Friday, 23 September 2011

Sinopsis Protect The Boss Episode 8

MP-00473

Bayangkan berada di antara anak-anak kecil yang banyak tingkah. Well, kalau lucu kaya Ji-heon atau keren kaya Moo-woon sih masih ok. Tp kalau ditambah 4 anak lagi? Pastinya sangat melelahkan. Begitu pula yang dirasakan Eun-seol. Dalam drama ini, hanya dia dan nenek Ji-heon yang dewasa. Sedangkan semua orang kaya dalam drama ini (kecuali nenek) bersikap kekanak-kanakkan. Namun aku yakin kehadiran Eun-seol sedikit banyak akan mengubah mereka.

Sinopsis Protect The Boss Episode 7 oleh Dee (Kutudrama) : [klik di sini]

Sinopsis Episode 8

Telepon Presdir Cha membuat Eun-seol panik mencari Ji-heon bahkan sempat memarahi Presdir karena lagi-lagi menyebabkan Ji-heon kabur. Ia berlari sampai tertabrak mobil, eh bukan tertabrak tapi Eun-seol melompat ke atas kap mobil yang sedang melintas. Ketika pengemudi mobil itu marah, Eun-seol balas memarahinya sambil mengayunkan tinjunya.

“Kau juga salah. Lintasan ini untuk pejalan kaki yang menyeberang. Dan kau masih berani memakiku dengan kasar. Aku sangat sibuk sekarang, jadi aku lepaskan kau kali ini,” ujarnya.

Eun-seol terus berlari. Kakinya sampai lecet karena ia mengenakan sepatu berhak tinggi. Ia berjalan terpincang-pincang dan menemukan Ji-heon yang sedang memanggil namanya.

bl-00005 bl-00012

“Ada apa? Mengapa kau terus memanggilku?” seru Eun-seol.

Ji-heon berbalik dan terkejut melihat Eun-seol.

“Ada apa? Mengapa kau terus memanggilku? Mengapa?” tanya Eun-seol melepaskan kekesalannya.

Ji-heon tidak menjawab. Ia berjalan mendekati Eun-seol dan memeluknya.

bl-00017 bl-00026

“Menakjubkan. No Eun-seol, setiap kali aku memanggilmu, kau muncul begitu saja.”

Semua baik-baik saja sampai Ji-heon merusak suasana dengan meneruskan perkataannya, ”Seperti Superman. No-Eun-seol, kau superheroku,”

Eun-seol dengan kesal mendorong Ji-heon hingga jatuh ke tanah. Ia lalu menelepon Presdir Cha dan memberitahu kalau ia sudah menemukan Ji-heon, anaknya yang hilang. Eun-seol mengoper teleponnya pada Ji-heon.

bl-00033 bl-00037

“Ada apa?” tanya Ji-heon cuek pada ayahnya.

“Ada apa?? Dasar berandal, di mana kau sekarang? Cepat pulang! Tidak! Jangan pulang, jangan pernah berpikir untuk kembali!” seru Presdir Cha.

“Baiklah, aku tahu,” jawab Ji-heon singkat.

“Aku tahu? Apa yang kau tahu?! Dasar berandal!” Tapi Ji-heon sudah menutup teleponnya.

Nenek mendekati Presdir Cha dan bertanya ada apa. Presdir Cha berkata Ji-heon tidak akan pulang. Bukankah kau yang menyuruhnya jangan pulang barusan, kata Nenek. Presdir Cha berkata ia hanya menggunakan psikologi terbalik.

bl-00049 bl-00050

Moo-woon menunggu Eun-seol di restoran tempat mereka akan bertemu. Namun Eun-seol tidak datang juga. Ia menyuruh seseorang mengambilkan ponselnya yang tertinggal di mobil. Ada pesan dari Eun-seol yang memberitahukan ia akan datang terlambat dan meminta Moo-woon meneleponnya.

Moo-woon tersenyum. Tapi senyumnya hilang saat Na-yoon meneleponnya. Na-yoon sedang makan sendirian di restoran Perancis yang pernah ia datangi bersama Moo-woon dan Ji-heon. Ia mengeluh rasa dan suasananya tidak sama lagi. (Semua orang makan berpasangan di restoran itu).

Ia meminta Moo-woon datang jika tidak sibuk. Mo-woon berkata ia sedang sibuk dan sedang ada janji. Na-yoon meminta Moo-woon jangan menutup teleponnya. Ia minta maaf dan merasa tidak tahu malu (karena sudah menolak Moo-woon tapi masih meminta ditemani). Na-yoon tidak ingin makan di rumah tapi juga tidak mau makan sendirian. Ia sudah mengajak teman-teman sekantornya tapi tidak ada yang datang (karena ini weekend jadi tiap orang pasti punya acara).

Moo-woon minta maaf, ia benar-benar ada janji. Ia menutup teleponnya.

bl-00064bl-00066 

Ji-heon terus mengikuti Eun-seol. Ji-heon bertanya apa Eun-seol marah. Sebenarnya Eun-seol tidak perlu khawatir dan mencarinya. Eun-seol meledak.

“Bagaimana bisa aku tidak khawatir?!”

Ji-heon tertegun. Ia minta Eun-seol tenang dan ingat kalau dia adalah bosnya dan Eun-seol adalah sekretarisnya.

“Ya bos, tapi aku mungkin tidak akan menjadi sekretarismu lagi dalam waktu dekat.”

Ji-heon terkejut.

bl-00081 bl-00082

Eun-seol berkata mulai sekarang ia akan mengesampingkan perbedaan derajat mereka dan memberi Ji-heon nasihat.

“Dengar baik-baik, anak nakal,” ujarnya.

“Anak nakal?!”

“Kenapa? Apa ada masalah? Kita berumur sama tapi dalam hal kedewasaan, anggap aku kakak perempuanmu yang lebih bijaksana. Kau brengsek!”

Ji-heon tidak peduli dengan amarah Eun-seol. Ia ingin tahu apa yang dimaksud Eun-seol dengan tidak menjadi sekretarisnya lagi. Siapa yang menyetujui hal seperti itu?

Semua gara-gara kau, kata Eun-seol. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia sudah pernah mengingatkan jika Ji-heon terus seperti ini, ia mungkin akan berhenti.

Ji-heon mengira ini semua karena ayahnya. Ia minta Eun-seol jangan khawatir, ia akan membereskan semuanya. Tapi Eun-seol berkata ia sudah mengambil keputusan.

“Aku punya pemikiran seperti ini ketika aku mencarimu ke mana-mana. Sepertinya aku hanya akan mengorbankan hidupku untuk Cha Ji-heon. Hidupku akan berakhir begitu saja.”

Ji-heon masih tidak mengerti. Ia mencoba menenangkan Eun-seol. Ia bertingkah seperti tadi karena ia khawatir pada Eun-seol. Ia minta Eun-seol berpikir rasional.

“Aku sangat ketakutan hingga tidak bisa bernafas saat ini. Karena kau, hatiku sakit. Bukan itu saja seluruh tubuhku terasa sakit,” ujar Ji-heon memelas.

“Apa hanya kau yang kesakitan? Aku juga kesakitan sekarang!”

Ji-heon terkejut dan memeriksa Eun-seol, bertanya bagian mana yang sakit. Eun-seol menepis tangan Ji-heon.

“Apa kau pernah berlari dengan sepatu berhak tinggi? Aku selalu berlari sejak aku bertemu denganmu. Kakiku tidak pernah istirahat sejak itu. Kakiku sangat sakit. Apa hanya kakiku yang sakit? Kepalaku juga sangat sakit seperti terbelah. Cha Ji-heon, orang tak berguna itu, jika aku tidak kerja lagi, apa yang akan ia lakukan? Bagaimana ia akan hidup? Aku seperti seorang ibu yang mencari anaknya yang hilang. Aku bahkan belum menikah tapi aku sudah menjadi seorang ibu, kau berandal.”

bl-00094 bl-00096

Ji-heon tertegun mendengar perkataan Eun-seol.

