Rabu, 29 November 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 27-28

snap-00060

Ternyata Pak Choi tidak memberitahu mereka kalau ia adalah ahjusshi polisi yang mereka selamatkan 13 tahun lalu, sekaligus kakak dari tentara yang sudah membunuh ayah mereka. Mungkin karena perasaan bersalah dan juga khawatir membangkitkan luka lama mereka.

Hanya saja tidak dijelaskan apakah ia sudah tahu dari dulu ataukah baru-baru ini setelah ia bermimpi mengenai mereka. Dan jika ia hanya bermimpi tentang kebakaran itu, bagaimana ia bisa tahu kalau Jae Chan dan Hong Joo adalah anak-anak dari 13 tahun lalu? Jika dari nama, seharusnya ia sudah tahu dari dulu. Atau mungkin dijelaskan di episode berikutnya? Hehe….belum nonton episode-episode selanjutnya meski sudah tahu akhir ceritanya seperti apa^^

Agak gemes juga melihat Hong Joo menemui Yoo Bum sendirian dan menggertaknya begitu saja. Apakah dengan begitu ia berharap Yoo Bum sadar akan kesalahannya lalu benar-benar memberikan data yang benar? Bukankah sudah beberapa kasus menunjukkan Yoo Bum seorang yang bisa melakukan apa saja demi dirinya sendiri?

Tapi dengan begitu Dae Gu juga jadi tahu kalau Hong Joo sebenarnya tidak bermaksud memojokkan ayahnya. Meski kebetulan saja ia mendengar percakapan mereka, setidaknya pandangannya pada Hong Joo berubah 180 derajat.

Heran juga Yoo Bum kok cuma menyasar Hong Joo padahal dengan Hong Joo tahu berarti Jae Chan dan yang lain juga tahu. Ia juga pasti tahu kalau Jae Chan sedang menyelidiki kembali kasus itu. Jadi kenapa ia menyasar Hong Joo seorang? Bukankah akan lebih mencurigakan jika Hong Joo ditemukan tewas di gedungnya? Apalagi Hong Joo sudah melapor pada Du Hyun kalau ia akan menemui Yoo Bum malam itu.

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 27

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 28

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 26

snap-00329

Hong Joo diminta kaptennya untuk meliput tugas malam di kantor kejaksaan. Asisten Kepala Park terkejut saat tahu Jae Chan yang akan bertugas malam ini menggantikan Jaksa Lee. Jaksa Son dan Hee Min juga ada janji malam ini. Jaksa Son meminta Pak Park memberi kesempatan pada Jae Chan karena sudah berusaha keras.

“Aku tahu ia berusaha, tapi tidak ada hasilnya setelah ia berusaha siang dan malam,” keluh Pak Park.

Hm...kira-kira apa Hong Joo benar-benar memang disuruh kaptennya atau ia melihat dalam mimpi kalau Jae Chan akan tugas malam.

Jae Chan sendiri terkejut begitu diberitahu akan diliput malam ini. Ia panik dan meminta Hyang Mi membawa sebagiann dokumen kasusnya ke kantor Jaksa Lee. Ia tidak mau kelihatan tidak kompeten karena begitu banyaknya tumpukan dokumen kasus tak terselesaikan di mejanya.

Pak Choi tertawa melihat Jae Chan heboh. Ia berkata sebaiknya Jae Chan menjadi dirinya sendiri saja.

“Aku akan mempermalukan seluruh kantor,” kata Jae Chan.

“Setidaknya ia tahu itu,” gumam Hyang Mi.

Jae Chan mengendus jubah jaksanya yang tidak pernah dicuci. Ia makin panik. Sama sekali tak menyadari sejak tadi Hong Joo merekamnya di dekat pintu masuk. Di belakang Hong Joo, Pak Park melambai-lambaikan tangan berusaha memberi tanda pada Jae Chan.

“Pak Choi, kamera tidak bisa merekam bau kan?” tanya Jae Chan.

Ia menoleh dan berseru kaget melihat Hong Joo.

“Terima kasih sudah membiarkanku merekam harimu yang dinamis saat bekerja, Jaksa Jung,” kata Hong Joo tersenyum.

snap-00195snap-00197

Orang yang ditangkap Woo Tak berkata ia disuruh si pemilih ponsel untuk mencari ponselnya. Jadi ia yang menemui si pencuri ponsel. Ia berkeras ia adalah korban di sini.

Lalu bagaimana dengan uang 10 juta won? Pria itu berkata ia kira ponsel itu memang seberharga itu. Polisi yang menanyainya tertawa dan bertanya kenapa ponsel yang begitu berharha itu dilempar ke sungai? Bukankah ponsel itu bukan miliknya. Pria itu berkilah ia tidak membuang ponsel itu tapi ponsel itu tergelincir dari tangannya.

Tapi Woo Tak dan Kyung Han tidak percaya. Pasti ada sesuatu dalam ponsel itu. Masalahnya mereka tidak bisa menemukan ponsel itu.

Di meja lain, si pencuri ponsel diam-diam memasukkan sebuah USB ke dalam kaus kakinya. Saat ditawari video call dengan jaksa, ia memilih bertemu langsung.

snap-00202snap-00209

Dan jaksa yang bertugas malam itu adalah Jae Chan. Ia berusaha terlihat gaya saat mengangkat telepon dengan memutar kursinya, tapi ia malah terjatuh. Tapi Jae Chan tetap Jae Chan yang menutupi rasa malunya dengan berpose....pose sakit pinggang XD

Si pencuri ponsel dibawa Pak Choi ke kantor Jae Chan. Pak Park yang sejak tadi mengawasi liputan Hong Joo, merasa familiar dengan wajah pencuri ponsel.

Jae Chan menjelaskan di depan kamera bahwa biasanya para jaksa menanyai para tersangka melalui telepon atau video call. Tapi tersangka ini ingin berbicara langsung dengannya. Ia akan menanyainya sebelum memutuskan akan menahan orang itu atau tidak.

snap-00217snap-00220

Pencuri ponsel duduk di hadapan Jae Chan. Jae Chan membaca namanya. Park Dae Young. Ia berkata namanya sama dengan nama Asisten Kepala Jaksa.

