Tuesday, 7 February 2012

Sinopsis The Moon that Embraces The Sun Episode 10

MP-00287

Hwon bertanya pada Wol, bisakah Wol menidurkan semua kepedihannya. Ia mengatakannya dengan nada menantang seakan-akan ingin membuktikan apa yang pernah Wol katakan padanya. Wol berkata ia akan melakukan apapun yang bisa ia lakukan. Hwon meminta Wol mengangkat wajahnya. Pelan-pelan Wol mengangkat wajahnya menatap Hwon.

Tepat saat itu Bo-kyung membuka pintu kamar Hwon. Ia terkejut melihat Hwon berdiri memandangi seorang wanita, shaman itu. Belum sempat ia bereaksi, seseorang menutup pintunya. Woon.

Bo-kyung melirik marah pada Woon. Woon tidak berkata apa-apa. Bo-kyung melihat para dayang dan kasim Hyung yang cemas menunggu reaksinya. Ia melepas pegangan pintu dan berbalik.

MP-00005 MP-00006

Pada Kasim Hyung ia memaksakan sebuah senyum dan berkata ia hanya mencemaskan Hwon. Kasim Hyung mengangguk. Bo-kyung pergi dengan menekan seluruh kemarahannya.

MP-00012 MP-00019

Kasim Hyung menghela nafas lega. Tapi tiba-tiba ia dipanggil oleh Hwon. Hwon meminta tabib istana dipanggil datang ke kediamannya.

Kasim Hyung bertanya apakah Hwon sakit. Hwon tak melepaskan pandangannya dari wajah Wol.

“Bukan aku, tapi gadis ini.” Hwon melihat luka di wajah Wol. Wol dan kasim Hyung terkejut.

Kasim Hyung menjelaskan tabib istana dikhususkan untuk merawat Hwon saja. Bagaimana bisa ia memeriksa sebuah jimat…

“Bukankah dia jimat manusia untuk menyerap penyakitku? Jika tubuhnya tidak dalam keadaan baik maka hal itu berpengaruh juga padaku. Ini bukan untuknya tapi untuk kepentinganku jadi cepat panggil dia.”

“Tapi, Yang Mulia…”

“Ini adalah perintah!! Perintah!!” bentak Hwon. Kasim Hyung terpaksa pergi.

MP-00024 MP-00030

Woon berjalan keluar kediaman Hwon. Rekannya yang bertugas menjaga di luar bertanya mengapa Woon keluar (biasanya Woon menjaga di dalam kediaman Hwon). Woon berkata Hwon memerintahkannya untuk berdiri di luar.

Pengawal itu memberikan surat yang mereka temukan pada Wol. Ia mengambilnya karena sepertinya Wol akan memberikan surat itu diam-diam pada Hwon. Ia meminta Woon memeriksa surat itu. Woon membuka surat itu dan membacanya.

MP-00040 MP-00045

Bo-kyung melampiaskan kemarahannya. Ia teringat tatapan Hwon pada Wol, yang tak pernah sekalipun ia terima dari suaminya. Ia berteriak histeris dan menghempaskan semua-barang dari mejanya. Para dayang berlarian masuk dan melihat Bo-kyung menangis. Tangis penuh amarah, frustasi, kesedihan, dan kekecewaan.

Aku sedikit simpati pada Bo-kyung. Ambisi dan karakternya dibentuk oleh orangtuanya. Ia tak pernah merasakan cinta bahkan kurasa ia tak mengerti apa itu cinta. Dan sekarang ambisinya tercapai namun sampai kapanpun ia tidak merasakan cinta.

MP-00054 MP-00056

Tabib mengobati Wol dengan akupunktur. Tabib itu tampak sedikit kesal karena harus memeriksa Wol. Bayangkan tabib istana yang hanya bertugas memeriksa Raja, malam-malam dipaksa mengobati seorang jimat, yang dianggap bukan manusia.

Hwon duduk sambil membaca buku sementara Wol diobati. Namun diam-diam sesekali ia melirik pada Wol. Wol pun melakukan hal yang sama. Ketika tatapan mereka bertemu, Hwon kembali menekuni bukunya. Semua itu tidak lepas dari pengamatan kasim Hyung.

MP-00069 MP-00073

Malam itu Wol tetap duduk di sisi Hwon saat Hwon tidur. Setelah gong berbunyi, Wol meninggalkan kamar Hwon. Hwon membuka matanya dan memejamkannya kembali. Jelas ia tidak tidur selama Wol duduk di sisinya.

Keesokan harinya, Woon menyerahkan surat Wol pada Hwon. Hwon memandang surat itu dan tidak membukanya Woon menawarkan untuuk mengambil kembali surat itu jika Hown tidak mau membacanya.

Hwon mengambil surat itu dan membacanya. Dalam surat itu Wol mengisyaratkan bahwa walau ia tidak dianggap sebagai manusia tapi ia tetap berharap menjadi seorang warga negara Yang Mulia.

Hwon ingat ia berkata Wol yang bukan manusia telah berani menyentuhnya.

“Bahkan sebuah jimat pun adalah warga negara jadi jangan anggap rendah diriku, “ujar Hwon menerjemahkan isi surat Wol.

Kasim Hyung berusaha mengintip isi surat Wol. Hwon melirik. Kasim Hyung tersenyum polos.

MP-00092 MP-00094

“Tidak biasanya seorang shaman tahu cara menulis hanja (karakter cina) dan juga tidak biasanya seorang shaman bisa menulis puisi seperti ini,” kata kasim Hyung sok tahu. Melihat tatapan Hwon, kasim Hyung nyengir.

MP-00100 MP-00101

Hwon ingat surat permintaan maaf Yeon-woo 8 tahun yang lalu. Ia mengulang perkataannya saat itu, “Bagaimana bisa aku melupakanmu.”

“Yang Mulia,“ panggil kasim Hyung dengan wajah sedih. Ia mengingatkan Wol adalah sebuah jimat. “Hamba telah berada di sisi Yang Mulia dan melayani seumur hidup Yang Mulia. Bagaimana mungkin hamba tidak bisa membaca pikiran Yang Mulia. Hamba harap Yang Mulia tidak goyah.”

