Jumat, 09 Agustus 2019

Sinopsis Hotel Del Luna Episode 4



Setelah menceritakan mimpinya pada Man Wol, Chan Seong bertanya kenapa ia melihat Man wol dalam mimpinya.

“Sebenarnya apa yang gagal kauketahui? Apa menurutmu aku ada di sini untuk membantumu mencaritahu apa yang gagal kauketahui?” tanyanya.

 Man Wol tidak bisa menjawab.

Chan Seong menyentuh ranting pohon itu dan perlahan-lahan terjadi keajaiban. Daun pada pohon itu mulai tumbuh. Dan dalam waktu singkat pohon itu dipenuhi dengan daun-daun hijau dan segar.

Man Wol dan Chan Seong terkejut. Man Wol teringat perkataan Ma GO pada kali terakhir mereka bertemu. Bahwa arus hidup dan matinya akan kembali mengalir seiring dengan tumbuhnya daun, mekar dan gugurnya bunga. Ia menyadari Chan Seong seseorang yang jauh lebih spesial daripada yang ia perkirakan.


Dewa Mago melihat Malaikat Maut sedang menunggu di depan sebuah rumah. Hantu seorang kakek tidak mau ikut dengannya. Jadi kakek itu meninggal seorang diri seminggu lalu dan hanya ada anjingnya di dalam rumah yang menemaninya. Tapi kakek itu tidak mau anjingnya meninggal karena tidak ada yang memberi makan dan minum. Jadi ia tidak mau pergi dan berusaha menyuruh anjingnya menggonggong untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat.

Dewa Mago memutuskan untuk menolong. Ia membuka pintu rumah agar anjing itu bisa keluar. Tapi anjing itu tetap diam di samping jasad kakek meski kakek memohon agar anjing itu keluar menyelamatkan diri.

Dewa Mago berkata nanti juga Kakek itu akan menemukan jalan ke Penginapan Bulan. Hotel Del Luna, Malaikat Mau mengoreksi. Dewa Mago mengomel nama tempat itu terus berubah tapi pemiliknya tidak berubah sama sekali.

Malaikat Maut sependapat. Man Wol tidak berubah bahkan setelah lebih dari 100 tahun. Ia tidak ada harapan, katanya. Dewi Mago tersenyum dan berkata itu sebabnya ia mengirim seseorang ke sana.  Apa kau akan mengganti pemiliknya, tanya Malaikat Maut.

“Man Wol sangat keras kepala, jadi aku hanya mengirim bantuan.”


Dan bantuan itu bernama Gu Chan Seong. Man Wol berkata pohon itu berubah karena Chan Seong. Kenangan yang sudah mengering sekarang kembali gara-gara Chan Seong. Chan Seong protes ia tidak melakukan apapun. Ia hanya menceritakan mimpinya.

Melihat hantu adalah bagian dari pekerjaannya, tapi tidak dengan bermimpi. Ia tidak mau diperlakukan tidak adil untuk sesuatu yang tidak ia minta. Man Wol tidak peduli. Chan Seong sudah mengusiknya jadi wajar jika diperlakukan tidak adil.

“Pohon ini jadi jelek karena kau!”

Chan Seong berkata Man Wol memutarbalikkan kenyataan. Pohon itu sekarang hidup dan sehat.

“Itulah masalahnya. Kau baru saja menyelamatkan sesuatu yang tidak seharusnya diselamatkan.”

Chan Seong bingung kenapa Man Wol begitu marah. Apa itu artinya mimpinya memang masa lalu Man Wol dan  karena itu Man Wol malu ia sudah melihatnya. Man Wol mengakui ia sangat malu sat ini dan ia harus memeriksa sendiri apa yang terjadi.


Ia mendorong Chan Seong hingga ke tempat tidur. Ia memerintahkan Chan Seong untuk tidur agar bisa bermimpi. Ia harus melihat sendiri apakah Chan Seong melihatnya dalam mimpi atau membohonginya karena mendengar gosip di hotel itu.

Chan Seong berkata ia tidak bisa tidur dengan cara seperti itu dan lagi ia tidak bisa menjamin apakah ia akan bermimpi seperti itu lagi.

“Kalau begitu tidurlah di sisiku sampai kau bermimpi demikian.”

Chan Seong jelas menolak tapi Man Wol tidak mau melepaskannya. Man Wol mengancam akan membunuh Chan Seong jika membohonginya. Akhirnya Chan Seong berkata ia akan tidur dan Man Wol bisa tidur di sisinya atau melihatnya.

“Lakukan apapun yang kau mau. Kau hanya ingin kalau semua itu bohong karena kau tidak suka aku melihat masa lalumu. Aku tidak akan memberitahumu lagi apa yang kulihat dalam mimpiku karena kau sangat membencinya. Kau bisa membunuhku atau membiarkanku hidup. Terserah.”


Chan Seong melipat tangannya lalu memejamkan mata. Man Wol terdiam lalu turun dari tempat tidur. Chan Seong mengikutinya ke kantor di sebelah kamar. Ia bertanya apa kenangan yang ia bangkitkan sangat menyakitkan bagi Man Wol. Karena memikirkan pria itu?

