Senin, 16 Oktober 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 11 dan 12

snap-00368

Kalau aku jadi Hong Joo pasti malu banget dah…mau tau kenapa malu? Yuk baca sinopsisnya di Blog Berbagi Sinopsis

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 11

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 12

Komentar:

Tugas Pengacara adalah membela klien. Tugas Jaksa adalah menuntut pelaku tindak kejahatan. Lalu bagaimana jika Pengacara sudah tahu kliennya salah? Atau kalau Jaksa tahu pelaku tidak bersalah? Kalau yang terakhir sih sudah dilakukan Noh Ji Wook di drama Suspicious Partner hahaha…malah jadi pacaran XD

Masalahnya bukan kejahatan mencuri atau menipu orang, tapi membunuh. Dan sadisnya adalah membunuh adik kandungnya sendiri. Ketika Yoo Bum membela ayah So Yoon saja rasanya sudah keterlaluan, tapi membela pembunuh berdarah dingin?

Antara setuju dan tidak setuju sih dengan pernyataan Yoo Bum. Namun anggap saja ini pelajaran berat untuk Hee Min yang terlalu sombong dan percaya diri hingga lengah. Kalau dilihat-lihat sebenarnya Hee Min ini ada kemiripan dengan Yoo Bum. Bagi mereka yang penting kasus mereka menang.

Menariknya adalah Yoo Bum mencuci tangannya kuat-kuat setelah bersalaman dengan pembunuh yang baru saja dibebaskannya. Berarti ia masih punya hati nurani? Jadi penasaran dengan masa lalu Yoo Bum.

Duh kok ngga ada yang mimpiin Woo Tak ya…mudah-mudahan dia ngga trauma jadi pahlawan >,<

Sabtu, 14 Oktober 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 10

snap-00325

Pemilik kedai ayam goreng baru selesai menggoreng ayam utuh. Ia memotong-motongnya dan memasukkan ke kotak makanan. Beberapa potong ia sisihkan dan ia simpan. Ternyata benar ia korupsi ayam goreng!

Hong Joo berjalan pulang ke rumahnya. Ia melewati sebuah gang dan sempat melihat si pemilik kedai ayam sedang membagi-bagikan potongan ayam yang sudah ia sisihkan pada beberapa ekor kucing liar. Ia memutuskan untuk membiarkannya.

Di rumah ia memikirkan perkataan Woo Tak bahwa ia hanya perlu mengubah masa depan jika ia bermimpi mengenai kematiannya. Perhatiannya tertuju pada salah satu mimpinya. Akan terjadi suatu tragedi pada tanggal 28 Maret jam 8 malam di Universitas Myungwon.

Ia melihat sebuah event di mana terlihat seorang gadis dikelilingi kembang api, lalu ada tabung konfetti dan seorang pemuda tersenyum membawa bunga. Namun event itu berakhir tragis ketika tabung semprot terkena percikan kembang api dan menimbulkan kebakaran mengenai si gadis. Gadis itu adalah gadis pelayan kafe langganan Jae Chan dan Hong Joo.

Jae Chan terbangun kaget. Dalam mimpinya ia melihat Hong Joo dikejar beberapa mahasiswa lalu diserang. Peristiwa itu terjadi di depan Universitas Myungwon.

snap-00162snap-00167

Keesokan harinya di kantor ia melihat Hee Min dan Jaksa Lee berkerumun di depan kantor Jaksa Son. Jaksa Son sedang menanyai penumpang yang menyebabkan kecelakaan itu. Si penumpang berkata ia juga seorang ayah dan ia menangis ketika mendengar anak itu kehilangan orangtuanya. Tapi ia tidak mengemudi. Ia hanya duduk di kursi penumpang jadi ia tidak membunuh mereka.

Jaksa Son berkata penumpang itu tidak hanya duduk. Ia menyerahkan kunci mobil pada supir yang mabuk dan bahkan memberitahunya cara menghindari polisi.

“Apakah menyerahkan kunci termasuk kejahatan?” ujar si penumpang. Ia membela diri orang lain juga akan menyerahkan kunci pada si penabrak. Penabrak itu tetap akan mengemudikan mobil meski ia melarangnya. Ia bahkan tidak memaksa si penabrak untuk mengemudi.

“Aku hanya melakukan ini,” si penumpang menunjukkan gerakan memberi kunci. Ia tidak pantas diperlakukan seperti kriminal.

snap-00179snap-00181

Jaksa Lee berpendapat si penumpang juga bersalah sementara Hee Min tetap sependapat dengan Asisten Kepala Park bahwa kasus ini harusnya dihentikan. Jaksa Lee bertanya kenapa Jae Chan ke sini, apa Jae Chan sudah memutuskan si penumpang bersalah atau tidak.

Jae Chan berkata ia ingin minta bantuan. Hee Min cepat-cepat kabur dari sana. Jaksa Lee juga hendak kabur tapi akhirnya ia bertanya ada apa. Jae Chan meminta Jaksa Lee menggantikannya tugas malam hari ini.

Jaksa Lee berkata Jae Chan harus tahu kutukan yang diketahui semua orang di sini. Sesuatu yang buruk selalu terjadi setiap kali seseorang menggantikan tugas jaga orang lain. Jae Chan berkata sebagai gantinya ia akan menggantikan tugas Jaksa Lee di akhir minggu bahkan di masa liburan.

Jaksa Lee berkata ketika ia menggantikan seseorang di masa lalu, terjadi ledakan di sebuah karaoke di mana banyak orang meninggal. Akibatnya banyak hal yamg harus ditangani mulai dari pemeriksaan otopsi dan postmortem. Ia berakhir dengan tugas menggunung hanya karena menggantikan tugas seseorang.

Namun ia langsung berubah pikiran begitu Jae Chan berkata ia akan mengenalkannya dengan seorang wanita. Ia bahkan berterima kasih pada Jae Chan.

snap-00183snap-00191

Woo Tak juga bermimpi. Namun dalam mimpinya, Jae Chan dan Hong Joo sedang jalan berdua ketika tiba-tiba sekelompok mahasiswa menyerang mereka. Jae Chan berusaha melawan namun ia hampir pingsan dipukuli. Hong Joo berteriak histeris.

Kyung Han melihatnya bangun dan mengajaknya makan. Tapi Woo tak mengajaknya berpatroli di sekitar Universitas Myungwon. Kyung Han setuju tapi ia ingin makan dulu. Woo Tak berkata ia yang akan mengemudi tapi mereka berpatroli dulu sebelum makan. Kyung Han menyerah.

snap-00194snap-00196

Hong Joo mengambil alat pemadam kebakaran di restoran lalu membawanya. Ia berkata pada ibunya mungkin ia pulang larut malam jadi ibunya tak perlu menunggu. Ia akan keluar menolong seseorang yang terluka di mimpinya.

“Ibu, berjanjilah padaku satu hal. Jika aku bisa mengubah yang kulihat dalam mimpiku kali ini dan menyelamatkan orang itu, tolong pikirkan kembali keinginanku untuk kembali bekerja, ya?”

Hong Joo tiba di Universitas Myungwon sementara event dimulai ketika gadis pelayan kafe diajak temannya ke event tersebut. Rupanya itu event pernyataan cinta seorang pemuda untuk Cho Hee, si gadis pelayan kafe. Teman-teman si pemuda menyoraki Cho Hee agar menerima pemuda itu dan menjadi kekasihnya.

snap-00199snap-00203

Namun bukannya terlihat senang, Cho Hee malah terlihat terganggu dan kesal. Seperti dalam mimi Hong Joo, tabung konfetti hampir terbakar percikan kembang api. Namun Hong Joo langsung menyalakan pemadam apinya. Masalahnya ridak ada orang yang tahu kalau Hong Joo baru saja mencegah sebuah tragedi.