“Apa kau berkata hatiku goyah karena sebuah jimat?” tanya Hwon kesal.

“Dia bukan Nona Yeon-woo, tidak peduli betapa miripnya mereka.”

Hwon tahu ke arah mana pembicaraan kasim Hyung. Ia menyuruhnya tutup mulut tapi kasim Hyung merasa harus menyadarkan Hwon bahkan ketika Hwon menyuruhnya berbalik menghadap tembok.

“Semalam Yang Mulia Ratu datang kemari dan membuka pintu. Lalu beliau pergi. Betapa sulitnya bagi Yang Mulia Ratu untuk datang dan harus pergi dengan mengesampingkan harga dirinya. Menurut Yang Mulia bagaimana perasaan beliau?”

Hwon terdiam.

MP-00114 MP-00117

Bo-kyung tidak beranjak dari tempat tidurnya. Dayangnya bergegas masuk dan memberi kabar kalau Hwon akan mengunjungi Bo-kyung. Bo-kyung sangat gembira.

Hwon berjalan menuju kediaman Bo-kyung. Ibu Suri Han melihatnya dan melaporkan “kabar baik” ini pada Ibu Suri Yoon. Tampaknya mereka semua terkejut. Berarti selama 8 tahun mereka menikah, Hwon sama sekali tidak pernah mengunjungj Bo-kyung bahkan hanya untuk kesopanan sekalipun.

MP-00123 MP-00125

Ibu Suri menganggap ini semua karena kemampuan Wol yang luar biasa hingga Hwon sekarang merasa nyaman dan tenang. Ibu Suri Han tidak yakin Wol penyebabnya. Tapi Ibu Suri Yoon berkata langit sudah membantu mereka. Karena Wol anak angkat shaman Jang maka ia juga mempunyai kekuatan.

Ibu Suri Yoon ingin menjadwal ulang tanggal penyempurnaan pernikahan Bo-kyung dan Hwon. Selama ini Hwon terus menugundurnya. Sekarang Hwon sudah sehat dan sepertinya mulai dekat dengan Ratu jadi mereka harus memanfaatkan kesempatan ini. Ibu Suri Han tidak ingin terburu-buru tapi ibu Suri Yoon bersikeras ingin memajukannya seawal mungkin.

Hwon duduk di kediaman Bo-kyung. Ia berkata Bo-kyung tidak tampak sehat. Bo-kyung berkata ia tidak tidur nyenyak semalam.

“Kudengar kau datang semalam.”

Bo-kyung meminta maaf, ia hanya merasa khawatir pada Hwon. Hwon bertanya apa yang sedang Bo-kyung selidiki.

MP-00133 MP-00134

“Apa maksud Yang Mulia dengan menyelidiki?”

“”Apapun yang kaulihat dan yang kaudengar di kamarku, itu bukanlah manusia. Jika kau melihat sesuatu, itu adalah jimat dari Seongsucheong. Bukankah  waktunya sebulan lagi?”

Bo-kyung tidak mengerti.

“Malam pernikahan kita, “Hwon menjelaskan, “Mereka dari Seongsucheong menasihati berulangkali agar sampai tanggal tersebut kita sebaiknya tidak bertemu dan menjaga jarak.”

“Apa maksudmu? Apakah itu artinya kau tidak ingin aku melangkah ke kediamanmu?” tanya Bo-kyung dalam hati.

“Apakah Ratu mengerti?” tanya Hwon tajam.

Bo-kyung memaksakan sebuah senyum dan mengangguk. Hwon pergi meninggalkan kediaman Bo-kyung.

MP-00142 MP-00144

Bo-kyung berpikir apa yang disembunyikan Hwon hingga ia tidak boleh datang ke kediaman Hwon. Ia ingat tatapan Hwon pada Wol. Insting wanitanya berkata semua itu pasti gara-gara Wol. Ia kesal karena bukan hanya ia takut pada orang mati (Yeon-woo) sekarang ia harus waspada pada seorang shaman rendahan. Ia memerintahkan dayangnya mencari seorang dayang Hwon yang berpihak pada mereka untuk mengawasi Wol dan Hwon tiap malam dan melapor padanya.

MP-00152 MP-00155

Yang Myung, yang sepertinya tidak punya pekerjaan lain, berusaha mencari tahu di mana Wol. Ia bertanya pada pemilik toko kertas tempat Wol membeli kertas tapi tentu saja pemilik toko kertas itu tidak tahu apapun walau ia ingat pada Wol.

Yang Myung terus berjalan memikirkan Wol. Ia berpapasan dengan beberapa orang shaman istana. Salah satu dari mereka adalah Janshil. Janshil beda banget ya kalo didandanin rapi…cute^^

Janshil ingat Yang Myung adalah penyelamatnya. Yang Myung terkejut saat tiba-tiba seorang gadis memanggilnya, “Orabeoni!!” (kakak, kalau jaman sekarang oppa)

Janshil memeluk Yang Myung. Yang Myung  buru-buru melepaskan diri dari pelukan Janshil. Ia melihat pakaian Janshil, tidak seperti pakaian seorang gisaeng (wanita penghibur yang mengerti seni, biasanya pakaian gisaeng berwarna warni).

  MP-00176 MP-00177

“Aku adalah shaman dalam pelatihan. Ini adalah seragamnya, “kata Janshil. Ia bertanya apakah Yang Myung tidak ingat pada shaman kecil.

Yang Myung teringat. Ia berkata ia hampir tidak bisa mengenali Janshil. Sekarang ia seorang gadis muda. Ia menanyakan kabar Janshil.

Janshil berkata ia ditolong oleh ibu angkatnya dan sekarang ia seorang shaman betulan, bukan shaman palsu. Yang Myung teringat pada Wol yang juga diculik oleh Na Dae-gil, seorang ahli perbintangan di istana.

“Apa kau bilang kau seorang shaman?”

“Benar. Di Seongsucheong,” tutur Janshil sambil berputar memamerkan seragamnya.

“Tempat teraman bagi seorang shaman adalah….,” Yang Myung memegang pundak Janshil, “Apakah ada seorang shaman bernama Wol dia antara kalian?”

