Kamis, 02 Juli 2020

Sinopsis It's Okay To Not Be Okay Episode 3



Kang Tae memandang lampu rumah sakit yang menyala tidak stabil di tengah hujan deras kota Seongjin. Perawat Park berkata hal itu kadang terjadi saat hujan turun. Ia dengar semua orang menolak pembangunan rumah sakit itu karena dulunya merupakan kuburan.  

“Mungkin karena roh-roh yang berdiam di sini pendendam. Berhati-hatilah ketika kau berjaga di malam hari.”

Tapi Kang Tae tidak nampak terganggu sedikitpun dengan cerita itu. Ia berkata ia akan emnghubungi bagian maintenance. Dia pemberani, gumam Perawat Park..gagal nakut-nakutin.

Kang Tae lebih takut sama Mun Yeong yang tiba-tiba muncul. Mun Yeong berkata ia datang karena merindukan Kang Tae. Ju Ri yang kebetulan lewat melihat pertemuan mereka berdua.

Setelah hujan berhenti, Kang Tae membawa Mun Yeong ke halaman. Ia berkata sudah jelas-jelas ia mengatakan tidak ingin bertemu lagi dengan Mun Yeong.

“Kau memang mengatakannya. Tapi aku tidak pernah setuju,” kata Mun Yeong.

Ia mendekati Kang Tae sambil terus menatapnya. Ia berkata ia terkesan bagaimana Kang Tae bisa tumbuh menjadi pria yang hebat. Bukan hanya tumbuh, tapi berevolusi.

 “Kau mengenalku?” tanya Kang Tae.

Mun Yeong berkata ia ingin mengenal Kang Tae lebih baik lagi. Ia bertanya kapan Kang Tae selesai bekerja. Ia datang dengan perut kosong hingga ia merasa sangat lapar.

“Apa yang kauinginkan dariku. Aku tahu kau tidak akan mundur sampai kau mendapatkannya. Jadi katakan apa yang kau inginkan,” kata Kang Tae.

“Kau. Aku akan mengambilmu dan pergi. Mun Kang Tae, yang kuinginkan adalah kau.”

Kang Tae tak menyangka jawaban tersebut. Kenapa?

“Karena kau indah. Kau tahu, seperti sepatu, pakaian, dan mobil. Ketika aku melihat sesuatu yang indah, aku menginginkannya. Dan aku harus mendapatkan apa yang kuinginkan.  Entah aku harus membayarnya, mencurinya, atau merebutnya, yang penting aku menjadikannya milikku. Kau tidak perlu alasan hebat untuk menginginkan sesuatu, bukan?”

Perawat Park memanggil Mun Yeong karena Direktur RS ingin berbicara dengannya. Di ruangan direktur terpasang misi Rumah Sakit OK: tidak apa-apa untuk menjadi apa-apa (it’s okay to not be okay). Direktur RS adalah Dokter Oh Ji Wang. Ia mengatakan merka harus melihat dulu bagaimana proses kesembuhan ayah Mun Yeong. Karena kemampuan kognitifnya sudah terganggu sejak awal, kemungkinan ia tidak akan bisa mengenali puterinya sendiri.

Tapi Mun Yeong tidak kelihatan peduli soal itu. Ia asyik melihat-lihat barang-barang di kantor Dokter Oh. Dokter Oh memiliki sebuah meja yang mirip altar, dipenuhi barang-barang koleksi Dokter Oh. Sepertinya ia mengoleksi benda-bendar keagamaan dari berbagai agama dan kepercayaan.

Dokter Oh berkata gangguan mental yang disertai tumor otak yang dialami ayah Mun Yeong akan sulit disembuhkan. Tapi kitas bisa mengurangi gejalanya, sergah Perawat Park.

“Apa kau bercanda? Meski tabib legendaris Hua Tuo (inget drama Faith) bangkit, itu tidak akan mungkin. Semua ingatannya kacau balau. Dia terus melihat dan mendengar sesuatu, merasa takut tanpa sebab. Juga terus mengatakan hal yang tak masuk akal. Harus kubilang gejalanya parah,” kata Dokter Oh.

Perawat Park berusaha memberi isyarat pada Dokter Oh tapi Dokter Oh tak memperhatikannya. Mun Yeong berkata gejalanya seperti orang kerasukan. Apa perlu diadakan ritual pengusiran setan? Dokter Oh berkata obat resepnya akan lebih efektif daripada jimat atau pengusiran setan.

Kang Tae membantu ayah Mun Yeong berbaring di tempat tidur. Pasien sebelah, Kan Pil Woong, tiba-tiba berkata kalau ayah Mun Yeong sama sekali tidak mirip puterinya.

“Puteri Profesor Go sangat cantik.  Kurasa turunan dari ibunya yang sudah almarhum.’

Pasien lainnya, Joo Jung Tae, langsung tertarik begitu mendengar perempuan cantik. Ia adalah seorang alkoholik. Kang Tae memperhatikan bekas-bekas luka di tangan ayah Mun Yeong.

Dokter Oh dan Perawat Park menjelaskan ada program terapi kelompok di rumah sakit mereka. Dari memasak, seni, musik untuk meditasi, dan berkebun. Program-program itu dirancang untuk membantu merawat pasien. Namun mereka belum memiliki kelas literatur. Padahal dalam ilmu psikiatri, keseimbangan adalah sangat penting.

Dokter Oh bertanya apakah Mun Yeong bisa membantu mereka selama satu jam, dua kali seminggu. Bisa tentang menulis atau membaca. Anggap saja menggunakan keterampilan Mun Yeong untuk perbuatan baik. Perawat Park berusaha menyadarkan Dokter Oh agar tidak berlebihan.

Dokter Oh berkata sebagai gantinya Mun Yeong bisa mengajak ayahnya jalan-jalan selama 30 menit setiap kali ia datang mengajar. Mun Yeong berkata bukankah harusnya ia yang mengajukan syarat. Dokter Oh tersenyum bangga dan berkata ini adalah resep bagi ayah Mun Yeong dan Mun Yeong.

Mun Yeong keluar sambil merobek-robek selebaran program rumah sakit yang tadi diberikan. Dokter Oh baru tahu kalau Mun Yeong cukup temperamen. Perawat Park bertanya apakah Dokter Oh benar-benar berharap Mun Yeong menerima tawaran tadi di saat semua media sedang memberitakannya.

“Tapi dia datang ke sini meski semua itu terjadi. Dan itu artinya ada seseorang atau sesuatu yang ia kejar di sini,” kata Dokter Oh sambil membunyikan kerincing. Hmmm kerincing itu kalau di drama Hi Bye Mama digunakan untuk mengusir hantu... dan dokter ini menarik juga, terlihat polos tapi sepertinya ia tahu banyak hal ;p

Kang Tae berada di ruang ganti pakaian karena shiftnya sudah selesai. Perawat shift berikutnya, Chan Yong, baru saja tiba. Ia lebih muda namun seorang pemarah. Ia kesal ketika Kang Tae menegurnya karena salah menggunting perban.

Kang Tae sedang berganti pakaian ketika terdengar pintu dibuka. Kang Tae mengira Chan Yong yang masuk karena itu ruang ganti pria dan  mungkin Chan Yong takut dimarahi Perawat Park. Tapi ternyata suara wanita yang menjawab. Lebih tepatnya, suara Mun Yeong.

Kang Tae terkejut. Mun Yong menatap Kang Tae dari atas ke bawah dan hendak menyentuh roti sobeknya. Tapi Kang Tae menyuruh Mun Yeong keluar tapi Mun Yeong berkata Chan Yong yang tadi menyuruhnya masuk. Wow, ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari perut Kang Tae.

Kang Tae mendorong Mun Yeong keluar. Mun Yeong mencoba bertahan sambil terus berusaha menyentuh Kang Tae. Kang Tae membuka pintu. Tepat saat itu, Ju Ri lewat. Upsss.....

Kang Tae tak mengatakan apapun dan kembali masuk ruang ganti. Sementara Mun Yeong tersenyum menang melihat Ju Ri.

Mun Yeong tahu Ju Ri tidak ingin kalau orang lain tahu mereka saling mengenal. Dan baginya itu tidak masalah. Tapi yang lebih membuat Ju Ri ingin tahu adalah bagaimana Mun Yeong dan Kang Tae bisa saling mengenal. Mun Yeong berkata ia tidak mengerti bagaimana bisa sebuah hubungan dijelaskan hanya dengan satu kata.

“Setiap pertemuan kami sangat dramatis, seinci lagi dari kematian. Dan setiap momen pertemuan kami, kami membuat terkejut satu sama lain. Jika kebetulan satu per satu  seperti itu entah bagaimana membawa kami ke sini, bagaimana caranya kau menjelaskan hubungan kami? Akan klise bila mengatakan kami ditakdirkan satu sama lain, bukan?”

Ju Ri terdiam.

Kang Tae hendak pulang. Mun Yeong menyusulnya dengan mobilnya dan menyuruhnya naik. Kang Tae tak mempedulikannya dan menelepon. Tapi ia tidak bisa berbicara karena Mun Yeong terus menekan klakson mobil hingga sangat berisik. Ia mengajak Kang Tae makan malam bersama. Tapi Kang Tae menolak karena ia sudah ada rencana makan malam.

“Oh, bersama Sang Tae oppa? Sempurna. Kita bisa mengadakan jumpa fans hari ini. Di mana kau tinggal?”

“Kurasa menerobos memaksa masuk seperti ini biasanya berhasil, tapi tidak akan berhasil padaku,” kata Kang Tae kesal.

“Jadi kau akan main tarik ulur? Wah, pasti menyenangkan. Kita cari tahu apakah kau akan menyerah atau tidak. Baiklah, lihatlah matamu yang melotot itu. Aku akan biarkan kau hari ini. Tapi aku akan menculiku jika kau main tarik ulur pada pertemuan berikutnya!” teriaknya.

Mun Yeong menyusuri jalanan yang gelap berliku. Sama sekali tidak ada penerangan di sepanjang jalan yang membelah hutan itu. Lampu sorot dari mobil berlawanan membuat Mun Yeong silau. Ia melihat spion dan terkejut karena melihat sosok seorang wanita di bangku belakang. Ia cepat menoleh tapi tidak ada siapapun.

Ketika ia melihat ke depan ia terkejut dan langsung mengerem mendadak. Setelah menenangkan diri ia melihat  ke depan apa yang telah menghalanginya. Ternyata seekor rusa berdiri di tengah jalan sambil terus bersuara. Mun Yeong yang kesal malah membalas teriakan si rusa. Astaga Mun Yeong ngapain sih XD

Kang Tae bertemu dengan Ju Ri di minimarket. Mereka pulang bersama karena Kang Tae memang menyewa bagian rumah Ju Ri yang tidak digunakan. Dan Jae Su juga ikut dengan mereka. Ju Ri tadinya mengira Kang  Tae akan makan malam bersama Mun Yeong. Kang Tae berkata mereka tidak dekat dan lagi makan malam adalah satu-satunya waktu di mana ia bisa makan bersama kakaknya.

Mun Yeong melanjutkan perjalanan menembus hutan yang gelap. Hingga akhirnya tiba di depan sebuah gerbang besar yang tidak terawat. Ia membuka gembok gerbang dan melangkah masuk.

Di Seoul, Direktur Lee benar-benar cemas karena Mun Yeong pergi ke Seongjin. Ia seharusnya tidak pergi ke tempat itu. Tempat apa, tanya Seung Jae.

“Kastil yang dikutuk. Itu adalah kediaman yang dibangun ayah Mun Yeong untuk merayakan kelahirannya. Beliau membangunnya di tengah hutan belantara agar istrinya bisa fokus menulis. Dulunya merupakan tempat mewah, bahkan memenangkan pernghargaan arsitektur. Tapi sekarang menjadi terbengkalai, seperti rumah hantu.”

