Sabtu, 21 Mei 2016

Sinopsis Mirror of The Witch Episode 1


Pada suatu masa Joseon, energi matahari dikatakan melemah. Awan tebal menutupi matahari, membawa kekeringan dan wabah. Rakyat menderita dan keluarga kerajaan hampir kehilangan kemuliaan mereka.

Untuk itu pendeta Tao istana, Choi Hyun Seo (Lee Sung Jae), memanjatkan doa pada langit. Memohon pada dewa-dewa untuk mengirimkan matahari aga membuat negeri damai dan sejahtera.


Ratu In Sun (Jang Hee Jin) memanggil Hyun Seo ke kediamannya karena ia bermimpi aneh. Ia bermimpi burung Vermiliion (makhluk mitos) hitam datang ke rahimnya semalam. Itu mimpi tentang kehamilan, bukan? Tanya Ratu penuh harap.

Tapi Hyun Seo tampak waspada mendengar mimpi tersebut. Ratu berkata burung itu sangat besar hingga menutupi langit. Begitu burung itu lewat, langit yang terang benderang langsuung menjadi gelap. Melihat ekspresi Hyun Seo, Ratu bertanya ada apa. Tapi Hyun Seo tidak mengatakan apapun.


Memang Ratu sampai sekarang belum berhasil hamil. Dan itu menjadi bahan gunjingan di istana. Termasuk di divisi shamanisme. Divisi shaman iri karena Ibu Suri menganakemaskan divisi ritual (Tao) yang dipimpin Hyun Seo. Akibatnya divisi shaman sering diabaikan.

Seorang shaman muda bernama Hae Ran (Jung In Sun) tiba-tiba berdiri dan melihat ke langit. Sepertinya ini bukan pertama kalinya karena teman-temannya langsung menghentikan kegiatan mereka dan melihat Hae Ran dengan penuh rasa ingin tahu.


Ibu Suri menegur Raja dan Ratu karena telah lebih dari lima tahun mereka menikah, mereka belum juga dikaruniai keturunan. Ia bahkan bertanya-tanya mengenai jadwal tidur bersama Raja dan Ratu. Memastikan ke mana mereka harus menghadap dan posisi apa yang harus mereka lakukan.

Raja nampak tertekan tapi ia tidak mengatakan apapun…sampai pada Ibu Suri berkata akan melihat sendiri Raja dan Ratu pada malam mereka tidur bersama. Bukan hanya dirinya dan para kasim, para tabib istana pun akan diharuskan hadir. Ia harus melihat sendiri apa masalahnya.

Raja meminta Ibu Suri menghentikan ini. Karena Ibu Suri bersikap seperti ini maka orang-orang mengatainya sebagai raja boneka. Sebenarnya siapa Raja di negeri ini?


Ibu Suri marah dan mengingatkan apa yang sudah dilakukannya dan penderitaan apa yang harus ditanggungnya demi membuat Raja duduk di atas tahta. Raja berkata semua itu bukan untuknya tapi untuk Ibu Suri sendiri. Raja pergi dengan kesal. Ratu yang tak berani mengatakan apapun sejak tadi, cepat-cepat menyusul suaminya.

Ibu Suri memerintahkan kasim memanggil Shaman Hong Joo. Kasim tersentak kaget tapi ia melakukan perintah Ibu Suri. Ia pergi ke hutan tempat shaman Hong Joo tinggal.


Meski di depan Ibu Suri, Raja berkata demikian, Raja tidak bisa menolak ketika dalam rapat istana Ibu Suri ikut campur. Bahkan ketika Ibu Suri membuat keputusan sendiri, Raja terpaksa menurutinya.

Saat berlangsung rapat, tiba-tiba pintu dibuka dan seorang wanita masuk.  Para menteri menegurnya. Tapi Ibu Suri keluar dari tempatnya dan menyambut wanita itu. Ia berkata ia yang memanggil wanita tersebut. Shaman Hong Joo (Yeom Jung Ah).


Ibu Suri menyambut kedatangan Shaman Hong Joo dengan hangat. Jelas Hong Joo pernah menjadi shaman istana. Ia sudah tahu kenapa ia dipanggi. Ia meminta Ibu Suri tidak khawatir karena ia akan memastikan Ibu Suri menimang Putera Mahkota. Ibu Suri senang mendengarnya.


Hong Joo menemui Ratu dan memperkenalkan diri sebagai Kepala divisi shaman yang baru. Ia meminta Ratu memerintahkan agar para dayang keluar dari ruangan. Itu adalah perintah Ibu Suri. Ratu menurutinya.

Hong Joo langsung memberi isyarat pada anak buahnya. Anak buahnya memegangi Ratu dan melucuti pakaiannya hingga tersisa pakaian dalam. Hong Joo menempel secarik kertas jimat ke perut Ratu. Kemudian anak buah Hong Joo memecut Ratu.  Ratu sangat terkejut dan marah.


