Rabu, 08 Juni 2016

Sinopsis Mirror of The Witch Episode 7


Yo Gwang terkejut saat tidak menemukan Seo Ri di dalam kuil Chungbing dan juga jimat-jimat yang sudah terbakar. Ia menyadari Seo Ri sudah keluar dari perlindungan jimat-jimat itu.

Seo Ri berjongkok melihat Heo Jun yang tak sadarkan diri. Ia mengenali Jun. Ia lega Heo Jun masih hidup. Ia cepat-cepat berdiri dan memalingkan wajahnya ketika Jun bergerak.

Jun membuka matanya sedikit dan melihat Seo Ri. Namun untuk saat ini ia tidak mengenalinya. Lalu kembali jatuh pingsan.

Seo Ri menemukan lonceng kecil di dalam tas yang terjatuh bersama Heo Jun. Ia membunyikannya.


Bunyi lonceng itu terdengar oleh anak buah Hong Joo yang sedang mencari-cari Seo Ri. Untungnya Yo Gwang juga mendengar suara lonceng tersebut dan menemukan Seo Ri lebih dulu. Ketika anak buah Hong Joo tiba di sana, mereka hanya menemukan tas Poong Yeon.

Mereka melapor pada Hong Joo. Hong Joo memerintahkan agar daerah tersebut diawasi dan mereka harus menemukan Seo Ri lalu membawanya kepadanya hidup-hidup.

“Tunggu sebentar lagi, Yang Mulia Pangeran, aku akan mempertemukanmu dengan adikmu segera,” katanya pada roh PM yang bergetar di dalam pot.


Yo Gwang dan Seo Ri membawa Heo Jun ke kuil Chungbing. Heo Jun masih belum sadar. Yo Gwang mengeru Seo Ri yang sudah berani keluar. Semua usaha mereka akan sia-sia jika Seo Ri tertangkap. Apa itu yang Seo Ri inginkan? Seo Ri terdiam.

Yo Gwang berkata Seo Ri tidak boleh lagi keluar dari kuil Chungbing. Seo Ri mengangguk pelan. Ia sebenarnya tidak berniat membawa Heo Jun ke sini tapi mereka sedang buru-buru.

“Siapa dia? Apa kau mengenalnya?” tanyanya.

“Tidak. Aku tidak kenal siapa dia,” Seo Ri berbohong.

Yo Gwang tidak begitu percaya. Kalau begitu kenapa Seo Ri bisa bersama Heo Jun? Seo Ri berkata ada yang hendak ia tanyakan pada Jun. Ia akan mengeluarkan Jun setelah mendengar jawabannya. Yo Gwang berkata mereka akan mengeluarkan Jun setelah keadaan di luar lebih aman. Seo ri mengerti.

Yo Gwang teringat pada rangkaian jimat yang sudah terbakar. Tapi ketika ia tiba di pintu keluar, semua rangkaian itu telah kembali seperti sedia kala. Yo Gwang kebingungan.


Poong Yeon mengasai saat Heo Ok dan anak buahnya memeriksa bawah tebing tempat Heo Jun terjatuh. Ia ternyata ingat kalau Heo Jun adalah orang yang bersama Yeon Hee malam itu di istana.

Heo Ok bersikap kurang ajar seperti biasanya pada Poong Yeon karena tidak tahu siapa Poong Yeon. Ia tidak percaya Jun jatuh dari tebing itu dan hilang. Orang yang jatuh dari ketinggian seperti itu pasti sudah mengalami patah tulang atau semacamnya, tapi mereka tidak menemukan apapun.

Poong Yeon bertanya apa Heo Ok yakin kalau Heo Jun adalah Si Jubah Merah. Heo Ok mengomel Poong Yeon yang sudah mengacaukan semuanya. Berani-beraninya Poong Yeon meragukannya, memangnya siapa dia?

Sol Gae sudah hampir mengeluarkan pedangnya jika tidak ditahan Poong Yeon. Poong Yeon mengeluarkan tanda pengenalnya.

“Aku Poong Yeon, petugas yang melayani keluarga kerajaan.”

Heo Ok langsung ketakutan dan meminta maaf. Poong Yeon berkata ia juga sedang mengejar Si Jubah Merah, karena itu ia bertanya apakah Heo Ok yakin.

“Semua bukti terkait dengan korban terakhir mengarah pada pria tesebut. Apa lagi yang tidak lebih meyakinkan?” ujar Heo Ok.

