwisata, kata Kang Tae.

“Sama sekali?” tanya  Mun Yeong kaget.

“Aku ingin pergi wisata.”

Ke mana, tanya Mun Yeong. Ke mana saja. Kang Tae ingin bepergian tanpa menetapkan tempat tujuan lebih dulu.  Sang Tae mengoceh mereka tidak pernah jalan-jalan wisata, tapi mereka pindah beberapa kali. Ini adalah kepindahan mereka yang ke delapanbelas kali.  Mun Yeong bertanya kenapa mereka begitu sering pindah.

“Karena itu mengikutiku ke manapun ku pergi.
Kang Tae berusaha memperingatkan kakaknya untuk tidak bicara lebih banyak. Tapi Mun Yeong penasaran. Ia bertanya siapa yang mengikuti Sang Tae. Kang Tae cepat-cepat mengajak kakaknya mencari kamar mereka.


Mun Yeong memberi mereka kamarnya waktu ia kecil. Hanya ada satu tempat tidur kecil di sana jadi Mun Yeong menambahkan satu laig. Sang Tae suka kamarnya. Ia langsung bersembunyi dalam lemari. Kang Tae duduk di tempat tidur pelan-pelan lalu mengguncangkannya. 

“Kau tidak pernah punya kasur sebelumnya?” tanya Mun Yeong.

“Tidak,” kilah Kang Tae. Ia bersandar di kasur agar terlihat biasa. Ia bertanya kapan terakhir Mun Yeong mencuci seprainya. Sekitar 20 tahun lalu. Tepat saat itu Sang Tae melompat ke tempat tidur, menyebabkan debu beterbangan ke mana-mana. Sang Tae terlihat sangat senang hingga Kang Tae tersenyum.


Seorang pasien diam-diam keluar dari kamarnya dan masuk kamar cuci. Begitu ia masuk, Dokter Oh bertanya apakah ada yang melihatnya. Satu orang melihatku, kata  pasien Kan Pil Wong ketakutan. Profesor Go, alias ayah Mun Yeong.

Tadi ayah Mun Yeong tiba-tiba bertanya kepadanya apakah ia akan pergi ke suatu tempat. Ia sangat kaget sampai sedikit mengompol. Dan sekarang ia langsung mengganti celananya. Dokter Oh memberikan sekotak minuman padanya. Pil Wong berkata itu sangat enak. Itu soda, kata Dokter Oh. Pil Wong kesal karena mengira itu soju.

“Itu adalah efek plasebo. Jika kau berpikir itu soju, rasanya akan seperti soju.”

Pil Wong mengomel harusnya Dokter Oh memberitahunya nanti saja setelah ia menghabiskan minuman itu. Dokter Oh berkata Pil Wong bisa pergi jika ingin minum alkohol betulan. Ia bertanya mengapa Pil Wong tidak pergi dan memilih tetap tinggal di rumah sakit ini. Hmmm....berarti Pil Wong ini sebenarnya sudah sembuh.

“Belum waktunya,” jawab Pil Wong.

Dokter Oh mengambil catatannya dan bertanya apakah ada hal baru mengenai para pasien. Ah rupanya Pil Wong adalah mata-mata Dokter Oh. Pil Wong bertanya bukankah seharusnya Dokter Oh sendiri yang bisa menemukan semua hal tentang pasiennya saat sesi konseling. Dokter Oh kan dokter.

“Ada pepatah seperti ini: hanya mereka yang pernah menderita yang benar-benar mengerti penderitaan (hanya mereka yang pernah mengalami yang bisa mengerti).”

Pil Wong mengangguk. Ada hal-hal yang tidak bisa dipelajari hanya dari buku. Dan juga ada batasan dari apa yang dikatakan pasien, kata Dokter Oh. Mereka seringkali menipu dokternya. Pil Won membenarkan. Ia membocorkan kalau Jung Tae, teman sekamarnya yang alkoholik, mengisi sarung tangan medis dengan soju saat ia pergi keluar dan menyembunyikannya di pakaian dalamnya lalu dibawa ke sini. 


Sang Tae melihat sebuah pintu bergerak menutup sendiri saat ia melewatinya. Ia  membuka pintu itu dan turun ke bawah, ada sebuah pintu digembok. Mun Yeong memegang pundaknya. Di bawah ini, kata Sang Tae.

