Selasa, 23 Juni 2020

Sinopsis It's Okay To Not Be Okay Episode 1

Kisah ini dimulai dengan animasi apik mengenai seorang anak perempuan yang tinggal di kastil megah di dalam hutan. Ia selalu sendirian. Karena bosan dan kesepian, ia meninggalkan kastil untuk mencari teman. Ia membawa berbagai macam hadiah menakjubkan, tapi anak-anak lain malah lari ketakutan saat melhat hadiah tersebut. Ya iyalah bawanya burung mati, bukan ayam goreng :p

Awalnya ia tidak mengerti kenapa tidak ada orang yang mau menerimanya. Tapi akhirnya ia tahu. Orang-orang menyebutnya monster pembawa kematian. Ia sangat marah pada semua orang di dunia dan perlu melampiaskannya. Dalam animasi itu ia pergi memancing ikan hanya untuk menginjak-injak para ikan malang itu.

Tapi tanpa sengaja ia memancing seorang anak laki-laki. Sejak itu bayangan gelap yang selalu mengikutinya tiba-tiba menghilang. Anak laki-laki itu selalu mengikutinya ke manapun ia pergi. Hingga pada suatu hari gadis itu bertanya apakah anak laki-laki itu akan selalu berada di sisinya. Tentu saja, kata anak itu. Ia tidak akan pernah melarikan diri.

“Meski setelah melihat ini?” tanya anak perempuan itu sambil merobek sayap kupu-kupu dengan tangannya.

Anak laki-laki itu terkejut melihat begitu banyak kupu-kupu tergeletak tak berdaya di tanah karena semua sayapnya sudah dipatahkan. Anak laki-laki itu melarikan diri ketakutan. Anak perempuan itu kembali sendiri dan bayangan kematian kembali padanya dan berbisik.

“Tidak seorang pun akan berada di sisimu karena kau seorang monster. Jangan pernah lupakan itu, apa kau mengerti?”

“Ya, Ibu,” jawab anak perempuan itu.

Mun Sang Tae (Oh Jung Se) dikeluarkan dari sekolah keterampilan karena membuat keributan. Adiknya, Mun Kang Tae (Kim Soo Hyun), dipanggil kepasa sekolah dan dimarahi. Mun Sang Tae dikeluarkan dari sekolah karena dianggap merepotkan dan membahayakan. Seharusnya Sanga Tae di bawa ke sekolah berkebutuhan khusus, bukan ke sekolah umum seperti itu. Kang Tae hanya diam tanpa ekspresi.

Tapi Sang Tae bisa merasakan adiknya sedang marah. Karena itu ia hanya diam tak berani melihat pada adiknya ketika adiknya membereskan semua barang-barangnya. Kang Tae melihat kakaknya dan tersenyum lembut.

“Kak? Apa kakak tidak lapar?”

Kakaknya terus diam sepanjang perjalanan. Kang Tae berusaha menghibur kakaknya kalau mereka juga tidak lama lagi akan pindah kota dan ia akan menemukan sekolah yang lebih baik. Sang Tae akhirnya mau menjawab dengan mengoceh tentang makanan kesukaannya. Yup, Sang Tae seorang yang spesial. Ia seorang penderita ASD (Austism Spectrum Disorder).

Penulis buku populer anak-anak, Go Mun Yeong (Seo Ye Ji) sedang makan siang di sebuah restoran. Ia makan sendirian dan terlihat menikmati kesendiriannya itu. Seorang ibu dan anaknya menyapanya karena anaknya penggemar buku Mun Yeong dan ingin meminta tanda tangan. Meski sebenarnya merasa terganggu, Mun Yeong memberikan tanda tangannya.

Tapi ketika anak itu berkata Mun Yeong sangat cantik seperti puteri di negeri dongeng, Mun Yeong terdiam. Anak itu berkata Mun Yeong puteri karena cantik, sama sepeti dirinya yang juga dipanggil puteri oleh ibunya. Mun Yeong menawarkan agar mereka berfoto.

