Selasa, 20 Desember 2016

Sinopsis Legend of The Blue Sea Episode 8

snap-00288

Joon Jae kembali ke rumah untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Ia mendengar sesuatu dari arah kolam dan berjalan menghampiri. Chung yang baru saja keluar dari permukaan air menoleh dan terkejut melihat Joon Jae. Dengan panik ia berteriak agar Joon Jae tidak mendekat.

Joon Jae berhenti dan ternganga melihat Chung berada di dalam kolam. Melihat tak ada sehelai benang pun di bagian atas tubuh Chung, ia mengira Chung berenang tanpa pakaian. Saking kagetnya ia bertanya apa yang Chung lakukan di sana.

Chung takut Joon Jae mengetahui jati dirinya yang sebenarnya dan menyuruh Joon Jae menjauh. Joon Jae memejamkan matanya dan berkata ia tidak akan melihat. Tapi lalu ia bertanya memangnya Chung mengira ia orang seperti apa.

Chung berteriak menyuruhnya berbalik dengan galak. Joon Jae membalikkan tubuhnya sambil mengomel Chung seharusnya membersihkan rumah bukan main-main di dalam air. Ia hendak menutup pintu ke arah kolam tapi Chung kembali panik. Ia melarang Joon Jae melakukan apapun, bahkan bertanya sekalipun.

snap-00003snap-00008

Ia berhasil meraih kimono dan mengenakannya setelah naik dari kolam. Ia bertanya Joon Jae tadi hendak menanyakan apa. Joon Jae sendiri lupa ia tadi ingin bertanya apa. Ia malah memarahi Chung karena bersikap begitu ceroboh dalam rumah yang dihuni para pria.

Chung balik memarahi Joon Jae yang tiba-tiba balik ke rumah tanpa pemberitahuan padahal baru saja pergi. Joon Jae menunduk seperti anak yang dimarahi, lalu ia tersadar.

“Ini rumahku. Rumah ini ada supaya aku bisa keluar dan masuk kapan saja. Jadi siapa yang harus berhati-hati?”

“Kau.”

“Bukan, tentu saja kau! Dan lagi kau benar-benar beruntung aku yang masuk ke rumah. Coba bayangkan apa yang akan terjadi jika yang lain yang ada di sini.”

“Kenapa kalau kau jadi beruntung?” tanya Chung.

Joon Jae tak bisa menjelaskan. Ia menyuruh Chung segera berganti pakaian. Chung berkata ia hanya bisa berganti pakaian jika Joon Jae pergi. Dengan menurut Joon Jae keluar dari rumah. Chung menarik nafas lega.

snap-00014snap-00017

Nam Doo mengeluh karena Joon Jae pergi sangat lama. Ia bertanya apakah Joon Jae sudah mengambil ponselnya. Joon Jae tidak berniat kembali untuk mengambil ponselnya dan berkata sebaiknya mereka pergi saja.

“Ah, tunggu...tunggu sebentar. Aku mau membuat pengumuman. Mulai sekarang saat kalian pulang, bunyikan bel setidaknya satu kali sebelum masuk ke rumah.”

Nam Doo dan Tae Oh berpandangan. Nam Doo bertanya apa alasannya. Joon Jae berkata ia juga akan melakukan hal yang sama. Terlebih lagi sebaiknya mereka membuat suara untuk menunjukkan kedatangan mereka. Nam Doo kembali bertanya apa alasannya. Joon Jae berkata ia adalah pemilik rumah jadi mereka tidak usah mempertanyakan alasannya.

snap-00024snap-00027

Chung bercerita pada Jeong Hoon apa yang terjadi pagi tadi. Jeong Hoo mengingatkan akan terjadi maslaah besar jika Chung ketahuan. Ia berkata Joon Jae akan terus bertanya ini itu agar Chung mengungkapkan rahasianya.

Chung berkata itu sudah terjadi sekarang karena Joon Jae terus menanyakan apa yang terjadi di papnyol dan mengancam akan mengusirnya. Jeong Hoon berkata Chung tidak boleh menyerah dan mengaku. Untungnya di dunia manusia ada yang namanya kebohongan.

Ia berkata kebohongan tidak ada dalam dunia mereka di bawah lauta. Karena begitu mereka memikirkan semua, semua duyung dalam radius 10 km mengethaui apa yang mereka pikirkan. Setidaknya di darat mereka bisa menyembunyikan perasaan mereka.

“Apa manusia benar-benar suka berbohong?” tanya Chung.

“Mereka bukan hanya banyak berbohong, tapi mereka berbohong setiap kali membuka mulut mereka.”

snap-00032snap-00033

Ia menunjuk sebuah iklan toko yang menawarkan ponsel gratis 100% karena bos toko itu gila. Ia bertanya apa menurut Chung bos itu benar-benar gila.

“Bukan itu artinya?”

Tentu saja bukan, kata Jeong Hoon. Bos toko itu hanya menggunakan segala cara agar mereka masuk ke toko tersebut dan membelanjakan uang mereka. Begitu juga dengan para pelayan toko di mall yang memuji semua pakaian yang kita coba sangat cocok kita kenakan. Apa itu artinya semua pakaian itu cocok untuk mereka?

“Itu artinya, karena aku sudah memuji kau harus tahu diri dan membeli sesuatu.”

Chung mengangguk mengerti.

“Dan ini yang terpenting. Di tempat ini, kata cinta sangatlah umum. Tapi kau tidak boleh tertipu. Mengatakan cinta bukan berarti mereka benar-benar mencintaimu. Mau bukti?”

Jeong Hoon menelepon nomor informasi 114 dan operator langsung menyapa dengan mengucapkan “saranghamnida”. Jeong Hoon meminta maaf dan menutup telepon. Ia berkata jika Chung mudah jatuh dalam kata—kata cinta maka akan jadi masalah besar.