MP-00190 MP-00195

“Wol…”Janshil hampir memberitahu Yang Myung jika ia tidak teringat pada peringatan keras shaman Jang. Peringatan itu pasti diberikan setelah Janshil hampir membocorkan rahasia bahwa Wol adalah “bulan” atau ratu. Shaman Jang mengancam akan merobek Janshil jika Janshil menyebut sesuatu tentang “bulan/matahari” atau segala sesuatu yang berhubungan dengan Wol. Saking ketakutannya saat itu Janshil sampai cegukan.

Janshil menutup mulutnya rapat-rapat lalu menggeleng. Ia melepaskan diri dari cengkeraman Yang Myung dan berkata ini pertama kalinya ia mendengar nama Wol. Janshil dipanggil oleh teman-temannya.

“Kakak, kita akan bertemu kembali jika kita ditakdirkan bertemu,“ kata Janshil, lalu ia buru-buru pergi. Yang Myung bingung, jika Wol bukan di Seongsucheong lalu di mana Wol berada.

MP-00200 MP-00201

Karena malamnya Wol harus berjaga di sisi Hwon maka siang hari ia mempergunakan waktunya untuk tidur. Seul selalu menemani di sisinya. Janshil masuk dengan wajah sedih. Ia duduk di tempat tidur dan melirik Wol. Seul bertanya mengapa Janshil seperti itu.

“Maafkan aku, orabeoni…Aku benar-benar minta maaf,“ kata Janshil dalam hati (ia merasa bersalah karena telah berbohong pada penyelamatnya). Ia lalu membaringkan diri di sebelah Wol, seperti seorang anak pada ibunya (atau lebih tepatnya adik pada kakaknya ya^^). Seul tersenyum melihat tingkah Janshil. Aku suka banget sama persahabatan mereka.

MP-00210 MP-00212

Seul melihat Wol tidak tenang dalam tidurnya. Wol bermimpi saat malam pesta topeng 8 tahun yang lalu. Seseorang dengan mengenakan topeng menariknya. Wol tidak mengenali orang itu. Saat pria itu membuka topengnya dan wajahnya hampir terlihat, Wol terbangun.

Seul bertanya apakah Wol bermimpi hal yang sama. Wol mengangguk. Seul bingung, Wol sudah lama tidak memimpikan hal itu lalu mengapa ia mulai memimpikannya kembali. Ia bertanya apakah kali ini Wol tidak juga melihat wajah orang bertopeng itu.

Wol berkata kali ini ia ingin sekali melihat wajah di balik topeng itu. Dan kali ini ia hampir melihatnya. Seul memandang Wol dengan sedih.

“Nona, kau ingin melihat wajah di balik topeng itu padahal tiap malam kau duduk di sisinya,” katanya dalam hati.

MP-00219 MP-00225

Malamnya, Wol melakukan tugasnya ke kediaman Hwon. Hwon belum tidur. Wol duduk di hadapan Hwon. Woon duduk di sudut kamar. Hwon mengungkit surat Wol.

Hwon bertanya surat Wol telah memukulnya dengan keras. Ia telah merasakan kemarahan Wol padanya. Wol kebingungan, ia tidak marah pada Hwon.

“Kau berkata kau tidak marah tapi suratmu jelas menyatakan hal itu. Apa aku salah mengerti?”

MP-00229 MP-00233

Wol berkata ia hanya berusaha menyampaikan ketulusan dan sudut pandangnya.

“Jadi kau bukan marah kepadaku tapi menegurku?” tanya Hwon.

Wol berusaha menjelaskan ia hanya ingin menjadi seorang warga negara walau ia seorang yang rendah dan ingin melakukan yang terbaik bagi Hwon.

“Kata-kata itu seakan menegurku bahwa aku tidak bisa mengerti perasaan rakyat jelata. Apa kau ingin membuatku menyadari kalau aku tidak kompeten?” ujar Hwon. Wol berkata hal itu tidak ada kaitannya dengan penulis surat itu. Jika yang membaca surat itu dipenuhi praduga dan asumsi maka akan menimbulkan kesalahpahaman.

“Jadi kau bilang aku dipenuhi praduga hingga salah memahami isi suratmu?” tanya Hwon tertawa sinis.

Wol berusaha menjelaskan bahwa bukan itu maksudnya.

“Aku memperlakukanmu dengan baik dan sekarang kau melanggar batas. Apa kau lupa dengan siapa kau berbicara?” tanya Hwon. “Aku adalah…..”

MP-00239 MP-00240

Hwon teringat ia mengucapkan kata-kata yang sama pada Yeon-woo saat mereka bertemu untuk pertama kalinya. Wol menatapnya dengan tatapan yang sama dengan Yeon-woo ketika itu. Mendadak mood–nya berubah. Ia berdiri dan memanggil Kasim Hyung.

Ia berkata ia merasa sesak hingga ia ingin berjalan-jalan di luar sebentar. Kasim Hyung berkata udara di luar sangat dingin jadi bagaimana jika acara jalan-jalannya diundur besok.

“Bukankah kubilang aku merasa sesak?!!” ujar Hwon kesal.

Kasim Hyung memerintahkan semua bersiap-siap. Hwon berjalan ke luar kamar. Wol tetap duduk di tempatnya. Hwon berhenti di dekatnya dan bertanya apa yang Wol lakukan. Wol tak mengerti.

“Kau bilang akan mengambil alih semua bebanku jadi mengapa kau tidak melakukan tugasmu sekarang. Kau adalah jimatku jadi cepat ikuti aku.”

Hwon berjalan-jalan diikuti Wol, Woon, kasim Hyung dan para dayangnya. Tiba-tiba ia menyuruh semuanya mundur. Walau kasim Hyung terlihat keberatan tapi akhirnya ia menuruti perintah Hwon. Ia dan para dayang mundur beberapa langkah ke belakang. Demikian juga dengan Woon.

Wol ikut melangkah mundur namun Hwon memegang tangannya dan menahannya. Sebagai jimatnya, Wol harus berdiri di dekatnya. Ia menyuruh para pengikutnya untuk mundur lebih jauh.

