Rabu, 30 Maret 2016

Sinopsis Nightmare Teacher Episode 6


Sebelumnya:
Ahn Si Yeon adalah seorang siswa yang mengkhayalkan dirinya memiliki kehidupan sempurna. Kekasih sempurna, keluarga kaya. Dan Guru Han “mewujudkan” impiannya itu dengan memberinya sebuah buku.

Apa yang ditulis Si Yeon dalam buku itu menjadi kenyataan. Ia mendapatkan kekasih idaman para wanita (meski berlebihan banget kayanya bila memiliki kekasih seperti itu ;p). Membuat para siswi iri dengan keberuntungannya mendapat kekasih seperti itu.

Cerita selengkapnya bisa dibaca di Kheartbeat

Sinopsis episode 6:

Guru Han berkata teman-teman Si Yeon akan percaya apapun yang Si Yeon tulis dalam buku tersebut.

“Tapi kau tidak bisa menuliskan hal yang tak ada alasannya. Berhati-hatilah dan tetap konsisten.”

Si Yeon berjalan menyusuri halaman dan merasa ada yang mengikutinya (si penguntit). Tapi ketika ia berbalik, penguntit itu sembunyi.


Si Yeon meneruskan cerita impiannya dalam buku tersebut. Ia menuliskan hal-hal romantis yang akan dilakukan Pil Ho padanya. Juga kehebatan  Pil Ho, misalnya dalam olahraga.

Tapi lama-lama ia mulai kehabisan bahan untuk ditulis. Hingga suatu ketika ia tidak sengaja mendengar Park Byul membicarakannya di toilet. Park Byul dan seorang teman membicarakan toko buah orangtua Si Yeon yang kecil dan kumuh. Park Byul berkata sepertinya ia tahu di mana toko buah itu.

Si Yeon yang mendengar di toilet, takut teman-temannya tahu kalau ia sudah berbohong. Dalam kekesalannya, ia menulis “aku berharap Park Byul tidak ada” dalam bukunya. O-ow….


Begitu Park Byul dan temannya keluar dari toilet, Pil Ho diam-diam mengikuti mereka. Dan berikutnya, Park Byul ditemukan di halaman sekolah karena jatuh dari atap. Saat diangkut ambulan, sepertinya Pak Byul masih hidup meski dalam keadaan kritis.

Si Yeon ketakutan menyadari Pil Ho yang melakukannya. Ia menulis dalam bukunya kalau Pil Ho merasa jenuh padanya dan menjaga jarak dengannya. Pil Ho menghampirinya dan menatapnya sedih.


Tak lama kemudian murid-murid menemukan Pil Ho duduk di atap dan hendak bunuh diri. Ye Rim berusaha membujuknya untuk turun. Sementara Sang Woo sempat-sempatnya mengambil foto.

Pil Ho berkata ia tidak bisa hidup tanpa Si Yeon. Hidupnya tak ada artinya.
Si Yeon berlari ke atap dan berteriak meminta Pil Ho turun. Dengan mata berkaca-kaca, Pil Ho berkata ia membutuhkan Si Yeon.


Si Yeon cepat-cepat berlari menjauhi teman-temannya dan membelakangi mereka. Ia cepat-cepat menulis “Pil Ho mencintaiku lagi dan Pil Ho berpikir harus tetap hidup”.
Teman-temannya heran dengan sikap Si Yeon, terutama Ye Rim. Kekasih hendak bunuh diri, kok malah sibuk nulis?

Begitu Si Yeon selesai menulis, Pil Ho turun dan berjalan menghampiri Si Yeon sambil tersenyum. Lalu memeluknya.

“Demi Si Yeon, aku bahkan membereskan gadis jahat itu. Kalau kau seperti itu lagi, aku akan marah. Kuharap kau menulis cerita yang sesuai tentang diriku,” ujarnya.