Chung bertanya bagaimana ia bisa tahu orang berbohong atau tidak. Jeong Hoon menjawab tidak mudah mengetahuinya.

“Salah satu cara yang kutemukan sejauh ini adalah orang yang berbohong biasanya tidak bisa menatap mata kita, berbicara gugup, atau menyentuh telinga mereka. Terkadang mereka menyentuh bibir mereka atau menyilangkan tangan di dada sebagai bentuk pembelaan.”

Chung mengangguk.

snap-00049snap-00054

Dalam perjalanan, Nam Doo berkata akhir-akhir ini Joon Jae terlihat sangat memperhatikan Chung.

“Sama sekali tidak,” kata Joon Jae sambi menyentuh bibirnya. Bukti 1.

Nam Doo berkata ini pertama kalinya ia melihat Joon Jae mengatur cara berpakaian seorang wanita.

“Ah, yang benar saja. Kau tahu aku juga mengatur caramu berpakaian. Dan juga aku mengamati pakaian Tae Oh. Hei, mengapa kau berpakaian sangat tipis? Perlukah aku membelikan parka?” tanya Joon Jae sambil menyentuh telinganya. Bukti 2 XD

Nam Doo dan Tae Oh tentu saja tidak percaya. Joon Jae meminta mereka menurunkannya di depan museum tempat Shi Ah bekerja karena ada yang harus ia urus.

snap-00056snap-00058

Shi Ah super gembira melihat Joon Jae datang. Joon Jae berkata ia ingin melihat relik bangkai kapal yang pernah diceritakan Shi Ah. Shi Ah tersipu Joon Jae mengingat perkataannya meski awalnya terlihat tak peduli.

Joon Jae berkata ia dengar dari Nam Doo kalau telah ditemukan Mok Gan pada kapal tersebut. Mok Gan adalah kotak kayu berisi catatan asal kapal tersebut, tempat tujuan dan tujuan perjalanan kapal tersebut. Shi Ah berkata pemilik semua barang itu adalah Kim Dam Ryeong.

Ia memperlihakant keramik bergambar pria berpakaian modern dan puteri duyung. Benda itu jelas dari jaman pertengahan Joseon tapi pakaian yang dikenakan pria itu dari jaman modern, seakan digambar dengan pemikiran akan masa depan. Belum lagi puteri duyung yang merupakan makhluk mistis.

Joon Jae mengenakan sarung tangannya lalu menyentuh keramik tersebut. Ia mengamati lukisan pada keramik itu dan sekelebat teringat saat ia tenggelam di laut ada sesosok puteri duyung berenang ke arahnya. Namun ingatan itu tidak terlalu jelas.

snap-00065snap-00069

Joon Jae menemui profesor yang sepertinya dekat dengannya. Ia menceritakan kalau akhir-akhir ia sering mengalami mimpi aneh berulang. Meski baginya terdengar gila, ia merasa pria berpakaian modern dalam lukisan keramik itu adalah dirinya.

Tapi itu bukan berarti ia sudah ingat (semua peristiwa di Spanyol). Ia sudah menerapkan banyak hipnotis singkat untuk menggali ingatan yang hilang tapi ini berbeda. Seakan hanya bagian tertentu dari ingatannya di Spanyol yang dihilangnya. Ia bertanya apakah kehilangan ingatan semacam ini memungkinkan.

Profesornya berkata hal ini tidak sepenuhnya tidak mungkin. Amnesia episodik mengenai orang atau kejadian tertentu bisa saja terjadi. Untuk itu ia membantu menghipnotis Joon Jae agar ingatannya kembali pada awal semua ini terjadi.

Dalam keadaan terhipnotis, Joon Jae melihat Dam Ryeong, sekilas bangsawan Yang, teman Dam Ryeong yang terkapar, dan terakhir Dam Ryeong yang berjalan menuntun seorang wanita. Wanita itu menoleh. Shim Chung (alias Se Hwa).

Joon Jae langsung terbangun. Profesor bertanya apa yang Joon Jae lihat dan apa Joon Jae sudah ingat. Tapi Joon Jae berkata ia ingat profesor itu pernah mengatakan kalau hipnotis bisa menarik ingatan bawah sadarnya, tapi juga bisa membawa keluar ilusi. Ia menganggap apa yang dilihatnya barusan adalah ilusi karena baginya sangat tidak masuk akal.

snap-00078snap-00083

Ketika ia pulang ke rumah ia melihat Chung sudah berdandan rapi. Ia langsung teringat wanita yang dilihatnya bersama Dam Ryeong. Ia berusaha mengenyahkan ingatan itu dan bertanya apakah Chung hendak pergi.

“Iya, aku....”

“Tidak apa-apa. Aku tidak perlu tahu, silakan pergi,” kata Joon Jae.

Chung berjalan ke pintu.

“Tapi mulai sekarang kita ada batasan jam malam,” Joon Jae mengumumkan.

Nam Doo dan Tae Oh yang duduk di ruang tamu ikut mendengar dan bertanya sampai jam berapa. Jam 8 malam. Ia berkata Chung harus pulang jam 8 atau mereka akan mengunci pintu dan tidak membiarkan Chung masuk.

Nam Doo berkata sekarang jam 7.30. Itu sih sama saja melarang Chung pergi. Joon Jae berkeras ia tidak melarang Chung pergi.

