Rabu, 15 November 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 23-24

snap-00489

I really like this couple^^ Karena keduanya saling melengkapi satu sama lain. Mereka saling mengenal karakter masing-masing dan itu menjadi kekuatan mereka dalam menghadapi berbagai situasi buruk yang mereka lihat dalam mimpi mereka.

Suka banget waktu Hong Joo teriak di ruang sidang hingga memberi Jae Chan inspirasi untuk kalimat penutupnya. Dan lucunya, apa yang dikatakan Hong Joo juga menyadarkan dirinya sendiri untuk memiliki sudut pandang yang benar.

Selama ini ia menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa buruk yang ia lihat dalam mimpi dan akhirnya terjadi pada orang lain. Terutama pada ayahnya dan Jae Chan. Tapi sekarang ia sadar bahwa yang bersalah adalah orang yang melakukan kejahatan itu.

Lagi-lagi Yoo Bum mencuci tangannya kuat-kuat meski ia tak berhasil membebaskan kliennya. Mungkin ia merasa kotor karena ia sudah membela seorang pembunuh. Ia juga terlihat sangat tak suka dengan kliennya. Dan ekspresinya saat ia mendengar kata-kata Jae Chan di sidang…..merasa bersalah?

Dae Gu sepertinya berharap Jae Chan bisa melepaskan ayahnya yang dituduh menjadi seorang pembunuh berantai. Tapi sayang ayahnya bunuh diri di dalam penjara…mudah-mudahan Dae Gu tidak lepas kendali dan melakukan kesalahan.

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 23

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 24

Selasa, 14 November 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 22

snap-00363

Hong Joo bertanya apakah mereka besok benar-benar akan pergi ke pantai. Tentu saja, jawab Jae Chan. Ia bertanya apa Hong Joo besok bisa cuti lagi. Hong Joo berkata ia sudah bekerja keras jadi berhak mendapat cuti. Ia berkata tak perlu mengkhawatirkannya.

Seung Won memanggil Jae Chan saat mereka hendak masuk ke rumah Hong Joo. Ia berkata Jae chan harus pulang sekarang. Ia dengar Jae Chan hanya 2 hari tinggal di rumah Hong Joo. Bahkan barang-barangnya sudah dikirim kembali oleh ibu Hong Joo pagi tadi. Dengan berat hati Jae Chan pulang ke rumahnya.

Hong Joo membicarakan hal ini dengan ibunya. Ibu berkata mereka setuju Jae Chan hanya tinggal 2 hari di rumah mereka. Hong Joo merasa ibunya seakan mengusir Jae Chan dengan mengeluarkan barang-barangnya sendiri.

“Ibu, apa dia membuat Ibu marah atau menyakiti perasaan Ibu?”

“Tidak,” jawab Ibu singkat.

Ternyata ibu yang menyimpan cincin Hong Joo pemberian Jae Chan. Ia ingat Hong Joo menangis putus asa saat Jae Chan dioperasi.. Sama seperti ketika 13 tahun lalu Hong Joo menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan ayahnya.

“Maafkan aku, Jaksa Jung. Aku tidak sanggup melihat Hong Joo hancur lagi.”

snap-00322snap-00340

Jae Chan menerima pesan dari teman-teman kerjanya. Asisten Kepala Park berkata ia mengirim ekstrak bawang dan mendoakan Jae Chan tiap hari. Jaksa Son berkata tidak perlu mengkhawatirkan mereka, Jae Chan cukup merawat dirinya sendiri.

Jaksa Lee berkata Jae Chan tak perlu memaksa diri. Ambil waktu istirahat lebih lama jika belum pulih benar. Ia bergurau ia jadi pria tertampan di kantor tanpa Jae Chan. Bahkan Hee Min mengirim pesan agar Jae Chan istirahat sebanyak yang ia perlukan.

Jae Chan jadi tak enak hati karena mereka tiba-tiba sangat baik padanya. Tapi ia memantapkan hati untuk tetap pergi ke pantai besok.

snap-00341snap-00346

Masalahnya, siapa yang pergi ke pantai mengenakan jas? Saat Hong Joo menanyakannya, Jae Chan berkata itu adalah pakaian pantainya. Jas lengkap, sepasang kacamata hitam, dan tikar.

Hong Joo menatapnya sambil tersenyum. Jae Chan jadi gugup dan bertanya-tanya kenapa bis belum datang juga. Hong Joo tahu Jae Chan khawatir orang lain akan menderita menggantikan Jae Chan.

“Aku tidak peduli,” kilah Jae Chan. “Dan lagi mereka bisa menderita sedikit menggantikanku. Maksudku, cuma aku satu-satunya yang dipukuli tersangka dan ditembak. Aku sudah menderita banyak. Tidak adil jika aku harus keluar dari pekerjaanku. Hanya aku satu-satunya yang menderita. Benar-benar tidak adil. Penderitaan seperti itu harus dibagi sama rata.”

snap-00348snap-00349

“Lupakan. Kita bisa pergi ke pantai kapan-kapan,” Hong Joo melepas kacamata hitamnya dan topi pantainya.

Ia berkata ia juga merasa tidak enak cuti lagi. Ia bahkan membawa laptopnya kalau-kalau ia akhirnya pergi kerja. Ia melepas kacamata Jae Chan dan mengambil alih tikarnya.

“Kita mungkin bisa menciptakan jalan baru jika kita menghadapinya,” katanya. Ia menyuruh Jae Chan pergi kerja.

“Baiklah, aku akan pergi kerja. Tapi aku akan kabur ke pantai jika aku menyesalinya,” kata Jae Chan tersenyum.

“Telepon aku jika kau melakukannya. Aku akan kabur bersamamu.”

Merasa lega dan lebih percaya diri, Jae Chan pun siap untuk pergi kerja. Namun Hong Joo sebenarnya mengkhawatirkannya. Ia memeluk Jae Chan dari belakang.

“Aku ingatkan itu akan menjadi keputusan yang sulit. Kau harus mempersiapkan dirimu.”

snap-00360snap-00366

Sementara itu, Penulis Moon menemukan yang ia cari. Sekolah dengan murid-murid mengenakan topi kuning yang ia temukan di tangga darurat. Dan satu anak laki-laki tidak mengenakan topi itu.

Saat anak itu terpisah dari teman-temannya, Penulis Moon mendekatinya. Anak itu ketakutan melihat Penulis Moon. Rupanya ia memang saksi mata peristiwa di depan lift itu. Ia melihat sendiri Penulis Moon mencekik Hwan dan mendorongnya hingga terjatuh ke rongga lift.

Penulis Moon memakaikan topi kuning yang ia temukan dan berkata topi itu sangat pas dengan anak itu. Ia berkata anak itu pasti pernah melihatnya, di depan lift. Anak itu menggeleng ketakutan dan berkata ia belum pernah melihat Penulis Moon.