Tapi Hong Joo berkata itu perintah Ibu Suri dan ia sedang mengeluarkan roh jahat yang menempel pada tubuh Ratu.  Bukankah Ratu harus segera hamil Putera Mahkota untuk menjadi ratu sejati?

Mendengar itu Ratu mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Membiarkan tubuhnya dipecut hingga penuh luka dan akhirnya ia jatuh lemas hampir pingsan. Hong Joo melihat kertas jimat yang tertempel di perut Ratu seperti terbakar sebagian. Ia tersenyum.


Hong Joo melapor pada Ibu Suri kalau Ratu tidak mungkin mengandung. Ratu tidak bisa memiliki anak (mandul). Ibu Suri terkejut. Tapi Hong Joo berkata ada cara lain. Ibu Suri bingung, cara apa? Ia terpikir sesuatu dan menatap Hong Joo dengan takut.

Hong Joo berkata tidak ada cara lain. Ibu Suri berkata jika terjadi kesalahan, Hong Joo tidak tahu apakah suatu hal buruk akan terjadi lagi. Lagi?

Hong Joo berkata yang terpenting adalah memiliki Putera Mahkota. Tapi semuanya ia serahkan pada Ibu Suri. Ia hanya mengikuti sesuai perintah. Ibu Suri memikirkan hal itu. 

Akhirnya ia setuju. Memiliki Putera Mahkota adalah yang terpenting saat ini dan Ratu yang harus mengandung Putera Mahkota.


Hae Ran bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Iaterbangun dan segera berlari keluar.

Hyun Seo berpapasan dengan Hon Joo. Hong Joo menyapanya. Hyun Seo bertanya bagaimana bisa Hong Joo kembali ke istana. Apa karena Ibu Suri memanggilnya lagi?

Hong Joo berkata Hyun Seo setiap hari mengadakan ritual tapi Ratu belum juga mengandung, jadi Ibu Suri tidak senang. Karena itu ia datang. Hyun Seo berkata ada hal-hal yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh langit.

Hong Joo membenarkan, Ratu mandul. Hyun Seo menyuruhnya memelankan suara agar tidak terdengar orang lain. Hong Joo berkata bukannya tidak ada cara.  Ia akan melakukan apa yang tidak bisa dilakukan langit.



Hyun Seo terkejut menyadari apa yang dilakukan Hong Joo. Ia mengingatkan bahwa akibat kejadian 5 tahun lalu belum pergi dari negeri ini dan sekarang Hong Joo hendak melakukan hal mengerikan lagi di istana.

Hong Joo berkata ia dan Hyun Seo sama-sama berdoa untuk negeri ini. Hyun Seo marah. Mereka tidak sama. Ia berdoa pada langit sementara Hong Joo melayani roh-roh.

“Itukah sebabnya kau berdoa pada langit yang tidak menjawab satu kalipun setiap harinya? Untuk membuat bunga mekar dari batu? Kau benar-benar naif,” ejek Hong Joo.

Saat melewati Hyun Seo, ia mengulurkan tangan hendak menyentuhnya. Ia berkata ia sudah sangat terluka. Hyun Seo memegang tangan Hong Joo untuk menghentikannya. Ia  berkata kali ini ia tidak akan tinggal diam jika Hong Joo berusaha melawan kehendak langit lagi.

Mereka berjalan ke arah berlawanan. Hae Ran berlari memanggil Hong Joo. Ia berlutut dan dengan panik berkata orang itu dalam bahaya.



Hyun Seo menemui Ibu Suri untuk memprotes kembalinya Hong Joo ke istana. Bukankah Ibu Suri sudah berjanji tidak akan memanggil kembali Hong Joo ke istana?

Ibu Suri mengingatkan bahwa ia sudah mempertahankan divisi Ritual meski ditentang para cendekiawan, tapi kenapa Hyun Seo mengkhianatinya? Ia marah Hyun Seo sudah tahu Ratu mandul tapi tidak memberitahunya.

Ia tahu tidak ada orang lain selain Hyun Seo yang menginginkan kedamaian dalam istana. Tapi memiliki pewaris juga akan membuat kedamaian dalam istana. Bagaimana bisa Hyun Seo membodohinya?

Hyun Seo bertanya apa yang akan terjadi jika ia mengatakan yang sebenarnya. Ratu mungkin akan kehilangan nyawanya…sama seperti Raja sebelumnya.

Ibu Suri sangat marah mendengar Hyun Seo menyinggung masalah tersebut. Ia berkata ia tidak bisa lagi percaya pada divisi Ritual dan akan menyerahkan semua tanggungjawab doa pada Hong Joo. Ia memecat Hyun Seo.

Hyun Seo berkata tidak masalah apapun yang dilakukan Ibu Suri padanya, tapi Hong Joo tidak boleh dibiarkan. Ibu Suri berkeras. Karena energi matahari lemah, di luar sana banyak pemberontak, jadi kenapa tidak boleh?