Cho Hee pergi dengan marah. Bukan karena event tersebut gagal tapi karena tidak suka pada pemuda tersebut. Sementara si pemuda dan teman-temannya menganggap Hong Joo yang sudah merusak event tersebut dan membuat Cho Hee marah.

Hong Joo meminta maaf dan berkata meski mereka tidak percaya tapi sebenarnya ia sudah mencegah kecelakaan yang mengerikan. Para pemuda itu sangat marah. Hong Joo langsung berbalik dan kabur.

snap-00204snap-00206

Mereka mengejarnya. Hong Joo lari sekuat tenaga. Tiba-tiba seseorang menariknya ke balik semak-semak. Jae Chan.

Mereka bersembunyi sampai para pemuda itu pergi. Lalu Jae Chan menuntun Hong Joo pergi dari sana dan menghindari para pemuda itu dengan bersembunyi di balik para pelari.

Setelah yakin aman, mereka berdua berjalan santai. Barulah Hong Joo menceritakan mimpinya dan bagaimana ia sudah menyelamatkan gadis itu yang ternyata pelayan kafe langganan mereka. Ia sangat bangga bisa menyelamatkannya.

Namun Jae Chan diam saja. Hong Joo bertanya apakah Jae Chan datang karena melihatnya dalam mimpinya. Ia dengar dari Woo Tak kalau Jae Chan banyak bermimpi tentang dirinya.

“Kenapa ya? Apa kita seperti kutub magnet yang berlawanan? Saling tertarik karena suatu alasan...seperti takdir?”

snap-00211snap-00212

Jae Chan malah meminta maaf dan berterima kasih atas hari itu. Hari yang mana, tanya Hong Joo. Hari saat ia bersama rekan-rekan sesama jaksa makan di restoran Hong Joo dan Hong Joo membelanya. Hong Joo berkata ia hanya mengatakan yang sebenarnya, bukan benar-benar karena membela Jae Chan.

“Kalua begitu kutarik kembali,” kata Jae Chan.

Hong Joo bertanya apakah Jae Chan sudah memutuskan mengenai kasus itu. Haruskah si penumpang dituntut, atau dibebaskan?

“Dia seharusnya dituntut,” jawab Jae Chan.

“Kenapa? Dia kan tidak mengemudi. Hanya karena ia menyerahkan kunci mobil?”

Jae Chan berkata itu sebuah kejahatan karena si penumpang menganggap remeh. Tidak menyerahkan kunci juga harusnya hal yang remeh. Si penumpang mendorong mengemudi di bawah pengaruh alkohol hanya dangan beberapa kata. Ia juga seharusnya bisa mencegahnya hanya dengan beberapa kata.

“Ia bisa menyelamatkan banyak nyawa seandainya ia menganggap serius semua tindakannya. Ia tidak melakukan hal yang benar betapapun mudahnya hal itu, karena itu ia melakukan kejahatan. Apa yang ia lakukan adalah meremehkan, dan itu yang membuatnya jadi kejahatan.”

Hong Joo tersenyum membenarkan. Ia berkata Jae Chan sekarang sudah berubah. Jae Chan ikut tersenyum.

“Kurasa karena seseorang.”

snap-00215snap-00218

Mereka kembali berjalan, tanpa menyadari para pemuda pengejar mereka melihat mereka dari seberang jalan. Namun ketika para pemuda itu hendak menyeberang, Woo Tak dan Kyung Han tiba dengan mobil polisi. Kyung Han menegur mereka karena menyeberang sembarangan.

Mereka protes karena mereka belum juga menyeberang. Tapi Kyung Han memukul kap mobil dengan keras dan berkata ia dengar mereka hendak memukul orang. Mereka ketakutan ketika Kyung Han dengan galak hendak membawa mereka.

Woo Tak menoleh ke arah Jae Chan dan Hong Joo yang sama sekali tidak tahu dan tidak sadar kalau Woo Tak sudah menyelamatkan mereka. Mereka terus berjalan. Woo Tak tersenyum lega.

snap-00219snap-00225

Cho Hee memegangi tangannya. Ia berkata pada temannya kalau ia merasakan sensasi terbakar pada tangannya. Ia merasa sangat aneh. Teleponnya berbunyi dan ia mengangkatnya.

Ia berlari ke rumah sakit. Ke kamar mayat...di mana salah satu kakaknya terbujur kaku sementara kakaknya yang tertua sedang menangis dalam keadaan penuh luka. Kakak yang sedang menangis itu ternyata si pemilik kedai ayam goreng. Hmmm...sudah kuduga meski kelihatan memerankan peran tak penting, mereka pasti memiliki peran lebih.

Si pemilik kedai, Kang Dae Hee, menangisi adiknya yang sudah meninggal. Cho Hee tak percaya semua ini terjadi dan bertanya sebenarnya apa yang terjadi. Jaksa yang menangani kasus ini adalah Jaksa Lee karena ia menggantikan Jae Chan. Ia didampingi oleh Investigator Choi. Jaksa Lee menghela nafas panjang karena sekarang ini menjadi tugasnya. Kutukan itu kembali terbukti.

snap-00227snap-00229

Ternyata ini kasus kecelakaan dan menurut polisi, korban tidak mengenakan sabuk pengaman. Benturan menyebabkan kerusakan di tulang tengkorak dan lehernya patah.

Investigator Choi mengamati jenazah dan merasa pendarahannya terlalu sedikit untuk ukuran kecelakaan seperti ini. Sesuai prosedur, Jaksa Lee hendak mengadakan otopsi. Tapi Dae Hee menolak.

Jaksa Lee berkata ia harus melakukannya untuk mengetahui penyebab kematian. Dae Hee menangis dan menolak, berkata ia yang membunuhnya. Harusnya adiknya naik bis tapi ia malah mengemudi dan menyebabkan kematian adiknya. Jaksa Lee mengalah dan membatalkan otopsi. Investigator Choi merasa ada yang aneh tapi akhirnya ia juga pergi.

snap-00230snap-00231

Hong Joo tiba di rumah mendapati ibunya membersihkan sangat banyak kepiting. Ia berkata ia berhasil menyelamatkan gadis yang ia lihat dalam mimpinya. Jadi sesuai janji...

“Ibu tidak pernah berjanji. Kau yang menganggap ibu berjanji.”

Hong Joo membantu ibunya. Ia berkata ibunya tahu kalau ia sangat suka menulis diari. Ketika pekerjaannya masih dalam masa percobaan dan ia bahkan tidak bisa tidur satu jam pun, ia masih memastikan untuk menulis dalam diarinya tiap hari. Ia dulu menulis belasan halaman untuk memaki para seniornya.

“Tapi akhir-akhir ini aku hanya menulis enam kata: hari ini sama dengan hari kemarin. Aku bisa menulisnya duluan. Karena besok tidak ada bedanya. Apa yang kutulis dalam setahun lebih sedikit dari yang bisa kutulis untuk satu hari.”

“Sebenarnya apa yang ingin kaukatakan?”

“Bu, aku hanya ingin hari ini sedikit lebih baik. Aku tidak ingin menyia-nyiakan hidupku hanya karena aku takut pada mimpiku.”

“Jadi apa kau akan kembali bekerja setelah melihat dirimu mati sebagai seorang reporter dalam mimpimu?” tanya ibunya kesal.

Hong Joo berkata ia tidak akan mati. Ia hanya akan mengubah apa yang ia lihat dalam mimpinya. Ia bisa mengubah mimpinya sejak ia bertemu Jae Chan dan Woo Tak. Hari ini ia juga melakukannya dan ia mendapat pencerahan.

“Ada satu hal yang kutahu pasti dalam hidupku. Bahwa tidak ada yang sudah ditentukan dalam hidup ini.”