Namun rasa takutnya terlalu besar hingga ia mengompol. Penulis Moon tahu anak itu berbohong. Anak itu berlari sekuat tenaga sambil menangis.

Penulis Moon mengejarnya. Anak itu terjatuh dan menangis keras. Tepat saat Penulis Moon mengulurkan tangannya untuk memegang anak itu, Woo Tak muncul dan memelintir tangan Penulis Moon. Kyung Han menangkapnya atas tuduhan penyerangan. Penulis Moon berkata ia hanya ingin bicara dengan anak itu tapi Kyung Han tak peduli dan tetap membawanya ke kantor polisi.

Anak itu menangis memeluk Woo Tak. Kyung Han bertanya darimana Woo Tak tahu pria itu akan membuat masalah. Woo Tak yang menyuruhnya mengikuti Penulis Moon. Woo Tak bercanda ia pandai membaca wajah orang.

snap-00374snap-00383

Hong Joo cuek saat orang-orang memperhatikannya karena ia masuk kerja dengan pakaian untuk ke pantai. Bahkan ketika Du Hyun ternganga melihatnya dan bertanya apa ini cara baru Hong Joo untuk melawannya.

Hong Joo berkata bukan itu alasannya. Ia bertanya bagaimana dengan asisten pengajar Penulis Moon yang tadi disebutkan Du Hyun.Du Hyun berkata ia menelepon rumah sakit untuk menanyakan apakah ia bisa mewawancarai pemuda itu. Tapi rumah sakit berkata pemuda itu mati otak dan organ-organ tubuhnya akan didonorkan pada 7 orang hari ini. Hong Joo terkejut menyadari kasus pemuda itu yang akan ditangani Jae Chan.

Jaksa Lee melihat Jaksa Son buru-buru meninggalkan kantor. Jaksa Son berkata ia harus pergi ke rumah sakit melihat Chan Ho. Jaksa Lee mengejarnya ke lift.

Jae Chan yang baru tiba merentangkan kedua tangannya dan menyapa mereka dengan gembira. Ia berkata ia sudah lebih baik berkat perhatian mereka. Tapi Jaksa Son dan Jaksa Lee hanya membalasnya sekilas dan pergi begitu saja.

“Mereka ternyata tidak sekhawatir itu,” katanya.

snap-00391snap-00394

Di dalam lift, Jaksa Lee bertanya apa ada yang terjadi pada Chan Ho. Jaksa Son berkata Chan Ho mungkin saja mendapat transplantasi ginjal hari ini. Rumah sakit menemukan donor yang secara resmi akan diumumkan mati otak. Dokter berkata Chan Ho bisa secepatnya dioperasi begitu itu terjadi. Ia merasa semua itu tak nyata dan sulit dipercaya. Ia ragu semua akan berjalan baik.

Tapi Jaksa Lee menyemangatinya....terlalu semangat malah. Ia berkata semua akan berjalan baik. Jaksa Son berkata ia tidak ingin membuat yang lain khawatir. Jaksa Lee berkata ia seorang yang bisa menyimpan rahasia.

“Jika aku bermulut besar, semua orang di kantor kita akan tahu kalau Pak Park memakai pengecang wajah dan Jaksa Shin seorang Buddhis.” Pfft....pegang rahasia apanya...

Jaksa Son terkejut medengar soal Pak Park. Jaksa Lee berkata Pak Park bahkan kecanduan operasi minor di wajah. Jika dilihat sangat dekat, akan kelihatan hasilnya.

Jaksa Son juga baru tahu kalau Hee Min menganut agama Buddha. Jaksa Lee berkata Hee Min rajin pergi ke vihara. Jaksa Son tertawa dan berkata ia tak percaya ia belum mendengar semua gosip itu.

“Apa itu membantumu lebih rileks?” tanya Jaksa Lee. Err...jadi itu beneran atau karangan Jaksa Lee untuk menyemangati Jaksa Son?

snap-00400snap-00405

Jae Chan masuk ke kantornya, berharap para asistennya menyambutnya. Tapi kantornya kosong. Hyang Mi akhirnya masuk. Tapi ia malah terus berdiri membelakangi Jae Chan. Ia menyindir Jae Chan lebih suka melihat punggungnya. Jadi ia akan terus berjalan seperti itu mulai sekarang.

Pak Choi masuk dan terkejut melihat Jae Chan. Ia bertanya dengan khawatir apa Jae Chan sudah benar-benar sembuh. Ia berkata Jae Chan kelihatan lebih tirus sekarang, padahal wajahnya sudah kecil.

Terharu, Jae Chan memeluk Pak Choi dan berkata cuma Pak Choi yang menyambutnya. Hyang Mi menghentikan mereka berdua dan menyerahkan pekerjaan pertama Jae Chan hari itu. Inspeksi untuk donor organ. Jae Chan sudah tahu pekerjaan ini yang dimaksud Hong Joo.

Pak Choi bertanya kenapa Jae Chan diam saja. Jae Chan harus menandatangani berkas itu dan mengirimnya agar operasi transplantasi bisa segera dilakukan. Jae Chan bertanya bagaimana jika penyebab mati otaknya korban bukan karena kecelakaan tapi karena dilukai orang lain.

“Kalau begitu kau tidak boleh menyetujui transplantasi karena kita perlu melakukan otopsi,” kata Pak Choi, mengira Jae Chan hanya bertanya biasa.

Ia sama sekali tidak menyangka saat Jae Chan mengajaknya ke rumah sakit. Untuk menggali kasus itu sebelum ia menyetujui donor tersebut.

“Dia menggali lagi begitu kembali? Kerjaannya cuma menggali. Mungkin dia pikir dirinya tikus tanah atau semacamnya, “ gerutu Hyang Mi.

“Aku tadi sesaat lupa. Itu sebabnya tidak ada yang menyambutnya,” kata Pak Choi.

snap-00410snap-00414

Woo Tak menelepon Jae Chan dan memberitahunya kalau ia sudah menangkap pelaku dalam kasus tersebut. Orang itu adakah Penulis Moon Tae Min. Jae Chan terkejut. Woo Tak berkata ia juga mendapatkan saksi. Tapi saksi itu seorang anak kecil hingga pernyataannya tak konsisten meski cukup detil. Ia berkata mereka akan meneruskan kasus itu ke kantor polisi Hangang.

Penulis Moon menelepon Yoo Bum mengenai situasinya, bahwa ia akan dipindahkan ke kantor polisi Hangang (mungkin polres kalau di sini., Woo Tak bekerja di polsek). Yoo Bum berkata yang menjadi amsalah bukan tuduhan penyerangan pada anak kecil itu, tapi polisi akan menggali kasus asisten pengajarnya juga.

“Bukankah kau bilang mereka tidak akan bisa melakukan otopsi setelah transplantasi organ? Mereka tidak akan bisa mengetahui penyebab kematiannya. Jadi aku bisa bebas sepenuhnya.”