Pak Park yang mendengarnya langsung teringat kalau orang itu adalah orang yang sudah mempermalukan namanya.

Park Dae Young, si pencuri ponsel, bercerita kalau ia dulu juga PNS sama seperti Jae Chan. Suatu hari adiknya terkena masalah dan ia kehabisan uang saat berusaha membantunya. Isterinya juga meninggalkannya.

Ia memiliki seorang puteri, tapi puterinya mengalami kecelakaan saat berusia 9 tahun dan cedera tulang belakang. Puterinya sulit bergerak bahkan untuk minum sekalipun.

Jae Chan nampak prihatin dan bertanya apa puteri Dae Young ada di rumah sendirian sekarang. Pak Park yang mendengar dari luar tak percaya Jae Chan begitu mudah percaya pada perkataan Dae Young.

Dae Young berkata ia tidak bisa mendapat pekerjaan karena harus terus merawat puterinya. Karena itu ia mencuri ponsel. Ia berkata ia tidak pantas dimaafkan. Ia akan bekerjasama dalam penyelidikan dan persidangan, karena itu ia memohon agar ia tidak ditahan. Ia berkata puterinya akan meninggal jika ia tidak ada.

“Ia mungkin sedang melipat bangau origami, menungguku pulang ke rumah membawa kue. Ia pikir jika ia melipat 1000 bangau origami...” ia bercerita sambil menangis.

“Ia pikir jika ia melipat 1000 bangau, ia akan bisa berjalan kembali. Iya, kan?” Pak Park masuk ke dalam kantor. “Hampir 10 tahun berlalu tapi ceritamu tidak berubah sama sekali. Dia berbohong. Jangan biarkan dia menipumu. Tahan saja dia.”

Jae Chan bertanya apa Pak Park mengenal Dae Young. Pak Park berkata tentu saja ia kenal. Sepuluh tahun lalu Dae Young juga melakukan pencurian yang sama dan ia menahannya. Jadi tahan saja dia.”

Jae Chan bertanya apakah puteri Dae Young saat ini benar-benar sendirian. Dae Young mengiyakan.

snap-00226snap-00229

Pak Park menegur Jae Chan di ruangan lain. Ia bertanya kenapa Jae Chan seperti amatiran. Apa Jae Chan tidak tahu kalau Dae Young sedang berbohong?

“Sepuluh tahun lalu ia berkata puterinya berumur 9 tahun. Memangnya ia tidak menud?” kata Pak Park.

Jae Chan berkata ia tidak bermaksud membebaskan Dae Young. Tapi ia ingin pergi ke rumah Dae Young untuk memastikan apakah perkataannya benar atau tidak.

Pak Park berkata kasus ini hanya perlu diselesaikan dalam waktu 5 menit tapi Jae Chan membuatnya jadi 2 jam. Ia berkata apa yang dilakukan Jae Chan seperti ini hanya dilakukan oleh para pemula.

“Kau seperti dokter yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memberi perban luka goren di lutut saat ada pasien sekarat di ruang IGD. Kau selalu mempercayai kebohongan tersangka dan membuang-buang waktu. Itu sebabnya kasusmu yang tak selesai sangat banyak. Tidak perlu cari alasan lagi. Tahan dia sekarang juga!”

snap-00230snap-00231

Jae Chan terpaksa mengiyakan. Ketika ia keluar dari ruangan itu, Hong Joo dan Pak Choi sudah menunggunya. Mereka jelas mendengar teguran Pak Park.

Hong Joo menanyakan keadaannya. Jae Chan berkata ia tidak apa-apa dan berjalan lesu ke kantornya. Hong Joo merasa kasihan padanya.

Pak Choi salah mengerti dan berkata Jae Chan tidak dimarahi seperti ini tiap hari. Jadi Hong Joo jangan terlalu kecewa.

Hong Joo bertanya apa Pak Choi merasa Jae Chan pantas dimarahi seperti tadi hanya karena ia dibodohi seseorang.

“Maksudku, mempercayai orang lain bukanlah hal buruk.”

Woo Tak akhirnya bertanya pada Kyung Han apa Kyung Han tahu kalau ia buta warna sebagian. Kyung Han berkata ia tahu. Woo Tak bertanya kenapa Kyung Han tidak mengatakan apapun. Itu bisa dijadikan alasan untuk ia dikeluarkan dari kepolisian.

“Apa kau berbohong saat kau bergabung dengan kepolisian?”

“Tidak, ada kesalahan saat tesnya.”

Bagi Kyung Han itu sudah cukup. Selama ia tutup mulut, tidak akan ada yang terjadi. Ia berkata bukankah Woo Tak yang mengangkap pria itu tadi. Ia berkata masalah pada penglihatan Woo Tak tidak sebanding dengan perutnya yang besar. Ia terlalu lamban sebagai seorang polisi dan ia lebih pantas diberhentikan. Woo Tak terharu mendengarnya.

snap-00237snap-00239

Hong Joo pergi membeli kue di suatu tempat. Sementara Jae Chan pergi ke rumah Dae Young. Ia mengetuk-ngetuk rumah Dae Young dan berteriak memanggil puterinya. Seorang wanita keluar dari rumah sebelah. Jae Chan bertanya apa wanita itu mengenal Dae Young. Wanita itu berkata ia sering memberi kimchi untuk Dae Young.

Jae Chan bertanya apa wanita itu juga tahu puteri Dae Young. Wanita itu berkata Jae Chan pasti salah alamat karena Dae Young tinggal sendirian.

Jae Chan merasa kecewa karena ia sudah dibohongi. Ia merasa aneh karena di matanya Dae Young terlihat tulus.

Hong Joo duduk di sebelahnya sambil menenteng kue. Jae Chan terkejut. Kenapa Hong Joo tahu ia ada di sini? Apa hong Joo mimpi lagi? Tidak, jawab Hong Joo. Ia tidak perlu mimpi lagi untuk tahu apa yang Jae Chan pikirkan. Ia bisa merasakan Jae Chan akan ke sini. Jae Chan menunduk sedih dan menolak kue yang ditawarkan Hong Joo.