Poong Yeon berkata Jun sepertinya tidak ada di daerah sini. Ia memerintahkan Heo Ok membawa petugasnya memeriksa sepanjang sungai. Ia sendiri bersama Sol Gae memeriksa lebih lanjut ke sekitar sana. Mereka menemukan tas Poong Yeon. Poong Yeon memeriksa tasnya dan terkejut saat tahu hanya loncengnya yang hilang.


Heo Jun akhirnya sadarkan diri. Ia melihat berkeliling dan terheran-heran melihat tempat aneh tersebut. Kepalanya sempat terantuk hingga ia yakin kalau dirinya masih hidup dan bukan berada di kehidupan setelah kematian.

Ia melihat kantung-kantung herbal yang berderet, juga botol-botol ramuan di meja.
“Ramuan Kepintaran,” katanya membaca label sebuah botol ramuan.

Ia mencari tahu isi ramuan tersebut pada buku yang ada di sana. Mauigeumseo. Ramuan kepintaran artinya orang yang meminumnya tidak akan pernah lupa apa yang pernah dilihatnya.

Jun tak percaya dan mengira orang yang membuatnya adalah penipu yang lebih parah dari dirinya. Ia tertarik dengan buku itu dan melihat judulnya. Buku Sihir Kutukan (Mauigemseo).  Jun mulai berpikir jangan-jangan ramuan itu benar,  bukan palsu.
Ia meminumnya. Setengah botol, tidak ada reaksi. Jun meminum sampai habis.

“Apa ini? Rasanya menjijikkan,” omelnya. Karena tidak ada reaksi ia pikir ramuan itu palsu seperti yang ia duga.


Namun tiba-tiba ia merasa sangat pusing. Ia mengambil Maugemseo dan mulai membaca semua lembarannya.  Semua tulisan di sana seakan terserap oleh otak Heo Jun.

“Sebelum Bintang Utara menghilang, nyalan semua lilin untuk mematahkan kutukan…” Heo Jun membaca halaman terakhir. Tapi ia merasa buku itu belum selesai dan masih membutuhkan satu halaman terakhir.

Ia mengendus-endus dan mencium bau gosong. Ternyata lengan bajunya terbakar karena terkena lilin. Jun melompat kaget dan melempar buku di tangannya. Buku itu jatuh dan terkena api hingga terbakar.


Yo Gwang yang mendengar keributan Heo Jun langsung menghampiri. Mereka berdua panik mencari air. Yo Gwang hendak mengambil air dari sungai di dalam kuil, tapi Jun malah melempar buku itu ke dalam air. Yo Gwang melongo.

Jun meminta maaf dan beralasan api bisa semakin besar. Untung ada air di dalam sana. Lalu ia mengambil buku itu dengan menggunakan pancingan. Hancur dah bukunya >,<

Seharusnya mereka berhati-hati karena begitu banyak lilin di dalam sana, nasihat Heo Jun. Yo Gwang menghunus pedangnya ke leher Jun. Ia berkata Jun sudah melakukan kesalahan yang bahkan tidak bisa dibayar dengan nyawanya. Jun ketakutan dan meminta maaf.


Seo Ri menghampiri mereka. Ia mengenakan penutup wajah agar Jun tidak mengenalinya. Yo Gwang malah lebih takut pada Seo Ri dan berdiri di depan Jun agar Seo Ri tidak melihat buku yang hancur itu.

Tapi Seo Ri malah makin curiga dengan sikap mereka. Apalagi ia mencium bau hangus. Jun menunjukkan lengan bajunya yang terbakar. Tapi Seo Ri bisa melihat Jun menyembunyikan sesuatu. Ia mendorong Yo Gwang dan  terus mendekati Heo Jun.

“Kau Nona yang menyelamatkanku, kan? Terima kasih banyak,” Jun berusaha mengalihkan perhatian.

Tapi buku yang hancur itu jatuh. Seo Ri terkejut melihatnya.


Dan jelas marah karena berikutnya Heo Jun digantung dengan tangan terikat. Kakinya masih berpijak di atas tong kayu. Belum lagi Yo Gwang menodongkan pedangnya ke lehernya.

“Kumohon dengarkan aku. Kalian berdua sedang tidak rasional saat ini. Mari kita bicarakan,” Ia memohon.

“Aku sudah menyelamatkanmu. Inikah balasanmu? Apa kau tahu seberapa pentingnya buku itu?” kata Seo Ri marah.

“Ketahuilah…tindakan bodohmu telah membuat nyawa seseorang dalam bahaya,” kata Yo Gwang. Ia menoleh pada Seo Ri seakan meminta ijin.

Jun gemetar ketakutan dan terus memohon. Seo Ri nampak ragu namun ia menguatkan hatinya dan berpaling pergi. Yo Gwang menendang tong kayu di bawah kaki Jun. Jun tergantung. Megap-megap hampir kehabisan nafas.