“Kau bilang kau menyukaiku dan kau ingin aku berada di sisimu selamanya. Bagaimana dengan aku? Apa kau ingin aku mengurusmu seumur hidup? Dan menghabiskan hidupku ke sana kemari bagai wanita gila? Kakiku lelah dan sakit, hatiku juga. Kau selalu bilang aku heroik dan aku semacam superhero. Tidak, aku tidak sehebat itu. Jika seseorang bisa membayar hutang kartu kreditku, aku tidak ada penyesalan lagi. Aku ingin database bank rusak hingga seluruh hutangku terhapus. Aku hanya ingin pekerjaan stabil agar aku bisa bekerja tanpa khawatir. Aku tidak punya keinginan lain. Aku tidak sehebat itu, aku tidak semenakjubkan itu. Jadi jangan bergantung padaku, aku juga sangat lelah. Aku juga ingin bergantung pada seseorang.” Eun-seol menumpahkan seluruh unek-uneknya sementara Ji-heon hanya terpaku.

Eun-seol menyadari dirinya telah mengeluh padahal ia menyuruh Ji-heon jangan mengeluh. Ia mohon Ji-heon hidup dengan baik. Dan mengingat bukan hanya Ji-heon yang kesakitan dan menderita. Walau di luar semua orang terlihat baik-baik saja, mereka tidak bersikap kekanak-kanakkan seperti Ji-heon. Begitulah cara semua orang hidup.

Eun-seol bertanya apa Ji-heon mengerti perkataannya. Ji-heon diam saja.

“Jawab aku!!”

Ji-heon menarik nafas panjang. ‘Aku mengerti. Aku akan menerimanya tapi masalah kau berhenti, hentikan sampai di sini.”

bl-00114 bl-00116

Eun-seol tidak mendengar kata-kata Ji-heon karena ponselnya berbunyi. Ternyata Moo-woon yang mengirim pesan bahwa ia juga datang terlambat dan akan menunggu Eun-seol.

Eun-seol segera berlari. Ji-heon berkata ia belum selesai bicara. Eun-seol bilang ia sudah terlambat, ia lupa ada janji. Ji-heon ingin pergi bersama Eun-seol.

Eun-seol melarang Ji-heon ikut dan menyuruhnya langsung pulang ke rumah di mana ayahnya sudah menunggu. Ji-heon protes, bagaimana bisa hanya Eun-seol yang bicara. Ia juga ingin bicara. Dan lagi ia tidak punya uang maupun ponsel.

“Dengarkan aku baik-baik dan lakukan. Pertama, hentikan sebuah taksi. Kedua, katakan alamat rumahmu dan biarkan taksi itu membawamu pulang. Ketiga, sesampainya di pintu rumahmu, tekan bel dan minta seseorang di rumahmu membawakan uang untuk bayar taksi.”

Fiuh, memang cape banget ya kalau ngurus orang yang sepertinya tidak mandiri.

bl-00133 bl-00141

Eun-seol berkata ia sudah mengatakan caranya, terserah Ji-heon mau lakukan atau tidak. Eun-seol berlari pergi. Eh, Ji-heon malah terus ngikutin Eun-seol.

Eun-seol naik ke atas bus. Ji-heon menyusul dan memanggil Eun-seol tapi tidak berani naik. Eun-seol memalingkan wajahnya. Supir bus bertanya Ji-heon mau naik tidak. Ji-heon menguatkan dirinya dan …jleb! Naik ke atas bus. Walah, naik bus aja kaya siap-siap mau naik Jet Coaster di TransStudio hihihi^^

Ji-heon tidak membawa uang. Eun-seol memberi isyarat agar Ji-heon turun tapi Ji-heon menggelengkan kepalanya tidak mau. Eun-seol terpaksa membayar untuk Ji-heon.

Ji-heon duduk di belakang Eun-seol. Eun-seol berkata ia tidak peduli Ji-heon mengikutinya atau tidak. Ia akan menganggap Ji-heon tidak ada. Jadi sebaiknya Ji-heon tidak menghalanginya dan berpura-pura tidak kenal dengan Eun-seol.

bl-00149 bl-00157

Ji-heon mengerti, ia hanya ingin bicara dan minta Eun-seol mendengarnya.

“Aku minta maaf, No Eun-seol. Aku tidak adil padamu hari ini, Setelah kupikirkan sekarang, semuanya adalah kesalahanku. Aku akan meginstropeksi diri, jadi jangan marah. Mari kita bicarakan baik-baik, ya. Pertama, lupakan masalah pengunduran dirimu....”

Ji-heon mulai merasa sesak. Eun-seol menyadarinya. Ini pertama kalinya Ji-heon naik bus. Ia ingin berpegangan pada Eun-seol. Dengan tangan gemetar ia meraih lengan baju Eun-seol. Eun-seol membiarkannya, sebenarnya Eun-seol juga merasa kasihan. Tiba-tiba bus mengerem mendadak. Saking paniknya, Ji-heon menarik rambut Eun-seol. Bwahahaha^^ (antara kesel sama kasian liat Ji-heon kaya gini, seperti anak ayam kehilangan induknya)

bl-00172 bl-00175

Eun-seol tiba di restoran tempat Moo-woon menunggu, Ia minta Ji-heon pulang tapi Ji-heon diam mematung. Dengan kesal Eun-seol berkata terserah saja apapun yang Ji-heon mau lakukan. Eun-seol masuk ke dalam restora. Ji-heon berteriak ia akan menunggu dan menyuruh Eun-seol cepat selesai. Eun-seol tidak menghiraukannya.

Ji-heon kebingungan berada di luar sendirian. Ia memutuskan melihat siapa yang ditemui Eun-seol.

Moo-woon menyambut kedatangan Eun-seol dan dengan gentle menarikkan kursi untuk Eun-seol. Ia melihat Ji-heon berdiri di luar restoran. Moo-woon jelas merasa terganggu tapi ia tersenyum dan duduk di depan Eun-seol. Ji-heon melihat dengan sedih dan berlalu dari sana.

bl-00187 bl-00194

Eun-seol makan dengan lahap. Moo-woon tertawa, ia khawatir Eun-seol akan tersedak. Eun-seol menggelengkan kepala, perutnya sangat kuat. Ia bisa makan kapan saja dan karena pencernaannya juga kuat ia tidak akan tersedak.

Moo-woon mengeluarkan sesuatu dari kantung jasnya dan meletakkannya di atas meja. Sebuah jam tangan. Itu adalah pemberian ayahnya. Moo-woon berkata ia tidak pernah mendapat hadiah dari ayah dan ibunya dan tidak pernah membeli sesuatu bersama-sama. Jika ia memerlukan sesuatu, bahkan sebelum ia memerlukan sesuatu, ia memiliki buku cek atau kartu kredit.

“Wah, jika aku memerlukan sesuatu, aku akan menangis dan memohon selama 3 bulan,” sahut Eun-seol (sadly but true…itulah perbedaan besar antara mereka)

MP-00005 MP-00007

Moo-woon tersenyum, dalam ingatannya hanya jam ini yang pernah ia beli bersama ayahnya. Moo-woon bercerita tidak ada seorangpun yang pernah berkata kalau ayahnya seorang yang baik. Tapi bagaimanapun juga ia adalah ayahnya, jadi baginya jam itu sangat berarti. Ia sudah lama melupakan jam ini tapi ketika ia hendak menemui Eun-seol, ia tiba-tiba menemukannya kembali.

“Jadi kupikir : Ah, ini pasti takdir.”

“Dengan pemikiran itu, kau mengeluarkannya untuk memberikannya padaku?” tanya Eun-seol.

