Sabtu, 01 Agustus 2020

Sinopsis It's Okay To Not Be Okay Episode 11

Mun Yeong mengambil bunga pemberian Kang Tea yang sudah layu. Ia memasukkannya dalam vas berisi air lalu membuka gumpalan kertas yang dibuang Sang Tae. Melihat gambar tersebut, Mun Yeong tak bisa menahan tangisnya.

Sementara itu, mendengar Park Ok Ran kabur dari rumah sakit, Kang Tae bergegas pergi menuju rumah Mun Yeong.

Park Ok Ran datang ke rumah Mun Yeong. Ia menyanyikan lagu Happy Birthday dan tersenyum. Mun Yeong membiarkannya masuk sebagai seorang tamu. Tapi ia tetap waspada dan mengawasi Park Ok Ran yang terus menerus melihat-lihat keadaan rumah Mun Yeong.

“Kau tidak datang ke sini pada jam seperti ini hanya untuk minum teh. Apa yang kauinginkan?” tanya Mun Yeong sambil menuang teh.

Tidak ada jawaban. Ketika menoleh, Park Ok Ran tidak ada di dapur. Ia menemukannya sedang berkeliaran di ruang kerjanya. Mun Yeong mengamati gerak-geriknya.

Park Ok Ran melihat bunga di vas dan berkata bunga itu sudah mati. Dan berkata Mun Yeong seharusnya membuang benda yang sudah mati.

“Jangan sentuh barang-barangku,” Mun Yeong memperingatkan sambil merebut bunga itu.

Ia bertanya apa yang membuat Park Ok Ran datang ke rumahnya. Ok Ran berkata ia khawatir Mun Yeong kesepian. Ia menceritakannya bagaimana ayahnya mencoba membunuhnya tadi dan menyebutnya monster.

“Ia bilang semua monster harus dibunuh. Ia juga bilang seharusnya membunuh puterinya hari itu. Ia benar-benar melampiaskannya padaku. Kau tidak tahu, kan?” katanya sambil memegang belati pembuka surat di meja Mun Yeong. Ia terus melihat dan memegang barang-barang Mun Yeong.

Terus kenapa, tanya Mun Yeong. Park Ok Ran berkata itu terlalu kejam. Bagaimana mungkin seorang ayah mengatakan hal seperti itu pada hari ulang tahun puterinya sendiri.

“Jadi kupikir aku sebaiknya datang untuk membuatmu merasa lebih baik dan mengucapkan selamat ulang tahun. Sepi jika merayakan hari seperti ini sendirian?”

“Kenapa kau peduli?” tanya Mun Yeong.

“Karena aku penggemar. Aku penggemar ibumu. Ini cantik,” Park Ok Ran mengamati ujung pena berukir yang diambilnya dari meja Mun Yeong.

“Sudah jelas kukatakan jangan menyentuh barangku,” Mun Yeong merebut pena itu.

Park Ok Ran tersenyum dan berkata mereka berdua sama. Ia juga benci kalau orang menyentuh barangnya. Ia menarik pena itu dengan keras hingga ukiran di ujung pena melukai tangan Mun Yeong. Darah terciprat dan menetes.

Kang Tae tiba di rumah Mun Yeong. Ia berlari masuk mencarinya tapi tidak ada siapa-siapa. Ia melihat tetesan darah di ruang kerja Mun Yeong.

“Mun Kang Tae?” Mun Yeong berdiri di ujung tangga.

Kang Tae berlari ke arahnya dan memeluknya. Syukurlah, Kang Tae menghela nafas panjang. Ia bertanya apa Mun Yeong tidak apa-apa. Ia melihat luka di tangan Mun Yeong.

“Ah, pasien Park Ok Ran...” Mun Yeong hendak menjelaskan.

“Di mana dia?” potong Kang Tae.

Dia sudah pergi, kata Mun Yeong. Kang Tae bertanya ke mana dia pergi? Kapan? Mun Yeong diam. “

“Kapan dia pergi?!!” Kang Tae membentak Mun Yeong.

“Baru saja,” kata Mun Yeong pelan.

Kang Tae langsung berlari pergi. Mun  Yeong memegangnya. Jadi Kang Tae datang ke sini untuk menangkap pasien yang kabur? Bukan karena dirinya? Bukan karena Kang Tae merindukannya?  Ia melepaskan tangan Kang Tae.

“Sudah jelas kau mendahulukan kakakmu daripada aku. Dan bahkan pasien itu lebih penting bagimu daripadaku,” kata Mun Yeong menahan sakit hatinya.

Kang Tae memegang tangannya ketika Mun Yeong berbalik pergi. Tapi kali ini Mun Yeong yang menepisnya. Ia naik dan masuk ke kamarnya. Menutup pintu dan naik ke ranjangnya.

Ia mengomel untuk apa Kang Tae memeluknya jika sedang mengejar pasien. Setelah Park Ok Ran melukai tangannya, Mun Yeong reflesk hendak mengambil gunting di meja. Tapi ia teringat perkataan Kang Tae untuk menghitung sampai 3 sebelum melakukan sesuatu yang spontan.  Park Ok Ran juga mengamati arah tangan Mun Yeong.

“Satu...”

“Astaga apa tanganmu tidak apa-apa?” Ok Ran berusaha mengalihkan perhatian Mun Yeong.

“Dua...”

“Kau berdarah...bagaimana ini?”

“Tiga!”

Park Ok Ran menaruh pena Mun Yeong di meja. Heh...berarti dia takut juga sama Mun Yeong. Dengan wajah seakan tak berdosa ia berkata ia sudah mengembalikannya. Mun Yeong mengusirnya pergi.

Mun Yeong mendengar langkah kaki Kang Tae. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut dan membelakangi pintu. Kang Tae mengajaknya bicara. Mun Yeong tidak menjawab.