Man Wol menyuruh Chan Seong tutup mulut sebelum ia mengubahnya menjadi hijau seperti pohon. Tapi Chan Seong bertanya siapa pria itu.

“Mengapa kau bertanya? Apa kau berpikir dia adalah kau?” tanya Man Wol.

Chan Seong tidak menyangkal. Apa yang ia lihat mungkin saja ingatan dari kehidupan terdahulunya. Tapi Man Wol berkata tidak mungkin Chan Seong adalah Cheong Myung. Kenapa tidak, tanya Chan Seong. Sejak ia bermimpi seperti itu ia selalu memikirkan Man Wol. Mungkin saja hubungan mereka sudah ada sejak dulu. Man Wol menaruh tangannya di dada Chan Seong.

“Kau bukan dia. Aku tidak merasakan apapun. Jika kau adalah dia, aku tidak mungkin merasa seperti ini.” Ouchh...

Chan Seong berkata itu melegakan. Selama ini ia terus bertanya-tanya bagaimana jika ia adalah pria yang dulu disukai Man Wol. Lalu apakah Man Wol tidak memiliki perasaan pada Cheong Myung? Karena ia melihat Man Wol sangat menyukainya. Man Wol kembali marah dan akhirnya menghukum Chan Seong untuk menangani para hantu mulai sekarang.


Chan Seong terpaku tak bisa bergerak melihat sosok tamu yang baru tiba. Sepertinya hantu itu korban pembunuhan atau bunuh diri yang sudah lama karena ia dikerubuti lalat. Hyun Jeong terpaksa membantu Chan Seong menerima tamu itu. Ia menyarankan agar hantu itu menggunakan jasa kecantikan hotel mereka lebih dulu.

Chan Seong hampir terduduk lemas setelah akhirnya hantu itu masuk lift. Hyun Jeong bertanya apakah Man Wol masih meski sudah minum sekotak champagne. Chan Seong berkata sepertinya ia sudah membuat Man Wol murka.

Ia bertanya dosa apa yang dibuat Man Wol di masa lalu. Tapi Hyun Jeong hanya menggeleng. Apa karena urusan percintaan? Apa Hyun Jeong mendengar mengenai pria yang mungkin dinanti Man Wol? Apa ia tidak menantinya? Hyun Jeong terus menggeleng. Ia balik bertanya apa Chan Seong peduli pada apa yang Man Wol pikirkan.

“Tidak, tidak sama sekali.”

Hyun Jeong mengira Chan Seong masih kesal karena berada di urutan ke-3. Bukankah Chan Seong yang sekarang ada di sini?

“Aku sama sekali tidak peduli pada apa yang dipikirkan Nona Jang. Dan aku bukan urutanke-3. Aku urutan ke nol. Aku mengalahkan semuanya.”

Baiklah,  Hyun Jeong mengiyakan sambil tertawa geli. Chan Seong kembali murung sambil bergumam semuanya tidak ada gunanya karena Man Wol berkata tidak merasakan apapun padanya. Wah...mulai ada rasa nih XD

Hyun Jeong bergidik merasakan ada sekelompok tamu yang akan datang ke hotel mereka. Ia bertanya apa Chan Seong akan baik-baik saja. Chan Seong memilih mengungsi ke bar.


Bartender Kim berkata tamu yang baru datang biasanya dalam keadaan rusak, terkadang diikuti sesuatu. Tapi tamu di bar semuanya sudah didandani jadi Chan Seong akan baik-baik saja. Meski begitu Chan Seong terlonjak kaget melihat tamu si peminum kopi.

Chan Seong bertanya bagaimana cara mereka mendapatkan makanan dan minuman untuk pelanggan. Bartender Kim menjawab mereka mendapatkannya dari dunia setelah kematian. Jika mereka memperlakukan tamu dengan baik di hotel mereka dan membantu mereka menuju kehidupan selanjutnya, mereka akan diberi kompensasi.

Para roh yang pergi dengan tenang meninggalkan energi yang baik. Energi itu membuat bunga-bunga di taman bermekaran. Semakin sedikit penyesalan yang dibawa pergi tamu mereka, semakin cantik bunga yang dihasilkan. Setelah kebun mereka penuh, Dewa Mago akan membawa bunga-bunga itu lalu sebagi gantinya mengirim barang kebutuhan mereka.

Lalu bagaimana dengan uang yang diperoleh Man Wol saat membantu para hantu?  Bartender Kim berkata itu semua digunakan untuk gaya hidup mewah Man Wol. Champagne mahal, pakaian, perhiasan, dan mobil.

“Bagaimana bisa seseorang yang sedang dihukum bersikap seperti itu,” gerutunya.


Man Wol menyadari Dewa Mago yang telah membuat Chan Seong bermimpi tentang dirinya. Tapi mimpi itu mau tak mau membuatnya teringat sesuatu yang pernah terjadi lebih dari 1000 tahun lalu.
Man Wol dalam keadan terluka dan ia bersembunyi dalam sebuah gubuk. Di luar terjadi keributan karena para pengawal sedang mencari orang, sepertinya termasuk Man Wol. Tiba-tiba Man Wol menyadari ada orang masuk ke dalam gubuk itu. Ketika orang itu mendekat, ia melawan sekuat tenaga.