“Awalnya aku hendak memberikannya tapi tidak jadi. Aku akan memakainya sendiri,” sahut Moo-woon sambil mengambil jam itu.

Eun-seol tertawa geli, mengapa. Kau tidak akan menerimanya, ujar Moo-woon. Untuk saat ini ia akan menahannya dan berusaha untuk mencobanya lagi di masa yang akan datang. Eun-seol tahu Moo-woon sudah bisa menerka apa yang akan dikatakannya.

Moo-woon bertanya apa hanya dirinya yang ditolak Eun-seol? Atau Ji-heon juga? Eun-seol berkata ia menolak keduanya. Moo-woon malah tertawa lega. Ia tahu sebelumnya ia tidak punya kesempatan tapi sekarang ia bisa bersaing bersama Ji-heon secara adil dari awal.

Eun-seol tahu ia seharusnya merasa tersanjung tapi ia tidak bisa berterima kasih saat ini. Moo-woon bertanya apa ia dan Ji-heon sangat mengganggu bagi Eun-seol. Eun-seol menyangkalnya. Moo-woon meminta Eun-seol memperbolehkan ia dan Ji-heon di sisinya, baru membuat keputusan.

MP-00017 MP-00025

“Tentu saja jika akhirnya kau memilihku, itu bagus sekali,” ujar Moo-woon dengan wajah penuh harap. So cuuuute (sorry dee, but can’t help it^^).

“Setiap kali aku melihatmu, jantungku mulai berdebar kencang. Tapi Direktur Cha Ji-heon…”

“Aku tidak mau mendengarnya,” potong Moo-woon. Eun-seol menatap Moo-woon dan menghela nafas.

Na-yoon berjalan-jalan sendirian di mall. Ia cemberut melihat orang lain yang berpasangan. Ia melihat Ji-heon yang sedang berdiri di depan toko obat. Na-yoon dengan senang menyapanya. Tapi ia buru-buru menutupi wajahnya.

“Kau bilang kau akan ingat,” ujarnya sedih.

“Sudahlah, aku sudah melupakannya,” sahut Ji-heon. Na-yoon senang sekali (satu lagi nih yang cute^^).

MP-00042 MP-00046

Ia bertanya apa yang Ji-heon lakukan seorang diri di sini. Bukannya menjawab, Ji-heon balik bertanya mengapa Na-yoon sendirian di sini. Na-yoon berbohong ia sedang mengumpulkan informasi. Dalam bidang periklanan, semua harus dimengerti dengan jelas.

Ji-heon melihat kaki Na-yoon yang mengenakan high heels. Ia bertanya apakah kaki akan sakit jika berlari dengan high heels.

“Untuk apa aku berlari dengan high heels? Itu sangat tidak berkelas. Sejujurnya, bukan hanya berlari, tapi berjalan dan berdiri saja sudah membuat kaki sakit. Kakiku bahkan sedikit bengkak.” (fanny’s confession: I never wear high heels. Not because I don’t want to but because I can’t. I always trip my feet and fell when I tried out one >,<)

“Begitu ya. Jadi bagaimana bisa Eun-seol berlari tiap hari dengan sepatu itu?” gumam Ji-heon.

“Tolong jangan sebut wanita itu di depanku,” sahut Na-yoon kesal.

“Baiklah,” kata Ji-heon tak peduli, “Tapi bisakah kau meminjamkan sedikit uang?”

Na-yoon terkejut Ji-heon tidak punya uang sama sekali (Ji-heon kan orang kaya). Na-yoon terus mengikuti Ji-heon yang berjalan kembali ke restoran tempat Eun-seol dan Moo-woon bertemu. Awalnya Na-yoon tidak tahu Ji-heon hendak berjalan ke mana tapi akhirnya ia bisa menebak Ji-heon hendak mencari Eun-seol dan Eun-seol sedang bersama Moo-woon. Ji-heon memegang plester di tangannya, untuk kaki Eun-seol. (Ji-heon membeli plester setelah meminjam uang Na-yoon)

Ji-heon menyuruh Na-yoon melihat apakah Eun-seol masih di dalam. Na-yoon tak percaya Ji-heon menyuruhnya melakukan hal itu. Jika kau tak melihatnya biar aku saja, kata Ji-heon. Na-yoon melarangnya, ia yang akan pergi.

Eun-seol dan Moo-woon masih berbicara di dalam restoran. Moo-woon berkata ia tidak akan menyerah selama masih ada kesempatan. Eun-seol tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Moo-woon tak sengaja melihat ke jendela. Ia terkejut melihat dua orang, yag satu cemberut yang satu salah tingkah, sedang memandangi mereka di luar jendela.

“Kita memiliki sepasang pengganggu,” ujar Moo-woon tersenyum geli. Eun-seol menoleh dan melihat mereka. Ia bergumam apa mereka tidak punya harga diri. Moo-woon berkata Na-yoon bukanlah seseorang yang akan merasa malu.

MP-00083 MP-00080

Pegawai restoran memberikan sesuatu pada Moo-woon. Moo-woon berlutut di depan Eun-seol dan meminta kaki Eun-seol. Ia berkata ia melihat Eun-seol berjalan terpincang-pincang jadi ia menyuruh seseorang membelikan plester. Eun-seol merasa risih, ia takut orang lain salah paham. Dan lagi Moo-woon termasuk bosnya. Ji-heon melihat dengan perasaan kecewa dan kesal. Moo-woon hendak berdiri sementara Eun-seol menunduk. Duk, kepala mereka beradu. Na-yoon tak bisa menahan tawanya.

MP-00090 MP-00098

Eun-seol dan Moo-woon keluar dari restoran. Mereka langsung dicegat Ji-heon. Ia berkata sekarang adalah gilirannya dan mengajak Eun-seol pergi.

“Bagaimana ini? Perlukah kita bermain dengan kedua kepala kosong ini atau apakah sebaiknya kita menghentikan malam ini sampai di sini?” ujar Moo-woon. Na-yoon tak percaya Moo-woon menyebutnya kepala kosong.

Moo-woon mengajak Eun-seol pergi, ia akan mengantar Eun-seol pulang. Ji-heon berkata ia yang akan mengantar Eun-seol. Moo-woon dan Ji-heon berebut hendak mengantar Eun-seol pulang. Ji-heon masih ingin berbicara dengan Eun-seol tapi Eun-seol berkata tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.

“Kau bisa mengatakan apapun yang mau kau katakan. Tapi aku juga ingin mengatakan sesuatu,” kata Ji-heon serius.

“Nn. Eun-seol sudah bilang tidak mau mendengarnya!” sergah Moo-woon.

“Nona apanya? Dia benci dipanggil nona,” ujar Ji-heon.

“Itu membuatmu marah?” tanya Moo-woon kaget.

“Tidak,” jawab Eun-seol.

“Lihat, dia bilang tidak begitu. Pergilah, jangan diam di sini,” kata Moo-woon merasa menang. Moo-woon dan Eun-seol berjalan pergi. Kali ini Na-yoon tidak diam saja. Ia langsung berkata akan mengantar Eun-seol pulang dalam keadaan baik. Dengan penuh sindiran pada Ji-heon dan Moo-woon.

MP-00113 MP-00120

Eun-seol pulang dengan Na-yoon. Bukan pulang sih, soalnya ngga nyampe 100 m Eun-seol langsung disuruh turun. Eun-seol merasa geli dan turun tapi Na-yoon memanggilnya lagi dan mengajak Eun-seol minum. Eun-seol mau asal Na-yoon yang menraktir.

Pasangan Cha-Cha juga pergi minum. Ji-heon heran Moo-woon mengetahui tempat minum seperti itu. Biasanya kalo chaebol kan di bar minumnya hehehe^^ Moo-woon berkata ia pernah ke sini bersama Eun-seol.

