Monday, 17 September 2012

Sinopsis Nice Guy Episode 1

4vgv2v  

Seorang pria berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Ia mengenakan jubah putih dokter. Tampaknya ia sedang terburu-buru. Suara televisi menghentikan langkahnya. Ia berhenti dan memperhatikan reporter wanita di TV.

Senyumnya mengembang. Ia bahkan mengetukkan sepatunya ke lantai mengikuti irama kata-kata reporter tersebut. Pada jas labnya tertulis namanya. Kang Maru (Song Joong Ki).

Reporter itu mengakhiri laporannya. Ia adalah Han Jae Hee (Park Shi Yeon).

shot0001 shot0006

Seseorang memanggil Maru, bertanya mengapa Maru begitu lama. Maru tergesa-gesa menyusul rekan-rekannya. Mereka sedang mengikuti seorang dokter senior (Dokter Seok Min Hyuk) untuk memeriksa dan membuat catatan mengenai para pasien di rumah sakit itu.

Maru mencatat dengan seksama, namun ia tidak puas. Dokter Seok tidak pernah berbicara atau bertanya pada mereka, para dokter magang. Melihatpun tidak.

shot0023 shot0028

Ia memberanikan diri untuk bertanya. Apakah Dokter Seok bahkan sadar kalau mereka mengikutinya sejak tadi? Hari ini adalah hari terakhir mereka magang di unit bedah. Dokter-dokter senior lain selalu memberi pertanyaan dan tugas sejak hari pertama mereka magang.

“Apakah kau seorang dokter?” tanya Dokter Seok tenang.

“Belum.”

“Hanya karena kau mengenakan jas lab putih dan membawa-bawa buku kedokteran, kau sudah merasa menjadi seorang dokter? Karena orang lain memanggilmu dokter, kau menjadi sangat bangga pada dirimu sendiri? Yang ada dalam kepalamu adalah menyelesaikan pemeriksaan rutin secepat mungkin dan tidak mencoba mengambil kasus berat. Mungkin itulah yang kalian semua pikirkan. Dan kau ingin aku bertanya pada kalian? Pertanyaan apa? Apa kalian bahkan akan mengerti pertanyaannya?”

Maru bertanya apakah mereka tidak akan diberi kesempatan sama sekali. Dokter Seok berkata ia tidak akan mendengar pendapat yang berguna dari para dokter magang, jadi untuk apa menyia-nyiakan waktu?

shot0041 shot0045

Maru masih hendak protes ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan anak kecil. Mereka bergegas pergi ke kamar anak itu. Anak itu meronta-ronta hendak melepaskan infusnya, bersikeras ingin pulang. Dokter Seok melihat data medis anak itu.

Namanya Lee Chan Young. Ia tiba-tiba pingsan semalam dan dibawa ke rumah sakit. MRI dan CT Scan tidak menunjukkan adanya masalah.

“Dokter magang yang protes karena tidak diberi pertanyaan,” ujar Dokter Seok. Semua menoleh pada Maru. Dokter Seok memberi waktu dua jam pada Maru untuk mendiagnosis penyakitnya.

shot0052 shot0054

Maru ditinggalkan sendirian dengan Chan Young. Maru berusaha memikirkan apa penyakit anak itu. Tidak ada trauma kepala, tidak ada infeksi, tapi mengalami kejang. Maru memeras otaknya.

Diam-diam Chan Young melepaskan infusnya. Maru melihatnya dan segera menempelnya kembali. Chan Young bersikeras ia tidak sakit dan ingin pulang. Jika tidak sakit bagaimana bisa pingsan, sahut Maru. Anak itu berkata kakaknya tidak punya uang (ia hanya tinggal berdua dengan kakaknya), jadi ia harus pulang. So the problem is…money.

Maru menyuruh anak itu diam. Anak itu terus berteriak ia tidak punya uang untuk membayar rumah sakit, memangnya Maru akan membayar biayanya?

shot0068 shot0071

“Tentu saja aku akan membayar biaya pengobatanmu!” seru Maru. Chan Young tak percaya. Maru tertawa geli, mengapa tidak percaya? Apakah Chan Young telah sering dibohongi? Maru menggetok kepala Chan Young dengan gemas. Tidak keras sih, hanya mendorong sedikit. Getokan sayang.

