Jumat, 22 April 2016

Sinopsis Page Turner Episode 3 (Bagian 2) - End



Note: Karena Putri berhalangan, maka aku yang membuat sinopsis Episode 3 Bagian 2

Keesokan harinya Cha Sik tidak menjemput Yoo Seul. Malamnya juga ia tidak muncul untuk latihan. Karena teleponnya tidak juga diangkat, Yoo Seul mengirim pesan suara pada “Larva” alias Cha Sik.

“Kenapa kau tidak datang? Apa semua baik-baik saja? Apa ibumu tidak apa-apa? Kapan kau akan menjemputku besok?” -khawatir
“Kenapa kau tidak datang?! Hei, jawab telepon sekarang!”- mulai kesal
“Apa kau sakit? Kau tidak  menyerah untuk ikut kompetisi, kan?” –kembali khawatir
“Apa kau sedang jual mahal?!! Apa kau mau mati?!!” – maraaaah XD


Di mana Cha Sik? Ia terus menerus berlatih di terowongan untuk  meningkatkan tempo permainannya, tapi ia belum bisa mencapainya. Ia membaca semua pesan Yoo Seul dan sejenak nampak mempertimbangkan untuk menjawab. Tapi akhirnya ia menghela nafas panjang lalu kembali berlatih.


Di sekolah, Yoo Seul bertanya pada teman-temannya apakah mereka melihat Cha Sik. Mereka juga belum melihatnya dalam beberapa hari ini. Yoo Seul jadi teringat Cha Sik pernah berkata kalau ia yakin Yoo Seul akan mencarinya jika ia tidak ada.

“Dan kau akan gembira mendengar suaraku,” katanya saat itu.

“Tidak seperti itu!!!” Yoo Seul menggebrak meja sambil berdiri. Teman-temannya terlonjak kaget.

Yoo Seul meminta Gyu Sun mengirim sms dengan ponselnya.

“Jung Cha Sik, ini peringatan terakhir untukmu. Jika kau tidak datang pada latihan jam 10 malam nanti, aku menganggap kau melarikan diri seperti seorang pengecut. Dan aku tidak akan mengikuti kompetisi. Terserah apa maumu.”

Jin Mok mendengar saat Yoo Seul mengucapkan pesan itu.


Cha Sik semakin frustrasi setelah membaca sms itu. Ia tak mengerti mengapa ia belum bisa juga. Padahal besok adalah hari kompetisi….

Ia menatap foto “ayah”nya di ponsel dan memohon bantuannya.


Jin Mok berpapasan dengan ayahnya yang baru pulang ketika ia hendak keluar rumah. Ayahnya bertanya ia mau ke mana.

Jin Mok menjawab ia hendak ke akademi untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Ayahnya berkata Jin Mok sudah membuat keputusan tepat.

“Meski kau menjadi pianis yang bagus, kau hanya bisa mendapatkan uang dengan menjadi guru piano. Tapi tidak sepadan melepaskan semuanya hanya untuk menjadi guru piano, bukan?”

Jin Mok membenarkan dengan wajah sedih.


Cha Sik berdiri dengan sedih di depan ruang latihan. Memperhatikan Yoo Seul yang sedang marah-marah karena Cha Sik belum datang juga padahal sudah jam 10.10 (inget jam 10.10 jadi inget Kyung Joon di Big^^)

“Baik, lupakan saja!!! Ini bagus karena aku memang akan menyerah tidak mau main piano lagi. Berkat kau, aku bisa berhenti tanap penyesalan! Terima kasih, Jung Cha Sik!
Tapi aku akan menunggu 5 menit lagi dengan mempertimbangkan persahabatan kita. Hanya 5 menit lagi!” Yoo Seul kembali duduk dengan kesal.


Cha Sik membuka pintu lalu tersenyum. Ia meledek mereka belum cukup lama saling mengenal untuk dianggap bersahabat.

Wajah Yoo Seul langsung cerah begitu mendengar suara Cha Sik. Tapi kemarahannya kembali muncul Ia bertanya mengapa Cha Sik tidak menjawab teleponnya.