“Kak, apa pernah mendengar cerita tentang Bluebeard (Si Janggut Biru)?” tanya Mun Yeong.

Pada suatu waktu, ada seorang bangsawan berjanggut biru yang tinggal sendirian di sebuah kastil besar. Ia sangat kaya tapi semua orang menghindarinya karena takut pada janggut birunya. Tapi suatu hari, seorang wanita miskin datang ke kastil itu dan berkata ingin menjadi pengantinnya.

Dipenuhi kegembiraan, Bluebeard mengeluarkan semua perhiasan dan harta dari setiap kamar dan memberikannya pada istrinya sebagai hadiah. Tapi ada sebuah kekecualian. Ia memperingatkan istrinya agar tidak pernah masuk ke kamar di bawah tanah.

Namun istrinya yang penasaran, akhirnya membuka pintu rahasia itu tanpa memberitahu suaminya. Apa kau tahu apa yang ada di kamar itu? Mayat banyak wanita dipajang di dinding. Mereka adalah para istri Bluebeard yang tidak menghiraukan peringatannya dan membuka pintu itu. Begitulah mereka semua berakhir.


Saat Mun Yeong menceritakan hal ini, yang diperlihatkan adalah ayah Mun Yeong membawa ibu Mun Yeong ke kastil baru mareka. Lalu suatu malam Mun Yeong membuka pintu di ruang bawah tanah itu dan menemukan mayat ibunya berlumuran darah.

Sang Tae menceritakan kembali dongeng itu pada Kang Tae. Sepertinya Sang Tae agak takut mendengar cerita itu. Kang Tae menasihati kakaknya agar tidak ke bawah tanah tanpa ijin karena ini bukan rumah mereka. 

“Tapi kenapa para penduduk desa takut pada Bluebeard?” tanya Sang Tae.

“Karena ia berbeda dari orang lain. Janggutnya berwarna biru.”

“Apakah menjadi berbeda merupakan sesuatu yang menakutkan? Apakah kau harus tinggal sendirian di kastil jika kau berbeda?”

Kang Tae berkata pada akhirnya Bluebeard akan menemukan cinta sejatinya yang tidak takut pada janggut birunya. Seseorang yang mengerti dirinya sebagaimana adanya. Mun Yeong mendengar semua itu dari luar. Apa Mun Yeong juga akan mendapat happy ending seperti Bluebeard versi Kang Tae?

Dalam cerita aslinya, istri terakhir Bluebeard merencanakan untuk melarikan diri setelah tahu rahasia suaminya. Ia meminta bantuan saudaranya. Namun ia ketahuan oleh suaminya hingga akan dibunuh. Tepat ia akan dibunuh, saudara-saudaranya datang menyelamatkannya dan membunuh Bluebeard. Istrinya mewarisi semua kekayaannya dan akhirnya menikah kembali. Banyak versi mengenai kisah Bluebeard ini ;)


Ju Ri masih kesal pada ibunya. Ibunya berusaha menghiburnya kalau Kang Tae dan kakaknya tidak benar-benar pindah. Mereka akan kembali tiap akhir pekan. Ju Ri menekan klakson dengan kesal dan marah-marah pada pengemudi lain. Ibunya kesal dengan sikap puterinya dan berkata Mun Yeong juga tidak mengatakan itu menggoda Kang Tae. Ia yakin semua ini hanya masalah pekerjaan.

Ju Ri kembali menekan klakson sambil marah-marah. Ibunya berkata sebaiknya Ju Ri marah padanya dan berhenti mengklakson. 

“Kau kan punya mulut, jadi gunakan itu!” ujar ibunya.

“Aku akan menjepret bibir itu jika Ibu bukan ibuku,” kata Ju Ri dalam hati. Ia melampiaskan kekesalannya dengan berteriak menirukan bunyi klakson berkali-kali.

“Apa kau sudah gila!” tegur ibunya.

Dokter Oh mengunjungi ayah Mun Yeong. Ia menanyakan namanya dan apakah ia tahu di mana ia berada sekarang. Ayah Mun Yeong diam membisu seperti patung. Dokter Oh melihat Pil Wong. Pil Wong mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.

Dokter Oh merasa kondisi ayah Mun Yeong aneh karena keadaannya bisa berubah begitu tiba-tiba. Ia meminta Perawat Park mengawasinya dan melaporkannya padanya. Perawat Park menyelimuti ayah Mun Yeong. 

