Rabu, 25 Januari 2017

Sinopsis Legend of The Blue Sea Episode 19

snap-00367

Joon Jae terpaku ketika Chung menubruknya tepat saat Chi Hyun menembakkan senjata yang ia rebut dari polisi. Peluru itu menmbus punggung Chung. Waktu seakan berhenti seketika itu juga.

Para polisi segera menyergap Chi Hyun dan menangkapnya. Joon Jae teringat bagaimana Dam Ryeong tertembus tombak dan sekarang Chung tertembus peluru. Ia meraba jaket Chung dan melihat darah.

Tubuh Chung melemas. Joon Jae memeganginya. Chung masih sadar. Dalam hatinya ia berbicara pada Joon Jae.

“Aku takut kau akan melindungiku lagi, tapi aku sangat bahagia. Akhirnya telah berubah. Kali ini aku yang menyelamatkanmu.”

“Tidak. Tidak mungkin…”Joon Jae baru bisa bersuara.

snap-00011snap-00017

Kesadaran Chung mulai hilang dan ia merosot ke tanah. Joon Jae memohon dengan panik dan terus memanggil Chung

“Kau mungkin sudah tahu sekarang. Meski aku tidak ada di sisimu, akan selalu mencintaimu. Tetaplah bahagia dalam setiap saat di mana aku tidak bersamamu. Banyaklah tertawa dan menerima banyak cinta. Aku berharap kau menjalani hidup normal seperti orang lain untuk waktu yang sangat lama. Aku mencintaimu...”

Chung diangkut dengan ambulans. Joon Jae terus menangis di sisinya. Memohon agar Chung tidak pergi.

“Aku mencintaimu,” isaknya.

snap-00025snap-00027

Peristiwa itu langsung menjadi berita besar. Diberitakan Nyonya Kang ditangkap karena membunuh suaminya, dan anak angkat Presdir Heo juga ditangkap karena percobaan pembunuhan. Diberitakan juga Nyonya Kang menculik anak kandung Presdir Heo dan berusaha membunuhnya namun kekasihnya yang tertembak dan saat ini dalam keadaan kritis.

Yoo Ran yang menonton berita itu bersama Jin Joo dan suaminya sangat shock mendengarnya. Ma Dae Young juga menonton berita tersebut. Dalam berita dikatakan polisi sedang memburu kaki tangan Nyonya Kang.

snap-00041snap-00042

Chi Hyun dalam perjalanan menuju kantor polisi. Ia teringat ia memberikan 2 ampul racun pada Nam Doo untuk membunuh Joon Jae tapi Nam Doo hanya mengambil satu. Dan ia mengantungi kembali 1 ampul yang tersisa itu. Ia meminta ijin agar diperbolehkan menggunakan kamar kecil.

Polisi mengijinkannya. Mereka berjaga di luar sementara Chi Hyun berada di dalam. Chi Hyun menangisi hidupnya yang hancur. Lalu ia mengeluarkan ampul itu dari kantungnya dan menggenggampnya. Ketika ia keluar, polisi kembali membawanya masuk ke dalam mobil.

Chung tiba di rumah sakit dan langsung masuk kamar operasi.

snap-00052snap-00054

Chi Hyun menjalani interogasi. Racun yang diminumnya mulai bereaksi. Pertanyaan partner Detektif Hong hanya sayup-sayup didengarnya. Ia mengingat percakapannya dengan Ma Dae Young pada suatu malam.

Ma Dae Young berkata ia tidak tahu kenapa ia hidup seperti sedang menjalani hukuman. Tapi ia berharap hidup Chi Hyun tidak sama dengannya. Ia tidak ingat dan tidak tahu siapa Chi Hyun hanya saja pikiran itu tiba-tiba muncul dalam benaknya.

Chi Hyun mengerang lalu jatuh ke lantai.

Nyonya Kang sedang diinterogasi di ruangan lain oleh Detektif Hong. Dengan sombong ia berkata polisi sudah menjebaknya dan penyadap itu ilegal. Tidak akan bisa dijadikan bukti. Detektif Hong tersenyum dan berkata penyadapan itu tidak ilegal karena Joon Jae merekam dirinya sendiri namun Nyonya Kang ikut berbicara dalam rekaman tersebut. Jadi rekaman itu bisa dijadikan bukti.

Nyonya Kang tak percaya. Ia berkata semua itu sudah direncanakan. Ia menanyakan pengacaranya. Dekektif Hong berkata semua pengacara Nyonya Kang sudah mundur jadi Nyonya Kang sebaiknya mencari pengacara umum. Nyonya Kang kaget.

snap-00058snap-00065

Partner Detektif Hong masuk dengan wajah gugup dan membisikkan sesuatu pada Detekttig Hong. Mereka menatap Nyonya Kang. Nyonya Kang masih mengolok mereka, mengira pengacaranya akhirnya datang.

Tapi begitu mendengar tentang Chi Hyun, ia langsung berlari ke ruang sebelah. Ia berteriak panik melihat putera kesayangannya tergeletak di lantai dan menyuruh memanggil dokter. Partner Detektif Hong sudah memanggil ambulans dan mereka akan segera tiba.