Halaman rumah besar itu ditutupi dedaunan kering. Seluruh tempat itu gelap dan terkesan menyeramkan. Ketika Mun Yeong membuka pintu rumah dan melangkah masuk. Ada sosok wanita yang tiba-tiba menyentuh jendela.

Seung Jae bertanya kenapa rumah itu tidak dijual saja. Direktur Lee berkata bukannya tidak mau dijual, tapi tidak bisa dijual.

“Ibunya menjadi seperti itu di rumah itu. Dan ayahnya menjadi seperti ini. Siapa yang mau membeli rumah dia mana begitu banyak peristiwa buruk terjadi?”

“Seperti itu, seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka?” (aku juga ingin tahu, Seung Jae ssi..sungguhan ;p)

Tapi Direktur Lee berkata sebaiknya Seung Jae tidak bertanya-tanya atau akan mendapat masalah (Oke..siap bos!)

Dengan polosnya Seung Jae malah bertanya kenapa Mun Yeong pergi ke tempat itu. Direktur Lee jadi kesal lagi ingat penyebabnya. Gara-gara Seung Jae memeriksa latar belakang seseorang dan memperlihatkannya pada Mun Yeong. Seung Jae membela diri lebih baik ia melakukannya daripada kehilangan nyawanya.

Mun Yeong naik ke lantai 2. Sebuah pintu di ujung  lantai 1 tiba-tiba menutup sendiri. Dan sebuah pintu lain yang dikunci dengan rantai tiba-tiba bergerak seakan ada yang hendak mendobrak keluar. Entah itu hanya efek tambahan agar terkesan menyeramkan, atau memang ada sesuatu di balik pintu terkunci itu.

Mun Yeong  membuka pintu balok. Ia membuka payung yang sejak tadi dibawanya. Dari dalam payung jatuh sebuah benda. Mun Yeong mencuri benda itu dari meja Dokter Oh. Seperti patung kayu tradisional kecil. Ia menaruh patung itu di meja lalu membaringkan dirinya di tempat tidur. Lapar, keluhnya.

Kang Tae sedang makan malam bersama Sang Tae, Jae Su, Ju Ri, dan ibu Ju Ri. Ibu Ju Ri sangat ramah dan senang dengan kehadiran tiga pemuda itu di rumahnya.  Jae Su tinggal di semi basement, sedangkan Kang Tae dan Sang Tae tinggal di atao. Mereka makan bersama dengan penuh kehangatan.

Tapi Jae Su bisa melihat kalau Ju Ri dan ibunya  sangat memperhatikan Kang Tae. Ia berbisik pada Sang Tae kalau ibu Ju Ri sudah memilih dan ingin Kang Tae menjadi menantu. Ju Ri dan ibunya pura-pura tidak mendengar.

“Dahulu kala di sebuah kastil di tengah hutan, hiduplah seorang puteri yang telah tertidur bertahun-tahun lamanya. Sebuah jarum dari alat pemintal akan membunuhnya. Itulah kutukan yang diberikan Penyihir Jahat pada Sang Puteri pada hari ia dilahirkan. Ketakutan, Raja membakar semua alat pemintal di kerajaannya untuk menghindari kutukan itu. Tapi Puteri tertusuk duri mawar yang diberikan oleh Si Penyihir yang menyamar dan tertidur. Dongeng ini memberitahumu bahwa kau tidak bisa melarikan diri dari takdirmu.”

Mun Yeong gemetar kedinginan dalam tidurnya. Sosok tak terlihat keluar dari pintu lantai satu, menapaki lantai dua dan masuk kamar Mun Yeong. Mun Yeong terbangun. Sosok mengerikan itu melayang di atasnya. Membuat Mun Yeong tak bisa bergerak dan matanya memancarkan ketakutan yang amat sangat. Gejala sleep paralysis atau tindihan.

“Benar, ciuman Sang Pangeran seharusnya bisa mematahkan kutukan itu.”

Namun sosok itu menyentuh wajah Mun Yeong lalu berbisik di sisinya.


“Tapi jangan terlalu berharap... karena aku akan membunuh pangeran itu.” Sosok itu terkekeh melihat Mun Yeong gemetar menahan tangis.

Mun Yeong kecil menatap air danau yang tenang di hadapannya. Namun terdengar bisikan, “Selamatlkan aku...selamatkan aku...kumohon...selamatkan aku!”

Sesosok bayangan hitam menyeruak keluar dari dalam air.

Mun Yeong terbangun lalu menangis ketakutan. Namun ia ingat Kang Tae mengajarkan metode pelukan kupu-kupu padanya. Ia membayangkan Kang Tae berada di sisinya untuk menenangkannya. Dalam bayangannya itu Kang Tae bersikap lembut dan memintanya untuk tidak menangis. Mun Yeong langsung merasa tenang. Ia mempraktekkan pelukan kupu-kupu yang diajarkan Kang Tae.

Rumah Sakit OK kedatangan pasien penting. Ia adalah anak seorang pejabat daerah itu. Tapi ia juga pasien langganan rumah sakit itu. Seorang pemuda yang nampak ramah dan biasa saja. Well, mungkin sedikit aneh dari pakaian yang dikenakannya. Ia bertanya di mana direktur rumah sakit. Kenapa tidak menyambutnya?

Dokter Oh sedang sibuk mencari patung kayu Cheo Yong. Patung kayu unik yang dicuri Mun Yeong. Patung itu dibutuhkannya untuk tidur siang.  Menurutnya patung itu berguna untuk mencegah munculnya tindihan. Hmmm...tidak berguna tuh untuk Mun Yeong..

Mun Yeong akhirnya mau menjawab telepon Direktur Lee. Direktur Lee berkata masalah kali ini akan sulit untuk diselesaikan karena banyak saksi. Ia menyarankan agar Mun Yeong berpura-pura sedih di depan media, mengatakan kalau ia stress karena menulis buku baru, insomnia, dan lain-lain. Mendengar itu Mun Yeong mendapat ide.

“Gunakan Go Dae Hwan sebagai alasan.”

“Maksudmu, ayahmu?”

“tulislah seperti ini: Go Mun Yeong menghilang. Ternyata, ia merawat ayahnya yang demensia. Apakah ia akan pensiun dari karirnya? Akhiri dengan pertanyaan hingga itu terdengar sebagai sebuah kemungkinan.”

Direktur Lee menyukai ide tersebut. Dengan menghilang di tengah-tengah perburuan, orang-orang akan meminta Mun Yeong kembali. 

Kwon Gi Do, pasien yang baru masuk tadi, mulai berbuat ulah. Di dalam kamar tempat ia dirawat, ia sengaja menghadap kamera, lalu membuka jaketnya. Dan ternyata ia tidak mengenakan apa-apa di baliknya. Ia sengaja melakukan itu di depan kamera, agar orang-orang melihat. Tapi Perawat Park menutupi layar  dengan kertas agar tidak ada yang melihat.

Saat Kang tae masuk, Kwon Gi Do sedang sibuk pamer tubuhnya. Tapi Kang Tae bersikap biasa saja dan tidak menunjukkan perhatian. Ia mengingatkan ada kamera dalam kamar itu.

“Aku tahu. Memikirkan ada orang yang menontonku membuatku sangat bersemangat,” kata Gi Do.

Kang Tae menyuruh Gi Do berpakaian tapi Gi Do berkata ia tidak kedinginan sama sekali. Kwon Gi Do adalah seorang penderita sindrom manik (di antaranya terlalu antusias dan bersemangat, tidak bisa berpikir jernih, selalu bertenaga seolah tidak butuh tidur). Dan setiap tahun pada musim semi dirawat di rumah sakit ini karena  gejala-gejala maniknya. Setiap kali hujan, ia akan menyelinap keluar dan berkeliaran di hutan. Dia juga cepat hingga sulit untuk ditangkap.

Cha Yong tak habis pikir bagaimana bisa anak seorang penjabat menderita manik. Memangnya Presiden tidak pernah flu, sergah Perawat Park. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan ayah Gi Do. Ia mulai menceramahi Cha Yong karena berpendapat bias pada pasien. Cha Yong buru-buru kabur dari sana tanpa mau mendengar lagi sampai Perawat Park kesal. Byul berkata sepertinya Cha Yong memiliki ODD (Oppositional Disposition Disorder, gangguan perilaku yang sering membantah atau menentang).

Gi Do akhirnya berpakaian. Ia bertanya apakah Kang Tae pernah mendengar mengenai suatu tempat bernama Morning Sun.  Sebuah klub di mana orang-orang bisa berpesta sampai pagi, sesuai namanya. Ia dengar itu adalah klub terpanas saat ini jadi ia pergi ke sana. Ia bercerita bagaimana dirinya saat di klub tersebut. Berpesta, minum-minum, menraktir semua orang tapi kemudian kartu kreditnya adalah kartu kredit yang dilaporkan menghilang. Lah dokter Oh kok jadi manajer klub XD

Karena hendak ditangkap para preman klub tersebut, ia melarikan diri sekuat tenaga. Ia berlari dan terus berlari hingga ke jalan raya. Menghindari mobil-mobil yang hendak menabraknya. Ia berkata ia jadi kepanasan karena terus berlari. Itu sebabnya ia membuka semua pakaiannya. Lalu tiba-tiba ia melihat waktu seakan berhenti ketika mobil saling menabrak bahkan ada yang melayang.  Dan ia berakhir masuk rumah sakit lagi. 

Kang Tae bertanya seberapa cepat lari Gi Do dalam menempuh jarak 100m. Gi Do menyombong ia sangat cepat, sekitar  7 detik. Ia balik bertanya bagaimana dengan Kang Tae. Enam detik, jawab Kang Tae. Gi Do terkagum-kagum dan berkata mereka bisa lomba lari jika mau. Ia senang dengan Kang Tae.  Karena itu ia menurut ketika Kang Tae mengajaknya ke ruang konsultasi.

Kang Tae mengingatkan Sang Tae untuk tiba di rumah sakit sebelum jam 3 sore. Ia bertanya apakah Sang Tae sedang menggambar lagi. Di adonan, gumam Sang Tae. Jae Su kali ini membuka kedai pizza dan Sang Tae membantunya di sana tanpa sepengetahuan Kang Tae. Karena itu Jae Su menyuruh Sang Tae cepat menutup teleponnya.

Pekerjaan Sang Tae adalah menggambar sketsa pelanggan jika mereka memesan pizza ukuran full. Tujuannya adalah untuk menarik pelanggan baru. Dan Sang Tae juga mendapat uang. Sang Tae takut ketahuan Kang Tae setelah Kang Tae tadi menelepon.  Tapi akhirnya ia membantu juga setelah dibujuk Jae Su.

Kang Tae berusaha menelepon kakaknya lagi, tapi teleponnya tidak diangkat. Cha Yong memanggilnya untuk membantu mengumpulkan para pasien di ruang terapi.

Kang Tae bengong saat melihat siapa yang ada di ruang terapi. Siapa lagi kalau bukan Mun Yeong. Artinya ia bersedia mengajar kelas literatur di rumah sakit itu.  Namun matanya selalu terarah pada Kang Tae.

Ia bertanya apa itu dongeng. Kisah pernikahanku dengan IU, cerletuk Jung Tae, si pasien alkoholik. Para pasien tertawa dan mengira ia mabuk lagi. Aku tidak mabuk, ujar Jung Tae.

“Aku menyebutnya omong kosong,” kata Mun Yeong dingin. Semua terdiam.