“Pergilah. Aku tidak mau tahu dengan siapa ia bertemu, pria manapun itu...” Ia terdiam. “Tunggu, aku tidak tahu ia akan bertemu seorang pria atau wanita. Pokoknya dengan siapapun ia bertemu ia harus pulang jam 8. Jika ia tidak suka, ia bisa pindah dari sini.”

snap-00084snap-00088

Nam Doo memperlihatkan buku bagaimana cara menjadi pegawai negeri dan bertanya buku siapa itu. Joon Jae berusaha merebutnya. Nam Doo bertanya apa Joon Jae ingin menjadi pegawai negeri. Joon Jae berlikah ia hanya berpikir buku itu bisa membantu pekerjaan mereka. Akhirnya ia berhasil merebut buku tersebut.

Melihat Chung tidak beranjak dari tempatnya, ia bertanya apa Chung tidak jadi pergi. Chung berkata ia tidak pergi. Ia akan pergi besok saja. Joon Jae berusaha menyembunyikan senyum senangnya. Ia pura-pura memasang tampang judes dan masuk ke dalam.

snap-00093snap-00095

Nam Doo bertanya ke mana Chung hendak pergi semalam ini. Chung berkata ia akan mencari uang. Ia menunjukkan kantung plastik yang dibawanya.

“Aku akan menukar ini dengan uang. Aku akan memberikan semua uangku pada Heo Joon Jae.”

Nam Doo tertawa dan bertanya apa itu. Tawanya berhenti begitu ia melihat kantung itu berisi banyak butiran mutiara. Ia memperlihatkan mutiara itu pada Tae Oh. Ia bertanya dari mana Chung mendapatkan semua itu. Dengan bangga Chung berkata ia mendapatkannya dari kerja keras.

Kerja kerasnya sama kaya aku...nonton banyak drama hahaha XD Bedanya aku mengumpulkan tulisan, Chung mengumpulkan air mata. Sayang tulisanku tidak berubah jadi mutiara ;p

Nam Doo bertanya pekerjaan apa yang bisa menghasilkan mutiara-mutiara berkualitas tinggi seperti itu. Ia berkata Chung semakin misterius saja. Ia bertanya bisakah Chung memberinya satu butir saja.

“Tidak,” jawab Chung galak. Haha...Chung kok pelit sama Nam Doo^^

Nam Doo berkata ia tidak akan mengambilnya dan hanya akan melihat. Perhatian Chung teralih pada rice cooker yang melaporkan kalau nasi sudah masak. Rupanya Chung masih suka mengajak bicara rice cooker dan memujinya. Tanpa ia ketahui, Nam Doo mengambil sebutir mutiara Chung.

snap-00106snap-00121

Keesokan paginya, Chung bertemu dengan Joeng Hoon. Jeong Hoon tiba-tiba memegangi dadanya yang terasa sakit. Chung mengkhawatirkannya. Jeong Hoon bertanya apakah Chung tahu kenapa ia bekerja sebagai pengawas sungai dalam cuaca sedingin ini.

“Karena kau tidak punya tempat tinggal?”

Jeong Hoon berkata ia memiliki apartemen luas dan hidup makmur (berkat air matanya). Ia ada di sini karena jantungnya hampir mencapai batasnya. Ia harus berada di dalam air beberapa jam sehari untuk bertahan hidup. Ia tidak tahu kapan jantungnya akan berhenti. Satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah kekasihnya kembali padanya tapi itu tidak mungkin karena kekasihnya sudah menikah dengan pria lain.

Chung menyuruhnya segera kembali ke laut daripada terus di darat. Jeong Hoon balik bertanya kalau begitu apa yang Chung lakukan di darat.

“Jika kau menghapus ingatannya karena kau ketahuan saat menyelamatkannya, maka kau seharusnya menganggapnya sebagai kenangan indah dan kembali ke laut tempat asalmu. Siapa yang menghargaimu karena menepati janji yang sudah dilupakan? Kenapa kau datang ke sini kalau begitu? Untuk bertahan dari semua kecurigaan dan perlakuan buruk yang hampir seperti penyiksaan, lalu bertanya-tanya kapan ia akan mencintaimu? Kembalilah saat kau masih memiliki kesempatan. Belum terlambat untukmu.”

snap-00124snap-00129

Chung nampak sedih. Ia bertanya kehidupan apa yang dijalaninya setelah ia kembali ke tempat asalnya. Ia akan merindukan Joon Jae. Jeong Hoon berkata ia juga nerasakan hal yang sama.

“Meski aku kembali, hidupku sebenarnya sudah berakhir. Mati di sini atau kembali pada kehidupan di mana tak ada kehidupan. Aku terlalu tahu kalau keduanya sama saja.”

Chung tidak bisa menahan air matanya. Jeong Hoon mengingatkan agar menampungnya dengan plastik.

Ia berkata ikan salem berenang kembali ke tempat asalnya karena insting. Begitu juga duyung naik ke darat mencari cinta mereka karena insting mereka. Ia berharap insting itu dilenyapkan.

“Aku ingin dilahirkan kembali sebagai manusia dalam kehidupanku selanjutnya dan mengencani banyak wanita. Terlalu kejam memiliki hati yang hanya ditujukan untuk satu orang.”

Chung bertanya berapa lama jantungnya bisa bertahan di darat. Jeong Hoon tidak tahu waktu pastinya tapi sudah 2 bulan berlalu sejak kekasihnya meninggalkannya. Jadi Chung bisa mengira-ngira setelah melihat berapa lama Jeong Hoon bertahan. Chung menatapnya dengan sedih.

“Jangan mengasihaniku. Karena ini adalah masa depanmu,” kata Jeong Hoon.

Chung kembali menangis.

snap-00141snap-00149

Detektif Hong mengadakan pengintaian di sekitar rumah Joon Jae. Tapi ia dan rekannya sama sekali tidak mencurigai seorang petugas kebersihan yang melewati mereka. Padahal itu adalah Ma Dae Young. Memangnya mereka pikir Ma Dae Young bakal melenggang santai tanpa penyamaran gitu??