Chi Hyun bergumam itu tidak ada gunanya. Dengan terbata-bata ia berkata ia sudah bertahan selama mungkin. Mengapa kau lakukan itu, tanya Nyonya Kang sambil menangis.

“Ibu...” isak Chi Hyun, “Memiliki Ibu sepertimu adalah kutukan untukku.”

Lalu ia meninggal. Nyonya Kang berteriak histeris meratapi puteranya.

snap-00071snap-00078

Operasi Chung berlangsung sangat lama. Joon Jae, Tae Oh, dan Nam Doo menunggu di depan kamar operasi. Setelah beberapa waktu, Nam Doo diberitahu oleh Detektif Hong mengenai kematian Chi Hyun. Dan ia menyampaikannya pada Joon Jae.

Joon Jae terkejut. Ia tidak senang dengan berita kematian itu. Nam Doo bercerita mengenai 2 ampul racun. Ia ambil satu dan ditukarnya. Dan sepertinya Chi Hyun meminum satunya lagi.

“Sampai akhir, ia tetap tidak bertanggungjawab,” sesal Joon Jae.

snap-00081snap-00082

Operasi Chung selesai dan ia dipindahkan ke kamar rawat. Ia masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Joon Jae bertanya apakah operasinya berjalan dengan baik. Dokter berkata bukan hanya baik tapi sepeti keajaiban. Peluru itu menembus jantung bilik kanan dan kiri. Ia tidak pernah melihat ada orang bertahan hidup dari kasus semacam itu.

Chung kehilangan banyak darah, tekanan darahnya menurun drastis, dan biasanya tubuh menjadi shock hingga harus dibantu alat pacu jantung. Tapi setelah ie menjahit luka tembak di jantung, jantung Chung stabil dengan cepat. Meski begitu dokter berkata mereka harus tetap mengawasi setelah Chung sadar kembali.

Dokter berkata saat ini adalah saat yang sangat penting. Karena Chung kehilangan banyak darah, peredaran darah ke otakj berkurang hingga mereka tak bisa mengesampingkan kemungkinan adanya kehilangan fungsi otak. Mereka baru bisa mengetahuinya setelah Chung sadar.

Saat akan pergi, dokter sepertinya masih bingung dengan kondisi Chung yang tidak biasa hingga ia bertanya apakah Chung makan sesuatu yang aneh. Nam Doo berkata Chung hanya makan sangat banyak. Dokter melihat Chung dengan tertarik sampai Joon Jae berdiri menghalanginya, seakan mengusir dengan halus. Dokter itu pergi sambil cemberut.

snap-00087snap-00088

Shi Ah bermimpi seorang gadis berpakaian pengantin tradisional duduk mengantuk. Tiba-tiba pengantin pria di sebelahnya keluar dari kamar tanpa mengatakan apapun. Si pengantin wanita mengumpat dalm hati.

Shi Ah terbangun. Bukan kali ini saja ia bermimpi ditinggalkan suami sepert itu. Aha...ternyata dia istri Dam Ryeong di jaman dulu. Awalnya aku juga curiga tapi karena wajahnya beda, aku pikir orang lain. Namun seorang teman mengingatkan kalau Dam Ryeong menikah saat masih remaja, jadi Shi Ah juga masih remaja (diperankan artis lain).

Jin Joo bertanya apakah suaminya bisa menggantikannya tertembak. Suaminya dengan jujur mengaku ia hanya bisa menggantikan dilempar batu. Ia balik bertanya bagaimana dengan Jin Joo. Dengan galak Jin Joo berkata ia harus membesarkan anak-anak. Siapa yang akan mengurus mereka jika ia tertembak.

Shi Ah bergabung dan bertanya kenapa tiba-tiba mereka membicarakan tertembak. Jin Joo kaget Shi Ah belum dengar berita itu. Ia menceritakan apa yang terjadi pada Joon Jae dan Chung. Saat ini Yoo Ran sedang ke rumah sakit untuk mengetahui hasil operasi.

snap-00093snap-00098

Yoo Ran bertanya mengapa Chung belum sadar juga meski operasinya berhasil. Ia terlihat sangat khawatir. Joon Jae menenangkan ibunya, karena ini operasi besar maka dibutuhkan waktu lebih lama untuk sadar. Yoo Ran bertanya-tanya apakah Chung melakukan ini karena pembicaraan mereka.

Ia bercerita ia sempat bercakap-cakap dengan Chung baru-baru ini (ketika Chung masih marah pada Joon Jae setelah tahu akhir hidup Se Hwa dan Dam Ryeong). Chung menanyakan apakah Yoo Ran tahu akhir cerita Little Mermaid. Di mana akhirnya puteri duyung mendapat sebuah belati. Ia akan hidup jika membunuh pangeran dengan belati itu. Sebaliknya akan berubah menjadi gelembung jika gagal membunuh pangeran.

Ia bertanya apa yang akan Yoo Ran lakukan jika menjadi puteri duyung itu. Ia sendiri berpendapat lebih baik puteri duyung itu menghilang menjadi gelembung karena awal kisah tragis itu adalah keserakahan puteri duyung (untuk mendapatkan pangeran) hingga naik ke darat.