Hyun Seo berkata sihir hitam Hong Joo akan membawa energi jahat dan pada akhirnya keluarga kerajaan akan berada di tangan Hong Joo. Tapi Ibu Suri berkata ia tidak akan bisa dipermainkan oleh seorang shaman. Ia mengusir Hyun Seo dari istana dan tidak boleh kembali lagi. Hyun Seo terpaksa pergi.



Seorang kasim masuk dengan panik memberitakan Raja sakit parah. Ibu Suri bergegas ke kediaman Raja. Para tabib berkata Raja sepertinya terkena sakit pencernaan akut tapi untungnya cepat ketahuan hingga segera ditangani. Ibu Suri menarik nafas lega. Ia bertanya bagaimana para tabib bisa segera tahu?

Ternyata Hae Ran yang memberitahu Hong Joo. Hong Joo bertanya bagaimana Hae Ran bisa tahu. Hae Ran dengan takut-takut berkata ia juga tidak tahu.

Ia hanya mendengar suara-suara yang tidak bisa didengar orang lain dan seiring waktu berlalu apa yang didengarnya benar-benar terjadi. Hong Joo tertarik dan bertanya sejak kapan Hae Ran mengalami itu.

Sejak masih kecil, kata Hae Ran. Hong Joo menatap Hae Ran. Ia berkata Raja akan memberinya hadiah besar karena sudah melakukan tugas sebagai shaman dengan baik.
Setelah Hae Ran pergi, Hong Joo tersenyum. Ia merasakan aura luar biasa dari Hae Ran. Ia yakin itu bukanlah energi manusia biasa.



Hae Ran dihadiahi kesempatan pulang kampung untuk menemui ibu dan adiknya. Dengan naik tandu bahkan dibawakan banyak hadiah dari Ratu untuk ibu dan adiknya. Hae Ran sangat senang.

Ratu masih terbaring sakit akibat pukulan cambuk yang diterimanya. Ia bangun dan terkejut melihat Hong Joo duduk di hadapannya.

Hong Joo dengan terus terang mengatakan Ratu tidak bisa hamil karena mandul. Ratu terkejut. Ia bertanya apakah Ibu Suri juga tahu. Hong Joo mengangguk. Ratu nampak ketakutan.

Hong Joo bertanya apakah Ratu benar-benar ingin hamil. Jika Ratu menurut padanya maka ia bisa membantu Ratu untuk hamil. Ratu berkata ia akan melakukannya. Ia memohon Hong Joo menolongnya. Apa yang harus ia lakukan?



Hari sudah malam ketika para penandu tiba-tiba berhenti dan berkata mereka sudah tiba. Hae Ran keluar dengan gembira. Tapi beberapa wanita berpenutup wajah malah menculiknya dan membawanya ke tempat lain.

Ia dibawa menghadap Ratu. Ratu berkata mulai sekarang Hae Ran harus menuruti perintahnya. Ia berkata Hae Ran harus tidur dengan Raja.

Hae Ran shock. Bagaimana ia bisa melakukannya? Ratu berkata istana dan divisi shaman sudah menyetujuinya jadi Hae Ran harus taat.

Hae Ran berkata ia adalah seorang shaman yang melayani roh-roh. Ia tidak bisa melayani pria lain. Plak! Ratu menamparnya. Pria itu bukan pria sembarangan, tapi Raja Joseon! Ia berkata Hae Ran harus melakukannya untuk membersihkan energi buruk Raja.

Hae Ran masih berusaha hendak menolak. Ratu berkata jika Hae Ran menurut, ia akan merawat ibu dan adik Hae Ran selamanya. Tapi jika Hae Ran menolak…. Hae Ran terpaksa menurut.



Ratu sendiri yang memandikan Hae Ran dan mempersiapkannya. Dengan lembut ia memberitahu Hae Ran untuk tidak memandang wajah Raja secara langsung. Tidak boleh bersuara keras dan tidak membuat kesalahan. Juga tidak boleh melukai tubuh Raja. Ia memeluk Hae Ran dengan perasaan bersalah sebelum melepasnya pergi.

Malam Raja menghampiri Hae Ran diawasi oleh para kasim dan dayang. Mereka memastikan Raja melakukan tugasnya. Hae Ran menahan tangisnya. Ratu melihat semuanya sambil menangis.



Ratu sangat memperhatikan Hae Ran. Ia segera membawa tabib istana untuk memeriksa Hae Ran begitu mendengar Hae Ran tidak nafsu makan. Hae Ran berusaha menenangkannya kalau ia tidak apa-apa.

Tapi Ratu berkata tubuh Hae Ran bukan milik Hae Ran sendiri lagi, melainkan milik Raja Joseon. Hae Ran tersenyum. Ia meminta maaf dan berkata ia jadi teringat ibunya yang memiliki ekspresi sama seperti Ratu jika ia sakit.

