Kamis, 26 Mei 2016

Sinopsis Mirror of The Witch Episode 3


Setelah mendengar tentang mimpi Putera Mahkota,  Hong Joo menggunakan sihir hitamnya untuk mengirim roh-roh mencaritahu keberadaan Sang Puteri.

Roh-roh itu melayang-layang menuju rumah Yeon Hee. Yeon Hee sepertinya bisa merasakan kedatangan roh-roh itu. Ia menutup pintu rumahnya rapat-rapat dan menggemboknya, lalu bersembunyi di balik selimut dengan ketakutan.

Tak lama kemudian pintu rumahnya bergerak-gerak seakan banyak yang hendak mendobrak dari luar. Terdengar bisikan membujuknya untuk keluar.

“Nak, keluarlah….keluarlah….”

Yeon Hee menutupi telinga dengan tangannya dan berkata pada dirinya sendiri berulang-ulang kalau ia tidak takut. Melihat reaksinya, ini bukan pertama kalinya ia mengalami hal seperti ini.


Poong Yeon telah ditunggu ayahnya ketika ia pulang. Hyun Seo bertanya apakah Poong Yeon menemui Yeon Hee lagi. Poong Yeon mengiyakan.

Hyun Seo marah karena Poong Yeon melanggar perintahnya. Tapi Poong Yeon berkata kenapa ia tidak boleh. Mereka sama sekali bukan saudara. Ia menanyakan semua hal yang disimpannya selama ini.

“Kenapa aku tidak boleh menemui Yeon Hee? Kenapa dia harus tinggal di tempat itu? Katakan padaku, kenapa aku tidak boleh?”

Hyun Seo berkata ia hanya tidak ingin kehilangan mereka berdua. Apa artinya itu, tanya Poong Yeon. Sayangnya, Hyun Seo tidak mau menjelaskan pada anaknya dan berkata pokoknya Ponng Yeon tidak boleh bersama dengan Yeon Hee.

“Ayah selalu seperti ini,” kata Poong Yeon marah. “Ayah tidak pernah mengatakan alasannya kenapa tidak boleh. Jika aku bisa menghentikan diriku sendiri, aku tidak akan melakukannya. Aku tidak bisa berhenti sekarang.”

Poong Yeon pergi dengan kesal diikuti oleh ibunya.



Ibu Heo Ok, Nyonya Sohn, bercerita pada pelayannya kalau ia menemui seorang shaman dan shaman itu mengatakan kalau Jun memiliki takdir yang bisa mengalahkan Heo Ok.

“Tapi bagaimana bisa aku percaya perkataan seorang shaman? Aku hanya bersenang-senang ke sana, bukan begitu?”

Si pelayan, yang adalah ibu Heo Jun, cepat-cepat membenarkan perkataan majikannya. Ia berkata Jun tidak akan mampu mengalahkan Heo Ok.

Nyonya Sohn berkata ia mendengar Jun berkeliaran melakukan hal-hal aneh. Kabarnya ia melakukan apapun demi uang dan ia khawatir Jun melakukan itu untuk mempermalukan nama keluarga Heo.

Ibu Jun meminta maaf, ia berkata ia akan menegur Jun dengan keras. Tapi itu tidak cukup untuk Nyonya Sohn. Ia menyuruh ibu Jun menghentikan apapun yang dilakukan Jun.

Ayah Heo Jun sudah meninggal, jadi Nyonya Sohn yang mengepalai keluarga itu. 
Sementara ibu Heo Jun hanya seorang budak yang masa itu dipandang sangat rendah. Budak dianggap milik majikannya. Jun pernah mencoba mengikuti ujian pejabat untuk mengeluarkan dirinya dan ibunya dari status sosial mereka, tapi Nyonya Sohn tidak akan membiarkan itu terjadi.

Nyonya Sohn melarang Heo Jun menyamakan dirinya dengan Heo Ok. Ibu Heo Jun berkata ia akan memastikan itu tidak terjadi. Nyonya Sohn tampak sangat membenci ibu Heo Jun dan ia iri dengan kecantikan ibu Heo Jun.



Khawatir dengan perkataan majikannya, ibu Heo Jun menunggu di dekat pintu. Tapi Jun tidak pulang juga. Ketika Heo Ok pulang dalam keadaan mabuk, ia menanyakan tentang Jun. Heo Ok berkata Jun akan segera pulang dan menyuruh ibu Jun masuk dan tidur karena cuaca sangat dingin.