“Kau bilang akan selalu melindungiku!”
“Jadi kau ingin bertemu denganku? Apa kau rindu padaku?” tanya Cha Sik senang.
“Tidak, sama sekali tidak. Aku sama sekali tidak kehilanganmu,” Yoo Seul menyangkal meski wajahnya menunjukkan hal yang sebaliknya.
“Aisssh...tapi kau terdengar sangat putus asa dalam pesan-pesanmu. Kau putu asa mencariku,” ujar Cha Sik,


Yoo Seul berkata ia tidak sedang ingin bergurau. Ia bertanya apakah Cha Sik sudah selesai berlatih. Cha Sik bingung bagaimana harus menjawabnya.

Saat itulah Jin Mok muncul dan memberi isyarat pada Cha Sik agar tidak memberitahu Yoo Seul mengenai kehadirannya.

“Apa kau tidak bisa memainkannya? Itukah sebabnya kau tidak muncul?” tanya Yoo Seul khawatir.

Jin Mok memberi isyarat pada Cha Sik agar menjawab tidak.

“Tidak, aku bisa melakukannya,” jawab Cha Sik.

Yoo Seul menghela nafas lega dan berkata ia tahu Cha Sik pasti bisa.

“Mainkanlah.”


Cha Sik bengong tapi Jin Mok mengangguk padanya. Jin Mok pelan-pelan duduk di depan piano. Yoo Seul bertanya mengapa Cha Sik terdengar tidak percaya diri. Ia ingin Cha Sik memainkan bagian utama lebih dulu. Bagian yang selama ini dilatih Cha Sik. Cha Sik buru-buru menaruh partitur bagian tersebut di hadapan Jin Mok.

Jin Mok mengangguk padanya. Cha Sik mundur pelan-pelan dan duduk di belakang. 

Sementara Jin Mok mulai memainkan bagian tersebut.

Dimulai dari pianissimo….crescendo….fortissimo…


Cha Sik kagum melihat Jin Mok memainkan bagian tersebut dengan sangat baik. Ia ingat Yoo Seul mengajarinya bahwa pada bagian tersebut ia memainkan orkestra sedangkan Yoo Seul memainkan chorusnya.

“Kau harus memainkan bagian orkestra ini dengan keras dan jelas agar karya ini menjadi hidup.”

Ketika itu Cha Sik bingung bagaimana ia bisa menghasilkan suara seperti sebuah orkestra. Yoo Seul berkata Cha Sik harus melakukannya. Caranya dengan tepat memainkan setiap not tanpa terlewat atau tercampur dengan not lain. Cha Sik juga tidak boleh keluar tempo. Dengan cara itu Cha Sik bisa bermain skala orkestra.


Dan Jin Mok memainkannya tepat seperti itu. Cha Sik pelan-pelan berdiri di dekat Jin Mok. Ia menanyakan pendapat Yoo Seul.

“Sempurna. Menghanyutkan. Bahkan aku tidak akan bisa memainkannya seperti itu,” puji Yoo Seul sungguh-sungguh.

Jin Mok menoleh dengan terkejut. Pujian pertama Yoo Seul untuknya…atau mungkin pujian tulus pertama yang pernah didengarnya…


Cha Sik tersenyum melihat ekspresi Jin Mok dan bertanya pada Yoo Seul sebagus itukah.

“Iya. Kurasa keputusanmu untuk menjadi seorang pianis adalah keputusan terbaik yang pernah kaubuat. Apapun yang terjadi jangan pernah menyerah main piano, ya?”

Jin Mok diam-diam menangis mendengarnya. Melihat itu, Cha Sik meminta Yoo Seul mengulang kata-katanya barusan. Ia memegang pundak Jin Mok.

“Aku sebenarnya berpikir untuk menyerah. Aku berpikir apakah aku terlalu tinggi menilai diriku sendiri. Aku khawatir aku hanya akan menjadi pianis biasa-biasa saja. Aku terus meragukan diriku sendiri,” Cha Sik menyuarakan isi hati Jin Mok.


“Jangan ragukan dirimu. Jangan khawatir dan jangan menyerah. Kau sudah pasti berbakat. Aku biasanya tidak pernah mengakui orang lain tapi aku mengakui kemampuanmu dengan sepenuh hati. Apa kau mau aku mengulang kata-kataku lagi? 10 kali? Aku bisa mengulangnya sampai 1000 kali,” kata Yoo Seul tersenyum.