Ye Rim dan Sang Woo diam-diam membuntuti Si Yeon. Mereka melihat Si Yeon masuk ke Ruang BK. Sang Woo tidak menyadarinya, tapi dalam foto itu tidak ada Si Yeon.


Si Yeon menyodorkan buku itu pada Guru Han dan berkata ia tidak bisa melanjutkannya. Ia ingin berhenti.

“Tolong kembalikan semuanya seperti sedia kala.”
“Penulis harus bertanggungjawab atas karakter dan cerita yang ditulisnya,” jawab Guru Han.

Si Yeon bertanya bukankah cerita ini sebaiknya dihentikan atau apakah tidak bisa dihentikan.

“Kalau begitu apa yang kau ingin kulakukan? Menelepon ayahmu di New York? Atau menelepon orangtua Pil Ho di Boston?” tanya Guru Han. Maksudnya, Si Yeon tinggal menuliskannya di buku itu.

“Tidak mungkin, Bapak ingin saya menulis kebohongan lagi?”
“Jadi semua yang kaukatakan selama ini adalah kebohongan?”


Merasa tak ada jalan lain, Si Yeon membakar buku tersebut di tong belakang sekolah.
Ia kembali ke kelas dan duduk untuk menenangkan diri. Namun ia terbelalak kaget saat mengangkat wajahnya. Pil Ho berdiri di depan kelas dengan wajah dan tubuh penuh abu. Dan tangannya penuh luka bakar sambil memegang buku yang belum terbakar habis.
Si Yeon melarikan diri. Pil Ho terus mengejarnya.


Sang Woo dan Ye Rim sedang membuat artikel untuk majalah sekolah di ruang berita. Mereka kaget ketika tiba-tiba Si Yeon masuk.

Dan makin kaget karena Si Yeon tiba-tiba memeluk Sang Woo sambil menangis. Sang Woo bertanya ada apa.

“Pil Ho…Pil Ho, dia….” Si Yeon tak sanggup berbicara.
“Si Yeon, terjadi sesuatu di Ruang BK, kan?” tanya Ye Rim.

Si Yeon mengangguk. Sang Woo bertanya apakah Si Yeon bisa melepaskan pelukannya.


Mereka dikejutkan dengan kemunculan Pil Ho yang berusaha membuka pintu.  Si Yeon langsung berlindung di belakang Sang Woo. Pintu terbuka.

“Kau tak bisa memperlakukan aku seperti ini,” kata Pil Ho.
“Pil Ho, apa kau tak apa-apa?” tanya Ye Rim saat melihat kondisi Pil Ho.

Sang Woo meminta Pil Ho tidak salah paham. Kekasihnya adalah orang lain.

“Aku ke sini karena dia yang menginginkannya,” kata Pil Ho.

Si Yeon berkata sekarang ia hanya ingin semuanya dihentikan. Pil Ho berkata ia hanya menginginkan cinta Si Yeon. Karena untuk itu ia ada. Si Yeon menangis sambil terus meminta maaf.


Pil Ho pelan-pelan berjalan ke arah Si Yeon. Tapi tiba-tiba muncul sosok pria bermantel dan bertudung hitam yang mencekik Pil Ho.

Si Yeon terkejut. Penguntit? Ia ingat ia yang membayangkan penguntit itu tinggi dan bertudung kepala.

Si Yeon langsung berlari keluar dari ruang berita. Sang Woo dan Ye Rim berlari mengikutinya. Pil Ho memanggil nama Si Yeon dan berusaha untuk mengejarnya tapi si penguntit menariknya lalu mencekiknya hingga tewas.


Ye Rim dan Sang Woo kehilangan jejak Si Yeon. Dan mereka mencari ke arah yang salah.
Si Yeon berlari ke ruang bawah, ke depan cermin. Si penguntit berhasil menyusulnya dan langsung mendekatinya. Hanya suara teriakan terakhir Si Yeon yang terdengar.