Tapi Yoo Ran tidak sependapat. Dalam versi lain, puteri duyung menyelamatkan seorang pemuda yang hampir tenggelam karena perahunya terbalik. Lalu mereka menikah dan memiliki anak. Hidup bahagia selamanya. Anak-anak mereka ada yang hidup di aiar, ada yang menetap di darat. Salah satunya menjadi perantara bagi orang desa.

Jika ada badai, para duyung akan memberitahu perantara tersebut hingga perantara itu memperingatkan warga desa agar tidak melaut. Ia berkata bukan keserakahan yang membuat puteri duyung naik ke darat, melainkan karena cinta.

Walau begitu, kisah tersebut tidak bisa meyakinkan Chung akan happy ending. Ia berkata tidak semua kisah berakhir happy ending.

snap-00108snap-00109

Yoo Ran berkata ia ingin Chung segera sadar agar ia bisa mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan puteranya. Ia tak habis pikir bagaimana Chung bisa berlari ke depan senjata.

Joon Jae ingat ketika di Spanyol saat mereka terdesak di tepi tebing, Chung berkata Joon Jae tidak boleh ditembak karena akan mati seperti lumba-lumba. Jelas Chung takut pada senjata api. Tapi tanpa rasa takut ia melompat menyelamatkan Joon Jae.

Joon Jae bertanya apakah benar-benar ada kisah puteri duyung seperti itu. Apa kau tidak ingat, tanya Yoo Ran. Ia berkata itu adalah dongeng yang sangat disukai Joon Jae ketika kecil. Ia selalu menceritakn cerita tersebut jika Joon Jae tak bisa tidur. Joon Jae berharap cerita itu adalah kenyataan.

Yoo Ran meminta Joon Jae mengantar makanan untuk istri Manajer Nam yang masih menjaga suaminya di rumah sakit. Karena Nam Doo tidak ada kerjaan, Joon Jae mengajaknya.

Saat Nam Doo melihat Manajer Nam yang masih koma, entah kenapa ia merasa sangat familiar dengan wajahnya.

snap-00116snap-00118

Dalam lanjutan mimpi Manajer Nam, sahabat Dam Ryeong bersembunyi dari para pengejarnya. Tapi Park Moo (Nam Doo di kehidupan dahulu) menemukannya. Park Moo memberinya serenceng uang dan menyuruh sahabat Dam Ryeong berjalan lurus hingga melewati bukit. Di sana ada sebuah penginapan di mana ia menitipkan seekor kuda. Ia menyuruh sahabat Dam Ryeong menaiki kuda itu ke ibukota untuk menyelesaikan permintaan Dam Ryeong.

Sahabat Dam Ryeong heran kenapa anak buah bangsawan Yang mau membantunya. Park Moo berkata ia melakukannya untuk membalas budi dan membalas dendam. Ia tidak memiliki waktu banyak untuk menjelaskan dan menyuruh sahabat Dam Ryeong segera pergi. Sahabat Dam Ryeong berterimakasih lalu cepat-cepat pergi.

snap-00124snap-00128

Tiba-tiba Manajer Nam membuka matanya. Nam Doo yang pertama melihatnya berseru kaget.

“Park Moo,” ujar Manajer Nam.

Isteri Manajaer Nam sangat kaget dan gembira. Ia langsung keluar mencari dokter.

“Park Moo...” kata Manajer Nam lagi sambil terus menatap Nam Doo.

“Park...apa? Aku bukan Park Moo. Aku Jo Nam Doo,” Nam Doo memperkenalkan diri.

Manajer Nam menoleh dan melihat Joon Jae.

“Dam Ryeong...” ujarnya.

Joon Jae terkejut. Manajer Nam melihat sekelilingnya dan baru menyadari kalau ia ada di rumah sakit. Ia memanggil Joon Jae yang melihatnya dengan penuh pemahaman. Tahu apa yang baru dialami Manajer Nam selama komanya.

“Aku bermimpi sangat panjang,” kata Manajer Nam.

“Syukurlah Paman sudah sadar. Baik dulu maupun sekarang, terima kasih sudah menjadi temanku,” kata Joon Jae.

Manajer Nam mengerti kalau Joon Jae juga mengalami mimpi yang sama. Ia menggenggam tangan Joon Jae erat-erat. Nam Doo tersenyum melihat mereka.

snap-00133snap-00137

Nam Doo dan Joo Jae kembali ke kamar Chung. Mereka bertanya-tanya kenapa Chung belum sadar juga. Nam Doo bertanya apakah mungkin ada yang berbeda antara Chung dengan mereka, secara susunan syaraf atau semacamnya. Joon Jae bertanya apa maksud Nam Doo.

Nam Doo mengaku ia mendengar percakapan Joon Jae dan Chung di mana Joon Jae menyebut Chung puteri duyung. Joon Jae terkejut tapi berusaha menutupinya dengan menertawakan Nam Doo yang percaya pada gurauan itu.

Tapi Nam Doo berkata ia percaya Chung berbeda dengan mereka. Ia percaya Chung adalah puteri duyung. Joon Jae menatapnya waspada.

“Jangan begitu gugup!” olok Nam Doo. “Kaupikir aku akan melakukan sesuatu pada kekasihmu?”