Yoo Bum melarang Penulis Moon mengatakan apapun saat tiba di kantor polisi. Ia akan mengurus semuanya. Setelah menutup telepon, ia menyuruh supirnya mengantar ke rumah sakit tempat Hwan dirawat.

snap-00420snap-00424

Jae Chan dan Pak Choi memeriksa kondisi Hwan. Mereka menemukan memar di bagian leher Hwan. Hmmm...kenapa dokter tidak ada yang menyadari memar seperti itu ya?

Dokter berkata Chan Hon tidak perlu cuci darah lagi jika operasinya berjalan baik. Chan Ho senang karena ia akan bisa buang air seperti teman-temannya.

Tapi kegembiraan mereka hanya sesaat karena jaksa yang memeriksa donor telah pergi tanpa menyetujui pengambilan organ dan mungkin perlu dilakukan otopsi. Jaksa Son terpukul mendengar berita itu.

Yoo Bum bertanya pada perawat apakah saat ini sedang dilakukan pengambilan organ dari pasien bernama Lee Hwan. Ia mengaku temannya dan ingin tahu keadaannya. Perawat berkata jaksa sudah memeriksa namun tidak menyetujui pengambilan organ karena lukanya mungkin bukan karena kecelakaan.

Ia sangat marah saat mendengar jaksa itu adalah Jae Chan. Kaya udah punya feeling deh dia ;p Ia berharap kasus ini sampai ke pengadilan. Mereka akan bertempur di sana.

snap-00428snap-00432

Jaksa Lee melihat Jaksa Son kembali dengan sedih. Jaksa Son menceritakan situasinya sambil menangis. Tapi pembicaraan mereka terhenti karena Asisten Kepala Park menyuruh mereka ke kantornya untuk membicarakan sesuatu.

Pak Park, Jae Chan, dan Hee Min sudah menunggu saat mereka tiba di sana. Hee Min berkata Jae Chan memperumit masalah lagi begitu kembali. Jaksa Lee membela Jae Chan, begitu juga Pak Park yang berkata kasus ini memang harus mereka selidiki.

Jae Chan menceritakan kalau ia baru saja memeriksa pasien yang diumumkan mati otak. Para dokter sedang menunggu persetujuannya untuk memulai pengambilan organ. Jaksa Son langsung lemas.

“Apa yang kaulakukan di sini?” tegur Jaksa Lee, “Operasi harus dilakukan segera. Setujui sekarang juga.”

Jae Chan berkata ia tidak bisa melakukannya karena ia merasa ini bukan kecelakaan. Ia memperlihatkan klip dari Hong Joo yang memperlihatkan wawancaranya saat peluncuran buku Penulis Moon. Lalu bagaimana Hwan dibawa keluar oleh beberapa orang. Dan satu jam kemudian ditemukan jatuh ke rongga lift bangunan yang sama.

Pak Park berkata ia dengar pemuda itu jatuh karena mabuk. Lagian ya kalau mabuk masa jatuhnya ke sana sih >,<

Jae Chan memperlihatkan bagian klip yang meliput tamu undangan di mana Hwan terlihat sama sekali tak menyentuh minumannya, tak seperti tamu lainnya.

“Jadi maksudmu seseorang mendorongnya?” tanya Pak Park.

snap-00438snap-00440

Jaksa Lee bertanya apa Jae Chan sudah menemukan pelakunya. Ia berharap ini bukan hanya spekulasi Jae Chan karena menyangkut orang banyak.

Jae Chan berkata Penulis Moon adalah tersangka utamanya. Ia memberitahu kalau ia mendapat telepon dari polisi bahwa Penulis Moon ditangkap karena mengikuti seorang anak TK. Anak itu berkata ia melihat Penulis Moon di TKP.

Pak Park setuju ini memang mencurigakan. Mereka perlu melakukan otopsi. Hati Jaksa Son mencelos mendengar kata otopsi. Hee Min berkata mereka tidak bisa melakukan otopsi karena korban masih dianggap mati otak...bukan meninggal. Pak Park berkata kematian karena jantung berhenti berdetak biasanya akan terjadi dalam beberapa hari. Mereka bisa melakukan otopsi saat itu.

“Kalau begitu organ-organnya tidak bisa didonorkan,” protes Jaksa Lee.

Pak Park berkata apa mereka harus merelakan otopsi demi donor organ. Bagaimana jika pelakunya bebas?

“Bagaimana jika otopsi menunjukkan kalau itu kematian karena kecelakaan?” balas Jaksa Lee,” Tujuh orang yang bisa diselamatkan akan mati.”

Ia berkata ia tak habis pikir terhadap Jae Chan. Belum ada bukti kuat, bagaimana Jae Chan bisa melawan keluarga korban dan mendesak otopsi.

“Keluarga korban juga meminta oropsi,” kata Jae Chan.

Jaksa Lee marah dan berkata Jae Chan pasti membujuk mereka. Ia menuduh Jae Chan lebih mementingkan pencapaiannya daripada nyawa tujuh orang. Ini bukan tentang itu, kata Jae Chan. Pak Park juga memarahi Jaksa Lee.

“Kita tidak boleh menanganinya dengan emosi. Apa kau tidak tahu kita harus mengetahui penyebab kematian melalui otopsi jika diduga terjadi pembunuhan? Hanya dengan begitu kita bisa menyeret pelaku ke persidangan.”

“Kita harus punya bukti kuat. Apa bukti yang kita miliki sekarang sudah cukup untuk mengorbankan nyawa 7 orang?” tanya Jaksa Lee.

Hee Min sependapat dengan Jaksa Lee. Terlalu beresiko untuk tidak melakukan donor organ karena bukti yang mereka punya belum cukup kuat. Pak Park menanyakan pendapat Jaksa Son. Apakah mereka harus menyetujui pengambilan orang?

Selain Jaksa Lee, tidak ada seorang pun yang tahu kalau anak Jaksa Son adalah salah satu calon penerima donor. Jaksa Son terdiam sejenak.

“Aku merasa....kurasa....kita sebaiknya tidak menyetujuinya. Otopsi harus dilakukan. Aku merasa Jaksa Jung membuat keputusan yang benar.” Gosh...that’s must be so hard T_T

snap-00443snap-00450

Ketika hanya berdua, Jaksa Lee bertanya apa Jaksa Son sudah kehilangan akal. Pasien mati otak itu harusnya memberikan ginjalnya untuk Chan Ho. Jaksa Son berkata ia tahu itu. Lalu kenapa Jaksa Son menyetujui otopsi? Apa menangkap pelaku lebih penting dari Chan Ho?

Jaksa Son berkata bukan itu maksudnya. Jaksa Lee dengan frustrasi berkata ia benar-benar tidak tahu kenapa Jaksa Son sampai mengambil keputusan seperti itu.

“Jangan bilang kau mengambil keputusan itu karena kau seorang jaksa.”