“Apa kau sudah makan? Jika belum, makanlah ramen. Ramen dan soju sangat enak dimakan bersamaan. Sebenarnya, ini yang dikatakan Eun-seol,” kata Moo-woon memanas-manasi. Ji-heon menatap Moo-woon. Ji-heon balik bertanya apakah Moo-woon pernah minum makguli (sejenis minuman berlkohol hasil fermentasi, pernah menjadi bagian dari drama Cinderella Sister dan kabarnya akan ada drama baru yang berjudul Makguli). Ia pernah meminumnya bersama Eun-seol. Perang dimulai.

MP-00138 MP-00139

Na-yoon dan Eun-seol pergi minum di tempat berbeda. Eh, Eun-seol makan lagi hehehe…padahal kan tadi udah makan sama Moo-woon :p

Na-yoon bertanya apa rencana Eun-seol, apa ia akan bersenang-senang dengan keduanya (Ji-heon dan Moo-woon). Eun-seol mengiyakan, lalu kenapa? Na-yoon terkejut dengan keterusterangan Eun-seol.

“Apa kau belum pernah mendengar peribahasa: jika kau mencoba menangkap dua kelinci, pada akhirnya kau tidak akan memperoleh satupun?”

“Terima kasih atas pelajarannya,” sindir Eun-seol. Ia menyalahkan Na-yoon yang telah mendepak keduanya. Mengapa Na-yoon mendepak Moo-woon?

“Kaupikir aku mendepaknya karena aku tidak menyukainya? Ini karena Ji-heon jauh…jauh lebih baik. Suami istri kan hanya satu jadi tak ada lagi yang bisa kulakukan. Tapi mengapa orang yang kucampakkan harus bersama denganmu?”

MP-00151 MP-00152

Na-yoon meminta Eun-seol mendengar nasihatnya baik-baik. Ia bukanlah orang kaya biasanya. Ia sepenuhnya hidup dengan kemampuannya sendiri. Baginya itu romantis. Itulah sebabnya ia pergi ke New York, ia ingin hidup dengan kekuatannya sendiri. Walau terlihat bodoh bagi orang tua tapi ia punya kemampuan. Apapun yang terjadi, ia bisa menanganinya dengan baik. Jadi ia pergi dengan tangan kosong.

“Tapi?”

“Ternyata hal itu lebih dari sulit yang kubayangkan. Bekerja untuk menghidupi diriku sendiri.”

“Apa kau bertahan setidaknya satu tahun?”

Na-yoon tidak menjawab.

“Atau kurang dari itu? Setengah tahun? 3 bulan?”

“Lebih dari 3 bulan,” sahut Na-yoon. Haha, baginya lebih dari 3 bulan juga sudah kebanggaan.

Eun-seol takjub, jadi hidup dengan kemampuan sendiri selama 3 bulan bukanlah seperti orang kaya biasanya? Na-yoon berkata pelariannya memberinya pelajaran, ia harus berhenti menentang dan kembali ke tempatnya. Na-yoon tuh kaya Ji-heon, drama queen hihihi^^

MP-00157 MP-00160

“Apa kau tidak berpikir aku sudah tahu hal itu?” sahut Eun-seol tenang.

“Tidak bisakah kau berpura-pura tidak tahu? kepribadianmu sungguh mengesalkan.”

“Dan kau bisanya hanya mengkritik orang.” Eun-seol geli dengan sikap Na-yoon yang terlihat takut padanya.

Cha-Cha minum soju. Lucunya Moo-woon mencampur soju dengan coca cola hahaha…takut mabuk lagi^^

Moo-woon menerka Ji-heon sudah tahu hubungannya dengan Na-yoon (sebelum Na-yoon mendepaknya). Ji-heon berkata awalnya ia hanya berspekulasi tapi hari ini ia memastikannya. Ji-heon berkata sejak Moo-woon pulang dari New York, Moo-woon tidak berani menatap matanya. Jadi ia menerka ada hubungannya dengan Na-yoon.

“Oh, begitu. Walau aku merasa buruk mengenai Na-yoon tapi aku tidak akan meminta maaf karena waktu itu aku benar-benar serius dengannya. Sementara bagi Na-yoon hanya gerak hati semata.”

Ji-heon berkata ia bisa menebak karena ia selalu membayangkan kemungkinan terburuk dan anehnya apa yang ia bayangkan selalu menjadi kenyataan. Artinya hal terburuk selalu terjadi padanya.

“Apa intuisimu mengenai Eun-seol?” tanya Moo-woon.

“Tidak ada. Karena tidak akan ada masalah antara diriku dan Eun-seol.”

Moo-woon berkata ia juga tidak akan bermasalah dengan Eun-seol. Ji-heon tertawa tak percaya.

MP-00170 MP-00173

Eun-seol mandapati Na-yoon tertidur di meja saat ia kembali dari toilet. Eun-seol berusaha membangunkannya tapi tak berhasil. Ia menelepon Moo-woon. Tapi yang mengangkat malah pemilik kedai minum.

Pemilik kedai marah-marah. Istrinya sudah mau melahirkan sementara Ji-heon dan Moo-woon tertidur karena mabuk di kedainya. Ia menyuruh Eun-seol membawa keduanya pergi.

MP-00190 MP-00197

Terpaksa Eun-seol memapah Na-yoon keluar.

“Mengapa kau begitu tinggi?! Walau aku kuat tapi ini tidak masuk akal, Es Krim! (panggilan Eun-seol untuk Na-yoon)” Eun-seol kewalahan.

“Aku sangat membencimu…kenapa kau?!” celoteh Na-yoon dan hendak muntah >,<

Lalu Eun-seol pergi ke kedai minum. Ia menggendong Ji-heon sementara pemilik kedai menggendong Moo-woon. Hmmm…apa ngga kebalik ya? Kayanya Moo-woon lebih ringan dari Ji-heon deh^^ Choi Kang-hee kuat banget ya gendong cowo, jadi inget Eun Chan gendong Han-kyeol di Coffee Prince :p (kalo aku, pasti pinggangku remuk deh)

MP-00204 MP-00209

Eun-seol mendudukkan mereka di bangku. Tiga-tiganya terkapar hehehe…bahkan Ji-heon memeluk Moo-woon!! Eun-seol lelah sekali tapi juga geli melihat mereka. Bagaimana bisa satu botol soju meluluhlantakkan dua pria?

MP-00215 MP-00223

Ayah Ji-heon menunggu Ji-heon pulang hingga tertidur di sofa. Ia terbangun saat teleponnya berbunyi. Eun-seol langsung bertanya apa Presdir tahu nomor telepon darurat. Di sini ada tiga orang terkapar.

“Moo Neu-nim, Direktur, Gadis Es Krim…”Eun-seol mengabsen satu per satu. Kontan Presdir Cha berteriak, “Sadarkan dirimu dan katakan dengan jelas!” Begitu mengetahui apa yang terjadi, ia segera menghubungi ibu Moo-woon dan ibu Moo-woon menghubungi ibu Na-yoon.

Eun-seol mendudukkan ketiganya di pinggir jalan. Ia tersenyum melihat ketiganya. Lalu menyanyi sambil memilih antara Ji-heon dan Moo-won. (kalau di aku sih biasanya lagu “bang bang tut siapa yang kentut?” hehehe^^)

Jarinya menunjuk Ji-heon. Seandainya semudah itu untuk memilih, gumamnya. Ia terus memperhatikan Ji-heon dan berlutut di depannya.

MP-00251 MP-00255

Presdir Cha yang pertama menjemput. Setelah memasukkan Ji-heon ke mobil, Eun-seol dimarahi oleh Predir. Mengapa bisa terjadi seperti ini? Eun-seol juga tidak tahu. Ji-heon masih memanggil-manggil Eun-seol. Presdir Cha mendorong Ji-heon masuk. Ia kesal anaknya terus mencari Eun-seol, bukan dirinya. Tapi Presdir mengajak Eun-seol ikut, ia akan mengantarnya pulang. Eun-seol berkata ia akan pulang sendiri setelah Moo-woon dan Na-yoon dijemput. Predir Cha akan berbicara dengan Eun-seol di kantor besok.