MP-00253 MP-00257

Hwon berjalan diikuti Wol dan berhenti di depan bekas kediaman Yeon-woo. Ia memandang gedung itu dengan penuh kesedihan. Melihat kesedihan Hwon, Wol menoleh melihat gedung itu. Tiba-tiba ia teringat membuka jendela dan melihat Hwon menunggunya di luar jendela (ketika Hwon mempersiapkan panggung boneka untuk Yeon-woo).

Ia juga teringat Yeon-woo dibawa keluar oleh para tabib istana karena penyakitnya sementara Heon menangis sambil berteriak memanggil namanya.

Wol tertegun, “Apakah di sini tempatnya? Di sinikah tersimpan kenangan sedih dan kepedihan Yang Mulia ? Apakah orang yang menangis di tempat ini, adalah Yang Mulia?”

MP-00260 MP-00266

Hwon menoleh dan memegang lengan Wol, “Apa yang sebenarnya kaulihat?”

MP-00271 MP-00273

Wol tak menjawab. Hwon mendekap Wol agar mendekat padanya. Woon dan kasim Hyung mengalihkan pandangan mereka. Wol tak berani menatap Hwon.

Hwon meraih wajah Wol dan menatapnya. Ia bertanya apakah Wol melihat melalui kemampuan shamannya. Wol membenarkan.

“Kalau begitu cobalah menebak dengan kemampuanmu. Menurutmu apa yang akan kulakukan saat ini? Hari ini Hyung-sun (kasim Hyung) mengatakan sesuatu yang aneh. Bagaimana menurutmu? Apakah kau pikir aku akan memelukmu, sebuah jimat belaka?”

Wol bertanya mengapa Hwon bersikap seperti itu. Hwon melihat para dayangnya, Woon dan kasim Hyung mengalihkan pandangan mereka. Hwon mendekatkan wajahnya pada Wol. Lalu tiba-tiba menarik tangan Wol dan membawanya berlari pergi. Berarti ia sengaja melakukannya agar bisa bicara berdua dengan Wol.

MP-00278 MP-00297

Kasim Hyung dan para dayang buru-buru berlari mengejar mereka. Woon berjalan ke arah lain.

Hwon menarik Wol ke sebuah ruangan dan pelan-pelan melepaskan tangannya. Dengan penuh kesedihan dan harapan, ia bertanya siapakah Wol sebenarnya.

“Hamba adalah shaman Wol.”

“Bukan, kau bukan Wol.”

“Kalau begitu siapakah hamba? Ketika hamba hidup sebagai seorang shaman tanpa nama, Yang Mulia menamai hamba, Wol.”

Hwon memegang kedua lengan Wol.

“Apa kau benar-benar tidak mengenalku? Apakah kau tidak pernah bertemu denganku sebelumnya?”

MP-00313 MP-00315

“Kenangan siapakah yang Yang Mulia lihat di dalam diri hamba? Siapa yang Yang Mulia lihat melalui diri hamba? Apakah gadis yang bernama Yeon-woo?”

Kasim Hyung dan para dayang tiba di depan kamar tempat Hwon membawa Wol. Woon berjalan merintangi mereka dan menoleh ke arah gedung terdsebut. Kasim Hyung menoleh ke kamar yang sama dan menegerti Hwon ada di dalam.

“Mengapa Yang Mulia membiarkan hamba berada di sisi Yang Mulia? Apakah karena hamba mirip dengannya? Tapi hamba bukan gadis itu.”

Hwon menyuruh Wol diam. Dengan putus asa ia berkata Wol telah melanggar batas. Ia berkata hanya karena ia mengijinkan Wol berada di sisinya bukan berarti ia menyerahkan hatinya pada Wol. Ia berkata Wol hanyalah jimat untuk menangkal roh jahat, tidak lebih dan tidak kurang.

“Siapa kau yang…seseorang sepertimu…yang berani….”

Hown melanjutkan kalimat itu dalam hatinya, “membuatku goyah.”

MP-00330 MP-00334

Hwon berbalik dan berjalan keluar kamar tapi ia terhuyung hampir terjatuh. Wol buru-buru menghampirinya dengan khawatir.

“Jangan mendekat,” ujar Hwon tanpa berbalik melihat Wol. “Jika kau melanggar batas lagi, aku tidak akan mengampunimu.”

Hwon keluar dari kamar. Kasim Hyung buru-buru memakaikan jubah Hwon. (kayanya lagi dingin banget lho di Korea. Nafas mereka sampai mengepul…kasiaaan T_T).

MP-00338 MP-00340

Tanpa berbalik pada Wol yang juga sudah keluar dari kamar tersebut, Hwon memerintahkan agar Wol tidak perlu mengikutinya. Ia akan tidur sendirian malam ini. Wol terlihat sedikit kecewa.

Setelah agak jauh, Hwon meminta Woon diam-diam menjaga Wol hingga kembali ke Seongsucheong dengan selamat. Ia juga meminta Woon mampir di suatu tempat.

Wol berjalan kembali ke Seongsucheong dengan kata-kata Hwon terngiang di pikirannya. Bahwa ia tak lebih dan tak kurang sebuah jimat untuk menangkal roh jahat. Diam-diam Woon mengawasi Wol.

MP-00355 MP-00356

Shaman Jang sedang bersembahyang ketika tiba-tiba ia merasakan sesuatu. Ia berjalan keluar dan menemukan Wol yang sedang termenung menatap ke langit. Ia bertanya mengapa Wol di luar (Wol seharusnya di sisi Hwon), apakah ada yang terjadi?

“Ibu angkat, siapakah aku sebenarnya?”

Shaman Jang terkejut dengan pertanyaan Wol.

“Saat aku ditelantarkan keluargaku karena kemampuanku, Ibu menemukan aku terlunta-lunta di jalanan. Ibu menolongku karena melihat kemampuan di dalam diriku.”

“Mengapa tiba-tiba kau menanyakannya?” tanya shaman Jang cemas.

MP-00359 MP-00370

“Aku terus menerus melihat hal aneh. Jelas ini adalah kenangan orang lain tapi juga terasa sebagai kenanganku. Ini sangat membingungkan.”

Shaman Jang beralasan itu karena Wol belum bisa mengendalikan kemampuannya.