Ibunya menyindir sebenarnya Hong Joo tidak meminta ijinnya tapi mengumumkan kalau akan kembali bekerja. Tidak, Hong Joo mengoreksi. Ia tidak akan kembali bekerja tanpa seijin ibunya. Ibunya terdiam.

snap-00240snap-00241

Woo Tak menuang susu untuk sarapan tapi susunya sudah basi. Rotinya juga gosong. Ia melihat iri pada Robin yang dengan lahap memakan sarapannya lalu pergi keluar.

Jae Chan keluar dari kamar dan terkejut melihat seluruh ruangan dipenuhi asap. Seung Won sedang bertelepon ria dengan So Yoon. Asyik menyombong kalau ia kebagian memasak sarapan hari ini dan sedang membakar ikan. Ia berjanji akan membuatkannya untuk So Yoon saat ia pulang liburan nanti. Ia tahu cara membakar ikan dengan sempurna. Jae Chan melirik ikan yang mulai hitam semua.

“So Yoon, itu bohong! Minta dia ubah ke video call!!” teriak Jae Chan di dekat telepon. Seung Won langsung mengejar kakaknya.

snap-00244snap-00245

Jae Chan memilih sarapan di luar. Kebetulan ia bertemu Woo Tak yang sedang sarapan sendirian (akhirnya muncul juga promosi Subway ;p). Woo Tak seperti biasa sedang menganalisis mimpi mereka bertiga. Dalam kecelakaan di mana seharusnya ia tertabrak dan tewas, ia mengaku waktu itu ia merasa seperti ia tertabrak dan mati meski Jae Chan sudah menyelamatkannya. Dan rasanya sangat nyata. Seakan kembali hidup setelah mati.

Jae Chan berkata ia juga pernah mengalaminya. Ketika ia masih sangat muda. Waktu itu ia jatuh ke air yang dalam dan seseorang menyelamatkan nyawanya. Ia berhasil selamat berkat anak itu, tapi anehnya ia merasa ia sudah tenggelam dalam air. Rasanya sangat nyata.

snap-00251snap-00253

“Aku tahu! Anak yang menyelamatkanmu waktu itu, Hong Joo kan?” kata Woo Tak.

Jae Chan terkejut. Woo Tak menjelaskan hipotesisnya. Ia merasa sangat berterimakasih pada Hae Chan karena perasaan hampir mati itu. Ia pikir ia bisa saja sudah mati bila tidak diselamatkan Jae Chan, karena itu ia ingin memastikan bisa membalas budi pada Jae Chan. Pemikiran itu yang mungkin memulai mimpi-mimpi itu.

“Mimpi di mana aku bisa melihat masa depan orang yang menyelamatkan hidupku.”

Jae Chan tersenyum.

Woo Tak berkata Jae Chan selalu melihat Hong Joo dalam mimpinya jadi ia pasti orang yang menyelamatkan Jae Chan waktu itu. Itu tidak mungkin, kata Jae Chan. Anak yang menyelamatkannya waktu itu adalah anak laki-laki, bukan Hong Joo.

“Apa kau yakin?” tanya Woo Tak yang agak kecewa hipotesisnya gagal.

Jae Chan yakin. Ia memanggil anak itu Chestnut, anak laki-laki yang sangat suka baseball. Seorang anak laki-laki yang kuat dan pemberani. Padahal anak-laki-laki itu adalah Hong Joo remaja yang memang berambut pendek dan sering salah dikenali sebagai anak laki-laki.

snap-00254snap-00252

Hong Joo pulang dan mencari ibunya. Tapi ibunya tidak di rumah. Ia masuk ke kamar dan terkesiap kaget.

Jae Chan sedang memilah sampah di tempat pembuangan sampah. Ia sedang berpikir ke bagian mana ikan gosong tadi pagi hendak dibuang. Ibu Hong Joo muncul dan bertanya apakah itu ikan yang ia berikan pada mereka. Jae Chan jadi malu dan tak enak hati. Ia mengaku membakar ikan ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

Ibu tidak tersinggung. Ia malah mengundang Jae Chan dan Seung Won untuk sarapan di rumahnya setiap pagi. Jae Chan menolak dengan sopan tapi ibu berkata sebagai gantinya ia ingin meminta tolong.

“Mengenai Hong Joo. Kau tidak tahu kenapa ia memutuskan untuk cuti, bukan? Ia bermimpi di mana ia mati sebagai seorang reporter. Karena itu aku langsung memintanya berhenti bekerja. Kau tahu, bukan? Mimpinya cukup spesial.”

Jae Chan berkata ia tahu. Ibu berkata Hong Joo ingin kembali bekerja dan ia seharusnya membujuknya.

snap-00259snap-00261

Di rumah… Hong Joo terharu melihat pakaian kerjanya terhampar di tempat tidur. Dalam keadaan bersih dan rapi. Siap untuk digunakan. Ibunya telah memberinya ijin kembali bekerja.

Pada Jae Chan, ibu berkata ia memutuskan untuk membiarkan Hong Joo kembali bekerja karena merasa kasihan. Hatinya hancur melihat Hong Joo harus menahan diri dari apa yang ingin ia lakukan.

Ia berkata ia bisa membuat semua jenis makanan, Jae Chan dan Seung Won tinggal sebut saja ingin makan apa. Ia akan membuatkan mereka sarapan tiap hari gratis untuk mereka. Jae Chan bertanya kenapa ibu Hong Joo tiba-tiba menawari mereka sarapan.

Ibu berkata ia hanya ingin menunjukkan rasa terima kasihnya. Ia dengar Jae Chan beberapa kali menyelamatkan nyawa Hong Joo. Ia ingin membalas budi.

“Dan seandainya kau harus membantunya lagi....andai saja...hal itu tidak boleh terjadi, tapi jika hal seperti itu terjadi, tolong lindungi puteriku.”

snap-00265snap-00266

Jae Chan pulang dan memikirkan percakapannya dengan Hong Joo di kafe hari itu. Ia menyadari Hong Joo bukannya tidak ingin kembali bekerja. Ia ingin kembali tapi takut.

Keesokan paginya ia melihat Hong Joo sudah di halte bis dengan pakaian formal untuk bekerja. Ia melihat Hong Joo menyemangati dirinya sendiri dengan berulang-ulang berteriak mengatakan “Aku bisa!” di depan tiang yang mengkilap seperti cermin.

“Ekspresi wajah bisa menipu,” batin Jae Chan. “Terkadang kita bisa membaca mood, pikiran, dan perasaan seseorang dari ekspresi wajah mereka seperti buku yang terbuka.

Hong Joo naik ke dalam bis dan berbicara dengan ibunya di telepon. Ia terlihat sangat bersemangat dan menenangkan ibunya. Tapi ketika tiba di seberang kantor SBC, lagi-lagi ia berat untuk melangkah. Ia terlihat ragu dan takut.

snap-00279snap-00284

“Tapi beberapa orang bisa menggunakan ekspresi wajah mereka seperti topeng yang menutupi mood, pikiran, dan perasaan mereka. Terkadang ada momen sekilas yang meruntuhkan perbatasan antara kebenaran dan kebohongan.”

Cho Hee dan Dae Hee menangis saat melihat peti berisi saudara mereka masuk ke dalam oven kremasi. Namun tak ada yang melihat saat tangis Dae Hee pelan-pelan berubah menjadi senyum mengerikan. Dan di gang itu tergeletak kucing-kucing mati.

“Kebenaran yang tidak dapat dilihat siapapun. Hal-hal yang kau tidak ingin orang lain tahu. Namun ada momen singkat di mana hal itu terungkap pada dunia.”

snap-00290snap-00291

Lampu hijau untuk menyeberang sudah beberapa kali menyala, tapi Hong Joo tidak juga melangkah. Jae Chan meraih tangannya dan menuntunnya hingga ke seberang.