Joon Jae menyeduh teh jeruk pemberian Manajer Nam. Ia kembali ingat pada mimpinya di mana seorang mirip Manajer Nam terluka di masa lalu. Ia mencoba menelepon kembali tapi ponselnya tidak aktif. Akhirnya ia meninggalkan pesan suara agar Manajer Nam meneleponnya.

Seorang pria mabuk membuang puntung rokoknya begitu saja ke jalan. Dae Young menegurnya. Pria itu marah tapi langsung terdiam begitu melihat Dae Young dan menurut memungut puntungnya lalu cepat-cepat pergi. Apa ia mengenali Dae Young? Atau karena Dae Young terlihat menakutkan?

Dae Young memiliki ponsel Manajer Nam. Ia membaca pesan Joon Jae dan membalas seakan-akan ia adalah Manajer Nam. Ia berkata ia harus pergi ke suatu tempat dan mengajak Joon Jae bertemu untuk membicarakan ayah Joon Jae. Joon Jae bertanya apakah Manajer Nam baik-baik saja. Dae Young berkata ia baik-baik saja dan mereka berjanji bertemu besok malam.

snap-00152snap-00157

Joon Jae menghela nafas lega mendengar Manajer Nam baik-baik. Terdengar suara Chung dari kamar atas menanyakan apa ia sudah tidur. Ia membuka pintu dan turun. Lalu duduk di tempat tidur Joon Jae. Ia berkata ada hal mendesak yang ingin ia tanyakan.

“Kapan kau pikir kau akan mulai menyukaiku?”

Haha...pertanyaan aneh^^

Chung berkata ia tahu Joon Jae tidak menyukainya sekarang tapi apakah memiliki rencana untuk mencintainya di masa yang akan datang.

“Tidak ada.”

“Tidak ada? Jangan menjawab terlalu cepat. Kau seharusnya memikirkannya lebih dulu sebelum menjawab. Apa kau benar-benar tidak memiliki rencana?”

Joon Jae menatap Chung. Chung tersenyum penuh harap,. Joon Jae berkata ia tidak tahu Chung bisa sebodoh ini sesuai dengan nama yang ia berikan padanya. Ia berkata ia tidak memiliki rencana untuk mencintai atau semacamnya sama sekali. Chung berkeras sepertinya Joon Jae sulit untuk menjawab pertanyaannya dan ia akan memberikan waktu lagi.

snap-00168snap-00169

“Jika kau memberiku waktu, apa aku harus menerimanya? Apakah menyukai seseorang bisa dilakukan hanya dalam waktu beberapa hari? Itu adalah hal tersulit di dunia ini.”

“Kenapa begitu?” tanya Chung.

Joon Jae terdiam sejenak. Ia berkata hal yang paling mudah di dunia ini adalah dikecewakan orang lain. Bahkan menyukai seseorang karena penampilan luarnya akhirnya akan kecewa juga. Begitulah manusia. Tidak ada satupun yang bisa mengatasi kekecewaaan, jadi mencintai adalah hal tersulit.

Chung tidak sependapat. Baginya mencintai adalah hal termudah. Meski ia berusaha keras untuk tidak mencintai, ia tidak berdaya dan tetap mencintai. Tidak peduli betapa inginnya ia merasa kecewa, ia tidak bisa merasa kecewa.

“Bagiku cinta mengatasi segalanya. Jika kau berencana untuk menyukaiku di masa yang akan datang, beritahu aku, Heo Joon Jae.”

Malam itu keduanya tidak bisa tidur.

snap-00180snap-00182

Meski terkesan tidak akur, mau tidak mau Shi Ah mengakui kepiawaian Jin Joo menarik hati ibunya alias ibu mertua Jin Joo. Ia sendiri tidak bisa menyenangkan ibunya. Jin Joo berkata rahasia mengendalikan hati seorang pria adalah memenangkan hati ibunya. Kakak Shi Ah yang sebelumnya sangat playboy pada akhirnya menikahinya karena ia yang paling baik memperlakukan ibunya.

“Jika kau ingin mendapatkan pria yang kaukirimi makanan itu, kau harus menangkap hati ibunya dulu.”

“Tapi ia tidak banyak membicarakan keluarganya. Ia tidak pernah membicarakan ibunya. Apa aku harus menanyakannya?”

Jin Joo menyarankan agar Shi Ah membuat pria itu (Joon Jae) mabuk dan menanyakan itu padanya.

Yoo Ran datang menyajiikan kopi untuk mereka berdua. Shi Ah langsung melepehkan kopinya begitu meminumnya karena itu bukan kopi yang biasa ia minum. Dengan tenang Yoo Ran berkata mereka kehabisan kopi merk itu.

Shi Ah kesal dan berkata ia sudah memberitahu Yoo Ran kalau ia tidak akan meminum kopi yang bukan impor. Yoo Ran berkata ia akan membeli lebih banyak kopi seperti itu.

“Baik sekali memikirkan para penanam kopi di negeri yang jauh. Tapi kurasa memiliki etika pada orang yang tinggal serumah juga sama pentingnya.”

“Ahjumma, apa kau sedang mengajariku?” ujar Shi Ah kesal.