Di mana Jun? Ia jatuh pingsan setelah jatuh dari tebing. Tangannya masih memegang erat benang layang-layang Yeon Hee.



Yeon Hee masih meringkuk ketakutan ketika tiba-tiba ia mendengar suara orang mengaduh. Pelan-pelan ia memberanikan diri membuka pintu dan berjalan keluar. Ia melihat sesuatu.

Ternyata itu Heo Jun yang berhasil kembali dengan tubuh penuh luka. Yeon Hee mengobatinya sambil mengomelinya. Ia berkata layang-layang itu tidak sepadan untuk menempuh bahaya seperti itu.

“Kau bilang layang-layang ini penting,” ujar Heo Jun.

Yeon Hee berkata yang terpenting adalah nyawa manusia. Dan lagi kalau Heo Jun hendak mengembalikannya, seharusnya dalam keadaan bagus, bukan sobek-sobek seperti itu.

Heo Jun jadi kesal. Tapi diam-diam ia tersenyum melihat Yeon Hee dengan serius dan lembut mengobati luka-lukanya. Ia cepat-cepat memalingkan wajahnya ketika Yeon Hee melihatnya.



Setelah diobati, Jun bersiap untuk pulang karena tidak ingin ibunya khawatir. Yeon Hee berkata akan sangat berbahaya pulang malam-malam begini karena sangat gelap. Sebaiknya Jun pulang besok pagi.

“Apa? Kau menyuruhku menginap di sini? Kau itu seharusnya sedikit memiliki rasa takut pada pria,” omel Jun.

“Kalau kau pergi, pergilah. Tidak masalah untukku,” kata Yeon Hee cuek.

Jun berjalan pergi. Tapi ia mulai ragu. 

“Kenapa? Kau tidak pergi?” sindir Yeon Hee. “Ayo sana cepat pergi.”

“Iya, aku pergi,” ujar Jun. Tapi baru 2 langkah, ia mulai ketakutan mendengar suara raungan dan auman binatang buas di kegelapan malam.

Ia berjalan kembali ke rumah dan berkata ia merasa tidak enak hati meninggalkan Yeon Hee sendirian di tempat berbahaya. Jadi ia akan membantu Yeon Hee dengan menginap malam ini.



Jun tidur di teras rumah dengan alas tidur dan selimut pemberian Yeon Hee. Sementara Yeon Hee tidur di dalam. Jun kesulitan untuk tidur.

“Apa kau sudah tidur?” tanyanya.

Yeon Hee belum tidur. Jun bertanya apakah namanya Yeon Hee. Ia dengar dari ayah Yeon Hee yang memanggilnya tadi sore.

Ia bertanya kenapa ayah Yeon Hee menempatkan Yeon Hee di tempat yang berbahaya seperti ini.

“Apakah kau juga terlahir dalam keluarga di mana kau tak seharusnya dilahirkan?” tanyanya. “Terlahir di tempat di mana keberadaanmu menjadi beban dan masalah bagi yang lain. Itukah sebabnya ayahmu menyembunyikan di tempat terpencil seperti ini?”

“Tidak ada orang yang seharusnya tidak dilahirkan,” jawab Yeon Hee. “Kakakku yang mengatakannya padaku.  Tidak peduli siapapun, miskin atau kaya, sakit atau sehat, semua orang dilahirkan dengan tujuan untuk membantu dunia ini apapun caranya. Dan mencari tahu peranmu dalam dunia ini adalah tujuanmu dalam  hidup ini.”

Jun terdiam merenungkan kata-kata Yeon Hee.



“Jadi jangan sedih,” kata Yeon Hee. “Aku yakin pasti ada alasan mengapa kau juga dilahirkan.”

Heo Jun berkilah ia merasa sedih. Ia tidak pernah merasa sedih. Ya sudah kalau tidak, ujar Yeon Hee cuek.

Jun mewanti-wanti Yeon Hee agar tidak membiarkan orang sembarangan menginap seperti dirinya. Yeon Hee harus bersyukur ia orang baik-baik.

“Orang baik-baik yang menyusup ke rumah orang dan mencuri layang-layangku?” sembur Yeon Hee.