Kang Tae duduk di tepi tempat tidur. Ia meraih tangan Mun Yeong dan membalut tangannya. Mun Yeong marah. Kenapa Kang Tae membalut tangannya. Memangnya dia bilang itu sakit? Ia menarik tangannya dan berkata itu hanya luka kecil dan tidak sakit. Baginya jauh lebih menyakitkan perkataan dan sikap Kang Tae.

“Sudah kubilang hari ini hari sangat penting bagiku! Aku sudah bilang aku tidak mau sendirian!” emosi Mun Yeong memuncak dan suaranya makin meninggi.

Kang Tae memegang pundaknya dan menyuruhnya menghitung sampai 3 jika tidak bisa mengendalikan diri. Mun Yeong menurut.

“Satu....” Ia menatap Kang Tae dengan marah.

“Dua...” Ia mulai melunak.

“Tiga....”

Kang Tae menciumnya. Lagi dan lagi....

“Selamat ulang tahun,” katanya.

Mun Yeong tersenyum. Kemarahannya sudah menguap tak berbekas.

“Aku merindukanmu,” kata Kang Tae lagi.

Melihat Mun Yeong terus tersenyum, ia bertanya kenapa pipi Mun Yeong memerah. Mun Yeong berdalih ia merasa panas. Dan di sini sangat panas. Ia berkata wajah Kang Tae juga merah. Kang Tae baru ingat. Ia menyentuhkan tangan Mun Yeong ke dahinya.

“Aku tidak enak badan.”

“Kau demam,” kata Mun Yeong kaget.

Kang Tae sudah melapor pada Dokter Oh mengenai kedatangan Ok Ran ke rumah Mun Yeong. Belum tahu alasan ia datang ke sana. Ia menginstruksikan agar mereka memberitahu polisi hal tersebut. Ada kemungkinan Ok Ran pulang larut malam jadi ia meminta para staf berjaga-jaga sepanjang malam.

Ia menanyakan keadaan Chan Yong. Chan Yong mengeluh bagaimana bisa ia baik-baik saja. Seharusnya ini dianggap kecelakaan saat bekerja (jadi ada ganti rugi dari rumah sakit). Dokter Oh berkata ia akan bantu mengajukan ganti rugi, dan ia juga akan memikirkan pemecatan Chan Yong (karena sudah lalai menyebabkan pasien kabur). Tentu saja ini hanya gurauan.

Jae Su datang untuk menemani Sang Tae yang sedang makan malam sendirian. Sang Tae baru makan karena tadinya akan makan malam dengan Kang Tae tapi ada keadaan darurat di rumah sakit jadi Kang Tae tidak bisa pulang malam ini. Jae Su berkata karena itu ia datang. Ia ingin mencicipi makanan Sang Tae tapi tidak diperbolehkan.

“Satu suap akan menjadi dua lalu tiga suap. Dia yang mencuri telur, lama-lama akan mencuri kerbau,” kata Sang Tae.

Jae Su berkata ia tadi menemukan sesuatu di luar rumah. Mang Tae, kata Sang Tae. Di episode sebelumnya ia membuang Mang Tae ketika marah pada Mun Yeong.  Ia adalah Mang Tae, adik Kang Tae.

“Sang Tae, Kang Tae, Mang Tae. Kami tiga bersaudara.”

Jae Su kesal karena ia sudah bersama mereka selama 10 tahun tapi boneka jelek itu yang dianggap adik oleh Sang Tae dan Kang Tae. Ia ingin menjadi adik kakak dengan mereka.

“Tidak bisa, Jae Su. Kau bukan saudara kami. Kita tidak bermarga sama dan tidak ada hubungan. Kau tidak ada dalam kartu keluarga, jadi kita sebenarnya orang asing. Kita bukan keluarga.”

Jae Su memaksa agar ia dimasukkan tapi Sang Tae tetap menolak.

Kang Tae terbaring di tempat tidur karena demamnya. Mun Yeong berkata ia sudah mengisi bak dengan air sedingin es. Kang Tae harus masuk sana untuk menurunkan demamnya. Ia melihat cara itu digunakan dalam film-film. Apa Kang Tae juga ingin kelopak mawar dalam air?

Kang Tae tertawa dan meminta Mun Yeong membawakan handuk basah. Mun Yeong mengompres Kang Tae dengan handuk itu. Ia bertanya apa Ok Ran melarikan diri dari rumah sakit. Kang Tae balik bertanya apa yang dikatakan Ok Ran pada Mun Yeong.

“Ia datang karena ia berpikir aku akan kesepian dan mengucapkan selamat ulang tahun. Ia juga mengatakan dia adalah penggemar ibuku. Ia bilang ia hampir mati di rumah sakit hari ini. Kenapa itu terjadi?”

Kang Tae berkata pasien sering bertengkar di rumah sakit dan Mun Yeong tidak perlu khawatir. Ia membaringkan Mun Yeong di sisinya dan berkata rasanya menyenangkan.

“Aku tidak pernah mempunyai orang yang mengurusku saat aku sakit.”

Mun Yeong membalikkan badannya dan membaringkan kepalanya di dada Kang Tae. Ia melihat bekas luka di telapak tangan Kang Tae, lalu memejamkan matanya. Kang Tae memeluknya.

Ju Ri merasa tak enak hati melihat Direktur Lee menyemrot bagian dalam mobil dengan pewangi. Ia meminta maaf karena sudah menyulitkan. Direktur Lee berkata Ju Ri tak perlu mengkhawatirkan itu. Tapi Ju Ri mengulurkan amplop. Isinya uang untuk biaya cuci mobil.

“Ah ternyata begini rasanya,” kata Direktur Lee.

Ju Ri tak mengerti. Direktur Lee berkata setiap kali Mun Yeong membuat masalah, ia selalu menyodorkan uang di dalam kardus minuman. Mungkin mereka juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakannya saat ini.

“Kau menuai apa yang kautabur,” katanya tertawa.