Joon Jae berkata Nam Doo sanggup melakukan lebih dari itu. Nam Doo membenarkan ia orang yang bisa dibutakan oleh uang, tapi memegang teguh 2 prinsip. Membalas dendam pada musuhnya dan membalas budi semampunya. Heh...prinsipnya tidak berubah dari ratusan tahun lalu ^^

“Meski ia tidak menyelamatkanku, tapi ia melindungi Joon Jae-ku. Joon Jae-ku. Jadi bagaimana bisa aku melakukan sesuatu padanya?”

“Apa maksudmu Joon Jae-ku? Apa kau gila?” protes Joon Jae yang merinding mendengar perkataan Joon Jae.

Nam Doo berkata ia benar-benar tulus mengatakannya tapi setelahnya ia juga merinding.

snap-00147snap-00151

“Heo Joon Jae adalah Joon Jae-ku. Jadi jangan macam-macam dengannya,” terdengar suara Chung.

Keduanya terkejut dan gembira melihat Chung akhirnya sadar. Joon Jae langsung duduk di sisi Chung. Ia bertanya apa Chung tidak apa-apa. Chung mengangguk lemah.

“Jika kau tidak sadar, aku benar-benar akan menyusulmu.”

“Kenapa? Bukankah kau bilang kau akan bertemu wanita lebih cantik dan hidup dengan baik,” sindir Chung.

“Tak ada yang lebih cantik darimu meski aku mencarinya.”

“Kau mencari?”

Joon Jae berkata ia menyadari hidup ini singkat. Ia merasa cintanya akan lebih berumur panjang dari hidupnya. Karena itu cintanya tak akan berakhir dalam kehidupan ini. Ia berterimakasih Chung sudah kembali. Nam Doo tersenyum geli mendengar ungkapan romantis itu dan cepat-cepat keluar kamar.

snap-00167snap-00168

Nyonya Kang dibawa keluar kantor polisi untuk dipindahkan ke tahanan. Orang-orang melemparinya dan meneriakinya sebagai pembunuh. Nyonya Kang melihat Yoo Ran dan langsung melepas masker yang sejak tadi menutupi wajahnya.

“Kau merasa kau sudah menang, kan? Tidak ! Ini belum berakhir! Tidak akan berakhir seperti ini!” teriaknya.

Yoo Ran hanya menatapnya. Di depan kamera, Nyonya Kang berkata ini belum berakhir. Ini tidak boleh berakhir. Puteranya tidak boleh menjadi satu-satunya yang menderita. Ia seakan berbicara dengan seseorang melalui kamera itu.

snap-00172snap-00176

Dan benar, pesan itu ditujukan pada Dae Young yang menerima pesannya. Dae Young melihat daftar kontak ponselnya dan melihat nama Profesor Jin. Ia menelepon namor tersebut. Profesor mengangkatnya.

Setelah telepon itu, Profesor menelepon Joon Jae untuk memberitahukan kedatangan Dae Young. Joon Jae langsung pergi. Ia menelepon Nam Doo dan menyuruhnya menghubungi Detektif Hong karena Dae Young akan menemui Profesor Jin.

Profesor Jin bertanya apakah Dae Young tidak ingat apapun. Dae Young berkata ia hanya ingat saat ia bertemu anak perempuan itu (Kang Ji Yeon). Profesor bertanya kenapa Dae Young menginginkan ingatannya.

“Aku merasa seperti terjebak dalam hutan dengan kedua mata tertutup namun mendengar suara binatang dari segala penjuru. Bukan rasa takut dimangsa binatang yang sulit, tapi rasa takut karena tidak tahu kapan, dari mana, dan apa yang akan menerkam,” jawab Dae Young.

Ia berkata ia tidak bisa hidup seperti ini lagi. Ia tidak bisa hidup menjalani hukuman atas dosa yang bahkan tidak diingatnya. Ia bersandar di sofa dan Profesor mulai menghipnotisnya.

snap-00184snap-00188

Bangsawan Yang memanggil nelayan Cheon yang juga dikenal sebagai peramal. Nelayan Cheon adalah nelayan tua yang memberitahu Bangsawan Yang agar berhati-hati tidak menyentuh puteri duyung, dan juga yang berpendapat sebaiknya Dam Ryeong tidak menyambut uluran tangan Se Hwa. Dan nelayan Cheon adalah Profesor Jin di kehidupan dahulu.

Nelayan Cheon berkata ia tidak punya kekuatan khusus. Ia hanya memiliki ketertarikan pada takdir orang lain. Hong Nan (Kang Ji Yeon di kehidupan dulu) meminta nelayan Cheon membaca keberuntungan mereka di tahun baru.

“Bunga cantik yang ditancapkan pada salju tebal dan mekar di mana-mana adalah milikmu semuanya.”

Hong Nan gembira karena mengira itu adalah ramalan bagus. Tapi lalu ia kecewa karena bukan emas dan perhiasan.

“Aroma bunga yang memabukkan itu menetap di tubuhmu hingga kau mati. Meski dilahirkan kembali, aroma itu tidak akan pergi dan akan tetap menempel.”

