Friday, 24 December 2010

Sinopsis Secret Garden Episode 7

 

sg7-00008 sg7-00011

Seul menatap mereka berdua, marah sekaligus tak percaya apa yang dilihatnya. “Jadi, seperti inilah hubungan kalian berdua, tetap saja, apakah ini tidak keterlaluan? Di saat pemilik kamar tidak ada?” Joo-wonim menjawab ketus, “Hei kau! Aku tahu apa yang kaupikirkan tapi….” Ra-imwon menutup mulut Joo-wonim dengan tangannya, “ Sutradara Yoon, ini tidak seperti kelihatannya, ini hanyalah salah paham.” Seul tidak percaya.

Joo-wonim menyembur tangan Ra-im, “Ah, Asin! Apa yang kaulakukan? Kau memelukku sekarang?”

Ra-imwon menyadari tangannya memeluk pinggang Joo-wonim. Ia cepat-cepat mendorong Joo-wonim. “Ini tidak seperti kelihatannya,” ia masih berusaha menjelaskan.

“Itu baru saja terjadi. Kim Joo-won, aku pasti salah mengenai dirimu. Aku tidak tahu kau seseorang yang tidak memperhatikan keluarga, pendidikan, dan kualifikasi. Memilih seseorang seperti itu untuk bersentuhan dengannya, seseorang yang tidak dapat mengerti dan tidak selevel denganmu.”

Joo-wonim mencoba membela Ra-im yang dihina Seul, “Sudah kukatakan itu adalah salah paham. Dari mana kau mendapat kunci kamar ini?” Namun malah terlihat seperti [Ra-im] sedang membela dirinya sendiri. Seul tetap tidak percaya ini hanyalah salah paham, “Jika aku percaya, berarti aku tidak punya otak atau bodoh. Sudahlah, kesalahanku mengharapkan wanita sepertimu bersikap baik. Dan lagi, ini hanyalah masalah hormon. Jangan takut, Kim Joo-won kau masih memiliki kesempatan denganku.”

Joo-wonim tetap bertanya dingin, “Darimana kau mendapat kunci kamar ini? Ini kedua kalinya aku bertanya.”

“Jika syuting film dibatalkan, apapun dapat dilakukan seorang sutradara. Di mana Woo-young?”

“Dia kembali ke Seoul.“ jawab Joo-wonim.

“Excuse me?!”Seul berteriak kesal.

Joo-wonim, Ra-imwon, dan rombongan stuntmen pun kembali ke Seoul. Di bandara Seoul, rekan –rekan Ra-im menggerutu karena syuting akhirnya dibatalkan. Sementara itu Joo-wonim terlihat kurang sehat, ia berkeringat dingin dan pucat. “Apa kau mabuk udara?” tanya temannya.

“Aku selalu seperti ini tiap naik pesawat , dan ini pertama kalinya aku naik kelas ekonomi.” Sepertinya klaustrophobia Joo-won kambuh lagi walau ia berada dalam tubuh Ra-im.

“Bagaimana bisa ini pertama kalinya kau naik kelas ekonomi.” Bisik Ra-imwon pada Joo-wonim.

sg7-00017 sg7-00018

Jong-soo memperhatikan kedekatan keduanya, ia menyuruh semua mengecek ulang jadwal dan membereskan perlengkapan. “SIAP!!” jawab Ra-imwon dengan sikap sempurna. Semua menoleh heran padanya. “Karena aku orang baru.” Ra-imwon mencoba menjelaskan.

Joo-wonim menyuruh Ra-imwon tinggal sebentar dan menyuruh yang lain duluan. Lalu ia berkata pada Jong-soo, “Nn. Gil Ra-im…ah itu aku, untuk sementara waktu aku tidak masuk kerja.”

“Apa kau gila, Kenapa kau tidak masuk?” protes Ra-imwon, ‘Tenang sutradara, aku akan pastikan Gil Ra-im masuk kerja.”

Jong-soo tidak tahan lagi,”Mengapa kau terus seperti ini? Apa kau harus berbicara dengannya?”

“Ya, hidupku bergantung padanya.”

“Terdengar aneh jika kau berkata demikian,” bisik Ra-imwon.

“Lalu apa kita dalam keadaan normal?” sergah Joo-wonim, “Ayo pergi!” Ia menarik lengan Ra-im won pergi.

Teman-teman Ra-im memuji Ra-im yang terus menempel pada pria kaya. Sementara Jong-soo memperlihatkan kekecewaannya pada sikap [Ra-im].

Joo-wonim membawa Ra-imwon ke rumahnya karena menurutnya itu adalah tempat teraman untuk menghindari orang lain. “Kita harus membicarakan apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Solusi paling mudah adalah kau pindah ke sini.”

“Kau mau kita tinggal bersama?” tanya Ra-imwon tak percaya.

“Kau pikir aku gila? Kau akan menjadi pegawaiku di sini.”

“Apa kau mau mati? Lalu bagaimana dengan sekolah laga?”

“Tentu saja kau harus keluar. Apa aku bisa meninggalkan departemen store?”

“Mengapa tidak kau tinggalkan?,” tantang Ra-imwon,” Pekerjaanmu penting dan pekerjaanku bahkan tidak kau anggap pekerjaan?”

“Hanya bandingkan apa yang dapat dibandingkan,” sahut Joo-wonim sinis,” Jika aku keluar maka ekonomi Korea……Oh, sejak kapan kau di sini, Ibu?” Ups, Ibu Joo-won tentu saja marah.

sg7-00033 sg7-00032

“Ibu? Siapa Ibumu? Siapa? Apa semua wanita tua kau panggil Ibu?!”

Ra-imwon mencoba menenangkan ibu Joo-won, “Ibu, tenanglah sedikit.”

“Apa yang dia lakukan hingga kau membelanya. Kenapa wanita ini keluar dari jok pengemudi? Walau kau tidak dibayar, kau mendapat mobil?” Ibu Joo-won mengira Ra-im mendapat mobil sebagai bayarannya dan bukannya uang. Kau pergi ke Jeju apa bersama berandal ini?

“Tunggu sebentar I…, Ny. Moon, walau kau menyukainya, mengatakan “berandal ini” apa sedikit terdengar….” Joo-wonim protes, tapi tentu saja ibu Joo-won tambah marah, karena mengira Ra-im yang berbicara.