Ia mengajak Ju Ri makan bersama dengan uang itu. Dan ia akan menganggap mereka impas.

Mun Yeong bangun sendirian dan ia panik mengira Kang Tae meninggalkannya lagi. Tapi Kang Tae masuk, sudah berpakaian rapi. Mun Yeong menanyakan demamnya. Sudah turun.

“Cuma sehari? Kau pura-pura, ya?” tuduh Mun Yeong.

“Tidak. Itu sakit cinta,” kata Kang Tae.

Keduanya tertawa.

Kang Tae mengajak Mun Yeong bicara. Ia ingin membicarakan kakaknya. Ia memberitahu Mun Yeong kalau Sang Tae memiliki ingatan traumatis. Itu penyebab mereka meninggalkan kota  Seongjin ketika mereka kecil dan  harus berpindah seakan sedang melarikan diri dari sesuatu setiap musim semi.

“Ibuku dibunuh. Dan kakakku satu-satunya saksi yang melihat peristiwa itu. Karena kami takut, kami melarikan diri. Aku baru berusia 12 tahun dan tidak ada orang dewasa yang bisa melindungi kami. Di situlah awal mulanya. Setiap musim semi ketika kau  bisa melihat kupu-kupu, kakak akan bermimpi buruk tentang malam saat ibu dibunuh. Kakak berkata kupu-kupu akan membunuhnya dan kami harus melarikan diri. Ia telah menahan semua rasa sakit itu sendirian selama 20 tahun. Dan karena itu ia membutuhkan aku.”

Mun Yeong diam mendengarkan dengan sedih. Mungkin bersimpati pada mereka berdua, tapi juga khawatir Kang Tae akan meninggalkannya lagi.

“Tapi masalahnya...meski begitu aku tetap ingin bersamamu. Kau pernah bilang kau tidak peduli pada takdir. Saat seseorang muncul ketika kau membutuhkannya, itulah yang disebut takdir. Dan aku membutuhkanmu. Aku harus berada di sisi kakakku. Jadi kau tetaplah di sisiku...”

Mun Yeong tersenyum. Tentu saja, kenapa tidak?

Perasaan Kang Tae lebih lega sekarang. Dalam perjalanan ia menelepon kakaknya dan menanyakan apa kakaknya sudah makan. Sang Tae bertanya apa Kang Tae sudah menangkap penjahatnya.

“Bukan penjahat, tapi pasien,” kata Kang Tae. Ia berkata ia tidak bisa menemukannya.

Mendengar Sang Tae khawatir, Kang Tae menenangkan kakaknya. Ia berkata ia akan pulang lebih awal untuk makan malam bersama kakaknya.

Ayah Mun Yeong dibawa untuk diperiksa. Ju Ri berharap tumor otaknya tidak kambuuh lagi. Perawat Park berkata adallah mujizat ayah Mun Yeong bisa bertahan dalam kondisi seperti itu selama 20 tahun. Ia menanyakan apa yang polisi katakan mengenai Park Ok Ran.

Ju Ri berkata Ok Ran terakhir terlihat dalam rekaman CCTV di jalur keluar hiking Gunung Oji semalam. Mereka masih menyelidiki ke mana ia pergi.

“Benarkah? Kalau begitu bersihkan tempat tidurnya dan kirim seluruh barang miliknya ke polisi. Kita harus menerima pasien dalam daftar tunggu,” kata Perawat Park.

Ju Ri kaget. Secepat itu? Park Ok Ran mungkin saja kembali.

“Tidak. Ia tidak akan bisa kembali,” kata Perawat Park.

Ju Ri bingung melihat Kang Tae dalam kondisi berbanding terbalik dari kemarin. Hari ini ia tampak ceria dan tidak pucat seperti kemarin. Ia memberitahu Kang Tae kalau mereka harus membersihkan tempat tidur Ok Ran. Kang Tae juga kaget mengapa secepat ini.

Kang Tae membereskan barang-barang Ok Ran. Sun Hae bertanya apa Ok Ran tidak akan kembali atau tidak bisa kembali. Anjing yang lari saja akan pura-pura dicari selama beberapa hari. Ia tidak menyangka Perawat Park sekejam itu. Kang Tae berkata Park Ok Ran dicari polisi.

Sun Hae berkata Kang Tae sudah berubah. Senyumnya sekarang cantik.

Pil Wong melaporkan hasil penyelidikannya mengenai Park Ok Ran. Ia dulu adalah aktris panggung yang tak terkenal dan menjalani beberapa kali operasi plastik. Menurut Yoo Sun Hae, beberapa bulan terakhir sikap Park Ok Ran terlihat aneh. Ia terus menerus mengatakan harus latihan akting dan bercermin sambil terkekeh. Ia juga semalaman menghafal sesuatu. Sun Hae berkata sepertinya Park Ok Ran masih mengira dirinya seorang aktris.

“Ia berlatih akting?” Dokter Oh berusaha memikirkan apa yang terjadi.

Kang Tae memeriksa barang-barang Park Ok Ran dan menemukan salah satu novel Do Hui Jae. Di dalam buku itu terselup kertas-kertas berisi tulisan. Tapi tulisannya tidak terbaca karena sudah dicoret dengan warna merah.

Ia menaruh kertas-kertas itu dalam lokernya, tanpa menyadari Dokter Oh diam-diam berdiri di belakangnya. Kang Tae mengumpat kaget saat melihat Dokter Oh. Dokter Oh berkata sekarang Kang Tae memperlihatkan kepribadian aslinya. Kang Tae meminta maaf.

Dokter Oh bertanya semalam Kang Tae tidur di mana. Semalam terlihat depresi tapi sekarang terlihat gembira. Apa Kang Tae melakukan sesuatu yang lain dan bukannya mencari pasien? Kang Tae berkilah bukan itu yang terjadi.

Tapi kenapa pergi ke sana, tanya Dokter Oh. Apa untuk mengucapkan selamat ulang tahun? Kang Tae berkata bukan itu sebabnya ia pergi ke sana.