Tapi ternyata yang datang adalah Cheong Myung. Sementara itu karena mendengar suara, para pengawal hendak memasuki gubuk. Cheong Myung keluar menmeui mereka dan berkata tidak ada orang mereka cari di dalam. Para pengawal itu pergi.

Cheong Myung kembali ke dalam dan membalut luka Man Wol. Ia berkata ia mendengar ada serangan di pasar di mana para budak dari Goguryeo di perjualbelikan. Ia mendapat firasat kalau yang menyerang adalah Man Wol dan kelompoknya. Jadi ia datang.

Ia bergurau apa yang akan Man Wol lakukan dengan wajahnya yang terkena goresan pisau Man Wol. Man Wol berkata sayang sekali padahal puteri Istana Yeongju menyukai wajah Cheong Myung. Dengan apa lagi Cheong Myung akan merayunya.

“Apa kaukira ia hanya menyukai wajahku?” balas Cheong Myung.

Tapi tiba-tiba terdengar suara di luar. Man Wol mengintip dan melihat Yeon Woo tertangkap. Yeon Woo dibawa oleh para pengawal itu. Man Wol panik dan hendak keluar. Tapi Cheong Myung memeganginya dan membekap mulutnya agar ia tidak ikut tertangkap. Ia berjanji akan menyelamatkan Yeon Woo.

Cheong Myung menepati janjinya. Entah bagaimana caranya ia menyelamatkan Yeon Woo. Man Wol langsung memeluknya. Yeon Woo tersenyum dan berkata ia tidak apa-apa. Cheong Myung berdehem lalu tersenyum pada mereka.


Apakah Cheong Myung yang dinanti oleh Man Wol? Man Wol meraih gelasnya lalu melemparkannya dengan penuh kemarahan ke Pohon Bulan. Tapi sebelum mengenai pohon itu, gelas itu seakan mengenai tabir pelindung dan pecah berkeping-keping.

Chan Seong bermimpi hal yang sama. Ia mengetahui kalau salah satu dari mereka bernama Yeon Woo. Pemuda yang satu kelompok dengan Man Wol.

Tiba-tiba ia terkejut karena ada seorang nenek lusuh berdiri di depannya. Awalnya ia mengira nenek itu penjual bunga dan hendak membelinya. Tapi Dewa Magoberkata ia sudah memberi Chan Seong bunga.

“Ayahmu hampir meninggal saat hendak memetik bunga untukmu. Karena peristiwa itu ia tidak pernah mencuri lagi dan hidup dengan rajin. Ia juga membesarkan seorang putera hebat sepertimu.”

Chan Seong akhirnya mengenali Dewa Mago adalah nenek yang menjual bunga di hari ulang tahunnya 21 tahun yang lalu. Dewa Mago menanyakan pekerjaan Chan Seong di hotel.

“Apa kau yang merencanakan semuanya?” tanya Chan Seong.
“Aku hanya membuka jalan,” jawab Dewa Mago.

Jadi ayahnya bukan kebetulan datang ke hotel itu? Dewa Mago tidak menjawab pertanyaan itu. Ia berkata ia menanam pohon. Pohon itu penuh dengan ranting berduri dan dingin terhadap yang lain.

“Aku ingin kau merawat pohon itu. Jika kau merasa kesulitan dalam merawatnya, kau bisa mencariku,” Dewa Mago memberi sebuah kartu. Lalu ia lenyap.


Chan Seong kaget. Ia berusaha mencari Dewa Mago tapi tidak menemukannya. Ia malah melihat seorang kakek duduk sendirian di pinggir jalan dengan membawa bunga putih seperti yang tadi dibawa Dewa Mago.

Kakek itu dijemput sebuah limosin menuju ke sorga. Chan Seong mendengar suara anjing menyalak. Ia segera menghentikan mobil itu sebelum berangkat dan membuka pintu. Ternyata itu adalah kakek yang meninggal seorang diri. Akhirnya anjingnya juga mati karena tidak mau keluar dari rumah meski pintu terbuka. Kakek itu pergi ke kehidupan selanjutnya dengan membawa anjingnya. Chan Seong tersenyum melihat semuanya berakhir dengan baik. Malaikat Maut melihat semua itu dari seberang jalan, terlihat senang.

Chan Seong teringat perkataan Bartender Kim tentang Dewa Mago yang memberi bunga pada mereka yang akan pergi ke kehidupan selanjutnya. Dan setiap roh yang menerimanya akan pergi ke tempat yang baik. Chan Seong menyadari nenek tadi adalah Dewa Mago.

Ia membaca kartu dari Dewa Mago itu. Alamatnya bertuliskan alamat sebuah toko obat.


Di sebuah toko roti, seorang pembuat roti berteriak-teriak dan lari ketakutan karena adonan rotinya bergerak-gerak seperti ada yang menguleni. Ternyata hantu gadis buta yang menguleni adonan itu.
Sanchez kebetulan sedang membeli roti di toko roti itu. Ia membeli beberapa lalu pulang membangunkan Chan Seong.  Ia bercerita mengenai penampakan hantu di toko roti itu. Jadi ia membeli roti yang adonannya diuleni hantu. Kalau aku malah ngga bakalan mau beli >,<

Chan Seong mengeluh ia tidak mau mendengar tentang hantu di rumah. Ia hampir tersedak ketika melihat hantu gadis buta itu ternyata mengikuti Sanchez pulang. Ia bertanya kenapa ia ke sini lagi. Sanchez bingung dan mengira Chan Seong bergurau.