“Aku tidak membuat keputusan sebagai seorang jaksa. Ini adalah pilihanku sebagai orangtua. Jika aku adalah orangtua dari asisten pengajar itu, aku pasti ingin tahu kenapa puteraku meninggal. Itu lebih penting daripada menyelamatkan anak orang lain.”

Di rumah sakit, ayah Hwan menangis di depan puteranya yang terbaring tak sadarkan diri. Menanyakan siapa yang membuatnya jadi seperti itu. Ia akan menangkapnya dan memberi pelajaran berat.

“Entah itu menyangkut nyawa 7 atau 70 orang, memberi keadilan pada puteraku yang mati seperti itu lebih penting dari nyawa orang lain. Semua orangtua pasti merasa seperti itu. Karena itu aku merasa kita perlu melakukan otopsi. Aku mengatakannya bukan sebagai seorang jaksa tapi sebagai sesama orangtua.”

Jaksa Son menangis tersedu-sedu setelah mengatakan semua itu.

snap-00456snap-00457

Jae Chan masih berada di kantor Pak Park. Pak Park berkata korban akan diumumkan meninggal dalam waktu kurang dari seminggu. Saat itu mereka bisa melkakukan otopsi. Ia menyuruh Jae Chan menolak permintaan pengambil organ.

Jae Chan ingat percakapannya dengan Hong Joo. Hong Joo bertanya apa yang akan Jae Chan pilih. Menyelamatkan tujuh orang, atau menangkap satu pelajku. Jae Chan balik bertanya apa yang akan dilakukan Hong Joo jika menjadi dirinya.

“Jika aku jadi kau, aku tidak akan memilih keduanya.”

snap-00462snap-00463

Jae Chan bertanya pada Pak Park, bisakah mereka melakukan otopsi dan pengambilan organ di waktu yang sama. Ia sudah berbicara dengan dokter dan kasus seperti itu pernah terjadi meski jarang. Dan pelaku pada kasus-kasus tersebut ditetapkan sebagai pembunuh.

Pak Park berkata itu kasus yang jarang. Jika dilakukan transplantasi, maka mereka tidak bisa memeriksa organ-organ yang akan didonorkan. Nantinya akan sulit mengetahui penyebab kematiannya.

Jae Chan berkata kasus-kasus yang jarang itu memiliki banyak kesamaan dengan kasus mereka. Semua luka pada korban hanya di bagian kepala dan tidak mempengaruhi organ tubuh yang lain. Otopsi menunjukkan bekas cekikan di leher. Mereka tidak perlu memeriksa organ-organ tersebut karena penyebab kematian bisa ditentukan hanya dengan memeriksa bagian leher dan kepala.

Pak Park memikirkannya sejenak. Ia memutuskan untuk mempercayai Jae Chan. Pokoknya mereka harus tahu penyebab kematiannya. Jae Chan tersenyum dan mengiyakan.

snap-00465snap-00467

“Jika aku adalah kau, aku akan menyelamatkan nyawa tujuh orang sekaligus menangkap pelakunya. Itu adalah pilihanku,” kata Hong Joo.

Jae Chan tersenyum. Karena pastilah itu juga yang ada di pikirannya.

Komentar:

Menurutku pilihan yang paling sulit adalah pilihan yang harus diambil Jaksa Son. Jae Chan akan kehilangan pekerjaan sementara Jaksa Son dapat kehilangan putera satu-satunya. Suatu hal yang sangat...sangat berat bagi orang tua.

Tapi ia tidak memikirkan dirinya sendiri, melainkan menempatkan dirinya di posisi ayah Hwan. Begitu juga Jae Chan. Mudah baginya untuk melarikan diri. Tapi ia memikirkan orang lain akan menghadapi dilema yang sama menggantikannya. Karena itu ia memilih untuk menghadapinya..

Bisa melihat masa depan adalah satu hal. tapi menghadapi suatu hal yang kita tahu sangat sulit, adalah hal yang luar biasa. Memang kehidupan nyata tidak seindah dan semudah yang terlihat dalam drama, tapi kita bisa memetik pelajarannya.

Seperti tadi, tidak memikirkan orang lain tapi menempatkan diri di posisi orang lain. Rasa empati dan simpati semakin sulit ditemukan akhir-akhir ini. Contohnya saja di medsos. Banyak orang mudah berkomentar negatif bahkan sangat kasar mengenai seseorang atau masalah tanpa memikirkan sama sekali bagaimana kalau mereka menjadi orang tersebut. Memprihatinkan.

Inilah kenapa aku suka drama Park Hye Ryun. Selalu ada pelajaran yang bisa diambil meski dramanya sendiri tidak sempurna. Drama yang kusebut sebagai drama yang memiliki hati...

Senin, 13 November 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 21

snap-00285

Yoo Bum sedang dalam perjalanan pulang ketika seseorang meneleponnya. Ia menyebut Yoo Bum sebagai pengacara yang pernah membebaskan Kang Dae Hee. Dan lebih mencurigakan lagi, orang itu bertanya apakah teleponnya direkam atau tidak.

Tidak, jawab Yoo Bum. Orang itu berkata ia ingin berkonsultasi masalah penting. Yoo Bum menyuruh orang itu membuat janji temu untuk besok. Tapi orang itu meminta Yoo Bum menyediakan waktu untuknya sekarang. Yoo Bum mulai kesal.

“Memangnya siapa kau hingga...”

“Aku adalah penulis Moon Tae Min.”

Yoo Bum terdiam saat mengetahui siapa penelepon itu. Ia pun kembali ke kantor untuk menemui penulis itu.

Tanpa basa-basi lebih lama, Penulis Moon berkata ia sedang menulis novel baru dan membutuhkan konsultasi dari seorang pengacara. Yoo Bum berkata itu suatu kehormatan baginya. Ia bertanya apa tokoh utamanya seorang pengacara.

“Bukan, seorang pembunuh.”

Yoo Bum mulai curiga dan bertanya apa pekerjaan si pembunuh itu.

“Seorang professor yang juga seorang penulis.”

“Seperti Anda, bukan?”

“Mengapa kau berkata begitu?” Penulis Moon tersenyum.

Yoo Bum meminta maaf sambil tertawa kecil. Ia membuka jam tangannya lalu menyuruh Penulis Moon bercerita dengan detil. Hmmm....gestur membuka jam tam tangan ini berarti ia menyadari Penulis Moon sudah melakukan suatu tindakan kriminal hingga berkonsultasi dengannya.

Penulis berkata cerita itu berawal dari pesta peluncuran buku si penulis, sang tokoh utama.

snap-00007snap-00008

Bukan hanya cerita, pesta itu memang terjadi di mana Penulis Moon mengadakan pesta peluncuran bukunya. Ia diwawancarai oleh Hong Joo mengenai bukunya yang kali ini mengenai anak-anak muda, sesuatu yang belum pernah ditulis Penulis Moon sebelumnya.