“Yang Mulia Ratu, terima kasih karena selalu memperhatikanku. Besok aku akan lebih baik dan begitu aku bangun aku akan berdoa untuk kehamilan Yang Mulia,” kata Hae Ran sungguh-sungguh.



Ratu hanya diam. Segurat perasaan bersalah menyusup dalam hatinya. Ia teringat akan percakapannya dengan Hong Joo malam itu. Cara yang diajukan Hong Joo adalah membuat orang lain hamil menggantikan Ratu.

Orang lain yang hamil tapi Ratu yang akan melahirkan. Ratu bertanya siapa orang lain.

“Seorang shaman yang memiliki kekuatan sihir terkuat. Ia akan menerima sihir hitam. Saya akan memastikan semuanya berjalan baik, jadi Yang Mulia jangan khawatir.”

“Apa lagi?”

“Harap bunuh dia.”



Tabib melaporkan pada Ibu Suri kalau Hae Ran sudah hamil. Hae Ran sendiri tidak tahu kalau ia hamil, ia mengira dirinya flu biasa. Hong Joo berkata waktunya sudah tiba. Ratu menyerahkan barang-barang Hae Ran, di antaranya potongan rambut Hae Ran dan pakaiannya.

“Yang Mulia, kuatkan hatimu. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi kita semua,” kata Hong Joo.



Malam itu Hong Joo mulai memanggil roh-roh jahat untuk menjalankan sihir hitamnya.

Hyun Seo dan para anak buahnya menyusup ke dalam istana. Hyun Seo masuk ke ruangan Hong Joo dan menghunus pedang ke lehernya.

“Apa kau tidak puas setelah mengubah matahari Joseon lima thaun lalu?” tanyanya.

Hong Joo berkata tugasnya adalah mengubah roh matahari yang melemah. Apa salahnya hanya mengubah satu Raja? Kali ini ia akan membuat Raja dengan tangannya sendiri.

Hyun Seo berkata sihir hitam itu akan mengundang roh-roh jahat. Apa Hong Joo tidak tahu? Hong Joo menjawab ia sangat tahu bahayanya. Ia sendiri bisa mati saat menggunakan sihir itu.

“Jangan pikir hanya kau yang peduli pada negeri ini. Aku juga peduli dan melayani negeri ini hingga sanggup menyerahkan nyawaku sendiri.”

“Bukankah kau yang membenci negeri ini lebih dari siapapun?” ujar Hyun Seo.

Hong Joo tidak membantahnya. Ia bertanya apa yang akan Hyun Seo lakukan. Mengusirnya seperti 5 tahun lalu atau membunuhnya dengan pedang ini?

Hyun Seo memberi peringatan terakhir agar Hong Joo menghentikan sihir hitamnya. Tapi Hong Joo menantang Hyun Seo untuk membunuhnya karena ia tidak akan berhenti. Hyun Seo mengangkat pedangnya dan siap mengayunkannya.



Tapi tiba-tiba Ibu Suri berteriak menghentikannya. Ia marah karena Hyun Seo berani kembali ke istana. Hyun Seo memohon agar Ibu Suri menghentikan semua ini. Tapi Ibu Suri berkata yang terpenting saat ini adalah memiliki Putera Mahkota. Jika Hyun Seo menghalangi berarti Hyun Seo memberontak.

Ia memerintahkan para pengawal menangkap Hyun Seo. Hyun Seo melawan mereka. Tapi ia kalah jumlah dan akhirnya tertangkap.



Sementara itu Hong Joo meneruskan sihir hitamnya. Ia melempar barang-barang Hae Ran ke dalam bara api yang dipergunakan untuk memanggil roh-roh jahat. Asap hitam membumbung tinggi membentuk gumpalan asap mengerikan. Gumpalan tersebut melayang-layang dan keluar dari ruangan dengan suara memekik.

Hyun Seo meronta dan melepaskan diri dari cengkeraman para pengawal. Ia berlari keluar mengikuti gumpalan asap tersebut. Ibu Suri memerintahkan para pengawal untuk mengejar dan menangkapnya.

Gumpalan asap tersebut melayang-layang dan masuk ke dalam kamar Hae Ran melalui celah-celah pintu. Lalu masuk ke dalam perut Hae Ran. Hae Ran kejang-kejang. Ia merasa seperti tercekik dan perutnya kesakitan. Saking sakitnya, jari-jari tangannya menegang sampai kukunya patah.

Tubuh Hae Ran terangkat melayang ke udara. Hae Ran menggeliat-geliat lalu lemas. Gumpalan asap itu keluar. Tubuh Hae Ran terhempas ke lantai.