“Apa kau mengikutinya?” ia menunjuk Sanchez. Hantu itu menggeleng.
“Kau mengikuti roti itu?”

Hantu itu mengangguk. Sanchez makin ketakutan. Ia minta maaf karena sudah bercerita tentang hantu. Sekarang ia ingin makan roti saja. Tapi Chan Seong tidak mau makan roti. Ia berkata ia akan pergi ke hotel. Membawa hantu itu tentu saja.


Para staf membicarakan Chan Seong yang membawa kembali hantu yang sudah meninggalkan hotel. Mereka sudah dengar apa yang dilakukan hantu tersebut. Padahal hantu itu seharusnya dijemput limosin hari ini. Mereka bertanya-tanya apakah hantu itu ingin makan roti. Kan tinggal meminta layanan kamar. Hantu tidak bisa makan roti dari dunia nyata.

Ibu Choi memarahi Hyun Jeong karena tidak memperhatikan tamu yang masuk dan keluar. Hyun Jeong membela diri ia menerima sekelompok tamu kemarin. Ia tidak bisa melihat semuanya. Ibu Choi mewanti-wanti agar Hyun Jeong melakukan pekerjaannya dengan baik atau akan dikirim dengan bis ke kehidupan selanjutnya.

Hyun Jeong bingung kenapa Ibu Choi segalak itu. Bartender Kim mengingatkan kalau sebentar lagi tanggal 25. Mereka harus bisa melewati hari itu dengan aman. Jika apa yang terjadi 42 tahun lalu terjadi kembali, Ibu Choi pasti akan diseret ke kehidupan selanjutnya.


Chan Seong pergi menemui Man Wol untuk mengganti jadwal keberangkatan hantu itu karena hantu itu ingin menemui seseorang lebih dulu. Man Wol baru saja bangun setelah semalaman minum. Karena itu ia sangat kesal dan melemparkan bolpen Chan Seong.

“Tidak ada hantu yang tidak ingin menemui seseorang!” bentaknya.

Dengan tenang Chan Seong mengeluarkan bolpen berikutnya. Ia berkata hantu itu tidak pernah melihat orang itu saat ia masih hidup karena ia buta, karena itu ia ingin melihatnya sekarang.  Lalu bagaimana ia bisa menemui orang itu? Namanya saja ia tidak tahu. Kenapa mencari orang yang bahkan tidak dikenalnya?

“Ia bilang tangannya ingat. Jika ia bisa memegang tangan orang itu, ia bisa merasakannya,” kata Chan Seong.

Man Wol tertawa dan berkata hantu itu cuma bicara omong kosong lalu melambaikan tangannya menyuruh Chan Seong pergi. Chan Seong memegang tangan Man Wol dan bertanya apakah itu artinya Man Wol juga hanya bicara omong kosong.

“Kau bilang kau bisa merasakan kalau aku bukanlah pria itu. Kalau begitu kau juga tidak tahu.”

Man Wol terdiam sejenak lalu berkata kalau Chan Seong sudah pasti bukan orang itu. Chan Seong berkata kalau begitu ia yang benar jadi Man Wol harus tandatangan. Ia menarik Man Wol untuk duduk. Lalu memegangi tangannya untuk menuliskan namanya.

Man Wol langsung teringat ketika Cheong Myung juga melakukan hal yang sama dulu.


Chan Seong berkata ia akan mencari orang yang ingin ditemui hantu itu lalu mengantarnya pergi. Bagaimanapun hantu itu adalah tamu pertama yang dibawanya jadi ia ingin menyelesaikannya dengan baik. Ia menegaskan kalau hantu itu tidak punya uang jadi jangan minta uang darinya.
Man Wol mengeluh kenapa Chan Seong melakukan sesuatu yang tidak mendatangkan uang. Bisa-bisa Chan Seong diperalat oleh para hantu karena berhati lemah. Benar-benar target mudah bagi para hantu.

“Kau benar. Jika aku lebih tangguh, aku tidak akan berakhir di sini. Aku menyesal aku adalah manusia lemah yang kausukai,” kata Chan Seong. Ia menerima ini sebagai takdirnya.

Man Wol berkata ia tidak menyesal membawa Chan Seong ke hotelnya dan mempersulit hidupnya. Tapi Chan Seong berkata mungkin saja bukan Man Wol yang mempersulitnya tapi ia sendiri yang mendorong dirinya ke tempat ini.

Ia memberi Man Wol segelas air untuk melegakan tenggorokannya setelah minum alkohol dan berkata akan membawakan roti karena ia akan mendatangi toko roti bersama hantu itu. Toko roti yang pernah dikunjungi Kim Joon Hyun, komedian favorit Man Wol.