Ia memangku anak itu untuk difoto, lalu berbisik.

“Kau bukan benar-benar penggemarku, bukan? Dalam semua dongengku, yang cantik selalu si penyihir. Siapa yang memberitahumu kalau semua puteri cantik dan baik? Ibumu? Jika kau ingin secantik itu, katakan  ini pada ibumu: Ibu, aku ingin menjadi penyihir yang cantik.”

Anak itu langsung meronta sambil menangis ketakutan, lari meninggalkan Mun Yeong.

Direktur Lee, direktur perusahaan penerbit yang menerbitkan buku Mun Yeong, menemui Mun Yeong dan menyarankan agar Mun Yeong mengganti penampilannya (gaun hitam) dengan yang lebih cerah karena Mun Yeong hari ini dijadwalkan utnuk membacakan dongengnya di bangsal anak-anak.

Tapi Mun Yeong malah mengalihkan perhatian dengan berkata ia sangat suka makan di restoran ini karena pisaunya sangat tajam. Ia mengiris jarinya sedikit sampai berdarah,  lalu memasukkan pisau daging ke dalam tasnya dan pergi. Direktur Lee sudah terbiasa dengan tingkah Mun Yeong. Ia cepat-cepat memberi uang pada pelayan restoran untuk mengganti pisau tersebut.


Kang Tae adalah seorang perawat di rumah sakit. Ia yang bertugas menangani ketika ada  pasien yang membuat masalah. Misalnya pasien yang tak henti-hentinya makan karena merasa kosong setelah ditinggal selingkuh suaminya.  Pasien itu mengira Kang Tae suaminya. Awalnya memeluknya, lalu memuntahinya. Kang Tae berusaha tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Tapi pasien itu malah menampar Kang Tae.

“Jangan tersenyum padaku. Memuakkan,” kata pasien itu.

Hari ini bangsal mereka mendapat pasien baru. Seorang pria yang berusaha bunuh diri dengan meminum obat overdosis bersama puterinya yang masih kecil. Pria itu ingin membunuh puterinya lalu bunuh diri, tapi mereka dapat diselamatkan.

Pria itu terus berontak hingga harus diikat ke tempat tidur. Ia terus berteriak mencari puterinya, Go Eun. Go Eun saat ini sedang dikonseling di bagian psikologi anak. Anak itu hanya diam tak menjawab saat psikolog bertanya apa yang ia pikirkan.

Direktur Lee ketahuan mendapat telepon dari Rumah Sakit Jiwa OK oleh Mun Yeong. Padahal jelas sekali ia tidak ingin, bahkan takut, kalau Mun Yeong sampai tahu ia dikontak oleh rumah sakit tersebut. Mun Yeong menyuruh Direktur Lee mengangkat telepon itu dan menyalakan speaker.

Perawat Nam Ju Ri memberitahu kalau pasien Go Dae Hwan harus dioperasi dan membutuhkan ijin dari wali atau keluarga. Ia terdengar kesal karena teleponnya tidak pernah diangkat. Itu sama saja dengan membunuh pasien.

“Go Dae Hwan...sudah mati bagiku. Kenapa kau terus berusaha membangkitkannya? Apa kau Yesus?”

Ju Ri terkejut mendengar respon Mun Yeong. Mung Yeong menantang Ju Ri untuk datang menemuinya langsung jika begitu putus asa. Kepala Perawat Park berkata Go Dae Hwan adalah pasien terlama mereka. Walinya tidak pernah satu kali pun menjenguk atau menelepon, artinya ia telah dibuang. Ia menyarankan agar Ju Ri mendatangi wali itu langsung untuk menyelamatkan pasien. Ju Ri bersedia asal ia diberi waktu libur 2 hari.