Hyun Seo melihat gumpalan asap itu melayang menuju kediaman Ratu. Ia melemparkan tanda ke udara. Anak buahnya melihat tanda tersebut. Mereka segera mengeluarkan perisai masing-masing dan siaga pada posisi mereka.

Perisai-perisai tersebut digunakan untuk memantulkan cahaya bulan sehingga cahaya bulan menaungi seluruh kediaman Ratu. Ketika gumpalan itu menerjang lingkaran cahaya tersebut, mereka terpental dan berteriak keras.

Hong Joo memuntahkan darah. Urat-urat tangannya menghitam. Ia mengumpulkan kekuatannya dan melemparkan abu untuk memperkuat gumpalan roh tersebut. Gumpalan itu terus berusaha menyerang.

Hong Joo mengucapkan mantra-mantra hingga cahaya bulan tertutup awan. Belum lagi para anak buahnya muncul menembakkan panah ke arah anak buah Hyun Seo. Anak buah Hyun Seo berusaha bertahan dalam formasi mereka sambil berusaha menangkis tembakan-tembakan panah tersebut.



Tapi salah satu dari mereka, Yo Gwang (Lee Yi Kyung), tertembak dan jatuh. Perisainya pecah. Perisai yang lain satu per satu mulai pecah. Cahaya bulan pergi menyisakan kegelapan.  Persis seperti yang dilihat Ratu dalam mimpinya.

Hyun Seo tiba di halaman kediaman Ratu dan melihat gumpalan asap itu masuk ke kediaman Ratu. Ia langsung teringat pada mimpi Ratu yang pernah diceritakan padanya.

Gumpalan itu masuk ke kamar di mana Ratu berbaring menunggu. Gumpalan itu masuk ke dalam tubuh Ratu yang sudah dipasangi kertas jimat. Ratu menggeliat-geliat kesakitan lalu jatuh pingsan.

Hyun Seo jatuh berlutut di halaman. Dalam hatinya ia bertanya-tanya apakah ini takdir yang tak bisa dihentikannya. Para pengawal istana menangkapnya.



Keesokan paginya tabib istana memeriksa Ratu dan memastikan kehamilannya. Ibu Suri sangat gembira dan memuji Hong Joo. Ia berjanji akan memberikan hadiah yang besar. Tapi Hong Joo berkata ini semua belum selesai.

Hae Ran tidak mati. Ia bangun dan terkejut melihat keadaan tubuhnya. Ia menyadari ia sudah dikenai sihir hitam. Ia berteriak ketakutan.



Sementara itu Ratu sangat bahagia dengan kehamilannya. Namun ia teringat pada Hae Ran.
Anak buah Hong Joo diam-diam menyusup ke dalam kamar Hae Ran pada waktu malam. Ia menusukkan pedang ke balik selimut. Tapi di balik selimut tidak ada Hae Ran.

Hae Ran muncul dari tempat persembunyiannya menyerang orang itu. Tapi ia bukan tandingannya. Beberapa anak buah Hong Joo lain masuk menghunus pedang, diikuti Hong Joo. Hong Joo menyuruh Hae Ran ikut dengannya. Ia akan mendoakan Hae Ran agar bisa dilahirkan kembali setelah mati.

“Kepala shaman yang seharusnya mendoakan kesejahteraan negeri jatuh ke dalam sihir hitam dan membawa roh jahat dalam keluarga kerajaan. Apa kau tidak takut dengan akibatnya? Karena sihir hitam, Joseon akan hancur. Raja akan sakit terus menerus dan mati. Garis keturunan kerajaan akan rusak hingga akan terjadi pertumpahan darah,” kata Hae Ran.

Hong Joo tidak peduli dan memerintahkan anak buahnya membunuh Hae Ran. Hae Ran berlari keluar kamar. Ia berpapasan dengan Ratu dan langsung berlutut memohon Ratu menyelamatkannya. Jika ia mati, ibu dan adiknya akan sangat menderita.



Hong Joo berkata Hae Ran tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Ibu dan adik Hae Ran digirng ke hadapan mereka. Mereka memohon diselamatkan. Tapi Hong Joo memberi isyarat pada anak buahnya.

Ibu dan adik Hae Ran ditebas di hadapan Hae Ran. Ratu terkejut melihat peristiwa mengerikan itu.

Hae Ran shock. Ia menghambur ke tubuh ibu dan adiknya yang sudah tidak bernyawa lagi dan meratapi kematian mereka. Hong Joo sama sekali tidak bergeming.



Hae Ran menoleh dengan penuh amarah. Ia bertanya kenapa Hong Joo membunuh ibu dan adiknya yang tak bersalah. Dalam kemarahannya ia melompat menerjang Hong Joo.

Anehnya, tibat-iba ia memiliki kekuatan yang sangat besar. Ia melayang dan mencekik Hong Joo hingga Hong Joo terangkat dari tanah.

“Mati kau, mati!!” seru Hae Ran.