Na-yoon dan Moo-woon dijemput ibu masing-masing. Tentu saja keduanya menyalahkan Eun-seol. Padahal Eun-seol sudah berbaik hati. Bisa saja kan dia meninggalkan ketiganya begitu saja? Eun-seol sangat kesal, belum lagi kakinya terasa sakit.

MP-00261 MP-00263

Saat berjalan, ia tak sengaja menabrak dua pria. Para pria itu mengajaknya minum. Eun-seol menepis tangan mereka dan menolak. Tapi kedua pria itu terus memaksanya. Eun-seol tak tahan lagi. “Di hari seperti ini kalian malah membuatku marah. Seharusnya kalian pergi saat aku menyuruhnya. Mengapa kalian seperti ini?!” Eun-seol mengacungkan tinjunya.

MP-00272 MP-00277

Myung-ran heran mengapa Eun-seol belum pulang juga. Ia menelepon Eun-seol. Eun-seol baru saja “membereskan” kedua pria hidung belang itu. “”Myung-raan!!” ratapnya saat mengangkat telepon Myung-ran.

Myung-ran menjemput Eun-seol. Keduanya bernyanyi-nyanyi di dalam mobil. Lalu mereka duduk minum di depan rumah. Eun-seol mencari-cari bintang di langit.

MP-00290 MP-00302

“Kenapa? Apa kau mau membuat permohonan lagi?” tanya Myung-ran.

Eun-seol menggeleng. Ia mau komplain. Ia hanya minta pekerjaan, tidak pernah meminta kedua direktur menyukainya. Kau akan dihukum karena terlalu serakah, ujar Myung-ran.

Eun-seol merasa kepenuhan hingga ia merasa sesak. Seandainya hanya karena ketampanan dan satu orang saja, bukan keduanya, pasti tidak akan menjadi beban. Ia juga tidak perlu khawatir dengan para ibu.

Myung-ran berkata para ibu seperti itu selalu menganggap anak mereka yang lebih hebat. Lalu kenapa? Aku juga cantik bagi ayahku, kata Eun-seol. Betul, bagi ayahku aku juga yang paliiiing berharga, sahut Myung-ran. Keduanya merasa lebih baik sekarang.

Keesokan paginya Moo-woon dan Ji-heon bangun dengan satu kata di kepala: No Eun-seol. Eh, liat kaus Moo-woon itu memang modelnya robek-robek atau memang kaus dia beneran ya? Bukan properti drama?

MP-00317 MP-00321

Eun-seol bangun dengan perasaan tidak enak. Ia merasa tertular Ji-heon karena bisa merasakan seluruh tubuhnya merinding dan merasa akan terjadi sesuatu yang buruk hari ini yang akan membuatnya sangat lelah.

Ji-heon berlari menemui ayahnya yang sedang duduk merawat yanaman. Ia terus menanyakan bagaimana dengan Eun-seol, seperti orang kalap. Presdir Cha membentaknya sampai mengacungkan gunting tanaman. Karena Ji-heon terus memanggil Eun-seol ia jadi bermimpi Eun-seol semalam. Ji-heon mundur ketakutan, bukankah gunting itu berbahaya.

MP-00326 MP-00336

Presdir Cha menurunkan guntingnya. Ia tak pernah mengurus tanaman sebelumnya. Ia sedang berusaha menenangkan pikirannya. Ji-heon menuduh ayahnya memecat Eun-seol hingga merasa bersalah.

“Aku belum memecatnya, dasar berandal.”

“Itu bagus sekali. Ayah, coba bandingkan aku sebelum dan sesudah bertemu dengan Eun-seol.”

“Kau berubah.”

“Aku sudah menjadi manusia sekarang.”

“Masih jauh dari itu.” Bwahahaha^^

Ji-heon berkeras ia sudah melangkah jauh. Presdir Cha mengakuinya. Coba bayangkan jika Eun-seol dipecat, Ji-heon menakut-nakuti Presdir Cha. Presdir Cha minta Ji-heon tidak membicarakannya. Semalaman ia memikirkan hal ini. Setiap keputusan mengandung resiko.

Ji-heon meminta ayahnya jangan cemas. Ia akan menjadi pemegang saham terbanyak dan semuanya akan baik-baik saja. Ayahnya bertanya apa Ji-heon sedang menggunakan perusahaan untuk mengancamnya. Ji-heon tidak bermaksud begitu. Ia tanya apa ayahnya peduli pada kebahagiaannya.

“Bagaimana dengan kebahagiaanku!! Apa hanya kebahagiaanmu yang penting?!” sembur Presdir.

“Tentu saja kebahagiaanku yang paling penting.”

Presdir Cha marah. Ji-heon cepat kabur tapi ditangkap ayahnya. Ayahnya bertanya dengan frustasi mengapa Ji-heon selalu mencari Eun-seol. Mengapa Ji-heon sangat membutuhkan Eun-seol?

“Karena hanya dia yang mengerti aku. Dia mengetahui siapa aku, tidak menghakimiku dan mendampingiku.”

MP-00374 MP-00380

“Aap orang lain tidak mengerti dirimu?” tanya Predir Cha dengan hati terluka.

“Mereka tidak mengerti. Demikian juga dengan ayah.”

Presdir Cha tertegun. Ji-heon menggunakan kesempatan ini untuk melepaskan diri dari ayahnya. Presdir Cha mengejar Ji-heon. Ia bertanya dengan cara apa ia tidak mengerti anakanya. Tapi Ji-heon tidak menjawab dan buru-buru masuk ke rumah.

Presdir Cha hendak menyusul tepat saat nenek keluar rumah. Nenek sangat terkejut melihat Presdir Cha mengacungkan gunting. Nenek menyuruh Presdir Cha minggir, ia sedang sibuk sekarang. Presdir bertanya ibunya mau ke mana.

MP-00390 MP-00392

Firasat Eun-seol menjadi kenyataan. Ia dipanggil menemui ibu Moo-woon dan ibu Na-yoon.

“Kau bilang tidak akan berurusan dengan para chaebol. Lalu apa yang terjadi kemarin?” tanya ibu Moo-woon.

Ibu Na-yon bertanya apa Eun-seol akan terus bersikap seperti ini. Ia bercerita seorang gadis pernah mengacaukan hidup putra keduanya dan sekarang gadis itu tidak pernah bisa kembai ke Korea. Mungkin saja hal itu terjadi pada Eun-seol juga. Eun-seol hanya diam.

“Dia bukan putramu,” bisik ibu Moo-woon. Menurut hukum demikian, sahut ibu Na-yoon. Interesting, apa ayah Na-yoon memiliki beberapa istri?

“Apa kalian sudah selesai dengan ancaman kalian?” tanya Eun-seol tiba-tiba. Apa, kedua ibu itu terkejut.

“Kalau begitu aku juga akan mengatakan sesuatu. Aku benar-benar tidak mau sejauh ini tpai jika kalian terus bersikap seperti ini, aku akan merayu Direktur Cha Moo-woon dan Cha Ji-heon sekaligus.”

Langsung deh pada mangap hihihi…hidup Eun-seol!! Eun-seol menunjukkan ponselnya dan menunjukkan pada ibu Moo-woon.

MP-00403 MP-00405

“Putramu terus menelepon. Demikan juga Na-yoon memintaku untuk menemuinya sejak kemarin.”

Ibu Moo-woon meraih ponsel itu dan memarahi “Moo-woon”.

“Mengapa kau trus menelepon?! Apa kau mau mati?” bentaknya.

“Apa?!! Menangnya siapa kau?” seru Presdir Cha. “Apa ini No Eun-seol?”

“Kau…Cha Bong man?”

“Suk-hee?”