Dalam waktu genting itu, ia mulai mengucapkan isi Mauigeumseo. Resep ramuan-ramuan demi ramuan ia ucapkan. Mulai dari ramuan Tak Terlihat, ramuan Pelihat Hantu, hingga ramuan untuk Jatuh Cinta.

Seo Ri berhenti dan menoleh. Jun berkata jika mereka membunuhnya maka isi buku itu akan lenyap selamanya. Yo Gwang menegakkan kembali tong kayu untuk Jun berpijak.

“Aku sudah mengingat semua isi buku itu,” kata Jun.

Yo Gwang tentu tidak percaya. Tapi Jun menjelaskan ia meminum ramuan aneh di sana dan semua isi buku itu ada di kepalanya.

“Jangan-jangan kau minum ramuan Kepintaran?” tanya Yo Gwang.

“Jika buku itu begitu penting bagi kalian, tolong berikan aku kesempatan untuk meminta maaf,” kata Jun.

Yo Gwang hendak menjatuhkan tong kayu lagi tapi Seo Ri menahannya.  Jun mengucapkan kalimat terakhir isi Mauigeumseo mengenai kutukan. Ia tidak tahu arti kata-kata itu, tapi mereka yang akan rugi jika ia mati.

“Aku beri kau satu hari. Jika kau tidak bisa memulihkannya besok, maka aku akan menjatuhkanmu kembali dari tebing itu,” ujar Seo Ri.


Atasan Heo Ok marah besar saat Heo Ok melaporkan kalau ia kehilangan jejak Jun. Pasalnya ia sudah memberitahu Raja kalau mereka berhasil menangkap Si Jubah Merah.
Ia tidak mau tahu pokoknya Heo Ok harus menangkapnya hari ini karena nyawa mereka taruhannya.

“Entah itu sapi atau babi, kau harus membawanya. Jika kau melakukannya, maka kita akan diberi hadiah. Apa kau mengerti?” ujar si komandan.

Heo Ok menangis pada ibunya karena ia tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Ibunya malah nampak tenang dan berkata komandan sudah memberi mereka jalan keluar.

“Bukankah dia mengatakan pokoknya hari ini kau harus menyerahkan sesuatu, entah itu sapi atau babi?”

“Ibu tidak mengerti! Kami sudah mencari di tebing tapi kami tidak bisa menemukan Jun di manapun.”

“Kau ini sangat bodoh!! Untuk apa menemukan tubuhnya? Jika kau tidak bisa menemukannya, maka kau bisa membuatnya.”

Barulah Heo Ok mengerti.


Yo Gwang memberi sebuah tempat untuk Heo Jun bermalam di kuil Chungbing malam ini.  Jun bertanya apakah nona itu benar-benar bernama Seo Ri, karena ia merasa mengenalnya.

“Tidak mungkin. Tidak mungkin kau pernah melihat atau bertemu dengannya,” kata Yo Gwang.

“Apa isi semua buku itu benar?” tanya Jun lagi.

Ia langsung ketakutan ketika Yo Gwang memburu ke arahnya.

“Jangan penasaran dengan apapun di sini jika kau ingin hidup,” ujar Yo Gwang tegas.

Setelah Yo Gwang pergi, Jun menghela nafas lega. Giliran Seo Ri yang menemuinya. Seo Ri menyodorkan sebuah buku pada Jun untuk menulis ulang semua isi Mauigemseo. Tidak boleh kurang satu tanda titik pun.


Jun malah menatap Seo Ri yang mengenakan penutup wajah. Hanya dua mata Seo Ri yang terlihat, sama seperti pada pertemuan pertama mereka ketika Yeon Hee menyembunyikan wajahnya dengan tutup panci.

Ia mengambil buku tersebut. Jarinya tak sengaja menyentuh tangan Seo Ri. Ia berkata tangan Seo Ri sangat dingin.

“Seorang wanita seharusnya memiliki tubuh yang hangat. Ngomong-ngomong, kenapa kau menutup wajahmu? Apa tidak sesak? Tidak bisakah kau membukanya sebentar?” ia mulai berceloteh. Ia ingin melihat wajah Seo Ri yang sudah menolongnya dan berterima kasih.

Seo Ri menatapnya dengan tajam dan mengeluarkan lonceng kecil Poong Yeon. Ia bertanya apa itu lonceng Jun. Jun menggeleng. Ia baru pertama kali melihatnya. Ia tidak tahu benda apa itu.

“Kalau begitu kenapa ada bersamamu?” tanya Seo Ri.