“Mari kita tidak menutup mata ketika kita suatu saat menghadaoi saat seperti itu. Jangn berpura-pura kau tidak melihatnya. Jangan menghindarinya. Hadapi sepenuhnya.”

Hong Joo melangkah ke dalam kantor dengan riang dan penuh rasa percaya diri. Orang-orang menyapanya dan menyambutnya dengan ramah. Ia pergi ke meja Du Hyun dan menyapanya. Du Hyun bersikap seakan Hong Joo tak pergi lama. Ia memberitahu kalau ia sudah menaruh seragam Hong Joo di meja.

Di meja, Hong Joo melihat agenda baru, kartu pengenal, dan seragam SBC...berwarna biru. Seperti dalam mimpinya.

Kapten menggoda Du Hyun yang selalu bersikap cuek tapi sebenarnya sudah mempersiapkan semua untuk Hong Joo. Hong Joo tak mendengar karena ia terlalu kaget melihat seragam itu. Bayangan dirinya tergeletak tewas dalam mimpinya dengan mengenakan serapan itu melintas dalam benaknya.

Melihat Hong Joo memegang seragam baru, Du Hyun berkata mereka mendapat desain baru untuk seragam mereka. Ia sudah bosan dengan seragam mereka yang dulu yang berwarna ungu. Ia menyuruh Hong Joo mencobanya.

snap-00299snap-00312

Hong Joo teringat percakapannya dengan Jae Chan setelah Jae Chan menuntunnya ke depan kantor SBC. Jae Chan bertanya apakah menyeberang jalan sangat sulit bagi Hong Joo. Hong Joo beralasan mungkin karena ia sudah sangat lama tidak ke kantor. Semua terasa sulit dan ia merasa gugup tanpa alasan.

“Kalau begitu apa aku sebaiknya mengantarmu ke dalam kantor?” tanya Jae Chan.

“Kenapa kau seperti ini? Nanti aku salah paham lagi. Aku akan menempel padamu dan memintamu mengantarku ke kantor tiap hari. Aku juga akan merongrongmu untuk melindungiku tiap hari,” gurau Hong Joo.

“Kita bisa melakukannya. Menempel padaku, memintaku mengantarmu bekerja, dan merongrongku untuk melindungimu. Aku akan berusaha,” kata Jae Chan.

snap-00313snap-00314

Hong Joo terkejut. Jae Chan berkata ia akan melakukannya jika itu membuat Hong Joo lega. Hong Joo jadi terharu dan matanya berkaca-kaca.

“Kenapa kau melakukan ini padaku? Kau terdengar seakan kau sungguh-sungguh.”

“Aku memang sungguh-sungguh. Apa kau tak percaya padaku? Itukah sebabnya kau menangis?”

Hong Joo berkata ia menangis justru karena ia percaya pada Jae Chan. Karena ia merasa lega dan betapa ingin ia mendengar semua itu dari Jae Chan. Ia mengeluarkan cermin dan melihat make up matanya luntur.

Ia menarik dasi Jae Chan untuk merapikannya. Jae Chan protes tapi Hong Joo berkata Jae Chan tadi bilang akan melindunginya, lalu hal begini saja tidak bisa ia lakukan untuknya?

Jae Chan tak bisa berkata apa-apa lagi. Termasuk ketika Hong Joo pelan-pelan bersandar padanya. Hong Joo berkata Jae Chan tidak menghindarinya hari ini. Jae chan tersenyum kecil lalu menepuk pundak Hong Joo untuk menenangkannya.

snap-00328snap-00337

Dan mengingat itu semua membuat Hong Joo kembali kuat. Ketika Du Hyun bertanya apakah Hong Joo tidak menyukai seragam barunya, ia menjawab ia menyukainya. Di luar kantor, Jae Chan melihat dasinya yang terkotori make up Hong Joo. Ia tersenyum.

snap-00339snap-00344

Komentar:

Hipotesis Woo Tak masuk akal. Malah paling masuk akal sejauh ini. Dan jika itu benar artinya mimpi mereka tidak ada kaitannya dengan peristiwa 13 tahun lalu. Artinya Woo Tak tak ada hubungannya dengan si tentara. Hanya saja Jae Chan belum tahu kalau anak laki-laki yang menolongnya dulu adalah Hong Joo.

Dan semakin melegakan karena Woo Tak benar-benar ingin membalas budi pada Jae Chan. Dugaanku bahwa ia ingin menjadi pahlawan adalah salah. Ia malah tidak menceritakan pada Jae Chan dan Hong Joo kalau malam itu sebenarnya ia sudah menyelamatkan mereka. Soalnya makin lama makin suka dengan Woo Tak, jadi ngga rela kalau nanti karakternya berubah. Mudah-mudahan ia tetap seperti ini.

Lalu apakah Cho Hee juga akan mengalami mimpi yang sama karena diselamatkan Hong Joo? Menurutku tidak. Jae Chan dan Woo Tak sama-sama sadar kalau mereka diselamatkan, sementara Cho Hee sama sekali tidak tahu kalau ia baru saja terhindar dari bencana.

Begitu juga dengan ayah So Yoon yang seharusnya mati terjatuh seperti dalam mimpi Ia sama sekali tidak menyadari kalau ia juga diselamatkan, karena itu ia tidak bermimpi. Seung Won juga tidak bermimpi karena ia tidak merasakan rasa terima kasih yang sama seperti yang dirasakan Woo Tak.

Sayangnya sampai sekarang kita belum tahu apakah masa depan yang mereka ubah berakibat pada hal lain. Rasanya kok seperti menghadapi bom waktu yang sewaktu-waktu siap untuk meledak >,<  Karena…sampai kapan kematian bisa dihindari?

Kamis, 12 Oktober 2017

Sinopsis While You Were Sleeping Episode 9

snap-00146

Hong Joo bermimpi ia terkapar di tanah tak bergerak. Dengan mengenakan seragam biru reporter SBC. Meski hujan lebat membasahi tubuhnya, ia tidak bangun. Mati? Apakah itu sebabnya ia berhenti menjadi reporter? Karena ia bermimpi tewas mengenakan seragam SBC?

Mimpi seperti ini bukan pertama kalinya bagi Hong Joo. Mimpi itu belum terjadi tapi membuatnya merasa ia sudah merasakannya. Ia merasa ia masih berada di tengah mimpi itu meski ia sudah bangun. Membuatnya merasa esok pagi tidak akan pernah datang. Benar-benar mimpi buruk.

Tapi ada suatu suara yang membangunkannya dari mimpi buruknya. Ia merasa tenang karena suara itu memberitahunya bahwa malam dan mimpi buruk telah berlalu untuk sementara. Suara itu memberitahunya, “Pagi telah tiba. Kau tidak apa-apa sekarang.” Membuatnya merasa lega.

Suara apa itu? Suara ibunya yang bangun di pagi hari dan mempersiapkan sarapan lalu masuk kamar untuk membangunkannya. Suara ibunya seperti pagi yang mengusir malam. Padahal yang dilakukan ibunya adalah mengomelinya karena kamarnya yang berantakan seperti kandang babi. Perkataan yang selalu diulangnya setiap hari sampai Hong Joo hafal.

Sama seperti pagi ini. Hong Joo memeluk ibunya. Ibunya awalnya berkata Hong Joo terlalu besar untuk bermanja-manja seperti itu. Tapi ia lalu menyadari sesuatu dan bertanya apakah Hong Joo bermimpi “itu” lagi. Hong Joo mengiyakan sambil terus memeluk ibunya. Ibunya nampak khawatir.

snap-00004snap-00008

Jae Chan tidak bermimpi. Tapi mimpinya mencium Hong Joo selalu terngiang. Ia berusaha mengenyahkan pikiran itu. Seung Won heran kakaknya makin rajin berangkat pagi. Jae Chan berkata ia harus menghindari seseorang.