Go Dae Hwan adalah seorang pasien demensia. Ju Ri memberitahunya kalau puterinya, Mun Yeong, tidak bisa menjenguknya. Bukannya sedih, Go Dae Hwan malah berteriak ketakutam.

“Tidak!!! Tidak!! Jika ia datang....mati!!”

Kang Tae menelepon kakaknya yang sendirian di rumah. Sang Tae sedang asyik menggambar sambil mengoceh percakapan acara kartun yang sudah sangat dihafalnya bahkan tanpa perlu melihatnya. Kang Tae tahu kakaknya lagi-lagi menggambar di buku wanita itu.

“Bukan wanita itu, tapi penulis Go Mun Yeong,” protes Sang Tae. Rupanya ia penggemar berat buku-buku Mun Yeong dan memiiliki semua koleksinya.

Karena itu ketika Kang Tae memberitahu kalau Mun Yeong akan datang ke rumah sakit tempatnya bekerja untuk membacakan dongeng, Sang Tae langsung melompat bangun dan bersiap hendak pergi ke rumah sakit itu.

Kang Tae berusaha agar kakaknya tidak pergi tapi Sang Tae tidak mau mendengar. Mun Sang Tae!! Bentak Kang Tae. Sang Tae terdiam. Kang Tae menyuruhnya menarik nafas 3 kali dan menurut padanya. Ia berkata meski kakaknya pergi sekarang, tidak akan sempat sampai tepat waktu. Dan lagi acara itu hanya untuk anak-anak. Ia berjanji akan berusaha mendapatkan tanda tangan Mun Yeong. Bukankah tanda tangan lebih tersimpan lama daripada perjumpaan sesaat?

Sang Tae menurut.

Kang Tae  melihat seorang pengunjung rumah sakit dengan tenangnya merokok di depan tanda dilarang merokok, sambil mencabuti kelopak bunga satu per satu. Siapa lagi kalau bukan si nyentrik Mun Yeong. Ia tidak peduli meski orang-orang melihat padanya dan membicarakan tingkahnya.

Kang Tae menegurnya agar memadamkan rokoknya tapi Mun  Yeong tidak peduli dan berkata ia baru saja menyalakannya. Tapi ketika ia berhadapan dengan Kang Tae ia terdiam (karena ketampanannya mungkin ;D). Ia bertanya apa Kang Tae percaya pada takdir.

“Jika seseorang muncul ketika ia memerlukannya, maka itu disebut takdir.”

Mun Yeong memasukkan rokoknya ke sisa kopi Kang Tae untuk memadamkannya. Lalu berjalan pergi. Kang Tae kesal dan pergi.

Mun Yeong membacakan dongengnya di aula rumah sakit. Go Eun juga ikut mendengar dengan seksama.

Sementara itu ayah Go Eun berhasil melepaskan diri dan sekarang berusaha mencari puterinya di seluruh penjuru rumah sakit. Kang Tae mendengar kabar tersebut dan berlakri mencari ayah Go Eun. Ayah Go Eun  masuk ke aula dan membuat kericuhan hingga acara pembacaan dongeng terpaksa dihentikan. Dan Mun Yeong terlihat sangat tidak senang karena ia belum selesai. Ia memprotes pihak rumah sakit dan memaksa mereka membawa anak-anak kembali masuk ke aula, tapi matanya melihat ayah Go Eun menarik Go Eun ke belakang panggung.

Go Eun ketakutan melihat ayahnya. Ayahnya berkata kalau mereka tertangkap mereka akan dipisahkan. Ia akan masuk rumah sakit jiwa dan Go Eun akan masuk panti asuhan. Go Eun menangis berkata ia tidak mau mati, ia ingin hidup.

“Sudah ayah bilang, anak-anak tidak bisa hidup sendirian. Jika kita harus dipisahkan, lebih baik kiita mati bersama. Itu lebih baik.”

Mun Yeong yang sejak tadi mendengar percakapan mereka, mengumpat pelan.