Bangsawan Yang dan Hong Nan tertawa meski tak mengerti artinya dan bertanya apakah itu ramalan yang baik. Peramal Cheon berkata ia tidak bisa menentukan baik atau buruknya takdir. Bangsawan Yang menanyakan ramalam mengenai dirinya.

“Sebuah pohon yang tersambar petir masih memiliki semangat untuk tumbuh lembali. Apa kau menerima hukuman agar kau bisa hidup? Atau kau hidup untuk menerima hukuman? Kau akan menjalani kehidupan yang membingungkan. Jadi akan lebih baik tersambar petir dan terbakar menjadi debu. Akan lebih baik untuk tidak dilahirkan kembali. Tapi kau juga tidak memiliki pilihan atas takdirmu. Sungguh disayangkan.”

Bangsawan Yang marah mendengar ramalan yang buruk itu lalu mengusir nelayan Cheon.

snap-00191snap-00194

Ingatan berikutnya adalah ketika pada suatu malam Bangsawabn Yang dan Hong Nan hendak melarikan diri namun mereka dicegat sekelompok orang. Pemimpin orang itu adalah Park Moo. Dan ia datang bersama sahabat Dam Ryeong.

(Sepertinya Dam Ryeong berpesan pada sahabatnya agar mengungkap kejahatan Bangsawan Yang dengan menyuruhnya mengambil dokumen kasus tersebut di rak rahasianya. Lalu sahabat Dam Ryeong diminta membawa kasus tersebut ke ibukota. Turun perintah untuk menangkap Bangsawan Yang hingga Bangsawan Yang melarikan diri)

Rupanya Park Moo adalah putera dari pedagang yang dibunuh Bangsawan Yang lalu ditinggalkan di tepi pantai. Ia datang untuk membalas kematian ayahnya dan kematian Dam Ryeong yang sudah mengungkap kasus kematian ayahnya. Lalu ia menebas Bangsawan Yang dengan pedangnya.

Bangsawan Yang roboh ke tanah seketika itu juga. Sebelum mati, ia berkata ia akan dilahirkan kembali. Dan apapun yang tidak ia miliki di dunia ini, akan ia miliki nantinya.

“Silakan. Tak peduli seberapa banyak pun kau bereinkarnasi, aku akan membalasmu sebanyak itu,” jawab Park Moo tenang.

Kemudian ia beralih pada Hong Nan yang ketakutan. Ia tahu Hong Nan adalah orang yang meracuni ayahnya. Karena itu ia menyiapkan racun untuk membalas kejahatan Hong Nan. Racun dari bunga wolfsbane (bunga yang sama yang meracuni ayah Joon Jae). Anak buah Park Moo mencekoki Hong Nan dengan racun tersebut. Ia pun mati.

snap-00201snap-00211

Dae Young sadar dari hipnotisnya. Ia berkata ia melihat kehidupannya dahulu. Ia melihat Dam Ryeong, puteri duyung, dan Profesor Jin.

“Kau selalu tahu. Sama seperti hukuman yang harus kuterima dalam hidup inim takdir yang harus kupenuhi, kau selalu ada dan hanya mengamati? Sebenarnya kau berpihak pada siapa?”

Profesor Jin berkata dulu dan sekarang ia hanyalah seseorang yang mengamati takdir. Ia tidak berpihak pada siapapun. Dae Young tidak percaya dan mencekik profesor.

snap-00220snap-00221

Joon Jae menerobos masuk. Dae Young melepaskan cekikannya. Ia tertawa melihat Joon Jae yang juga dilihatnya dalam mimpinya sebagai Dam Ryeong.

Seakan berbicara pada Dam Ryeong, ia berkata ia kembali menang. Takdir akan berpihak padanya lagi dalam kehidupan ini. Dan pada akhirnya semua akan terulang kembali. Cinta yang tidak ada harapan antara manusia dan makhluk jadi-jadian akan berakhir dengan penderitaan.

Dam Ryeong membalas tidak peduli takdir berpihak pada siapa, pada akhirnya ia dan puteri duyung tetap bersama dan bahagia. Sama seperti sekarang.

snap-00223snap-00226

Nam Doo ikut dengan Detektif Hong dan para anak buahnya untuk menangkap Dae Young. Mereka masuk tepat ketika Dae Young mengacungkan pisau untuk membunuh Joon Jae. Joon Jae tersenyum menang.

Dae Young hendak nekat mengeluarkan pisaunya tapi Detektif Hong mengancam akan menembaknya. Dae Young melepaskan pisaunya dan ia pun ditangkap. Ia terbelalak ketakutan saat melihat Nam Doo, yang baru saja dilihatnya dalam mimpi membunuh dirinya.

“Kenapa ia melotot padaku?” tanya Nam Doo takut-takut. Padahal ini pertama kalinya mereka bertemu.

Joon Jae menghela nafas lega dengan tertangkapnya Dae Young.

snap-00233snap-00235

Shi Ah menjenguk Chung sambil membawakan bunga. Chung sedang tidur. Shi Ah meletakkan bunga di tempat tidur lalu hendak berbalik pergi ketika tiba-tiba Chung membuka matanya. Ia sampai melompat kaget.

“Tumben. Apa kau datang menjengukku dengan membawa bunga? Apa kau mengkhawatirkanku?”