Lalu ia menjelaskan kalau dongeng adalah fantasi kejam yang menggambarkan kekejaman dunia dengan cara paradoks (seolah-olah menentang kebenaran tapi mengandung kebenaran). Orang-orang terkejut dan bingung dengan penjelasan tak biasa itu.

Contohnya, kisah Heungbu dan Nolbu (cerita rakyat Kroea tentang dua kakak beradik. Nolbu adalah kakak yang serakah. Heungbu adalah adik yang baik hati. Wasiat ayah mereka sebelum meninggal adalah hartanya harus dibagi dua antara Nolbu dan Heungbu. Tapi karena keserakahan, Nolbu mengambil semuanya dan mengusir adiknya. Singkat cerita, Heungbu menjadi kaya karena peristiwa ajaib setelah menyelamatkan seekor burung walet yang terluka. Nolbu jatuh miskin karena mencoba mengikuti apa yang dilakukan Heungbu, tapi dengan sengaja melukai burung wale. Akhir kisah ini bahagia seperti dongeng pada umumnya. Nolbu bertobat dan hidup bahagia bersama Heungbu). Ia bertanya apa moral cerita tersebut.

“Jika kau orang baik, kau akan menang lotere (beruntung),” jawab Ok Ran, salah satu pasien.

“Salah. Heungbu menjadi miskin karena ia bukan anak sulung. Dongeng itu mengritik tradisi yang mengijinkan anak laki-laki tertua mewarisi semuanya,” kata Mun Yeong.

Bagaimana dengan Si Itik Buruk Rupa? Pasien Pil Wong berkata cerita itu mengajarkan agar tidak membeda-bedakan anak yang jelek.

“Salah. Pelajarannya adalah: mendidik anak orang lain tidak akan dihargai, jadi didiklah anak-anakmu sendiri.”

Para perawat mulai khawatir dengan ajaran Mun Yeong. Tapi Mun Yeong tidak mempedulikan mereka. Ia bertanya bagaimana dengan kisah The Little Mermaid.

“Aku tahu. Ketika kau mencintai, kau mencintai dengan setia meski kau akan lenyap menjadi buih lautan,” kata Ah Reum.

“Dia mencintai suaminya dengan setia sampai-sampai membiarkan suaminya memukulinya sampai jadi bubur,” Pasien Yoo Sun Hae menertawakan. Ah Reum mulai menangis dan berkata itu bukan salah suaminya, tapi salah alkohol. Jung Tae jadi tak enak hati.

Tapi Mun Yeong sama sekali tidak bersimpati. Ia menyuruh Ah Reum keluar jika ingin menangis. Semua langsung diam.

“Jadi, pelajaran dari The Little Mermaid adalah karma akan menggigitmu dengan keras jika kau mengingini pria yang sudah menikah.”

“Bagaimana dengan King Donkey Ears?” tanya Jung Tae.

Itu adalah kisah tentang seorang raja yang bertelinga sangat lebar hingga seperti telinga keledai. Karena malu, raja selalu menutupi telinganya agar tidak ada orang yang tahu. Hanya satu orang yang tahu, yaitu pencukur rambutnya. Raja melawang pencukurnya untuk memberitahu orang-orang tentang telinganya. Tapi pencukur itu tak tahan tak memberitahu siapapun. Ia menggali lubang di sebuah tanah kosong, lalu meneriakkan rahasia itu ke dalamnya. Kemudian menutup lubang tersebut dengan tanah.

Bertahun-tahun kemudian sebuah sekolah dibangun di tanah kosong tersebut. Ketika anak-anak sedang bermain, mereka menemukan lubang itu dan terdengarlah suara si pencukur bergema meneriakkan rahasia telinga raja. Dengan cepat berita itu menyebar dan membuat semua orang menertawakan raja. Raja sangat marah. Ia menjebloskan si pencukur ke dalam penjara. Si pencukur menyesal karena tidak bisa menjaga rahasia padahal sudah berjanji.

“Bicarakan orang lain di belakang (bergosip) untuk mengurangi stress,” kata Mun Yeong.

Para pasien tampaknya menyukai ajaran unik Mun Yeong itu. Mun Yeong berkata kesimpulan pelajaran hari ini adalah dongeng bukanlah sebuah halusinogen yang memberi harapan dan impian. Itu adalah pendorong agar orang-orang menghadapi kenyataan.

“Jadi kuharap kalian banyak membaca dongeng dan bangun dari mimpi kalian. Jangan menatap langit untuk melihat bintang-bintang yang indah. Lihatlah ke kakimu yang terjebak dalam lumpur kotor. Begitu kalian menyadari itu dan menerima kenyataan, everybody will be happy. Happy happy...” kata Mun Yeong tanpa wajah happy.

Para pasien senang dengan kalimat penutup tersebut. Happy....

Ju Ri baru mendengar kalau Mun Yeong mengajar literatur di rumah sakit ini. Perawat Park berkata Dokter Oh yang memintanya sebagai ganti membiarkan ayahnya jalan-jalan setiap kali ia berkunjung. Ia juga menceritakan pendapat Dokter Oh kalau Mun Yeong mengincar sesuatu di tempat ini. Dan Ju Ri bisa mengira apa itu.

Mun Yeong mengamati Kang Tae yang sibuk membereskan ruang terapi setelah para pasien keluar. Ia menanyakan pendapat Kang Tae mengenai pelajarannya. Kang Tae awalnya tidak mau meladeni tapi akhirnya ia bertanya apakah Mun Yeong benar-benar mempercayai hal itu.

“Bahwa kita akan baik-baik saja begitu bisa menerima kenyataan.”

“Ya. Aku adalah aku, dan kau adalah kau. Kita hanya perlu menerima itu,” jawab Mun Yeong.

“Bagaimana jika kita menerimanya tapi seluruh dunia tidak berpendapat seperti itu? Mereka menolak untuk menerima...”

Mun Yeong sengaja menguap dengan suara keras dan berkata itu membosankan. Ia mengikuti Kang Tae keluar ruangan dan menyarankan agar Kang Tae menerima saja kenyataan bahwa ia tidak puas dengan hidupnya. Kang Tae terlihat hendak proites.

“Lihat? Aku bisa melihat matamu terbakar keinginan. Karena itu aku menyukaimu. Kau arogan tapi dangkal.”

Kang Tae berjalan pergi, tak mau meladeni Mun Yeong. Cara yang salah, karena Mun Yeong memperkeras suaranya bahkan ketika mereka masuk lobi.

“Aku melihat kau selalu tersenyum pada pasien tapi kenapa kau sangat dingin padaku? Kau sangat penyayang malam itu.”

Kang Tae bertanya apa maksud Mun Yeong. Mun Yeong berkata ia memimpikan Kang Tae beberapa hari lalu. Bagaimana Kang Tae duduk dan memeluknya di tempat tidur. Kang Tae khawatir orang-orang salah paham dan menyuruh Mun Yeong mengecilkan suaranya. Mun Yeong menutup mulutnya. Tapi begitu Kang Tae berbalik pergi, ia berteriak.

“Kau mau tidur denganku?!”

Kang Tae langsung menggiring Mun Yeong pergi. Sementara para pasien dan perawat terkejut sekaligus kagum melihat keberanian Mun Yeong.

Kang Tae membawa Mun Yeong ke tempat sepi dan mengingatkan agar ia berhenti.

“Aku muak dengan gurauanmu. Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu.”

“Artinya kalau kau ada waktu, kau akan ikut bermain.”

Jangan sembarangan menyimpulkan, kata Kang Tae. Kenapa menjalani hidup yang membosankan, tanya Mun Yeong.

“Kau akan sakit jika menahan diri seperti itu. Jika kau ingin bersenang-senang, maka bersenang-senanglah. Aku tahu kau ingin bersenang-senang.”

“Apa yang kautahu tentang diriku? Siapa kau hingga bertingkah seperti ini,” kata Kang Tae marah.

Munafik, ujar Mun Yeong. Kang Tae terdiam. Mun Yeong bertanya kenapa Kang Tae sekaget itu. Orang-orang akan berpikir itu benar.

“Semua orang munafik. Kita semua hidup dalam banyak kebencian, tapi kita bersikap seakan-akan tidak seperti itu. Dan lagi, siapa yang sempurna?”

Mun Yeong meninggalkan Kang Tae dengan senyum. Namun senyumnya lenyap ketika ia melihat ayahnya di lorong rumah sakit. Ia berjalan pelan sambil melirik ayahnya. Ia melihat bekas luka di tangan ayahnya. Bekas cakarannya ketika ayahnya mencekiknya untuk membunuhnya.

Ayah Mun Yeong sepertinya mengenalinya. Ia terlihat takut dan mulai bersuara panik. Tapi tidak ada kata-kata yang keluar, hanya erangan ketakutan. Byul menghampirinya dan melihat Mun Yeong yang berjalan pergi.

Sang Tae sudah tiba di rumah sakit tapi ia bingung karena berada di tempat asing dan tidak bisa menemukan Kang Tae. Untunglah Ju Ri melihatnya dan menyuruhnya menunggu sebentar. Tapi ketika ia kembali, Sang Tae sudah lenyap dari lobi.

Ternyata Sang Tae melihat Mun Yeong dari jauh dan langsung mengikutinya. Ia terus mengikutinya tapi Kang Tae menemukannya lebih dulu. Ia berkata kakaknya salah lihat dan membawanya masuk.

Byul menyusul Mun Yeong ke tempat parkit dan berkata ia harus mengajak ayahnya jalan-jalan. Kenapa aku harus melakukannya, tanya Mun Yeong. Byul berkata ia dengar Dokter Oh berjanji mengajar agar bisa mengajak ayahnya jalan-jalan.

“Itu tidak benar. Aku tidak membuat janji,” kata Mun Yeong. Ia naik ke mobilnya lalu pergi.

Sang Tae gugup berada di ruangan Dokter Oh sendirian tanpa Kang Tae, ditambah bunyi-bunyian berirama dari benda-benda di ruangan itu. Kang Tae menunggu di luar ruangan. Dokter Oh menatap Sang Tae selama beberapa waktu tanpa mengatakan apapun. Sang Tae tak tahan lagi dan berjalan keluar.

“Stegosaurus,” kata Dokter Oh. Ia mulai membicarakan dinosaurus itu sesuai dengan apa yang diketahui Sang Tae. Ia bahkan menanyakan nama boneka dino Sang Tae. Sang Tae langsung tertarik.

Beberapa waktu kemudian, Kang Tae mendengar Dokter Oh memanggilnya. Ia masuk dan mendapati kakaknya sedang sibuk memperlihatkan seluruh isi tasnya pada Dokter Oh. Semua benda kesukaannya. Dan memberikan topinya pada Dokter Oh. Dokter Oh tersenyum, dan berkata sepertinya Sang Tae menyukainya. Kang Tae tersenyum lega.

Dokter Oh berkata Sang Tae terlalu berbakat untuk dibiarkan menggambar hanya sebagai hobi. Sanga Tae mengoceh ia akan menggambar sketsa Dokter Oh seharga 10 ribu won, tak perlu memesan pizza. Upss..ketahuan deh.

Kang Tae bertanya apakah Sang Tae membicarakan tentang kupu-kupu. Tidak, kata Dokter Oh. Ini baru hari pertama, ia yakin suatu hari nanti Sang Tae akan menceritakannya. Ia memanggil Sang Tae dan memperlihatkan pemandangan di luar jendela kantornya.

Ia ingin memindahkan pemandangan itu ke suatu tempat. Ia membawa Sang Tae dan Kang Tae ke sebuah tembok kosong. Ia ingin Sang Tae menggambarkan pemandangan di kantornya tadi ke tembok itu. Sang Tae ternganga melihat “kertas gambar” raksasa itu. Kang Tae agak ragu. Tapi Dokter Oh berkata ini adalah resep perawatannya untuk Sang Tae.