Penulis Moon berkata ia seorang penulis tapi juga pengajar. Ia tak hentinya memikirkan para anak muda yang harus belajar dalam kondisi sulit. Karena itu ia memutuskan untuk menyumbangkan 100% penjualan bukunya untuk beasiswa. Semua orang kagum padanya.

Seorang pemuda naik ke mimbar. Tangannya dibalut gips. Hong Joo berkata sepertinya salah satu anak didik Penulis Moon hendak memberikan hadiah kejutan.

Pemuda itu berkata ia berdiri di sana untuk mengungkapkan siapa Penulis Moon sebenarnya. Layar menayangkan foto-foto kedekatan Penulis Moon dengan para anak didiknya.

“Foto itu diambil untuk sampul majalah sekolah kami baru-baru ini. Profesor Moon berkata ia ingin melompat dengan kami sampai lututnya tak kuat lagi.”

snap-00019snap-00020

Semua orang tersenyum. Kecuali si pemuda itu. Foto-foto berlanjut seiring apa yang dikatakan pemuda itu.

“Sorenya, kami yang harus membantunya pindahan hingga lutut kami tak kuat lagi. Kami juga harus anatar-jemput anaknya ke sekolah. Bekerja menjadi tukang parkir pada pesta pernikahan puterinya. Menggunakan thesis sebagai...”

Belum sempat ia bicara beberapa orang menyeretnya dari panggung. Pemuda itu berteriak ia ingin mengungkap semua kesalahan Penulis Moon. Tangannya juga terluka karena dia.

Profesor Moon tersenyum dan berkata ia mengkritik thesis pemuda itu dengan keras hingga pemuda itu dendam dan melakukan ini padanya. Tapi Hong Joo kelihatan lebih percaya pada kata-kata pemuda itu karena ada bukti-bukti foto yang menyertainya.

snap-00028snap-00032

Setelah pesta, Penulis Moon dengan keras mendorong si pemuda ke pintu lift. Ia menuduh pemuda itu mabuk. Tapi pemuda itu berkata ia sepenuhnya sadar. Penulis Moon mengancam tidak akan menerbitkan buku si pemuda dan berniat meninggalkan bidang ini.

“Benar. Aku tidak perlu diterbitkan. Apa yang kupelajari hanyalah menyemir sepatumu dan membersihkan mobilmu. Apa gunanya diterbitkan? Aku di sini sebagai asisten pengajar, bukan sebagai budakmu!”

Penulis Moon mencengkeram pakaian pemuda itu dengan kuat. Si pemuda mengeluarkan ponselnya dan berkata ia sudah merekam pembicaraan mereka jadi silakan saja Penulis Moon berbuat sesuka hatinya.

Dengan marah Penulis Moon mencekik si pemuda sekuat tenaga dan menekannya ke pintu lift. Akibatnya pintu lift terbuka dan pemuda itu jatuh ke atap lift beberapa lantai di bawahnya.

Yoo Bum bertanya apakah ada saksi dalam peristiwa itu. Penulis Moon berkata ia pikir tidak ada yang melihatnya tapi ada suatu hal yang mengganggunya. Ia melihat pintu ke arah tangga darurat sedikit terbuka. Dan saat ia membukanya, tidak ada siapapun di sana. Tapi ia menemukan sebuah topi kuning anak-anak tergeletak di lantai. Ia tidak tahu apakah topi itu sudah ada di sana sebelumnya atau terjatuh saat melihat peristiwa itu.

snap-00044snap-00048

“Apa yang terjadi pada si asisten pengajar?” tanya Yoo Bum.

“Kepalanya terluka dan ia koma. Ia ada di ICU dan hanya bisa bernafas. Tidak bisa dikatakan hidup.”

“Apa ia mati otak?”

Penulis Moon mengangguk.

Yoo Bum berkata mereka harus meluruskan beberapa hal. Si tokoh utama dalam cerita itu bukanlah pembunuh karena undang-undang kriminal tidak menyebutkan seorang yang mati otak sebagai kematian. Hanya kasus serangan jantung yang dianggap kematian. Jadi bisa dianggap terluka karena kelalaian tapi itu pun tidak benar-benar tepat.

“Ia bisa dinyatakan tidak bersalah. Jika tokoh utama dan pengacaranya membuat rencana yang bagus bersama-sama, ia bisa dinyatakan tidak bersalah.”

Penulis Moon tersenyum lebar dan berkata ia datang ke orang yang tepat. Ia menyuruh Yoo Bum membawakan kopi untuknya karena ia merasa rileks sekarang. Yoo Bum tidak nampak senang dan berkata semua stafnya sudah pulang jadi mereka bisa minum kopi di tempat lain.

Penulis Moon berkata mereka harus menyiagakan otak mereka untuk membuat rencana. Lalu menyindir Yoo Bum seharusnya meningkatkan lkualitas layanan pelanggannya.

Yoo Bum tertawa sinis dan berkata bagaimana bisa ia menyediakan layanan pelanggan lebih dari ini.

“Jujur saja. Kau menggunakan kekuasaanmu sewenang-wenang dan membunuh pemuda malang itu. Sekarang kau memintaku untuk membebaskanmu. Sadari tempatmu karena kau seorang kriminal sekarang. Beraninya kau memintaku membawakanmu kopi?”

Penulis Moon terkejut dan menegur Yoo Bum. Tapi Yoo Bum berkata nasib Penulis Moon ada di tangannya sekarang. Dengan kata lain ia yang lebih berkuasa.

“Jadi jaga sikapmu. Jika aku bicara baik-baik, kau seharusnya melakukan hal yang sama. Jangan lupakan kau adalah seorang kriminal dan jaga sikapmu! Ulangi kata-kataku: tolong aku, Pengacara Lee.”

Sebagai seorang yang biasa bersikap sewenang-wenang tentu saja ini bukan hal yang mudah bagi Penulis Moon. Tapi ia tahu perkataan Yoo Bum ada benarnya. Maka ia mengulangi kata-kata Yoo Bum.

“Tolong aku, Pengacara Lee.”

Yoo Bum tersenyum dan berkata sekarang ia termotivasi untuk membuat rencana.

snap-00067snap-00069

Dalam rapat, Hong Joo menceritakan peristiwa yang terjadi di acara peluncuran buku tadi. Ia merasa Penulis Moon adalah seorang yang sangat menakutkan. Ia bisa melihat apa yang terjadi dari perkataan pemuda tadi. Ia pasti menyalahgunakan kekuasaannya seenaknya dengan menggunakan nilai mereka sebagai alasan.

Du Hyun berkata ia merasa kecewa karena ia salah satu fans dari penulis tadi. Kapten bertanya apakah Hong Joo mewawancarai si pemuda.

Hong Joo berkata tadinya ia akan mewawancarainya tapi telah terjadi kecelakaan. Ia dengar pemuda itu mabuk dan jatuh ke atas lift. Dan sekarang ia terbaring koma.

Du Hyun memanggil seorang reporter baru dan menyuruhnya pergi membeli makanan ringan untuk mereka semua. Hong Joo kesal.