Shi Ah awalnya tidak mau mengakuinya tapi lalu ia bertanya apa Chung benar-benar tertembak.

“Astaga, pasti sangat sakit,” katanya prihatin. “Kau tertembak di mana?”

“Sepertinya kau menikmatinya,” kata Chung.

“Apa kau gila? Aku tidak benar-benar menyukaimu tapi bukan berarti aku membencimu hingga aku senang kau tertembak?”

snap-00240snap-00243

Apa kau menyukaiku, tanya Chung. Shi Ah berkata ia tidak benar-benar menyukai Chung.

“Meski begitu aku menyukaimu,” ujar Chung.

Shi Ah terkejut mendengar kata-kata Chung yang sama sekali tidak ia sangka. Kenapa, tanyanya senang.

“Aku selalu ingin menjadi sepertimu. Kau bisa menua bersama orang yang sukai.”

“Maksudmu aku tua?” sergah Shi Ah. “Aku terlihat muda untuk wanita seusiaku. Aku bukan tipe yang menua dengan orang lain.”

Chung berkata maksudnya adalah ia iri Shi Ah bisa menghabiskan waktu bersama orang yang ia sukai. Shi Ah berkata apa gunanya jika orang yang ia sukai hanya melihat Chung. Ia yang iri pada Chung.

“Orang yang ditakdirkan untukmu akan datang,” kata Chung. Ia sudah menunggu sangat lama dan orang itu akhirnya datang. Karena itu ia yakin takdir Shi Ah juga akan datang.

Shi Ah mengira Chung mengatakan itu agar ia tidak mendekati Joon Jae lagi. Ia berkata ia juga akan menjauh tanpa diberitahu. Chung bahkan tertembak untuk Joon Jae, bagaimana ia bisa mengalahkan itu? Ia berharap Chung cepat sembuh. Lalu ia pergi.

snap-00258snap-00259

Shi Ah berpapasan dengan Tae Oh di halaman rumah sakit. Ia menyapanya. Tae Oh membalas sapaannya dan bertanya apakah Shi Ah hendak pulang. Shi Ah mengiyakan lalu berjalan melewati Tae Oh.

Setelah beberapa langkah ia berhenti dan melihat Tae Oh masih berdiri di tempatnya. Apa kau tidak akan mengantarku pulang? Tanyanya. Tae OH tersenyum senang dan bertanya apa Shi Ah ingin diantar.

“Bukan, kupikir kau yang ingin mengantarku pulang. Sudahlah,” katanya cepat.

Tea Oh berlari menyusulnya dan memayunginya. Shi Ah berkata saljunya sangat indah. Tae Oh mengeluarkan ponselnya untuk memotret pemandangan indah itu. Tapi Shi Ah merebut ponselnya, mengira Tae Oh hendak memotretnya. Lalu memotret dirinya sendiri.

“Kau pasti memiliki banyak fotoku. Kau selalu sembunyi-sembunyi mengambil foto,” Shi Ah mulai memeriksa galeri ponsel Tae Oh.

Tae Oh cepat-cepat hendak merebut ponselnya kembali. Terlambat, Shi Ah sudah melihat deretan foto Chung yang diambil Tae Oh selama ini. Ia baru sadar kalau yang disukai Tae Oh adalah Chung. Ia marah dan bertanya kenapa Tae Oh mengaku menyukainya kalau sebenarnya menyukai Chung. Tae Oh bingung bagaimana menjelaskannya.

snap-00273snap-00274

“Apa yang kaulakukan padaku?! Apa kau berpura-pura? Kenapa kau tidak memberitahuku? Apa menyenangkan melihatku seperti itu? Aku bahkan tidak tahu kau mempermainkanku dan aku berhati-hati akan perasaanmu agar kau tidak terluka ketika aku menolakmu!”

Shi Ah pergi dengan marah. Saat berjalan ia merasa seseorang mengikutinya.

“Sudah kubilang jangan ikuti aku!” bentaknya sambil berbalik.

Namun bukan Tae Oh yang dilihatnya, melainkan seorang maniak yang gemar memperlihatkan tubuhnya.

Shi Ah lari ketakutan. Tae Oh menendang dan memukuli orang itu dengan payungnya. Orang itu melarikan diri. Shi Ah terduduk di bangku taman dan menangis karena shock. Tae Oh memeluknya sambil meminta maaf. Lalu ia menghapus air mata Shi Ah dengan lembut dan menciumnya.

snap-00293snap-00301

Para dokter dan perawat membicarakan keanehan Chung di mana luka akibat peluru hilang begitu saja padahal sebelumnya terjadi pendarahan sangat banyak. Saking anehnya sampai ada yang mengira Chung adalah alien. Bukan...yang alien itu Do Min Joon *salahdrama*

Kepala rumah sakit akan melaporkan kasus ini ke asosiasi jantung dan juga akan menerbitkan artikel untuk majalah. Bahkan menghubungi reporter untuk memberitakan kasus Chung.