Tanpa disangka Sang Tae malah bertanya berapa banyak Dokter Oh akan membayarnya. Ia akan melakukannya jika dibayar banyak. Itu tergantung lukisanmu, kata Dokter Oh tersenyum. Kang Tae sampai tak enak hati.

Di rumah, Kang Tae melihat Sang Tae sedang menaruh uang di kotak tabungannya. Ia terkejut melihat tabungan kakaknya yang cukup banyak. Sang Tae cepat-cepat menyembunyikan kotak itu di punggungnya. Ia tidak mau memperlihatkannya pada Kang Tae sampai ia berhasil meraih tujuannya.

“Tapi aku adikmu,” protes Kang Tae.

“Bagi orang autis, keluarga itu seperti orang asing yang dekat.”

Kang Tae agak sedih mendengarnya. Ia bertanya Sang Tae akan menabung sampai berapa banyak. 32.890.000 won (hampir 500 juta rupiah). Kang Tae terkejut. Untuk membeli apa uang sebanyak itu.

Mobil, jawab Sang Tae. Kang Tae makin bingung tapi Sang Tae tidak menjelaskan lebih lanjut. Kang Tae berkata ia tidak akan bertanya lagi. Sang Tae mengeluarkan sebuah brosur dan memberikannya pada Kang Tae. Iklan diskon mobil van untuk camping. Pada brosur itu tertulis:  “akan memberikan kenangan indah dan gaya hidup romantis. Ke manapun kau pergi, akan terasa nyaman seperit di rumah.”

Ia bertanya kenapa kakaknya ingin mobil itu. Kakaknya berkata dengan mobil itu mereka tidak perlu pindah setiap tahun. Mereka bisa lari meski kupu-kupu mengejar mereka. Mereka tidak perlu selalu berkemas dan pindah ke tempat lain.

“Lalu....lalu pemilik rumah tidak akan marah pada adikku. Kita bisa pergi ke manapun.”

Kang Tae terharu mendengar perkataan kakaknya. Ia memeluknya dan berkata ia tidak membutuhkan uang, mobil, atau rumah. Ia hanya memerlukan kakaknya.

Munafik. Perkataan Mun Yeong terngiang di benaknya. Kang Tae menggeleng menepis anggapan itu. Ia bersungguh-sungguh kalau kakaknya adalah segalanya baginya.

Ayah Gi Do sibuk berkampanye di media. Ia berkata akan menyingkirkan rumah sakit OK demi keamanan warga. Perawat Park berkata para pejabat selalu berkampanye berusaha menyingkirkan rumah sakit mereka setiap kali kampanye untuk pemilu. Byul tak habis pikir bagaimana bisa ayah Gi Do seperti itu padahal putera dirawat di rumah sakit mereka.

Dokter Kwon Min Seok yang menangani Gi Do berkata kalau ayah Gi Do selalu mementingkan pekerjaannya daripada anaknya sendiri.

Byul melihat sesuatu di layar monitor dan mengumumkan seeorang pasien melarikan diri. Terjadi kehebohan di rumah sakit itu karena Gi Do berusaha melarikan diri. Para perawat berusaha menangkapnya tapi tidak berhasil.

Kang Tae dan Ju Ri masih dalam perjalanan menuju rumah sakit. Kang Tae melihat-lihat harga-harga van camping yang  dijual online. Ada yang harganya setengah dari harga brosur Sang Tae. Ju Ri meliriknya dan berkata salah satu temannya menyewakan mobil van. Mereka bisa menyewanya untuk bepergian bersama-sama suatu hari nanti. Kang Tae tak menjawab. Tapi kemudian ia berkata mereka bisa pergi kalau ada waktu kosong bersama. Ju Ri senang dan berkata akan mengecek jadwal mereka bulan depan.

Kang Tae tidak mendengarkan karena ia mendapat telepon dari rumah sakit mengenai Gi Do. Cha Yong memberitahunya kalau Gi Do mendadak ngompol saat konsultasi jadi ia mengambilkan baju lain, namun ia malah melarikan diri.

Para staf rumah sakit sedang mencaritahu ke mana Gi Do pergi. Melalui rekaman CCTv mereka melihat Gi Do menghadang mobil Mun Yeong yang baru datang dan membuka jaketnya. Mun Yeong turun dari mobil dan melihat dengan tenang.

“Apa itu yang disebut orang mungil?” tanyanya.

Gi Do menutup kembali jaketnya karena malu. Ia berkata itu karena ia kedinginan. Mun Yeong melihat jamnya dan berpikir Kang Tae pasti masih dalam perjalanan ke rumah sakit. Ia mengajak Gi Do masuk mobilnya.

Dan lucunya ia malah meminta ijin memakai celana dalamnya. Ia membela diri ia melakukannya bukan karena merasa terintimidasi oleh Mun Yeong. Kau membawa celanamu ke mana-mana, tanya Mun Yeong. Gi Do berkata benda itu adalah satu-satunya benda yang mencegahnya kehilangan kewarasan.

Para staf rumah sakit yang melihat Gi Do pergi dibawa Mun Yeong langsung melapor pada Kang Tae  kalau Mun Yeong menculik Gi Do. Kang Tae melihat mobil Mun Yeong dari arah berlawanan dan menyuruh Ju Ri berhenti. Ia turun dari mobil dan berdiri di tengah jalan untuk mencegat Mun Yeong.

Tapi Mun Yeong yang melihat itu sama sekai tidak menurunkan kecepatan. Ia malah memacu mobilnya mendekati Kang Tae. Ju Ri sangat khawatir tapi Kang Tae melarangnya mendekat. Bahkan Gi Do mulai cemas dan berteriak agar Mun Yeong berhenti.

Mun Yeong berhenti tiba-tiba hanya berjarak sekitar sejengkal dari Kang Tae. Ia tersenyum. Ju Ri terduduk lemas. Gi Do kembali mengompol. Kang Tae mendekati Mun Yeong dan menyuruhnya keluar.

“Kau tidak melarikan diri. Kau tidak menghindariku juga. Aku kagum,” kata Mun Yeong.

“Keluar!” kata Kang Tae tegas.

Mun Yeong menyuruh Gi DO turun tapi Gi Do tidak mau. Ia ingin bersenang-senang. Mun Yeong mengajak Kang Tae ikut bersenang-senang bersama mereka.

“Keluar dari mobil sekarang juga!” bentak Kang Tae.

“Kenapa kau selalu begitu marah padaku?” tanya Mun Yeong tenang.

“Karena kau membuatku marah.”

Mun Yeong bertanya kenapa Kang Tae tidak mengacuhkannya saja. “Tapi kau tahu, kau harus selalu berhati-hati agar tidak lengah.”

Ia menginjak gas dan pergi. Kang Tae meminjam mobil Ju Ri dan pergi mengejar, meninggalkan Ju Ri sendirian.

Mun Yeong malah senang dikejar-kejar. Kang Tae berusaha menyusul. Ketika berhasil ia menyuruh Mun Yeong minggir. Tidak mau, kata Mun Yeong. Ia kembali mempercepat mobilnya. Gi Do senang sekali. Ia melihat orang-orang yang berkampanye untuk ayahnya.

Ia membuka sunroof dan berteriak- teriak agar orang-orang tidak memilih ayahnya karena ia seorang yang munafik total dan mendiskriminasi orang-orang. Ia terang-terangan mengatakan ia tahu karena ia anak bungsunya. Ia terus berteriak agar mereka tidak memilih ayahnya.

Mobil polisi mulai mengejar mereka dan memperingatkan agar Mun Yeong menghentikan mobilnya. Tapi Mun Yeong tidak peduli. Ia tersenyum pada Gi Do yang kesenangan. Lalu mengarahkan mobilnya ke tempat kampanya ayah Gi Do. Melewati jalan sempit dan pasar. Kang Tae juga tidak menyerah. Ia terus mengikuti Mun Yeong. Dan mobil polisi di belakangnya.

Mun Yeong menghentikan mobilnya di dekat panggung tempat kampanya Kwon Man Su, ayah Gi Do. Ayah Gi Do sebang sibuk pencitraan bersama anggota keluarganya yang lain.

“Hei, Mungil. Mari kita bersenang-senang di sini,” kata Mun Yeong tersenyum.

Gi Do dan Mun Yeong turun dari mobil. Gi Do langsung lari ke atas panggung. Ia memperkenalkan dirinya sebagai putera bungsu Kwon Man Su. Ayahnya kaget dan panik karena Gi Do ada di sana.

“Seperti kalian lihat, aku sakit jiwa! Ta benar, aku lah itik buruk rupa di dalam keluarga. Aku adalah aib keluarga kami!,” kata Gi Do sambil tertawa.

Kang Tae tiba di lokasi dan langsung berlari mendekati. Tapi ia berhenti saat mendengar perkataan Gi Do.

“ Kalian tahu, semua orang di keluargaku termasuk orangtuaku, saudara-saudariku, dan sepupu-sepupuku lulusan jurusan hukum SNU. Akulah satu-satunya orang bodoh dalam keluarga. Tapi itu bukan salahku. Aku hanya...aku hanya terlahir sedikit bodoh,” matanya berkaca-kaca menahan tangis, “Tapi Ayah memukulku karena nilaiku jelek. Ayah merendahkanku karena aku tidak bisa mengerti dengan benar. Ayah mengunciku karena menyebabkan masalah.

Maksudku, aku juga anaknya. Tapi ia memperlakukanku seolah-olah aku tidak terlihat. Aku hanya ingin Ayah melihatku. Jadi aku melakukan banyak hal gila untuk menarik perhatiannya. Aku hanya berakhir gila!”

Gi Do berteriak, tertawa sambil menangis. Kang Tae tersentuh mendengar kata-kata Gi Do. Ia hanya diam melihat Gi do lari ke sana kemari di atas panggung. Membuat kegilaan untuk menghindar dari orang-orang yang hendak menangkapnya. Mun Yeong menghampirinya.

Mereka memperhatikan Gi Do yang sedang “bersenang-senang”. Melompat ke sana kemari. Dan Kang Tae mulai membayangkan dirinya membiarkan dirinya bebas seperti Gi Do.

“Dia sangat bersenang-senang. Kau setuju, kan?” kata Mun Yeong.

“Apakah sebaiknya aku bersenang-senang denganmu? Haruskah?” tanya Kang Tae.

Mun Yeong sedikit kaget. Lalu ia tersenyum.

Epilog:

Dalam cerita Gi Do ketika mengunjungi klub, ternyata ia menceritakannya sambil menyusuri lorong rumah sakit dan membayangkan dirinya berada dalam klub itu. Kang Tae hanya mengikutinya sambil tersenyum dengan penuh pengertian dan seisi rumah sakitnya tampaknya sudah biasa melihatnya. Ketika Gi Do berlari sambil membuka pakaian, ia sebenarnya berlari di atas treadmill ruang terapi. Lalu ia berhenti sendiri karena kelelahan dan menyadari ia kembali di rumah sakit.

Komentar:

Kenapa Kang Tae bisa begitu terpengaruh dengan "kebebasan" Kwon Gi Do? Karena menurutku hidupnya selama ini demi kakaknya. Ia menekan segala keinginannya demi kakaknya.Menurutku ia bahkan menahan diri membeli barang-barang yang ia inginkan demi membelikan apa yang menjadi kesukaan kakaknya. Ia juga sulit memiliki waktu untuk istirahat atau bersenang-senang karena ia harus menjaga kakaknya. Bukan berarti ia menyesal menjaga kakaknya dan merasa terbebani. Tapi semua orang yang menjalani hidup seperti itu sangatlah melelahkan, fisik dan mental.