“Kebudayaan hirarki seperti ini harus ditinggalkan. Menjadi lebih tua tidak memberimu kekuasaanmu di seluruh dunia. Bagaimana bisa kau memperlakukan rekan kerjamu seperti seorang pelayan,” omelnya.

Du Hyun tersindir dan bertanya apakah Hong Joo bicara padanya. Tidak, jawab Hong Joo cuek. Ia berkata ia sedang membicara Penulis Moon.

“Kenapa? Apa aku kedengaran seperti sedang membicarakanmu? Apa kau merasa bersalah?” cecarnya.

Du Hyun merasa malu dan akhirnya tak jadi menyuruh reporter baru itu^^

snap-00074snap-00075

Jae Chan bersiap untuk pulang. Ia terlihat sedikit cemburu saat melihat Hong Joo dan Woo Tak menjemputnya bersama-sama. Ia lalu melihat Hong Joo tidak mengenakan cincin pemberiannya.

Hong Joo berkata mereka berpapasan di depan rumah sakit. Seung Won melihat keduanya tidak lagi menggunakan bahasa formal.

“Apa kita juga bisa seperti itu?” tanya Woo Tak.

“Tidak bisa,” jawab Jae Chan.

Woo Tak tersenyum geli. Seung Won bertaya kenapa begitu. Jae Chan dan Hong Joo sekarang bicara informal, Hong Joo dan Woo Tak juga. Kenapa Jae Chan dan Woo Tak tidak bisa? Jae Chan mengalihkan pembicaraan dan menanyakan kartu pengenalnya.

Untuk apa? Untuk dipamerkan pada Chan Ho, membuktikan kalau ia benar-benar seorang jaksa. Tapi reaksi Chan Ho biasa saja. Ngga wow gitu XD

Jae Chan tidak puas. Ia bertanya apa Chan Ho tidak akan meminta maaf padanya karena sudah meragukannya.

Hong Joo, Woo Tak, dan Seung Won sama-sama setuju kalau Jae Chan bersikap kekanakkan dan membuat mereka malu. Jae Chan tidak menyerah dan menunggu Chan Ho. Chan Ho membungkuk dan meminta maaf tapi ia mengingatkan kalau seoarang jaksa seharusnya tidak tertukar dalam menyatakan undang-undang kriminal apalagi mendesak orang untuk percaya kalau ia seorang jaksa tanpa membawa kartu pengenal apapun.

Kena lagi deh... Hong Joo dan Woo Tak tersenyum. Jae Chan tidak terima tapi Seung Won menghentikannya karena semua yang dikatakan Chan Ho benar. Jae Chan berkata Chan Ho mengingatkannya pada Seung Won kecil. Sama persis tidak sopannya.

Chan Ho tiba-tiba jatuh pingsan. Mereka semua menghambur ke arahnya. Dokter segera melakukan prosedur cuci darah pada Chan Ho. Mereka bertanya apa Chan Ho baik-baik saja. Dokter memberitahu mereka kalau Chan Ho baik-baik saja setelah melakukan cuci darah. Ia memberitahu mereka penyakit Chan Ho adalah gagal ginjal kronis dan sudah menjalani cuci darah selama 5 tahun.

Mereka merasa kasihan padanya. Dokter berkata mereka sudah kesulitan mencari pembuluh darah. Satu-satunya jalan untuk menyembuhkannya adalah dengan transplantasi, tapi mereka tidak bisa menemukan dokter.

snap-00091snap-00095

Penulis Moon menjenguk asisten pengajarnya ke rumah sakit. Atau mengecek? Ia meminta maaf pada ayah pemuda itu karena sudah membiarkan pemuda itu minum. Ia tak menyangka akan terjadi kecelakaan seperti ini. Tanpa tahu apa-apa, ayah pemuda itu berterimakasih karena profesor sudah repot-repot menjenguk puteranya.

“Jangan berkata begitu. Tentu saja aku harus menjenguknya. Ia adalah siswa favoritku.”

Ketika dokter datang, ia dengan khawatir menanyakan keadaan Hwan, pemuda itu. Dokter berkata otaknya sudah rusak parah ketika dibawa ke rumah sakit. Ia berkata sebaiknya mereka mempersiapkan diri untuk situasi terburuk. Sang ayah tak kuat dan hampir pingsan. Tapi si profesor diam-diam tersenyum lega.

snap-00107snap-00111

Woo Tak mengantar Jae Chan dkk pulang. Ia bertanya di mana Jae Chan akan tinggal selama memulihkan dirinya, di rumah sendiri atau di rumah Hong Joo sepertinya? Seung Won cepat-cepat berkata kalau Jae Chan tentu saja harus tinggal di rumah. Untuk apa merepotkan orang lain kalau ia punya rumah sendiri? Dan lagi kakaknya sudah sembuh benar.

“Tidak aku belum sembuh benar,” bantah Jae Chan. Ia menunjuk bagian lukanya yang katanya masih terasa sakit.

Hong Joo berkata kalau begitu sebaiknya Jae Chan tinggal di rumahnya selama beberapa hari seperti Woo Tak.

“Jangan...itu terlalu tak tahu malu. Woo Tak memang pantas dirawat olehmu. Tapi Kakak tidak. Memangnya kakak terluka akrena berusaha menyelamatkan Kak Hong Joo seperti Kak Woo Tak? Apa kau tinggal sendirian seperti Kak Woo Tak?”

Jae Chan berusaha membantah. Woo Tak memberi isyarat pada Seung Won untuk membiarkan mereka berdua tapi Seung Won terus mengoceh. Ia berkata ia yang akan merawat kakaknya. Ia menggandeng kakaknya masuk.

Tapi Hong Joo menepis tangan Seung Won dan menggenggam tangan Jae Chan. Ia mengajak Jae Chan tinggal ke rumahnya. Ia sudah berpengalaman jadi ia yakin ia bisa mengurus Jae Chan lebih baik dari Seung Won. Tentu saja Jae Chan senang.

Hong Joo merebut koper Jae Chan dan menarik Jae Chan masuk ke rumahnya. Seung Won mengeluh Jae Chan tidak peka.

“Bukannya kau yang tidak peka?’ kata Woo Tak, “Mereka baru tahu kalau mereka pernah bertemu 13 tahun lalu. Biarkan mereka berdua agar mereka bisa membicarakannya.”

Ia tersenyum...tapi kok rasanya ada kesedihan juga ya...

snap-00134snap-00138

Ibu Hong Joo tak sehangat biasanya pada Jae Chan. Ia terkesan tidak ingin Hong Joo terlalu dekat dengan Jae Chan. Ia menyuruh Hong Joo membereskan kamar di saat Hong Joo ingin mengurus Jae Chan. Setelah Hong Joo pergi ke kamarnya, ia bertanya berapa lama Jae Chan akan tinggal bersama mereka.