Terdengar bel di pintu. Seung Won melihat siapa yang datang dan berkata tetangga mereka membawakan ikan. Jae Chan lalu menyuruh adiknya yang membukakan pintu. Ia sudah berpakaian sangat rapi dan tidak ingin Hong Joo salah paham lagi mengira ia berdandan rapi seperti itu hanya untuk membukakan pintu. Tapi Seung Won menolak karena ia sudah kebelet.

Terpaksa Jae Chan membukakan pintu. Namun bukan Hong Joo yang datang melainkan ibunya. Ibu Hong Joo membawakan ikan karena ia dengar dari Seung Won kalau sarapan mereka tidak banyak.

“Itu tidak baik, terutama bagi pria. Kau akan kecapean seharian.” Jadi ibu Hong Joo membungkus satu per satu ikan itu agar dapat ditaruh di kulkas dan tinggal dikeluarkan satu per satu untuk dipanggang. Itu lebih mudah daripada membuat ramyun.

Jae Chan tersenyum senang dan berterimakasih. Ibu Hong Joo gembira Jae Chan menyukainya.

snap-00012snap-00013

Seperti biasa Jae Chan pergi ke kafe langganannya. Gadis pelayan kafe berkata Jae Chan datang lebih pagi akhir-akhir ini. Jae Chan mulai menyebut pesanannya namun pelayan kafe berkata si gadis berambut pendek sudah memesannya. Sekarang gadis itu sedang ke toilket dan akan segera kembali.

Jae Chan terkejut karena Hong Joo juga datang sepagi itu. Si pelayan berkata Hong Joo selalu mencari Jae Chan namun mereka tidak pernah bertemu jadi ia memberitahu Hong Joo untuk datang lebih pagi.

Hong Joo masuk dengan kesal sambil melihat jamnya. Namun ia tidak melihat Jae Chan karena Jae Chan cepat-cepat bersembunyi. Lucunya, Jae Chan tidak pergi. Ia malah duduk mengamati Hong Joo. Hong Joo terus menerus mencari Jae Chan dari orang yang lalu lalang di luar kafe. Ia terlihat kecewa setiap kali tidak melihat sosok Jae Chan.

snap-00017snap-00021

Jae Chan menghela nafas panjang dan akhirnya duduk di sebelah Hong Joo. Hong Joo sangat senang dan langsung menyerahkan kopi Jae Chan. Jae Chan berkata apa Hong Joo sekarang menjadi penguntitnya? Apa Hong Joo tidak punya kerjaan lain?

Hong Joo membenarkan. Ia bertanya apakah Jae Chan selalu rapat pagi akhir-akhir ini. Ia tidak tahu Jae Chan pergi sepagi ini hingga membuang-buang waktu beberapa hari ini.

“Kau bilang kau sedang cuti. Apa tidak sebaiknya kau kembali?”

“Kalau begitu kau tidak akan bisa melihatku sering-sering. Apa kau ingin begitu?”

“Ya, sangat ingin,” kata Jae Chan.

“Maaf, tapi aku lebih senang melihat wajahmu daripada bekerja.”

Tapi Jae Chan bertanya apakah alasannya karena Hong Joo tidak ingin kembali bekerja. Pertanyaan yang tepat sasaran karena seketika itu juga raut wajah Hong Joo berubah muram.

“Aku bukannya tidak ingin kembali. Aku sebaiknya kembali atau tidak?”

“Kenapa kau tanya padaku?”

Hong Joo berkata ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sebagian dirinya ingin kembali namun sebagian lagi tidak.

“Jadi kau yang memutuskan, aku akan melakukan sesuai perkataanmu. Aku sebaiknya kembali atau tidak?”

Jae Chan bertanya apakah pekerjaan menjadi reporter penuh tekanan hingga Hong Joo begitu tidak ingin kembali. Hong Joo berkata sebaliknya ia sangat ingin kembali.

Di rumah, saat membereskan kamar Hong Joo, ibu menemukan surat permintaan untuk kembali bekerja.

snap-00024snap-00026

Begitu tiba di kantor, Jae Chan langsung disapa Yoo Bum yang memujinya...entah menyindir...kalau Jae Chan terlihat hebat. Dengan enteng Jae Chan menjawab kalau ia memang terlahir dengan wajah tampan. Ok deh XD

Yoo Bum bertanya apa Jae Chan mengencani seseorang. Tentu saja, jawab Jae Chan. Yoo Bum terkejut.

“Aku berkomitmen pada kasus-kasusku.”

Mereka tiba di depan lift. Begitu lift terbuka, ternyata isinya hampir penuh dengan para asisten jaksa termasuk Investigator Choi. Mereka langsung menyapa Yoo Bum dengan ramah. Heran deh...padahal kan mereka sudah tahu kalau Yoo Bum ini memanipulasi bukti >,<

Yoo Bum melangkah masuk ke dalam lift. Ia mengajak Jae Chan masuk. Jae Chan menolak. Tapi Yoo Bum terus menerus memaksa membuat orang lain kesal karena Jae Chan terus menolak. Harusnya kesal sama yang memaksa atau yang menolak? Jae Chan terpaksa masuk dan berdesak-desakkan dengan mereka semua.

Yoo Bum bertanya apakah Jae Chan sudah membuat kemajuan. Ia berkata dulu ia sangat cepat melakukan segala sesuatu.

“Aku hanya perlu sebulan untuk...”

“Cukup..di sini banyak orang,” Jae Chan mengingatkan, mengira Yoo Bum membicarakan Hong Joo.

Tapi ternyata Yoo Bum berkata ia diberi penghargaan sebagai jaksa hanya dalam waktu sebulan. Ia bertanya pada semua orang di lift apakah itu hal yang tidak pantas dikatakan di depan mereka. Tentu saja mereka menjawab tidak.

“Kau pasti berpikir aku membicarakan tentang kemajuan yang lain. Tentang Nam Hong Joo-sshi?” tanyanya sinis.

Yoo Bum keluar dari lift lebih dulu dan sempat-sempatnya berkata kalau ia juga jauh lebih cepat dalam masalah Hong Joo daripada Jae Chan. Kau sebaiknya meningkatkan permainanmu, katanya penuh arti.

snap-00346snap-00349

Para asisten jaksa berbisik-bisik membicarakan kata-kata Yoo Bum. Apakah artinya rumor yang beredar selama ini benar bahwa Jae Chan merebut kekasih Yoo Bum?

“Aku bisa mendengar semua,” kata Jae Chan.

Hyang Mi meminta Jae Chan menjelaskan rumor tersebut. Investigator Choi setuju, rumor akan lepas kendali jika dibiarkan. Tapi Jae Chan berkata semakin ia mencoba beralasan, justru rumor itu akan semakin lepas kendali.

Salah satu dari mereka bertanya seperti apa Hong Joo itu. Tidak tahu, jawab Jae Chan. Hyang Mi mengenali nama Hong Joo sebagai pemilik Hong Joo Samgyeopsal. Karena semur kimchinya sangat enak. Tapi mereka belum pernah melihat Hong Joo. Hanya saja kabarnya ia sangat cantik dan pintar.

Investigator Choi bertanya apakah pintar dan cantik seperti Jaksa Shin Hee Min. Jaksa Shin yang tersembunyi di belakang tersenyum mendengarnya.Tentu saja tidak, kata Jae Chan. Senyumnya lenyap.

“Tidak mungkin Jaksa Shin terkena rumor seperti itu,” kata Hyang Mi.

“Itulah maksudku. Dia tergolong cantik hanya jika dibandingkan dengan orang rata-rata seperti kita,” kata asistennya sendiri. “Nam Hong Joo-sshi itu kelasnya tersendiri. Orang seperti kita tidak akan berani bersaing dengannya.”