“Aku tidak mungkin pemilik kenangan itu bukan? Walau aku mirip dengannya, aku tidak bisa menjadi dirinya, bukan?”

Shaman Jang tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Seul yang mendengar percakapan mereka diam-diam menangis.

MP-00372 MP-00374

Yeom keluar dari kediamannya dan melihat ke langit. Di balik tembok, Seul diam-diam memperhatikannya dengan penuh kerinduan. Tiba-tiba Yeom mendengar sebuah suara. Yeom berjalan ke arah datangnya suara. Yang Myung tiba-tiba melompat ke hadapan Yeom hingga Yeom terkejut. Hehe…kebiasaan lama sulit berubah ya^^

MP-00377 MP-00380

Ia berkata ia terbiasa muncul dari sana daripada dari pintu depan. Ia mengajak Yeom masuk untuk minum bersama. Tiba-tiba Woon muncul dari belakang Yeom hingga Yang Myung terkejut. Hahahaha….akhirnya Yang Myung kena balasannya.

MP-00389 MP-00390

Mereka bertiga duduk bersama di dalam rumah. Woon berkata Hwon memanggil  Yeom  ke istana. Yeom bertanya mengapa ia mendadak dipanggil ke istana. Woon tak menjawab.

‘Anggap saja aku tidak bertanya. Tanpa perintah Yang Mulia, kau tidak akan bicara,” kata Yeom mengerti.

Woon pamit kembali ke istana karena ia meninggalkan posnya terlalu lama. Ia menoleh dan di sudut ia mengenali sebuah surat berwarna kuning dengan tulisan yang terasa familiar. Yeom berkata surat itu dibuat Yeon-woo saat ulangtahunnya.

“Itu tulisan adik Tuan?” tanya Woon.

Yeom membenarkan. Woon memuji tulisan tangan Yeon-woo. Yang Myung terihat curiga karena tidak biasanya Woon tertarik pada hal seperti itu.

MP-00393 MP-00395

Yeom memuji adiknya sangat pintar dalam segala hal, sayang ia dilahirkan sebagai wanita. Lebih dari itu adiknya juga sangat sopan dan baik hati. Ia bertanya mengapa Woon menanyakan surat itu. Woon berkata, ia tak sengaja melihat surat itu hingga ia bertanya.

Seul melihat semuanya masuk ke dalam jadi ia berjalan pulang. Woon yang tahu kalau sejak tadi Seul mengamati mereka, langsung menyerang Seul. Mereka berkelahi tapi kekuatan mereka seimbang, atau lebih tepatnya Woon tidak menggunakan seluruh kekuatannya. Ia bertanya siapa yang mengirim Seul. Seul melarikan diri. Woon tampaknya teringat pada Seul. (hmmmm….kalau Seul terus berada di samping Wol dan Woon melihat mereka, kurasa tidak akan sulit bagi Woon untuk menerka siapa Wol.)

MP-00408 MP-00409

Yeom dan Yang Myung masih minum bersama. Yang Myung  berkata Yeom pasti mendengarnya dari Min-hwa.

“Apakah itu benar? Kukira itu gurauan, ternyata benar? Siapa dia?”

Yang Myung berkata ia juga tidak tahu. Yeom kebingungan.

Yang Myung menceritakan 8 tahun yang lalu ia pernah melpmpati tembok rumah Yeom dan bertanya apakah Yeon-woo mau pergi bersamanya.

“Tapi apakah kau tahu bagaimana jawaban adikmu? Ia berkata leluconku keterlaluan,” ujar Yang Myung sedih, “Melihat tatapan matanya aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Tapi malam itu, jika aku tidak tersenyum dan menyembunyikan perasaanku, dan lebih berani meraihnya dan memintanya melarikan diri denganku, maka ia…bukankah ia akan berada di sisiku sekarang?”

Sigh…. bukankah jika ia memaksa seperti itu maka ia akan menjadi Bo-kyung kedua?

MP-00414 MP-00424

Wol sedang duduk merenung di kamarnya ketika Seul kembali. Seul kaget melihat Wol belum tidur. Wol melihat lengan baju Seul terkoyak. Ia menanyakannya pada Seul. Seul berkata bajunya terkoyak ketika ia sedang berlatih.

Wol bertanya Seul pulang darimana. Seul berkata ia baru mengujungi rumah kediaman majikannya yang lama. Wol berkata majikan Seul pasti orang yang baik hingga sekarang Seul masih mengunjungi mereka. Seul berkata mereka orang yang sangat baik, ketika ia diperlakukan tidak seperti manusia mereka memperlakukannya sebagai manusia dan memberinya nama yang cantik, Seul. Wol tersenyum.

“Nona, kau orang seperti itu,” kata Seul dalam hatinya.

MP-00434 MP-00440

Yeom teringat pada perkataan Yang Myung, walau mereka bertambah dewasa tapi ia selalu mengingat Yeon-woo yang berusia 13 tahun. Yeom pergi ke rumah lamanya dan pergi ke kamar Yeon-woo. Ia menangis teringat adiknya.

Ia duduk di depan sebuah kotak permainan (tempat Yeon-woo menyimpan suratnya untuk Hwon). Ia membuka laci kotak dan meraup biji-biji permainan itu (semacam permainan catur cina). Ia ingat Yeon-woo berkata, “Jangan pernah mundur ketika kau sudah melangkah maju. Bukankah itu yang Kakak ajarkan padaku?” Yeom menangis dan menutup laci itu kembali.

Ia membuka tutup kotak dan melihat surat yang ditujukan pada Hwon. Ia mengambil surat itu.

MP-00447 MP-00451

“Hati manusia pun seperti itu. Tidak mudah mengubah hati seseorang saat ia sudah memutuskan. Tidak peduli apapun hasilnya, aku tidak akan pernah melupakan Putera Mahkota,” suara Yeon-woo terngiang di kepalanya. Yeon-woo mengatakan itu saat Yeom mengungkapkan kekhawatirannya Yeon-woo mengikuti seleksi Puteri Mahkota.

Yang Myung sedang berjalan sendirian ketika tiba-tiba ia melihat seseorang dalam kegelapan. “Apakah kau manusia atau hantu?” tanyanya terkejut.