Hong Joo berusaha meronta tapi Hae Ran lebih kuat. Anak buah Hong Joo maju menyerang. Hae Ran menoleh dan mereka semua terlempar hingga jatuh ke tanah. Ratu kaget dan takut melihat kekuatan Hae Ran.

Hae Ran berkata seorang shaman bisa meramal takdir orang lain tapi tidak bisa meramal takdirnya sendiri. Begitu juga dengan Hong Joo.

“Mati kau. Sihir yang kaugunakan akan membunuh dirimu sendiri. Tubuhmu akan tercabik-cabik dan menjadi makanan anjing. Kau akan mati dengan cara seperti itu. Mati kau, mati!!” kutuk Hae Ran.



Tiba-tiba ia tersentak. Ia melepaskan Hong Joo. Ratu sudah menusuk tubuhnya dengan pedang dari punggung hingga tembus ke perut. Hae Ran berbalik menatap Ratu, menyadari bahwa selama ini Ratu sudah berkomplot dengan Hong Joo.

Ia jatuh lemas ke tanah. Ia mendengar suara tangis bayi. Dua bayi. Hae Ran tersenyum.

“Selamat, Yang Mulia. Mereka kembar yang cantik. Tapi ketika anak-anakmu yang cantik memasuki usia 17 tahun, mereka akan mati. Jika mereka bisa menghindari kematian entah bagaimana caranya, hidup mereka akan menderita lebih dari kematian. Semua yang mencintai anak-anak itu akan mati. Dan semua yang mereka cintai juga akan mati,” Hae Ran merangkak menyentuh perut Ratu.

Ia tercekat. Hong Joo sudah menusuknya. Hae Ran jatuh ke tanah mati dengan  mengeluarkan air mata darah.



Beberapa waktu kemudian Ratu melahirkan. Bayinya yang pertama adalah laki-laki, sementara yang kedua perempuan. Ratu ketakutan menyadari perkataan Hae Ran menjadi kenyataan. Ia langsung memerintahkan untuk memanggil Hong Joo.

Note: pada masa itu, anak kembar dianggap tidak baik terutama kembar anak laki-laki dan perempuan. Mereka percaya kembar laki-laki dan perempuan adalah suami-istri dalam kehidupan terdahulu mereka. Karena itu dianggap tidak etis membesarkan keduanya bersama-sama. Biasanya bayi perempuan yang dikorbankan (dibiarkan mati) atau dibuang. Sumber: thetalkingcupboard



Hong Joo mengamati kedua bayi tersebut. Ia melihat tanda lahir merah di belakang telinga kedua bayi. Ia berkata itu adalah kutukan. Kedua bayi itu membawa kutukan dalam tubuh mereka.

Ratu ketakutan dan bertanya apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan anak-anaknya.

“Pindahkan kutukan pada satu anak dan bunuh anak itu,” kata Hong Joo.

Ratu terkejut. Bagaimana bisa ia membunuh anaknya sendiri. Ia menganggap itu tidak masuk akal. Ia menolak cara tersebut.

Tapi Hong Joo berkata jika puteri dibunuh maka Ratu bisa memperoleh Putera Mahkota. Bukankah sejak awal Ratu hanya menginginkan Putera Mahkota? Ia berkata Ratu harus memutuskan. Kehilangan keduanya atau hanya memiliki Putera Mahkota. Ratu menangisi kedua anaknya.



Hong Joo membawa kedua bayi itu ke tempatnya. Dengan sihirnya, ia memindahkan kutukan dari bayi laki-laki ke bayi perempuan. Tanda merah di belakang telinga bayi perempuan membesar.

Ibu Suri datang melihat kedua bayi tersebut. Hong Joo menunjuk bayi perempuan yang menanggung kutukan. Ia berkata bayi itu harus mati. Ibu Suri sama sekali tidak merasa kasihan. Ia berkata  mereka harus melakukannya jika memang anak itu penyebab kemalangan.

Hong Joo berkata anak itu tidak mudah dibunuh karena membawa kutukan. Satu-satunya orang yang bisa membunuh anak yang dikutuk itu adalah saudara kembarnya sendiri, Sang Putera Mahkota.

Ibu Suri bingung. Putera Mahkota kan masih bayi. Apakah tidak ada cara lain.
Hong Joo berkata cara lain adalah bayi ikut dibakar dengan kekuatan batin yang memurnikan kutukan tersebut. Dan ritual itu hanya bisa dilakukan oleh divisi Ritual. Hanya Hyun Seo yang bisa melakukannya.



Hong Joo pergi ke penjara menemui Hyun Seo. Ia memberitahu kelahiran Putera Mahkota. Seorang pengawal menyerahkan bayi puteri ke dalam gendongan Hyun Seo.

“Ini adalah saudara kembar Putera Mahkota, sang puteri. Tapi sesuatu telah terjadi. Anak ini membawa kutukan,” kata Hong Joo.