Jin Mok sangat terharu. Cha Sik tersenyum. Ia meremas pundak Jin Mok sebagai tanda ia juga setuju dengan pendapat Yoo Seul.

“Itu sudah cukup. Terima kasih, Yoo Seul,” katanya.


Jin Mok dan Cha Sik keluar dari ruang latihan. Cha Sik berterima kasih pada Jin Mok.

“Jika kau berterima kasih padaku, lakukan apapun juga aga bisa memainkannya. Entah dengan menjadi gila atau berlatih habis-habisan. Menangkan hadiah pada kompetisi besok. Juga, berhentilah memanggilku si Bodoh!” gerutunya.

Cha Sik tersenyum memberi hormat. Diam-diam Jin Mok juga tersenyum saat ia berbalik pergi. Sebaliknya, senyum Cha Sik menghilang begitu ia sendirian.


Keesokannya, ibu Yoo Seul pergi menghadiri kompetisi dengan mengenakan penutup kepala agar tak ada yang mengenalinya. Tapi ibu Cha Sik mengenalinya dan memperkenalkan diri (penyamarannya memang tidak meyakinkan sih^^)

“Aku seharusnya memperkenalkan diri saat aku membeli piano itu,” kata ibu Cha Sik.

Rupanya ibu Yoo Seul sama sekali lupa. Ia merasa baru pertama kali ini ia bertemu dengan ibu Cha Sik.

“Kau minum soju di gelas wine. Kau jadi mabuk dan mengatakan akan memberiku piano gratis. Juga menasihatiku agar tidak mempertaruhkan semuanya demi anak.”


Ibu Yoo Seul berkilah orang itu pasti bukan dirinya. Ibu Cha Sik pasti salah mengenali orang.

“Pertama, aku tidak minum soju dan bersikap mabuk seperti itu. Kedua, aku tidak akan pernah memberi piano gratis. Tiga, aku tidak akan pernah mengatakan untuk tidak mempertaruhkan semuanya demi anak.”

Lalu ia pergi begitu saja. Ibu Cha Sik mengomel ia yang bodoh karena sempat kasihan pada ibu Yoo Seul.

Tiba-tiba ibu Yoo Seul berbalik dan kembali berjalan ke arahnya. Ibu Cha Sik terkejut mengira ibu Yoo Seul mendengar kata-katanya barusan.

“Jangan bilang puteriku kalau aku ada di sini. Dia akan merasa tertekan dan melarikan diri,” pinta ibu Yoo Seul. Setelah itu ia pergi lagi.


Para siswa terkejut mendengar Hyun Myung Sae menjadi juri tamu dalam kompetisi hari ini. Seorang guru bahkan berkata itu lebih mustahil dari Cristiano Ronaldo menjadi wasit pertandingan sepakbola di kelurahan. Haha masa sih XD

Tapi memang aneh kenapa seorang Hyun Myung Sae mau jauh-jauh datang dari Austria ke Korea untuk menjadi juri kompetisi awal. Mereka menduga salah satu alasannya adalah untuk menemui Cha Sik dan bertanya-tanya apakah Cha Sik benar-benar anak Hyun Myung Sae.

Ibu Cha Sik yang juga mengetahui hal tersebut langsung panik mencari Cha Sik.


Cha Sik membaca berita tersebut dan langsung berlari ke ruang tamu khusus, Hyun Myung Sae. Ia memberanikan dirinya untuk mengetuk namun tiba-tiba pintu terbuka hingga ia terjatuh memeluk orang yang membuka pintu. Ia begitu senang saat melihat Hyun Myung Sae. Oh no….

“Apa kau Jung Cha Sik?” tanya Hyun Myung Sae.
“Iya. Ayah, apa Ayah datang ke sini untuk menemuiku?” tanyanya penuh harap.
“Benar. Aku juga penasaran kenapa kau bisa salah menganggapku sebagai ayahmu,” kata Hyun Myung Sae.

Seketika itu juga senyum Cha Sik menghilang. 


Ibu akhirnya melihat Cha Sik. Melihat wajah Cha Sik, ibu menyadari Cha Sik sudah bertemu Hyun Myung Sae.