Itu berarti keberadaan Chung terancam. Untunglah Joon Jae mendengar pembicaraan mereka. Ia menyamar menjadi dokter lalu masuk kamar staff dan menghapus semua catatan medis Chung. Kemudian ia membangunkan Chung dengan lembut dan mengajaknya pulang. Mereka pergi diam-diam dan hanya meninggalkan setumpuk uang dalam amplop untuk biaya rumah sakit.

snap-00310snap-00317

Di rumah, Joon Jae berkata ibunya akan pindah ke rumahnya dan akan menggunakan kamarnya. Itu artinya ia tidak punya kamar meski ia pemilik rumah.

“Jadi kau dan aku akan satu kamar. Tapi setelah kupiikir-pikir, tidak perlu menunggu sampai ibu pindah ke sini. Benar kan? Apa sebaiknya aku naik?”

“Tidak,” jawab Chung singkat sambil menutup pintu kamar atas.

Joon Jae yang sudah di tengah tangga terpaksa turun kembali. Ia mengomel belum lama ini Chung yang selalu turun ke kamarnya meski ia melarangnya.

“Ia sudah berubah,” keluhnya.

Chung mendengar omelan Joon Jae namun tidak membuka pintu kembali. Ia malah menyalakan lagu keras-keras. Lalu memegang dadanya yang terasa sakit. Joon Jae mendengar suara lagu itu dan curiga ada yang tidak beres.

snap-00326snap-00327

Yoo Ran pindah ke rumah Joon Jae. Jin Joo mengantarnya dan membawakan barangnya. Yoo Ran berterimakasih lalu masuk ke rumah tanpa mengundang Jin Joo masuk. Jin Joo kecewa tapi apa mau dikata.

Ia pulang ke rumah. Suaminya berkata sepatu Yoo Ran ada yang tertinggal. Jin Joo kembali senang. Sekarang ia memiliki alasan untuk masuk ke dalam rumah si pewaris (Heirs).

Yoo Ran terkejut melihat Jin Joo balik lagi membawa sepatunya. Padahal sepatu itu ia tinggalkan karena tidak akan dipakainya lagi. Jin Joo berkata ia harus menggunakan kamar kecil. Sementara suaminya mengeluh haus. Terpaksa Yoo Ran mempersilakan mereka masuk.

Keduanya terkagum-kagum melihat rumah yang modern dan besar itu. Mereka ingin bertemu dengan Joon Jae karena tidak sempat menyapa saat pemakanman Presdir Heo kemarin. Yoo Ran tidak keberatan dan pergi ke dapur untuk membuat teh.

snap-00330snap-00331

Pada saat itulah Joon Jae, Nam Doo, dan Chung berjalan ke ruang tamu sambil mengobrol. Jin Joo dan suaminya terkejut.

“Ayah Goo Baek (panggilan Jin Joo untuk Nam Doo karena anjingnya bernama Doo Baek)?! Jay Kim?!”

Joon Jae dan Nam Doo kebingungan melihat Jin Joo memergoki mereka. Chung bertanya apakah ia bisa berbicara dengan Jin Joo dan suaminya. Ia berkata ada yang harus ia katakan pada mereka berdua.

Nam Doo gelisah ketahuan oleh Jin Joo dan suaminya. Sementara Joon Jae lebih tenang karena sepertinya ia tahu apa yang akan dilakukan Chung.

snap-00335snap-00336

Benar saja, ketika mereka bertiga keluar dari kamar, Jin Joo dan suaminya tidak mengenali Joon Jae dan Nam Doo. Chung sudah menghapus ingatan akan mereka. Mereka hanya mengira Joon Jae sebagai putera Yoo Ran dan Nam Doo adalah temannya. Ia juga tidak ingat pertemuan pertamanya dengan Chung maupun pertemuan selanjutnya di rumahnya.

“Tapi...aku...merasa pernah melihatmu sebelumnya. Wajahmu terasa familiar. Kita pernah bertemu, kan? Dubai?”

Semua terdiam.

“Kita kan belum pernah ke Dubai,” kata suaminya. Untungnya Jin Joo tidak memperpanjang ingatannya yang muncul tiba-tiba itu. Mereka pun berpamitan.

snap-00338snap-00343

Joon Jae, Nam Doo, dan Chung membicarakan peristiwa tadi. Nam Doo takjub Chung bisa menghapus ingatan. Ia sadar Chung juga telah menghapus ingatannya waktu itu. Juga ingatan Joon Jae di Spanyol. Joon Jae memperingatkan agar Nam Doo tidak mengatakan hal ini ke orang lain.

Nam Doo mengabaikan kata-kata Joon Jae. Ia mengajak Chung bekerja sama menghapus ingatan Bill Gates lalu mereka akan jadi miliarder kelas dunia. Chung berkata ia tidak mau melakukan hal yang membuat mereka sibuk. Jika mereka sibuk, ia tidak akan ada waktu bertemu dengan Joon Jae. Joon Jae sangat senang mendengarnya.

“Chung, aku mengatakannya dengan tulus. Jika kau putus dengan Joon Jae, kau harus datang padaku. Aku akan menjadi nomer 2, oke?” Nam Doo mendekati Chung sambil bergurau.