Man Wol bertanya kenapa Chan Seong bersikap baik padanya. Membuatnya curiga. Apa Chan Seong menaruh racun di gelasnya? Chan Seong berkata ia ingin merawat Man Wol. Jika ia memberi roti dan air siapa tahu pohon kering yang mengeluarkan daun pun akan berbunga.

“Jangan. Apa kau pikir aku ini benih yang tumbuh jika diberi air? Aku adalah pohon tua yang kering selama lebih dari seribu tahun.”

Chan Seong berkata pohon itu sekarang mengeluarkan daun. Jadi mungkin saja terjadi. Man Wol mengeluh rasanya gatal.

“Apa aku mengganggumu? Kau bilang kau tidak merasakan apapun. Kurasa itu tidak benar,” kata Chan Seong.


Chan Seong meninggalkan kantor Man Wol. Man Wol mengejarnya dan menyuruhnya tidak datang lagi. Ia melepas Chan Seong pergi. Tapi Chan Seong berkata sekarang ia tidak bisa pergi ke manapun. Ia sudah berhenti dari hotel sebelumnya karena Man Wol. Sekarang ia memiliki reputasi buruk dan tak ada yang mau menerimanya. Apalagi kalau tahu ia bisa melihat hantu.

“Dan kau tidak memiliki siapapun selain aku.”

Man Wol berkata Chan Seong ada di urutan ke-3. Urutan 1 dan 2 lebih baik dari Chan Seong. Chan Seong berkata mereka terlalu kuat jadi tidak bisa bekerja di hotel ini. Man Wol memerlukan seorang yang menudah jadi terget hantu seperti dirinya. Seseorang yang bisa menyelesaikan kemarahan mereka dan yang lainnya.

“Aku adalah pilihan ke nol.”

Man Wol berkata ia tidak akan menyukai Chan Seong jika terus seperti ini. Ia tidak mengganggu Man Wol tapi Man Wol menyukainya. Man Wol jadi tidak menyukainya karena ia mengganggunya. Ia memilih yang ke-2. Man Wol sangat kesal dan berpikir Chan Seong meremehkannya karena sekarang pohon itu berdaun.


Chan Seong membawa hantu gadis buta ke toko roti. Dulu ketika masih hidup ia suka ke toko roti. Seorang pembuat roti sangat baik padanya dan menawarkan roti hangat yang baru selesai dipanggang. Ia membantu gadis itu memegang roti dengan tangannya. Karena itu ia ingat kehangatan tangan si pembuat roti yang membuatnya jantungnya berdebar
.
Masalahnya ada beberapa pembuat roti di toko itu, sedangkan hantu itu tidak tahu wajah maupun nama pembuat roti. Jadi Chan Seong bersedia meminjamkan tangannya pada hantu itu.

Dengan berbagai alasan ia berhasil berjabat tangan atau memegang tangan para pembuat roti di toko itu. Hingga akhirnya ia mendapat masalah karena bersikap sangat aneh. Untunglah Sanchez kebetulan datang dan membantunya tidak terkena masalah lebih jauh meski Chan Seong di blokir datang lagi ke toko roti itu.

Sayangnya dari tiga pembuat roti di toko itu, tidak ada orang yang dicari hantu tersebut. Karena Sanchez sejak dulu berlangganan di toko roti itu, ia mengenal semua pegawainya. Ia juga tahu ada satu pembuat roti yang pindah kerja.


Para staf hotel terkejut melihat Pohon Bulan berdaun. Bagi mereka ini adalah tanda akan terjadi kekacauan. Dengan tumbuhnya daun berarti hukuman Man Wol akan berakhir. Jika Man Wol pergi, apa yang akan terjadi pada mereka bertiga? Mereka akan naik bis ke kehidupan selanjutnya.

Dan mereka belum mau pergi. Mereka bertanya-tanya apa yang membuat hal seperti ini mendadak terjadi. Tentu saja mereka langsung menebak Chan Seong lah penyebabnya.

Chan Seong dan hantu buta (yang tidak buta lagi sebetulnya) pergi ke toko roti lain. Orang yang dicari hantu itu sekarang bekerja di sana. Seorang pemuda tampan yang sopan. Chan Seong kembali meminjamkan tangannya dan berjabat tangan dengan pembuat roti itu.

Hantu itu langsung bisa merasakan kalau orang itulah yang dicarinya. Chan Seong memberi waktu pada hantu itu untuk berada di toko roti lalu kembali ke hotel. Hantu itu senang dan mengangguk penuh terima kasih.

Keluar dari toko roti, Chan Seong melihat Man Wol sudah menunggu. Dengan mobil barunya. Chan Seong langsung pusing tujuh keliling. Ia berkata lebih baik ia tidur.

“Baiklah, ayo kita tidur,” kata Man Wol. Ia akan melihat mimpi Chan Seong  kali ini.

Chan Seong berkata itu bukan kata-kaa yang pantas diucapkan seorang bos. Ia akan membiarkannya kali ini saja. Man Wol mengalah dan bertanya bagaimana kalau mereka pergi makan. Chan Seong tetap memilih tidur. Tidak dengan Man Wol tentunya.

Man Wol bekata bukankah Chan Seong berkata akan merawatnya. Membuatnya tidur nyenyak dan makan dengan baik adalah cara untuk melakukannya. Chan Seong menyerah dan bertanya mereka akan makan di mana.