“Apa semua itu bohong? Kalau begitu pasti sebuah kebohongan juga aku seorang jenius. Apa yang akan kulakukan sekarang? Hanya hal itu satu-satunya yang kupercayai hingga aku bisa sejauh ini,” Cha Sik melihat jari-jarinya yang penuh luka karena latihan piano.

Ia mengakui ia terlalu naif. Hanya melalui sebuah foto ia percaya perkataan ibunya. Hmmm…bukan karena foto sih, tapi karena ibunya yang mengatakannya. Karena itu ia merasa sangat kecewa dan marah.

Ibunya meminta maaf berkali-kali tapi Cha Sik tidak menghiraukan ibunya dan berjalan pergi.


Yoo Seul berusaha memakai lipstick di ruang rias. Cha Sik melihatnya dan bergumam apa yang sebaiknya ia lakukan. Ia duduk di sebelah Yoo Seul dan menawarkan diri untuk membantu memakaikan lipstik. Yoo Seul tertawa menolak, tapi ia membiarkan juga ketika Cha Sik mengoleskan lipstik ke bibirnya.

Di depan Yoo Seul, Cha Sik berusaha tidak memperlihatkan kesedihan dan kegalauannya. Yoo Seul bertanya apakah Cha Sik tidak gugup dengan kedatangan “ayah”nya.

“Apa? Ayahku? Kukira kau tidak percaya  beliau adalah ayahku.”
“Tidak, aku percaya sekarang. Berdasarkan permainanmu kemarin, aku yakin kau pasti puteranya.”


Cha Sik hanya berdehem kecil. Yoo Seul berkata Cha Sik tidak terdengar percaya diri. Ia menarik kerah Cha Sik dan menyuruhnya sadar.

“Cukup bermain seperti kemarin dan ayahmu akan mengakuimu. Kau bahkan mungkin beruntung bila ia menganggapmu berbakat.”

“Bukankah tidak adil jika ia menganggapku yang berbakat dan bukannya kau?”

Yoo Seul mengaku ia akan merasa sedikit sedih, tapi ia tidak menganggapnya tidak adil karena ia sendiri sudah mengakui kemampuan Cha Sik. Cha Sik tersenyum dan berterima kasih.

Yoo Seul mengingatkan ia juga akan melakukan yang terbaik. Cha Sik berkata ia sudah tahu.

“Tunggu saja dan lihat, penampilanku akan melebihi imajinasimu. Kemampuanku  sudah sangat meningkat.”

Yoo Seul tertawa dan bergurau kebohongan Cha Sik semakin parah saja. Cha Sik berkata ia tidak berbohong. Ia menggenggam tangan Yoo Seul.

“Tepati janjimu. Jika kau menang, kau tidak akan menyerah bermain piano.”

Yoo Seul mengangguk. Cha Sik berkata ia jamin Yoo Seul akan tersenyum setelah kompetisi. Ia akan memastikan itu terjadi. Yoo Seul tersenyum mengangguk.


Cha Sik lalu menemui Hyun Myung Sae di auditorium dam meminta berbicara dengannya. Setelah mengatakan sesuatu, ia mengucapkan terima kasih.

Jin Mok melihat ibu Yoo Seul duduk di barisan belakang kursi penonton. Ia mengangguk hormat lalu duduk beberapa bangku di depannya.

Cha Sik menghampiri Jin Mok. Jin Mok kaget karena sebentar lagi kompetisi akan dimulai sementara Cha Sik ada di sini.

“Jin Mok, kumohon padamu. Bermainlah menggantikanku. Aku akan jujur. Kau benar dan aku salah. Aku bukan putera Hyun Myung Sae juga bukan seorang jenius. Dan aku tidak bisa bermain hingga 135 BPM. Penampilan Yoo Seul bisa hancur. Ini mungkin kesempatan satu-satunya dalam hidupnya baginya. Aku tidak mau merusaknya, jadi kumohon padamu gantikan aku.”


Ibu Yoo Seul terkejut saat mendengar kata-kata Cha Sik.

“Kau gila, kompetisi itu tidak main-main. Bagaimana bisa aku bermain dengan namamu yang terdaftar?” kata Jin Mok.

Cha Sik berkata ia sudah memasukkan nama Jin Mok dan bukan namanya. Hal  itu masih bisa dilakukan karena belum babak final dan masih babak penyisihan. Jin Mok berkata ia tetap tidak bisa melakukannya karena ia belum menghafal karya itu.