Ra-imwon cepat-cepat menenangkan ibu Joo-won, “Aku akan membawanya pergi, jadi tolong tenangkan dirimu. Ayo masuk mobil!”

“Kau seharusnya duduk di sini dan mengemudi. Ini mobil Kim Joo-won. Bukan mobil yang kauberikan padaku.”

Ibu Joo-won mengira [Ra-im] menyindirnya, “Kau benar-benar tidak biasa, waktu itu bukan pertama kali kau ke sini kan? Sudah berapa kali? Sejak kapan kau ke sini?”

Joo-wonim mendesah kesal, berusaha mengendalikan dirinya.

“Tidak, tidak seperti itu. Dia tidak sering kemari,” Ra-imwon menjelaskan.

“Tutup mulutmu! Aku lebih marah padamu daripada kepadanya. Jika dia tidak sering kemari, mengapa ada selemari pakaian miliknya?”

Joo-wonim terkejut mendengar ibunya menyebutkan hal itu. Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Ra-imwon tercengang melihat luasnya rumah Joo-won. Joo-wonim menyuruhnya ke atas mengikuti ibunya. Ra-imwon tidak mau. Ibu Joo-won turun membawa setumpuk pakaian wanita dan melemparkannya ke kaki Joo-wonim. Karma.

“Apa kau akan tetap pada ceritamu? Apa ini benar-benar salah paham? Apa aku mengada-ada?” Ibu Joo-won bertanya sinis.

“Aku bisa gila.” Joo-wonim memunguti pakaian-pakaian itu. Ra-imwon melihat pakaian-pakaian itu dan mengenalinya sebagia pakaian yang dilemparkan Joo-won kepadanya di departemen store. “Mengapa semua ini ada di sini?” tanyanya. “Kau tidak perlu tahu.” Jawab Joo-wonim cepat.

sg7-00043 sg7-00041

Mendengar itu ibu Joo-won malah mengira [Ra-im] menggantungnya di lemari tanpa sepengetahuan Joo-won. “Jadi kau tidak membelikannya semua ini?”

“Tidak, dia pasti yang membelinya,” dengan polos Ra-imwon menjawab, hal ini membuat [Ra-im] semakin terlihat buruk di mata ibu Joo-won.

“Itulah sebabnya kau tidak dapat mengasihani orang miskin,” katanya, “terutama orang seperti dia yang mencoba menaiki kelas social dengan tubuhnya.”

Ra-imwon menelan ludahnya. Ia terluka mendengar kata-kata ibu Joo-won. “Bagaimana bisa kau berkata begitu!” Joo-wonim protes. “Jika kau tidak ingin mendengar yang lebih buruk, apa ada alasan untuk kita bertemu lagi? Atau aku perlu memberimu uang atau menumpahkan segelas air di wajahmu?” kata ibu Joo-won. Walau ia mengatakannya pada Joo-wonim tapi Ra-imwon sadar kata-kata itu ditujukan padanya.

Dalam perjalanan, Joo-wonim tetap yang mengemudi. Ra-imwon duduk membisu di sampingnya, Joo-wonim memperhatikannya dan tahu kata-kata ibunya berbekas di hati Ra-im.

Kilasan ajaib muncul, menampilkan mereka dalam tubuh masing-masing:

sg7-00057

Ra-im memegangi pakaian-pakaian itu dengan erat. “Itulah sebabnya kau harus mengenakannya saat kusuruh, “kata Joo-won, “Aku minta maaf untuk ibuku. Dia memang keras, kadang aku pun terluka olehnya.”

“Mengapa manusia harus seperti itu,” gumam Ra-im. “Itupun keras,” Joo-won tersenyum karena Ra-im mulai berbicara.

“Maksudku kau. Kata-katamu tiga kali lebih menyakitkan dari kata-kata ibumu,” kata Ra-im. Joo-won terdiam, lalu mengatakan,”tapi aku lega bukan kau yang harus menghadapinya, untuk pertama kalinya aku senang tubuh kita tertukar. Tidak perlu begitu tersentuh. Ini adalah kesadaran dari orang berkelas social tinggi.” Joo-won mengakui perbedaan kelas mereka bukan hanya dari pendapatan dan gaya hidup namun tidak menyangka sebegitu parah. Ra-im mengatakan anggap saja seperti mengalami pertukaran budaya.

sg7-00055

Akhir dari kilasan ajaib. Mereka kembali dalam tubuh yang tertukar. Ah, jadi kangen mereka dalam tubuh masing-masing.

Mereka berhenti di suatu tempat untuk membicarakan langkah selanjutnya. Joo-wonim mengusulkan karena masing-masing dari mereka memiliki kehidupan yang harus dijalani, dari pada sembunyi tak ada cara lain selain menjalaninya. Dimulai dari dasar-dasarnya. Joo-wonim mengeluarkan peta silsilah keluarga dari handphonenya dan ia mulai memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya:

sg7-00073

Kakek (Moon Chang –soo) : ayah dari ibu, memiliki departemen store, beberapa mall di Duksan dan Jaechan, hotel-hotel, dan beberapa proyek pengembangan baru. Dia salah satu pendiri dan pemilik “LOEL Group Co”. Baru-baru ini ia baru menikahi istri keempatnya (Park Bong-hee), seorang professor universitas Myung sung. Semua bertanya-tanya pernikahan kali ini bertahan untuk berapa lama.

Bibi (Moon Yeon-hong) : Ibu Woo-young. Ia memperbaiki wajahnya sedangkan ibuku tidak. Dia anak dari pernikahan kakekku yang ke-2, sedangkan ibuku dari istri ke-3 kakekku. Kau bisa bayangkan buruknya hubungan mereka.. Ibu Oska dan Ibu Joo-won selalu bersaing misalnya perhiasan siapa yang lebih mahal dan lebih besar, pantas saja anaknya juga begitu.

Ini klimaksnya, ini adalah orang yang betul-betul harus kau waspadai. Dia Park Bong-ho, salah seorang direktur di departemen store, juga kakek pamanku. Kakek…kakek apa?. Kakek pamanku, dia adalah kakak istri baru kakekku. Unutk orang ini, aku memberimu kebebasan. Kau boleh menginjaknya. Jangan meneleponnya dan jangan terima teleponnya.

sg7-00071 sg7-00075

Jangan bertemu Choi Woo-young, jangan berhubungan dengannya sama sekali.