Jun bingung. Ia yang membawanya? Dengan takut-takut ia bertanya apa ia juga harus tahu mengenai benda itu.

“Lupakan jika kau tidak tahu. Cepat kerjakan bukunya,” Seo Ri berbalik pergi.


Heo Ok membawa mayat yang sudah tidak bisa dikenali wajahnya dan mengatakan pada Poong Yeon kalau itu Si Jubah Merah, alias Heo Jun. Wajah mayat itu terlalu rusak hingga komandan polisi pun mual dan tak tahan melihatnya.

Poong Yeon tidak percaya begitu saja. Ia bertanya kenapa wajahnya bisa seperti itu. Heo Ok beralasan mungkin Jun jatuh dari tebing dnegan wajah membentu bebatuan. Ia yakin kalau itu Jun berdasarkan bentuk telinga dan hidungnya.

Poong Yeon melihat pundak mayat itu. Tidak ada bekas luka pedang. Ia ingat malam itu ia pernah melukai Si Jubah Merah di bagian pundak. Ia menatap Heo Ok dengan tajam.

“Sejujurnya orang ini memiliki dendam pada keluarga kami. Kurasa ia berkeliaran membunuh orang untuk menjatuhkan keluarga kami. Meski begitu ia tidak seharusnya mati,” Heo Ok pura-pura menangis.

Poong Yeon pergi tanpa mengatakan apapun.


Ia pergi melapor pada Raja Seonjo kalau mayat itu bukanlah Si Jubah Merah karena tidak ada bekas luka di pundaknya. Selain itu bentuk dan postur tubuh mayat itu berbeda dengan Si Jubah Merah. Raja sangat kecewa.

Namun pada rapat istana, Raja malah menaikkan pangkat Heo Ok menjadi petugas keluarga istana karena berhasil menangkap si pembunuh dan mengembalikan kedamaian pada rakyat. Heo Ok tentu saja sangat senang.

Raja memerintahkan agar kaki tangan mayat itu dipotong dan digantung di gerbang. Dengan begitu rakyat bisa merasa tenang. Dan juga ia memberi contoh agar hal seperti ini tidak terulang kembali.

Perintah itu dilakukan. Tubuh dan kaki tangan mayat itu digantung, lalu ditempel poster Heo Jun sebagai si Jubah Merah. Soon Deuk juga melihatnya dan mengenali itu gambar wajah Jun.


Poong Yeon tidak mengatakan apapun dalam rapat istana meski ia nampak tidak setuju. Setelah rapat, ia menghadap Raja dan bertanya kenapa Raja melakukan itu. Sudah jelas itu bukan Si Jubah Merah.

Raja berkata ia tidak peduli itu asli atau bukan. Baginya yang terpenting saat ini adalah mengendalikan sentimen publik. Rakyat sudah tidak mempercayai keluarga kerajaan. Apa yang akan rakyat pikirkan mengenai dirinya jika ia memberitahu mereka kalau ia gagal lagi menangkap si Jubah Merah?

“Tapi Yang Mulia sudah menipu rakyat,” ujar Poong Yeon.

“Menipu? Rakyat tidak peduli apakh itu Si Jubah Merah asli atau bukan. Mereka hanya memerlukan seseorang yang bisa mereka persalahkan, teriaki, dan lempari batu. Mereka ketakutan karena Si Jubah Merah. Jika kita mengatakan kita sudah menangkapnya, bukankah mereka bisa tidur dengan nyenyak?”

“Bagaimana jika pembunuhan terjadi lagi?” tanya Poong Yeon.

“Kita akan khawatirkan itu nanti.”

Poong Yeon berkata ia selalu menghormati dan mengagumi Raja. Tapi kali ini ia tidak bisa menerima keinginan Raja. Raja bisa menutup langit dengan kedua tangannya, tapi kebenaran tidak bisa ditutupi. Ia meminta agar kasus ini tetap diselidiki dan diusut sampai tuntas.

“Poong Yeon!” Raja bangkit berdiri namun rasa sakit kembali menyerangnya. Darah menetes dari lengan bajunya.


Poong Yeon berlari ke arah Raja. Ia hendak memanggil orang tapi Raja menghentikannya.
Tepat saat itu Ibu Suri datang. Poong Yeon cepat-cepat berlutut di hadapan Raja untuk menutupi darah yang berceceran di lantai.

Ibu Suri datang karena ia mendengar Si Jubah Merah sudah ditangkap. Ia terkejut melihat Poong Yeon berlutut sangat dekat dengan tahta Raja.

Raja meminta Ibu Suri tidak salah paham. Ia berkata Poong Yeon adalah sahabatnya dan mereka hanya mengobrol sebagai teman. Ibu Suri tidak percaya. Poong Yeon meminta maaf.