Hong Joo berkata Jae Chan pasti kecewa karena sudah dibohongi. Jae Chan berkata hari ini ia terlihat menyedihkan. Ia membiarkan dirinya dibodohi seorang tersangka dan dimarahi Pak Park. Ia meminta Hong Joo mengedit liputan dirinya hari ini. Ia tidak ingin mempermalukan seluruh divisinya.

snap-00241snap-00244

Hong Joo berkata ia sudah bertanya pada nenek penjual kue di dekat rumah Dae Young. Nenek itu berkata kalau Dae Young memang memiliki seorang puteri, sepuluh tahun lalu. Seorang anak perempuan berumur 9 tahun dengan cedera tulang belakang karena kecelakaan.

Pekerjaannya adalah tukang pos. Namun ia tidak bisa bekerja lagi karena harus merawat puterinya. Karena itu ia berhenti kerja dan menjadi pencuri ponsel. Dia tertangkap. Puterinya tertinggal di rumah sendirian dan akhirnya diselamatkan. Tapi gadis itu meninggal dunia saat ayahnya di penjara. Sejak itu Dae Young tinggal sendirian.

“Jika ia bertemu jaksa sepertimu dan bukannya Pak Park 10 tahun lalu, puterinya mungkin masih hidup sekarang,” kata Hong Joo. Ia berkata Jae Chan tidak perlu khawatir karena ia akan mengediut seluruh bagian Jae Chan agar tidak ada seorangpun melihatnya.

“Jika semua ini tersiar, semua wanita di dunia akan jatuh hati padamu. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”

Jae Chan membungkamnya dengan ciuman. Akhirnya ia bisa tersenyum lagi dan meminta kue yang dibeli Hong Joo. Saat itulah ia melihat cincin pemberiannya di jari Hong Joo. Hong Joo pura-pura kesal karena Jae Chan baru menyadarinya sekarang. Keduanya tersenyum.

snap-00251snap-00255

Keesokan paginya Jae Chan menemui Dae Young di tahanan. Dae Young bertanya apakah sekarang ia bisa keluar dari sel itu dan menemui puterinya. Jae Chan berkata ia sudah mengeluarkan surat perintah penahanan Dae Young dan interogasi akan dilakukan hari ini.

Dae Young nampak marah karena tadinya ia pikir Jae Chan akan menolongnya. Jae Chan berkata semalam ia ke rumah Dae Young. Dae Young bertanya apa itu sebabnya Jae Chan menahannya. Karena ia membohongi Jae Chan?

Jae Chan berkata ia dengar apa yang terjadi pada puteri Dae Young 10 tahun lalu. Mereka seharusnya menolong Dae Young 10 tahun lalu tapi mereka tidak melakukannya.

“Aku tahu tidak ada artinya meminta maaf padamu mewakili mereka, tapi aku tetap ingin meminta maaf padamu.” Jae Chan membungkuk dalam-dalam tanda permintaan maaf.

Dae Young tampaknya tersentuuh dengan perkataan Jae Chan. Ia memanggil Jae Chan saat Jae Chan hendak pergi. Ia berkata ia sudah menggunakan puteirnya sebagai alasan dan menangis enam kali hanya untuk menghindari penahanan. Tapi hanya Jae Chan yang mengunjungi rumahnya. Sebagai ungkapan terima kasih ia ingin memberikan sesuatu.

Ia mengambil USB dari kaus kakinya dan memberikannya pada Jae Chan. Ia tidak tahu apa isinya, tapi pasti ada yang penting di sana.

snap-00261snap-00265

Jae Chan kembali ke kantornya dan memeriksa isi USB itu. Ia sudah tahu kalau USB itu berisi data dari ponsel yang bernilai 10 juta won bagi pemiliknya. Tapi isinya hanya foto-foto biasa, seperti makanan dan anjing peliharaan. Hyang Mi berkata Jae Chan lagi-lagi dibodohi.

Jae Chan tidak menyerah. Jika ada sesuatu di dalam USB itu, ia boleh langsung menyelidikinya, kan? Pak Choi tertawa dan berkata tidak semudah itu untuk memulai suatu penyelidikan meski Jae Chan mengenali sebuah kasus. Prosedurnya sangat rumit.

“Jangan menambah pekerjaan untuk dirimu sendiri. Mari kita selesaikan kasus yang sudah kita miliki,” katanya.

Tapi Jae Chan masih penasaran. Hong Joo muncul dengan kameranya dan bertanya apa mungkin isinya informasi rahasia perusahaan. Jae Chan berkata Hong Joo tidak boleh meliputnya.

Pak Choi meneruskan melihat foto-foto itu saat Jae Chan berusaha menghalangi Hong Joo. Ia terkejut ketika mulai melihat foto-foto beberapa orang. Mereka adalah pasien rumah sakit dari berbagai usia, anak-anak hingga lanjut usia, perempuan dan laki-laki. Dalam foto-foto itu sebagian besar pasien nampak tersenyum.

Jae Chan bertanya mungkinkan pemilik ponsel itu seorang dokter. Tapi Pak Choi tahu lebih dari itu. Ia mengenali para pasien dalam foto-foto itu sebagai korban.

“Korban kasus pembunuhan menggunakan infus.”

Mereka semua terkejut.

snap-00269snap-00274

Pria yang ditangkap Woo Tak sudah dibebaskan. Ia sedang berbicara dengan pemilik ponsel di telepon. Ia berkata pemilik ponsel tidak usah khawatir karena ia sudah melempar ponsel itu ke sungai. Mereka tidak akan bisa menemukannya. Ia juga sudah memberitahu polisi kalau ia tidak mengenal si pemilik ponsel. Ia berjalan menuju sebuah trailer di tempat terpencil.

Hyang Mi bertanya mungkinkah foto-foto itu berasal dari ponsel Myung Yi Suk, ayah Dae Gu yang dituduh sebagai pembunuhnya. Hong Joo berkata itu tidak mungkin karena Myung Yi Suk sudah masuk penjara lebih dari setahun yang lalu.

Pak Choi yang paling gelisah mengenai hal ini. Ia bertanya ada berapa foto pasien di sana. Ada 19 foto pasien. Dalam kasus pembunuhan itu ada 11 orang korban. Lalu siapa 8 orang lainnya?