Ibu Moo-woon bertanya mengapa Presdir Cha menelepon di saat seperti ini. Presdir Cha bingung, apa salahnya menelepon sekretaris putranya, memangnya harus menunggu saat yang tepat? Hihihi bener juga^^

Presdir Cha bertanya mengapa ibu Moo-woon menemui Eun-seol. Apa untuk memarahinya? Ibu Moo-woon tidak mau mengatakannya dan langsung menutup telepon. Presdir Cha mencak-mencak.

MP-00412MP-00413 

Ibu Moo-woon merasa malu sekali dan terus menggeser tubuhnya hingga ibu Na-yoon protes, ia hampir terjatuh dari bangku. Ibu Moo-woon mengeluh udara panas dan tidak ada AC, pantas saja disebut tempat buruk.

“Benar, karena itu jangan datang ke lingkungan buruk ini dengan sikap buruk kalian. Kumohon pada kalian,” sahut Eun-seol. Kedua ibu itu tercengang. Ibu Na-yoon berkata ia tidak tahan lagi, tidak adakah yang mengajari gadis ini sopan santun?

Eun-seol kesal sekali. Ia menoleh ke jendela.

“Dia datang,” gumamnya.

Nenek berdiri di luar dengan wajah kesal pada kedua ibu. Kedua ibu langsung keluar dan mencoba menjelaskan. Mereka telah berkali-kali dikacaukan oleh Eun-seol. Jadi mereka datang berdua karena takut dipermainkan oleh Eun-seol.

MP-00426MP-00428

“Seumur hidup baru kali ini kami dihina seperti ini,” ibu Na-yoon merajuk.

“Kalau tahu begitu mengapa kalian datang ke sini dan dengan sengaja menaruh diri kalian dalam situasi ini?”

Mereka mengadu kalau Eun-seol bukan gadis yang mudah dihadapi hingga mereka harus melangkah lebih jauh. Nenek berkata kalau begitu bagaimana bisa Na-yoon terdepak oleh seorang sekretaris? Ibu Na-yoon membela diri, Na-yoon yang menolak Moo-woon.

 MP-00429  MP-00438

Setelah kedua ibu pergi, Nenek berbicara berdua dengan Eun-seol. Ia meminta maaf atas perbuatan mereka. Tapi ia juga berterima kasih pada Eun-seol. Eun-seol tampak bingung.

“Kau pasti sudah tahu sekarang. Entah bagaimana tubuh mereka tumbuh dewasa tapi mereka masih berpikir seperti anak kecil. Saat konstruksi dulu aku begitu sibuk (hingga tak bisa mendidik anak-menantunya). Tapi sekarang apa yang tak bisa kulakukan, kau telah melakukannya. Tentu saja dibandingkan dengan tubuh tuaku ini, seorang nona muda tentu lebih baik.”

Eun-seol tidak mengerti apa maksud Nenek. Nenek meminta Eun-seol tetap bekerja di DN Grup walau melelahkan, ia akan berbicara dengan Presdir Cha. Eun-seol berkata mungkin Nenek sudah tahu kalau kedua cucunya menyukainya dan memperebutkannya, tapi nenek masih memintanya bekerja di sana?

Nenek membenarkan. Kedua cucunya membuatnya sakit kepala. Tapi hanya karena Eun-seol berhenti, apa kedua orang itu akan berhenti menyukai Eun-seol? Dan lagi perebutan ini bukankah lebih baik daripada perebutan kekuasaan di perusahaan? Nenek berkata ia sudah lelah menghadapi orang-orang semacam itu.

Ia khawatir hal ini akan melelahkan Eun-seol. Eun-seol mengaku ia merasa lelah. Ia juga khawatir tidak bisa menjaga perasaannya dan sesuatu akan terjadi. Eun-seol penasaran dan bertanya pada Nenek, apakah dari kedua cucunya salah satu harus menjadi Presdir? Nenek tidak tahu, mungkin saja begitu tapi bisa juga tidak. Nenek berada di pihak yang mana, tanya Eun-seol. Rumor beredar kalau Nenek memihak Ji-heon. Benarkah? Tanya Nenek heran. Ia balik bertanya siapa yang disukai Eun-seol di antara keduanya.

“Itu rahasia,” sahut Eun-seol gugup.

“Kalau begitu kau memang menyukai salah satu dari mereka,” ujar Nenek.

“Aku tidak begitu yakin, mungkin 49% dan 51%.”

“Aku merasa kasihan pada yang tidak terpilih,” sahut Nenek mengerti dengan segurat rasa sedih.

MP-00457 MP-00459

Na-yoon berbelanja di mall. Ia sedang menunggu telepon seseorang. Ketika teleponnya berbunyi, ia dengan gembira segera mengangkatnya.

“Ada apa?” tanyanya pura-pura cuek.

“Apanya yang ada apa? Kau yang meneleponku duluan,” sahut Eun-seol.

“Sekarang kan kau yang meneleponku duluan.”

“Jika tidak ada yang mau kaukatakan maka aku akan menutup telepon. Aku sibuk.”

“Apa yang membuatmu begitu sibuk hingga tak bisa mengangkat teleponku?

“Benar, aku tidak mempunyai waktu dan energi. Aku sibuk karena ibu dari beberapa orang,” ujar Eun-seol.

“Ibuku mencarimu, kan? Benar-benar bisa gila,” keluh Na-yoon.

“Siapa yang bisa jadi gila?” sindir Eun-seol.

Na-yoon ingin bertemu dengan Eun-seol tapi Eun-seol berkeras dia sedang sibuk. Na-yoon merengek mengapa semua orang begitu sibuk.

MP-00475 MP-00478

Kasian Na-yoon. Bisa ditebak kan, orang berikutnya yang dia panggil? Na-yoon cemberut karena Moo-woon hanya mau menemuinya jika ada hal darurat saja. Moo-woon beralasan ia masih merasa pening akibat mabuk semalam.

Na-yoon minta Moo-woon tidak membuat alasan lagi. Ia sedang dalam proses menerima kenyataan bahwa ia tidak lagi berarti bagi Ji-heon dan Moo-woon. Moo-woon tersenyum dan bertanya ada apa sebenarnya.

Na-yoon sedikit kesal. Moo-woon bahkan tidak membantah jika Na-yoon tidak berarti lagi bagi dirinya. Na-yoon menceritakan kalau ibunya dan ibu Moo-woon pergi menemui Eun-seol. Moo-woon terkejut.

MP-00490 MP-00492

Ji-heon duduk sendiri di kamarnya, mengingat semua kata-kata Eun-seol kemarin malam setelah ia menemukan Ji-heon. Ji-heon menarik nafas panjang dan mengambil sebuah keputusan. Ia pergi ke arena teater terbuka di mana banyak orang bersantai, berjalan-jalan atau berolahraga.

Ji-heon memegang dadanya dan menenangkan dirinya. Ia ingat Eun-seol meminta terus berlatih untuk mengatasi rasa paniknya dan untuk terus berbicara di depan orang banyak.

Ji-heon mulai bertepuk tangan dan menyanyi keras-keras. Ia juga berlari untuk membiasakan diri dengan degup jantung kencang.

MP-00494 MP-00504

Ibu Na-yoon dan ibu Moo-woon menemui Presdir Cha. Ibu Na-yoon mulai menyindir ibu Moo-woon yang meminjam uangnya. Ibu Moo-woon tentu saja kesal. Ibu Na-yoon juga mengingatkan, jika ia bersekutu dengan ibu Moo-woon maka mereka bisa menghalangi Ji-heon menjadi pewaris. Bahkan kekuasaan Presdir pun bisa hancur. Presdir Cha tidak gentar, baru punya kekuasaan sedikit saja ibu Na-yoon sudah berani mengancamnya. Ibu Moo-woon mengangguk setuju dengan Presdir Cha. Haha...dua orang ini bisa kompak juga.