“Go...Dae...Hwan” ayah Mun Yeong berbisik terbata-bata.

Perawat  Park mendekatkan diri agar bisa mendengar lebih baik.

“Dia sangat cantik. Dia seperti malaikat,” kata ayah Mun Yeong lagi.


Siapa yang seperti malaikat, tanya Perawat Park. Ibu Mun Yeong, jawab ayah Mun Yeong. Dokter Oh berbalik melihat mereka dan berpikir. Setelah selesai melakukan kunjungan, Dokter Oh berkata sepertinya terlalu cepat untuk mempertemukan kembali Mun Yeong dan ayahnya. Perawat Park berkata Dokter Oh tahu apa yang terjadi saat mereka jalan-jalan waktu itu.

“Tapi apa kau yakin ia melakukannya pada puterinya? Delusi. Mungkin ia melihat orang lain ketika ia melihat puterinya.”

Siapa, tanya Perawat Park. Itu yang harus kita cari tahu, jawab Dokter Oh. Memangnya mata-mata dokter Oh tidak mengatakan apapun, sindir Perawat Park. Ia berkata ia akan mengunci kamar cuci mulai sekarang. Dokter Oh bergumam Perawat Park tahu segalanya.


Mun Yeong bangun lebih siang karena tidurnya sangat nyenyak semalam. Ia turun dan bingung melihat Sang Tae sedang mengepel lantai. Ia menyapa Mun Yeong dan melapor kalau mereka bangun jam 6 pagi, mencuci semua seprai, berbelanja, dan bersih-bersih. 

Mereka ke dapur dan melihat Kang Tae baru selesai memasak.  Kang Tae mengajak sarapan dan bertanya apa yang bisa Mun Yeong makan untuk sarapan. Mereka biasa sarapan dengan nasi. Roti?
Mun Yeong ingin nasi. Sepertinya ia tidak pernah sarapan. Ia meminta nasi lebih banyak pada Kang Tae. Kang Tae tersenyum. Mun Yeong makan dengan lahap pagi itu. 


Pasien Kang Eun Ja (yang ingin menjodohkan puterinya dengan Kang Tae) menelepon puterinya dan menceritakan tentang Kang Tae.  Sesekali ia menggaruk pergelangan tangannya yang dipenuhi bekas luka irisan. Kang Eun Ja senang karena puterinya akan datang hari ini.

Sementara itu pasien-pasien lain komplain pada Ju Ri dan Byul kalau Kang Eun Ja tidak membayar kembali semua snack yang dipinjam dari mereka. Padahal Kang Eun Ja orang kaya, tapi ia meminjam uang dan mengatakan akan mengembalikannya saat puterinya berkunjung.  So Hae menyuruh para perawat memanggil polisi dan ia akan melapor pada Dokter Oh. Ju Ri cepat-cepat mencegah mereka dengan mengatakan akan mengurus masalah itu lalu menyuruh mereka kembali ke kamar.

Cha Yong memperhatikan Kang Eun Ja dan berkomentar kalau ia tidak terlihat terlalu gila. Byul dan Ju Ri menoleh memelototinya.


Mun Yeong, Sang Tae, dan Kang Tae tiba bersama di rumah sakit. Kang Tae ingin mereka pergi masing-masing lain kali agar orang-orang tidak salah paham. Mun Yeong cuek dan bertanya kapan mereka selesai bekerja, ia akan menunggu dan mereka akan pulang bersama.

Sang Tae sudah menyelesaikan sebagian besar gambar. Gambar itu penuh dengan bunga. Dokter Oh melihatnya dan berkata ada sesuatu yang kurang. Kupu-kupu. Harus ada kupu-kupu jika ada bunga. Begitu banyak bunya tapi tidak ada kupu-kupu satu pun. Ia berkata ia yakin Sang Tae akan menggambarnya nanti.

Sang Tae menolak dengan keras. Dokter Oh bertanya apa Sang Tae tidak bisa menggambarnya. Apa ia saja yang menggambarnya? Sang Tae menepis tangan Dokter Oh yang hendak mengambil kuas.

“Jangan! Tidak boleh ada kupu-kupu! Tidak di sini! Mereka tidak boleh ke sini. Tidak ada kupu-kupu. Kupu-kupu tidak boleh ke sini. Tidak boleh,” kata Sang Tae ketakutan.