“Aku jadi takut. Delapan orang itu masih hidup, kan?” kata Hyang Mi.

Hong Joo bertanya-tanya apakah Myung Yi Suk memiliki kaki tangan. Atau ia bukan pembunuh sebenarnya? Jae Chan berkata mereka harus bertemu dulu dengan si pemiulik ponsel.

snap-00278snap-00280

Pria yang ditangkap Woo Tak masuk ke dalam trailernya sambil terus meyakinkan si pemilik ponsel kalau polisi tidak akan bisa menangkap mereka. Ia tidak melakukan kesalahan. Ia terkejut saat melihat si pemilik ponsel ternyata ada di dalam rumahnya. Firasat buruk nih....

Jae Chan memperlihatkan foto-foto itu pada Pak Park. Pak Park memarahinya karena ia membuang-buang waktu melihat isi ponsel yang dicuri. Jae Chan berkata ia tidak membuang waktu percuma.

“Orang itu menawarkan 10 juta won untuk mendapatkan kembali ponselnya dan ponsel itu berisi foto-foto korban pembunuhan berantai. Sepertinya seseorang mengambil foto mereka sebelum mereka meninggal. Orang itu mungkin kaki tangan atau pembunuh sebenarnya.”

Pak Park mengingatkan kalau Dae Young ada penjahat kambuhan yang memiliki kebiasaan berbohong. Akhirnya Jae Chan memberitahu Pak Park kalau Dae Young benar-benar memiliki seorang puteri 10 tahun lalu meninggal. Puterinya sakit tapi jaksa beranggapan ia berbohong dan tidak memeriksanya lebih dulu. Ia memohon tapi mereka tidak melepaskannya.

“Aku tidak ingin menjadi jaksa seperti itu.”

snap-00284snap-00286

Pak Choi teringat kata-kata Yoo Bum bahwa seorang jaksa bisa memalsukan bukti. Ia pergi menemui Yoo Bum dan tanpa basa-basi langsung menanyakan apakah Yoo Bum memalsukan bukti dalam kasus Myung Yi Suk.

Yoo Bum tertegun. Pak Choi berteriak meminta Yoo Bum menjawabnya.

“Pak Choi bersamaku hari itu,” akhirnya Yoo Bum menjawab.

snap-00290snap-00291

Hong Joo kembali ke kantor SBC dan tak bisa menahan tawa saat melihat Du Hyun mengenakan alat pencoba hamil (halah istilah apa ini ;p). Ia ingat Du Hyun dekat dengan polisi yang menginterogasi pria yang ditangkap Woo Tak karena mengira pria itu penadah ponsel curian. Ia ingin Du Hyun membantu mencarikan alamat pria tersebut. Ia akan membuktikan kalau Jae Chan tidak dibodohi.

Jae Chan berkata pada Hyang Mi kalau ia tidak akan ikut makan malam bersama. Ia harus menyelidiki di luar jam kantor karena Pak Park tidak mengijinkannya menyelidiki kasus tersebut.

Hong Joo tiba di trailer tempat pria itu tinggal. Sementara itu seorang pria nampak berlari menuju rumah tersebut.

snap-00293snap-00297

Hong Joo masuk ke dalam trailer yang tidak dikunci. Jae Chan berdiri dengan kaget. Mereka sama-sama terkejut karena bertemu di tempat ini. Hong Joo berkata ia mencari si pemilik ponsel. Jae Chan juga sama.

“Tapi kurasa tidak akan mudah menemukannya. Karena orang yang mengetahui keberadaannya sudah mati,” kata Jae Chan sambil melihat ke tempat tidur.

Di sana terbaring tubuh pria yang ditangkap Woo Tak.

Tiba-tiba seseorang mengunci trailer tersebut dari luar. Lalu menyiramkan bensin dan menyalakannya. Api berkobar dalam trailer itu. Karena ruangannya sempit, dengan segera asap memenuhi ruangan tersebut.

snap-00299snap-00302

Sementara itu seorang pria terus berlari ke trailer tersebut dan berusaha membuka trailer itu. Kilas balik saat Hong Joo dan Jae Chan menyelamatkan ahjusshi polisi dari dalam danau. Astaga...pria itu adalah ahjusshi polisi? Pak Choi?

Di dalam trailer, Hong Joo hampir tak sadarkan diri karena kehabisan nafas. Pak Choi terus memukul gembok yang mengunci trailer itu. Berhasil! Ia menerobos ke dalam lalu menyelamatkan mereka. Termasuk membawa keluar tubuh pria yang ditangkap Woo Tak.

Jae Chan dan Hong Joo terbatuk-batuk dan mulai bisa bernafas kembali. Pak Choi terlihat emosional melihat mereka.

“Apa kalian bisa mengenaliku?”

Jae Chan dan Hong Joo bingung. Pak Choi memeluk mereka sambil menangis.

“Syukurlah....syukurlah...aku senang kalian selamat...”

Meski bingung, Hong Joo dan Jae Chan menepuk punggung Pak Choi untuk menenangkannya.

Kilas balik saat ahjusshi polisi membela Jae Chan ketika 13 tahun lalu dimarahi ayahnya akibat memalsukan nilai rapor. Nama polisi tersebut yang tertera pada seragamnya adalah... Choi Dam Dong.

snap-00317snap-00328

Komentar:

Astaga sama sekali tidak menyangka Pak Choi adalah ahjusshi polisi tersebut. Awalnya sempat mengira si pencuri ponsel karena ia juga mengatakan adiknya bermasalah. Tapi ngga yakin karena rasanya aneh jika Dae Young menjadi pencuri setelah nyawanya diselamatkan.

Pertanyaannya adalah apakah mimpi itu baru sekali ini dialami Pak Choi? Jae Chan bermimpi tentang Hong Joo ketika bertemu kembali dengannya. Bagaimana dengan Pak Choi? Bukankah ia juga mengirim uang ke alamat rumah Jae Chan?