Hyun Seo terkejut. Hong Joo berkata untuk mencapai tujuan besar harus ada pengorbanan. Mereka membutuhkan bantuan Hyun Seo untuk mematahkan kutukan tersebut. Ia meminta Hyun Seo membunuh bayi tersebut.

Awalnya Ibu Suri juga ragu Hyun Seo mau melakukannya. Tapi Hong Joo tahu betul bagi Hyun Seo negeri ini lebih penting dari apapun juga.  Hyun Seo tidak bisa tidak melakukannya jika ini untuk kepentingan negeri ini.

Hong Joo berkata jika kutukan itu mulai berjalan maka nyawa Putera Mahkota, yang mereka peroleh dengan susah payah, akan lenyap. Jika Hyun Seo keras kepala lagi seperti 5 tahun lalu, maka Hyun Seo akan menghancurkan garis keturunan Raja.

“Anak itu harus mati bagaimanapun juga demi negeri ini.”

Hyun Seo terdiam.



Akhirnya ia melakukan ritual tersebut. Dengan dilihat Hong Joo dan para anak buahnya, Hyun Seo membawa bayi tersebut ke sebuah bukit batu. Ia meletakkan bayi itu di atas tumpukan jerami. Dengan berat hati, Hyun Seo menyalakan api dengan kekuatan spiritualnya. Api mulai menyala.

Hyun Seo membalikkan tubuhnya. Bayi itu menangis dengan keras…hingga tak terdengar suaranya lagi. Hong Joo terlihat puas.



Epilog:

Seorang gadis memainkan layangan di atas pohon.

“Kakakku mengatakan tidak ada seorangpun yang tidak seharusnya dilahirkan dalam dunia ini. Tidak peduli seperti apa dirimu atau pada keluarga mana kau dilahirkan, kau dilahirkan sakit atau tidak, setiap orang dilahirkan dengan alasan mengapa mereka dilahirkan untuk membantu dunia ini entah bagaimana caranya,” kata gadis itu.

Gadis itu bernama Yeon Hee. Dan di belakang telinganya ada tanda merah. Ia memiliki kekuatan melebihi manusia biasa.



“Hidup adalah untuk menemukan tujuan tersebut. Jadi janganlah bersedih karena aku yakin pasti ada alasan mengapa kau dilahirkan,” ia meneruskan.

Seorang pemuda berkuda menembus hutan dan terjatuh dari tebing. Namun tubuhnya melayang sebelum menghempas ke tanah. Itu semua karena kekuatan gadis tersebut.

“Aku tidak pernah sedih karena aku yakin pasti akan menemukan alasannya,” kata pemuda tersebut.



Komentar:
Wow…what an intense first episode…

Drama ini mengingatkan pada drama The Moon That Embrace The Sun yang juga ada sihir hitamnya pada episode-episode awal.  Apalagi Ibu Surinya sama hehehe…

Mengenai kutukan pada umur 17 tahun kok kaya Sleeping Beauty ya^^

Jika kutukan itu ditimpakan pada sang puteri apakah itu artinya putera mahkota tidak lagi menanggung kutuk? Jadi Putera Mahkota akan selamat melewati usia 17 tahun? 

Sementara bagaimana dengan puteri? Jelas di akhir episode kita diperlihatkan kalau Puteri selamat dan tumbuh besar. Apakah ia menanggung kutukan dua kali lipat karena ia juga menanggung kutukan saudara kembarnya?

Meski Ratu yang melahirkan, kedua anak itu sebenarnya anak Hae Ran. Mengingat Hae Ran adalah seorang shaman yang memiliki kekuatan luar biasa, mungkinkah mereka juga menuruni kemampuan ibu mereka? Tragis banget ya nasib Hae Ran. Tapi Jung In Sung memerankannya dengan sangat bagus.

Mengenai shaman bisa dilihat dalam postinganku: Shaman - Menjembatani Manusia dan Para Roh

Meski drama ini fiksional, tapi drama ini diilhami oleh buku Donguibogam (The Mirror of The Eastern Medicine) yang ditulis Heo Jun. Heo Jun adalah karakter yang diperankan Yoon Shi Yoon dalam drama ini (si pemuda yang jatuh dari tebing dalam epilog).

Heo Jun adalah karakter nyata dalam sejarah yang merupakan tabib terkenal jaman Joseon. Drama ini mengisahkan kehidupan Heo Jun saat masih muda secara fiksional.

Raja yang diceritakan dalam episode pertama ini adalah Raja Myeongjong. Dalam sejarah, Raja Myeongjong naik tahta menggantikan kakak tirinya, Raja Injong yang masih muda.

Ada legenda yang menyebutkan Raja Injong mati dibunuh dengan racun oleh ibu tirinya, Ibu Suri Munjeong, hanya 9 bulan setelah naik tahta (Sumber: Wikipedia) . Dalam drama ini, sepertinya Ibu Suri Munjeong menggunakan sihir hitam Hong Joo untuk menjadikan puteranya sendiri naik tahta 5 tahun lalu. Itu yang menyebabkan ia diusir dari istana 5 tahun lalu.