Bukan begitu, kata Jun. Yeon Hee menyuruh Jun tidur saja. Ia tersenyum karena setidaknya malam ini ia tidak sendirian. Sementara Jun tersenyum memikirkan perkataan Yeon Hee tadi. Bahwa pasti ada alasan ia dilahirkan. Keduanya pun tertidur.



Dua tulisan pada kertas jimat besar di depan rumah Yeon Hee berubah menjadi sepasang serigala. Mereka melindungi rumah Yeon Hee dari serangan roh-roh jahat. Roh-roh jahat itu tidak bisa mendekat dan pergi.

Pagi-pagi sekali Hyun Seo dan para anak buahnya pergi menuju kuil Chungbing untuk mencari buku Sihir Kutukan atau Mauigeumseo.

Hari ini adalah hari ulang tahun Yeon Hee yang ke-17. Jika kutukannya mulai aktif hari ini maka kutukan kematian akan dimulai. Ini adalah cara terakhir untuk bisa bertahan hidup.




Heo Ok seperti biasa bersenang-senang bersama teman-temannya di rumah gisaeng. Tiba-tiba semua orang terdiam saat melihat Jun datang membawakan layang-layang itu meski dengan tubuh penuh luka. Ia berkata ia membawakan layang-layang itu sesuai janji.

Yeon Hee yang meminjamkan layang-layang itu. Ia tidak tahu untuk apa layang-layang itu, tapi ia meminjamkannya dan Jun harus mengembalikannya. Err…modus supaya Jun balik lagi? ;p

Jun menagih janji Heo Ok. Heo Ok yang mabuk menyuruh teman-temannya bertepuk tangan. Ia memuji Jun memang hebat.

“Karena aku sudah berjanji, aku harus menepatinya. Tapi bagaimana ini, aku kehabisan uang,” oloknya. Ia melemparkan beberapa keping uang ke arah Jun.

Ia berkata ia akan memberikan sisanya nanti di rumah. Jun berusaha menahan diri atas perilaku kakaknya. Heo Ok bertanya mengapa Jun tidak memungut uang-uang itu. Apa Jun takut ia tidak membayar sisanya?

Jun akhirnya berjongkok dan mulai memungut uang-uang itu diiringi tawa penuh penghinaan Heo Ok dan teman-temannya.



“Benar, jangan lewatkan satupun juga. Dengan begitu kau bisa menebus ibumu dan membebaskannya,” kata Heo Ok.

Heo Jun tertegun.

Heo Ok berkata memangnya Jun pikir ia tidak akan tahu. Ia tahu alasan Jun begitu menghemat dan mencari uang adalah untuk menebus ibunya dari status budak.  Ia menyuruh teman-temannya juga memberi Jun uang. Mereka melempar uang-uang mereka ke arah Jun.

Jun menelan semua penghinaan itu dan berusaha menahan diri.

Heo Ok menyodorkan minuman dan menyuruh Jun meminumnya.  Ia bertanya bagaimana cara Jun mendapatkan layang-layang itu. Ia dengar rumor ada hantu cantik di Hutan Hitam. Apakah Jun menjual tubuhnya semalaman demi layang-layang itu, sama seperti ibunya menjual diri demi mendapatkan Jun?

“Tapi aku tidak berencana menyerahkan kontrak budak ibumu. Hingga ke liang kubur, ibumu akan menjilat kakiku,” bisik Heo Ok.

Jun tak tahan lagi. Ia memukuli Heo Ok bertubi-tubi. Heo Ok terjatuh ke dalam kolam.
“Ibu!!!” teriaknya.



Jun pulang. Ibunya sudah menunggu dengan khawatir dan bertanya ke mana saja Jun semalaman. Ia mengkhawatirkan keadaan Jun yang penuh luka dan bertanya apa yang dilakukan Jun.

Heo Ok pulang sambil berteriak-teriak marah. Ibu Jun terkejut melihat Heo Ok basah kuyup dan babak belur dan bertanya apa yang terjadi.

“Tanya dia! Tanya dia!” Ok menunjuk Jun yang berdiri mematung di halaman.
Nyonya Sohn keluar dan terkejut mendapati putera kesayangannya terluka. Ibu Jun menunduk ketakutan.



Nyonya Sohn marah dan menghampiri Jun.

Plakk!! Ibu Jun menampar Jun. Bahkan Nyonya Sohn pun terkejut.