Kalau melihat reaksinya, ia seperti baru tahu kalau Jae Chan adalah anak komandannya dulu. Tapi jika ia tahu alamat Jae Chan, rasanya aneh jika ia sama sekali tidak satu kalipun pergi ke alamat tersebut untuk melihat keadaannya meski secara diam-diam. Bukankah ia seorang penyidik? Pasti memiliiki banyak cara untuk mengetahui keberadaan Jae Chan dan Hong Joo termasuk seperti apa mereka sekarang.

Entah kenapa ada yang terasa tidak pas hehe....mungkin di episode selanjutnya dijelaskan^^

Jumat, 24 November 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 25

snap-00059

Hong Joo dan Jae Chan menikmati saat mereka di pantai. Hong Joo merasa moment itu seperti hadiah untuknya. Ia bersyukur untuk semua pilihan yang ia buat karena semua pilihan itu yang membawanya pada saat ini. Meski pilihan-pilihan itu tampak bodoh pada saat itu...namun ternyata pilihan yang bijaksana. Termasuk pilihan yang pernah ia sesali, pada akhirnya terbukti benar. Semua terasa indah dan ia merasa lega. Tapi ada satu hal yang ia pikirkan.

“Apa ia baik-baik saja?” tanya Hong Joo. Ia bertanya mengenai ahjusshi polisi yang mereka selamatkan dari danau belasan tahun lalu. Ia mengaku terkadang ia memikirkannya dan mengkhawatirkannya.

“Jangan khawatir. Ia baik-baik saja,” kata Jae Chan. Ia berkata ia tidak tahu di mana polisi itu tinggal, maupun namanya. Tapi ia tahu polisi itu masih hidup.

Hong Joo lega mendengarnya.

Tiga belas tahun lalu, ahjusshi polisi terbangun dari tidurnya saat temannya sedang membacakan puisi. Ia berkata ia lapar. Temannya mengira ahjusshi menyuruhnya keluar agar ia bisa melakukan hal bodoh lagi. Tapi ahjusshi berkata ia tidak akan pergi ke manapun maupun melakukan hal bodoh.

“Hidupku tidak seharusnya berakhir sekarang. Ada seseorang yang harus kutemui di masa yang akan datang.”

snap-00005snap-00011

Hong Joo bertanya-tanya apakah mereka dan ahjusshi bisa saling mengenali jika nanti mereka bertemu lagi. Ia dan Jae Chan juga tidak saling mengenali saat pertama bertemu.

Jae Chan berkata mungkin saja mereka berpapasan dengaqnnya tapi tidak saling mengenali. Ia bertanya apa Hong Joo ingin bertemu dengan ahjusshi itu. Iya, jawab Hong Joo. Jae Chan juga ingin bertemu dengannya.

“Tapi apakah ia ingin bertemu dengan kita juga?” tanyanya.

“Entahlah.”

Setelah keluar dari rumah sakit, ahjusshi polisi mengundurkan diri dari pekerjaannya.

“Ketika kami bertemu kembali dengan ahjusshi, ia berkata ia memikirkan kami dan sangat merindukan kami. Dan ia sangat ingin bertemu dengan kami. Ketika ia bertemu dengan kami setelah begitu banyak hal terjadi dalam hidup ini, kami tidak bisa mengenalinya. Dan seperti ombak-ombak kecil, peristiwa-peristiwa kecil yang terjadi mulai datang satu per satu menghampiri kami...menyatu menjadi ombak besar yang membawa kami padanya.” - Jae Chan

snap-00012snap-00014

Seorang pria paruh baya berjalan menyusuri restoran dan diam-diam mencuri ponsel-ponsel yang tergeletak begitu saja di meja.

Seung Won menemani Dae Gu mengambil abu ayahnya. Tidak ada pemakaman karena tidak akan ada yang datang. Seung Won mengenakan jas Jae Chan hingga nampak kebesaran.

“Kakinya sangat panjang,” katanya.

Dae Gu tersenyum membenarkan. Seung Won heran dan bertanya apakah Dae Gu pernah melihat kakaknya. Dae Gu berkata ia pernah mengikuti salah satu sidang Jae Chan. Dan jelas ia mengagumi Jae Chan.

“Ia membandingkan keadilan dengan sungai dan benar-benar mengalahkan pengacara lawan. Sungguh memuaskan melihatnya. Dan aku juga merasa berterimakasih karena pengacara lawan adalah orang yang melakukan ini pada ayahku.”

“Siapa?” tanya Seung Won.

“Jaksa Lee Yoo Bum. Bukan, ia seorang pengacara sekarang.”

snap-00024snap-00025

Hyang Mi dan Pak Choi berderet di atm untuk memeriksa buku tabungan mereka. Keduanya sama-sama menghela nafas panjang saat melihat jumlah yang tertera lalu mencoba memeriksa ulang saldo akhir mereka. Yoo Bum tersenyum geli melihatnya.

Ia berkata jumlahnya tidak akan berubah meski mereka memeriksa ulang. Hyang Mi mengeluh hari ini hari gajian tapi saldo di bukunya terlihat menyedihkan.

“Karena rasanya lama sekali menunggu hari gajian namun uang keluar secepat kilat,” kata Pak Choi. Haha....so true ^^”

Yoo Bum berkata mereka berdua harusnya bekerja di kantornya. Ia akan memastikan menunggu hari gajian tidak akan terasa lama. Mereka bisa mengajukan hendak digaji berapa dan mereka akan bernegosiasi. Posisi mereka terjamin hingga pensiun dan mereka bisa pulang tepat waktu tiap hari.

Hyang Mi berkata ia menyukai tawaran itu. Tapi sasaran Yoo Bum sebenarnya Pak Choi. Pak Choi tertawa dan berkata ia sudah mengatakannya sebelumnya.

“Aku tidak tertarik.”

Hyang Mi mengangkat tangannya dan berkata ia sangat tertarik. Dengan satu syarat, kata Yoo Bum. Hyang Mi harus mengajak Pak Choi pindah ke kantornya.

snap-00030snap-00031

Saat mereka berjalan kembali ke kantor, Hyang Mi mengomel memangnya ia cuma bonus. Seperti buy 1 get 1? Pak Choi mewanti-wanti Hyang Mi agar tidak memberitahu Jae Chan atau siapapun mengenai tawaran Yoo Bum tersebut.