Chan Young tiba-tiba batuk. Awalnya Maru mengira Chan Yong berpura-pura untuk menakut-nakutinya, namun Chan Young tidak berhenti batuk dan memegangi kepalanya seakan kesakitan. Maru mulai khawatir. Anak itu muntah. Maru serta merta menadahkan tangannya menahan muntahan anak itu dan berteriak memanggil perawat.

Chan Young marah pada Maru. Kenapa Maru menggetok kepalanya? Maru terdiam, ia memikirkan sesuatu.

shot0076 shot0086

Maru menemui dokter Seok dan mengemukakan hasil diagnosanya dengan penuh percaya diri. Chan Young menderita aneurisma otak (kelainan pembuluh darah di otak). Maru memaparkan gejala-gejala yang dialami Chan Young, namun selama ini Chan Young tidak mau mengakuinya karena tidak ingin kakaknya khawatir.

Dokter Seok mengamati Maru. Ia melihat sisa muntahan di jubah Maru dan wajah Maru yang penuh percaya diri. Maru berkata adiknya juga seperti itu. Jika rasa sakitnya masih tertahankan, ia akan berpura-pura sehat agar Maru tidak khawatir.

Dokter Seok bertanya bagaimana aneurisma itu tidak terlihat dalam hasil MRI dan CT Scan. Maru berkata mungkin pendarahan yang terjadi sangat kecil hingga tak terdeteksi. Dan lagi Chan Young menjadi sangat temperamental padahal kakaknya mengatakan Chan Young adalah anak pendiam.

shot0090 shot0097

“Apakah kau tidak memikirkan ketergantungan obat-obatan?” tanya Dokter Seok. Maru terkejut, Chan Young tidak nampak seperti anak yang menderita ketergantungan obat.

“Sejak awal Dokter mengabaikan pendapatku dan tidak ingin mendengarnya. Itukah sebabnya Dokter tidak setuju dengan diagnosisku?” tanya Maru kesal.

Dokter Seok menerima telepon mengenai hasil angiogram anak itu. Tidak ada tanda aneurisme otak. Diagnosis Maru salah. Maru tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kekecewaan menyelimuti wajahnya. Ia membungkukkan badan meminta maaf. Dokter Seok memberi perintah agar Chan Young dikeluarkan dari rumah sakit.

shot0102 shot0104

Malamnya, Chan Young kembali dilarikan di rumah sakit. Ia muntah terus menerus. Dokter Seok mengurungkan niatnya untuk pulang. Ternyata diagnosis Maru benar. Chan Young menderita aneurisme otak. Dokter Seok menyuruh asistennya menghubungi Maru. Ia sekarang merasa malu sebagai guru dan ingin meminta maaf karena ternyata ia yang salah.

shot0113 shot0117

Maru pulang dengan hati senang. Dokter Seok memberitahunya kalau ia merasa Maru akan menjadi dokter jenius dua tahun lagi. Maru membawakan cokelat untuk adiknya, Kang Choco.

Ia berteriak memanggil adiknya tapi tidak ada jawaban. Maru melihat sepatu adiknya di luar kamar, artinya adiknya ada di dalam.

Maru mencuci wajahnya lalu memanggil adiknya lagi. Tapi tetap tidak ada jawaban. Ia masuk ke kamar dan menemukan adiknya pingsan di lantai.

shot0131 shot0133

Maru berusaha membangunkan adiknya. Choco terlihat pucat, berkeringat dingin, dan sangat lemah. Maru memeriksa temperatur dan denyut nadi adiknya. Tampaknya tidak baik. Maru memakaikan kaus kaki pada kaki adiknya. Ia terus bergumam memarahi adiknya.

Choco bergumam ia tidak apa-apa. Maru tidak peduli dam bersiap membawanya ke rumah sakit. Tia-tiba ponselnya berbunyi. Dari Jae-hee.