Ibu Suri menyuruh Poong Yeon turun tapi Raja terus memegangi Poong Yeon.

“Kalau begitu aku yang akan mendekat,” kata Ibu Suri. Ia naik ke atas mendekati tahta.

Raja berkata ini bukan hal yang serius. Ibu Suri berhenti mendekat dan bertanya apakah bisa diterima membiarkan tahta Raja didekati sembarang orang. Ia memanggil kasim kepala dan menegurnya karena sudah meninggalkan Raja sendirian. Bagaimana jika Raja dilukai? 

“Kau yang akan pertama dipenggal, apa kau tahu itu?”

Kasim kepala meminta maaf sambil berlutut.

“Ibu Suri, sudah cukup. Aku yang salah. Aku ingin beristirahat dari urusan politik jadi aku menyuruhnya keluar. Ada terlalu banyak orang yang berusaha mendikte bagaimana seharusnya aku menjalankan pemerintahan. Jadi aku hanya ingin mengobrol dengan temanku. Tapi ternyata itu terlalu sulit dilakukan di istana yang bising. Mungkin seharusnya aku pergi sebentar.” Hmmm…apa ini sindiran untuk Ibu Suri?

Ibu Suri masih nampak curiga namun ia tersenyum dan berkata akhir-akhir ini ia memang mengkhawatirkan kesehatan Raja. Jadi bepergian sebentar mungkin akan baik. Raja meminta Poong Yeon menjadi pengawalnya saat ia pergi.


Hong Joo kembali memasukkan asap hitam ke dalam tubuh Hyun Seo. Ia menerima laporan dari anak buahnya mengenai mayat palsu Si Jubah Merah. Ia tersenyum menyadari penyakit Raja bertambah parah hingga membohongi rakyat seperti itu.

Heo Jun sudah selesai menuliskan semuanya. Ia bertanya-tanya apakah  benar-benar tidak ada lanjutannya lagi. Ia memutuskan untuk tidak peduli, yang penting tugasnya sudah selesai. Ia memikirkan Seo Ri dan keluar untuk mencarinya.


Soon Deuk ragu  Jun adalah si Jubah Merah, tapi siapa yang tahu?

Heo Ok semakin sombong dan sok berkuasa setelah dinaikkan pangkatnya. Ia melihat Soon Deuk dan menyuruh anak buahnya menangkapnya. Mereka berhasil menyudutkan Soon Deuk di tempat sepi.

Heo Ok bertanya apa hubungan Soon Deuk dengan Jun hingga mereka menipunya dan membuatnya masuk penjara. Soon Deuk berkata ia mendapat bayaran lebih dari Jun.

“Dan lagi kenapa adik kakak berusaha saling membunuh? Meski ia pembunuh, ia tetap adikmu. Kau merobek kaki tangan adikmu dan menggantungnya di gerbang. Apa tidak keterlaluan?”

“Beraninya kau membela sampah itu? Apa kau tidak lihat? Aku bekerja untuk keluarga kerajaan. Beraninya kau mengaitkanku dengan si brengsek itu! Dan lagi apa hakmu ikut campur? Kau dari kelas rendahan yang kotor.”

Soon Deuk marah mendengar kata-kata Heo Ok. Tapi Heo Ok menuduhnya sebagai komplotan Si Jubah Merah dan hendak menangkapnya. Dengan kegesitannya, Soon Deuk berhasil meloloskan diri.


Kasim kepala membawa seorang dayang Raja menghadap Ibu Suri. Setelah memastikan dayang itu bisa dipercaya, Ibu Suri memerintahkan agar dayang tersebut mengamati pergerakan Raja di luar istana, terutama kesehatannya. Dan dayang itu harus melaporkan gerak gerik Raja padanya.

“Kau menduduki tempat puteraku. Ananda, kau harus melindungi tahtamu baik-baik,” kata Ibu Suri setelah ia sendirian.

Raja Seonjo berangkat keluar istana untuk beristirahat. Poong Yeon dan Sol Gae mengawalnya. Dayang mata-mata Ibu Suri juga ikut. Ia berusaha menjalankan perintah Ibu Suri untuk mengawasi Raja tapi Poong Yeon tidak membiarkan siapapun mendekati Raja.


Jun melihat Seo Ri sedang membuat ramuan. Ia menghampirinya dan ikut membantu.

“Kau sangat cepat beradaptasi,” sindir Seo Ri.

Heo Jun tertawa dan berkata itu karena sejak dulu hidupnya selalu bagai di ujung tanduk. Ia terus mengikuti Seo Ri.