“Sejujurnya kau merasa inferior dibandingkan dengan Oska kan?” cibir Ra-imwon.

“Aku pernah bersumpah pada langit, jika aku pernah merasa demikian, aku akan dihukum seribu kali.”

“Pantas saja kita seperti ini walau aku tidak tahu mengapa aku harus ikut dihukum bersamamu.” kata Ra-imwon.

“Teruskan saja, dan aku akan mendatangi sutradaramu dan merayunya. Sekarang giliranmu,” sahut Joo-wonim.

“Kau mengenal Ah-young, sutradara Im, tim sekolah laga. Itu saja.”

“Tidak mungkin itu saja. Bagaimana dengan keluargamu?” tanya Joo-wonim tak percaya.

“Tidak punya.” jawab Ra-imwon singkat.

Joo-wonim tertegun sejenak, walau keluarganya aneh setidaknya ia punya keluarga. Mereka memutuskan untuk memegang HP masing-masing dan hanya akan saling menelepon. Sementara hubungan dengan orang lain dilakukan lewat sms. Joo-wonim mengingatkan Ra-imwon untuk menegakkan kepalanya. Tenang, aku adalah seorang actor, aku seorang stuntwoman. Kau bukan stuntwoman, ingat, kau sekarang predir.

Seul dan Manager Choi yang juga baru tiba di Seoul mendapat telepon bertubi-tubi dari media mengenai pembatalan syuting MV Oska. Mereka berusaha membantahnya namun tidak ada yang percaya. Seul dengan marah menghampiri Manager Choi dan meyuruhnya mengatakan pada Oska jika ia tidak melanjutkan syuting, berikutnya ia bertemu dengan Seul adalah di rumah suaminya. Jadi jika tidak ingin secara dramatis bertemu sebagai satu keluarga, segera selesaikan ini.

Manager Choi menyita paspor dan kunci mobil Oska agar ia tidak bisa kabur lagi. Muak dengan sikap Oska, Manager Choi mengancam akan menjual Oska Entertainment dan tidak mau lagi mengurusi Oska. Oska mencoba membujuknya tapi Manager Choi tidak terpengaruh. Ia bahkan menyita kunci mobil van Oska.

sg7-00084 sg7-00083

Joo-wonim dan Ra-imwon berdiri di depan rumah Ra-im. “Apa kau tidak berencana pindah?” tanya Joo-wonim. “Tidak, dan jika kau macam-macam dengan Ah-young…” “Kau pikir siapa aku? Asal jangan macam-macam dengan Woo-young.” “Tergantung sikapmu.”

Joo-wonim masuk rumah Ra-im dan terkejut melihat keadaannya, sempit dan berantakan. Tiba-tiba Ah-young keluar dari kamar mandi. “Ah, kau pulang! Aku merindukanmu!” Ah-young memeluk Joo-wonim erat-erat. Perhatian Joo-wonim tertuju pada dada Ah-young, “ah, aku juga.”

Ah-young melihat pakaian-pakaian yang dibawa Joo-wonim, “Apa ini? Wah, merk ini hanya dijual di dept.storeku. Pasti presdir kami yang membelikannya untukmu.” Ah-young memukul lengan Ra-im. “Kau baru memukulku?” “Jangan mengalihkan pembicaraan, kudengar dept. pakaian meributkan hal ini, kurasa dia membelikan semua ini untukmu. Oh, cantik sekali.”

sg7-00097 sg7-00096

“Kau bilang, gossip sudah beredar?” tanya Joo-wonim. “Tentu saja, Kau pikir di sana ada berapa pasang mata dan mulut?” sahut Ah-young sambil membuka retsleting roknya.

“Oh…oh…kau akan membuka pakaianmu?” Joo-wonim menunjuk rok Ah-young panic.

“Tentu saja, kau harus membuka bajumu bila mau mandi. Kau mau mandi juga? Kalau begitu tolong gosokkan punggungku ya,” kata Ah-young.

“Punggungmu? Ehm, baik, jika kau menginginkannya,” gumam Joo-wonim.

“Kalai begitu cepat, bawa cucianmu juga. Oh ya, apa terjadi sesuatu di Jeju?”

“Tidak juga. Kenapa?” tanya Joo-wonim hati-hati.

“Aku bermimpi semalam, kau tahu kan biasanya mimpiku menjadi kenyataan. Dalam mimpiku, kau dan presdir dalam satu mobil entah menuju ke mana. Langit sangat gelap. Presdir menangis, dan kau tidur. Tapi Ahjusshi melihat semuanya. Dia memegang setangkai mawar merah.”

“Ahjusshi? Won Bin?” Joo-wonim tidak betul-betul mendengarkan, perhatiannya tertuju pada pinggang Ah-young yang sedikit terbuka. “Ahjusshi” adalah judul film terbaru yang dibintangi Won Bin, dan cukup terkenal di Korea.

“Berhenti bercanda, itu ayahmu. Menurutku kau akan membuat presdir menangis. Kau mempermainkannya dan mencampakkannya. Itu yang harus kaulakukan untuk mendapatkan seorang pria.” Joo-wonim tidak senang mendengarnya. Tiba-tiba terdengar bel di pintu.

Sementara itu Ra-imwon dalam perjalanan juga merasa tidak tenang dan memutar kembali arah mobilnya.

Joo-wonim memandang orang di hadapannya. “Ha, kau bilang kau tidak berkencan?” pikir Joo-won. Ternyata tamu tadi adalah Sekretaris Kim yang membawakan oleh-oleh untuk Ah-young berupa minuman yang biasa diminum Joo-won.

sg7-00102

Joo-wonim mengirim sms pada Sekretaris Kim : Kau berkencan dengan Lim Ah-young bagian Lounge!

Sekretaris Kim langsung panik, bagaimana presdir bisa mengetahui ini. Joo-wonim memperhatikannya dan tersenyum geli. Ah-young bertanya dari siapa? Dari presdir, ah mengapa ia tidak mengatakannya besok saja, membuatku stress setengah mati.