Bersamaan dengan itu, Ye Rim dan Sang Woo berhenti berlari. Mereka bingung kenapa mereka ada di sana. Mereka sama sekali tidak ingat apa yang sedang mereka lakukan.


Ye Rim menemukan buku yang terbakar itu keesokan harinya di ruang berita. Ia tidak tahu siapa yang menulis buku tapi ada nama teman mereka dan juga nama yang tidak ia tahu.

“Memangnya ada yang namanya Pil Ho?” tanya Ye Rim.
“Pil Ho? Belum pernah dengar,” jawab Sang Woo yang sedang memeriksa hasil foto-fotonya.


Ia menemukan foto Pil Ho di atas atap. Ia bingung karena ia tak ingat pernah mengambil foto itu. Dengan santainya ia mengira ia sudah pikun.

Ia membesarkan foto itu dan membaca nama murid itu. Pil Ho. Ye Rim berkata ini baru pertama kali ia melihat ada murid seperti Pil Ho.

Sang Woo melihat foto berikutnya. Foto Seul Gi dan Guru Han.


Komentar:
Ye Rim dan Seul Gi mengenali Guru Han di foto tersebut. Tapi wajah Seul Gi pastilah tidak mereka ingat.

Seharusnya Sang Woo memeriksa semua fotonya, karena ia memotret banyak yang bisa menjadi bukti keanehan kelas mereka dan Guru Han. Selain Seul Gi dan Pil Ho, ia juga pernah mengambil foto kemenangan Ki Chul.

Kalau dilihat-lihat modusnya Guru Han ini mencari siswa yang sedang desperate, yang begitu menginginkan sesuatu. Seul Gi begitu menginginkan teman, Ki Chul begitu menginginkan kemenangan, Si Yeon begitu menginginkan kehidupan impiannya.

Kenapa mereka menjadi target? Karena mereka yang begitu menginginkan sesuatu akan dengan mudah jatuh pada keserakahan. Mereka tidak akan puas dan selalu menginginkan lebih.

Kasus kali ini lebih mengerikan karena memakan korban di luar mereka yang mengadakan kontrak. Contohnya Park Byul (sepertinya tidak meninggal). Dan Pil Ho.

Pil Ho adalah karakter yang diciptakan Si Yeon. Lalu apakah ia bukan manusia? Jika bukan manusia, kenapa ia bisa mati (atau hilang sama seperti si penguntit karena Ye Rim hanya menemukan buku di ruang berita)? Jika ia manusia, lalu sebenarnya ia siapa? Apakah memang ada seseorang yang memenuhi kriteria Si Yeon dan secara otomatis mengikuti apa yang tertulis dalam buku tersebut? Mungkin seharusnya Si Yeon menulis: “Pil Ho pulang ke Boston”.

Jika Si Yeon menulis orangtuanya ada di New York, apakah orangtuanya tiba-tiba ada di New York? Terus apa yang akan terjadi jika Si Yeon menulis dalam bukunya “semua kembali seperti sedia kala”? Hmmm….masih menyisakan misteri ya…atau memang celah dalam alur yang terlewat oleh penulis.

Meski begitu, misteri besar dalam drama ini belum terungkap. Siapa Guru Han dan apa tujuannya memerangkap jiwa-jiwa itu dalam cermin?



3 komentar:

  1. aku suka drama ini. simpel. tapi mengerikan. akan jadi apakah jiwa-jiwa yang terjebak dalam cermin itu?

    penasaran lanjutannya ~~ :D

    BalasHapus
  2. Suka sama komentarnya mb fanny...g kepikiran jg klo si yeon seharusnya nulis semua kembali seperti sedia kala
    Tetep sehat mb fanny biar bisa update nulis sinop drama

    BalasHapus
  3. Ya betul banget, gimana kalo si yeon nulis semua kembali seperti sedia kala, tp kayaknya ngga bakal kejadian soalnya guru Han sudah mempringatkan untk tidak menulis hal2 yg tdk berdasar/tanpa alasan

    BalasHapus

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)