“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Seo Ri.

Jun berkata ia hanya mencari kamar kecil. Seo Ri menunjuk letak kamar kecil tapi Heo Jun tetap mengikutinya. Ia berkata ia hanya ingin tahu letaknya supaya ia bisa menggunakannya saat darurat.

“Apa kau sudah selesai menyalin bukunya?” tanya Seo Ri kesal.


Jun berkata ia sedang mengerjakannya tapi ada beberapa halaman yang ia lupa. Seo Ri tidak percaya karena Jun sudah meminum Ramuan Kepintaran.

“Kau beruntung aku pintar. Jika tidak, isi buku itu akan hilang selamanya,” kata Jun.

“Bagaimana kau bisa begitu tak tahu malu. Memangnya salah siapa buku itu rusak?” ujar Seo Ri.

Jun tersenyum malu. Ia berkata mungkin ia lapar. Sambil tersenyum manis ia ia  berkata ia akan bisa mengingat lebih baik jika ada sesuatu yang bisa dimakan.


Seo Ri memberinya bola-bola nasi. Jun memakannya dan berkata rasanya terlalu asin. Sekarang ia meminta daging untuk menambah daya ingat. Hehe Jun kayanya seneng deh liat Seo Ri marah.

“Kau tahu otak bekerja paling bagus saat diberi makanan. Mungkin aku harus tinggal dan hidup di sini sampai aku ingat semuanya. Jika itu tidak apa-apa untukmu, “ ledeknya.

Seo Ri berdiri dengan kesal.

“Semua ini untuk buku itu. Perlakukan aku sebagai tamu yang sangat berharga,” kata Jun membela diri.


Seo Ri melihat lengan pakaian Jun yang terbakar. Ia pergi meminta Yo Gwang membawakan daging untuk Jun. Tentu saja Yo Gwang tidak mau dan ia tidak percaya Jun tidak ingat. Tapi Seo Ri berkata lebih baik mereka biarkan Jun hingga buku itu selesai.

Yo Gwang melihat Jun sedang asyik memakan bola-bola nasi pemberian Seo Ri. Ia berdehem. Jun cepat-cepat membuka buku dan pura-pura menulis. Yo Gwang pergi seperti guru yang baru saja memarahi muridnya.


Seo Ri melihat Jun.  Ia teringat dengan percakapannya bersama Yo Gwang. Yo Gwang bertanya apa yang akan Seo Ri lakukan setelah Jun berhasil menyelesaikan Mauigeumseo. Dengan ingatannya akan tempat ini dan isi Mauigeumseo.

Seo Ri berkata pada Jun kalau ia membutuhkan bantuan Jun. Ia membutuhkan resep ramuan Lupa dari Mauigeumseo. Untuk apa, tanya Jun. Seo Ri memelototinya.

“Baik, baik, akan kuberitahu,” kata Jun tersenyum nakal. Ia memberitahu bahan-bahan apa saja yang harus dikumpulkan Seo Ri. Ia mengikuti Seo Ri dan terus menatapnya dengan lembut. Semakin merasakan kemiripannya dengan Yeon Hee.


Seo Ri menanyakan apa langkah selanjutnya. Jun tersentak dari lamunannya dan mengatakan lanjutannya tapi lalu terdiam.

“Kenapa? Apa kau kesulitan mengingat lagi?” tanya Seo Ri.

“Sepertinya begitu…Apa yang tidak bisa kuingat?” kata Jun lembut. Maksudnya adalah mengingat Yeon Hee.

Seo Ri merasa salah tingkah dan berseru memanggil Yo Gwang. Jun cepat-cepat mengatakan kelanjutan resepnya sampai selesai. Haha…berada di atas angin dia^^

Seo Ri hendak mengambil bahan yang terletak di atas lemari. Namun ia kesulitan karena terlalu tinggi. Jun membantunya. Seo Ri berbalik dan terpaku karena berhadapan begitu dekat dengan Jun. Ia cepat-cepat menunduk dan berjalan pergi.


Seo Ri telah menyelesaikan Ramuan Lupa. Itu adalah ramuan untuk Jun agar melupakan isi Mauigeumseo demi keselamatan mereka.

“Aku tidak tahu apa hubungan kalian, tapi Seo Ri, kau harus berkonsentrasi pada tujuanmu. Kau bisa menyelamatkan semua orang dengan mematahkan kutukanmu. Kita harus kembali. Jika kau memberinya ramuan itu. Ia akan melupakan semua yang terjadi saat ia di sini.”

Seo Ri menaruh botol ramuan itu. “Benar, ia harus melupakan semuanya.”