“Apakah kau bisa memainkannya jika ada partitur? Cobalah, aku akan membalik halamannya. Karya ini ditulis Beethoven dan diaransemen oleh Liszt, jadi ini karya sempurna untuk menunjukkan kekuatanmu,” ibu Yoo Seul melepas penyamarannya.

Jin Mok terkejut mendengar kata-kata ibu Yoo Seul.

“Jangan melarikan diri,” kata ibu Yoo Seul. “Naiklah ke panggung. Aku akan membantumu.”

Akhirnya Jin Mok setuju. Ia bertanya apakah Cha Sik tidak apa-apa. Cha Sik tersenyum dan berkata ia tidak apa-apa. Meski matanya berkaca-kaca :(


Ibu Cha Sik menanti dengan cemas. Ia langsung meminta maaf lagi begitu menemukan puteranya. Cha Sik berkata saat ini ia ingin sendirian. Tapi ibu tidak membiarkannya sendirian dan terus meminta maaf. Ibu meminta Cha Sik mendengarnya karena ia mengerti perasaan Cha Sik saat ini.

“Ibu mengerti? Bagaimana bisa Ibu mengerti? Ibu tidak tahu seberapa banyak hal bodoh yang kulakukan karena percaya kebohongan Ibu. Jika Ibu mengerti, Ibu tidak akan membohongiku sejak awal,” Cha Sik menumpahkan isi hatinya.

Ia bertanya apa Ibu tahu betapa bersemangatnya ia berlatih bersama Yoo Seul untuk menjadi seorang pianis sementara mengangankan hal yang tidak mungkin.

“Tahu, tentu saja Ibu tahu.”
“Ibu tahu? Kalau begitu Ibu pasti tahu impianku adalah hal yang tidak mungkin. Dan ibu seharusnya sudah tahu bagaimana menderitanya aku setelah menyadari hal itu. Mengapa Ibu berbohong jika Ibu tahu? Mengapa?!”  kata Cha Sik emosi.


“Kenapa kau pergi ke atap rumah sakit?” tanya Ibu sambil menangis. “Kau juga memikirkan hal yang buruk seperti Yoo Seul, kan?”

Cha Sik tertegun.

Pada hari itu ia memang naik ke atap dan berpikir untuk mengakhiri hidupnya tapi ia tidak sanggup. Lalu ia menangis sendirian karena sangat takut dengan masa depannya.


Ibu bertanya apakah Cha Sik pikir ia tidak akan tahu. Ia ingin Cha Sik merasa lebih baik.

“Ibu ingin memberitahumu bahwa kau lebih baik dari siapapun tapi Ibu merasa diri Ibu sangat menyedihkan.”

Cha Sik bertanya apa itu sebabnya ibunya membohonginya.

“Jika Ibu memberitahu yang sebenarnya, apa kau akan merasa lebih baik jika Ibu memberitahumu bahwa kau akan baik-baik saja karena kau seperti Ibu?
Kau seharusnya tidak seperti Ibu. Apa gunanya menjadi seperti Ibu yang hanya penulis tanpa nama. Karena itu Ibu berbohong. Ibu pikir kau akan mendapat kekuatan jika Ibu katakan kau seperti seseorang yang hebat.”

Cha Sik mengusap air matanya dan berkata ia sangat-sangat marah mendengar perkataan ibunya barusan.

“Aku tidak pernah merasa semarah ini dalam hidupku sebelumnya. Ikut aku!” Cha Sik menarik ibunya pergi.


Kompetisi sudah dimulai dan tiba giliran Yoo Seul – Jin Mok. Yoo Seul tidak tahu ia berpasangan dengan Jin Mok karena nama mereka memang tidak diumumkan. Ibu Yoo Seul duduk di dekat Jin Mok sebagai pembalik halaman.

Jin Mok bertanya apakah ibu Yoo Seul tidak akan memberitahu Yoo Seul kalau ia ada di sana. Tidak, jawab ibu Yoo Seul. Jika tahu, Yoo Seul tidak akan memilih ada di sini.

“Meski aku tahu tidak akan terjadi, jika kau sengaja membuat kesalahan seperti terakhir kali, kau tidak akan bisa tampil lagi. Aku akan menarik semua rambutmu.”