“Dua hari cukup, kan?” tanyanya singkat.

Jae Chan mengiyakan dan agak heran dengan sikap ibu Hong Joo.

Hong Joo mencari-cari sesuatu di kamarnya. Ia berkata Jae Chan akan kecewa jika tahu ia menghilangkannya. Cincinnya kah?

Jae Chan mengetuk pintu dan bertanya bolehkah ia masuk. Hong Joo mempersilakannya. Ia berkata kamarnya biasanya tidak seberantakan ini. Ia sedang mencari sesuatu tapi tidak memberitahu Jae Chan barang apa yang ia cari.

Hong Joo mengukur temperatur Jae Chan. Jae Chan bertanya apakah Hong Joo tidak suka cincin yang ia berikan. Hong Joo berkata ia menyukainya.

“Lalu kenapa kau tidak memakainya?”

Hong Joo beralasan ia khawatir pendapat teman-temannya dan ibunya mungkin akan salah paham jika melihat cincin itu. Ia berkata ia akan mengenakannya jika hanya berdua dengan Jae Chan.

“Berjanjilah padaku,” kata Jae Chan.

snap-00148snap-00149

Hong Joo mengiyakan. Ia berkata demam Jae Chan hampir sembuh. Ia akan mengganti perban Jae Chan besok. Jae Chan bergurau Hong Joo sekarang kedengaran seperti seorang dokter.

“Aku kan pernah berlatih dengan Woo Tak.”

Jae Chan bertanya apa Hong Joo juga mengecek temperatur dan mengganti perban Woo Tak. Hong Joo mengiyakan. Ia bertanya apa Jae Chan merasa terganggu hingga bertanya. Apa ia cemburu?

“Tidak. Sama sekali tidak.”

Hong Joo sedikit kecewa. Ia keluar karena ibunya memanggilnya. Mereka akan bertemu kembali besok.

Katanya tidak cemburu, tapi Jae Chan mulai membayangkan Hong Joo bermanja-manja ria pada Woo Tak. Ia mulai menyesal tinggal di rumah Hong Joo.

snap-00158snap-00165

Untuk sementara Hong Joo tidur bersama ibunya. Ia bertanya apakah ibunya melihat cincin yang diberikan Jae Chan. Ibunya berkata ia tidak melihatnya.

Melihat Hong Joo mengoles krim malam banyak-banyak ke wajahnya, ibunya bertanya untuk apa sebanyak itu jika hanya untuk pergi tidur. Hong Joo berkata kulitnya sensitif akhir-akhir ini, jadi ia tidak ingin sampai jerawatan. Apalagi Jae Chan tinggal bersama mereka.

Ibu berkata ia dengar mereka sudah pernah bertemu 13 tahun lalu. Apa Hong Joo sekarang merasa lebih dekat dengan Jae Chan setelah tahu hal itu? Hong Joo bertanya apa ibunya ingin ia lebih dekat dengan Jae Chan.

“Tidak, Ibu tidak mau,” kata ibunya kesal.

Hong Joo berkata mereka mungkin saja lebih dekat nantinya. Ibu berkata ia juga tidak ingin mereka bertambah dekat nantinya. Hong Joo heran melihat reaksi keras ibunya.

snap-00168snap-00169

Dokter menemui ayah Hwan, pemuda korban Penulsi Moon. Ia memberitahukan bahwa Hwan mendaftarkan dirinya sebagai donor organ. Ayahnya tidak kaget. Ia sudah bisa menduganya. Dokter berkata ayah Hwan harus bangga pada puteranya.

“Hwan, kau dengar? Dokter memujimu,” kata Ayah Hwan.

Dokter berkata ayah Hwan bisa memberitahunya jika sudah memutuskan kapan mereka bisa mencabut alat penunjang hidup Hwan. Ayah tampak sedih. Namun ia menjawab mereka bisa melakukannya lusa.

“Itu hari ulangtahunnya.” T_T

Tak lama kemudian Jaksa Son menerima kabar dari rumah sakit kalau ada donor ginjal yang mungkin cocok untuk Chan Ho. Namun mereka harus melakukan tes terlebih dulu. Jaksa Son merasa memiliki harapan untuk puteranya.

snap-00176snap-00182

Ayah Hwan berteriak di ruang sidang, menanyakan siapa yang membunuh anaknya. Yoo Bum tersenyum menang sambil menjabat tangan Penulis Moon. Ayah Hwan protes pada Jae Chan. Mereka tidak bisa menangkap pembunuh anaknya karena tidak ada otopsi. Ia meratap hukum tidak adil. Merasa bersalah, Jae Chan mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Woo Tak terbangun dari mimpinya itu. Ia bingung bagaimana ia bisa menceritakan mimpinya ini pada Jae Chan.

Jaksa Lee menangis sambil memarahi Jae Chan. Ia berkata hanya untuk menangkap satu orang Jae Chan telah membunuh 7 orang. Apakah itu keadilan yang dipercayai Jae Chan? Jae Chan merasa bersalah dan mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Itu adalah mimpi Hong Joo.

snap-00185snap-00188

Woo Tak pergi ke rumah Hong Joo dan melihat Hong Joo berjalan ke tempat sampah dengan lesu. Ia membantunya dan bertanya apa ada yang terjadi. Hong Joo berkata ia bermimpi buruk dan tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.

Woo Tak kaget dan berkata ia juga mimpi buruk. Apakah ini mengenai Jae Chan? Mereka sama-sama bermimpi Jae Chan keluar dari pekerjaannya.

Jae Chan sedang menjemur pakaian ketika melihat Hong Joo berbicara berdua dengan Woo Tak. Karena penasaran, dan cemburu tentunya, ia berusaha untuk menguping. Namun ia malah mendengar mereka sedang membicarakan dirinya.

Woo Tak berkata mereka harus memberitahu Jae Chan soal mimpi mereka. Tapi Hong Joo menghentikannya dan berkata Jae Chan tidak bisa mengubah apapun meski tahu.

“Setidaknya ia bisa melarikan diri,” kata Woo Tak.

Hong Joo berkata jika Jae Chan tahu, apa Jae Chan mau melarikan diri jika tahu orang lain akan menghadapi situasi itu menggantikannya? Apa Woo Tak bisa melakukannya jika jadi Jae Chan?

“Tidak,” jawab Woo Tak.

“Jae Chan itu seperti kau. Dia tidak akan melarikan diri jika tahu. Jadi kau sebaiknya tak memberitahunya. Aku akan membuatnya melarikan diri.”

Jae Chan bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan.

snap-00205snap-00213

Keesokan harinya, Hong Joo mogok kerja. Ia berkata ia akan bolos karena hari ini sangat indah. Jae Chan mengerti ini adalah cara Hong Joo untuk membuatnya “melarikan diri”. Ia bertanya Hong Joo ingin pergi ke mana.

Sementara itu Du Hyun mencak-mencak karena Hong Joo mendadak ambil cuti dengan alasan cuaca hari ini sangat bagus.