“Benar-benar omong kosong. Kau adalah manusia tak berguna pertama yang kutemui setelah begitu lama.”

Ayah Go eun terkejut dan berusaha mengancam Mun Yeong. Tapi Mun Yeong dengan tenang bertanya apa ayah Go Eun pernah membunuh orang.

“Kaupikir kau tidak bisa melanjutkan hidupmu tapi tidak punya keberanian untuk mati sendiri. Karena itu kau membujuk anak ini untuk menjalaninya lebih dulu. Jangan jadi pecundang. Ambil saja nyawamu sendiri.”

Ayah Go Eun menyerang Mun Yeong tapi Mun Yeong memukulnya dengan tasnya. Pisau di dalam tas terlempar keluar. Ayah Go Eun hendak mengambil pisau itu tapi Mun Yeong menginjak tangannya dan menendang pisau itu. Ayah Go Eun menerjang dan mencekik Mun Yeong.

Go Eun ketakutan dan berlari keluar dari belakang aula. Untunglah ia berpapasan dengan Kang Tae.

“Siapa kau berani-beraninya ikut campur!” Teriak ayah Go Eun, ”Dia anakku! Aku bisa membunuhnya jika aku mau. Aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan padanya!”

Mun Yeong malah menentangnya untuk mencekiknya lebih kuat. Ayah Go Eun makin marah dan mengetatkan cekikannya. Pada saat itu Mun Yeong teringat pada masa kecilnya. Ayahnya juga pernah hendak membunuhnya dengan mencekiknya. Mun Yeong sampai mencakar tangan ayahnya karena kesakitan.

Kang Tae menerjang ayah Go Eun. Mereka sempat berkelahi hingga Kang Tae akhirnya bisa mengikatnya.Mun Yeong berjalan mendekati mereka lalu mengayunkan pisaunya.

Darah menetes dari tangan Kang Tae yang menangkap pisau tersebut.

“Jadi ini bukan takdir. Aku akan menghargai kalau kau tidak ikut campur. Dia bukan pasien. Dia adalah cacing.”

Ayah Go Eun berkata Mun Yeong adalah orang gila. Ia lari sambil berkata ia hampir saja mati karena Mun Yeong. Lah...bukannya memang dia pengen mati ya? Para perawat langsung menangkapnya.

Kang Tae membungkus pisau dengan kain. Mun Yeong bertanya memangnya pisau itu terluka hingga perlu dibalut. Anggap saja ia tadi membela diri. Ia hanya ingin menggores ayah Go Eun seidkit dengan pisau tapi Kang Tae bereaksi berlebihan. Ia lalu membalut tangan Kang Tae dengan kain yang tadi membalut pisaunya.

“Kau tahu? Di dunia ini ada orang-orang yang pantas mati. Tapi beberapa orang gila yang pengertian, diam-diam membunuh mereka. Karena itu rakyat biasa yang tidak tahu apa-apa bisa tidur tenang di malam hari tanpa tahu apa-apa. Menurutmu aku yang mana?” tanya Mun Yeong.

“Kau orang gila yang tidak tahu apa-apa,” jawab Kang Tae. Mun Yeong tertawa kecil.

Direktur Lee khawatir korban pisau Mun Yeong akan menyebarkan berita mengenai kelakuan Mun Yeong. Seperti biasa ia akan menyogok korban.

Di sisi lain, pihak rumah sakit kesulitan karena pasien berbahaya lepas  dan mengacaukan cara. Para wali pasien protes dengan kejadian tersebut. Mereka membutuhkan orang untuk disalahkan. Perawat yang bersalah karena melonggarkan ikatan ayah Go Eun adalah seorang perawat pemula. Sedangkan Kang Tae sudah berpindah-pindah rumah sakit selama 10 tahun terakhir. Total 15 rumah sakit. Ia tahu Kang Tae juga tidak lama lagi akan meninggalkan mereka. Dengan kata lain, mereka membuat Kang Tae menjadi kambing hitam insiden tersebut dan memecatnya. Kang Tae menerima tanpa protes.