Karena itu, "kebebasan" Mun Yeong juga yang membuatnya mau tidak mau tertarik. Mun Yeong bisa melakukan apapun yang dia inginkan tanpa takut dan peduli dengan konsekuensinya. Ia tidak perlu meminta ijin pada orang lain, tidak merasa perlu mengalah demi orang lain. Benar-benar kebalikan dari hidup Kang Tae. Kebebasan itu yang sedikit demi sedikit menyeruak dari diri Kang Tae. 

Sebaliknya, menurutku Mun Yeong juga akan belajar bagaimana hidup tidak hanya untuk diri sendiri. Meski Mun Yeong berusaha menutup dirinya dari segala kelemahan dan selalu nampak sangat kuat. Tapi di dalam ia tidak sekuat itu. Ia pemberani karena mau menghadapi ketakutan masa lalunya. Ia berani kembali ke rumah yang menjadi tragedi keluarganya. Ia tahu akan terjadi sesuatu yang buruk tapi ia berani berusaha menghadapinya.

Mimpi buruk dan tindihan itu menurutku karena rasa takut Mun Yeong juga pada sesuatu dalam rumah itu. Keberadaan ibunya, meski tidak secara fisik. Masih penasaran dengan apa yang terjadi pada keluarganya, tapi aku yakin semua bermula dari ibunya. 

Melihat karakter-karakter dalam drama ini sangat menyenangkan karena semua berbeda dengan ciri khas masing-masing, termasuk para pasiennya. Karakter yang kusukai juga adalah Dokter Oh. Dengan caranya yang unik, kurasa ia bisa membantu Sang Tae percaya padanya dan akhirnya menceritakan tentang kupu-kupu itu. Mudah-mudahan ya...

Salah satu lagi yang menarik adalah karakter Ju Ri. Karena menurutku ia seperti orang kebanyakan. Orang yang selalu tampil baik, namun sepertinya memendam banyak hal. Entah itu iri hati, cemburu, dan perasaan tidak suka. 

Kwak Dong Yeon sebagai cameo keren bangeeeet. Ia berhasil memerankan Gi Do dengan sangat meyakinkan. Kita dikejutkan, dibuat merasa jengah, tapi sekaligus dibuat terenyuh dan kita akhirnya bersimpati padanya. Ia menjelaskan apa ayang membuatnya menjadi seperti itu. Membuatku kembali bertanya apakah ada latar belakang dari kepribadian Mun Yeong, seperti Gi Do? Atau memang dia dilahirkan seperti itu? 


Kamis, 25 Juni 2020

Sinopsis It's Okay To Not Be Okay Episode 2

Dalam ingatan masa kecilnya, Kang Tae kecil jatuh ke dalam kolam karena permukaan es yang pecah. Seorang perempuan melihatnya dan mulai mencabuti kelopak bunga sambil menimbang-nimbang, “Kutolong dia? Atau tidak? Kutolong? Atau tidak?”

Dan kelopak bunga terakhir mengatakan tidak. Kang Tae kecil mulai tenggelam. Tapi tiba-tiba ia melihat sebuah kotak dilemparkan ke air. Ia meraih kotak itu untuk menyelamatkan diri. Anak perempuan itu yang menyelamatkannya. Dan anak perempuan itu langsung pergi begitu Kang Tae keluar dari air.

Kang Tae berkata mata wanita itu sama sekali tidak memancarkan kehangatan. Apa kau takut pada wanita itu, tanya Mun Yeong.

“Tidak, sebaliknya. Aku menyukainya.”

Sejak diselamatkan, Kang Tae terus mengikuti anak perempuan itu. Menunggunya di gerbang sekolah, mengikutinya ke manapun ia pergi. Anak perempuan itu selalu sendirian.

Mun Yeong bertanya apa Kang Tae sedang mencoba mendekatinya dengan mengatakan kalau ia mengingatkannya pada anak perempuan dalam kenangan indahnya.

“Aku tidak pernah mengatakan itu kenangan yang indah,” jawab Kang Tae.

Dalam kenangannya, anak perempuan itu merobek sayap kupu-kupu entah berapa banyak. Lalu bertanya apa Kang Tae masih menyukainya setelah melihatnya seperti itu. Ia berkata Mun Yeong terlalu cepat menyimpulkan. Kenangan itu tidak akan disebutnya kenangan indah.

“Benarkah? Tapi apa kau tahu? Kenangan buruk lebih lama diingat,” kata Mun Yeong.

Direktur Lee memarahi bawahannya, Seung Jae (Park Jin Joo), karena sudah membiarkan Mun Yeong dan Kang Tae bertemu. Bisa-bisa rencananya untuk menyogok Kang Tae berantakan. Seung Jae kesal sekali karena lagi-lagi ia yang disalahkan.

Kang Tae urung menanti Direktur Lee. Ia berkata ia mengerti betapa sulitnya pekerjaannya tapi Direktur Lee tidak perlu berbuat sejauh itu untuknya. Sebaiknya Direktur Lee tidak menghubunginya lagi.

Tapi ternyata ia berpapasan dengan Direktur Lee di pintu keluar. Direktur Lee mencegahnya pergi dan mengulurkan sekotak minuman. Kang Tae menolak.

“Kau sudah mau pergi? Jangan lupa meminta tanda tangan Penulis Go,” kata Seung Jae. Bukankah tadi Kang Tae meminta tolong untuk mendapatkan tandatangannya.

Mun Yeong menyindir jadi semua pembicaraan tentang matanya dan anak perempuan dalam kenangannya hanyalah untuk meminta tanda tangannya. Tidak mau harga dirinya hancur, Kang Tae menyangkal. Tapi Mun Yeong berkata ia akan memberi tandatangannya. Ia mengambil satu dari sekotak buku (buku berjudul Zombie Kid)  yang dibawa Seung Jae.

“Ini adalah buku terbaruku. Baru keluar dari percetakan. Nama?”

“Mun Sang Tae...”

Direktur Lee bertanya apakah Sang Tae keponakan Kang Tae. Kang Tae menjawab pelan kalau itu adalah kakaknya. Direktur Lee tertawa menenangkan kalau fans Mun Yeong terdiri dari semua umur dan kewarganegaraan. Setelah mendapat buku dari Mun Yeong, Kang Tae bergegas pergi.

“Sampai jumpa lagi,” kata Mun Yeong.

“Kurasa tidak,” jawabnya singkat.

Direktur Lee mengejar Kang Tae untuk memberikan sekotak minuman (alias uang sogokan). Kang Tae berkata itu terlalu banyak untuk dirinya. Direktur Lee menjawab Kang Tae boleh bagi-bagi kalau mau. Kang Tae mengiyakan lalu hendak menumpahkan isi kotak itu dari lantai dua. Bagi-bagi dengan orang-orang di lantai bawah. Tentu saja Direktur Lee mencegahnya.

Hanya saja ia hampir terjatuh dari tangga saat melakukannya. Kang Tae mengulurkan tangannya untuk meraih pinggang Direktur Lee dan menariknya agar tidak jatuh. Awkward.....

Kang Tae mengembalikan kotak itu pada Direktur Lee dan berkata ia tidak membutuhkannya, jadi ia meminta Direktur Lee tidak mengikutinya lagi. Setelah Kang Tae pergi, Direktur Lee berkata selama 10 tahun ia membereskan masalah Mun Yeong baru kali ini ada yang menolak. Orang yang aneh...

Mun Yeong memperhatikan Kang Tae yang berjalan pergi.

“Indahnya....aku meginginkannya....” (Mun Yeong tiba-tiba jadi raksasa XD)

Tapi tentu saja ia bukan raksasa betulan yang bisa memungut Kang Tae dan menjadikannya mainannya. Ia memanggil seung Jae dan menyuruhnya mencaritahu segala sesuatu mengenai Kang Tae. Dan ia mewanti-wanti agar Direktur Lee tidak sampai tahu.

Sang Tae sedang makan siang bersama Jae Su. Kang Tae menelepon Jae Su untuk mengecek kabar kakaknya. Ia juga memberitahu kalau ia berhasil mendapatkan tandatangan Mun Yeong. Begitu Sang Tae mendengarnya, ia langsung berhenti makan dan pergi. Jae Su buru-buru mengejarnya.

Di dalam bis, Kang Tae membaca pesan Mun Yeong yang dituliskan untuk kakaknya di buku tersebut:

“Sang Tae oppa, kuharap kakak bisa datang ke acara peluncuran buku baruku. Kakak bisa mendapatkan tandatangan dan berfoto denganku. Kita akan bersenang-senang. Mun Yeong akan menunggumu. Kedip!” (Mun Yeong menuliskannya dengan bahasa aegyo)

Ada apa dengan wanita ini, gumam Kang Tae kesal.

Ia lalu menelepon Jae Su untuk meminta bantuannya menemani kakaknya ke acara itu. Ia beralasan ia akan sibuk mengurusi kepindahan mereka. Jae Su bersedia menemani Sang Tae. Kang Tae berterimakasih padanya.

“Jadi siapa favoritmu? Kak Sang Tae atau aku?” tanya Jae Su.

Klik, Kang Tae langsung menutup telepon.

Jae Su tertawa geli dengan reaksi Kang Tae. Tapi senyumnya merekah lebar begitu melihat siapa yang menemuinya. Perawat Nam Ju Ri.

Sementara itu Sang Tae sibuk mencari pakaian yang tepat untuk dikenakannya ke acara tersebut. Ia ingin terlihat seperti mahasiswa Universitas Oxford. Ia sangat senang dan bersemangat sampai-sampai Kang Tae tak bisa menahan senyumnya. Ia membantu memilihkan pakaian untuk kakaknya.

Tapi ia kembali sedih ketika melihat kakaknya bingung bagaimana mengungkapkan ekspresi keren di depan cermin. Bagaimana caranya agar terlihat keren?

Jae Su berteman lama dengan Kang Tae. Ju Ri pernah bersekolah dengan Mun Yeong. Kang Tae mengenal Mun Yeong dari kecil. Ju Ri mengenal Jae Su. Kesimpulannya, mereka berasal dari kota yang sama. Dan tujuan Ju Ri menemui Jae Su adalah untuk mencaritahu kabar Kang Tae. Sepertinya ia memendam perasaan suka pada Kang Tae. Jae Su berkata Kang Tae baik-baik saja. Tak hentinya bekerja keras bagai mesin.

Buku terbaru Mun Yeong mendapat kritik keras karna ilustrasi gambar terlalu aneh dan buku lainnya juga dikritik karena terlalu kejam. Tapi Mun Yeong tidak bergeming dan tidak mau mengubah apa yang ada.

Salah satu bukunya yang berjudul The Ugly Dog’s Puppy akan dibuat menjadi film animasi di Amerika tapi mereka meminta agar tokoh utama diganti menjadi kucing. Mun Yeong tidak setuju. Jika mereka mengubahnya, ia akan membatalkan kontrak.

Direktur Lee berkata mereka akan rugi besar jika itu terjadi. Lebih baik rugi atau mati menderita, tanya Mun Yeong dingin. Direktur Lee langsung menurut.

Mun Yeong meninggalkan rapat begitu saja setelah mewanti-wanti acara tandatangan buku besok tidak lebih dari satu jam. Lebih cepat lebih baik. Ia memberi isyarat pada Seung Jae kalau ia menunggu laporannya (mengenai Kang Tae).

Seung Jae bergidik. Setelah rapat ia mencoba menghubungi pamannya yang seorang polisi untuk mencari data Kang Tae. Tentu saja ia tidak mendapatkannya. Ia bertanya apa pamannya punya kenalan orang intelejen atau detektif swasta. Pamannya langsung menutup telepon.