Janshil melangkah maju hingga wajahnya terlihat. Yang Myung bingung mengapa Janshil ada di situ malam-malam begini. “Maafkan aku , Kakak,” Janshil menangis, “Aku bersalah padamu.”

Yang Myung tambah bingung.

“Aku akan membantu Kakak menemui orang yang Kakak cari,” kata Janshil. Ia lalu berlari memeluk Yang Myung. Saking terkejutnya, Yang Myung diam saja. Entah terkejut dipeluk Janshil atau karena kata-katanya hehehe^^ karena kata-katanya pastinya ya ;p

MP-00456 MP-00461

“Karena kakak penyelamatku, aku akan membalas kebaikan Kakak. Walau aku dirobek menjadi dua, aku akan pastikan membalas kebaikan kakak. Aku akan pastikan kakak menemuinya jadi jangan begitu terluka,” kata Janshil sambil terus menangis.

MP-00467 MP-00469

Yeom duduk di depan rumahnya sambil memegangi surat Yeon-woo.

Hwon tidak bisa tidur tanpa Wol di sampingnya. Ia ingat Wol bertanya siapakah yang Hwon lihat melalui dirinya. Kenangan siapa yang terus Hwon cari dalam dirinya?

Min-hwa terus menemani ibu mertuanya hingga ia kurang istirahat. Walau Ibu Yeom meminta Min-hwa kembali tapi Min-hwa bersikeras menemani hingga ibu mertuanya pulih. Ibu Yeom meyakinkan Min-hwa ia tidak akan sedih lagi dan ia berterima kasih pada Min-hwa untuk itu.

Yeom masuk dan menyapa mereka. Ibu Yeom bercerita Min-hwa tak pernah meninggalkannya sejak kemarin karena takut ia bersedih lagi. Yeom berterimakasih pada Min-hwa karena telah menjaga ibunya dengan baik. Min-hwa tersipu malu mendengar pujian suaminya.Ia lalu menyadari Yeom mengenakan baju resmi istana.

“Apa Tuan akan pergi ke istana?”

Yeom berkata ia baru menerima pemberitahuannya kemarin. Min-hwa bertanya mengapa Yeom tidak memberitahunya. Jika Yeom memberitahunya sejak awal, ia bisa ikut dengan Yeom ke istana.

“Aku tidak terpikir. Lain kali aku pasti akan mengajak Puteri,” ujar Yeom. Yeom pamit dan pergi.

Ibu Yeom melihat Min-hwa yang cemberut dan bertanya apakah Min-hwa marah karena Yeom pergi sendiri. Min-hwa berkata ia tidak marah tapi merasa tidak tenang. Ibu Yeom tak mengerti, mengapa Min-hwa harus merasa tak tenang.

“Itu…. karena jika suamiku pergi ke istana…..”

MP-00477 MP-00484

Maka semua dayang terpesona pada ketampanannya. Ckckckc…ternyata memang tidak berubah ya (walau tak bersinar lagi :p). Menteri penjilat tak menyadari Yeom berjalan di belakangnya. Ia mengira semua dayang itu terpesona padanya ^^

MP-00487 MP-00491

Hwon sangat gembira bertemu Yeom. Ia menyambutnya dengan hangat, bahkan jauh lebih hangat daripada ketika Hwon bertemu Yang Myung. Sighh…..

MP-00495 MP-00496

Yoon dan sekutunya membicarakan kedatangan Yeom ke istana. Mereka pikir Yeom seharusnya hidup dengan tenang di luar istana.  Sejak dulu, seorang uibin (suami Puteri) dilarang menlakukan kegiatan apapun, baik itu kegiatan politik maupun menuntut ilmu. Itu sudha hukumnya. Pantes Yang Myung ngomel terus karena Min-hwa menjadikan Yeom suaminya.  

Menteri penjilat berkata hal in berbahaya karena rankingnya akan turun. Di istana ini peringkat teratas pria tertampan diduduki oleh Woon. Kedua, dia sendiri. Jadi kehadiran Yeom di istana ini berbahaya. Ha^^ 

Yoon diam mendengarkan. Seorang menteri berkata apakah mungkin Hwon sedang menggalang kekuatan para cendekiawan. Tapi Yeom bukan tipe orang seperti itu. Namun bagaimanapun Yeom adalah figur kuat di kalangan cendekiawan. Kehadirannya bisa membangkitkan kalangan cendekiawan (yang merupakan pendukung ayah Yeom). Yoon khawatir popularitas Yeom akan emlebihi ayahnya sendiri. Yoon bertanya-tanya dalam hatinya mengapa Yeom pergi ke istana padahal sayapnya telah patah (tidak bisa melakukan apa-apa). Hmmm…oang-orang ini yang ada di pikiran mereka hanya kekuasaan dan kekuasaan, tak memikirkan ikatan antar manusia >,<

MP-00508 MP-00509

Surat Yeon-woo terletak di atas meja Hwon. Yeom berkata ini adalah surat yang ditinggalkan Yeon-woo. Tadinya ia akan melupakannya (tidak memberikannya pada Hwon) karena itu sudah menjadi masa lalu tapi ia berpikir ia harus menyerahkannya pada Hwon.

“Surat Yeon-woo yang ditinggalkan untukku?’”

Yeom membenarkan.

MP-00511 MP-00513

Hwon mulai menangis, “Surat ini adalah peninggalan Yeon-woo terakhir untukku.”

“Saat adik hamba masih hidup, hanya ada satu-satunya suami di hatinya di hatinya, yaitu Yang Mulia. Karena surat ini berasal dari seorang pendosa (Yeon-woo dianggap bersalah karena membawa tubuhnya yang sakit ke istana), seharusnya surat ini dibakar. Jika Yang Mulia sendiri yang melakukannya (membakar surat itu), ia akan bahagia di surga.”

Hwon meraih surat itu.

“Mulai sekarang tolong lupakan adik hamba. Yang Mulia Ratu sekarang berada di sisi Yang Mulia. Jangan biarkan beliau kesepian lagi. Jika Yang Mulia terus berada dalam bayang-bayang adik hamba, hamba ragu itu yang adik hamba inginkan. Ini adalah permohonan hamba dan adik hamba. Tolong kabulkanlah,” Yeom memohon.