“Aku tidak sedang mengajari, tapi jika Nona mempelajari sesuatu, aku senang.” Ha, love this woman^^

Shi Ah langsung protes pada kakak iparnya. Jin Joo berkata Yoo Ran memang selalu seperti itu jadi diabaikan saja. Ia mengalihkan Shi Ah kembali ke topik yang mereka bicarakan. Ia berkata Shi Ah harus menemukan ibu pria itu dan berteman dengannya. Andai dia tahu....

snap-00199snap-00205

Shi Ah pergi ke rumah Joon Jae dan menanyakan perihal ibu Joon Jae pada Nam Doo. Nam Doo berkata Joon Jae akan marah jika ia memberitahu Shi Ah. Ia ingin Shi Ah memberitahu dulu apa yang ditanyakan Joon Jae saat menemuinya di museum kemarin. Shi Ah berkata Joon Jae menanyakan kotak kayu (mok gan) dan ia menunjukkan sebuah gambar. Shi Ah menunjukkan gambar puteri duyung dan pria modern pada Nam Doo. Nam Doo memastikan pemilik keramik itu juga Dam Ryeong. Ia semakin merasa semua itu bukan kebetulan.

Shi Ah menagih janji Nam Doo untuk menceritakan soal ibu Joon Jae. Nam Doo berkata ia tidak tahu banyak. Setahunya mereka terpisah saat Joon Jae berusia 10 tahun dan masih mencari ibunya sampai saat ini. Nam Doo berkata ia tidak tahu di mana ibu Joon Jae bersembunyi karena tidak meninggalkan jejak apapun. Ia bertanya-tanya pakah ibu Joon Jae sudah meninggal.

“Aku ingin mencarikan ibunya untuknya. Di mana kau, Ibu? Aku yakin aku bisa memperlakukannya dengan sangat baik,” kata Shi Ah. Oh, the irony....

snap-00213snap-00218

Presdir Heo menelepon pengacaranya, Pengacara Lee untuk mengesahkan surat wasiatnya. Ia memastikan ia bisa mewariskan hartanya meski pewaris tidak hadir.

Tapi Pengacara Lee bersekongkol dengan Nyonya Kang. Ia memberitahu kalau Presdir Heo hendak mengesahkan wasiatnya dengan meninggalkan sebagian besar asetnya untuk Joon Jae. Nyonya Kang nampak kesal dan bertanya kenapa Presdir Heo harus buru-buru.

snap-00222snap-00224

Saat Shi Ah hendak pulang, Chung sudah menunggunya dan berkata ingin bicara. Nam Doo buru-buru menghindar begitu merasakan adanya aura ketegangan di antara mereka.

Chung berkata ada yang ingin ia tanyakan. Ia bertanya apa yang harus ia lakukan agar seorang pria menyukainya. Shi Ah berkata ia tidak tahu. Tapi Chung menghalanginya pergi.

“Kau tahu. Kau pasti tahu. Di depan Heo Joon Jae kau mengaitkan rambutmu seperti ini. Saat kau minum, jarimu jadi seperti ini. Aku melihat semuanya. Jadi apa lagi yang harus kulakukan?”

Shi Ah mengira Chung sedang mengoloknya dan mengajak bertengkar. Chung berkata ia hanya bertanya karena sedang buru-buru. Ia tidak punya waktu banyak agar Joon Jae balik menyukainya. Shi Ah mengira Chung memiliki batas waktu di rumah ini. Jadi ia memutuskan untuk “membantu”.

Ia menyilangkan tangan di dada dan berkata mudah untuk menarik hati Joon Jae. Joon Jae suka tidak melihat orang lain karena membuatnya merindukan orang itu. Ia berkata Joon Jae akan cepat bosan jika melihat Chung terus di hadapannya dan berkeliaran di rumahnya.

“Benarkah?” Chung tertawa mengejek. “Bohong.”

Shi Ah terkejut. Chung berkata Shi Ah sejak tadi tak menatapnya, menyentuh telinga dan rambutnya. Ia tahu itu adalah tanda orang yang sedang berbohong.

“Aku sekarang tahu bagaimana cara berurusan denganmu.. Aku hanya perlu melakukan kebalikan dari apa yang baru saja kaukatakan, kan? Kau boleh keluar sekarang. Aku akan menempel terus pada Heo Joon Jae.”

Shi Ah ternganga dan keluar sambil marah-marah.

snap-00238snap-00245

Chung mulai menempel Joon Jae terus menerus. Benar-benar menempel. Joon Jae bertanya ada apa dengan Chung hari ini. Chung berbisik apakah Joon Jae sudah mendapatkan rencana.

“Rencana untuk menyukaiku.”

Joon Jae hampir berteriak tapi ia sadar Tae oh ada di lantai atas sedang main game. Ia balas berbisik memangnya rencana itu bisa dibuat hanya satu hari. Chung berkata ia akan memberi waktu lagi dan ingin ikut ke perpustakaan. Ia terus menempel pada Joon Jae.

Setelah ia tahu Nam Doo sedang pergi dan memastikan Tae Oh tidak akan keluar rumah hari itu, Joon Jae memutuskan mengajak Chung ke perpustakaan. Karena ia tidak ingin Chung hanya berduaan dengan Tae Oh di rumah. Alasannya Chung sesekali harus belajar. Tae Oh melihat padanya sambil cemberut.

snap-00263snap-00277

Mereka tiba di perpustakaan. Ia menyuruh Chung duduk di sebuah meja lalu berjalan menuju rak.

“Heo Joon Jae!” panggil Chung. Semua orang langsung memberi isyarat agar tidak berisik.

Joon Jae berbisik Chung harus tenang di sini karena semua orang sedang belajar. Chung malah senang Joon Jae berdiri sangat dekat dengannya. Ia berbisik ia suka perpustakaan.

“Aku suka berbisik padamu seperti ini.”

Joon Jae diam-diam tersenyum simpul. Seorang gadis memberinya sebuah catatan. Ia mengira gadis itu menyukainya. Tapi ternyata gadis itu menegur mereka agar keluar dan bicara di luar perpustakaan karena berisik. Namun pada Chung ia berbohong gadis itu menyukainya dan berkata ia tampan.