Ia membalas sms Joo-won: Jangan berkata seperti itu. Berkencan dengan sesama pegawai=mati. Kurasa dia tertarik padaku. Joo-wonim tertawa keras.

Sekretaris Kim menjelaskan pada Ah-young bahwa presdir mencarinya untuk urusan pekerjaan, sesuatu tentang proyek tahun depan. Ia mengeluh presdir selalu mengandalkannya, membuatnya lelah. Kontan saja Joo-wonim tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Sekretaris Kim dan Ah-young bingung melihatnya.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Ra-imwon masuk, membuat Sekretaris Kim jatuh terduduk saking kagetnya.

“Aku di sekitar sini dan melihat mobilmu,” kata Ra-imwon dengan ramah pada sekretaris Kim. Ah-young mengira [Joo-won] mencari [Ra-im] dan menyuruhnya masuk. Namun Joo-wonim melarangnya masuk. Ah-young bingung, bukankah ia mencarimu. Sekretaris Kim bilang, bukan, ia mencariku. Ra-imwon malah berkata, aku ingin bicara dengan Nn. Ah-young sebentar.

Ah-young kaget, a-aku? Sekretaris Kim mulai mulai panic, Presdir, Ah-young tidak bersalah! Benarkah, sahut Joo-wonim, kesalahan memang di pihak seseorang, ia menatap tajam Sekretaris Kim.

Ra-imwon memandangi Ah-young lekat-lekat. Ah-young bertanya apa ada yang ingin dibicarakan, apa ada complain lagi? Ra-imwon menggenggam kedua tangan Ah-young, ‘Aku merindukanmu!” Ah-young kaget dan menarik tangannya.

sg7-00117 sg7-00120

“Ah maaf, banyak yang ingin kukatakan padamu tapi aku bisa gila karena aku tidak bisa mengatakannya. Nn. Ah-young mulai saat ini tolong dengarkan aku karena kau seseorang yang kupedulikan.”

“Kau peduli padaku? Sejak kapan?” tanya Ah-young bingung.

“Sejak dulu sekali. Itulah sebabnya kau harus percaya semua yang akan kukatakan. Kau akan menemukan temanmu Ra-im menjadi aneh. Jangan bicara padanya, atau duduk di sebelahnya, apalagi berbagi selimut dengannya. Dan jangan berkeliaran dengan hanya mengenakan pakaian dalammu seperti biasanya.”

“Ra-im mengatakan semua itu padamu?” seru Ah-young.

“Tidak, dia tidak mengatakan apapun. Hanya kita berdua yang tahu.” Ah-young mengira presdir menyukainya. Ra-imwon menegaskan walau terdengar aneh, saat ini Ah-young hanya harus mendengar kata-katanya.

Sekretaris Kim mondar mandir di dalam rumah. Joo-wonim memperhatikannya sambil tersenyum sinis. “Apa kau tidak suka padaku?” tanya Sekretaris Kim. “Apa kau suka padaku?” balas Joo-wonim, “Orang bilang di dunia ini kau tidak bisa mempercayai siapapun.”

sg7-00124 sg7-00126

“Aku baru menyadarinya, tatapan di matamu terlihat tidak asing, “ kata Sekretaris Kim. “Tentu saja, Kau....mati.” balas Joo-wonim. Ah-young masuk dalam keadaan linglung. Sekretaris Kim menanyainya apa yang dibicarakan oleh presdir. Apakah dia membicarakan hubungan kita. Seharusnya begitu, kata Ah-young, tapi ia malah menyuruhku untuk hati-hati padamu, katanya pada joo-wonim. Ia menceritakan peringatan Ra-imwon kepadanya. “Ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu di Jeju?”

“Dia pasti cemburu. Dia takut kau akan menggodaku.” Joo-wonim menjawab ketus. Ah-young dan Sekretaris Kim ternganga. “Aku jalan-jalan sebentar.” kata Joo-wonim.

Ra-imwon menelepon Joo-wonim dan menanyakan kode masuk pintu rumahnya. Joo-wonim pura-pura lupa, ia kesal karena Ra-imwon menyangka ia akan melecehkan Ah-young. Ra-imwon menyuruh Joo-wonim bersikap baik atau ia akan membalas. Bukannya memberi kode pintu, Joo-wonim malah menutup teleponnya dan membuka baterainya.

Ra-imwon mulai kedinginan, ia berusaha berbagai kode tapi tidak berhasil. Ia bahkan mencoba sidik jari dan retina. Tentu saja semua sia-sia. Ia pura-pura hendak keluar rumah ketika dipergoki pelayan yang heran melihat tingkah lakunya, menggunakan kesempatan itu, Ra-imwon menanyakan di mana rumah Oska.

sg7-00137 sg7-00141

Oska sedang bernyanyi ketika Ra-imwon tiba. Ra-imwon memperhatikan idolanya dengan kagum.

“Kapan kau tiba?” tanya Oska. “Tadi siang,” jawab Ra-imwon. Oska bercerita tentang ancaman managernya. Ia terhenti saat melihat reaksi [Joo-won] yang tidak biasanya.

“Lagu ke-4 album ke-3.” kata Ra-imwon, “favoritku.”

“Kau? Apa aku perlu memberimu tanda tangan?” sahut Oska.

“Benarkah?” Ra-imwon senang. Oska bengong melihatnya.

“Oh, aku lapar, apa aku sudah makan?” tanya Ra-imwon.

Ra-imwon tercengang melihat rumah Oska yang luas. Oska menyuruh pelayan menyiapkan makan malam. Tapi Ra-imwon malah mengajukan diri untuk membuatnya. Oska dan pelayan bingung.

Ra-imwon terampil di dapur. Oska sampai lupa menutup mulutnya. Ia memasak beberapa masakan. Sikap Ra-imwon sangat baik dan sopan.

sg7-00160

“Aku tidak tahu apakah ini sesuai seleramu, mengapa kau tidak makan?” tanya Ra-imwon.

“Kau duluan ,” jawab Oska, “Kau meracuninya kan? Apa kau sedang balas dendam? Kau mau menuntutku setelah aku makan kan?”

“Menuntut?” tanya Ra-imwon tak mengerti.