Hwon menangis, “”Setiap orang terus memintaku untuk melupakannya.” (seakan-akan ia bertanya mengapa mereka tidak mengerti bahwa ia tidak pernah bisa melupakan Yeon-woo)

MP-00531 MP-00534

Kasim Hyung mengantar Yeom. Ia meminta Yeom lebih sering berkunjung. Walau Hwon tidak mengatakannya tapi Hwon sangat merindukan Yeom. Yeom berkata bagaimana bisa ia melangkah ringan ke istana sebagai seorang uibin. Ia meminta kasim Hyung menjaga Hwon baik-baik. Kasim Hyung memandangi ekpergian Yeom.“Tuan, seharusnya Tuan-lah yang berada di sisi Yang Mulia,” gumamnya.

Hwon meraih surat Yeon-woo dan membukanya. Kasim Hyung duduk di hadapannya. Surat itu berbunyi:

“Yang Mulia, dengan kekuatan terakhir hamba menulis surat ini. Surat ini mungkin membahayakan Yang Mulia atau mungkin tidak sampai ke tangan Yang Mulia. Tapi hamba tetap mengangkat pena untuk menulis. Sebelum hamba pergi, hamba sangat bahagia bisa bertemu Yang Mulia. Tapi sekarang Yang Mulia harus berhenti menyalahkan diri sendiri dan tinggalkan hamba sebagai kenangan. Ayah akan segera membawakan obat dan hamba tidak akan pernah melihat Yang Mulia lagi. Lupakan hamba. Tolong jaga kesehatan Yang Mulia. Hamba harap Yang Mulia bisa menjadi Raja yang baik dan bijkasana.”

MP-00542 MP-00543

“Anak ini mengkhawatirkan kesehatanku bahkan menjelang ia menutup matanya. Ia menulis surati ini  dengan kekuatan terakhirnya…Tapi aku...Apa yang sudah kulakukan? Apa yang sudah kulakukan?” Hwon menangis pilu. Kasim Hyung ikut menangis.

“Dia pasti sangat kesakitan…..Betapa dia pasti sangat menderita....Tulisannya di akhir surat ini begitu lemah,” isak Hwon.

Ia meminta kasim Hyung membawakan surat Yeon-woo yang lama karena ia tidak ingat lagi seperti apa tulisan Yeon-woo. Ia ingin melihat lagi surat Yeon-woo yang ditulis untuknya.

 MP-00563 MP-00566

Dayang mata-mata Bo-kyung melapor bahwa sejak jalan-jalan malam itu, Wol tidak pernah kembali ke sisi Hwon saat Hwn tidur. Bo-kyung bertanya-tanya mengapa Hwon berjalan-jalan bersama malam tu. Tapi dayang itu berkata Hwon memang punya kebiasaan berjalan-jalan di malam hari.

“Apakah ada yang terjadi setelah itu?” tanya Bo-kyung.

Dayang itu menceritakan kedatangan Yeom ke istana dan setelah Yeom pulang, Hwon tampak kurang baik. Bahkan mendadak memerintahkan sebuah kotak dibawa ke hadapannya.

“Sebuah kotak?” tanya Bo-kyung.

“Benar. Tampaknya seperti kotak biasa, tapi ada tulisan “hujan” di atas kotak tersebut.”

Dayang Bo-kyung terkesiap. Bo-kyung pun terkejut, “Apa kau barusan mengatakan hujan?” (hujan = woo)

MP-00570 MP-00578

Hwon membuka kotak di hadapannya. Kali ini ia ditemani Woon. Hwon membaca surat lama Yeon-woo (yang ditulis di kertas berbunga). Ia menangis mengingat tulisan Yeon-woo. Ia mengamati tulisan Yeon-woo dan tersadar.

Ia membuka laci di mejanya dan mengeluarkan surat Wol. Ia membandingkan tulisan pada kedua surat itu. Dengan suara bergetar ia memerintahkan Wol dibawa ke hadapannya sekarang juga. Woon terkejut. Hwon berteriak memerintahkan Wol dibawa sekarang juga.

MP-00589 MP-00593

Wol berjalan ke kediaman Hwon tapi di tengah jalan, seseorang menariknya. Yang Myung. Yang Myung menatapnya dan bertanya, “Apakah kaumengenaliku?”

Wol terpana.

MP-00599 MP-00602

Hwon terus mengamati tulisan pada kedua surat itu. Ia mengangkat kepalanya dan terlihat yakin akan sesuatu.

MP-00606 MP-00608

  Credit to: dramabeans and cadence

Komentar:

Kegalauan Hwon berlanjut hingga episode ini. Dalam novelnya, adegan Hwon menarik Wol pergi diakhiri dengan “long kiss”. Terbalik banget sama dramanya ya^^

Hwon masih bingung dengan perasaannya. Ia tahu ia hanya mencintai Yeon-woo tapi ia sekarang merasakan perasaan yang sama pada Wol ditambah kemiripan Wol dengan Yeon-woo.

Kurasa Hwon tidak percaya Wol adalah seorang shaman yang berkemampuan. Bahkan Hwon tidak percaya pada kemampuan shaman sama sekali. Ia seorang yang lebih logis. Itulah sebabnya ia tidak mau menerima penjelasan Wol bahwa ia mengetahui semua hal mengenai Hwon karena kemampuan shamannya. Bahkan ia bersikap sinis mengenai “kemampuan” Wol. Ia lebih curiga bahwa Wol adalah Yeon-woo, walau ia frustasi dan bingung karena semua itu seakan tak mungkin.

Wol pun mulai merasakan hal yang sama pada Hwon. Perasaannya adalah perasaan Yeon-woo namun ia bingung karena ia “bukan” Yeon-woo. Hal ini menyakiti hatinya. Seakan-akan ia dijadikan pengganti karena ia mirip dengan Yeon-woo. Ia berharap ia memang Yeon-woo, dengan demikian semuanya tidak membingungkan dan ia bisa menghilangkan kepedihan di hati Hwon.