Chung langsung merangsek maju. Joon Jae memeganginya. Chung malah kesenangan dipegangi seperti itu. Modus^^

snap-00287snap-00301

Joon Jae membaca catatan sejarah mengenai Dam Ryeong. Dam Ryeong hidup pada jaman pemerintahan Raja Seonjo Dinasti Joseon. Menikah dengan puteri seorang menteri dan setahun kemudian istrinya meninggal karena sakit.

Pada usia 26 tahun, Dam Ryeong ditunjuk menjadi walikota desa Hyupgok di Proponsi Gangwon. Pada tahun yang sama tanggal 11 Desember, Dam Ryeong tercatat meninggal pada usia 27 tahun (umur Korea memang ditambah 1 tahun).

snap-00303snap-00305

Dam Ryeong terbangun kaget. Ia bermimpi Joon Jae membaca catatan sejarahnya tersebut. Ia sedang menjagai Se Hwa yang masih tidak sadarkan diri bersama dengan seorang tabib. Tabib itu bertanya apakah Dam Ryeong bermimpi buruk. Dam Ryeong berkata akhir-akhir ini ia sering bermimpi buruk sampai ia takut untuk tidur. Ia sulit membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Tabib berkata itu pasti karena Dam Ryeong sedang kelelahan dan lemah.

Dam Ryeong teringat pada perkataan Joon Jae bahwa ia meninggal pada 11 Desember di tahun yang sama ia menjabat sebagai walikota. Ia bertanya pada tabib berapa hari lagi hingga bulan purnama di bulan Desember. Dua puluh hari lagi.

snap-00308snap-00309

Tabib berkata ia sudah memeriksa Se Hwa dan menemukan kalau ia bukan manusia biasa. Jika rumor yang beredar benar, maka Se Hwa benar-benar seorang puteri duyung dan sepertinya tidak akan bisa bertahan jika tinggal di darat. Ia menyarankan agar Dam Ryeong segera mengembalikan Se Hwa ke laut. Ia yakin itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Se Hwa.

Dam Ryeong meraih tangan Se Hwa lalu memakaikan gelang gioknya padanya. Dan itulah gelang yang sedang diamati Joon Jae sekarang. Ia bertanya-tanya kenapa Dam Ryeong meninggal pada usia yang masih sangat muda. Seusia dengannya.

Seorang anak memungut sebutir mutiara di lantai bagian buku anak-anak. Itu adalah air mata Chung yang menetes saat membaca dongeng puteri duyung (aku pernah menulis tentang kisah puteri duyung karya Hans Christian Andersen, silakan klik di sini)

snap-00320snap-00326

Chi Hyun menjenguk Manajer Nam di rumah sakit. Ia menghibur istri Manajer Nam agar tidak terlalu khawatir. Ia berkata setahunya Manajer Nam bukanlah seorang yang akan mengemudi dalam keadaan mabuk. Istri Manajer Nam sependapat.

Chi Hyun bertanya apakah kotak hitam mobil Manajer Nam tidak bisa ditemukan. Sayangnya tidak, begitu juga ponselnya. Tapi ponsel itu terdaftar atas nama istrinya dan istrinya sudah memeriksa semua catatan telepon dan tidak menemukan hal yang mencurigakan sebelum kecelakaan. Chi Hyun bertanya bisakah ia membawa catatan telepon tersebut. Ia akan memeriksanya.

Istri Manajer Nam sangat senang karena Chi Hyun bersedia membantu. Chi Hyun berkata ia memiliki tempan polisi dan penuntut umum, jadi ia akan bertanya pada mereka. Istri Manajer Nam berterima kasih.

“Nyonya memberitahuku agar tidak membesar-besarkan hal ini, jadi aku tidak tahu harus bertanya ke mana,” ia menangis.

Chi Hyun terkejut mendengar ibunya disebut. Ia meminta istri Manajer Nam agar tidak terlalu khawatir.

snap-00333snap-00337

Joon Jae menerima pesan dari “Manajer Nam” agar bertemu malam ini di alamat yang ia sebutkan. Ia hendak mengantar Chung pulang tapi Chung berkata ia akan pergi menemui temannya.

“Siapa? Si pegawai sipil?!”

Chung mengangguk. Joon Jae berkata Chung tidak boleh melupakan batas jam malam. Jika tidak, ia akan mengusir Chung. Chung hanya diam.

Nyonya Kang tiba-tiba menemui suaminya di kantor dan mengajaknya makan malam. Presdir Heo berkata ia sudah ada janji sebelumnya. Janji apa, tanya Nyonya Kang. Presdir Heo berbohong ia menghadiri acara pesta akhir tahun (padahal hendak menemui pengacara Lee). Nyonya Kang berkata tidak apa-apa karena ia mengusulkannya mendadak.

Dan secara “kebetulan” Pengacara Lee menelepon Presdir Heo dan meminta maaf mereka tidak bisa bertemu malam ini karena ada hal darurat di rumahnya. Presdir Heo mengiyakan dan berkata pada istrinya kalau mereka bisa makan bersama.

snap-00341snap-00343

Chung tiba di kantor Jeong Hoon namun ia tidak ada, melainkan ada beberapa rekan Jeong Hoon. Ia menanyakan Jeong Hoon. Petugas itu bertanya apakah Chung adalah Kim Hye Jin. Bukan, jawab Chung. Ia bertanya kenapa Jeong Hoon tidak ada hari ini.

Petugas itu berkata Jeong Hoon menyelamatkan orang yang terjatuh di Sungai Han beberapa hari lalu. Ia mengalami serangan jantung mendadak dan meninggal dalam perjalan ke rumah sakit.