Yo Gwang membawakan daging untuk Jun dan mendadak bersikap sangat baik. Jun pura-pura masih menulis. Yo Gwang bahkan menyuapi Jun dan membawakan pakaian baru. Ia memaksa Jun cepat berganti pakaian. Sepertinya karena ia ingin Jun cepat selesai dan cepat pergi.

Jun bertanya kenapa halaman terakhir Mauigeumseo tidak ada. Yo Gwang malah bertanya apa Jun sudah hampir selesai hingga menanyakan halaman terakhir.

“Tidak, tidak,” Jun menyangkal. “Saat aku membacanya aku merasa halaman terakhir menghilang. Jika aku sudah selesai aku akan memberitahumu segera. Aku juga ingin pergi dari tempat aneh ini secepatnya.”

Yo Gwang membiarkan Jun berganti pakaian. Namun saat menoleh ia sekilas melihat tanda di dada Jun (bekas perisainya). Ia merasa pernah melihat tanda itu.

Jun meminta Yo Gwang memeriksanya karena ia juga penasaran lambang apa itu. Yo Gwang memeriksa dengan teliti. Terlalu teliti dan terlalu dekat hingga Jun menepis tangan Yo Gwang dan menatapnya dengan curiga.

Yo Gwang tertawa malu. Ia menegaskan kalau ia suka wanita…wanita…Haha XD Saking malunya ia cepat-cepat pergi.


Poong Yeon berjaga di depan kemah Raja yang sedang tidur. Dua orang anak buah Hong Joo menaruh tempat dupa di dekat tenda. Asap hitam dari tempat dupa itu terhirup oleh Poong Yeon. Tanda di lehernya bersinar dan sesaat ia merasa pusing. Sol Gae merasa aneh melihat sikap Poong Yeon.

Ia menoleh dan melihat Yeon Hee. “Yeon Hee” berjalan pergi.  Tanpa berpikir panjang Poong Yeon langsung mengejarnya. Lupa kalau ia harus menjaga Raja.

Ia terus berlari mengejar Yeon Hee ke dalam hutam. Saat ia menemukan Yeon Hee ia langsung memeluknya.

“Tuan…” panggil Sol Gae.

Poong Yeon terkejut. Ternyata yang dipeluknya adalah Sol Gae. Poong Yeon sadar itu pengalihan untuk mendekati Raja.


Raja terbangun dengan kaget melihat tiga orang wanita berbaju merah dan bersenjata ada di tendanya. Poong Yeon kembali dan tidak menemukan Raja di tendanya.

Raja dibawa untuk menemui Hong Joo. Raja bertanya siapa yang mengirim Hong Joo. Ayah mertuanya? Ibu Suri?

“Yang Mulia pasti dikelilingi orang-orang yang hendak mengambil nyawa Yang Mulia. Saya di sini untuk menyelamatkan Yang Mulia. Saya tahu apa penyebab penyakit Yang Mulia. Kulit Yang Mulia terbuka dan mengeluarkan duri di seluruh tubuh, bukan?”

“Siapa kau?” tanya Raja Seonjo.

“Saya kepala shaman dari Seongsucheong. Nama saya Hong Joo. Jika Yang Mulia mempercayai saya, saya bisa menyembuhkan Yang Mulia.”


Raja tertawa tak percaya. Ia menuduh Hong Joo sedang menipunya.  Apa yang kauinginkan, tanyanya. Hong Joo berkata berkat kemampuannya ia mengetahui penyakit Raja, jadi ia menemui Raja karena tahu bisa menyembuhkannya.  Ia meminta Raja membuka lengan pakaiannya.

Raja nampak ragu sejenak namun akhirnya membuka lengan bajunya. Tangannya ditumbuhi duri-duri tajam dan penuh luka. Dengan sihirnya, duri-duri itu lenyap tak berbekas. Raja terkejut.

“Jika kita tidak menyelesaikan penyebab penyakitnya, gejala-gejala itu akan kembali lagi dalam beberapa hari. Jika Yang Mulia mempercayai saya, saya bisa mengenyahkan semua duri yang menyesakkan Yang Mulia.”

“Apa yang kauinginkan?” tanya Raja.


Poong Yeon mencari Raja ke sana kemari. Akhirnya ia menemukannya. Raja berbohong ia pergi untuk mencari udara segar. Poong Yeon curiga dan bertanya apakah Raja benar-benar tidak apa-apa. Raja berkata ia tidak apa-apa.

Dayang mata-mata Ibu Suri mengawasi mereka.