Asisten lain membenarkan. Yoo Bum sendiri berkata kalau Hong Joo tipe sulit diraih...benar-benar terdengar seperti femme fatale (wanita yang menggoda pria dengan kecantikan dan kepintarannya). Jae Chan sampai tersedak mendengarnya.

snap-00035snap-00037

Dan sang femme fatale sedang mengacungkan anatomi ayam dari sisa tulang ayam goreng pada pemilik kedai ayam goreng. Si pemilik kedai juga tidak heran lagi karena bukan kali ini saja Hong Joo mengajukan protes. Protes apa? Protes karena ia beli satu ayam goreng utuh tapi setelah dikumpulkan tulangnya ternyata ada yang kurang. Kali ini sebelah tulang paha tidak ada. Padahal itu bagaian terenak setelah sayap.

Si pemilik kedai tidak terlalu menanggapi serius protes Hong Joo. Ia bukan mesin jadi mungkin saja ada potongan yang terbawa box lain. Ia berkata akan lebih berhati-hati lagi mulai sekarang.

Hong Joo tidak menyerah. Ia berkata ia sudah memesan 26 ayam goreng dari tempat ini. Kalau ada yang terbawa ke kotak lain, pasti ada kotak yang isinya lebih kan?

“Tapi apa kau tahu? Aku tidak pernah dapat potongan lebih. Dalam menu disebutkan satu ayam utuh. Lalu kenapa aku tidak pernah mendapat satu ayam utuh? Ke mana potongan-potongan yang hilang itu? Apa mereka dijadikan satu lalu dijual sebagai ayam utuh?”

Si pemilik kedai mulai kesal karena melihat pelanggan lain mulai berkasak-kusuk mendengar protes Hong Joo. Ia berkata ia bisa menuntut Hong Joo karena tanpa bukti merusak bisnis orang lain.

snap-00049snap-00050

“Kau ingin bukti? Aku punya bukti kuat. Aku merekam video saat ayam goreng itu datang,” Hong Joo merogoh kantung mencari ponselnya. Sama sekali tak menyadari kedatangan ibunya.

Ibu menjewer Hong Joo. Tadi ia menyuruh Hong Joo belanja untuknya tapi malah keliaran ke sini.

“Aku melahirkan gadis ini, tapi aku tidak bisa mengerti dia. Never mind. Sorry. It seems to be the hardest work,” ibu meminta maaf pada pemilik kedai.

Pemilik kedai tertawa dan mengiyakan. Ibu menarik Hong Joo keluar sementara Hong Joo berkata ia akan terus mengawasi si pemilik kedai.

“Untuk apa kau mengawasinya,” ujar ibu sambil terus menarik Hong Joo. “Kau ini Terminator atau apa?”

snap-00058snap-00059

Di restoran, ibu bertanya sebenarnya ada apa dengan Hong Joo. Kenapa Hong Joo membuat keributan di sana?

“Benar. Bodoh, bukan? Aku biasanya mengunjungi jaksa, polisi, pejabat untuk bekerja. Aku tidak percaya aku berusaha mengungkap korupsi ayam goreng. Bakat yang terbuang sia-sia. Aku membuang bakatku dari jendela.”

Jadi apa kau akan kembali bekerja, ibu mengeluarkan surat yang ia temukan di kamar Hong Joo. Ia berkata jelas ia melihat surat itu karena Hong Joo sepertinya sengaja menaruhnya di sana untuk ia lihat. Ia bertanya apakah Hong Joo akan kembali bekerja. Hong Joo mengiyakan.

“Kau bilang kau melihat dirimu tewas sebagai seorang reporter dalam mimpimu dan kau terlalu takut untuk tetap bekerja. Kau berjanji pada Ibu bahwa kau akan membantu Ibu saja di sini. Kenapa hatimu berubah? Apa yang terjadi?”

Hong Joo berkata bukan hatinya yang berubah tapi karena masa depan mungkin berubah. Ibu berkata Hong Joo sendiri yang mengatakan masa depan tak bisa diubah. Bahwa mengetahui apa yang akan terjadi tidaklah mengubah apa-apa.

Tapi Hong Joo berkata ia tahu sekarang kalau masa depan bisa diubah. Dari Jae Chan yang menyelamatkan mereka berdua.

“Jadi kau akan bergantung padanya dan kembali bekerja? Apa ia bilang akan menyelamatkanmu? Akan melindungimu?” tanya Ibu marah.

“Tidak juga. Tapi jujur saja, kenapa aku tidak bisa mengubah depanku sementara ia bisa?”

Ibu berkata Hong Joo tidak bisa. Tidak akan bisa. Hong Joo protes kenapa ia tidak bisa. Jae Chan tidak lebih kompeten darinya.

“Ia lebih kompeten dari padamu dalam banyak hal,” kata Ibu dengan suara meninggi.

“Bu, aku ini anak Ibu. Ibu lebih percaya padanya?” Hong Joo tersinggung.

“Benar. Di mata ibu, kau lebih lemah dan tidak bisa diandalkan dibanding dirinya. Kau lebih membuat ibu khawatir. Dan kau....jauh...jauh lebih berharga bagi ibu. Kau satu-satunya yang ibu miliki di dunia ini. Jadi jangan tinggalkan ibu.” Ibu mengulang perkataan Hong Joo seperti saat Hong Joo bermimpi ibunya meninggal.

Hong Joo sangat mengerti perasaan itu. Ia mengiyakan. Ibu dan anak berpelukan dengan erat.

Woo Tak berdehem. Ia dan Kyung Han datang untuk makan samgyeopsal karena harus berpatroli pagi ini. Lagi?

snap-00068snap-00071

Masih ingat dengan reporter yang menjadi saksi kasus ayah So Yoon? Reporter yang menelepon polisi saat menyadari ibu So Yoon pingsan karena banyak jejak sepatu di pakaiannya. Ternyata ia adalah reporter senior yang biasa bekerja bersama Hong Joo. Namanya Bong Du Hyun. Dan ia seorang reporter yang sangat teliti karena tidak mau memberitakan hal yang salah. Termasuk jumlah massa yang berdemo pun ia hitung karena polisi dan penyelenggara demo mengatakan jumlah yang berbeda. Heeee...sound familiar ;p

Kapten mereka berkata Hong Joo seharusnya kembali bekerja minggu depan. Apa Hong Joo akan kembali bekerja. Du Hyun berkata kenapa tanya padanya. Ia sibuk menghitung seakan tak peduli. Kapten berkata ia perlu tahu berapa banyak orang yang membutuhkan seragam. Du Hyun kan atasan langsung Hong Joo.

Du Hyun terus menghitung. Kapten kesal hingga ia mengacaukan hitungan Du Hyun. Ia bertanya lagi apakah Hong Joo akan kembali bergabung. Du Hyun malah kembali menghitung dari satu.

snap-00075snap-00359

Jae Chan dan para jaksa baru selesai rapat bersama Asisten Kepala Park dan akan pergi makan siang. Kali ini giliran Jae Chan yang menentukan tempatnya. Belum juga Jae Chan sempat berbicara, Jaksa Son (seorang wanita yang lebih senior dari Hee Min) protes pada Asisten Kepala Park karena kasus tabrak larinya tidak disetujui.

Asisten Kepala Park berkata alasannya adalah karena kurangnya bukti. Dalam kasus itu, Jaksa Son hendak menuntut penumpang kendaraan karena membantu dan mendorong mengemudi dalam pengaruh alkohol. Jika diajukan ke pengadilan pun pasti akan kalah. Itu yang terjadi pada kasus bulan lalu.