‘Aigoo...Kau tidak tumbuh dengan minum air hujan. Setiap hari penampilanmu palsu!" sembur Presdir Cha.

“Apa? Kau bilang aku minum apa?” tanya ibu Na-yoon tak percaya. Ibu Moo-woon tak bisa menahan tawanya. Presdir Cha berkata ibu Na-yoon tidak bisa menawar Ji-heon, jadi tawar saja Moo-woon (untuk Na-yoon). Ibu Moo-woon juga tidak terima anaknya dijadikan bisnis. Tapi Ibu Na-yoon jadi tersinggung, memangnya dia mau menawar siapa? Presdir Cha menyuruh kedua ibu ceriwis itu pergi.

MP-00510 MP-00512

Keduanya naik lift. Ibu Na-yoon masih kesal. Ibu Moo-woon mencoba membujuknya. Ia mengeluarkan cermin dan menawarkannya pada ibu Na-yoon. Ibu Na-yoon menolaknya. Ya sudah kalau kau tak mau, ibu Moo-woon malah bercermin sendiri. Ibu Na-yoon merengut.

Mereka keluar dari lift dan berpapasan dengan Eun-seol. Eun-seol melihat mereka dengan letih, “Kalian berdua benar-benar sibuk.” Ia lalu masuk ke lift. Kedua ibu lagi-lagi ternganga mendengar ucapan Eun-seol.

MP-00523 MP-00530

Eun-seol menemui Presdir Cha dan bertanya apakah Presdir sudah memutuskan ke mana ia akan dipindahkan.

“Apa kau bersedia pergi ke manapun kau kutempatkan?”

“Orang seperti aku, jika kau suruh pergi tentu saja harus pergi,” sahut Eun-seol.

“Kata-katamu mengandung sindiran.”

Eun-seol minta maaf. Presdir Cha berkata ia belum memutuskan, ia minta Eun-seol bekerja seperti biasa untuk sementara. Eun-seol setuju tapi ke manapun Presdir mengirimnya, ia harus dijadikan pegawai tetap sesuai janji Presdir. Presdir berkata ia orang yang memegang janji.

Presdir memanggil Eun-seol karena urusan lain. Ia bertanya apakah Eun-seol mengetahui sesuatu tentang Ji-heon yang tidak ia ketahui. Eun-seol meminta Presdir langsung bertanya pada Ji-heon sendiri. Karena pasti ada alasannya Ji-heon tidak mengatakan apapun pada Presdir. Presdir membentak Eun-seol agar segera memberitahunya.

MP-00531 MP-00532

Eun-seol pergi ke kantor sekretaris dan minum kopi di dapurnya. Ia melihat kantor Ji-heon yang kosong dan mengingat kepanikan Ji-heon saat Eun-seol berkata mungkin tidak akan menjadi sekretarisnya lagi. Juga wajah sedih Ji-heon saat melihatnya dengan Moo-woon. Eun-seol menarik nafas panjang.

“Walau sudah berakhir bagi kita, tapi dia tidak mengirim pesan sedikitpun dan menanyakan apakah aku pulang dengan selamat,” keluhnya.

Eun-seol mengambil ponselnya dan melihat tidak ada pesan. Eun-seol merasa bodoh telah begitu berharap. Tiba-tiba ada pesan masuk dari Ji-heon. Eun-seol tersenyum dan harus mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu senang. Eun-seol membuka pesan tersebut.

MP-00534MP-00533 

Pesan video Ji-heon:

“Mulai sekarang, aku akan memulai pidato 3 menit. Saat ini aku mencoba untuk tidak bergantung pada No Eun-seol dan menjadi lebih mandiri. Aku berusaha sendiri. Tapi untuk sekarang....untuk sekarang... aku masih tidak bisa melakukannya tanpa No Eun-seol. Aku akan terus mencoba....jadi kumohon jangan pergi ke manapun. Aku bergantung padamu No Eun-seol.” Ji-heon mengucapkan semua itu dengan terengah-engah setelah berlari.

Tanpa sadar Eun-seol menangis, kau sebut itu pidato 3 menit?

MP-00538 MP-00539

Ji-heon meneleponnya. Ia bertanya apa Eun-seol tidak tersentuh sama sekali? Eun-seol tersenyum, “Menyentuh ujung belakangku.” Ji-heon berkata ia sudah berolahraga dan juga menyanyi tapi Eun-seol tidak tersentuh sama sekali?

Tidak, tidak sama sekali, jawab Eun-seol. Ji-heon berkata Eun-seol benar-benar kejam. Apa boleh buat, ia harus terus berusaha lebih keras.

“Tapi udara hari ini begitu bagus, tidak bisakah kau keluar? Kurasa kau harus keluar.”

“Apa kau di luar kantor?” tanya Eun-seol terkejut.

Ternyata Ji-heon di depan rumah Eun-seol. Ia bingung mengapa Eun-seol pergi bekerja pada hari minggu. Ia langsung panik, apa Eun-seol sedang membereskan barang-barangnya (karena dipecat)? Eun-seol berkata ia berharap seperti itu tapi ternyata ia harus bertahan beberapa hari lagi.

Kalau begitu mengapa Eun-seol pergi ke kantor pada hari Minggu, apa untuk mendapat uang lembur. Eun-seol tersenyum membenarkan.

Ji-heon akan menyusul Eun-seol ke kantor. Eun-seol berkata tidak perlu, ia sudah akan pulang. Tapi Ji-heon tidak mempedulikan protes Eun-seol. Ia akan ke kantor dan mengantar Eun-seol pulang, karena kaki Eun-seol sakit.

MP-00552 MP-00555

Ibu Na-yoon sedang meminta pendapat ibu Moo-woon mengenai para pemuda yang akan dijodohkan dengan Na-yoon. Tentu saja semua pemuda itu dikritik oleh ibu Moo-woon. Entah itu masalah minum dan masalah wanita.

Ibu Na-yoon mengeluarkan sebuah foto. Seorang pria tua. Ayah Eun-seol. Ibu Moo-woon bingung. Ibu Na-yoon menyindir mungkin saja suatu saat ibu Moo-woon menjadi keluarga dengan orang ini. Ibu Moo-woon jadi kesal.

MP-00563 MP-00564

Na-yoon dan Moo-woon datang. Na-yoon memarahi ibunya yang pergi menemui Eun-seol. Baginya itu memalukan. Ibunya berkata bukankah Na-yoon memintanya untuk menghukum wanita itu. Na-yoon menyangkal, itu hanya wanita lain yang mirip. Ia minta ibunya jangan melakukannya lagi dan menjaga image-nya.

Ibu Na-yoon tak percaya putrinya membela Eun-seol. Ibu Moo-woon angkat bicara bahwa mereka sebagai orang dewasa punya alasan untuk melakukan hal itu.

“Kalau bagitu kau seharusnya bersikap dewasa dalam berkomunikasi, Eomeoni,” sahut Moo-woon. (Eomeoni = ibu, panggilan halus/resmi. Biasanya Moo-woon memanggil Omma, panggilan akrab)

“Eomeoni? Aku tidak punya putra sepertimu.”

“Benarkah? Presiden Shin,” panggil Moo-woon.

“Apa?!!” seru ibu Moo-woon.

“Tolong sampaikan ini pada ibuku. Kuharap di masa yang akan datang hal seperti ini tidak terulang kembali. Atau aku akan sangat kecewa dengan ibuku. Lalu setelah itu, aku tidak tahu bagaimana kelakuan putranya kelak. Bahkan putranya juga tidak tahu. Tolong sampaikan ini, Presiden Shin,” kata Moo-woon sambil tersenyum.

Ibu Moo-woon melongo. Ia memegangi tengjkuknya yang terasa kaku (tanda stress). Ibu Na-yoon tersenyum menang.