“Aku sungguh kecewa pada Bapak. Memangnya aku tipe yang suka menyebarkan hal semacam itu?” Hyang Mi tersinggung. “Memangnya Bapak tidak mengenalku?”

Tapi begitu Jae Chan datang, ia langsung memberitahunya. Ia berkata Yoo Bum berusaha keras merekrut Pak Choi. Jae Chan berkata Pak Choi orang yang sangat bertanggungjawab, tidak mungkin ia akan menerima tawaran itu.

Hyang Mi berkata mungkin saja karena pekerjaannya akan aman hingga pensiun, Pak Choi juga akan mendapat kantor sendiri, bahkan kartu kredit perusahaan. Orang normal pasti akan mengajukan pengunduran diri saat itu juga.

“Aku tahu Pak Choi lebih suka bekerja denganku daripada dengan Yoo Bum,” kata Jae Chan penuh percaya diri.

“Tidak. Kau mengesalkan kami karena kau sangat lamban. Kau hanya menggali sana sini seperti tikus tanah. Kau membuatnya lembur dan menyeretnya ke TKP. Aku hampir menangis karena aku merasa kasihan padanya. Baik-baiklah padanya sebelum kau kehilangannya. Puji dia dan cobalah memikatnya. Berikan dia hadiah.” Hyang Mi ini rupanya diam-diam lebih memihak Jae Chan daripada Yoo Bum.

Dengan angkuh Jae Chan berkata Pak Choi tidak perlu tinggal jika ia harus memaksanya.

snap-00044snap-00047

Lain di mulut, lain di hati. Begitu melihat Pak Choi kesulitan mengambil dokumen di rak paling tinggi, Jae Chan langsung megambilkannya. Ia berkata ia sudah dengar semuanya dari Hyang Mi. Pak Choi kesal pada Hyang Mi sementara Hyang Mi kesal pada Jae Chan.

“Kurasa Bapak sebaiknya bekerja di kantornya jika tawarannya lebih baik,” kata Jae Chan serius.

Pak Choi nampak serba salah. Tapi tiba-tiba Jae Chan berjongkok dan menalikan tali sepatu Pak Choi.

“Aku tidak ingin memaksa Bapak untuk tinggal dan aku tidak bisa berjanji aku bisa lebih baik pada Bapak. Bapak yang akan memilih pada akhirnya. Aku tidak akan marah meski Bapak memilih untuk pergi,” katanya dengan wajah sedih.

Lalu tiba-tiba ia mengeluarkan ponselnya dan mengajak selfi Pak Choi. Pak Choi kebingungan namun menurut.

“Jangan khawatirkan aku dan jangan merasa terpaksa untuk tinggal. Ambil waktu untuk memutuskan.”

Tiba-tiba ada pesan baru. Hyang Mi membuka ponselnya. Jae Chan baru saja meng-upload foto selfinya bersama Pak Choi tadi dengan status: “bersama mentorku”. Lengkap dengan tanda hati. Pfft...

snap-00052snap-00063

Hong Joo sedang rapat bersama timnya untuk membicarakan segmen acara “Pengalaman Tiga Hari”. Hong Joo mengusulkan pengalaman hamil selama 3 hari. Ia menunjukkan benda berbentuk perut dan dada wanita hamil yang bisa dikenakan. Berat dan bentuk alat itu sama persis dengan ukuran kehamilan 8 bulan. Mereka bisa mengenakannya selama 3 hari sambil mengerjakan rutinitas sehari-hari dan mempelajari apa yang para wanita hamil rasakan dan hadapi dalam masyarakat.

Kapten setuju. Du Hyun mengusulkan pengalama 3 hari di kantor kejaksaan utnuk melihat kehidupan sehari-hari para jaksa. Kapten menganggap itu ide bagus tapi mereka tidak akan diijinkan oleh kantor kejaksaan untuk melakukannya demi alasan kerahasiaan dan melindungi hak asasi para tersangka.

Tapi Du Hyun berkata mereka akan diijinkan. Ia sempat bertemu dengan Jaksa Daerah dalam suatu acara dan tampaknya Jaksa Daerah menyukai ide tersebut. Kapten setuju dengan ide itu.

“Senior, bukankah akan lebih berarti jika seorang pria yang mengalami bagaimana rasanya hamil?” tanya Hong Joo pada Du Hyun, begitu ia mendengar ide liputan kejaksaan tersebut.

“Tentu saja, pria sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya, jadi pasti lebih berarti,” jawab Du Hyun.

Taktik Hong Joo berhasil. Kapten memberikan tugas meliput kejaksaan pada Hong Joo, sementara Du Hyun mengalami bagaimana rasanya hamil selama 3 hari. Du Hyun protes. Kapten berkata Du Hyun sendiri yang bilang liputannya akan lebih bermakna jika pria yang melakukannya. Jadi orang yang terbaik untuk melakukannya adalah Du Hyun.

snap-00067snap-00070

Jae Chan berusaha memikirkan kata-kata yang tepat untuk meminta Pak Choi tidak menerima tawaran Yoo Bum.

“Pak Choi, bisakah Bapak tidak menerima tawaran Yoo Bum?” Terasa kaku, hapus.

“Jangan pergi.” Rasanya terlalu kasar, hapus

“Kumohon jangan pergi” Lebih baik? Hapus.

“Jangan pergi pada Yoo Bum.”

Tepat saat itu Seung Won memanggil kakaknya dan Jae Chan tak sengaja menekan tombol kirim. Ia panik karena pesannya terlalu kasar. Pesannya dibalas.

“Aku tidak akan pergi.”

Jae Chan melompat-lompat dan menari kegirangan seperti anak kecil.

snap-00085snap-00088

Ia terdiam saat melihat Seung Won menatapnya dengan serius. Seung Won menyerahkan beberapa lembar surat. Ia masih tak percaya kenapa Dae Gu mempercayakan surat-surat itu pada Jae Chan.

Ia berkata temannya, Dae Gu, ingin Jae Chan membaca surat-surat itu. Jae Chan membacanya sekilas dan berkata itu seperti surat terakhir seseorang. Seung Won berkata itu adalah surat wasiat terakhir dari pembunuh berantai yang baru-baru ini bunuh diri di penjara.