Chung tertegun. Seorang wanita buru-buru masuk ke dalam dan bertanya apakah petugas itu yang meneleponnya. Ia adalah Kim Hye Jin (cameo Jung Yoo Mi). Ia bertanya apa yang terjadi pada Jeong Hoon.

“Kau bilang ia meninggal?”

“Maafkan aku. Ia pasti tahu sesuatu akan terjadi padanya. Aku tidak tahu bagaimana ia bisa tahu. Ia meninggalkan ini di lacinya dengan nomor teleponmu,” petugas itu menyerahkan sebuah kotak.

Hye Jin membuka kotak itu dan menemukan sebuah cincin dengan mutiara berwarna pink. Chung langsung ingat Jeon Hoon pernah memberitahunya ia hanya satu kali saja mengeluarkan mutiara semacam itu.

“Ketika ia tinggal di sini, ia satu kali menangis bahagia. Ia bilang ia sangat bahagia hingga ia menangis karena kau. Semua kenangan indah itu pasti ingin ia tinggalkan di sini,” katanya.

snap-00350snap-00358

Ia dan Hye Jin berbicara di pinggir sungai. Hye Jin tidak tahu Jeong Hoon memiliki seorang teman yang bisa diajak bicara mengenai jati dirinya seperti itu. Ia berkata Jeong Hoon penuh rahasia dengannya. Chung bertanya apakah Hye Jin meninggalkan Jeong Hoon karena membenci rahasia itu.

Hye Jin berkata rahasia dibuat karena adanya perbedaan. Karena tidak ingin ketahuan kalau kita berbeda. Tapi rahasia itu pada akhirnya menyakiti semua pihak. Orang yang merahasiakan dan dirahasiakan sama-sama terluka.

“Karena itu jika keduanya berbeda, pada akhirnya tidak akan bisa bersama.”

“Kalian tidak bisa bersama jika berbeda?” tanya Chung.

“Jika kau tahu kau hanya akan menyakiti yang lain, apakah kau bisa tetap bersamanya hanya dengan alasan kau mencintai orang itu?”

Chung berkata Jeong Hoon tidak pernah menyesali telah naik ke darat. Karena jantungnya hanya berdetak untuk satu orang, meski jantungnya mengeras dan mati ia tetap tidak menyesal.

“Ketika kutanya kenapa ia tidak menghapus ingatanmu setelah ia ketahuan? Ia berkata terlalu banyak kenangan indah untuk dihapus. Ia berharap kenangan indah itu akan tetap tinggal bersama orang yang ia cintai dan memberinya kekuatan.”

Hye Jin berusaha menahan tangisnya saat mendengar penuturan Chung. Ia cepat-cepat pamit. Namun baru beberapa langkah ia tak sanggup lagi dan menangis tersedu-sedu sambil memeluk kotak peninggalan Jeong Hoon.

Chung melihatnya dengan sedih lalu tiba-tiba ia merasakan sakit di dadanya.

snap-00375snap-00390

Joon Jae tiba di tempat yang diberitahukan oleh “Manajer Nam” dan mendapati itu sebuah gedung kosong. Curiga, ia mengambil senjata di mobil dan menelepon.

Ia berjalan masuk ke dalam gedung dan semakin curiga saat melihat kamera CCTV tergeletak di lantai. Pikirannya langsung terarah pada penguntitnya dan juga pada polisi palsu yang mendatangi rumahnya.

Joon Jae menelepon Manajer Nam. Teleponnya tidak diangkat tapi ia mendengar samar-sama suara dering telepon. Ia berjalan dengan hati-hati ke arah suara tersebut. Suara itu berasal dari sebuah ruangan. Tapi saat ia melihat, ternyata itu ruangan kosong.

Teleponnya berdering. Ia mengangkatnya karena dari Chung. Mendengar suara Chung yang lemas, ia bertanya dengan khawatir apakah Chung sakit. Chung berkata sepertinya ia sedikit sakit. Joon Jae bertanya ia ada di mana. Setelah mendengar jawaban Chung, ia bertanya kenapa Chung ada di sana. Ia menyuruhnya menunggu karena ia akan segera ke sana.

snap-00402snap-00403

Saat ia berbalik, Dae Young sudah berdiri di hadapannya. Joon Jae bertanya apakah Dae Young orang yang mengikutinya dan berpura-pura jadi polisi di depan rumahnya. Dae Young hanya tersenyum. Joon Jae bertanya di mana Manajer Nam dan kenapa Dae Young memiliki ponselnya. Ia menyuruh Dae Young cepat menjawab karena seseorang menunggunya jadi ia harus segera pergi.

Dae Young mengeluarkan palunya lalu menyerang Joon Jae. Joon Jae berkelit lalu menyemprotkan senjatanya yang ternyata penyembur merica. Ia lalu menyalakan pemantiknya untuk melihat jelas wajah Dae Young yang sejak tadi tersembunyi di balik topi.

Joon Jae terkejut karena ia pernah melihat wajah itu di dalam mimpinya. Wajah Bangsawan Yang.

snap-00418snap-00419

Dalam keadaan lengah, Dae Young memukulnya berkali-kali. Joon Jae hampir saja mati kalau saja tidak terdengar suara klakson banyak mobil dan cahaya lampu dari luar. Joon Jae memanfaatkan kesempatan itu untuk balik menyerang, tapi ia sudah terlalu lemah. Dae Young akhirnya melarikan diri.

Joon Jae berjalan tertatih-tatih keluar gedung. Di halaman terdapat beberapa mobil dengan lampu menyala. Rupanya tadi ia menelepon Nam Doo karena curiga dengan pemilihan tempat tersebut. Ia tahu Nam Doo dan Tae Oh tidak akan sempat menyusul ke tempat itu. Memanggil polisi juga tidak mungkin karena ia bisa-bisa ikut ditangkap.