Jun menatap ibunya dengan sedih dan tak percaya. Ibunya memarahinya dan menyuruhnya miinta maaf. Tapi Jun terlalu shock dan sakit hati.

“Aku tidak mau. Ibu, aku tidak melakukan kesalahan…jadi aku tidak perlu meminta maaf,” katanya menahan tangis. Lalu ia pergi.



Nyonya Sohn mengobati luka Heo OK sambil mengomel karena ibu Jun sudah ikut campur dengan memarahi Jun. Lalu ia memarahi Heo Ok yang sudah bermabuk-mabukkan di siang bolong. Ini sebabnya Jun selalu mengalahkan Heo Ok.

Heo Ok berkata ia benar-benar benci pada Jun. Jun akan menusuk mereka dari belakang. Ia berkata Jun sedang mengumpulkan uang untuk membebaskan ibunya dari status budak. 

Jika itu terjadi, Jun mungkin sedang merencanakan sesuatu karena Jun seorang yang pintar. Maksud Heo Ok adalah Jun akan berusaha mengambil alih kekayaan keluarga Heo Ok.

Nyonya Sohn menyuruh puteranya fokus saja pada pelajarannya dan tidak ikut campur. Ia yang akan mengurusnya.

Di luar terdengar suara ibu Heo Jun meminta maaf atas kejadian hari ini. Ia berkata ini salahnya karena tidak mendidik Jun dengan benar. Nyonya Sohn berkata ibu Heo Jun harus dihukum karena sudah melakukan kesalahan. Ia memerintahkan agar ibu Jun dihukum cambuk.



Jun sama sekali tidak tahu apa yang menimpa ibunya. Ia duduk menyendiri di desa. Dong Rae melihatnya namun tak berani mendekatinya karena ia masih merasa malu telah meninggalkan Jun di hutan. Jun berdiri dan berjalan melewatinya, membuat Dong Rae semakin merasa bersalah dan pergi dengan sedih.

“Hei, kau mau ke mana? Kita harus berjualan,” panggil Jun.

Dong Rae melepaskan kotak dagangannya dan menangis memeluk Jun. Ia sangat gembira Jun kembali dengan selamat. Ia terkejut melihat wajah Jun yang merah (bekas tamparan) dan bertanya ada apa. Jun hanya menghela nafas panjang.

Dong Rae berusaha menghibur sahabatnya dengan menunjukkan botol ramuan talas dan kurma yang sudah diisinya dua kali lipat. Pasti akan laku keras. Jun akhirnya tersenyum.



Hyun Seo dan anak buahnya tiba di kuil Chungbing. Mereka menemukan jalan masuk ke kuil itu adalah melalui sebuah gua. Gua itu sangat gelap dan dipenuhi sulur-sulur dan akar tanaman yang menggantung. Dengan kekuatan batinnya, Hyun Seo menyalakan sebuah lilin.

Tiba-tiba anak buah Hyun Seo yang buta berkata ia merasakan ada kehadiran sesuatu di dalam gua ini. Terdengar suara lengkingan yang sangat keras. Hyun Seo cepat-cepat menutup telinga dengan tangannya.

Tapi Yo Gwang dan teman-temannya berteriak-teriak ketakutan melihat tubuh mereka dipenuhi luka barah yang mendadak muncul. Juga ratusan ular berkeliaran di dekat kaki mereka.

“Jangan takut! Mereka cuma ilusi!” seru Hyun Seo.

Tapi mereka terlalu panik untuk bisa mendengar suara Hyun  Seo. Hyun Seo melihat seekor ular kobra di atas altar. Ia mengulurkan tangan untuk menangkap ular itu. Ular itu lenyap dan kembali berubah menjadi lilin. Dalam sekejap semua kembali normal.



Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri gua tersebut. Di dalam gua terdapat area yang lebih terang dan luas. Hyun Seo dan anak buahnya mencari  Mauigeumseo di sana.

Hyun Seo masuk ke dalam sebuah gua kecil. Dalam gua tersebut terdapat altar dengan banyak lilin di atasnya. Di balik belitan ranting, ia menemukan buku itu. Mauigeumseo.

Hyun Seo membuka buku tersebut dan membacanya. Dalam buku itu dikatakan kutukan bisa dipatahkan jika 108 lilin pada altar tersebut dinyalakan dan dipanjatkan doa. Hyun Seo mengulurkan tangannya untuk menyalakan lilin tapi lilin itu tidak menyala. Lilin itu bukan lilin biasa.