Dalam sejarah dicatat Raja Myeongjeong naik tahta pada usia 12 tahun (artinya dalam cerita ini besar kemungkinan ia berusia 17 tahun), ibunya yang mewakilinya dalam pemerintahan. Istri Raja Myeongjeong adalah Ratu Insun yang dalam sejarah tercatat hanya memiliki seorang putera, Putera Mahkota Sunhoe. PM Sunhoe tercatat meninggal dunia pada usia 12 tahun.

Raja Myeongjeong meninggal pada usia 22 tahun dan digantikan oleh keponakannya, Raja Seonjo. Heo Jun tercatat sebagai tabib pada jaman Raja Seonjo.

Aku tidak tahu apakah dalam drama ini Putera Mahkota yang selamat dari kutuk adalah PM Sunhoe (yang dalam sejarah meninggal pada usia 12 tahun) ataukah Seonjo. Mungkin di episode 2 akan dijelaskan^^


20 komentar:

  1. Hihihi maklum mbak fanny ngerecap ini fantasi banget. Beneran inget tmets mbak sampe kekuatan hitam itu dan shaman yang dibunuh juga. Ibu surinya pengatur pula hhhhh. Cuma kaget david lee yang jadi raja myungjong pasangan sama jang hee jin? Apa usia raja emang segitu mudanya :p
    Cantik yah namanya yeon hee. Kali ini ada ga ya terjemahnya buku itu bagaimana bisa menginspirasi drama ini? ^^"
    Btw mereka kembar kan? Jadi udah umur berapa si yeon hee dari sana bisa tahu apa itu putra mahkota yang dimaksud atay bukan. Tapi dari deskripsi sih ksr memerankan gadis 16 tahun ya, jadi kayaknya fiksi deh *main ramal ramalan ini namanya
    Btw mbak fanny baca thetalkingcupboard juga? Enak ya mbak...sebenrnya pingin tahu ttg myungjong jg dari sana krn kayak pernah denger di drama tapi mungkin belun ketemu artikelnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku itu panduan pengobatan jadi isinya bukan cerita fiksi drama ini hehe...yang mengilhami hanya judulnya saja :)
      Aku jarang baca thetalkingcupboard. Kemarin pas mencari referensi untuk drama ini malah nemu di sana :) Dulu sih enak ada dramatomy yang suka bahas tuntas drama-drama sageuk sampai ke pemilihan hanbok dan ornamen rambut segala^^

      Hapus
  2. Horee mb fanny nulis sinopx...semngat terus ya mb..semoga bisa sampek tamat...hehehehe..ini project duo apa sendiri mb?!
    Semoga mb fanny sehat selalu..aminnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you^^ ini proyek sendiri :)

      Hapus
  3. tragis bgt kematian hae ran smp nangis baca nya, suka sm ceritanya

    BalasHapus
  4. Mksih bgt ya mba,suka deh ama fusion sageuk apalagi klo mba fanny yg nulis sinopsnya.btw mba,ratu munjeong itu bukanjya yg jg ada di dramanya jang geum y?ditunggu lanjutannya y mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Ratu Munjeong adalah istri Raja Jungjong, Raja pada jaman Jaeng Geum^^

      Hapus
    2. thank you mbaj^^
      flower in lrison juga pake jama ini nggak sih?

      Hapus
    3. Yup, flower in prison jg menggunakan jaman yg sama

      Hapus
    4. Wah...hari tayang sama, jaman sama, bisa dibandingin ga ya? Hihithank u mbak fan :)

      Hapus
  5. Ada terjemahan bukunya dlm bhs inggris ndak ya? Jadi penasaran sama bukunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buku tersebut isinya panduan pengobatan tradisional yang ditulis Heo Jun saat ia menjadi tabib. Jadi yang mengilhami drama ini hanya judulnya saja^^

      Hapus
  6. Akhirnya ada sinopsisnya juga, lanjut terus ya mbk, bagus banget sinopnya.. :-)

    BalasHapus
  7. mantapp juga neh Drama
    yang semangat mbak ;)
    sampek brpa episode neh ?

    BalasHapus
  8. Makasih mbak... Seneng bacanya... Makin penasaran di tunggu kelanjutannya

    BalasHapus
  9. senang banget baca sinop ni. Kyknya ceritanya dark intense ya

    BalasHapus
  10. cerita awalnya gabungan drama the moon that embrace the sun & queen Seondeok. kutukan bayi kembar dan salah satunya harus dibuang itu sih sama bgt kaya cerita queen seondeok.

    BalasHapus
  11. Makasih mba fany sinopsis nya💖 sehat selalu

    BalasHapus

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)