Karena itu ia meminta Nam Doo menelepon beberapa taksi yang dekat dengan tempat tersebut dan menyuruh mereka membunyikan klakson keras-keras saat mereka tiba. Untunglah rencana itu berhasil. Ia mengacungkan dompetnya untuk membayar mereka. Dan bersedia membayar 10 kali lipat pada pengemudi yang bisa paling cepat mengantarnya ke Sungai Han.

Joon Jae diantar dengan sebuah taksi. Ia mencoba menelepon Chung tapi telepon Chung tidak aktif. Joon Jae mengomel karena Chung tidak mengecas ponselnya. Ia menyuruh supir lebih cepat karena Chung sakit dan sendirian. Tapi supir taksi lebih mengkhawatirkan keadaan Joon Jae yang babak belur dan terluka.

snap-00428snap-00437

Chung duduk merenung di pinggir sungai Han menanti Joon Jae. Ia memikirkan perkataan Hye Jin tadi. Dan perkataan Jeong Hoon agar ia sebaiknya kembali ke asalnya sebelum terlambat.

“Apakah kita benar-benar tidak bisa bersama? Apakah sebaiknya aku pergi?” tanyanya.

“Pergi ke mana?” tiba-tiba terdengar suara Joon Jae.

Chung menoleh dan melihat Joon Jae dalam keadaan terluka. Ia mengkhawatirkan keadaannya dan bertanya apa ia baik-baik saja. Joon Jae balik mengkhawatirkan keadaan Chung dan bertanya apakah Chung terluka karena sembarangan menyeberang jalan lagi. Mereka saling bertanya mengapa mereka terluka.

snap-00446snap-00452

Joon Jae meraih tangan Chung dan meraba dahinya. Chung menatapnya dengan sedih

“Heo Joon Jae, aku tidak bisa mengatakan apapun padamu. Aku penuh rahasia. Tapi karena rahasiaku, kau akan terluka atau tersakiti. Aku tidak mau itu terjadi. Aku juga tidak ingin membuatmu sedih pada akhirnya.”

“Lalu?”

“Aku akan kembali ke tempat asalku. Sebelum terlambat.”

“Kau bilang aku harus memberitahumu jika aku berencana untuk menyukaimu, bukan? Aku memiliki rencana. Jadi jangan pergi....”

snap-00459snap-00463

Epilog:

Dam Ryeong terus memegangi tangan Se Hwa hingga ia tertidur. Tiba-tiba jari Se Hwa bergerak. Dam Ryeong terbangun dan melihat Se Hwa membuka matanya. Ia membantu Se Hwa duduk.

Se Hwa berkata ia akan kembali ke laut sekarang. Ia tahu itu adalah cara agar mereka berdua bisa hidup. Dan seperti perpisahan mereka yang pertama, hanya dirinya yang akan membawa ingatan tentang mereka berdua. Sementara Dam Ryeong akan melupakan semuanya. Mereka harus hidup seperti itu dalam dunia mereka. Ia tidak akan kembali lagi ke darat jadi Dam Ryeong harus melupakan segalanya.

Dam Ryeong bertanya kenapa Se Hwa menghapus ingatannya saat mereka berpisah dulu. Se Hwa berkata ia tahu Dam Ryeong akan selalu merasakan penderitaan. Tapi bagi Dam Ryeong, jika Se Hwa tidak menghapus ingatannya ia bisa merindukan Se Hwa setiap saat.

“Kali ini...jangan hapus ingatanku. Kau tidak boleh menghapusnya. Ingatan ini, kenangan ini.... meski menyakitkan, adalah sesuatu yang akan aku bawa sampai akhir. Itu adalah milikku.”

Dam Ryeong mencium Se Hwa.

snap-00477snap-00485

Komentar:

Berbagai pertanyaan yang kutanyakan di episode 7 ternyata terjawab dalam episode ini. Mereka tidak kembali ke laut karena hati mereka benar-benar hanya untuk satu orang. Mereka kembali ke laut pun tidak bisa mengisi kekosongan dalam hati mereka hingga mereka memilih berada di dekat orang yang mereka cintai meski tidak berbalas.

Bukan berarti cinta Chung kurang hingga ia memutuskan untuk kembali jika Joon Jae tidak mencintainya, tapi kurasa itu pilihan terbaik yang bisa ia ambil saat ini meski aku yakin ia tidak akan bertahan lama (seandainya ia benar-benar kembali ke asalnya) dan akan kembali mencari Joon Jae.

Tapi yang belum terjawab adalah apa yang dimaksud dengan cinta berbalas? Apakah dengan kata “aku mencintaimu”? Atau sampai tahap menerima jati diri puteri duyung dan tetap mencintainya apa adanya? Atau sampai tahap pernikahan? Karena sepertinya Hye Jin tidak benar-benar melupakan Jeong Hoon dan sepertinya ia masih menyimpan perasaan untuk Jeong Hoon.

Jika umur Dam Ryeong sekitar 20 hari lagi, apakah umur Joon Jae juga memiliki batas yang sama? Kita belum tahu apa penyebab kematian Dam Ryeong, tapi peninggalannya ditemukan pada bangkai kapal. Apa ia berusaha mencari Se Hwa lalu meninggal dalam usahanya itu? Atau jika terjadi kecelakaan kapal mungkinkah Dam Ryeong tidak meninggal melainkan diselamatkan Se Hwa dan mereka hidup bahagia di suatu tempat? Kuharap begitu karena aku sangat mengharapkan happy ending^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)