Mun Yeong merasa ada seseorang yang mengikutinya dan mengamatinya. Ia berdiri dan mencari orang itu. Sementara Byul bingung mencari Mun Yeong padahal para pasien sudah menunggu. Kang Tae berkata ia akan membantu mencari.

Mun Yeong menemukan orang yang mengikutinya di bagian rumah sakit yang sedang diperbaiki. Orang itu adalah pasien Kang Eun Ja. Ia sudah menunggu Mun Yeong dan bertanya kenapa ia begitu terkejut.

“Apa kau sudah melupakanku? Ini aku, Ibumu.”

Kang Tae melihat mereka, namun ia diam-diam mendengar dari luar pintu.

“Ibu sudah menunggumu selama ini. Kau sangat kurus sekarang. Tapi di mataku, kau tetap gadis tercantik di dunia,” Kang Eun Ja menyentuh pipi Mun Yeong.

Mun Yeong tertegun tak mampu mengatakan apapun.

“Kenapa kau tidak mengatakan apapun? Jangan bilang kau tidak mengenali Ibu hanya karena beberapa kali operasi plastik.”

“I...bu?” tanya Mun Yeong pelan. “Benar-benar Ibu? Ibu sudah kembali?”


“Kau ini kenapa? Ibu tahu kau pergi sebulan untuk konsermu, tapi kenapa kau bersikap seperti orang asing?”

Mun Yeong seakan ditampar kenyataan. Konser? Eun Ja berkata ia sudah bilang di telepon mengenai pria yang akan cocok dengan puterinya. Ia mulai memuji-muji pria itu. Mun Yeong jadi marah.
“Kau wanita gila!” ia menarik syal wanita itu.

Kang Tae cepat-cepat memeganginya dan berkata Eun Ja perlu minum obat. Eun Ja senang melihat Kang Tae dan berkata dialah pria yang dibicarakannya. Mun Yeong memelototi Kang Tae. Kang Tae cepat-cepat membawa Kang Eun Ja pergi. Mun Yeong berusaha menenangkan dirinya.

Kang Tae menanyakan kondisi Kang Eun Ja pada Perawat Park. Perawat Park berkata Kang Eun Ja menderita depresi yang sangat parah hingga mengalami halusinasi dan delusi. Ia sering menerima tunjangan kesejahteraan (alias miskin) tapi percaya kalau dirinya istri muda pengusaha kaya.

Kang Eun Ja memang memiliki seorang puteri. Dan ia bekerja keras untuk membesarkan puteri satu-satunya itu. Tapi puterinya sudah meninggal dalam kecelakaan mobil beberapa bulan lalu. Kang Eun Jae percaya puterinya masih hidup. Pasti sulit baginya untuk menerima kematiannya sementara waktu ini.


Di kelas, Ah Reum sedang membacakan sebuah buku. Tapi Mun Yeong tidak bisa fokus. Perkataan “ini aku, Ibumu” terus terngiang di benaknya. 

“Diam,” gumamnya.

Ah Reum terus membaca.  Perkataan itu semakin sering terdengar mengisi pikiran Mun Yeong.

“Kubilang, diam!” bentaknya.

Para pasien keluar sambil mengomel. Ah Reum menangis mengira Mun Yeong membencinya. Ia tidak salah tapi Mun Yeong sangat kejam padanya. Kang Tae mendengr mereka dan bertanya ada apa. Jung Tae menjelaskan apa yang terjadi. Mun Yeong menyuruh Ah Reum membaca tapi tiba-tiba membentak agar dia diam.

“Menurut pengalamanku, dia akan segera kerasukan,” kata So Hae. “Orang yang mendengar hantu berbicara pada mereka akan mulai berbicara omong kosong seperti itu.”


Mendengar itu Kang Tae mencari Mun Yeong. Tapi saat mencarinya ia malah bertemu dengan Direktur Lee dan Seung Jae. Direktur Lee ingin berbicara dengan Kang Tae. Ia menyerahkan sebuah bungkusan besar. 

Direktur Lee berkata itu adalah hasil penelitiannya mengenai literatur anak-anak trend terkini untuk Mun Yeong, sebagai referensi saat ia mengerjaka buku berikutnya. Ia sendiri yang pergi ke kafe internet dan...