Ternyata Man Wol membawa Chan Seong ke restoran pizza milik Sanchez. Chan Seong mewanti-wanti Man Wol agar tidak menyebut apapun tentang hantu. Man Wol berkata pasti Chan Seong berbohong pada Sanchez soal bekerja di hotel yang normal.

Lucunya, Man Wol tidak mengatakan apapun tentang Sanchez, sebaliknya Sanchez membicarakan Man Wol tanpa tahu kalau Man Wol adalah bos Chan Seong. Chan Seong memperkenalkannya sebagai teman kerja.

“Itu tempat bekerja yang sulit, bukan? Chan Seong tertekan sejak bekerja di sana. Bos kalian seorang maniak, bukan? Wanita itu...siapa namanya?”

“Jang Man Wol,” jawab Man Wol.

“Ya, Jang Man Wol. Aku ingat karena namanya berantakan. Bagaimanapun banyak yang mengatakan para pegawai harus menggosipkan bos mereka agar hidup kerja mereka nyaman. Aku akan menyajikan pizza d sini sebagai ganti kepala bos kalian. Nikmati makanan kalian sambil merobek-robeknya. Akan membutuhkan lebih dari 1 pizza untuk melampiaskan kemarahan kalian,” celoteh Sanchez.


Untung Man Wol tidak mengeluarkan hantu saat itu juga XD Setelah Sanchez pergi, Chan Seong berkata ia tidak pernah menyebut Man Wol maniak. Dengan tenang Man Wol berkata tidak ada yang salah dengah itu. Bukankah mereka semua sesekali menjadi sedikit gila?

Man Wol bertanya bagaimana dengan kunjungan Chan Seong ke toko roti. Chan Seong melaporkan tangan hantu itu membawa mereka ke tempat yang benar. Benarkah, tanya Man Wol.

Ia berkata ingatan hantu seringkali campur aduk. Karena terlalu lama gentayangan, mereka seringkali melupakan apa yang penting. Terkadang mereka hanya ingat apa yang ingin mereka ingat.

“Kau bilang ia hanya ingat tangannya. Kenangan yang sangat indah. Tapi kurang berpengaruh. Ia hidup dengan baik jadi kenapa ia mengingat tangan orang yang memberinya beberapa roti?”

Chan Seong jadi waspada dan bertanya apa sebenarnya yang ingin Man Wol katakan.

“Ingatan penting bagi hantu hampir semua sama. Ingatan ketika mereka meninggal.”

Chan Seong terkejut dan lari keluar.


Hantu gadis buta menunggu hingga si pembuat roti menutup toko. Si pembuat roti menyalakan motornya dna bersiap pulang. Saat itulah hantu gadis itu teringat pada kejadian sebenarnya. Ia tertabrak motor itu saat menyeberang jalan.

Dalam keadaan sekarat ia mengulurkan tangan pada si pembuat roti dan berhasil memegang tangannya. Tapi si pembuat roti memutuskan untuk membiarkan gadis itu dan melarikan diri. Akhirnya gadis itu meninggal dunia.

Sekarang hantu itu kembali dendam. Ia berubah wujud menjadi kembali menyeramkan dan duduk di belakang si pembuat roti. Pembuat roti memacu motornya dengan kencang.


Chan Seong sampai di toko roti tapi toko itu sudah tutup. Ia berlari sekeliling daerah itu mencari mereka. Akhirnya ia menemukannya.

Dengan nekat ia berdiri di tengah jalan sambil merentangkan tangannya untuk menghentikan motor itu. Man Wol memakan pastanya dengan tenang dan bergumam, “Gu Chan Seong, datanglah ke hotelku setelah kau mati.”

Si pembuat roti terkejut melihat Chan Seong di tengah jalan, tapi ia tidak sempat mengerem motornya. Motor itu beralih sedikit hingga hanya menyerempet sedikit tangan Chan Seong lalu menabrak tiang. Di pembuat roti tidak apa-apa dan marah pada Chan Seong.

Tapi Chan Seong lebih marah dan memukul si pembuat roti hingga terkapar. Chan Seong menghampiri hantu buta menyeramkan yang nampak geram. Ia berkata jika hantu itu membunuh si pembuat roti, ia akan lenyap jadi abu. Untuk apa pergi dengan sia-sia seperti itu? Ia berjanji akan membuat si pembuat roti dihukum atas perbuatannya.

Untunglah hantu itu mendengar kata-kata Chan Seong. Kemarahannya mereda. Chan Seong menoleh dan melihat Man Wol di seberang jalan. Man Wol mengedikkan bahu lalu pergi.


Chan Seong pergi ke kantor polisi melaporkan kejadian tabrak lagi yang dilakukan si pembuat roti. Si pembuat roti pun ditangkap.

Hantu gadis buta sudah menerima bunga dari Dewa Mago. Artinya ia akan pergi ke tempat yang baik. Chan Seong sendiri yang mengantarnya. Hantu itu berterimakasih pada Chan Seong. Ingatan tentang tangan pembuat roti itu sebenarnya ingatan yang buruk tapi dengan bodohnya ia mengira itu ingatan bahagia.