“Dia adalah ayah Dae Gu. Dae gu ingin kau membacanya. Ia merasa ayahnya meninggal dengan tidak adil. Ia berharap Kakak bisa membersihkan nama ayahnya.”

Jae Chan berkata semua orang yang di penjara pasti merasa diperlakukan tidak adil. Tapi setelah ia membaca surat itu, ia mendapati ada yang tidak pas.

“Dan aku mendapat firasat buruk karena hal lain. Kak Yoo Bum adalah jaksa dalam kasus ini,” kata Seung Won.

Jae Chan ingat kasus itu yang dibanggakan Yoo Bum karena membuatnya diberi penghargaan oleh Jaksa Agung (episode 1). Dan ketika itu Yoo Bum merendah semua karena pekerjaan Pak Choi.

snap-00092snap-00096

Polisi mengintai pria pencuri ponsel di depan rumah pencuri itru. Mereka akan menyergap saat pencuri itu bertemu dengan penadah HP-HP curian itu. Hmm...aneh juga mengintai kok tepat di depan rumah...ngga ketauan lagi hehehe^^

Di dalam rumah, si pencuri menyimpan ponsel-ponsel curiannya. Namun saat ia hendak memadamkan salah satunya, ada pesan masuk pada ponsel itu. Pesan itu berkata ia akan memberi 5 juta won jika si pencuri mengembalikan ponselnya. Dan ia tidak akan melaporkan si pencuri pada polisi.

Pencuri itu tak membalas. Ada pesan baru masuk lagi. Kali ini pemiliknya menawarkan 10 juta won dan menyebutkan tempat pertemuan. Pencuri itu heran ada apa di dalam ponsel tersebut hingga seseorang mau membayar begitu banyak.

Karena penasaran, ia melihat bekas sidik jari di permukaan ponsel dengan sinar lampu. Dengan begitu ia bisa menebak password ponsel tersebut. Dan ia berhasil.

snap-00102snap-00103

Seseorang bermimpi Hong Joo dan Jae Chan berada dalam satu ruangan. Lalu tiba-tiba ruangan itu terbakar. Hong Joo dan Jae Chan terjebak di dalamnya. Orang itu terbangun.

Jae Chan dan Woo Tak sarapan di rumah Hong Joo. Hong Joo bertanya apa Jae Chan pikir ahjusshi polisi itu juga bermimpi mengenai mereka. Jae Chan menceritakan teori Woo Tak. Bahwa mereka bermimpi mengenai orang yang menyelamatkan mereka. Woo Tak bermimpi lebih banyak tentang Jae Chan, sementara Jae Chan bermimpi tentang Hong Joo.

Jae Chan berkata tadinya ia pikir teori itu tidak benar karena tidak tahu kalau Hong Joo adalah Chestnut. Tapi sekarang teori itu masuk akal. Woo Tak berkata mimpi itu bermula ketika ia merasa sangat berterimakasih telah diselamatkan oleh Jae Chan hingga ingin membalas budi.

Hong Joo berkata berdasarkan teori tersebut, ahjusshi polisi bisa bermimpi mengenai masa depan mereka karena mereka telah menyelamatkannya 13 tahun lalu.

Orang yang bermimpi mengenai Hong Joo dan Jae Chan menulis: “Mayat di tempat tidur. Nam Hong Joo tewas.”

snap-00105snap-00119

Woo Tak berkata jika ahjusshi itu memang bermimpi mengenai mereka, pasti ia tahu bagaimana wajah mereka sekarang dan tempat tinggal mereka. Mungkin saja, jawab Jae Chan. Tapi Hong Joo berkata itu tidak mungkin. Jika teori Woo Tak benar, ahjusshi pasti sudah datang menemui mereka.

“Kaupikir ia ingin bertemu dengan kalian? Kalian tidak bertemu dalam suasana yang baik. Bertemu kembali hanya mengembalikan kenangan menyakitkan,” kata ibu.

Jae Chan mengamati Hong Joo yang akan mengambil potongan buah. Ia berseru pelan ketika Hong Joo mengambil potongan buah miliknya, bukan milik Woo Tak. Errr....coba ya pak jaksa, bukan anak SD lagi XD

Hong Joo berkata mulai hari ini ia akan pergi ke kantor Jae Chan selama 3 hari. Woo Tak berkata itu pasti untuk acara Pengalaman Tiga Hari. Ibu berkata itu artinya Hong Joo bisa melihat bagaimana Jae Chan bekerja.

Jae Chan langsung teringat bagaimana ia sering diteriaki Pak Park, dimarahi Hee Min karena tak sengaja menginjak jubahnya. Belum lagi Hyang Mi dan Pak Choi yang kesal karena kerja Jae Chan yang “menggali” terus.

Hong Joo berkata mungkin ia akan terus menempel dengan Jae Chan selama 3 hari. Pak Park sudah memilih jaksa yang paling kompeten dan paling menawan untuk diliput.

“Kompeten dan menawan? Pasti kau,” kata Woo Tak.

Jae Chan tertawa garing. Berusaha tak memperlihatkan kalau ia pastilah jaksa yang dimaksud.

snap-00120snap-00132

Tapi ternyata Pak Park memilih Hee Min. Jae Chan nampak kecewa. Hong Joo juga tapi ia tidak memperlihatkannya di depan yang lain.

Saat Hee Min membawa Hong Joo melihat-lihat, Jaksa Lee dan Jaksa Son protes pada Pak Park karena tidak memilih Jae Chan. Mereka semua tahu kalau Jae Chan dan Hong Joo dekat, jadi kenapa Pak Park memilih Hee Min.

“Kurasa Bapak tidak sungguh-sungguh saat Bapak mengatakan sayang pada Jaksa Jung,” kata Jaksa Son. Ia berkata Jae Chan pasti terluka perasaannya.

Pak Park berkata justru karena ia sayang pada Jae Chan maka ia tidak memilihnya.

“Mereka sekarang sedang saling menyukai. Jika ia (Hong Joo) melihatnya selama 3 hari, ia akan pergi dengan angan-angan yang hancur dan kekecewaan.”