“Untuk menyalakan lilin-lilin ini, kita membutuhkanjiwa yang murni. Jika kita memanjatkan doa, kita harus menyalakan semua lilin dan mematahkan kutukan sebelum Bintang Utara (Polaris) menghilang. Jika kita tidak bisa mematahkan kutkan sebelum Bintang Utara menghilang, orang yang berusaha mematahkan kutukan akan mati.”

Yo Gwang berkata mereka masih memiliki waktu 5 hari sebelum Bintang Utara menghilang. Jika mereka menggabungkan kekuatan mereka, mereka bisa melindungi Yeon Hee. Karena itu artinya Yeon Hee harus keluar dari lingkaran jimat dan terancam ketahuan oleh Hong Joo.

Hyun Seo memohon bantuan mereka untuk melindungi Yeon Hee dan negeri ini. Mereka harus membawa Yeon Hee ke tempat ini sesegera mungkin.



Poong Yeon berjalan-jalan di desa. Ia melihat penduduk mulai mempersiapkan festival lentera untuk malam ini. Banyak pertunjukan dan kemeriahan di sana. Poong Yeon melihat para gadis desa ramai-ramai menonton pertunjukan boneka dengan gembira. Ia teringat pada Yeon Hee.

Ia membuka kertas berisi keinginan Yeon Hee dan membacanya.
“Aku berharap dapat melihat dunia luar sekali saja.”



Di rumahnya, Yeon Hee bisa mendengar suara alat musik riuh ditabuh dari kejauuhan, tanda festival akan segera dimulai. Ia duduk dan bersiap menerbangkan layang-layangnya. Layang-layang itu untuk mewakilinya melihat dunia luar.

Poong Yeon datang menemuinya. Ia mengajak Yeon Hee pergi ke desa.

“Jangan sendirian di rumah dan ikutlah denganku. Hari ini hari ulangtahunmu, hanya satu hari tiap tahunnya. Ayo kita pergi!”

Yeon Hee menarik tangannya. Ia berkata ia tidak bisa pergi. Jika ayah mereka tahu, ia akan sangat marah. Poong Yeon berkata ia akan mengurus masalah ayahnya jadi Yeon Hee tak perlu khawatir.

“Naikkan ini ke langit dengan tanganmu sendiri,” Poong Yeon menyerahkan lentera pada Yeon Hee, “Dengan begitu harapanmu akan terkabul. Kakakmu ada di sampingmu, apa yang harus kautakuti? Aku akan melindungimu.”

Yeon Hee masih ragu. Ia mundur ketika hendak melangkah keluar dari rangkaian jimat. Tapi Poong Yeon mengulurkan tangannya. Akhirnya Yeon Hee menerima uluran tangan kakaknya itu dan melangkah keluar.



Mereka berjalan-jalan di desa yang ramai. Baru kali ini Yeon Hee melihar orang sebanyak itu. Ini pengalaman yang sangat baru baginya. Ia melihat berbagai pertunjukan dan tertawa gembira. Poong Yeon tersenyum melihatnya.

Menjelang malam adalah waktu untuk menerbangkan lentera bersama penduduk desa yang lain. Malam itu terlihat sangat indah dihiasi oleh lentera-lentera yang melayang-layang.
Yeon Hee bertanya apa harapan kakaknya. Itu rahasia, kata Poong Yeon. Jika ia katakan, akan mendatangkan kesialan.

“Aku berharap kau memiliki kehidupan yang indah. Aku tidak ingin melihatmu kotornya dunia dan hanya mengalami hal yang baik dan indah. Ketika kau melihat kembali ke jalan yang telah kaulalui, kuharap jalan itu tetap harum dan manis,” kata Poong Yeon dalam hati.



Yeon Hee bertanya apakah ia mungkin dilahirkan padahal seharusnya ia tidak dilahirkan. Ia bertanya-tanya apakah itu sebabnya  ayahnya menyembunyikannya di dalam hutan.

“Tidak seperti itu. Aku juga tidak mengerti Ayah, tapi yang pasti apa yang Ayah lakukan adalah untuk kebaikanmu,” kata Poong Yeon.

Yeon Hee tersenyum sedikit. Ia berkata ada perasaan aneh dalam hatinya saat melihat pemandangan indah ini bersama Poong Yeon. Oo…apakah ia menyukai Poong Yeon?