Ju Ri menemui Kang Tae di tempat kerja terakhirnya. Mereka duduk bersama di sebuah taman. Ju Ri bergeser mendekati Kaeng Tae tapi Kang Tae menjauh dengan alasan ia berkeringat. Ju Ri berkata ia diberitahu Jae Su di mana ia bisa menemui Kang Tae. Dan ia dengar mereka akan pindah kembali.

“Kau bisa pindah kapanpun tanpa terikat pada suatu tempat. Aku iri. Apa kau sudah menemukan rumah sakit tempat kau bekerja berikutnya?”

Kang Tae berkata ia yakin nanti akan menemukannya karena rumah sakit jiwa semkain banyak. Ju Ri menawarkan agar Kang Tae bekerja di rumah sakit tempatnya bekerja sekarang. Rumah Sakit OK.  Rumah sakit itu sedang mencari perawat berpengalaman dengan shift per delapan jam. Setiap bulan mendapat 10 hari cuti hingga bisa mengerjakan pekerjaan sambilan. Dengan sertifikasi seperti Kang Tae, ia akan bisa mendapat gaji lebih.

Kang Tae tertarik juga mendengarnya. Tapi ia langsung muram begitu tahu di mana rumah sakit itu berada. Di Kota Seongjin, kampung halaman mereka.

Ju Ri berkata ia dengar Kang Tae juga pernah tinggal kota itu. Ah, ternyata mereka tidak bertemu saat kecil. Sepertinya bertemu waktu kuliah perawat? Ia berkata kota itu sudah berkembang dan tidak lagi memiliki image kota kecil. Bahkan baru-baru ini dibuka sebuah bioskop besar.

Kang Tae teringat peristiwa mengerikan yang terjadi di kota itu. Ibunya ditemukan tewas bersimbah darah di sebuah terowongan. Meninggalkan dirinya yang masih kecil bersama Sang Tae. Sang Tae sepertinya menjadi saksi kematian ibu mereka. Namun ia tidak mengatakan siapa pelakunya. Ia terus bergumam kalau ia melihat kupu-kupu yang melakukannya. Kupu-kupu membunuh ibu mereka.

Di depan polisi pun Sang Tae terus berulang-ulang mengatakan kalau kupu-kupu yang melakukannya. Kang Tae tak tahan dan meneriaki kakaknya.

“Katakan apa yang kakak lihat! Laki-laki atau perempuan? Berapa umurnya? Seperti apa tampangnya? Apa kakak dengar suaranya!”

“Kupu-kupu berkata ia akan membunuhku juga jika aku tidak menutup mulutku. Ia bilang akan mengejarku dan membunuhku!”kata Sang Tae ketakutan lalu menangis.

Karena tersisa mereka berdua, Kang Tae akan dibawa ke panti asuhan dan Sang Tae di bawa ke pusat perawatan anak berkebutuhan khusus. Terancam akan dipisahkan, Kang Tae membuat keputusan besar saat itu. Ia mengajak kakaknya melarikan diri.

“Ke tempat di mana kupu-kupu tidak bisa menemukan kita,” jawabnya saat Sang Tae bertanya ke mana mereka akan pergi. Tempat yang jauh...dan mereka pun meninggalkan kota itu.

Kang Tae mengantar Ju Ri ke terminal bis. Sebelum naik bis, Ju Ri berkata ada kamar kosong di rumahnya. Ia dan ibunya hanya menggunakan lantai 1. Jika Kang Tae akhirnya kembali ke Kota Seongjin, ia bisa tinggal di rumahnya.

Kang Tae berkata ia tidak akan pindah ke sana. Berusaha menutupi kekecewaannya, Ju Ri bertanya apa alasannya. Apa karena di pinggiran kota? Kang Tae hanya membenarkan. Ju Ri mengangguk sambil tersenyum kecil.

Ketika berbincang dengan Jae Su tadi, Jae Su curhat kalau Kang Tae tidak pernah menjalin hubungan mendalam dengan orang lain karena toh pada akhirnya ia akan pergi. Tidak ada gunanya membangun hubungan yang hanya berlangsung 1 tahun. Ju Ri bertanya kalau begitu kenapa Kang Tae harus terus pergi.

“Itu semua.....karena kupu-kupu sialan itu!” kata Jae Su kesal. Lalu ia tertidur karena mabuk berat. Kupu-kupu? Tanya Ju Ri bingung.

Kang Tae mencari-cari lowongan pekerjaan untuk tujuan mereka selanjutnya. Karena penasaran ia mencaritahu tentang Rumah Sakit OK. Di rumah sakit itu ada dokter ahli PTSD (ahli menangani trauma), Dokter Oh Jin Wang (lah ahjusshi lagi-lagi jadi psikiater, lompat dari drama Find Me In Your Memory-kah?). Dalam sebuah artikel, Dokter Oh mengatakan seseorang harus menghadapi traumanya untuk bisa mengatasinya.

Sang Tae bersiap-siap untuk pergi ke acara Mun Yeong. Tapi Kang Tae tidak berhasil menghubungi Jae Su. Jae Su masih tidur karena mabuk semalam.

Akibatnya, Kang Tae sendiri yang mengantar kakaknya ke acara tersebut. Sepanjang perjalanan, Sang Tae sangat gembira. Duh drama ini bagus banget sinematografinya^^ Ditambah dengan musik yang cocok menciptakan suasana seakan di film Disney. Kereeeeeeen...

Meski banyak kritik atas bukunya, fans Mun Yeong sangat banyak. Toko buku tempat acara itu penuh sesak oleh orang-orang yang antri hendak meminta tanda tangan. Merchandise nya juga laku keras.

Dan Sang Tae begitu bersemangat. Ia sampai hendak meraba baju bergambar Mun Yeong yang dikenakan orang lain. Untung ada Kang Tae yang menjaganya. Karena sepertinya Sang Tae tidak bisa fokus karena terlalu excited.

Untuk menghindari bertemu Mun Yeong, Kang Tae menyuruh kakaknya antri sementara ia menunggu di luar toko. Mereka akan langsung pulang setelah Sang Tae mendapatkan tandatangan. Sang Tae dengan cepat mengiyakan lalu berlari masuk ke toko buku. Mereka tertegun melihat panjangnya antrian. Dan Mun Yeong sempat melihat mereka. Ia tersenyum kecil.

Kang Tae menghindari pandangannya dan meminta kakaknya tetap berada dalam antrian sementara ia pura-pura melihat buku lain. Mun Yeong tidak melepaskan pandangannya dari Kang Tae.

Direktur Lee melihat buku Pembunuhan Penyihir Dari Barat, karya almarhumah Do Hee Jae. Serial buku itu sepertinya masuk dalam kumpulan best seller. Seseorang menghampirinya.

“Sang Ibu adalah Ratu fiksi detektif. Sedangkan puterinya Ratu literatur anak-anak. Mereka luar biasa, bukan?” katanya pada Direktur Lee. Hmm....berarti Do Hee Jae adalah ibu Mun Yeong.

Orang itu ternyata kritikus buku yang secara eksklusif mengulas dan mengkritik buku Mun Yeong. Ia berkata tujuh buku Mun Yeong masuk dalam 10 buku terbaik anak-anak. Apa kesuksesannya karena wajahnya yang cantik? Tentu saja karena bakatnya, kata Direktur Lee. Ia mengajak kritikus itu ke tempat lain untuk minum sesuatu yang manis (alias sogokan).  Dan Mun Yeong melihat ketika mereka berdua pergi ke area lain dari toko itu.

Jae Su akhirnya terbangun. Ia sangat panik dan langsung menelepon Kang Tae. Kang Tae meminta Sang Tae menunggunya sementara ia menjawab telepon di luar toko. Iya, jawab Sang Tae sekilas. Pandangannya terarah pada satu benda.. Dinosaurus yang ikut antri.

Tentu saja bukan dinosaurus betulan, tapi Sang Tae berbeda dengan orang kebanyakan. Apalagi ia sangat suka dinosaurus. Lupa dengan tujuan awalnya ke tempat ini, ia langsung berjalan ke arah dinosaurus tersebut sambil mengoceh.

“Astaga...seekor stegosaurus. Stegosaurus betulan. Hai, stegosaurus,” ia menyapa dino itu sambil menyentuh ekornya.

Orangtua anak berpakaian dinosaurus itu kaget melihat Sang Tae, yang berlaku tak biasa. Sang Tae terus mengoceh tentang keistimewaan stegosaurus. Kang Tae sibuk berbicara dengan Jae Su di telepon hingga tak tahu apa yang terjadi di dalam.

Ayah si dino marah dan bertanya apa yang Sang Tae lakukan. Tapi Sang Tae malah mendekati dino itu dan hendak menyentuhnya. Ayah dino marah dan mendorong Sang Tae sekuat tenaga hingga Sang Tae terjatuh. Sang Tae tidak marah. Ia bangkit berdiri dan berkata ia memiliki boneka seperti dino itu. Ia menunjukkan boneka dino yang tergantung di tasnya.

“Namanya Teary...”

Tapi ayah dino tak mau dengar malah langsung menjambak rambut Sang Tae. Sang Tae berteriak kesakitan. Dan gejalanya kambuh. Ia panik sambil berteriak-teriak memukuli kepalanya. Semua orang menonton saja tak tahu harus berbuat apa. Bahkan mereka sibuk merekam apa yang terjadi.

Mun Yeong juga melihat kejadian itu. Dan....ada ekspresi prihatin di sana? Kang Tae mendengar teriakan itu. Ia menghambur masuk ke dalam toko sambil membuka jaketnya. Lalu menutupi kepala kakaknya dengan jaket tersebut. Ia memeluk kakaknya erat-erat untuk menenangkannya sambil terus meminta maaf.

“Kak, tidak apa-apa...maafkan aku...tidak apa-apa...maafkan aku....”

Mereka menjadi tontonan seantero toko.

“Sebaiknya kubantu dia? Atau tidak? Bantu atau tidak?” timbang Mun Yeong dalam hati.

Setelah Sang Tae agak tenang, Kang Tae bangkit berdiri dan menatap ayah dino dengan marah.

“Oyyy!!!” panggil Mun Yeong.

Ia berjalan mendekati mereka dengan tatapan terarah pada Kang Tae.

“Kau harus minta maaf,” ujarnya.


Lalu ia menoleh pada ayah dino yang berkacak pinggang di sampingnya. “Kau...minta maaflah.”

Tentu saja ayah dino tidak terima. Kenapa ia harus minta maaf pada Sang Tae?

“Bukan padanya, tapi padaku. Kau benar-benar merusak acara tandatanganku.”

Ayah dino protes kenapa itu salahnya. “Orang bodoh sialan ini yang....”

Kata-katanya berubah menjadi teriakan kesakitan karena Mun Yeong tiba-tiba menjambak rambutnya.

“Siapa yang tidak akan teriak kalau seseorang menjambaknya seperti ini?,” kata Mun Yeong tenang. “Lihat, kau juga berteriak.”

Ibu dino kali ini turun tangan. Ia menunjuk Sang Tae sebagai orang gila yang menganggu anaknya. Lalu mereka harus diam saja?

“Apa kau seorang psikiater? Darimana kau tahu ia gila?” tanya Mun Yeong tajam.

Si ibu mulai kehilangan kepercayaan diri. Dengan terbata ia berkata itu karena Sang Tae terus mengoceh tentang hal-hal tak masuk akal.

“Dasar gila,” Mun Yeong tersenyum sinis. Semua orang terkejut karena umpatan Mun Yeong. Dan ibu itu tidak diterima dikatai seperti itu.