Jin Mok tertawa kecil. Ia bertanya apa yang akan ibu Yoo Seul lakukan untuknya jika ia tidak membuat kesalahan satu pun.

“Sebuah pujian,” jawab ibu Yoo Seul.


Cha Sik membawa ibunya ke piano di terowongan.

“Bukankah Ibu bertanya apakah aku akan merasa lebih baik jika Ibu berkata aku sama seperti Ibu? Dengar baik-baik. Ini adalah jawabanku.”

Cha Sik duduk di depan piano dan mengumumkan keras-keras kalau saat ini ia bermain piano sebagai putera ibunya, bukan putera Hyun Myung Sae.

Jarinya mulai menekan tuts piano, bersamaan dengan Jin Mok dan Yoo Seul di tempat kompetisi. Mereka seakan memainkannya bertiga bersama-sama.


Sepulang dari sekolah pada malam ia mendapatkan pengakuan Yoo Seul, Jin Mok memberitahu ayahnya bahwa ia akan terus bermain piano. Mungkin saja ayahnya benar, ia akan menjadi pelatih piano biasa karena ia tidak berbakat.

“Tapi…aku suka bermain piano. Jadi aku tidak apa-apa menjadi pelatih piano biasa-biasa saja setelah 10 tahun.”

“Kau tidak apa-apa? Kau ingin membuang-buang waktumu untuk menjadi pelatih piano biasa?”

“Ya, aku tidak peduli. Lebih penting bagiku untuk berpikir di temapt tidur setiap harinya bahwa aku mengalami hari yang menyenangkan. Akan menyenangkan jika aku menjadi pianis sukses, tapi meski nantinya tidak seperti itu, tidak apa-apa. Waktu 10 tahun hidupku tetap akan menyenangkan karena aku melakukan apa yang aku cintai.” Bravo Jin Mok^^


Murid-murid yang menonton penampilan tersebut terheran-heran melihat Jin Mok tersenyum saat bermain piano. Ini pertama kalinya mereka lihat.

Yoo Seul dan Cha Sik juga menikmati permainan mereka. Tibalah bagian utama dalam karya tersebut. Jin Mok tentu saja bisa memainkannya dengan sempurna. Bagaimana dengan Cha Sik?

Dalam “kemarahan”nya yang amat sangat itu ia berhasil memainkannya dengan baik dan tempo yang tepat. Ibu sampai menangis terharu melihatnya.


Tepuk tangan menyambut berakhirnya permainan mereka. Hyun Myung Sae tersenyum mengangguk menyaksikan duet tersebut. Di terowongan, Cha Sik juga mendapat tepuk tangan dari mereka yang lewat.


Ibu Yoo Seul tersenyum penuh haru melihat puterinya.

“Itu adalah yang terbaik, Jin Mok,” pujinya.

Jin Mok tersenyum. Sesuai janji Cha Sik, malam itu Yoo Seul tersenyum seperti dalam mimpinya.


Epilog:

Jin Mok memenangkan juara pertama kompetisi 2 piano. Rol rambut Yoo Seul tetap disimpannya.

Ibu Cha Sik menulis kisah tentang pianis terkenal dunia berjudul “Page Turner”. Di rumah, terlihat sebuah piano. Di atas piano berderet partitur, metronom, dan alat pelatih jari milik Yoo Seul (yang dipungut Cha Sik padahal hari pertama mereka bertemu). Ha, Cha Sik terus bermain piano^^

Ibu Yoo Seul tersenyum melihat foto kemenangan Yoo Seul dalam kompetisi dua piano. Dalam foto tersebut, Yoo Seul tersenyum bangga. 


The End.

Komentar:

I really love this drama^^ Sayang cuma 3 episode >,<

Adegan dalam ruang latihan adalah adegan yang paling kusuka. Berkali-kali menontonnya tetap membuat terharu. Meski Yoo Seul tidak tahu Jin Mok lah yang ia akui, tapi tetap saja sangat menyentuh karena kata-kata itu tepat diucapkan saat Jin Mok hendak menyerah.