“Ah, kurasa karena ini pertama kalinya aku melihat dunia luar,” katanya cepat-cepat.



Tiba giliran mereka untuk menyalakan lentera dan menerbangkannya. Yeon Hee tersenyum melihat lentera mereka mengembang. Namun Poong Yeon tidak melihat ketika tiba-tiba mata Yeon Hee berubah menjadi abu-abu. Ia sibuk menerbangkan lentera.

Ketika lentera mereka sudah melayang ke langit, Poong Yeon menoleh. Namun Yeon Hee tidak ada. Poong Yeon terkejut dan berteriak memanggil Yeon Hee.



Sementara itu di istana dilangsungkan pesta dan upacara ulang tahun Putera Mahkota yang ke-17. Hong Joo memimpin upacara tersebut.

Dong Rae dan Heo Jun mengendap-endap menuju belakang istana untuk berjualan ramuan mereka. Heo Jun sempat melihat upacara tersebut melalui pintu yang sedikit terbuka dan melihat Hong Joo.



Ia berhenti saat menyadari kepingan perisainya tidak ada. Ia tadinya hendak menjual kepingan tersebut. Maka ia memutuskan kembali ke tempat  ia berganti pakaian untuk mencarinya.

Ia tak berhasil menemukannya dan kembali masuk tapi tidak menutup pintu dengan rapat.
Tak lama Yeon Hee tiba di tempat itu. Ia tersadar lalu kebingungan kenapa ia berada di sini. Ia tidak tahu tempat apa itu dan dengan panik mencari-cari Poong Yeon.

Kertas jimat di luar rumah Yeon Hee tiba-tiba menghitam dan terbakar sendiri. Kilat menyambar-nyambar di langit yang tadinya cerah.

Hong Joo tiba-tiba jatuh dan memuntahkan darah. Ia bisa merasakan sesuatu dan cepat-cepat berlari ke arah Putera Mahkota. Tanda kutuk telah kembali ke belakang telinga Putera Mahkota. Hong Joo terkejut dan berjalan pergi.



Hyun Seo tiba di rumah Yeon Hee namun tidak menemukannya.

Hong Joo berjalan menyusuri halaman istana. Sepertinya ia merasakan keberadaan Yeon Hee. Yeon Hee kebingungan di tempat yang asing baginya itu.

Heo Jun menemukan kepingan perisainya dan memungutnya. Ia menoleh.

Hong Joo menoleh ke sana kemari. Tapi ia tidak menemukan apa yang dicarinya.



Fiuhh…Heo Jun yang lebih dulu menemukan Yeon Hee. Ia membawa Yeon Hee bersembunyi dan bertanya mengapa Yeon Hee ada di sini. Yeon Hee salah melihat Heo Jun sebagai Poong Yeon.

“Kakak,” ujarnya…lalu ia jatuh pingsan.

Seseorang menemukan mereka. Heo Jun melihat orang tersebut. Poong Yeon.


Anak buah Hyun Seo sudah menyusul ke rumah Yeon Hee. Hyun Seo berkata mereka tidak memiliki waktu lagi. Jimat telah rusak, artinya kutukan Yeon Hee akan segera aktif. Mereka harus menemukan Yeon Hee secepat mungkin.

Ia membagi mereka sebagian ke istana untuk mengawasi Hong Joo dan Putera Mahkota, sebagian lagi pergi ke desa untuk mencari Yeon Hee. Sementara ia sendiri akan mencari Poong Yeon.



Yeon Hee tersadar dari pingsannya. Ia hanya bersama Poong Yeon. Ia bertanya apa yang sudah terjadi padanya. Poong Yeon berkata sepertinya Yeon Hee pingsan karena kehujanan. Ia menegur Yeon Hee karena sudah pergi sendirian dan membuatnya khawatir.

Yeon Hee meminta maaf. Poong Yeon berkata Yeon Hee tidak salah, ia yang salah. Seharusnya ia tidak melepaskan pandangannya dari Yeon Hee sedikit pun. Ia meminta maaf.

Poong Yeon memberikan sebuah lonceng kecil pada Yeon Hee. Ia berkata jika Yeon Hee tersesat lagi seperti hari ini, Yeon Hee hanya perlu mendengar suara lonceng untuk menemukannya. Dan ia sendiri akan mencari Yeon Hee melalui suara itu. Yeon Hee berkata ia akan melakukannya.