“Apa kau ingin aku menitipkannya padaku?” tanya Kang Tae tak terkesan.

“Tidak, aku ingin menyerahkannya sendiri padanya,” sergah Direktur Lee.

Lalu kenapa Direktur Lee ingin bertemu Kang Tae? Ia menyuruh Kang Tae pindah dari rumah Mun Yeong bersama kakaknya. Mereka berdua seharusnya tidak tinggal di sana. Kenapa tidak, tanya Kang Tae.

“Karena di sanalah tempatku. Kau tidak bisa menangani Mun Yeong. Itu bukan pekerjaan bagi orang sembarangan. Aku telah bertahan dan mengalah padanya selama 10 tahun. Aku bahkan membungkuk terbalik untuknya. Aku sudah mempertaruhkan nyawa dan jiwaku untuk melindunginya.” 


Seung Jae mengangguk kecil. Kenapa, untuk apa, tanya Kang Tae.

“Karena aku benar-benar peduli padanya dan..."

“Karena uang?” tanya Kang Tae. Ia berkata Direktur Lee sudah mendapatkan banyak uang dari penjualan buku Mun Yeong. Jadi untuk apa membanggakan diri pengorbanannya padahal sudah mendapat upah setimpal?

Direktur Lee membantah ia membanggakan diri. Jika ia hanya menganggap Mun Yeong sebagai alat untuk mendapatkan uang, ia pasti sudah meninggalkannya saat perusahaannya menderita karenanya.

“Hubungan kami tidak didasarkan pada keuntungan finansial semacam kapitalis, melainkan  lebih dari itu!”

“Hubungan seperti apa kalau begitu?” tanya Kang Tae.

“Bagi Mun Yeong, aku adalah penerbitnya, mentor, kakak, sekaligus prianya! Pokoknya kau sudah mengambil tempatku jadi menyingkirlah.”

Begitu mendengar kata “prianya”, wajah Kang Tae membeku. Tidak mau, katanya. Ia tidak akan menyingkir. Hehe...kayanya ada yang cemburu...


Sementara itu Kang Eun Ja mengikuti Mun Yeong ke mana-mana sambil terus membicarakan Kang Tae dan berusaha menjodohkan mereka. Mun Yeong tidak mempedulikannya. Untunglah sebelum Mun Yeong lepas kendali, Byul membawa pergi Kang Eun Jae.

Kang Tae masih mencari Mun Yeong tapi teleponnya tidak diangkat dan ia tidak menemukan Mun Yeong. Ia malah melihat Ju Ri, ibunya, dan Sang Tae akan makan siang di kantin. Ibu Ju Ri memanggilnya untuk makan bersama. Ia tidak bisa menolak. Ponsel Mun Yeong tertinggal di ruang terapi. 

Ibu Ju Ri berkata mereka pasti kelaparan. Ia tidak bisa tidur nyenyak karena khawatir pada mereka. Karena itu ia bangun pagi-pagi menyiapkan makanan untuk mereka. Kang Tae berterimakasih dengan sopan sambil sesekali melihat sekeliling untuk mencari Mun Yeong.

Ibu Ju Ri memberi isyarat pada Ju Ri untuk berbicara. Kang Tae yang berbicara duluan. Sepertinya ia akan meminta maaf karena pergi tanpa memberitahu, tapi Ju Ri langsung mengatakan kalau ia sudah dengar mereka pindah ke sana karena pekerjaan Sang Tae. 

“Selamat, kak. Aku ingin satu bukunya setelah bukunya terbit.”

“Beli sendiri bukunya,” kata Sang Tae.  “Kau harus membayarnya dengan uangmu.”

Kang Tae menegur kakaknya karena tidak enak hati. Ibu Ju Ri cepat-cepat berkata ia akan membeli 100 buku. Sang Tae berterimakasih. Situasi canggung menjadi lebih ringan setelah percakapan itu. Mun Yeong melihat dari luar bagaimana Kang Tae tersenyum dan berbicara dengan Ju Ri.


Tiba-tiba Kang Eun Ja muncul di sebelahnya. Ia kesal karena Ju Ri mendapat “bantuan” dari ibunya. Ia berkata Mun Yeong tidak boleh pergi begitu saja. Ia harus memastikan Ju Ri jauh-jauh dari Kang Tae. Lalu ia tiba-tiba memarahi Mun Yeong karena tidak mendengarnya. 