“Iya, aku telah mengacaukan acara perjalanan itu. Padahal aku berencana melakukannya, aku suka Gil Ra-im pemenangnya. Tapi…”

“Benarkah?” potong Ra-imwon senang, “Kau bilang kau suka Gil Ra-im?”

“Apa yang tidak kusuka? Ia pintar, cantik, dan bertubuh bagus. Juga menyukaiku.”

“itu benar.” Ra-imwon tersenyum lebar.

“Apa kau sudah bosan dengannya? Kelihatannya kau bertahan lama dengan gadis penyewa apartemen 300ribu won/bulan. Taruhan kita tidak ada kaitannya dengan hubunganmu dan Gil Ra-im. Urusanku dengannya bukan urusanmu.”

“Taruhan?”tanya Ra-imwon. “Aku tidak akan tertipu, ayo cepat kau makan duluan!” sergah Oska.

Oska meminta pendapat Ra-imwon mengenai sebuah lagu. Ra-imwon senang, seperti mimpi ujarnya, namun ia cepat-cepat mengoreksinya, lagunya bagus. Iya, kata Oska tapi lagu ini mirip dengan lagu di album ke-7 yang belum keluar. Dan lagu ini ditulis 3 tahun lalu, sedangkan penulisnya sudah pindah ke Amerika. Oska menyuruh Ra-imwon pergi, ia sakit kepala dengan semua masalahnya.

sg7-00164 sg7-00166

Oska mengingat pertemuannya dengan Tae-sun di bandara Jeju saat ia akan pulang. Sun menyerahkan mp3 player milik Oska yang ditemukan di bawah salah satu meja hotel saat membersihkannya. Ia mengatakan, ia sudah mendengar beberapa lagu Oska di dalamnya termasuk beberapa lagu yang mungkin akan keluar di album terbaru Oska dan menambah sesuatu untuk didengar Oska. Oska berkata ia bisa menuntutnya karena mendengar tanpa ijin. Sun mengejek kemampuan Oska bernyanyi dan menyuruhnya menjadi actor saja, lalu berjalan pergi. Oska berteriak, aku juga tidak bagus dalam berakting, fansku tidak menyukainya.

sg7-00174

Mengingat itu Oska jadi kesal, “Memalukan! Memalukan! Seharusnya aku tidak mengucapkan kalimat terakhir (tentang acting). Aku seharusnya tidak mengutuk anti fansku. Anti fans terbesarku adalah diriku sendiri!”

Manager Choi meng-sms Oska bahwa ia dan Seul akan datang besok pagi jam 10 ke rumahnya. Oska segera mengepak barang-barangnya.

Sementara itu Ra-imwon masih duduk kedinginan di luar rumah Joo-won. Ia mencoba lagi membuka pintunya. Tiba-tiba Oska keluar dari pintu rumah Joo-won. “Sedang apa kau di situ?”

“Mengapa kau bisa keluar dari sana?” tanya Ra-imwon. “Kau ini kenapa? Aku masuk lewat pintu yang lain.”jawab Oska sambil menutup pintu di belakangnya.

“Jangan lakukan itu!” seru Ra-imwon, tapi terlambat, pintu sudah tertutup.

“Ada apa?” tanya Oska. “Sejujurnya akhir-akhir ini aku sangat stress sehingga tiba-tiba aku lupa kodenya. Apa kau tahu kodenya?” tanya Ra-imwon pelan. Mendengar itu Oska khawatir dan bertanya sejak kapan ia seperti itu (lupa) dan apakah sering terjadi. Apa kau mengatakannya pada Ji-yeon (Dr. Lee)? Ji-yeon? Tanya Ra-imwon heran.Apa kau juga lupa beberapa hal dan ingat beberapa hal lain? Tanya Oska lagi.

Sepertinya kecelakaan yang pernah tak sengaja diucapkan Oska ada hubungannya dengan kekhawatiran Oska ini. Mungkin Joo-won tidak mengingat peristiwa kecelakaan itu dan melupakan beberapa kejadia masa lalunya?

“Tidak,” kata Ra-imwon. Oska tetap menyuruh [Joo-won] menelepon dokter untuk berjaga-jaga. Oska perhatian juga ya sama Joo-won.

Oska meminta kunci mobil. Ra-imwon bingung. Oska tak sabar dan segera menggeledah Ra-imwon untuk mencari kunci. Ra-imwon geli sekaligus senang. Oska menemukan kunci itu dan akan meminjamnya beberapa hari. Ia juga menyebutkan kode rumah Joo-won: 362634.

sg7-00184 sg7-00187

“3-6-2-apa?”

“36-24-34! Katamu itu ukuran tubuh (wanita) idealmu!” Oska melaju pergi.

Ra-imwon berpikir, “36-24-…Ah-young! Bagaimana dengan Ah-young?!”

Ra-imwon masuk kerumah Joo-won. Ia takjub melihat semuanya. Aku juga hehe… Hampir semua bagian rumahnya dikelilingi kaca, bahkan kamar mandinya. “Begitu banyak kaca, pasti dingin.” Ia melihat isi lemari es, “Dia hanya makan makanan sehat.” Lalu dia melihat-lihat ruang pakaian Joo-won yang bagaikan butik, jam tangan dan sepatu ditempatkan dengan sangat rapi dalam rak-rak kaca. “Jika aku menjual semuanya, aku bisa kaya.” pikir Ra-imwon. Ra-imwon menyadari,” Ia pasti sangat…sangat kaya. Pantas saja dunia ini bagaikan cerita dongeng baginya.”

Lalu ia mengirim sms pada Jong-soo, meminta maaf atas kejadian di bandara.

sg7-00209 sg7-00215

Sementara itu Joo-wonim tidak bisa tidur di dalam rumah yang sempit dan kasur yang keras. Ah-young mengoceh tentang presdir yang mendekati Ra-im untuk mendapatkannya. Lalu ia menyarankan Joo-wonim mengenakan krim (wajah) juga.