“Bukan kau, tapi Park Ok Rak,” kata Dokter Oh. Pffft...

Kenapa ia pergi ke sana? Tidak mungkin hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Kang Tae berkata ia berharap memang itu yang terjadi. Bahwa ia hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun dan tidak ada lagi yang terjadi pada mereka.

Mun Yeong tersenyum mengingat kiss semalam. Ia mengambil gamabr Sang Tae dan memutuskan melakukan sesuatu. Ia pergi ke resto pizza Jae Su dan memesan banyak pizza. Jae Su yang tadinya terlihat sebal langsung berganti sikap hormat. Ia juga mengijinkan Sang Tae berbicara dengan Mun Yeong.

Mun Yeong mengeluarkan gambar yang diberikan padanya kemarin. Bukan diberikan tapi dibuang, kata Sang Tae. Mun Yeong berkata gambar itu memberinya ide untuk bukunya berikutnya. Kisah tiga orang yang berpetualang mencari sesuatu yang hilang dari mereka.

“Ah pasti menyenangkan,” kata Sang Tae.

“Benar bukan?” kata Mun Yeong bersemangat.

Tapi bukan cerita Mun Yeong yang dianggapnya menarik. Hmmm...tapi menurutku bisa saja ia menganggap menarik cerita Mun Yeong. Sama seperti pada malam ia mengatakan menyukai Kang Tae tapi sambil berbicara pada ibu Dooly seolah-olah yang ia sukai adalah ibu Dooly.

Kang Tae sudah menceritakan pada Dokter Oh masa lalunya, bagaimana trauma membuat Sang Tae tidak mau menggambar kupu-kupu. Dokter Oh tidak menyangka ceritanya semengejutkan itu. Tapi kenapa Kang Tae tiba-tiba menceritakan semuanya padanya?

Kang Tae berkata Dokter Oh pernah bilang kalau seseorang harus menghadapi ingatan traumatiknya untuk bisa melewatinya. Ia memohon agar Dokter Oh membantu kakaknya menghadapi traumanya. Dokter Oh senang karena Kang Tae percaya padanya. Bahkan banyak dokter yang satu bidang dengannya berpendapat kalau ia aneh dan gadungan. Kang Tae berkata Sang Tae akan langsung tahu jika Dokter Oh benar-benar gadungan.

Tak mempan, Mun Yeong menggunakan cara lama. Meminta denda pemutusan kontrak jika Sang Tae menolak menjadi ilustratornya. Tiga kali lipat. Sang Tae bingung, dapat mobil camping saja belum. Mun Yeong berkata ia sudah menyediakan tempat tingal dan makanan. Dan bersama Kang Tae maka jadi enam kali lipat. Pilihan di tangan Sang Tae, bayar ganti rugi atau menggambar untuknya.

Jae Su menelepon Kang Tae dan berkata Mun Yeong orang yang sangat hebat. Kang Tae heran karena biasanya Jae Su benci Mun Yeong. Jae su berkata ia suka orang yang murah hati (beli pizza banyak) dan tegas. Benar-benar tipenya. Kang Tae bertanya-tanya apa yang direncanakan Mun Yeong.

Saat Sang Tae pergi ke rumah sakit pun Mun Yeong terus mengikutinya sambil membawa dua tumpuk kotak pizza. Sang Tae tidak mempedulikan semua ocehan Mun Yeong. Ganti taktik, Mun Yeong mengingatkan kalau mereka adalah sahabat. Sang Tae adalah penggemarnya. Penggemar harus setia. Sebuah janji tidak bisa dianggap remeh.

Tapi Sang Tae terus mengabaikannya hingga Mun Yeong marah dan berteriak padanya. Sang Tae berkata Mun Yeong tidak boleh memiliki Kang Tae.

“Kang Tae bukan benda yang bisa kita lempar sana sini,” Mun Yeong mencoba menasihati.

“Benar, dia adalah adikku.”

“Tepat, hanya adikmu.”

Sang Tae berkata Kang Tae adalah miliknya. Kang Tae milik Kang Tae, kata Mun Yeong. Sang Tae berkeras Kang Tae miliknya karena ia kakaknya. Mun Yeong berkata ia kesal mendengar kata “kakak”. Sang Tae berkata Mun Yeong hanya “orang asing”.

Mereka berhenti saat ada barisan anak sekolah lewat. Sang Tae mengikuti mereka dan berkata mereka tidak bertengkar, hanya tidak sependapat.

 Mun Yeong menaruh tumpukan kotak pizza di meja. Ia mengadu pada Kang Tae kalau ia sudah meminta baik-baik dan membujuk dengan sikap baik. Lebih seperti mengancam, kata Kang Tae. Mun Yeong menganggap Jae Su yang mengadu tapi Kang Tae berkata ia tidak perlu tanya Jae Su segala untuk tahu.

Mun Yeong berkata kalau begitu Kang Tae pasti tahu perasaannya saat ini. Perasaan pria yang memohon pada para calon mertua agar bisa menikahi puteri mereka.

“Tapi tanpa ijinnya, kita tidak bisa tinggal bersama,” goda Kang Tae. Jae Su saja membutuhkan waktu 10 tahun untuk bisa dekat dengan kakaknya.

Mun Yeong terkejut. Sepuluh tahun.

“Tunggu saja.”

“Tunggu 10 tahun? Apa kau gila?”

“Bukan, tunggu di sini. Aku akan mengantar semua ini di ruang perawat,” kata Kang Tae mengambil tumpukan pizza.

Setelahnya, Mun Yeong bertanya apa benar-benar membutuhkan waktu 10 tahun. Kang Tae berkata Mun Yeong membutuhkan waktu lebih lama karena Sang Tae sudah memiliki kesan buruk terhadapnya. Mun Yeong berkata ia tidak bisa menunggu selama itu. Ia menolak.