Chan Seong berkata itu karena gadis itu memang orang yang seperti itu. Selalu mengingat kenangan bahagia sekecil apapun itu dibandingkan dengan ingatan buruk. Roh gadis itu pun pergi dengan tenang diantar limosin.


Chan Seong mulai merasakan makna dari pekerjaannya. Ia bahkan menawarkan sendiri kopi pada hantu peminta kopi yang selama ini selalu membuatnya terkejut. Ia tersenyum dan memberi hormat melihat hantu yang kemarin dikerubungi lalat. Ia juga bersimpati pada hantu ayah dan anak yang meninggal karena kecelakaan. Ayah anak itu berusaha menyelamatkan anaknya yang berlari mengambil bola ke tengah jalan. Tapi mereka berdua tertabrak.

Man Wol melihat semua itu dan berdecak karena Chan Seong belum sadar juga. Ia menganggap kelembutan hati Chan Seong sebagai sebuah kebodohan.


Ibu Choi dan Bartender Kim menghadap Man Wol perihal Pohon Bulan yang berbunga. Kenapa pohon itu mendadak kembali hidup? Man Wol berkata Dewa Mago memberitahunya kalau seseorang akan datang dan membantunya pergi. Ia membenarkan tebakan mereka kalau orang itu adalah Chan Seong.

Ia berkata Chan Seong akan berusaha membuat bunga bermekaran di pohon itu. Ia rasa ia akan pergi begitu bunga itu gugur. Mereka bertanya apa yang akan terjadi pada mereka.

“Mana aku tahu? Semuanya terserah kalian. Kita semua bisa menyerah dan pergi ke kehidupan selanjutnya atau kalian bisa gentayangan di dunia ini sebagai roh jahat lalu jadi abu.”

Mereka belum mau pergi, begitu juga Man Wol. Mereka harus melepaskan Chan Seong. Lagipula mereka sudah memiliki kandidat ke-4.

Kandidat tersebut adalah Yu Na...atau Su Jeong dalam tubuh Yu Na. Untuk selanjutnya kita sebut Yu Na saja ya^^ Karena ia menjadi roh parasit yang mendiami tubuh orang lain, secara alami ia memiliki kemampuan untuk melihat roh lainnya alias hantu. Dan ia seorang pemberani. Sangat cocok untuk menjadi manajer hotel mereka.


Man Wol memikirkan itu dan merasa itu ide yang baik. Ia yang membantu Yu Na mendapatkan tubuhnya jadi ia bisa menggunakan itu untuk mengancamnya. Selain itu Yu Na dari keluarga sangat kaya. Tapi masalahnya Chan Seong tidak mau pergi.

Meski ia mengusir Chan Seong tanpa bola mata sekalipun, ia tetap akan bisa melihat hotel mereka dan melihat hantu. Hanya Mago yang bisa mengambil kemampuan itu dari Chan Seong. Tapi apa ia akan membantu mereka karena ia yang mengirim Chan Seong ke sana.

Mereka bingung. Mereka tidak boleh membunuh manusia. Tapi jika mereka membiarkan Chan Seong, mereka bisa-bisa dikirim pergi naik bis.

Ibu Choi memiliki ide untuk menyelesaikan masalah ini tanpa membunh Chan Seong. Tamu kamar no. 13 hotel mereka. Tamu itu benci manusia bahkan suara nafasnya sekalipun. Jika manusia melihat hantu kamar no. 13, ia akan jadi gila. Jika Chan Seong jadi gila, ia tidak akan bisa kembali ke hotel meski bisa melihat hantu karena pasti dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Ia bertanya apa Man Wol setuju. Man Wol memikirkannya lalu ia bertanya di mana Chan Seong sekarang. Tampaknya ia menyetujuinya.


Ia menemukan Chan Seong tidur nyenyak di bawah Pohon Bulan. Ia berkata Chan Seong tidak memiliki waktu lama lagi sebagai orang waras tapi menyia-nyiakan waktu untuk tidur. Sangat disayangkan tapi itu semua akibat ulah Chan Seong sendiri.

“Aku benar-benar menyukaimu, tapi aku benci kau bisa melihat ke dalam diriku.”

Ia mengambil daun yang terjatuh di bahu Chan Seong. Chan Seong terbangun. Ia tertawa melihat Man Wol. Ia bertanya apa Man Wol datang agar bisa tidur bersama. Apa sekarang Man Wol senang karena melihatnya tidur.

Man Wol bertanya apa Chan Seong melihatnya lagi dalam mimpi. Chan Seong bertanya apa Man Wol ingin tahu. Ia akan memberitahu jika Man Wol duduk di sebelahnya.


Man wol jadi kesal dan berkata inilah yang ia benci. Ia ingin menyuruh Chan Seong tutup mulut atau bahkan mengancam akan merobek mulutnya, tapi yang ia pikirkan adalah duduk di sebelah Chan Seong untuk mendengarnya. Dan ia benci pikiran itu.

Ia berkata Chan Seong harus membayarnya. Chan Seong sendiri yang mengakui kalau sudah mempersulit diriya sendiri, jadi apapun yang terjadi adalah kesalahannya. Chan Seong tersenyum dan berkata ia yakin Man Wol akan melindunginya jika terjadi sesuatu padanya.