Untunglah ada Jae Su, sahabatnya, yang selalu siap menemani dan menghiburnya. Meski akhirnya mereka harus mendorong motor Jae Su sampai ke rumah.

Ju Ri benar-benar menemui Mun Yeong. Ternyata mereka berdua saling mengenal. Hampir 20 tahun mereka tidak bertemu sejak Mun Yeong pindah sekolah. Ju Ri menyerahkan surat persetujuan wali untuk ditandatangani.

“Kau jauh-jauh datang ke sini hanya untuk meminta tandatanganku di kertas bodoh ini? Kau memang sangat bertanggungjawab atau kau hanya berbuat baik?”

Ju Ri menjelaskan rumah sakit tempatnya bekerja adalah rumah sakit jiwa sedangkan operasi ayah Mun Yeong dilakukan di rumah sakit lain.

“Sudah kubilang ayahku sudah mati. Kau tahu kan aku adalah yatim piatu...”

“Tapi ibumu masih hidup...”

“Aku sudah lama mendaftarkan kematiannya. Apa kau tahu apa yang menarik? Jiwa ayahku sudah mati, tapi fisiknya hidup seperti zombie. Sedangkan ibuku, mati secara fisik bertahun-tahun lalu...tapi jiwanya masih hidup. Jadi siapa yang masih hidup di antara mereka berdua? Kau kan perawat, beritahu aku.”

Ju Ri berusaha membicarakan kondisi ayah Mun Yeong yang akan semakin parah jika tidak dioperasi.

“Hei, orang-orang akan berpikir kau adalah puterinya. Ah, kenapa kita tidak melakukan ini. Kau boleh jadi puteri Go Dae Hwan dan aku jadi puteri ibumu. Aku akan tandatangan jika kau setuju. Bagaimana?”

Pertemuan dengan Mun Yeong sangat melelahkan bagi Ju Ri. Tapi ia berhasil mendapatkan tandatangan Mun Yeong. Apakah itu artinya menyetujui perkataan Mun Yeong? Ia bertanya apakah sesekali ia perlu menemui ibu Ju Ri untuk makan karena masakan ibu Ju Ri enak. Ju Ri hanya diam.

Mun Yeong menggoda kalau Ju Ri sampai sekarang tidak bisa mengerti gurauannya. Ju Ri baru bisa menumpahkan kekesalannya saat ia sendirian.

Kang Tae menceritakan apa yang terjadi pada Jae Su. Jae Su berpendapat Mun Yeong tidak waras. Tapi Kang Tae berkata Mun Yeong memang dilahirkan seperti itu. Jae Su protes karena Kang Tae menerima dipecat begitu saja. Kang Tae mengaku pasti enak rasanya kalau bisa mengamuk melampiaskan kemarahannya, tapi dengan begitu ia tidak akan mendapat uang pensiun.

Jae Sun berkata Sang Tae dikeluarkan dari sekolah, Kang Tae dipecat, dan sudah waktunya juga baginya untuk berhenti.

“Inilah saatnya, ketika angin malam terasa hangat. Kurasa kupu-kupu akan segera muncul. Bagaimana dengan kak Sang Tae? Belum ada tanda-tanda?”

Belum, jawab Kang Tae. Jae Su bertanya-tanya ke mana lagi kali ini mereka akan pergi. Mereka hampir tiba di rumah. Kang Tae meminta Jae Su merahasiakan insiden hari ini pada Sang Tae.

Tapi tiba-tiba Kang Tae terkejut. Ia lupa meminta tandatangan Mun Yeong. Jae Su meniru tandatangan Mun Yeong semirip mungkin. Kang Tae tersenyum gembira saat melihat hasilnya.

“Jangan tersenyum. Memuakkan,” kata Jae Su.