Kang Tae mengajaknya duduk. Ia berkata bagi Sang Tae, hanya dirinya satu-satunya keluarganya. Ia takut Mun Yeong mengambil Kang Tae darinya dan ia dibiarkan sendiri. Apa yang harus kulakukan, tanya Mun Yeong bingung.

“Kita harus mendapatkan kepercayaannya. Bahwa kau tidak merampasku darinya. Melainkan ia memiliki satu adik lagi yang akan tinggal di sisinya. Bahwa kau bukan orang asing tapi menjadi salah satu dari kami. Dapatkan rasa percayanya.”

Mun Yeong tersenyum dan berkata ia akan berusaha. Kang Tae mewanti-wanti Mun Yeong agr mengunci pintu saat sendirian dan tidak membiarkan orang asing masuk dalam rumah. Mun Yeong mengiyakan. Anak baik, Kang Tae mengelus rambutnya sambil tersenyum. Mun Yeong tersenyum senang.

Para perawat sedang membicarakan ayah Mun Yeong di ruang perawat. Ternyata tumor otaknya kambuh dan sudah menyebar ke bagian dalam. Dan kali ini operasi pun tidak berguna. Kang Tae juga mendengar kabar tersebut.

Ibu Ju Ri heran melihat Ju Ri pulang kerja lebih awal. Ju Ri berkata ia ada janji. Dengan siapa? Sekilas Ju Ri berkata dengan Direktur Lee. Ibu Ju Ri senang bukan main dan memakaikan lipstick ke bibir puterinya. Pergi kencan setidaknya harus mengenakan make up. Ia bahkan menasihati puterinya agar pulang selama mungkin.

Ketika Direktur Lee mengomentari ia mengenakan make up, Ju Ri beralasan ia tiap hari mengenakan make up. Direktur Lee berkata Ju Ri cantik setiap hari, pakai make up ataupun tidak.

Ju Ri bertanya apakah Mun Yeong memiliki anggota keluarga lain selain ayahnya. Direktur Lee berkata seandainya ada orang dewasa yang bisa merawatnya, ia tidak akan tumbuh begitu berbeda. Ia bertanya apa hasil tes ayah Mun Yeong begitu buruk. Ju Ri berkata operasi sepertinya tidak bisa dilakukan lagi. Direktur Lee berkata ia akan melihat keadaan dulu dan mencari waktu terbaik untuk memberitahu Mun Yeong.

Ketika Ju Ri ingin bertanya tentang Kang Tae, Direktur Lee cepat-cepat berkata kalau mereka sudah cukup membicarakan Kang Tae dan Mun Yeong. Ia ingin membicarakan Ju Ri dan Sang In (nama Direktur Lee).

“Biarkan mereka bersenang-senang sendiri. Banyak yang ingin kuketahui tentang Nam Ju Ri. Sejak kapan lipstick pink begitu cocok denganmu? Kenapa kau berubah menjadi orang lain saat mabuk? Juga siapa yang mengajarimu memaki seperti itu?”

Ju Ri tertawa dan mulai bercerita.

Sang Tae duduk di dalam lemari dan menghitung semua uangnya. Ia harus mengumpulkan banyak uang untuk membayar ganti rugi pada Mun Yeong. Kang Tae memanggilnya dan bertanya apa yang ia lakukan karena cuaca sedang panas. Sang Tae keluar dan berkata Jae Su memberinya banyak bonus hari ini.

“Seseorang pasti membeli banyak pizza,” kata Kang Tae.

“Penulis Go Mun Yeong, dia sangat kaya,” kata Sang Tae.

Kang Tae pura-pura bertanya untuk apa Mun Yeong datang ke resto pizza. Tentu saja beli pizza, kata Sang Tae. Tak mau memberitahu alasan sebenarnya.

Seung Jae muncul di rumah Mun Yeong. Awalnya Mun Yeong bersikap dingin seperti biasa. Tapi begitu mendengar Kang Tae yang menyuruhnya, sikapnya berubah 180 derajat. Seung Jae berkata Kang Tae menelepon Direktur Lee dan menanyakan apakah ia boleh bekerja dari rumah Mun Yeong. Direktur Lee juga senang Mun Yeong akan memulai buku barunya jadi ia dikirim untuk membantu sementara waktu.

Mun Yeong berkata ia tidak memerlukan sesuatu tapi ia memiliki pertanyaan. Semalam ada orang mengaku penggemar ibunya tapi tahu hari ulang tahunnya. Bukankah itu aneh?

Seung Jae berkata itu sama sekali tidak aneh. Dulu ia penggemar Tony anggota H.O.T  dan ia mengucapkan selamat ulang tahun pada semua anggota keluarganya. Ia bahkan membelikan hadian dan menunggu di depan rumah hingga manajer mereka benar-benar marah padanya. Setelah grup itu bubar, ia masih berkeliaran di sana sini untuk melihat mereka. Seung Jae itu sasaeng? XD

“Tapi kalau kau penggemar H.O.T, sebenarnya berapa usiamu?”

Seung Jae langsung mengucapkan selamat malam.

Kang Tae menemani SangTae menonton Dooly. Ia bertanya kenapa Ko Gil Dong membiarkan Dooly dan teman-temannya tinggal bersamanya meski ia selalu marah pada mereka.

“Karena ia wali mereka. Ia orang dewasa.”

“Tapi mereka kan bukan keluarga,” kata Kang Tae.

“Benar. Mereka tidak bermarga sama. Tidak berhubungan satu sama lain. Jadi mereka orang asing.”

“Jika mereka orang asing, kenapa ia membiarkan mereka tinggal bersamanya?’

“Karena ia wali mereka. Ia orang dewasa.”

“Kakak juga orang dewasa, bukan?”

Sang Tae terdiam sejenak lalu mulai memperkenalkan diri dan usianya. Bahwa ia bukan anak kecil.