Justru karena Yoo Seul tidak tahu, maka penilaian Yoo Seul benar-benar hanya berdasarkan permainan piano Jin Mok. Seandainya ia tahu Jin Mok yang memainkannya, meski ia mengakui kemampuan Jin Mok ia tidak akan mengatakannya di hadapan Jin Mok. Padahal yang dibutuhkan Jin Mok saat itu adalah pengakuan itu.

Pujian Cha Sik pun tidak cukup untuk Jin Mok karena bagi Jin Mok, Cha Sik masihlah seorang yang awam piano. Berbeda jika Yoo Seul yang menilainya. Seorang jenius mengakui permainannya. Apalagi mengakui kalau belum tentu bisa bermain sebaik Jin Mok, pasti merupakan pujian terbesar yang pernah diterima Jin Mok.

Dan aku sangat suka bagaimana Cha Sik dengan tulus membantu Jin Mok mendapatkan pengakuan itu. Ia rupanya mengerti bahwa kata-kata Jin Mok yang diucapkan di terowongan itu sebenarnya adalah kegundahan Jin Mok sendiri. Meski ia tampak polos, tapi ia seorang yang peduli dan berhati baik.

Benar kata Cha Sik. Justru karena ia putera ibunya maka ia bisa sehebat itu. Baginya ibunya lebih hebat dari siapapun. Seorang ibu yang membesarkannya seorang diri. Seorang ibu yang selalu mendukungnya. Seorang ibu yang selalu memberinya semangat. Seorang ibu yang selalu bangga padanya apapun yang terjadi.  Seorang ibu yang menjadikannya sebagai seorang Cha Sik seperti sekarang ini.

Pribadi Cha Sik adalah seorang yang luar biasa. Ia tidak membiarkan orang lain tahu kesedihannya dan kegundahannya. Tapi di saat lain ia tidak menyerah. Kalau begitu kenapa ia tidak naik ke atas panggung? Karena ia tidak mau menghancurkan impian Yoo Seul di saat ia merasa tidak yakin dengan dirinya sendiri.

Aku merasa keputusan Cha Sik adalah keputusan yang tepat meski mungkin mengecewakan banyak dari kita yang menyukai Cha Sik. Orang yang lebih membutuhkan pengakuan dalam kompetisi tersebut adalah Yoo Seul. Yoo Seul yang mempertaruhkannya masa depannya melalui kompetisi tersebut.

Sedangkan Cha Sik awalnya mengikuti kompetisi itu karena ia ingin membuktikan bahwa ia putera Hyun Myung Sae. Tapi justru kebenaran pahit yang harus ditelannya tepat sebelum ia mengikuti kompetisi. Yoo Seul yang lebih membutuhkan tampil dalam kompetisi tersebut. Ia tidak bisa mempertaruhkan hal yang tidak pasti untuk masa depan Yoo Seul. Dan hanya Jin Mok yang bisa membantunya saat itu.

Aku juga suka ketika Jin Mok bertanya apakah Cha Sik tidak apa-apa ia yang mengikuti kompetisi. Ia benar-benar jauh berubah. Dari seorang yang dijuluki psikopat malah mengkhawatirkan perasaan Cha Sik.  Karena ia tahu betul Cha Sik telah berlatih keras demi mengikuti kompetisi ini.

“Ini adalah kisah menyentuh tentang 3 anak muda…. Seperti pembalik halaman, yang membalik partitur musik. Mereka membantu pertunjukkan dari tempat yang paling dekat dan melakukan yang terbaik agar sang bintang bersinar. Mereka akan menjadi partner terbaik.”

Benar-benar gambaran yang tepat untuk kisah mereka bertiga… Ah makin suka deh sama Park Hye Ryun writer-nim^^



5 komentar:

  1. Sama unie drama ini hebat. Komentar y uni juga daebak

    BalasHapus
  2. Suka banget sama drama ini....thanks for sinopsisnya

    BalasHapus
  3. Bener-bener drama persahabatan ya.. Sayang gk ada kiss-nya.. Hehehe😁

    BalasHapus
  4. klo drama nya dilanjutin nih ,, dan yoo seul tau klo yang main adalah Jin Mok bukannya Cha sik pasti Yoo seul marah besar dan berantem .... yah sayang nya itu cuma bisa dibayangin sdri aja.. btw , mata buta nya Yoo seul itu permanen kah ? wah sayang bgt romance nya kurang menonjol.

    BalasHapus

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)