Setelah Ah-young tidur, Joo-wonim masih juga tidak bisa tidur. Ia mengendus bantal dan menutup hidungnya. Tiba-tiba Ah-young berbalik dan memeluknya dari belakang. Ia menoleh namun malah terjebak dalam posisi yang sangat dekat dengan Ah-young. Ia merasa jengah dan berusaha memindahkan kaki Ah-young namun dengan segera Ah-young memeluknya lagi. Joo-wonim pun mulai mengucapkan mantranya “Kimsuhanmu….”

sg7-00221 sg7-00224

Ra-imwon memikirkan ucapan Oska tentang Joo-won yang bertahan dengan gadis penyewa apartemen murah. Ia tidak bisa tidur dan duduk, lalu ia melihat kunci motornya dan uang yang pernah diberikannya untuk biaya rumah sakit, diletakkan di atas laci samping tempat tidur Joo-won. Ia mulai tersentuh, tapi kesal kembali begitu mendapat sms Joo-won: sebuah petunjuk, kode pintu terdiri dari 4 digit.

Keesokan harinya, Joo-wonim memandangi motor yang dibawa Ra-imwon. “Mengapa kau bawa ini ke sini? Mana mobilku?” Ra-imwon hanya tersenyum, “kuncinya, bagaimana kau mendapatkannya? Apa kau mengambilnya sendiri ke dalam air?” “Apa kau pikir aku orang yang akan melakukannya?” “Lalu bagaimana kau mendapatkannya?” “Aku yang bertanya duluan, apa yang terjadi dengan mobilku?” “Kehabisan bensin.” “Tiga-tiganya?” “Ketiganya milikmu?! Kupikir mobil pegawai.” “Pegawai gila mana yang berani memarkir mobilnya di depan rumahku.”

“Mengapa kau berpakaian seperti ini? Dasi dan kemejamu tidak sepadan. Mengapa kau tidak mengenakan jam tangan? Itu penting bagi pria.”

“Baik…baik..sekarang ayo pergi, kita terlambat. Ini, daftar latihan peserta baru.” Ra-imwon menyerahkan jadwal pada Joo-wonim. Joo-wonim menepisnya, “Apa kau gila?” Kau menyuruhku pergi ke sekolah laga?”

“Jaika kau tidak mau pergi, aku juga tidak mau pergi ke departemen store. Karena kau yang akan kehilangan banyak, sebaiknya bersikaplah yang benar.” Joo-wonim kesal tapi tidak bisa membantah. “Tunggu di sini aku akan berganti pakaian. Lalu bagaimana kau mendapat kode pintu rumahku?”

“Sebuah bintang menyilaukan jatuh dari langit. Apa? 4 digit? Benar-benar omong-kosong! 36 adalah ukuran…tak bermoral.” Dengan enteng Joo-wonim mengintip ke balik sweaternya, “pantas kau begitu sensitive, apa perlu dioperasi?” Dasar ya Joo-won ini.

sg7-00237

“HEI!!! Apa kau mau mati? Cepat ganti!” Ra-imwon melotot melihat pakaian yang dikenakan Joo-wonim, rok mini, blus berjaring, jaket merah menyala, tak lupa hak sepatu tinggi. “Tidak mau, aku suka gaya ini.” Joo-wonim cuek. Ra-imwon kesal dan akan memukul Joo-wonim namun Joo-wonim malah berteriak-teriak minta tolong. Langsung Ra-imwon memeluk kepala Joo-wonim erat-erat membuatnya tak bisa bernafas. Ra-imwon tidak akan melepaskan kepalanya jika Joo-wonim tidak mau ke sekolah laga. Akhirnya Joo-wonim menyerah.

sg7-00240 sg7-00242

Di sekolah, Jong-soo sedang memegang scenario film ‘Dark Blood”. Ia membaca sms dari Ra-im : “Aku minta maaf atas kejadian di bandara. Aku tahu kau pasti bingung karena sikapku yang kaulihat kemarin dan hari ini. Tolong jangan salah pahami ketulusanku. Tolong percaya padaku sutradara.” Jong-soo menulis sebuah memo: “Ini adalah scenario yang kautunggu. Jangan teralihkan dan focus pada audisi. Seperti Gil Ra-im.” Ia menempelkannya di atas scenario itu.

Teman-teman Ra-im terkejut melihat penampilan [Ra-im]. “Apa kau akan pergi kencan buta?” “Ini saatnya berganti penampilan.”

sg7-00247 sg7-00246

Jong-soo melihat dari balkon, “ada apa ini? Apa kau akan pergi audisi dengan pakaian seperti itu?”

“Audisi?”

“Audisi “Dark Blood” sudah tiba di sini. Kemungkinannya 1000 banding satu. Banyak yang berlomba mendapatkan skenarionya,” kata temannya.

“Lalu kenapa?” tanya Joo-wonim cuek. Gubrak! Teman-temannya mengira [Ra-im] jadi sombong karena memiliki teman pria yang kaya. Jong-soo menyuruh Joo-wonim ke kantornya.

Jong-soo melihat Joo-wonim mengenakan tas pemberiannya, ia tersenyum kecil. Namun senyumnya buyar saat melihat Joo-wonim dengan seenaknya melemparkan tas itu ke kursi.

Jong-soo menyerahkan scenario pada Joo-wonim,” Kupikir kau akan senang. Bukankah ini scenario yang kau inginkan?”

“Anggap saja begitu, lalu?”

sg7-00252 sg7-00256

Jong-soo melanjutkan,” Tidak banyak scenario Hollywood yang membutuhkan aktris Asia. Ini kesempatan besar, berusahalah yang terbaik. Pertama, uji fisik. Kedua, demo perkelahian. Ketiga, membaca skrip. Sampai uji ketiga, orang Korea mempunyai kesempatan yang baik.”

Joo-wonim membaca salah satu adegannya dalam bahasa Inggris yang cukup lancar, “Young-hee, bersimbah darah, melompat keluar dari mobil yang sedang melaju. Di saat yang sama sebuah truk melaju ke arahnya. Kau bilang aku harus melakukan ini? Bagaimana bisa kau menyuruh seorang wanita melakukannya? Apa ini kausebut kesempatan? Ini sama saja menyuruhku mati. Walau nanti kubilang akan melakukannya, kau harus melarangku.”