“Yah, kau terus mengoceh hal tak masuk akal, jadi kukira kau gila,” Mun Yeong menjelaskan.

Dan tempat itu langsung heboh. Mun Yeong tidak bergeming sama sekali. Ia tersenyum sambil menatap Kang Tae.

Kang Tae membiarkan Sang Tae menenangkan diri di sebuah ruangan seorang diri. Ia sendiri menunggu di luar bersama Mun Yeong. Setelah beberapa lama Mun Yeong bertanya apakah Kang Tae tidak akan mengecek keadaan kakaknya. Kang Tae berkata kakaknya akan membiarkan ia masuk setelah ia tenang. Biasanya setelah 1 jam, paling lama 1-2 hari.

Mun Yeong langsung bangkit berdiri hendak membuka pintu. Kang Tae memegang tangannya untuk menghentikannya. Memangnya aku harus menunggu semalaman di sini? Tanya Mun Yeong.

“Tidak, aku tidak pernah memintamu demikian. Jangan khawatir. Pergilah menyelesaikan keadaan,” kata Kang Tae.

“Khawatir? Kenapa aku khawatir? Khawatir pada siapa?” ujar Mun Yeong.

Ia berkata kepala belakang Sang Tae pasti sangat sensitif. Seperti detonator, yang akan meledak begitu ditekan. Lalu bagaimana saat potong rambut? Apa Sang Tae akan terus berteriak? Ia memeragakan Sang Tae sambil berteriak.

Kang Tae menyuruhnya berhenti mengolok kakaknya.

“Sekarang kau menatapku,” kata Mun Yeong puas. Ia terus menatap Kang Tae. Kang Tae jadi salah tingkah.

Tiba-tiba Mun Yeong melepas topi Kang Tae dan mengacak-acak rambutnya sambil tertawa. Kang Tae kesal dan menepis tangan Mun Yeong.

“Jangan pakai topi. Aku tidak bisa melihat wajah indahmu. Kenapa wajahmu jadi merah? Dahimu pasti bagian sensitifmu,” goda Mun Yeong.

Seseorang berseru memanggil Mun Yeong. Si kritikus buku menghampiri sambil menenteng 2 kotak minuman. Mun Yeong terlihat tidak suka pada orang tersebut.

Direktur Lee dan Seung Jae jadi sibuk karena masalah yang ditimbulkan Mun Yeong.  Seung Jae berkata Mun Yeong bertingkah setiap kali bertemu Kang Tae. Direktur Lee berkata Seung Jae harus memastikan mereka tidak bertemu. Lalu ia sibuk menjawab para reporter yang menanyakan insiden tadi. Ia berkata orang-orang pasti salah dengar.

Si kritikus bertanya apakah Kang Tae kekasih Mun Yeong. Mun Yeong menyuruh kritikus itu pergi kalau sudah mendapat kotak minuman.

“Wah, kau benar-benar mirip ibumu sekarang. Ibumu bukan hanya penulis hebat, tapi juga sangat seksi,” ia memandang Mun Yeong dari atas ke bawah dengan pandangan kurang ajar. Ia berkata Mun Yeong banyak kemiripan dengan ibunya.

Mun Yeong tidak tahan lagi dan mengangkat tangannya. Tapi Kang Tae dengan cepat memeganginya. Ia menyuruh kritikus itu pergi. Kritikus itu berkata sekarang semua terlihat baik-baik saja, tapi ia menyarankan agar Kang Tae berhati-hati.

“Ibunya, yang seorang penulis terkenal, tiba-tiba meninggal tanpa peringatan apapun. Dan ayahnya, seorang arsitek sukses, tiba-tiba jadi gila dan dikurung di rumah sakit jiwa. Lalu menurutmu apa yang akan terjadi padamu? Kau tidak akan berakhir baik jika terlibat dengannya. Camkan itu.”

Mun Yeong hendak mengejar kritikus itu dan menepis tangan Kang Tae. Tapi Kang Tae menghentikannya dan melarangnya pergi.

“Apa kau suka padaku? Apa kau akan mengurusku? Kau bisa menanganinya? Siapa kau beraninya menghentikanku?” kata Mun Yeong marah.

Ia melepaskan tangan Kang Tae lalu berjalan pergi. Kang Tae terdiam. Tak berapa lama kemudian ia berlari mencari Mun Yeong.

Mun Yeong menemui si kritikus yang sudah menunggunya. Ia berkata ia sudah lama membaca buku-buku Mun Yeong. Dan membaca buku seseorang bisa melihat bagaimana pikiran dan perasaan si penulis.

“Kalau begitu kurasa kau juga tahu apa yang akan kulakukan,” kata Mun Yeong.

Si Kritikus mengancam akan menjatuhkan Mun Yeong dan Direktur Lee jika Mun Yeong melakukan sesuatu padanya. Itulah sebabnya ia dijuluki bom bunuh diri. Ia bisa menghancurkan karier Mun Yeong dengan ujung penanya saja. Apa yang akan terjadi jika orang-orang tahu kalau seorang penulis terkenal buku anak-anak ternyata memiliki kepribadian antisosial?

“Apa yang kauinginkan?” tanya Mun Yeong.

Kritikus itu kembali menatap Mun Yeong dengan pandangan kurang ajar dan berkata ia bosan dengan kotak-kotak minuman itu. Ia akan senang jika Mun Yeong menemaninya bersenang-senang.

“Itu mudah,” Mun Yeong menyentuh wajah kritikus itu lalu mengambil penanya yang ada di saku. Ia membuka pena itu lalu dengan cepat mengayunkannya tepat ke depan mata si kritikus.

“Aku juga bisa menyerangmu dengan ujung penaku.”

Si kritikus terkejut dan kehilangan keseimbangan. Ia berusaha bertahan agar tidak jatuh. Kang Tae juga sudah menemukan mereka dari arah bawah tangga. Ia lari ke atas.  Si kritikus berhasil menyeimbangkan diri dan menarik nafas lega. Tapi Mun Yeong dengan tenang mendorong dahi orang itu. Orang itu menggelinding jatuh. Kang Tae terkejut melihat apa yang terjadi.

Si kritikus pun dibawa ambulans. Ia berteriak-teriak memaki Mun Yeong (tanpa menyebutkan namanya, berarti masih takut). Mun Yeong mengomel seharusnya orang itu mati saja. Kenapa orang brengsek malah berumur panjang?

Kang Tae menghentikan langkah cepat Mun Yeong dan menyuruhnya tarik nafas panjang. Mun Yeong menurut meski asal-asalan. Kang Tae menyuruh Mun Yeong memejamkan mata lalu menyilangkan tangannya di dada seperti memeluk tubuh sendiri.

“Ketika kau tidak bisa mengendalikan dirimu, silangkan tanganmu seperti ini dan tepuk pundakmu bergantian seperti ini. Ini akan membantumu menenangkan diri. Ini adalah Metode Pelukan Kupu-kupu. Teknik penyembuhan diri yang direkomendasikan untuk pasien trauma.”

Dan metode itu juga yang dilakukan Sang Tae untuk menenangkan dirinya sendiri.

Tapi Mun Yeong malah memegang tangan Kang Tae. Ia berkata tidak menyenangkan jika Kang Tae berdiri di belakangnya. Ia meraih Kang Tae untuk mendekat dan menatapnya.

“Trauma harus dihadapi seperti ini daripada berusaha menenangkannya dari belakang.”

Sang Tae pelan-pelan membuka pintu. Tidak ada siapa-siapa di luar.

Kang Tae meninggalkan Mun Yeong untuk menemui kakaknya. Mun Yeong menyuruh Kang Tae menunggunya karena kakinya sakit. Ia berteriak kesal karena Kang Tae mengacuhkannya.

“Jangan membuatku marah. Aku akan meledak.”

“Karena itu aku mengajarimu metode pelukan kupu-kupu.”

“Hal itu tidak berguna. Aku ingin kau menjadi pin pengamanku. Jaga aku agar aku tidak meledak.”

Kang Tae  mengingatkan kalau Mun Yeong melarangnya ikut campur dan tidak berhak menghentikannya. Kau pendendam, gumam Mun Yeong.

“Aku memberimu hak sebagai pin pengaman Go Mun Yeong.”

“Kenapa juga aku jadi pin pengaman?”

Kang Tae berkata untuk apa ia melakukannya. Mun Yeong berakta Kang Tae adalah perawat yang memang tugasnya menjaga dan merawat pasien. Ia bersedia membayar banyak. Kang Tae berkata ada satu kalimat yang selalu mereka katakan pada pasien yang sembuh.

“Semoga tidak bertemu lagi. Jadi kumohon, kita tidak usah bertemu lagi. Aku benar-benar ingin kau berhenti.”

Mun Yeong tidak menyerah. Ia berkata ia buka pasien. Kata-kata itu hanya diucapkan pada pasien sementara ia baik-baik saja.

“Kau benar. Kau berbeda dari pasien. Obat dan suntikan tidak bisa menyembuhkanmu. Kau hanya dilahirkan seperti itu. Jadi tidak ada cara untuk menyembuhkanmu. Menghindari orang sepertimu adalah yang terbaik.”

“Kau tidak menghindariku. Kau hanya melarikan diri karena kau takut. Kau pengecut,” Mun Yeong tersenyum kecil. Tapi sepertinya ia kecewa dengan kata-kata Kang Tae tadi.

Kalimat terakhir mengingatkan Kang Tae pada anak perempuan yang merobek sayap kupu-kupu. Setelah melihat anak itu merobek sayap kupu-kupu, ia lari ketakutan. Dan anak perempuan itu bergumam,” Pengecut.”

Direktur Lee memarahi Mun Yeong begitu bertemu dengannya. Apa yang akan mereka lakukan dengan begitu banyaknya saksi pada kejadian tadi? Tapi Mun Yeong tidak mempedulikannya seolah-olah ia tidak ada.

Kang Tae tersenyum lega melihat kakaknya sudah keluar dan menunggunya. Meski begitu Sang Tae masih sedikit marah. Ia tidak mau duduk dekat Kang Tae dan tidak mau melihatnya maupun berbicara. Kang Tae berkata hatinya akan sakit jika Sang Tae terus sedih. Ia bertanya apa Sang Tae sedih karena tidak bisa mendapatkan tandatangan Mun Yeong. Sang Tae tak menjawab.

Kang Tae pura-pura kesakitan. Sang Tae langsung panik. Ternyata Kang Tae mengeluarkan buku ensiklopedia dinosaurus yang sangat diinginkan Sang Tae. Sang Tae langsung gembira. Ia membuka buku itu dan membacanya tiada henti.

Kang Tae tersenyum senang melihat kakaknya bahagia. Ia bertanya siapa yang lebih disukai kakaknya, dirinya atau Mun Yeong. Tapi Sang Tae asyik membaca. Kang Tae teringat saat Mun Yeong mengacak rambutnya.

“Jangan pakai topi. Wajah indahmu tak terlihat.”

Ia kembali memakai topinya lalu bersandar pada kakaknya yang terus membaca. Aww....ia juga membutuhkan tempat untuk bersandar...

Sementara itu ayah Mun Yeong dinaikkan ke ambulans untuk ditransfer ke rumah sakit lain untuk dioperasi.  Ju Ri ikut menemaninya.

Setelah turun dari bis dan berjalan ke rumah pun Sang Tae tidak mau menutup bukunya. Kang Tae khawatir kakaknya tertabrak karena hal itu pernah terjadi. Ia meminta kakaknya memberikan bukunya tapi Sang Tae menolak dan melarikan diri. Kang Tae jadi khawatir dan mengejarnya. Mereka berhenti ketika melihat Jae Su sudah menunggu di depan rumah. Jae Su mengangkat kedua tangannya dan berlutut, tanda ia bersedia dihukum karena kesalahannya.