“Benar. Kakak seorang dewasa. Seorang dewasa seperti Ko Gil Dong, yang bisa menerima orang lain sebagai anggota keluarganya. Kak, apa kakak tahu? Aku juga berusaha sangat keras untuk menjadi orang dewasa.”

Sang Tae berkata Kang Tae juga bisa menjadi orang dewasa dengan berusaha. Yup, ia sudah sangaaaaat berusaha >,<

Dokter Oh melihat lukisan Sang Tae hampir selesai. Sang Tae bertanya berapa banyak Dokter Oh akan membayarnya untuk lukisan tersebut. Ia ingin dibayar pada hari ia menyelesaikan gambar tersebut. Tapi Dokter Oh mengeluh ia tidak melihat kupu-kupu padahal ia jelas-jelas mengatakan ingin lukisan sesuai situasi aslinya.

Sang Tae berkata ia tidak akan menggambar kupu-kupu. Ia tidak suka kupu-kupu. Kalau begitu lukisan itu belum bisa dianggap selesai, kata Dokter Oh. Dan karena belum selesai, ia tidak mau membayar.

Sang Tae kesal pada Dokter Oh dan menganggapnya penipu. Ia bahkan membereskan semua peralasan melukisnya dan membawanya pulang. Kang Tae bertanya kenapa Sang Tae berhenti padahal lukisannya belum selesai. Sang Tae berkata pokoknya ia tidak mau.

Di rumah pun ia terus ngambek dan merajuk. Ia tidak mau bicara saat Kang Tae mengajaknya bicara. Kang Tae kesal dan bertanya kenapa kakaknya tidak mau ke rumah sakit lagi dan tidak mau menemui Dokter Oh lagi. Sang Tae tetap diam.

“Apa kakak akan terus menghindar dan bersikap seperti anak kecil? Kukira Kakak sudah dewasa, ” tegur Kang Tae. Ia menghitung 1 sampai 3.

Sang Tae akhirnya menjawab kalau Dokter Oh itu penipu. Penipu yang lebih buruk dari penipu via pesan suara. Ia ingin masuk lemari untuk bersembunyi. Tapi kali ini Kang Tae tidak membiarkannya. Ia tidak akan lagi membiarkan kakaknya melarikan diri dari masalah. Ia memegangi kakaknya agar tidak masuk. Sang Tae malah menggigit tangan Kang Tae.

Kesakitan, Kang Tae memukuli punggung kakaknya dengan keras. Sang Tae berteriak kesakitan dan melepaskan diri.

“Sakit, kan? Rasanya sakit kan kalau dipukul? Kakak juga menyakitiku. Lihat bekas gigitannya,” Kang Tae menunjukkan tangannya.

“Kau memukulku? Kau memukul kakakmu? Beraninya kau memukul kakakmu!”

“Kakak juga menyakitiku! Rasanya sangat sakit ketika kakak menusuk kepalaku dengan pensil. Kakak mendorongku hingga membentur meja dan aku tidak bisa tidur semalaman. Apa kakak pikir aku diam karena aku senang disakiti? Aku tidak akan menahannya lagi. Sudah cukup!!”

Sang Tae menyuruh Kang Tae menghitung sampai 3 jika tidak bisa mengendalikan diri. Tidak, kakak yang hitung! Sang Tae berkata Kang Tae harus menurut pada kakaknya.

“Maka bersikaplah sebagai seorang kakak!!!” teriak Kang Tae sekuat tenaga.

Sang Tae terdiam. Beraninya Kang Tae membentaknya? Ia mulai memukuli Kang Tae lagi seperrti ketika di rumah Mun Yeong. Tapi Kang Tae benar-benar tidak bertahan kali ini. Ia melawan sekuat tenaga dan balas memukul saat ada kesempatan.

Meski setelahnya babak belur dan hidung berdarah, Kang Tae masih bisa tertawa. Jae Su heran dengannya. Kang Tae berkata ia tidak benar-benar peduli kakaknya memukulnya. Tapi sekarang setelah melawan, rasanya sangat melegakan.

“Virus gila ternyata sangat kuat,” sindir Jae Su. Ia berkata Kang Tae berubah sangat banyak.

“Jae Su..”

“Siapa kau? Apa aku mengenamu?”

“Inilah diriku yang sebenarnya,” kata Kang Tae tersenyum,” Mun Kang Tae milik Mun Kang Tae...”

Sang Tae diobati oleh Ju Ri dan ibunya. Sang Tae ngambek dan berkata Kang Tae bukan adiknya lagi. Mereka sekarang orang asing.

“Kalian orang asing? Kalau begitu, mengapa Ibu tidak adopsi saja Kang Tae sebagai putera Ibu?” kata Ju Ri pada ibunya.

“Tentu saja aku senang. Terima kasih, Sang Tae. Aku akan menganggapnya sebagai puteraku sendiri sekarang,” kata ibu Ju Ri.

“Tidak boleh,” gumam Sang Tae pelan.

Malamnya, saat Sang Tae sudah tidur, Kang Tae menempelkan plester pada luka kakaknya. Pada Jae Su tadi ia mengatakan kalau ia dan kakaknya sudah terlalu lama hanya berdua saja. Sudah waktunya bagi mereka untuk belajar bersosialisasi dengan orang lain.

“Tapi kenapa dengan Go Mun Yeong?” tanya Jae Su.

“Karena ia orang paling kesepian yang kukenal. Aku akan mulai darinya.”

Mun Yeong mengirim rentetan pesan pada Kang Tae. Meski sudah dibaca, Kang Tae tidak membalasnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras di pintu. Sangat keras dan mencurigakan. Mun Yeong turun dan melihat Seung Jae masih tidur, tidak terganggu oleh suara itu.

Suara ketukan itu terdengar lagi. Bahkan lebih keras. Mun Yeong mengambil sekop perapian dan pelan-pelan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu sambil menghunus sekopnya. Tidak ada orang.