Jong-soo tertegun mendengar kata-kata Ra-im. Joo-wonim melemparkan scenario itu ke atas meja,” Apa sudah selesai? Aku pergi…”

“Ada apa sebenarnya? Mengapa kau terus bersikap aneh? Kau benar. Kau telah mengetahui perasaanku. Jika karena itu kau bersikap begini maka hentikan. Jangan mencampurkan masalah pribadi dan pekerjaan. Aku juga kan melakukan hal yang sama.” Jong-soo memberikan kembali scenario itu.

Joo-wonim menyadari Jong-soo bukan hanya menyukai Ra-im tapi mencintainya. Ia menganggap ini adalah kesempatan menyingkirkan Jong-soo. Ia berkata, ”Maka bantulah aku. Aku akan berpura-pura tidak tahu kau menyukaiku. Jadi jangan mengakuinya padaku sampai mati.” Joo-wonim meninggalkan Jong-soo yang terluka oleh perkataannya.

Seul dan Manager Choi kehilangan jejak Oska. Mereka duduk du depan rumah Oska yang kosong. Manager Choi meminta seul meninggalkan Oska, “Aku salah mengira dia akan baik-baik saja setelah selama ini. Kuharap aku tidak bertemu lagi denganmu mengenai masalah ini.”

“Aku tahu di mana Woo-young sekarang, “ sahut Seul, “Tapi aku tidak akan memberitahumu. Aku telah menyimpan kemarahan ini begitu lama. Jika dia terus melarikan diri, kau harus mengikuti permainannya. Seperti kau tahu, aku tidak tahu malu dan kejam jadi tidak sulit bagiku menikah dengan sepupunya. Namun akan sulit baginya karena ia akan terluka setiap melihatku.”

“Apa kau benar-benar akan melakukannya?”

“itulah sebabnya kau harus menyampaikan pesanku padanya, agar kami bisa berselisih, agar kami dapat….berdamai.”

Ra-imwon mengendarai motornya tiba di LOEL. Sekretaris Kim memberi salam padanya, “Kau datang.” Ra-imwon balas membungkuk. Sekretaris Kim bingung namun tidak bicara apapun. Seperti biasa para karyawan telah berbaris menyambut kedatangan [Joo-won] tapi kali ini sesekali [Joo-won] membalas salam mereka. Saat Ra-imwon menuju lift, sekretaris Kim menunjukkan jalan menuju escalator. Ra-imwon bertanya ,”Apa memang harus berjalan?” “Hah?” Para karyawan bingung melihat untuk pertama kalinya presdir mereka memutuskan menggunakan lift.

sg7-00260

Berita mengenai perubahan presdir mereka disambut gembira oleh para karyawan. Mereka bahkan bergosip pakaian presdir mereka ketinggalan jaman. Ah-young mendengar itu malah sedih, “Pasti berat baginya. Bagaimana ini? Siapa aku sehingga membuatnya menjadi seperti itu?” hehe Ah-young mengira [Joo-won] berubah demi dirinya.

Namun yang paling terkejut dengan perubahan ini tak lain tak bukan Direktur Park. Ia mengetahui Joo-won menderita klaustrophobia dan itu adalah kartu As-nya. Asistennya mengatakan, semua menjadi saksinya, presdir menggunakan lift, apa mungkin selama ini ia berpura-pura sakit?

sg7-00264

Direktur Park berkesimpulan selama ini [Joo-won] hanya mengetesnya, dan sekarang ia telah menggunakan lift berarti dia baru memulai pertempuran. “Ahhh…padahal aku hampir sempurna meniru tanda tangannya. Tidak bisa, kau tahu pekerjaan yang ditinggalkan saat ia ke Jeju? Bawa kemari.”

Sekretari Kim tercengang melihat bosnya makan Soondae (susis darah Korea yang umumnya dibuat dengan merebus atau mengukus usus sapi/babi yang diisi bermacam-macam bahan) dengan lahap. Ia bertanya sejak kapan [Joo-won] makan makanan seperti ini. Ra-imwon menjawab sejak ia kecil. Lalu Ra-imwon bertanya mengenai Ah-young. Sekretaris Kim mengira Ra-imwon akan menghukum Ah-young dan mengatakan mereka tidak benar-benar berkencan.

Ra-imwon menjawab, ia hanya ingin mengetahui penghasilan Ah-young. Sekretaris dengan bingung menjawab termasuk bonus sekitar 20ribu won lebih sedikit. Lalu Ra-imwon bertanya bagaimana dengan penghasilannya. “Hah?” belum sempat Sekretaris Kim menjawab, handphone Ra-imwon berbunyi, dan lucunya ia menirukan suara dering sms-nya seperti yang biasa [Ra-im] lakukan. Direktur Park yang melihatnya dari kejauhan pun heran dengan sikap [Joo-won] yang aneh.

sg7-00268 sg7-00272

“Apa kau mengganti HPmu?” tanya Sekretaris Kim. “Hah? Oh ya…Kak Dong Gyu? Siapa itu?” Ra-imwon membaca sms-nya. Itu adalah Manager Choi yang sudah putus asa mencari Oska. Ia curhat pada Joo-wonim dan Ra-imwon, ia sudah tidak sanggup, Oska sekarang menghilang lagi. Joo-wonim mengatakan Oska pasti ada di pulau-pulau di Filipina, dia selalu melakukannya jika dia melarikan diri. Manager Choi mengatakan dia sudah menyita paspor Oska. Jadi tidak mungkin Oska keluar negeri.

sg7-00276

“Kalau begitu dia ada di Duksan. Ada spa resort di sana.” Kata Joo-wonim cuek. Manager Choi bilang tidak ada, ia sudah mengeceknya ke sana. Lalu ia menyadari ada yang aneh, bagaimana [Ra-im] mengetahui semua ini.

“Karena aku fansnya. Aku bahkan mengenakan kaus kaki Oska untuk menyokong hidupnya.” Joo-wonim melirik Ra-imwon yang menatapnya kesal. “Terima kasih, penjualan kaus kaki itu memang baik… Presiden Kim, sku tidak tahu lagi harus berbuat apa. Mengenai acara LOEL yang batal, tuntut saja kalau kau mau. Aku juga akan menuntutnya untuk kontrak-kontraknya yang lain dan lepas tangan mengenai dirinya.”