Hyun Seo pulang dan mendapati puteranya belum kembali. Istrinya juga menanti dengan cemas. Yo Gwang tiba dan melaporkan kalau mereka tidak berhasil menemukan Yeon Hee.

“Tuan, jika kutukan Yeon Hee berjalan saat ada orang di sekitarnya….” Kata Yo Gwang khawatir. Hyun Seo juga nampak khawatir.



Poong Yeon mengantar Yeon Hee pulang. Tiba-tiba Yeon Hee berhenti berjalan dan terlihat sedih.  Kenapa, tanya Poong Yeon. Apa Yeon Hee tidak ingin pulang? Yeon Hee berkata ia tahu jalan pulang jadi ia akan pulang sendiri. Mereka bisa berpisah di sini.
Poong Yeon terdiam lalu ia menyuruh Yeon Hee menunggu. Ia memetik serumpun bunga dan menyerahkannya pada Yeon Hee.

Yeon Hee tak tahan lagi dan mulai menangis. Ia meminta maaf. Ia tidak mengerti mengapa pergl keluar seperti ini bisa membuatnya emosional. Ia berusaha tersenyum dan meminta kakaknya tidak khawatir.

Poong Yeon berkata ia akan membuatkan layang-layang lagi untuk Yeon Hee saat ia datang nanti. Layang-layang yang bisa terbang lebih tinggi. Hingga saat itu tiba, Yeon Hee harus tetap sehat dan cantik. Yeon Hee mengangguk. Mereka pun berjalan pulang.



Hyun Seo makin cemas karena Poong Yeon belum pulang juga. Mereka hendak pergi mencari lagi tapi tiba-tiba Poong Yeon pulang.

Ibunya langsung memeriksanya dan memarahinya. Poong Yeon heran melihat sikap ibunya. Ia melihat ayahnya berjalan mendekatinya. Ia sudah siap dimarahi.

Tapi Hyun Seo malah dengan lembut dan cemas bertanya apakah Poong Yeon baik-baik saja hingga Poong Yeon sempat heran.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Hyun Seo lagi. Ia bertanya di mana Yeon Hee. Poong Yeon berkata Yeon Hee sudah pulang.

Ia hendak mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba jatuh pingsan. Hyun Seo cepat-cepat melihat ke belakang telinga Poong Yeon. Tanda kutuk itu ada di sana.



Sementara itu roh-roh jahat kembali hendak memasuki rumah Yeon Hee. Yeon Hee bersembunyi ketakutan di balik selimut di sudut rumah sambil terus memegangi bel pemberian Poong Yeon.

Serigala dari kedua kertas jimat kembali muncul. Tapi karena kertas itu sudah rusak, kekuatan mereka melemah. Mereka kalah dari roh-roh itu dan menghilang.

Seluruh rangkaian jimat yang mengelilingi rumah Yeon Hee terbakar dengan sendirinya. Roh-roh itu dengan bebas masuk ke dalam rumah melalui celah pintu.



Yeon Hee terpaku ketakutan melihat gumpalan asap hitam itu. Asap hitam itu masuk dalam tubuh Yeon Hee.

Yeon Hee kesulitan bernafas seperti tercekik. Seluruh tubuhnya bergerak. Ia seakan ditarik kekuatan tak terlihat. Yeon Hee berusaha bertahan menggapai lemari hingga kuku tangannya patah.

Sama seperti Hae Ran, ia terangkat melayang ke udara. Ia terus meronta hingga akhirnya tubuhnya lemas. Tanda di belakang telinganya berkilai. Seluruh rambutnya pelan-pelan berubah menjadi putih.



Di istana, kejadian yang sama menimpa Putera Mahkota. Putera Mahkota terangkat melayang ke udara. Ia berteriak-teriak dan rambutnya memutih. Ibu Suri dan Ratu ngeri melihatnya.

Hong Joo masuk dan terpana melihat keadaan Pangeran. Pangeran terus meronta hingga akhirnya tubuhnya lemas dan jatuh ke lantai.


Komentar:

Duh gemes deh Hyun Seo kenapa tidak memberitahu Poong Yeon mengenai keadaan Yeon Hee. Tidak perlu detil hingga identitas Yeon Hee diungkapkan tapi cukup alasan kenapa Yeon Hee harus tinggal di rumah itu.