Tapi Jaksa Son tidak puas. Tahun lalu kasus yang sama dijatuhi hukuman percobaan di propinsi yang lain. Dan di Jepang malah dijatuhi hukuman 2 tahun. Jaksa Lee (pria berkacamata) bertanya apa kasus Jaksa Son sama dengan kasus di Jepang.

Sama...malah sebenarnya jauh lebih buruk. Jadi penabrak dan penumpang minum bersama sampai mabuk. Penumpang mengambil kunci dari valet service lalu menyerahkan kuncinya pada temannya yang juga mabuk ditambah perkataan ia tahu bagaimana cara menghindari polisi. Jadi si penumpang ini yang menyebabkan kecelakaan.

Ia mendorong pengemudi untuk mengemudi meski dalam pengaruh alkohol. Dalam kecelakaan itu, sepasang suami istri meninggal dunia. Putera mereka yang berusia 9 tahun harus memakai kantung kolostomi sepanjang sisa hidupnya. Semua ini tidak akan terjadi jika penumpang melarang pengemudi untuk mengemudi.

Jaksa Son berkata sebenarnya tuntutannya lebih ringan dari yang seharusnya penumpang itu terima.

Tapi Asisten Kepala Park tidak sependapat. Si penumpang tidak mengemudi. Ia hanya menyerahkan kunci mobilnya. Mereka sebagai jaksa tidak bisa mengubah orang tak bersalah menjadi kriminal.

Jaksa Son protes kertas. Asisten Kepala Park juga tidak menyerah. Melihat keadaan makin panas, Jaksa Lee menyarankan mereka makan siang lebih dulu. Ia bertanya pada Jae Chan ke mana mereka akan makan.

Jae Chan dengan bangga berkata hari ini mereka akan makan tonkatsu di seberang jalan. Tapi Hee Min beralasan Asisten Kepala Park minum-minum semalam dan perlu menyembuhkan sisa mabuknya. Ia menyarankan mereka makan siang di Hong Joo Samgyeopsal. Dia sih penasaran ingin lihat Hong Joo yang kabarnya cantik dan pintar ;p

snap-00351snap-00354

Jaksa Lee berkata tempat itu terlalu jauh. Lebih baik mereka makan di restoran yang lebih dekat dengan kantor. Well, yang memutuskan tentu saja Asisten Kepala Park. Mereka akan pergi ke Hong Joo Samgyeopsal.

Sementara itu Woo Tak dan Kyung Han sudah selesai makan. Kyung Han pergi ke kasir untuk membayar sementara Woo Tak berbicara dengan Hong Joo yang sedang membereskan meja. Woo Tak berkata ia berusaha menganalisi mimpi mereka bertiga.

“Kau sepertinya melihat berbagai macam orang dalam mimpimu. Tapi akhir-akhir ini Jae Chan sering muncul dalam mimpimu. Sepertinya Jae Chan biasa bermimpi tentang dirimu. Sementara aku lebih banyak bermimpi tentang dia (Jae Chan).”

Hong Joo juga baru menyadari itu dan merasa itu aneh. Woo Tak yakin pasti ada aturannya. Hong Joo yang pertama bermimpi, lalu Jae Chan, lalu dirinya. Seperti penyakit menular, Hong Joo adalah yang pertama terinfeksi. Tapi jelas tidak menular melalui udara atau sentuhan fisik. Jika tidak pasti lebih banyak orang yang terkena.

“Hei, kau anggap aku ini sakit?” kata Hong Joo sedikit tersinggung.

Woo Tak berkata ia hanya menggunakan analogi untuk menjelaskan lebih baik. Ia bertanya apa Hong Joo tak menyukai mimpi-mimpi itu. Hong Joo mengiyakan. Ia bertanya-tanya apa ia melakukan dosa besar di kehidupan sebelumnya. Ini pasti semacam hukuman.

Tapi Woo Tak berpikir sebaliknya. Hong Joo pasti menyelamatkan negara atau semacamnya di kehidupan sebelumnya. Jika mereka bisa menemukan aturannya, mereka akan bisa mencegah berbagai kejahatan dan bencana.

“Tunggu dulu. Bagaimana jika aku melihat perang atau teroris menyerang dalam mimpiku? Hong Joo, kita harus menguasai bahasa asing uintuk mencegah bencana tingkat dunia. Aku bisa bicara sedikit bahasa Jerman.,” celoteh Woo Tak. Sementara Hong Joo geleng-geleng kepala menganggap itu tak masuk akal.

Ibu melihat mereka berdua dan tersenyum. Ia berkata pada Kyung Han kalau Woo Tak seornag yang sopan. Apalagi tadi ia melihat Woo Tak membantu Hong Joo membereskan peralatan. Dan juga tampan. Ia menambah satu skor untuk Woo Tak.

snap-00087snap-00090

Kyung Han menyombong semua itu karena ia yang mengajarinya. Woo Tak itu persis dengannya hingga orang selalu menyangka ia adalah adiknya dan berkata ia membesarkan Woo Tak dengan baik. Ibu hanya mengangguk-angguk. Ia mengiyakan ketika Kyung Han berhutang dulu.

Hong Joo melihat Woo Tak sangat bersemangat dan bertanya apa Woo Tak menyukai mimpi-mimpi itu. Woo Tak mengiyakan.

“Bagaimana jika kau bermimpi mengenai kematianmu?” tanya Hong Joo.

Ibu langsung melihat mereka. Woo Tak meminta Hong Joo tak membicarakan hal seburuk itu. Tapi Hong Joo berkata Woo Tak adalah seorang polisi. Bagaimana jika Woo Tak melihat dalam mimpi dirinya tewas saat menangani suatu kasus sulit?

“Apa kau akan berhenti bekerja?”

“Apa kau gila? Apa kau tahu apa yang harus kulalui untuk menjadi seorang polisi?”

“Tapi kau bisa mati.”

“Kalau begitu aku hanya perlu mengubah masa depanku. Masa depan bisa diubah,” kata Woo Tak yakin.

“Benarkah? Kau benar-benar berpikir seperti itu?” tanya Hong Joo penuh harap.

snap-00098snap-00099

“Keluar!!!” tiba-tiba ibu membentak.

Woo Tak terkejut. Tambah terkejut ketika ibu memukulnya dan mengusirnya keluar. Kasian Woo Tak L

Hong Joo mengerti kenapa ibunya seperti itu. Tapi Woo Tak bingung dan bertanya pada Kyung Han apa ia telah mengatakan sesuatu yang salah. Kyung Han berkata sepertinya ibu Hong Joo marah padanya karena ia hendak berhutang dulu.

Woo Tak dan Kyung Han naik ke mobil mereka lalu pergi. Jae Chan sempat melihat mereka saat ia hampir tiba di restoran Hong Joo.

Ibu mencoret habis skor Woo Tak.

snap-00100snap-00103

Ketika melihat Jae Chan, ibu langsung menyapa ramah. Jaksa Lee berkata sepertinya Jae Chan mengenal pemilik restoran ini dengan baik. Tentu saja, kata Hong Joo. Jae Chan adalah pelanggan mereka.

“Jadi rumor kalian berdua itu benar?” tanya Hee Min.

“Tidak benar,” Jae Chan cepat-cepat menjawab.

Hee Min bertanya apa mereka bisa mendapat minum gratis karena Jae Chan pelanggan tetap. Jaksa Son berkata orang yang meminta minum atau makanan pembuka gratis di restoran terlihat sangat murahan. Rupanya ia masih kesal karena Hee Min tadi juga setuju dengan pendapat Asisten Kepala Park mengenai kasusnya.

“Dia pasti Nam Hong Joo-sshi. Dia sangat cantik, juga terlihat sangat pintar. Bagaimana aku menggambarkannya? Tipe femme fatale?” sindir Hee Min.