Ra-imwon cepat-cepat menjawab, “Jangan lakukan itu. AKu akan mencarinya. Jangan tuntut dia, aku juga tidak akan.” “Kata siapa? AKu akan menuntutnya.” Bisik Joo-wonim pada Ra-im-won. Ra-imwon mendorong kepala Joo-wonim menjauh. “Oska adalah orang paling baik yang kukenal. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan mencarinya.”

Manager Choi bingung tapi lega, “Presiden Kim, apa kau minum sepagi ini?”

Setelah Manager Choi pergi, Ra-imwon bertanya apakah Joo-wonim benar-beanr tidak tahu di mana Oska. Joo-wonim menjawab, Managernya saja tidak tahu apalagi dirinya. “Apa kau tidak khawatir?” tanya Ra-imwon. Joo-wonim menjawab ringan, “Aku saja tidak dapat menemukan tubuhku mengapa aku harus khawatir tentang menemukannya.” “Akan lebih baik kau mencarinya, sebenarnya mobilmu dibawa Oska, bukan kehabisan bensin” balas Ra-imwon.

“Apa!!!” Joow-onim melotot marah lalu mengambil Hpnya, ia memutar sebuah nomor, “Halo, 112? (versi Korea 911) Aku mau melaporkan mobil yang hilang.” “HEI!!!” teriak Ra-imwon kesal.

Oska sedang berjalan-jalan di padang golf. Ia mengingat manisnya hubungannya dengan Seul dulu. Tapi lamunannya dibuyarkan kedatangan dua orang pria berbadan kekar. “Tn. Choi Woo Young?” “Kau ingin tanda tanganku?” hahaha, Oska ini mengira semua orang yang mencarinya ingin tanda tangannya.

sg7-00284 sg7-00293

Seul tiba di resort golf tempat Oska menginap dan diberitahu oleh pegawai hotel bahwa Oska memang menginap di sini dan baru saja ditangkap polisi. Seul terkejut dan sepertinya khawatir.

Ra-imwon dan Joo-wonim menunggu di kantor polisi. Ra-imwon masih membujuk Joo-wonim untuk tidak menuntut Oska, bagaimanapun ia adalah sepupunya. “Jangan salah mengerti hubungan kami, saaat aku ditekan, aku juga menderita. Aku tidak melakukannya hanya untuk mobil. Ada sesuatu yang harus kudapatkan kembali.” Ra-imwon tak mengerti, “Apa itu?”

Oska masuk di pegangi polisi. Ia berteriak-teriak, “KAu tidak mengenalku? Kau tidak melihatku di TV? Mengapa aku ditahan karena mencari mobil. Aku hanya meminjam mobil adikku.” Lalu ia melihat [Joo-won] “HEI! Kau!”

Ra-imwon menunduk,”Apa yang harus kulakukan?” Oska memarahi Ra-imwon, “Kau memanggil polisi untuk menemukanku? Itukah sebabnya kau memasak untukku?” Joo-wonim marah,”Kau memasak untuknya? Dengan tanganku, kau membuatkan makanan untuknya?” Sepertinya cemburu deh…

“Tenang!!” Polisi berteriak. Seul tiba di kantor polisi dan melihat Oska yang dipegangi.

“Mengapa wanita itu ada di sini?” gumam Joo-wonim ketus. “Ada apa ini?” tanya Seul.

Mereka berempat ditanyai petugas. “Sepertinya kalian berdua sepupu. Jangan lakukan itu (menuntut), selesaikan saja.”

sg7-00311

“Seharusnya begitu.” Ra-imwon berkata cepat. “Tidak!” seru Oska.

“Tahan dia.” Kata Joo-wonim dingin. Semua menoleh kaget padanya. “Apa kau gila?” Ra-imwon tak percaya.

Oska ditahan di balik jeruji, sementara tiga lainnya berdiri menghadapnya. Aneh juga ya, kan mobilnya punya [Joo-won], kenapa ditahan hanya karena kata-kata [Ra-im] yang sebenarnya “tidak ada” hubungannya.

Joo-wonim berdiri paling depan dan tersenyum sinis padanya. “Aku ingin bicara dengan Joo-won,” kata Oska.

sg7-00316

“Dia bilang katakan padaku saja,” kata Joo-wonim. Oska bingung dan melihat Ra-imwon, Ra-imwon memaksakan senyum, tak tahu harus bagaimana.

Joo-wonim: “Aku mendengarnya dari Kim Joo-won, taruhan yang kalian buat di Jeju. Jika kau menyerahkanku, ia akan membatalkan semua tuntutan.”

Oska: “Ia mengatakannya padamu?”

Joo-won: “Ia bahkan mengatakan bahwa ketentuan di antara kalian berdua sejak dulu, apapun yang dimenangkan melalui taruhan tidak dapat dikembalikan.”

Oska: “Kim Joo-won memang brengsek tapi dia tidak mudah. Melihatnya mundur seperti ini, Nn. Gil Ra-im pasti sangat penting baginya.”

Joo-wonim terkejut mendengarnya. Mungkin ia sendiripun tidak menyadari hal ini.

Kilasan ajaib, Joo-won dan Ra-im dalam tubuh masing-masing.

“Itukah sebabnya ia melakukan hal ini? Tapi bagaimana lagi? Aku pun tidak dapat menyerahkan Gil Ra-im. Katakan pada Joo-won, aku tidak akan menyerahkanmu. Aku tidak peduli ia tidak membatalkan tuntutannya.”

Semua terpana mendengarnya.

sg7-00321 sg7-00318

sg7-00319 sg7-00320

Komentar:

Aku suka adanya kilasan ajaib sesekali karena aku mulai merindukan Joo-won dan Ra-im dalam tubuh masing-masing. Aku menyukai kekonyolan dan kekacauan yang timbul akibat pertukaran tubuh mereka tapi aku juga kehilangan saat-saat intens antara mereka berdua.

Walau aku sangat suka pada Joo-won tapi menurutku caranya melukai Jong-soo sangat licik.

Joo-won belum berubah melalui pertukaran ini. Ia masih sangat egois, seluruh dunia terpusat pada dirinya, dan bersikap seeenaknya. Namun kesediaannya tinggal di rumah Ra-im dan kata-katanya ketika menghibur Ra-im setelah dihina ibunya, membuat kita dapat berharap bukan?

Pictures Credit to: Dramabeans.com

No comments:

Post a Comment

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)