Dua pasangan lain muncul dalam drama ini (setidaknya itu yang kuharapkan^^). Woon dan Seul, Yang Myung dan Janshil. Pasangan yang pertama diawali dengan perkelahian, pasangan kedua diawali dengan pelukan. Walau aku tahu Yang Myung dan Woon (mungkin) menyukai Wol tapi kuharap mereka menemukan gadis yang mencintai mereka ^^

Lalu apakah Hwon dan Yang Myung sekarang sudah mengetahui siapa Wol? Mudah-mudahan Wol tidak terus hilang ingatan ya…kelamaan….

23 comments:

  1. annyong,,,
    mbak fanny,,,
    semangat terus untuk sinopsisnya

    jadi g sabar kapan se wol ingatan nya kembali,,,
    kan g mungkin klu nunggu kejedot dulu kayak
    kebanyakan drama,,,,,
    heheheheheheh ^^

    jadi pengen juga baca novel nya,,,
    di toko buku dah ada g ya mbak,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. annyeong ayunda^^

      sayangnya novelnya belum terbit dalam bahasa lain selain bahasa Korea. rumornya sih terjemahan dalam bahasa Inggris tidak lama lagi akan dipasarkan.mudah-mudahan cepet masuk sisni ya^^

      Delete
  2. 4 jempol dech buat sinopsinya....
    aq suka bnget..
    di tunggu ya sinopsis selanjutnya..
    caiyooooooooooooooo

    ReplyDelete
  3. Sebenernya kasihan banget sih sama peran Bo-Kyung di sini. Tapi tak apalah, gak asik jg kalau gak ada antagonisnya. Cuma bisa berharap, di ending Bo-Kyung akhirnya insyaf. Hehe...

    Kalau Woon dan Seul, aku setuju... Tapi kalau YM dan Janshil... oh tidak bisa!!! Mending YM single aja terus... Hahaha... *gak rela.co.kr

    Btw, aku mau nanya nih Mbak Fanny, kan kalau di novel, YM dewasa udah pernah nikah dan istrinya meninggal kalau gak salah. Nah, kalau di drama kok istrinya itu gak pernah diceritakan ya? Atau aku yang gak ngeh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dalam novelnya Yang Myung memang sudah pernah menikah dan istrinya meninggal dua tahun lalu. Dalam drama sepertinya Yang Myung belum menikah :)

      Delete
  4. ahhh,aku entah kenapa malah jatuh cinta sama woon,
    kira2 dia pasti ngeh siapa wol sebenarnya,cuma ga ngerti soalnya semua orang menganggap yeon woo sudah mati,dan dia sendiri juga ada pas yeon woo dikubur...
    ini sudah mau episode 11-12,pasti bentar lagi bakal ketahuan identitas wol #sotoyy
    kira2 konflik setelah itu akan seperti apa ya???
    semoga happy ending dehh ^_^

    - Novi -

    ReplyDelete
  5. unnie kren...
    ditunggu sinop,a slnjutnya, klo bsa jangan lama unnie abs kbru penasaran..
    Gomawo unnie, aku slalu mendkungmu...



    :D

    ReplyDelete
  6. annyeong...
    keren banget nich drama... bikin tambah penasaran..
    aku malah bertanya2 gini, seandainya YM jadi memperebutkan tahta seperti episode selanjutnya, Woon & Yeom dukung siapa ya?Hwon ato YM?
    jadi gak sabar baca sinopsis selanjutnya......... fighting mbak fanny...

    ReplyDelete
  7. mbak fanny....aku malah kasian sama YM..coba kalau yeon woo dulu mau sama dia...pasti jadinya nggak seru nantinya...sama kayak dong yi kalo mau lari sama cheon soo...atau deokman mau kawin lari sama yushin.thanks mbak sinopsisnya oke banget...

    ReplyDelete
    Replies
    1. nasibb....nasiiib....nasib jadi second lead di Kdrama >,<

      Delete
  8. keren fan, dilanjutin terus sinopnya ya, Fanny udh baca ya novelnya? pengen lho...

    @yunacrescent

    ReplyDelete
  9. aq dah baca eps ini sebnrnya, tp kl ga baca tulisanmu rasanya msh kurang e fan. heheee.. asli yah ga gombal, cara km diskripsiin n analisa peran satu demi satu bs persis dgn yg ada dipikiran aq ( ato lbh tepatnya "maunya kita, mrka hrsnya.." meski jdnya aga subyektif sih. heheee ) kl yg lain just translate apa adanya, kdg mlh beda persepsi n bingung maksudnya. good job fan..! thx yah. :) (nana)

    ReplyDelete
  10. ya gakan kayanya eon,,mas akelamaan....
    hilang ingatan wae,,tp kand ikit2 pasti ingetttt

    ReplyDelete
  11. Wahhhh.... Wahhhh......
    Aku Syukaaaa banget sama sinopsisnyaaaa....
    Tetappp semangatttttt.....

    ReplyDelete
  12. ( maaf saya rahasiakan, tapi saya orang jateng=) )8 February 2012 at 15:20

    Teruskan....Teruskan....(saya
    dengan semangat '45 lhooo)
    saya punya saran...
    fotonya dibanyakin dong..... ;-)

    ReplyDelete
  13. pengen beli dvd filmnya yg komplit..hehehe btw sampa kapan ya nie tayangnya berakhir di korea, masih namabh episode sechh jd lama

    ReplyDelete
  14. tambah keren ceritanya

    ReplyDelete
  15. cerita nya cuman sampai episode 20 yah ?
    udah TAMAT ?
    hahahah pengen beli dvd + novel nyaa .
    terharuuuu

    ReplyDelete
  16. ah ini drama gajebo banget si, rugi uda nonton

    ReplyDelete
  17. Dah gak trhitung bca ni sinopsis,hampr tiap malm x,,,,bner2 menghipnotisku,ni drama.smp aq hafal tiap adegan,dialog,gambar2ny pny episode mna.cari DVDny,baru nemu bajakn,sinops ni bantu aq mahamin trjemahany yg amburadul.thankssss bgt

    ReplyDelete
  18. Thanks for finally talking about > "Sinopsis The Moon that Embraces The Sun Episode 10" < Loved it!

    my homepage book of raw kostenlos spielen

    ReplyDelete

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)