Kang Tae berkata seorang pasien juga mengatakan hal yang sama. Memangnya senyumnya sememuakkan itu? (ngga kok nggaaaaa^^)  Jae Su berkata senyum Kang Tae seperti Joker, dengan mata sedih dan sudut bibir terangkat naik.

Merekat tiba di rumah. Tapi Sang Tae bisa tahu kalau itu adalah tanda tangan palsu. Alhasil Sang Tae marah dan merajuk. Ia mengurung diri dalam lemari kain mengomel kalau berbohong itu buruk. Kang Tae berusaha membujuknya dengan berjanji membawanya ke toko buku untuk memberi ensiklopedi dinosaurus yang sangat diinginkan kakaknya. Tapi itu pun tidak sanggup membuat Sang Tae keluar.

Jae Su berkata itu semua salah Go Mun Yeong. Ia akan membakar semua buku-bukunya. Tentu saja tidak betulan.  Sang Tae menghambur keluar untuk menghalangi Jae Su.

Direktur Lee mengirim pesan pada Kang Tae. Ia meminta maaf atas insiden yang terjadi hari ini dan meminta Kang Tae datang ke kantor besok. Kang Tae mengiyakan dengan singkat.

Sementara itu di tv diberitakan kalau ayah Go Eun ditemukan meninggal di kamar tempatnya diamankan. Polisi sedang menyelidiki penyebab kematiannya. Bunuh diri kah? Aku kok ngga yakin ya karena darahnya di area kepala, dan lagi dia pasti diikat erat karena perbuatannya tadi. Aku merasa ada yang membunuhnya...

Mun Yeong memikirkan Kang Tae dan menganggapnya memiliki mata yang indah. Kang Tae juga memikirkan perkataan Mun Yeong. Bahwa di dunia ini ada orang gila yang membunuh orang yang pantas mati agar warga biasa bisa tidur dengan tenang.

Ia bangun untuk melihat kakaknya yang tidur sambil memegangi buku-buku Mun Yeong agar tidak diambil Jae Su. Ia mengambil buku “The Boy Who Fed On Nightmares”...buku yang tadi dibacakan Mun Yeong di rumah sakit.

THE BOY WHO FED ON NIGHTMARES

Anak laki-laki itu terbangun lagi dari mimpi buruknya. Ingatan buruk dari masa lalu yang ingin ia hapus dari kepalanya, Terulang setiap malam dalam mimpinya dan menghantuinya tanpa henti.

Anak itu sangat takut jika ia sampai tertidur. Jadi suatu hari ia menemui Si Penyihir dan memohon,

“Tolong lenyapkan semua ingatan burukku agar aku tidak akan pernah lagi mengalami mimpi buruk. Maka aku akan melakukan apapun yang kauminta.”

Tahun demi tahun berlalu dan anak laki-laki itu menjadi dewasa. Ia tidak lagi mengalami mimpi buruk. Tapi anehnya, ia tidak merasa bahagia sama sekali.

Suatu malam, saat bulan merah memenuhi langit malam, Si Penyihir akhirnya muncul kembali untuk mengambil apa yang sudah dijanjikan laki-laki itu sebagai imbalan memenuhi permintaannya. Laki=laki itu berteriak pada Si Penyihir dengan penuh kemarahan,

“Semua ingatan burukku sudah hilang. Tapi kenapa....kenapa aku tidak bisa bahagia?”

Maka Si Penyihir mengambil jiwa laki-laki itu sesuai perjanjian mereka, dan memberitahunya hal ini,

“Kenangan pedih dan menyakitkan. Kenangan penyesalan yang mendalam. Kenangan menyakiti dan disakiti orang lain. Kenangan dicampakkan.

Hanya mereka yang memiliki kenangan-kenangan seperti itu terkubur dalam hati  mereka, yang bisa menjadi lebih kuat, lebih penyayang, dan lebih luwes secara emosional.