Joon Jae langsung mendorongnya menjauh. Mereka kejar-kejaran tanpa menyadari Chung tiba-tiba memegang dadanya yang terasa sakit. Nam Doo yang pertama kali melihatnya dan menanyakan keadaannya. Apa karena Chung terlalu awal keluar dari rumah sakit? Joon Jae mengkhawatirkannya tapi Chung tidak mengatakan apapun.

snap-00351snap-00354

Sejak itu Joon Jae diam-diam mengawasi Chung. Meski Chung terus tersenyum, namun Joon Jae tahu Chung sebenarnya kesakitan.

Hingga suatu ketika Chung menemukan rumah sepi, hanya ada Joon Jae sedang memasak di dapur. Melihat wajah serius Joon Jae, Chung menyadari apa yang akan dibicarakan Joon Jae dengannya. Joon Jae beralasan kondisi Chung sedang tidak sehat jadi sebaiknya mereka berpesta berdua di rumah.

Meski hanya makan di rumah, Chung berdandan dengan sangat cantik.

Mereka makan dalam keheningan. Chung menawarkan agar mereka minum bersama. Joon Jae menolak.

“Jika aku minum (dan mabuk), kurasa aku akan memintamu untuk tetap tinggal,” kata Joon Jae murung. “Jika ada cara lain, katakan padaku. Kumohon, katakan ada cara lainnya. Setelah operasi, kau jarang makan. Kau tidak bisa tidur dan menahan rasa sakitmu. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus...melihatmu pergi (meninggal)?”

Chung tidak menjawab. Joon Jae memakaikan gelang giok Dam Ryeong ke tangan Chung. Ia bertanya apakah Chung akan baik-baik saja jika Chung kembali ke laut. Apakah Chung akan jadi sehat? Chung menatap Joon Jae.

snap-00359snap-00368

Mereka berpelukan melihat pemandangan malam. Bukan dengan kebahagiaan, tapi dengan penuh kesedihan. Joon Jae meminta Chung berjanji tidak menghapus ingatannya jika Chung pergi nanti. Kenapa, tanya Chung.

“Kau juga sama. Kau bilang kau lebih mencintai dan terluka daripada tidak ingat dan tidak bisa mencintai. Karena ada kenangan yang bisa kusimpan, aku bisa melepaskanmu pergi.”

“Tapi kau akan sangat kasihan. Aku mungkin tidak kembali untuk selamanya. Kau tidak akan tahu aku masih hidup atau sudah mati. Kau hanya bisa menunggu.”

“Jika kau tidak kembali, aku akan dilahirkan kembali. Begitu juga kau. Sudah kubilang...cintaku berumur lebih panjang dari hidupku.”

snap-00373snap-00380

Tapi Chung tidak ingin Joon Jae menderita. Joon Jae berkata jika mereka saling mengingat maka mereka tidak akan lupa jalan untuk kembali. Mereka akan bertemu lagi. Chung masih tak yakin dan keberatan meninggalkan Joon Jae menanggung kenangan akan dirinya tanpa ada kepastian.

“Baiklah, kau yang pilih. Kau akan menghapus ingatanku atau pergi. Kau boleh memilih,” kata Joon Jae akhirnya.

Chung menatap Joon Jae dalam-dalam.

“Aku sudah membuat pilihan...” katanya pelan.

Ia meraih Joon Jae, lalu menciumnya.

snap-00386snap-00392

Komentar:

Jadi dalam episode ini para penjahatnya sudah tertangkap dan tidak ada ancaman lagi dari mereka? Jadi pada akhirnya masalah terbesar Joon Jae dan Chung adalah Chung harus kembali ke laut untuk memulihkan kesehatannya?

Seperti Se Hwa, kondisi Chung memang cepat pulih secara fisik tapi jantungnya tidak sekuat itu karena ia sudah lama tidak berada di lautan. Dam Ryeong waktu dulu juga mengirim Se Hwa kembali ke laut meski waktu itu Se Hwa tidak menghapus ingatan Dam Ryeong.

Apa pilihan Chung? Apakah ia akan seperti Se Hwa yang memenuhi permintaan Dam Ryeong agar tidak menghapus ingatannya?

Sebenarnya agak bingung juga sih kenapa ini menjadi masalah besar. Joon Jae kan tinggal pindah ke tepi pantai. Jika alasannya adalah ibunya, tinggal dibawa saja kan? Joon Jae bisa mengunjungi Chung ke tengah laut kapan pun ia mau tanpa Yoo Ran tahu siapa Chung sebenarnya. Mungkin dengan isyarat kembang api atau semacamnya. Dengan begitu mereka tidak perlu berpisah bahkan tidak perlu menghapus ingatan segala. Bukankah Chung hanya perlu memulihkan dirinya di laut?

Atau Chung cukup pergi selama beberapa waktu untuk memulihkan diri, lalu kembali ke sisi Joon Jae. Apakah karena sakit Chung belum tentu sembuh meski kembali ke laut?

Dengan dipenjaranya Nyonya Kang dan matinya Chi Hyun, berarti semua warisan Presdir Heo akan jatuh pada Joon Jae seorang. Apa itu juga salah satu pertimbangan Joon Jae tidak pergi...untuk mengurus bisnis peninggalan ayahnya?

Cuma Tae Oh yang belum ada di kehidupan masa lalu Dam Ryeong dkk. Atau memang tidak ada?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)