“Apa ibu bilang? Wanita lain akan merebutnya. Jangan keras kepala. Dengarkan ibu! Ibu sudah mengawasi dia untukmu tapi wanita itu hendak mencurinya. Baiklah, jika kau tidak mau bertindak, Ibu yang akan melakukannya. Memangnya cuma dia yang punya ibu? Kau juga punya!”

“Kumohon!” seru Mun Yeong. “Kumohon hentikan mengatakan kata itu: ibu.”

Kang Eun Ja bingung. Apalagi yang harus ia katakan? Aku kan ibumu, katanya.

“Ibuku...sudah tiada. Ibuku....tengkoraknya pecah, darahnya di mana-mana. Tubuhnya terpelintir dan lemas. Lantai masih ternoda dengan darahnya. Jadi nyonya, bangunlah dari mimpimu.”

Kang Eun Ja shock dengan kata-kata Mun Yeong. Tidak, tidak, gumamnya. Lalu ia jatuh pingsan. Mun Yeong berjalan pergi. Para perawat menemukan Kang Eun Ja terbaring sendirian.

Menurutku Mun Yeong sudah cukup menahan diri sih. Tapi Kang Eun Ja terus mengikurinya, keterkejutannya karena sempat mengira ibunya kembali hidup, dan Kang Tae yang terlihat gembira bersama orang lain. Rasa kesepian itu pasti kembali menggigitnya...


Mun Yeong mengurung diri di kamarnya. Kang Tae mengetuk pintu dan bertanya apakah ia tidak akan makan. Ia menemukan ponsel Mun Yeong. Apa Mun Yeong tidur? Ia tidak tidur, tapi ia tidak menjawab. 

Kang Tae membereskan piring kotor di dapur. Ia teringat pada perkataan Mun Yeong saat pertama bertemu Kang Eun Ja. Benar-benar Ibu? Ibu kembali? Ia tidak bisa tidur.

Mun Yeong pergi ke ruang terkunci bawah tanah dan masuk. Ia melihat noda darah di lantai. Di lantai banyak foto orangtuanya yang tertutup kain. Lalu ia melepas kain yang menutupi meja rias di sana dan mengambil sisir. Ibunya mengambil sisir itu dan menyisiri rambutnya.

“Kau sepertinya tidak sedang dalam mood baik hari ini,” kata ibunya pada Mun Yeong kecil.
“Ibu, kenapa Bluebeard membunuh para istrinya?”

“Karena mereka tidak menurut padanya. Kau harus selalu menurut pada Ibu, ya? Itu berarti kau anak baik. Jawab Ibu.”

“Iya, aku akan menurut setiap waktu.”

“Bagus, kau anak yang sangat baik. Tapi.....kenapa kau membawanya ke sini!!” tiba-tiba ibu Mun Yeong menjambak rambut puterinya.



Mun Yeong membuka matanya.Semua itu mimpi. Ia kembali mengalami tindihan. Ia melihat ibunya melayang-layang di atasnya sementara ia seperti lumpuh, tak mampu bergerak. Ia berusaha bersuara tpai yang keluar hanya suara rintihan menahan tangis. Bayangan ibunya terus mendekatinya.

“Sudah Ibu peringatkan. Ibu juga akan membunuh pangeran yang datang menyelamatkanmu,” ibu Mun Yeong tertawa mengerikan. 


Kang Tae yang belum tidur mendengar suara Mun Yeong. Ia cepat-cepat pergi ke kamar Mun Yeong dan menemukan Mun Yeong sedang menangis tanpa bisa bergerak. Kang Tae membangunkannya. Tangis Mun Yeong berubah menjadi teriakan pilu. Kang Tae berusaha menenangkannya.

“Larilah! Lari!!’ kata  Mun Yeong sambil menangis terisak.

“Tidak apa-apa Go Mun Yeong, itu hanya mimpi.”

“Larilah, cepat! Cepat pergi!!” seru Mun Yeong. 

Tapi tangannya menggenggam erat baju Kang Tae, sama  seperti ketika ia menghalangi Kang Tae pergi di hari pertama Kang Tae masuk rumah itu. Kang Tae memeluk Mun Yeong. 

“Baik, aku tidak akan pergi...”