Jae Su berkata ia tidak mudah mabuk tapi anehnya ia begitu mudah mabuk jika minum bersama wanita. Kang Tae berkata sekarang waktunya bagi Jae Su untuk berhenti.

“Berhenti mengikuti kami dengan menjalani kehidupan yang sulit. Kau seharunya menetap dan hidup dengan nyaman.”

Jae Su berkata terserah dirinya kapan ia harus berhenti. Kang Tae tidak berhak memutuskan apa yang seharusnya ia lakukan. Ia sendiri yang akan memutuskan kapan waktunya untuk berhenti. Ia bertanya kenapa Kang Tae hari ini sangat sentimentil.

“Wanita itu, Go Mun Yeong. Wanita gila itu melakukan sesuatu lagi, bukan?”

Kang Tae menyangkal. Tapi Jae Su berkata penyangkalan Kang Tae selalu tidak sungguhan. Ia bertanya apa yang dilakukan Mun Yeong kali ini.

Kang Tea berkata selama ini ia pikir ia melarikan diri karena kakaknya. Karena kupu-kupu dan lainnya. Mengira mereka dikejar sesuatu yang bahkan tidak nyata karena kakaknya.Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, ia tiba-tiba berpikir mungkin ia melarikan diri karena ia ingin melarikan diri.

“Kau tahu....ketika hidup terasa berat tak tertahankan lagi, jalan termudah adalah melarikan diri.”

Jae Su menepuk punggung Kang Tae untuk menghiburnya.


Sang Tae dan Kang Tae sedang berkemas. Kang Tae pelan-pelan bertanya pada kakaknya apakah kakaknya ingat tempat mereka tinggal dulu. Tempat mereka dulu tinggal bersama ibu mereka.

“Kota Seongjin, “ jawab Sang Tae.

“Apa sebaiknya kita tinggal di sana?” tanya Kang Tae.

Tidak ada jawaban. Kang Tae berkata jika kakaknya tidak mau.....

“Aku suka,” ujar Sang Tae.

Kang Tae terkejut dan bertanya apa kakaknya sungguh tidak apa-apa. Sang Tae berceloteh mengenai restoran favoritnya dulu di kota mereka. Kang Tae menghela nafas lega.

“Kakak benar-benar pemberani, aku seorang pengecut.”

“Kau seorang adik, karena itu kau penakut. Kau penakut karena kau seorang adik. Percayalah padaku. Aku adalah kakak, kau bisa mengandalkanku. Percayalah padaku. Kau bisa percaya padaku,” kata Sang Tae.

Kang Tae terharu. Ia menelepon Ju Ri dan Ju Ri senang mendengar keputusan Kang Tae.


Mun Yeong akhirnya mendapat kiriman data Kang Tae dari Seung Jae. Ia melihat Kang Tae lahir di Kota Seongjin.

“Pantas saja,” ujarnya. Ia teringat Kang Tae membicarakan anak perempuan yang matanya mirip dengannya. Sekarang ia yakin anak perempuan itu adalah dirinya.

Kantor penerbitan Direktur Lee dilanda badai telepon berbagai media karena video Mun Yeong mengumpat telah beredar. Semua CCTV kota buku telah diamankan tapi ada video kejadian tersebut yang diunggal di forum lain emak-emak. Belum lagi orangtua dino curhat drama pada media saat diwawancarai.

Direktur Lee berpikir orangtua dino bisa diatasi dengan memberi kompensasi seperti biasa. Tapi video yang beredar bukan hanya satu. Ada video lain saat Mun Yeong menjadi guru tamu di sebuah kelas. Dan ia memanggil anak-anak itu dengan kata-kata kasar.

Direktur Lee berusaha menenangkan diri dan berkata itu bukan masalah besar. Tapi para fans Mun Yeong marah. Mereka membakar merchandise Mun Yeong dan meminta nama Mun Yeong dicoret dari daftar calon penerima Hans Christian Andersen Award. Uang tidak bisa lagi menjadi jalan keluar kali ini.

Puncaknya, sekelompok rakyat menuntut penghentian penjualan buku baru Mun Yeong karena cerita dan gambarnya dianggap tidak pantas untuk anak-anak. Direktur Lee tidak tahan lagi dan berteriak mencari Mun Yeong. Seorang staf berkata Mun Young sudah check out dari hotelnya.

 “Ah, baiklah. Kalau begitu aku juga check out dari hidupku.” Ia melepas sepatunya dan berlari ke atap sambil berteriak memanggil ibunya.

Para staf mengejar untuk mencegahnya. Seung Jae berteriak memanggilnya lalu berlutut.

“Kurasa semua gara-gara aku. Sebenarnya aku mengirim pesan ini pada Penulis Go tadi pagi.” Ia menunjukkan ponselnya pada bosnya.

Kang Tae sudah mulai bekerja di Rumah Sakit OK. Ayah Mun Yeong sudah kembali ke rumah sakit itu paska operasi. Ju Ri tak hentinya tersenyum karena sekarang Kang Tae ada di dekatnya.

Tapi ia tidak tahu kalau ada seseorang yang akan menemui mereka. Mun Yeong sedang menuju kota tersebut sambil bersenandung. Direktur Lee meneleponnya dan bertanya di mana ia sekarang.

“Apa kau tahu kisah The Red Shoes yang ditulis Hans Christian Andersen?” Mun Yeong balik bertanya.

Hujan turun di Kota Seongjin. Kang Tae dan perawat lainnya membantu para pasien masuk ke dalam. Tak lama Mun Yeong tiba di rumah sakit tersebut.

Ia bercerita mengenai gadis kecil yang mengenakan sepatu merahnya ke manapun ia pergi, bahkan ke gereja. Begitu mengenakan sepatu itu, kakinya akan menari dengan sendirinya. Dan ia tidak bisa berhenti maupun melepaskan sepatu tersebut. Meski begitu, gadis itu tidak pernah menyerah mengenakan sepatu merah itu. Akhirnya, algojo memotong kedua kakinya. Tapi kedua kaki yang telah dipotong tetap menari dalam sepatu merah itu.

Mun Yeong berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang gelap karena listrik padam di daerah lobi dan resepsionis. Di luar guruh dan petir terus menyambar.

“Beberapa hal tidak bisa dilepaskan meski kau berusaha sekuat tenaga...”

Kang Tae berada di lobi. Ia melihat sosok Mun Yeong berjalan mendekatinya.

“Karena itu obsesi adalah mulia dan indah... Aku akhirnya menemukan sepatu merahku.”

Mun Yeong terus berjalan di dalam sepatu merahnya, menghampiri Kang Tae. Kang Tae bingung mengapa Mun Yeong ada di sini.

“Menurutmu kenapa? Aku datang karena aku merindukanmu.’

Komentar:

Jadi sudah jelas Kang Tae dan Mun Yeong adalah tokoh animasi episode 1. Bedanya, Mun Yeong bukan tidak sengaja menyelamatkan Kang Tae, tapi ia memang memutuskan untuk menyelamatkannya. Meski kelopak bunga menyatakan tidak, ia tetap menolong. Sama seperti di toko buku. Ia sendiri yang memutuskan untuk turun tangan. Jadi Mun Yeong tidak bisa dikatakan tidak memiliki perasaan. Hanya caranya yang tidak bisa dipahami oleh orang kebanyakan.

Suka banget dengan adegan di toko buku. Memang Mun Yeong berbicara seenaknya, tapi tepat sasaran hingga tak ada yang bisa membantahnya. Malah membuat risih orang-orang karena tiba-tiba berbalik mereka yang menjadi orang jahatnya. Mereka yang membully dan membiarkan Sang Tae diperlakukan demikian. Tapi mereka tidak mau tahu apa penyebab Mun Yeong berperilaku demikian. Dan parahnya itu yang terjadi pada dunia kita....terutama dunia maya.

Ketika satu peristiwa terjadi, tanpa tahu alasan dan asal usulnya kita bisa ikut berkomentar. Mudah sekali berkomentar di dunia maya karena kita seringkali tidak perlu mempertanggungjawabkan perkataan kita. Cukup berlindung di balik nama alias. Bahkan ketika terbukti kalau tuduhan itu salah, kita tidak merasa perlu minta maaf. Akhirnya hati nurani kita tumpul....semakin lupa kalau kita semua sama manusia...semakin sulit mengakui kalau kita salah...

Tapi di sisi lain, apakah orangtua dino berhak takut pada Sang Tae? Jika hal seperti itu terjadi pada keluarga kita, apa yang akan kita lakukan? Mungkin secara insting kita juga akan melindungi anak kita karena kita tidak mau didekati orang asing yang “aneh”. Tapi perlakuannya mendorong dan menjambak Sang Tae tidak bisa dibenarkan.

Bahkan setelah Kang Tae muncul dan menenangkan kakaknya, mereka sama sekali tidak meminta maaf maupun menjelaskan perbuatan mereka. Mereka merasa perlakuan mereka pada Sang Tae benar. Dan memang itulah tujuan drama ini dibuat.

Dalam konpresnya, Sutradara Park Shin Woo mengatakan drama ini seperti sebuah pesan permohonan maaf. Banyak adegan di mana kita melihat satu karakter dan langsung menilainya. Namun akhirnya mereka menyesal karena sudah salah menilai. Oh Jung Se pemeran Sang Tae juga mengatakan kalau drama ini berbeda karena penonton diperhadapkan pada berbagai pertanyaan saat melihat sebuah karakter dalam drama ini. Dapatkah kita menerima orang tersebut? Dapatkah kita berempati padanya?

Dan itulah yang terjadi saat aku melihat adegan di toko buku. Di satu sisi aku kesal pada orangtua dino dan berpikir aku tidak akan melakukan hal yang sama. Tapi di sisi lain, jika itu benar terjadi dapatkah aku berlaku dengan benar dan memperlakukan Sang Tae dengan semestinya? Kurasa drama ini seperti ini selain mengingatkan kita juga bisa sedikit mengedukasi kita bagaimana kita bersikap. Mungkin tidak ekstrim sampai memeluknya, minimal berbicara dengan baik dan bersikap sopan.

Ibu Kang Tae dan Sang Tae meninggal secara misterius. Sepertinya dibunuh, tapi Sang Tae berkata pembunuhnya adalah kupu-kupu. Ingat kupu-kupu langsung ingat Mun Yeong. Tapi tidak mungkin kan Mun Yeong pelakunya karena ia masih kecil ketika peristiwa itu terjadi. Ibu Mun Yeong juga sudah meninggal (meski belum terlalu jelas karena Ju Ri sempat mengatakan ibu Mun Yeong masih hidup, atau memang Ju Ri tidak tahu karena mereka sudah lama berpisah). Dan apa penyebab ayah Mun Yeong jadi demikian. Sesudah kematian ibu Mun Yeong atau setelah ia hendak membunuh Mun Yeong? Apa penyebab kematian ibu Mun Yeong?

Begitu nama Hans Christian Andersen disebut, aku langsung teringat kalau dongeng-dongeng jaman dulu tidak selalu happy ending seperti dongeng yang digambarkan Disney. Aku teringat kisah The Little Mermaid saat membuat sinopsis Secret Garden 10 tahun lalu (jejeng....langsung berasa tuir XD). Dongeng aslinya tidak berakhir happy seperti versi Disney. Dan begitu juga kisah The Red Shoes ini...juga sepertinya dongeng2 Mun Yeong. Tapi dalam dongeng yang terpenting adalah pesan yang kita bisa ambil, bukan?

Sama seperti drama....aku suka drama-drama yang mengandung pesan yang baik meski menggelitik. Seperti drama ini...