Ketika ia kembali masuk tiba-tiba sekopnya ditarik dan direbut. Lalu orang tersebut membuka pintu. Mun Yeong terkejut melihat orang di depannya. Kang Tae memarahi Mun Yeong karena membuka pintu untuk orang asing. Mun Yeong tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

Kang Tae membawanya makan di luar. Mun Yeong menanyakan apa yang terjadi pada wajah Kang Tae. Kang Tae berkata ia berkelahi. Dengan pasien? Aku pasti akan dipecat, kata Kang Tae. Lalu dengan siapa?

“Memangnya apa yang akan kaulakukan?”

“Aku akan memukuli mereka,” kata Mun Yeong tegas.

Kang Tae tersenyum geli. Dengan kakakku, jawabnya. Giliran Mun Yeong yang kaget. Kang Te memukul Sang Tae?

“Kami berkelahi. Dia lebih banyak memukulku daripada aku.”

Tanpa disangka Mun Yeong malah memarahi Kang Tae karena berkelahi dengan Sang Tae padahal mereka kan berencana memberitahu Sang Tae kalau ia akan mendapat teman baru. Jadi apa yang akan Kang Tae lakukan sekarang? Tidak tahu, aku Kang Tae.

“Bukannya kau yang menyuruhku berpikir dulu sebelum bertindak?” sindir Mun Yeong.

“Dan kau mengatakan padaku bukanlah hal buruk bergerak sesuai insting,” balas Kang Tae.

Mun Yeong menyarankannagar Kang Tae jujur saja pada Sang Tae. Bahwa Kang Tae menyukai Mun Yeong dan tidak bisa hidup tanpanya. Sederhana.

“Aku menyukai Go Mun Yeong....”

Mun Yeong berseri-seri mendengar kata-kata itu.

“Apa yang akan kakak katakan jika aku mengatakan demikian?’” sambung Kang Tae.

Mun Yeong  bertanya kapan Kang Tae berhenti memperhatikan kakaknya dan mulai memperhatikan dirinya sendiri. Apa Kang Tae tidak punya impian? Sesuatu yang ingin ia lakukan.

Kang Tae berkata ia memiliki 3 keinginan dan dua di antaranya sudah terwujud. Pertama, jalan-jalan bukan pindah rumah. Kedua, ingin berkelahi bersama kakaknya. Kedengarannya payah tapi ia senang sekali setelah melakukannya karena ia merasa akhirnya ia hidup normal.

Mun Yeong tersenyum lembut. Ia bertanya apa impian ketiga Kang Tae. Ia akan mewujudkannya sekarang karena Kang Tae menemuinya. Kang Tae tersenyum menggeleng dan berkata sudah terlambat. Ia menunjuka sekumpulan anak sekolah yang sedang makan di pojok resto. Impiannya adalah pergi sekolah memakai seragam.

Kang Tae berseragam sekolah terbangun di restoran. Teman-temannya berisik mengobrol. Ia melirik gadis yang duduk sendirian di meja seberang. Namanya Go Mun Yeong.

Ketika gadis itu keluar resto, ia berdiri dan cepat-cepat mengejar tanpa menghiraukan teman-temannya. Ia memanggilnya dan mencoba mengajaknya berbicara. Tapi ia sangat gugup. Kemunculan kakaknya secara tiba-tiba juga tidak membantu.

Gadis itu akhirnya pergi. Kang Tae melepaskan diri dari kakaknya dengan kesal karena sudah mengganggunya. Kakaknya melihat gadis itu dan mengerti. Ia memanggil gadis itu.

“Permisi. Hei kau gadis berambut pendek.”

Gadis itu berhenti dan menoleh.

“Adikku ingin mengatakan sesuatu. Apa kau bisa meluangkan waktu?”

Kang Tae meminta kakaknya berhenti karena ia malu. Tapi gadis itu berjalan menghampiri mereka.

“Jadilah pria sejati. Buatlah ia terkesan,” pesan Sang Tae.

Tapi Kang Tae sangat gugup hingga ia bahkan tidak bisa mengucapkan sebuah kalimat utuh.

“Aku mengenalmu,” kata Go Mun Yeong. “Aku melihatmu di sekolah.”

“Dia mengenalmu,” ledek Sang Tae, “Selamat, semoga beruntung.”

Semua itu adalah mimpi Kang Tae. Kak, ia mengigau. Sang Tae terbangun.  

“Aku...aku sangat menyukainya. Aku menyukainya,” igau Kang Tae.

Sang Tae bingung. Ia mengamati wajah adiknya lalu membandingkannya dengan gambar panduan ekspresi.

“Bahagia. Ia bahagia,” gumam Sang Tae.

Dan itu membuat Sang Tae ikut bahagia. Ia terus mengamati wajah adiknya. Ia tidak pernah melihat ekspresi Kang Tae seperti itu. Ini adalah pertama kalinya.

Seung Jae mengeluh ia tidak cocok dengan rumah Mun Yeong. Ia bermimpi buruk semalaman dan merinding. Err....tapi gedoran keras ngga efek ;p

Direktur Lee menemui Mun Yeong untuk menanyakan buku barunya. Cerita tentang apa kali ini? Mun Yeong menyerahkan gambar Sang Tae. Ia berkata ia belum memiliki alur ceritanya. Judulnya? Belum ada. Pesan moral? Tidak yakin. Kapan selesai? Kapan-kapan. Jadi belum ada yang jelas.

Hanya satu yang jelas. Siapa ilustratornya? Sahabatku, kata Mun Yeong.

Sang Tae menghitung uangnya lalu menelepon Kang Tae. Sebelum Kang Tae sempat bertanya, Sang Tae bertanya duluan apakah Kang Tae sudah makan. Kang Tae terdiam sejenak. Ini pertama kalinya kakaknya yang bertanya duluan. Ia berkata ia belum makan karena ada pasien darurat.

“Apa kau lapar?” tanya Sang Tae.

“Kelaparan,” kata Kang Tae.