Poong Yeon juga. Dia kan anak pendeta Tao. Masa ia tidak tahu apa kegunaan kertas jimat yang dipasang ayahnya di luar rumah Yeon Hee? Gemes rasanya hahaha XD Tapi kalau tidak terjadi seperti ini dramanya bisa-bisa tamat di episode ke-5 hahaha^^

Ada perasaan senang sih melihat Yeon Hee akhirnya bisa melihat dunia luar. Tapi Poong Yeon juga tampaknya mulai menyesali keputusannya membawa Yeon Hee karena itu malah membuat Yeon Hee semakin sedih. Setelah mengetahui dunia luar seperti apa, pastilah lebih sulit bagi Yeon Hee untuk tinggal sendirian di rumah terpencil.

Ada ironi dari harapan Poong Yeon untuk Yeon Hee. Ia berharap kehidupan Yeon Hee selalu indah dan tidak mengenal kotornya dunia luar. Tapi justru dengan mengabulkan harapan Yeon Hee untuk melihat dunia luar sekali saja, Poong Yeon sudah membuat harapannya sendiri tak terkabul.

Sekarang setelah kutukan Yeon Hee aktif, apakah peraturan dalam buku Mauigeumseo masih berlaku? Jika dalam 5 hari Yeon Hee bisa ke kuil Chungbing dan menyalakan lilin serta berdoa di sana, apakah kutukan itu bisa dipatahkan?

Dan sekarang Poong Yeon juga terkena kutukan. Apakah itu artinya Poong Yeon akan mati karena ia menyayangi Yeon Hee? Apa hanya orang yang berada di dekat Yeon Hee yang akan terkena kutukan, ataukah semua orang yang menyayangi Yeon Hee seperti yang dikatakan Hae Ran? Jika begitu Hyun Seo akan terkena jugakah?

Dan sekarang Hong Joo pasti sudah menyadari kalau Yeon Hee masih hidup. Ia tidak akan diam saja dan akan berusaha membunuh Yeon Hee dengan segala cara. Jadi tegang nih >,<

7 komentar:

  1. Semangat kakkkkk... nulis sampai final ya... makasi ^_^

    BalasHapus
  2. semangat ya fan,ditunggu kelanjutannya,semangat

    BalasHapus
  3. keren drama nya..saking serius nya smp terbawa ke dalam ceritanya tegang bgt. feel nya dpt seruh..di tunggu eps selanjt nya

    BalasHapus
  4. semangat mb fanny...ternyata ni drama recommended jg. kirain bakal membosankan tp udh tegang dari episode pertama. Pokoknya semoga mb fanny selalu diberi kesehatan utk ngerecap drama ini sampe tamat :)
    Makasih mbak

    BalasHapus
  5. Mksih mba,, tetep ditunggu lanjutannya
    ..

    BalasHapus
  6. Kyaa Yoon Shiyoon kambek mbak Fan juga kambek.. Seneng rasanya^^

    sinop nya ngebantu bgt mbak, ada bbrp adegan yg aku agak kurang ngeh sama sub nya tp semua jd clear krn baca tulisan mbak Fan ��

    hwaiting mbak!

    BalasHapus
  7. karena drama ini bikin saya inget sama dongeng dan sihir-sihiran ala film jadul, jadi kurang sreg wkwk nggak biasa gitu ngeliatnya di drama korea
    ohya, itu tak gu ketemu sama ibunya ya? LOL jun mi sun ahjumma di sini juga reuni ma yoon (baca: jun)
    jadi inget dulu waktu baker king, yoon sama ahjumma nggak begitu sweet di balik layar, padahal penontonnya bisa mewek ngeliat yoon sama eommanya...
    di drama ini malah nggak sweet beneran hahaha jadi pingin nyari bts
    saya suka jun sama dong rae, tp dong rae lagi sakit ya (atau udah sembuh?) jadi sedih :(
    pm sunhoe meninggal di usia berapa mbak? 17 tahun sudah terlewati...
    btw saya kok nggak papa ya yeon hee nggak suka jun, karena katanya yang suka yeon hee bakal mati bukan? kalo nyatanya sih jun belum mati :D
    hyun seo matinya nanti aja deh mbak, yang punya kekuatan buat ngelindungin negri dan yeon hee kan dia, boleh ga ya? :P

    BalasHapus

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)