Jae Chan menatapnya dengan kesal. Menyadari Hee Min juga tadi ada di lift.

snap-00108snap-00109

Waktunya berdoa. Lagi-lagi doa mereka menjadi doa saling melancarkan protes. Assiten Kepala Park berdoa agar para jaksa diberi kebijaksanaan untuk menangani kasus dengan adil sementara Jaksa Son berdoa bahwa orang yang menyebabkan kecelakaan dan yang membiarkan kecelakaan terjadi adalah pendosa. Ia “berdoa” agar mereka yang tidak mencegah kecelakaan itu juga dihukum.

Dalam “doanya” Hee Min berkata kecelakaan adalah tindak kelalaian/kesalahan, jadi tidak mungkin ada yang membantu atau mendorong. Jadi mereka tidak bisa menuntut orang itu.

Jaksa Lee memotong dalam “doanya” kalau mengemudi di bawah pengaruh alkohol bisa menyebabkan kecelakaan. Kecelakaan itu bisa dicegah. Orang yang mengabaikan itu semua pantas dihukum. Karena itu hukum ada.

Jae Chan? Ia sibuk membagikan peralatan makan dengan pelan-pelan agar “doa” mereka tidak terganggu.

snap-00110snap-00112

Asisten Kepala Park menanggapi jika jalan pemikirannya seperti itu, berarti semua orang yang tidak menyumbang untuk anak kelaparan juga layak dihukum. Jaksa Son berdoa agar mereka diselamatkan dari orang yang berusaha mengalihkan masalah utama. Asisten Kepala Park akhirnya mengeluarkan senjatanya. Bahwa di negara ini, menghormati orang yang lebih tua adalah sebuah keharusan.

Jaksa Son tak tahan lagi dan membuka matanya. Doa mereka pun bubar. Ia protes dengan doa Asisten Kepala Park. Menghormati orang tua itu ajaran Konfusius. Err...di semua agama juga ada kaleee... Assiten Kepala Park berkata semua agama harus bersatu demi kedamaian dunia. Jaksa Son cemberut.

Jaksa Lee mengusulkan agar adil mereka melakukan voting. Siapa yang beranggapan penumpang juga harus dihukum, angkat tangan! Jaksa Son dan Jaksa Lee angkat tangan. Sebaliknya, siapa yng tidak setuju? Asisten Kepala Park dan Hee Min.

snap-00119snap-00121

Semua menoleh pada Jae Chan yang tidak mengangkat tangannya sama sekali. Ia berkata kedua pihak memiliki argumen yang kuat jadi ia memerlukan waktu lebih banyak untuk memikirkannya.

“Jangan khawatirkan apa yang orang lain pikirkan. Jujur saja. Mundur adalah tindakan pengecut. Benar, kan?” kata Hee Min pada Hong Joo.

“Kenapa kau tanya padaku?” tanya Hong Joo.

Hee Min berkata ia penasaran apakah hanya dirinya yang menganggap tindakan Jae Chan itu pengecut. Hong Joo menuangkan minuman untuk mereka. Ia berkata berdoa seperti tadi saja sudah melawan hak kebebasan beragama yang seharusnya dihormati oleh para pejabat masyarakat.

Hee Min berkata mereka berempat orang Kristen. Tidak mungkin, kata Hong Joo. Di Korea populasi orang Kristen hanya 20%. Jadi kemungkinan mereka berempat sama-sama Kristen itu bahkan lebih tidak mungkin dari melihat pelangi dobel. Dengan kata lain, tidak mungkin.

“Aku bertaruh beberapa dari kalian menyembunyikan agama kalian yang sebenarnya untuk memastikan kalian tidak melawan atasan.”

Diam-diam Jaksa Lee menyembunyikan gelang Buddhisnya. Hong Joo berkata justru tidak ikut berdoa menunjukkan kalau orang itu tidak takut menyatakan keyakinannya. Ia menatap Jae Chan yang balas menatapnya.

“Aku tidak berpikir ia takut atau khawatir dengan apa yang orang lain pikirkan. Ia pasti berpikir keras mengenai apa yang benar untuk ia lakukan. Ia lebih berhati-hati dibanding kalian semua. Apa itu menjawab pertanyaanmu?” Hong Joo berbalik pergi sambil mengibaskan rambutnya.

Jae Chan tersenyum. Jaksa Lee bertanya siapa Hong Joo, sangat pintar bicara. Hee Min terdiam tampak sedikit malu. Asisten Kepala Park berkata gaya bicara Hong Joo terdengar familiar.

snap-00124snap-00128

“Nam Hong Joo!!” serunya saat mereka baru melangkah kembali ke lobi kantor kejaksaan. Semua kaget.

Asisten Kepala Park berkata wanita di restoran tadi adalah reporter SBC. Awalnya ia tidak mengenalinya karena rambutnya sekarang pendek. Tapi suaranya familiar. Jae Chan jadi penasaran dan bertanya Hong Joo itu reporter seperti apa.

“Dia adalah seorang yang tangguh. Ia selalu mencuri tempat terbaik setiap kali kami mengawal tersangka dan membombardir kami dengan pertanyaan. Suaranya juga sangat keras. Ia selalu berteriak sekuat tenaga.”

Ia berkata kasus mengenai seorang asisten kepala jaksa melecehkan seorang jaksa perempuan dalam sebuah makan malam membuat semua orang terkejut. Peristiwa itu terjadi 2 tahun lalu di daerah lain. Hong Joo lah yang membuat orang itu dipecat.

“Lalu tiba-tiba ia menghilang ditelan bumi. Kukira ia dikirim ke luar negeri untuk menjadi koresponden.”

Hee Min berkata Hong Joo memiliki karir bagus, lalu kenapa ia sekarang bekerja di restoran? Asisten Kepala Park berkata ia juga ingin tahu karena Hong Joo tidak mungkin berhenti jadi reporter. Ia akan mencari informasi.

snap-00134snap-00138

Hong Joo menghela nafas panjang sambil mengupasi bawang. Ia melihat Du Hyun membawakan berita dan ia kembali menarik nafas panjang. Ia teringat bagaimana para jaksa tadi berdebat. Nampaknya ia merindukan suasana kerja.

Karena teralihkan, tak sengaja ia melukai jarinya dan mengaduh. Ibunya menghampirinya. Tanpa ditahan air mata Hong Joo keluar. Bukan karena lukanya, tapi karena kerinduannya pada pekerjaannya.

Ia beralasan bawang-bawang itu yang membuat matanya pedih. Ia berjalan keluar dari restoran. Sepertinya ibunya tahu bukan bawang itu penyebabnya.

Hong Joo berdiri di seberang gedung SBC. Masih dengan celemek dari restoran ibunya. Ia menatap gedung itu...yang terlihat dekat namun terasa sangat jauh. Kakinya ingin melangkah namun ia tetap terpaku.

snap-00143snap-00149

Komentar:

Aku senang drama ini memperhatikan hal detil. Termasuk tulang ayam yang tadinya kukira tidak dibuang Hong Joo karena ia malas atau jorok, tapi ternyata ia sedang mengumpulkan bukti korupsi kedai ayam goreng.

Dan makin senang ketika mengetahui Hong Joo adalah seorang yang kompeten dalam pekerjaannya. Sangat kompeten malah melihat bagaimana ia bisa membungkam para jaksa itu. Benar-benar bakat yang terbuang sia-sia.

Dari awal kita hanya melihat Hong Joo yang bolak balik halte bis dan kafe demi bertemu Jae Chan. Tapi ternyata ia menyimpan potensi sangat besar. Selama ini ia bersembunyi di balik keceriaannya.

Ia takut untuk bekerja karena mimpinya. Sama seperti ia takut memanjangkan rambutnya. Dan sekarang ia memiliki harapan karena tragedi masa depan bisa diubah setelah kehadiran Jae Chan dan Woo Tak. Terutama Jae Chan.