Di kantor Jae Chan beda lagi. Para jaksa kerja lembur karena harus berbagi tugas mengerjakan tugas-tugas Jae Chan. Hee Min berharap Jae Chan cepat kembali bertugas sementara Jaksa Lee membela Jae Chan yang pasti tidak ingin terlalu lama meninggalkan pekerjaan karena tahu mereka bekerja lembur menggantikannya.

snap-00223snap-00228

Padahal Jae Chan sedang asyik jalan-jalan di ladang gandum bersama Hong Joo. Mereka berpose kaku untuk selfi sementara tak jauh dari mereka ada pasangan yang berpose heboh untuk selfi. Akhirnya cameo Yoon Kyung Sang dan Lee Sung Kyung muncul juga^^ They’re too cute…

Jae Chan melihat si pria memberikan sebuket bunga untuk kekasihnya. Hong Joo melirik mereka dan terlihat iri. Jae Cha mencabut sebatang gandum dan memberikannya pada Hong Joo yang dengan senang hari menerimanya. Yah...daripada tidak sama sekali ;p

snap-00242snap-00252

Hong Joo mengusulkan agar besok mereka pergi ke pantai karena sudah 5 tahun ia tidak melihat laut. Tapi kali ini Jae Chan berkata besok ia harus kembali masuk kerja. Hong Joo menyuruhnya bolos, seperti dirinya.

“Apa akan terjadi sesuatu padaku besok?” tanya Jae Chan.

Ia berkata ia mendengar percakapan Woo Tak dan Hong Joo dan ia tahu mereka melihatnya dalam mimpi. Ia meminta Hong Joo memberitahu kenapa ia harus melarikan diri.

Hong Joo berkata Jae Chan harus membuat pilihan yang sangat sulit. Dalam mimpinya, Jae Chan akan mendapat kasus pemeriksaan saat kembali kerja besok. Pemeriksaan terhadap pasien yang mati otak akibat sebuah kecelakaan. Tapi dalam pemeriksaan itu Jae Chan menemukan bahwa penyebab kematiannya bukanlah kecelakaan tapi akibat seseorang melukainya.

Jadi Jae Chan melakukan otopsi dan menangkap di pelaku. Masalahnya adalah korban merupakan donor organ. Karena Jae Chan memerintahkan otopsi, korban tidak bisa lagi mendonorkan organnya. Padahal ada 7 orang yang menanti transplantasi. Akibatnya 7 orang itu meninggal. Jae Chan mengundurkan diri karena shock.

Sedangkan dalam mimpi Woo Tak, Jae Chan tidak melakukan otopsi hingga 7 orang pasien selamat. Tapi si pelaku jadi dibebaskan karena penyebab kematian tidak bisa dipastikan tanpa otopsi. Akibatnya ayah korban menyalahkan Jae Chan untuk semuanya. Jae Chan menyalahkan dirinya dan mengundurkan diri.

snap-00264snap-00268

Jae Chan bertanya apakah ada informasi mengenai korban itu. Hong Joo berkata ia tidak melihat korban dalam mimpinya.

“Jika aku melakukan otopsi, tujuh orang akan meninggal. Jika aku tidak melakukannya, aku menyelamatkan nyawa tujuh orang tapi pelaku melenggang bebas. Baik aku melakukan otopsi atau tidak, aku akan berhenti dari pekerjaanku. Kurasa kau ingin aku melarikan diri karena aku akan menyesali apapun keputusanku. Benar-benar buruk.”

Hong Joo membenarkan, benar-benar buruk.

“Mari kita ke pantai besok,” kata Jae Chan.

Hong Joo kaget. Jae Chan berkata ia ingin melarikan diri. Ia tahu ia bersikap pengecut, tapi kali ini ia ingin melarikan diri. Ia tidak ingin berhenti dari pekerjaannya.

Namun kata-kata Hong Joo pagi tadi terngiang di benaknya. Apakah ia bisa melarikan diri dengan mengetahui orang lain akan berada dalam dilema tersebut menggantikannya?

“Tentu, aku bisa melakukannya,” ujarnya keras. Ia berkata ia akan melarikan diri. Ia tidak peduli kasus itu akan dialihkan pada orang lain atau tidak. Ia dan Woo Tak sangat berbeda.

“Hati nuraniku berstandar rendah.”

Hong Joo menyemangati Jae Chan.

Pasangan heboh tadi memanggil Jae Chan dengan sebutan “ahjusshi” dan meminta tolong memotret mereka. Jae Chan menolak permintaan itu.

“Kau lihat, kan? Aku bisa melakukan dan mengatakan apapun yang kumau mulai sekarang,” katanya pada Hong Joo.

Pasangan itu pergi dengan kesal. Berasa liat Doctors XD

snap-00294snap-00304

Seung Won makan siang bersama Dae Gu, anak yang dikucilkan karena ayahnya seorang narapidana. Dae Gu berkata ia merasa Jae Chan seorang jaksa yang baik karena membuktikan Hak Young tidak bersalah dan membebaskannya. Seung Won heran Dae Gu tiba-tiba membicarakan Jae Chan. Ia berkata Jae Chan hanya melakukan apa yang harus ia lakukan sebagai seorang jaksa.

“Hanya melakukan tugasnya tidak menjadikannya seorang jaksa yang baik. Tidak mudah melakukannya. Aku belajar dari ayahku. Ayahku seorang dokter tapi bertemu dengan jaksa yang jahat hingga membuatnya jadi pembunuh berantai.”

Seung Won bertanya siapa jaksa itu. Dae Gu berkata Seung Won tidak akan kenal. Jaksa itu mengubah pernyataan saksi dan memalsukan bukti. Begitulah ia mengubah orang tak bersalah menjadi penjahat.

snap-00309snap-00311

Tak perlu ditebak siapa jaksa yang dimaksud. Yoo Bum memberitahu Penulis Moon bahwa tidak akan ada otopsi karena Hwan merupakan donor organ. Tanpa otopsi, kasus disimpulkan sebagai kematian akibat kecelakaan. Meski maju ke persidangan pun, Penulis Moon akan mudah dibebaskan.

Penulis Moon senang dan berkata ia percaya penuh pada Yoo Bum. Yoo Bum meminta Penulis Moon mencari pemilik topi kuning itu. Tak jauh dari tempat mereka bicara, Woo Tak mengintai dengan kameranya.

snap-00317snap-00321

Komentar:

Ah...Woo Tak melihat Yoo Bum dalam mimpinya. Karena itu ia mengikuti Yoo Bum. Tapi darimana dia tahu kalau Hong Joo dan Jae Chan baru bertemu kembali setelah 13 tahun? Apa mereka menceritakan semua padanya?

Sayang banget cameo Lee Sung Kyung dan Yoon Kyun Sang Cuma selewat. Inginnya sih terlibat dalam kasus seperti Kim So Hyun^^