“Kau yang menghentikan motor itu.”

Man Wol membantah keras. Ia berkata ia tidak peduli meski Chan Seong meninggal dalam kecelakaan. Lah Neng Bulan ngapain di sono kalau ngga peduli ;p

Chan Seong berkata ia justru berani melompat ke tengah jalan karena ia percaya pada Man Wol. Ia yakin Man Wol yang melindunginya.

“Sudah kubilang bukan aku.”
“Aku percaya kau akan melindungiku. Jadi lindungi aku jika terjadi sesuatu padaku. Aku akan berada di sisimu.”
“Aku akan mengusirmu,” kata Man Wol ketus.

Chan Seong tersenyum kecil lalu pergi meninggalkan taman. Dalam mimpinya tadi ia melihat Man Wol berteduh di bawah pohon favoritnya dengan raut wajah bahagia. Ketika itulah sehelai daun jatuh ke pundak Man Wol dan Chan Seong. Ia bertanya-tanya apakah daun itu dari mimpinya tadi. Ia mengantungi daun tadi.


Ibu Choi menghampirinya dan meminta tolong padanya untuk melayani tamu kamar 13. Bartender Kim menyerahkan sekotak dupa untuk dinyalakan Chan Seong di kamar 13. Ia berkata tamu kamar itu menyulitkan jadi ia minta maaf sudah menyusahkan Chan Seong. Chan Seong dengan senang hati membantu mereka.

Begitu Chan Seong pergi, Bartender Kim merasa bersalah. Ia merasa ia sudah menyerahkan kehormatannya sebagai seorang cendekiawan. Ia merasa malu. Hyun Jeong juga nampak sedih. Ia menyukai Chan Seong dan menganggapnya teman.

Ibu Choi melaporkan pada Man Wol kalau saat ini Chan Seong sedang menuju kamar 13. Man Wol hanya diam.


Chan Seong membuka kamar 13 dengan kunci pemberian Bartender Kim. Memasuki kamar itu seperti memasuki gua batu yang berkelok-kelok. Ia memasuki kamar itu dengan berjalan  ke dalam dengan hati-hati. Sementara yang lain antara merasa bersalah dan harap-harap cemas dengan apa yang akan terjadi.

Chan Seong membuka pintu besi berkarat yang terletak di ujung gua batu itu. Ia memasuki kamar luas yang terlihat seperti gudang tua. Ada sebuah lemari besar dan meja di tengahnya. Ia meletakkan nampan di meja dan menyalakan dupa yang dibawanya. Tidak ada siapapun di sana. Ia bertanya-tanya di mana tamu kamar itu.


Ia tidak tahu ada sosok mengerikan yang mengintipnya dari dalam lemari. Setelah menyalakan dupa ia berbalik pergi. Tiba-tiba ia mendengar sesuatu dan menoleh. Ia melihat sesuatu di dalam lemari dan mendengar gumaman aneh. Seperti terkena mantra, Chan Seong mulai berjalan menghampiri lemari itu.

“Gu Chan Seong!!” panggil Man Wol.

Chan Seong tersadar dan menoleh. Man Wol melarang Chan Seong melihat lemari itu.

“Jangan biarkan ia mendengarmu bernafas.”

Tapi dasar Chan Seong. Ia berkata ia mendengar sesuatu.


Man Wol menutupi telinga Chan Seong dengan tangannya dan menatapnya. Jangan dengarkan, katanya. Hantu di lemari siap melompat keluar.

“Ada apa?” tanya Chan Seong menoleh.

Man Wol menariknya lalu menciumnya. Pada saat itu juga hantu itu lenyap menjadi asap hitam.


Komentar:

Semakin lama melihat masa lalu Man Wol dan interaksi Chan Seong-Man Wol, aku semakin merasa Chan Seong memang ada kaitan dengan Cheong Myung. Hanya mereka yang bisa membuat Man Wol tak bisa berkata-kata. Cheong Myung dan Chan Seong sama-sama bisa membuat hati meleleh...emangnya coklat XD

Aku jadi ingin tahu kenapa Man Wol marah kalau hukumannya akan berakhir. Kukira ia menunggu hukumannya berakhir, tapi ternyata tidak. Apa ia merasa ia belum selesai menebus dosanya? Atau memang ia sedang menunggu sesuatu? Apa ia ingin selamanya mengurus hotel itu?

Memangnya Dewa Mago tidak akan memilih orang lain untuk mengurus hotel itu seandainya Man Wol tidak ada? Bukankah penginapan itu sejak dulu ada bahkan sebelum Man Wol menjadi pemiliknya? Buktinya dulu Man Wol bertemu Dewa Mago karena mencari penginapan itu.

Setelah pohon itu berdaun, artinya waktu Man Wol kembali berjalan. Artinya sekarang ia manusia yang suatu saat akan meninggal, mungkin saja ditandai dengan gugurnya bunga itu. Mungkinkah tumbuhnya daun di pohon itu artinya ada sesuatu yang tumbuh di hati Man Wol?

Gemes deh liat mereka berdua...juga melihat Man Wol dan Cheong Myung. Terlihat kalau sama-sama ada rasa tapi gengsi mengakui ;p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)