Dan hanya mereka yang bisa mencapai kebahagiaan. Jadi jangan lupakan apapun. Ingatlah semua dan atasi semuanya. Jika kau tidak mengatasinya, kau akan selalu menjadi anak kecil yang jiwanya tidak pernah bertumbuh.”

Sementara itu Go Eun di rumah sakit telah selesai membaca buku yang sama. Ia membaca tulisan Mun Yeong di buku yang ditandatanganinya.

“Jangan lupakan hari ini.”

Seorang  perawat melihatnya belum tidur. Go Eun  bertanya di mana ayahnya. Perawat tidak berani mengatakan kalau ayahnya sudah tiada. Ia meminta Go Eun tidak khawatir.

Go Eun mulai menangis dan bertanya apakah polisi akan membawa ayahnya dan mengurungnya di rumah sakit jiwa. Ia berkata ayahnya bukan orang jahat, ayahnya hanya sedang sakit. Ia memohon agat ayahnya tidak dibawa polisi dan agar ia diijinkan tinggal bersama ayahnya. Ia ingin hidup bersama ayahnya dan merindukan ayahnya.

Sang Tae bermimpi ia berada di tengah hutan ketika ia masih seorang pemuda. Hutna itu sangat gelap. Lalu tiba-tiba ia melarikan diri ketakutan karena dikejar banyak kupu-kupu. Dalam mimpinya itu kupu-kupu yang sangat banyak menyerbunya.

Ia terbangun sambil berteriak ketakutan. Kupu-kupu!! Kupu-kupu itu akan membunuhku!! Kupu-kupu akan membunuhku! 

Jae Su yang terbangun menghela nafas panjang. Kupu-kupu itu telah kembali. Kang Tae sedih melihat kakaknya. Inilah tanda yang dimaksud Jae Su...Tanda bagi mereka untuk pindah.

Keesokan harinya Kang Tae pergi ke kantor penerbitan buku Mun Yeong. Mun Yeong juga baru tiba di kantor. Semua orang langsung sibuk membereskan meja mereka begitu tahu Mun Yeong datang. Lebih tepatnya, menyembunyikan semua benda tajam. Mun Yeong tapi bisa melihat sebilah pedang mini (sepertinya alat pembuka surat) yang ada di meja salah satu staf. Ia mengambil miniatur pedang tersebut. Jadi ia terobsesi benda tajam?

Mun Yeong melihat Kang Tae sedang menunggu di ruang rapat sambil membaca bukunya. Ia terlihat senang dan langsung menemuinya.

Ia berkata tadinya ia kira Kang Tae berbeda dengan yang lainnya, tapi ternyata ia salah. Ia bertanya berapa banyak yang ditawarkan pada Kang Tae. Kang Tae berkata ia tidak mengerti maksud perkataan Min Yeong. Mun Yeong bertanya berapa banyak yang ditawarkan Direktur Lee untuk menutup mulut Kang Tae atas insiden pisau kemarin. Metode uang selalu berhasil, kata-kata tidak ada artinya.

“Tidak berlaku untukku,” kata Kang Tae.

Lalu apa yang diinginkan Kang Tae kalau bukan uang. Seks?

“Apa itu lebih berharga dari uang?” Kang Tae balas bertanya.

Ia berkata ia berharap bisa bertemu dengan Mun Yeong lagi.

“Aku ingin melihat kedua matamu lagi. Matamu mengingatkanku pada seseorang yang pernah kukenal. Seseorang yang kacau dan tidak punya hati nurani. Seorang wanita yang matanya tidak memiliki kehangatan.”

“Apa kau takut pada wanita itu?” tanya Mun Yeong.

“Tidak. Sebaliknya, aku menyukainya.”