Tiba-tiba ia ditangkap anak buah Hong Joo dan diperhadapkan pada Hong Joo. Hong Joo bertanya dayang itu diperintah oleh siapa. Awalnya dayang itu tidak mengaku. Tapi begitu diancam dengan pedang, ia langsung mengatakan kalau ia disuruh Ibu Suri. Hong Joo tetap membunuh dayang itu.

“Ibu Suri? Ternyata Ratu telah menjadi Ibu Suri,” ujar Hong Joo.

Seorang anak buahnya melaporkan kalau Hyun Seo menghilang. Hong Joo cepat-cepat kembali ke tempatnya. Tempat Hyun Seo berbaring sudah kosong, hanya menyisakan kertas jimat yang terbakar sebagian. Hong Joo memerintahkan anak buahnya mencari Hyun Seo.


Seo Ri melihat Heo Jun sedang tidur. Ia menghampirinya dan duduk di dekatnya. Pelan-pelan ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Jun. Tapi ia mengurungkan niatnya dan hendak pergi.

Tiba-tiba Jun menarik tangan Seo Ri dan mendekatkan ke dadanya. Ia membuka matanya.
“Ini kau, kan? Kesemek,” kata Jun lembut.


Komentar:

Ah suka banget sama episode ini…banyak momen Jun dan Seo Ri nya^^ Juga tidak terlalu serius hehe :) Ekspresi nakal Jun membuatku ingat Enrique di Flower Boy Next Door^^

Inginnya sih Jun terus bersama Seo Ri dan Yo Gwang. Yo Gwang sudah mulai melunak sama Jun tuh^^

Hong Joo akhirnya bisa bertemu dengan Raja. Dan sepertinya Raja tidak akan melewatkan kesempatannya untuk sembuh. Susah juga ya…pasti menderita banget tubuh ditumbuhi duri dan penuh luka seperti itu. Siapa sebenarnya yang menyebabkan penyakit tersebut?

Ada baiknya juga sih Jun dianggap sudah mati. Dengan begitu ia tidak dikejar-kejar lagi. Tapi pasti Jun ingin menemukan si pembunuh sebenarnya untuk memulihkan namanya.

Jika Jun meminum ramuan Lupa itu, apakah yang dilupakan hanya Seo Ri dan masa-masa ia di kuil Chungbing? Ataukah ia juga melupakan siapa dirinya dan masa lalunya?




18 komentar:

  1. semangat mbak fanny, lanjut terus yaa!

    BalasHapus
  2. Enriqueeeeee
    Nggak nyangka ya mbak kita ketemu karena drama ini hihihi
    Jadi inget blade man kalo diliatin duri duri haha padahal nyebutnya bilah. Duh tambah kangen swnya...swnya kan suka dongeng (bukan dongeng ala mirror of witch tapi :)
    Tumben mbak komennya dikit, udah pusing ya tanya tanya terus? Lol otu dr mana coba hyun seo bisa kabur :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan Hong Joo lagi pergi jadi Hyun Seo bisa kabur hehe... iya nih ngga banyak komen episode ini karena dikit misterinya XD

      Hapus
    2. Kan Hong Joo lagi pergi jadi Hyun Seo bisa kabur hehe... iya nih ngga banyak komen episode ini karena dikit misterinya XD

      Hapus
  3. Bener kt mba fany,,enrique kembali lewat drama ini, suka bgt liat shi yoon klo udah akting nakal2 ngegemesin gtu hehe
    Ah jd ga sabar pgn liat momen Seo ri & Jun lg
    Mba fany ttp smngt dan makasih rekapannya 😊

    BalasHapus
  4. Aq juga suka sama enrique, karakter ny ceria bngt. Padahal katanya yoonshiyoon aslinya pendiam. Thanks mba fun, semangat & sehat selalu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, yoon shi yoon pendiam dan kutu buku banget XD

      Hapus
  5. Penasaran nih yang ep 8.. Semangat ya mbak fanny ^.^

    BalasHapus
    Balasan
    1. selalu semangat kalau nulis sih hihi...cuma waktunya yang kadang sulit^^

      Hapus
  6. Mba fany lanjut terus terus y, makasi atas rekapannya.salam kenal y biasanya selalu jadi pembaca bisu.��

    BalasHapus
  7. Mbak Fanny.....thanx y...n tetap semangat buat sinopsisnya

    BalasHapus
  8. Meskipun udah nonton, tetep aja ga perfect kalo ga baca recapannya mba fanny
    Thanks ya mba, semangat terus....

    BalasHapus
  9. suka banget sama sinopsis ini jelas semua ceritanya ... mbak yang episode 8 uda keluar kan mbak cepet di update y mbak sama komen nya yang banyak gk tau krnapa suka banget komen mbak di cerita ini ....

    BalasHapus

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)