MP-00575 MP-00579

“Aku juga merasa hal yang sama, ibu,” ujar Na-yoon. Ibu Na-yoon ikut memegangi tengkuknya.

Na-yoon mengajak Moo-woon pergi. Ibu Na-yoon mengancam akan menyuruh bodyguard mengikuti Na-yoon ke manapun Na-yoon pergi. Kalau begitu aku akan langsung terbang ke New York, Na-yoon balik mengancam.

Serangan stress para ibu tampah parah deh.

MP-00583 MP-00582

Moo-woon hendak meninggalkan Na-yoon sendirian. Na-yoon tidak mau, setidaknya Moo-woon bisa menemaninya makan. Moo-woon mengingatkan Na-yoon lah yang menolaknya. Na-yoon merajuk, mau bagaimana lagi, temannya hanyalah Ji-heon dan Moo-woon. Bisakah mereka berteman saja? Moo-woon hendak meninggalkannya tapi ia tak tega dan bertanya Na-yoon mau makan apa.

Ji-heon sepertinya sudah tiba di depan kantor. Eun-seol berjanji untuk segera turun. Tapi begitu lift terbuka ternyata ada Presdir Cha di dalamnya.

“Masuk!” kata Presdir Cha. Eun-seol terpaksa masuk dalam lift. Ia diam-diam mengirim pesan pada Ji-heon bahwa ia sedang bersama Presdir. Tapi belum sempat Eun-seol mengirim pesan, Presdir mengajak Eun-seol bicara.

“Apakah kau benar-benar tidak akan memberitahukanya padaku?”

Eun-seol gelagapan dan cepat-cepat menjawab, “Ah, lebih baik kau bertanya langsung pada Direktur (Ji-heon).”

Presdir Cha memaklumi keputusan Eun-seol, sekretaris yang baik harus bisa menjaga rahasia bosnya. Ia memuji Eun-seol adalah sekretaris yang sangat baik.

“Aku sudah mengakuinya, sekarang beritahu aku.” Bwahahaha…taktik apaan tuh?

Eun-seol bengong.

Presdir Cha dan Eun-seol keluar dari gedung kantor dan terkejut melihat Ji-heon menunggu di sana. Eun-seol kesal karena Ji-heon tidak menanggapi pesannya. (kayanya belum sempet dikirim deh sms-nya^^)

MP-00599 MP-00600

Presdir Cha jadi marah pada Eun-seol, “Bukankah sudah kubilang kalian tidak boleh berpacaran?”

Eun-seol berusaha menjelaskan bahwa mereka tidak berpacaran tapi ksatria Ji-heon menarik Eun-seol dan membawanya pergi. Ji-heon menatap ayahnya dan tanpa mengucapkan sepatah katapun ia masuk ke dalam mobil. Eun-seol menatap Presdir dari jendela mobil dengan wajah pasrah.

MP-00601 MP-00604

Walau Eun-seol kesal karena Ji-heon lagi-lagi tidak menurut padanya tapi ia diam-diam tersenyum sambil memandang Ji-heon.

Presdir Cha meneruskan pelayanan bakti masyarakatnya di rumah sakit. Awalnya ia mengerjakan tugas ini untuk menebus hukumannya tapi ia menjalankan tugasnya selalu dengan penuh tanggung jawab dan hati yang tulus. Ia memperlakukan para pasien dengan lembut dan dengan penuh perhatian.

Walau bagaimanapun, masalah Ji-heon mengganggu pikirannya. Ia memerintahkan Seretaris Jang memeriksa apakah Ji-heon pernah masuk rumah sakit tanpa sepengetahuannya.

MP-00612 MP-00614

Ji-heon mengantar Eun-seol pulang. Eun-seol pamit pada Ji-heon dan mulai menaiki tangga menuju rumahnya. Ji-heon menyusulnya dan berkata bahwa ia akan terus berusaha menjadi pria yang dapat diandalkan oleh Eun-seol.

“Walau aku mungkin akan mengeluh atau bersandar padamu sejenak, tolong bertahanlah dan tunggu aku. Aku tidak akan meminta kau menyukaiku. Tolong tetaplah di sini sebagai sekretarisku. Aku mohon padamu, No Eun-seol. Tentu saja selama itu aku akan terus menyukaimu. Kenapa? Karena secara objektif menurutku No Eun-seol….”

“Tolong jangan bicara lagi!”

Ji-heon langsung tutup mulut. Eun-seol merasa dirinya akan jadi gila. Pria seperti apa yang terus menerus mengakui rasa sukanya?

“Aku?”

“Benar. Dan lagi aku sudah mencuci otakku. Baik dalam hati maupun kepalaku, aku terus menyuruh diriku bersikap pura-pura tidak tahu. Tapi itu tidak berhasil.”

“No Eun-seol, jangan-jangan…”

“Ya. Dalam sistem limbik otakku, kau juga tertanam di sana. Aku yakin mengenai itu tapi aku tidak tahu. Ini membingungkan. Aku terus memikirkanmu, mengkhawatirkanmu, tapi aku tidak tahu apakah kau melekat sebagai pria atau karena aku menganggapmu sebagai anak kecil. Aku tidak tahu, sangat membingungkan.”

MP-00619 MP-00620

Ji-heon terdiam. Eun-seol kembali berjalan menuju rumahnya.

Ji-heon memegang tangan Eun-seol.

“Yang perlu kaulakukan adalah memastikannya.”

Eun-seol tertawa geli, “Bagaimana cara aku memastikan….”

Belum selesai Eun-seol bicara, Ji-heon maju dan mencium bibir Eun-seol. Eun-seol terpana. Ehemmm..kalau urusan begini Ji-heon jadi dewasa deh ya ;p

MP-00465 MP-00467

 

Komentar:

Wah…kayanya baru kali ini deh aku nonton satu episode drama yang isinya bener-bener kejadian satu hari (24 jam). Walau begitu semuanya terasa natural dan tidak dipaksakan. Semakin suka dengan Presdir Cha dan Nenek^^ Mereka bukan tipikal orang kaya Kdrama biasanya.

MP-00226 MP-00427

Episode ini memastikan perasaan Eun-seol pada Ji-heon, walau Eun-seol mengaku masih bingung tapi kita sudah bisa menebak dari ekspresi wajahnya saat melihat Ji-heon bukan? Jadi kasian deh sama Moo-woon, tapi kuharap ia bisa kembali dengan Na-yoon. They’re so cute^^

MP-00242MP-00589

Sinopsis Episode 9 di Kutudrama: [klik di sini]

 

10 comments:

  1. Kerennnn.. Penasaran nech..
    Lanjutkan yak..
    Hwaiting!!

    Gumawo uda posting sinopsisnya.. :)

    ReplyDelete
  2. daebak..
    fighting.. fighting.. mba fanny, mba dee nya juga.

    ^___^

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. I like it,,,
    mmmmuuuuuaaaaccchhh,,,
    lanjutttt ^_^
    semangat ya,,,,,

    ReplyDelete
  5. @all: makasih buat dukungan semangatnya *hug* Hwaiting!!! ^^ !!! ^^

    ReplyDelete
  6. suukaaaaaaa....
    ini nih baru kdrama yang paling gokil.., pemain2 nya benar2 bikin stres ilang saking lucunya, dilanjut ya mba n tetap semangat..., ^^(Tika)

    ReplyDelete
  7. sebenernya udah nonton di dramacreazy..udah masuk episode 15..tp sambil baca sinopsisnya..tetep kerenn..serasa nonton..

    ReplyDelete
  8. lanjut fan,
    dramanya tambah seru....

    ReplyDelete
  9. Waaah baru ngeh sama kata2mu diawal sinopsis. benar banget cuma si nenek sama no eun sol doang yang logis disini. walau kadang2 mereka juga lucu ..hahahhahaa

    ReplyDelete
  10. kayaknya emang robek benaran deh kaosnya ..hhhmmm

    ReplyDelete

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)