“Kenapa begitu? Memangnya apa yang salah dengan Jaksa Jung?” Jaksa Lee membela.

Pak Park bertanya siapa yang kasusnya paling banyak tidak selesai? Jae Chan. Siapa yang paling banyak typo? Fanny...eh Jae Chan. Siapa yang menghabiskan waktu sebulan hanya untuk kasus pencurian biasa sementara jaksa lain hanya seminggu? Jae Chan.

“Kalau begitu katakan, angan-angannya akan hancur atau tidak? Kau berterimakasih padaku atau tidak?”

Jae Chan menunduk lalu berterimakasih. Pak Park tertawa geli.

snap-00133snap-00141

Hong Joo mengamati Hee Min bekerja. Astaga... ini lagi syuting iklan shampoo atau apa sih? Sampai-sampai asistennya ikut bergaya.

Tapi Hee Min memang bukan sekedar gaya dan cantik, ia juga seorang jaksa yang kompeten. Ia tidak bergeming di depan tersangka yang ngeyel. Hong Joo sampai kagum padanya.

Jaksa Lee dan Jae Chan melihat interogasi itu dari ruang sebelah. Jaksa Lee berkata bersyukurlah Hee Min itu seorang wanita. Jika ia seorang pria, Hong Joo pasti sudah jatuh hati. Jae Chan dengan lesu mengiyakan.

Jaksa Lee menyemangatinya dan berkata Jae Chan boleh meminjam Si Merah kapanpun ia mau. Jae Chan terharu dan memeluk Jaksa Lee.

“Kalau begitu bagaimana kalau kau menggantikanku tugas malam hari ini untuk menunjukkan rasa terimakasihmu?”

Jae Chan tidak keberatan. Ia bertanya apakah Jaksa Lee ada janji malam ini, dengan siapa? Jaksa Lee tidak mau memberitahunya.

Begitu di luar, Jaksa Lee mengirim pesan pada seseorang: “Aku bisa membawamu kencan hari ini!”

Lalu ia melompat-lompat seperti kelinci.

snap-00150snap-00169

Jae Chan kembali ke kantornya. Pak Choi dan Hyang Mi sedang makan siang. Mereka mengajak Jae Chan makan bersama mereka. Jae Chan memandang mereka dengan terharu dan berkata ia ingin berterima kasih pada mereka karena tetap berada di sisinya meski ia penuh kekurangan.

Pak Choi mengira ini usaha Jae Chan agar ia tidak pindah ke kantor Yoo Bum. Ia berkata ia akan terus bekerja di sini sampai pensiun, jadi Jae Chan bisa berhenti mengatakan hal-hal aneh seperti itu.

Jae Chan bertanya apa Pak Choi tahu seorang pria bernama Myung Yi Suk. Mereka ingat kalau Myung Yi Suk adalah pembunuh berantai yang membunuh orang dengan menggunakan suntikan infus. Dan pembunuh itu baru-baru ini bunuh diri.

Jae Chan berkata ia dengar Yoo Bum yang menangani kasus ini. Ia bertanya apa Pak Choi mengerjakan kasus ini bersamanya. Pak Choi membenarkan dan bertanya kenapa Jae Chan menanyakannya.

Jae Chan berkata ia kebetulan membaca surat terakhirnya dan ada beberapa hal yang membuatnya gelisah. Pak Choi berkata semua hal mengenai kasus itu cukup jelas.

“Para kriminal selalu membuat cerita dan alasan. Kau kasihan pada mereka dan merasa mungkin mereka salah dituduh. Tapi kau akan mendapat masalah serius jika percaya pada mereka.”

Jae Chan membenarkan. Meski kelihatan ia tidak sepenuhnya yakin.

snap-00173snap-00175

Pencuri ponsel menemui orang yang bersedia membayar 10 juta won demi ponsel itu. Mereka bertemu di bawah jembatan yang sepi. Ketika orang itu akhirnya datang, mereka melakukan pertukaran. Ia bertanya apa yang ada dalam ponsel itu hingga berani membayar sebanyak itu.

Belum sempat orang itu menjawab, beberapa polisi mengejar mereka. Mengira si pencuri ponsel sedang bertransaksi dengan si penadah.

Woo Tak dan Kyung Han kebetulan sedang berada di daerah tersebut dan melihat rekan mereka sedang mengejar orang. Mereka langsung membantunya.

Rekan mereka sudah kelelahan dan tak sanggup mengejar lagi. Ia berkata orang yang ia kejar mengenakan kaus abu-abu.

Tapi Woo Tak terdiam. Dalam pandangannya, hampir semua orang mengenakan pakaian abu-abu. Hanya ada biru dan kuning samar warna lainnya yang ia lihat. Kyung Han berkata pria itu mengenakan celana kotak-kotak. Barulah Woo Tak mengenali orang itu.

]Ia berlari sekencang-kencangnya mengejar orang itu. Tak bisa melarikan diri lagi, orang itu melempar ponsel ke dalam sungai. Woo Tak berhasil menangkapnya. Orang itu meronta dan berkata ia hanyalah korban.

snap-00184snap-00186

Komentar:

Jadi Woo Tak benar-benar buta warna meski sebagian. Dan sepertinya Kyung Han mengetahui hal itu hingga ia beberapa kali membantu Woo Tak meski tak terlalu kentara.

Aku juga selama ini bertanya-tanya apakah ahjusshi itu tidak memimpikan Hong Joo dan Jae Chan. Tapi apakah ini pertama kalinya ia bermimpi mengenai mereka? Karena Jae Chan juga baru bermimpi mengenai Hong Joo setelah mereka bertemu kembali. Selama 13 tahun mereka berpisah, Jae Chan tidak pernah bermimpi tentang Hong Joo.

Dan ahjusshi selalu tahu alamat baru Jae Chan. Jadi apakah dia tahu Jae Chan seperti apa dan apa pekerjaannya? Apa dia diam-diam melihat mereka dari jauh? Tapi dari kilas balik, ahjusshi itu sepertinya ingin bertemu mereka. Jika ia tahu alamat Jae Chan, kenapa ia tidak menemuinya?