Dan Mun Yeong pelan-pelan menjadi tenang. Kang Tae membelai kepalanya dan memegangi tangannya. Mun Yeong memejamkan matanya. Tangannya terus memegang baju Kang Tae dengan sangat erat.


Epilog:

Sang Tae membayangkan adegan dongeng Bluebeard. Ia jadi Bluebeard, Mun Yeong jadi istri Bluebeard, Kang Tae jadi si bungkuk. Di meja terpajang kepala para istri Bluebeard: Celine (ih sama dengan nama anakku >,<), Allie, Mary, Anna, dan terakhir Esmeralda (pantes ada si bungkuk). Kreatif banget sih, mana ada NG nya pula XD


Komentar:

Aku suka banget dengan perubahan yang terjadi dari adegan Kang Tae menolak Mun Yeong meski Mun Yeong terus mengejarnya, mengancamnya, sampai tak mempedulikan keselamatannya, hingga di akhir ketika Mun Yeong menyuruhnya pergi, Kang Tae sendiri yang mengatakan tak akan meninggalkan Mun Yeong. Jauh lebih baik atas keinginan sendiri daripada dipaksa, bukan?

Melihat dua episode terakhir, jadi ibu Mun Yeong seperti penyihir di kisah Rapunzel, sedangkan ayahnya seperti Bluebeard? Ibu Mun Yeong sepertinya memang obsesif dan seperti penyihir itu yang melarang Mun Yeong bergaul dengan orang lain. Menganggap Mun Yeong sangat berbeda. Mun Yeong selalu bereaksi pada kata “ibu”.

Tapi mengenai ayah Mun Yeong, aku tidak terlalu yakin ia seperti Bluebeard yang membunuh istrinya. Berbeda dengan ibunya yang sangat mempengaruhi hidupnya, ayah yang diingat Mun Yeong adalah ayah yang hendak membunuhnya. Tapi ia tidak terlihat takut pada ayahnya. Jika ayahnya yang membunuh ibunya, pasti itu lebih traumatis lagi.

Persamaannya adalah, meski kedua orangtuanya sama-sama orangtua yang “aneh”, Mun Yeong tetap merindukan mereka. Iya dia menelantarkan ayahnya bertahun-tahun lamanya. Tapi ketika ia melihatnya, ia berharap ayahnya telah lupa semuanya dan bisa menjadi ayah baginya. Juga ketika tiba-tiba “ibu”nya kembali. Meski ia takut, tapi ia terlihat merindukannya. Jadi makin penasaran dengan cerita keluarga di kastil terkutuk itu. 

Drama ini sungguh tidak bisa ditebak. Dan karakternya unik-unik. Mengingatkan kita kalau tidak ada orang yang sama. Semua terlihat baik-baik saja di luar, tapi masing-masing orang memiliki “keanehannya” sendiri. Aku aneh, kau aneh, sama-sama aneh..jadi kenapa harus saling berprasangka? 


Di banyak forum aku melihat banyak orang yang berprasangka para karakter Ju Ri. Ia seorang yang bermuka dua, seorang yang jahat, yang licik. Aku masih berpendapat sama seperti episode sebelumnya, kalau ia justru menggambarkan orang kebanyakan. Selalu berusaha terlihat baik, berusaha mengendalikan diri bila ada yang menyakiti, tapi terkadang bisa lepas kendali. Mengenai kekesalan pada ibunya, siapa sih yang tidak pernah kesal pada orangtuanya satu kali saja dalam hidupnya? Atau dalam hati diam-diam mengomeli orangtua kita? Tapi setelah itu hubungan mereka tetap baik. 

Terkadang kekanakkan tapi berusaha pengertian. Bersikap lembut, tapi kadang bisa kesal juga. aku belum merasa ada yang berbahaya dari Ju Ri selain ia merasa iri dan cemburu. Mun Yeong lebih berbahaya sih karena tindakannya itu tidak bisa diprediksi. 

Antara Ju Ri dan Mun Yeong juga aku berharap suatu hari nanti Ju Ri bisa mengerti Mun Yeong. Bahkan bisa berteman. Dulu mereka masih kecil, tapi sekarang mereka sudah dewasa. Ju Ri mungkin mudah berprasangka pada Mun Yeong, ditambah rasa cemburunya. Tapi bukankah kita juga melakukan hal yang sama padanya?