“Datanglah ke restoran We Are Family jam 6 sore.”

Direktur Lee memberitahu Mun Yeong mengenai kondisi ayahnya. Mun Yeong berkata ayahnya sudah mati ketika ia berumur 12 tahun. Ayahnya sudah mati, yang tersisa hanyalah tubuhnya. Direktur Lee mencoba menasihati kalau otak ayah Mun Yeong rusak. Karena itu ingatannya kacau balau. Dan lagi ayahnya adalah satu-satunya keluarga Mun Yeong.

“Keluarga? Aku yatim piatu.”

Ia tak mau membicarakannya lagi.

Namun ketika ia beristirahat di kamar, ia melhat fotonya, dan foto ayahnya yang terlipat. Ia menelepon Kang Tae dan mengajaknya makan bersama. Ketika mendengar Kang Tae akan makan dengan Sang Tae, ia langsung ingin ikut.

Kang Tae mengamati kakaknya memotongkan daging untuknya. Kakaknya juga bertanya apa ia sudah membersihkan tangan sebelum makan. Sang Tae juga memberikan potongan daging untuk adiknya, sampai potongan terakhir pun ia berikan. Ingat kan kalau Sang Tae ini paling anti bagi-bagi makanan dia^^

Kang Tae tersenyum sepanjang waktu melihat kakaknya. Sang Tae mengeluarkan kotak uangnya untuk membayar makan malam mereka. Bahkan ia memberikan uang saku untuk Kang Tae dan menasihatinya untuk berhemat. Ia akan memberi lagi kalau kurang.

Kang Tae sangat terharu menerima uang saku pertama kali dalam hidupnya. Ia berterimakasih suungguh-sungguh.

Dalam perjalanan keluar restoran, tiba-tiba ada  tangan terulur ke arah Sang Tae. Mun Yeong mengulurkan bonnya dan meminta Sang Tae membayarinya juga. Kang Tae Sang Tae berdua makan sekitar 26 ribu won, Mun Yeong sendirian 46 ribu won XD

Sang Tae tidak mempedulikannya dan berjalan keluar. Mun Yeong langsung mengejarnya, tanpa membayar. Terpaksa Kang Tae yang membayar hahaha...langsung habis uang sakunya gara-gara pacar^^

Mun Yeong meminta uang saku juga. Tidak pernah ada yang memberinya hal semacam itu karena ia yatim piatu. Ia juga tidak punya keluarga untuk diajak makan bersama. Sang Tae menatap Kang Tae dan mengajaknya pulang.

“Oppa, aku juga ingin punya kakak sepertimu!!” teriak Mun Yeong.

Sang Tae berhenti dan menoleh. Ia nampak ragu

“Kang Tae, ayo cepat!” serunya.

Mun Yeong menunduk sedih. Kang Tae tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak tega meninggalkan Mun Yeong juga.

“Go Mun Yeong!!” tiba-tiba Sang Tae berteriak.  “Cepat ke sini. Go Mun Yeong, Mun Kang Tae! Ayo cepat!”

Kang Tae dan Mun  Yeong langsung tersenyum cerah. Mereka berlari menghampiri Sang Tae dan menggandengnya.

Kang Tae pernah bertanya pada kakaknya apa kakaknya tahu dongeng berjudul Itik Buruk Rupa. Itik yang lain kejam pada itik yang buruk rupa. Mereka membullynya karena ia berbeda dari mereka. Jadi ia sangat kesepian dan akhirnya meninggalkan keluarganya (ternyata itik buruk rupa itu seekor angsa).

“Apa yang terjadi jika ibu itik memberikan banyak cinta pada itik yang buruk rupa?”

“Maka ia tidak akan pergi.”

“Jika yang dewasa merangkul anak-anak,  itik dan angsa bisa hidup bersama dengan rukun.”

Sang Tae dan Kang Tae kembali tinggal di rumah Mun Yeong. Mun Yeong sangat gembira menyambut mereka. Sang Tae mengembalikan Mang Tae pada Mun Yeong.

Sebelum tidur, Kang Tae bertanya apa kakaknya seorang dewasa yang tahu bagaimana merangkul orang lain.

“Iya, aku orang dewasa. Aku seorang dewasa seperti Ko Gil Dong,” kata Sang Tae sebelum terlelap.

Namun tanpa diketahui siapapun, seseorang masuk ruang bawah tanah. Seorang wanita dengan potongan rambut meniru Mun Yeong. Dan ia menghantui Kang Tae dan Mun Yeong dengan bayangan kupu-kupu.

Komentar:

Episode ini paling favorit menurutku. Kang Tae berani memutuskan untuk tetap bersama kakaknya, juga bersama Mun Yeong. Mun Yeong juga belajar untuk toleransi dengan mengikuti apa yang Kang Tae inginkan. Dan Sang Tae belajar menjadi dewasa dan menjadi kakak sesungguhnya, bukan secara usia.

Kang Tae akhirnya bisa menjadi dirinya sendiri dan ia merasa lebih bahagia. Ju Ri bisa move on dan sepertinya ia akan baik-baik saja bersama Direktur Lee.

Tapi kebahagiaan dalam drama yang belum tamat biasanya menandakan badai besar akan datamg. Apalagi kemunculan seorang wanita di akhir episode dengan bayangan kupu-kupu. Sudah saatnya mengungkap misteri di balik kematian ibu Mun Yeong dan Kang Tae bukan?

Selama ini aku tidak terlalu membahasnya karena aku merasa perkembangan karakter mereka jauh lebih penting dibandingkan misteri kematian itu. Dan aku selalu tidak curiga pada Perawat Park karena ia seorang perawat yang baik dan kompeten. Tapi perkataannya yang mengatakan Park Ok Ran tidak akan kembali mulai mengusikku. Apakah karena ia mengira Ok Ran akan ditangkap polisi hingga tak bisa kembali? Atau ia tahu lebih dari itu?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)