Komentar:

Walah akhirnya aku malah buat sinop lengkap hahaha...soalnya susah komentar kalau tidak menulis alur cerita dengan lengkap. Banyak hal yang terlewat dibicarakan. Kalau ditulis, lebih terlihat apa saja yang menarik untuk dibahas^^

Oke pertama, aku suka banget dengan directing dan efek-efek visualnya. Jadi berasa ada efek-efek dongeng gitu waktu Kang Tae dan Mun Yeong menceritakan dongeng itu. Kesan misterius sekaligus indah, terkadang ada humornya seperti adegan muntah seorang pasien digambarkan dengan air terjun dan lain-lain.

Kisah animasi di awal sepertinya menceritakan Kang Tae dan Mun Yeong pernah bertemu waktu mereka masih kecil. Bayangan hitam yang menyertai Mun Yeong adalah ibunya? Atau didikan ibunya? Bagaimana bisa seorang ibu mencap anaknya sebagai monter? Apa karena perilaku Mun Yeong? Mungkinkan Mun Yeong tidak berhati nurani sejak dilahirkan seperti yang dikatakan Sang Tae? Karena itu jugakah ayahnya sampai hendak membunuhnya?

Tapi kalau disebut tidak berhati nurani, untuk apa ia ikut campur pada masalah Go Eun sampai ia hampir mati? Meski terkesan tidak berperasaan dan kata-katanya sembarangan, tapi apa yang dikatakannya benar. Ia juga membalut tangan Kang Tae yang terluka karena pisaunya. Ia juga akhirnya menandatangani surat persetujuan operasi ayahnya. Meski ia terkesan tidak peduli tapi lebih karena ia tahu rumah sakit tidak akan membiarkan ayahnya begitu saja. Ia tahu ayahnya dalam penanganan yang baik. Sepertinya sulit untuk mengerti Mun Yeong hanya dari 1 episode saja ;p

Penyebab Sang Tae dan Kang Tae berpindah-pindah adalah karena pada musim tertentu, Sang Tae akan bermimpi mengenai kupu-kupu dan mereka akan pindah. Pindah untuk mencari daerah yang beda cuacanya? Mencari suasana baru untuk Sang Tae? Sampai kapan mereka akan terus berpindah? Dalam 10 tahun saja sudah 15 rumah sakit...wow...pasti melelahkan secara fisik dan mental bagi Kang Tae.

Ju Ri dan Mun Yeong juga pernah bertemu waktu kecil. Mereka pernah bersekolah di sekolah yang sama dan kalau Mun Yeong sampai tahu rasa masakan ibu Ju Ri, apakah mereka pernah berteman? Dan pasti berakhir tidak begitu baik karena Ju Ri terlihat tegang dan sedikit takut pada Mun Yeong....juga ada kekesalan?

Bagaimanapun aku suka drama ini...melihat Seo Ye Ji dan Kim Soo Hyun berpandangan saja udah ikut happy hahaha XD

 




8 komentar:

  1. Ciiieeeee yg akhirnya nulis lagi hahaha...demi siapa cobak? Dan 1 eps jadinya berapa hari hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. ciieeeee.. nulis lagii.. horeee..

      ayo put.. jangan mau kalah.. nulis lagi aja.. yang sering ada di status itu lohh :D

      Hapus
    2. Mksdnya tulisan kerecehanku di dunia nyata....aduuhh jgn...kita jaim lah disini hahhaha...

      Hapus
    3. Ayo mb dee mb put nulis lagi 😊

      Hapus
  2. Seperti mimpi saya bisa membaca sinopsis Mba Fanny lagii .. ����

    BalasHapus
  3. Senangnya...
    Akhirnya mb fanny nulis lg . Berharap mb Dee Kutudrama, mb Hazuki Airyn clover blossom, mb Mumu berbagi jg bs kembali menulis. Kalian semua blogger idola sy sejak 2010an.

    BalasHapus
  4. asyiiiik dikunjungi para tetangga

    BalasHapus
  5. Terima kasih banyak mb fanny.. udah lamaa ga baca sinop, tp demi siapaaa coba kita bertemu disini 😄😄😄 babang uyun laaahhh

    BalasHapus

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)