Maru segera memberitahu Jae Hee kalau Choco sakit dan ia hendak membawanya ke rumah sakit. Tapi kata-kata Jae Hee membuatnya terkejut.

“Maru, tolong aku…tolong aku…”

“Ada apa, Noona?” tanya Maru waswas.

“Kurasa ia mati. Bisakah kau datang dan menyelamatkannya?” tanya Jae Hee panik. Maru tak mengerti. Jae Hee mulai histeris. Ia bilang ia takut.

Mendengar Jae Hee seperti itu, Maru bangkit berdiri. Ia hendak menyusul Jae Hee.

shot0693 shot0700

Tapi Choco menahannya. Ia melarang Maru pergi. Maru bimbang. Ia berusaha membujuk Choco dan mengatakan akan segera kembali untuk membawa Choco ke rumah sakit. Choco menangis. Ia benar-benar sakit.

“Jangan pergi, Oppa…” rengek Choco.

Maru berjongkok dan meminta Choco menghitung hingga 500. Ia akan kembali sebelum hitungan ke-500. Ia berjanji. Maru mengulurkan jari kelingkingnya. Choco dengan kesal menepis tangan Maru. Ia akan mati.

Hmm…apakah Maru sudah berkali-kali melanggar janji karena Jae Hee? Karena sepertinya Choco kesal begitu mendengar Jae Hee menelepon.

 shot0140 shot0145

Tangis Choco tidak menghentikan Maru. Ia berlari keluar, menanggalkan Coco menangis sedih. Di luar Maru sempat ragu. Tapi ia memutuskan untuk tetap pergi.

Ia tiba di hotel tempat Jae Hee meneleponnya. Begitu ia membuka pintu kamar, ia melihat seorang pria terbaring di lantai…berlumuran darah. Maru masuk dan menutup pintu. Ia melihat Jae Hee duduk di lantai, jauh-jauh dari tubuh pria itu.

Maru memeriksa tubuh pria itu dan memastikan kalau pria itu telah mati. Ia duduk terhenyak di lantai.

shot0164 shot0175

“Apakah ia sudah mati?” tanya Jae Hee. Maru mengangguk, shock.

“Kenapa? Kenapa dia mati? Aku tidak membunuhnya. Kenapa dia mati?” tanya Jae Hee, bagai orang kehilangan akal.

Maru menoleh melihat Jae Hee. Jae Hee bersikeras ia tidak membunuh pria itu. Ia terus menangis.

shot0185 shot0186

Maru mengambil selimut dari ranjang lalu menutupi tubuh pria itu. Ia menghampiri Jae Hee yang terguncang dan berjongkok di hadapannya. Ia melihat Jae Hee memegang botol yang telah pecah. Apakah Jae Hee memukul pria itu dengan botol yang dipegangnya?

Jae Hee menggeleng ketakutan dan membanting botol yang dipegangnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.

“Pria itu hendak melakukan sesuatu yang buruk, bukan? Itulah sebabnya kakak (noona) tidak berdaya,” kata Maru. Jae Hee mengangguk.

Maru meraih tangan Jae Hee yang gemetar. Ia meminta Jae Hee menyerahkan diri karena ini adalah pembelaan diri. Pembunuhan yang tidak disengaja. Polisi pasti akan mempertimbangkan situasinya dan Jae Hee mungkin mendapat keringanan hukuman.

shot0196 shot0197

Tapi Jae Hee tidak sependapat. Ini akan menjadi akhir hidupnya. Karirnya sebagai reporter akan tamat. Maru berkata Jae Hee bisa memulai karir lain. Jae Hee bisa memulai hidupnya kembali.

Bagi Jae Hee itu sama saja dengan merangkak kembali pada kemiskinan. Apakah Maru tidak tahu telah seberapa jauh ia melangkah? Dan apa yang ia lakukan untuk lepas dari kemiskinan? Apa Maru benar-benar menyuruhnya kembali ke neraka? Maru terdiam.

“Suruh aku mati saja. Aku lebih baik mati!!” Jae Hee melompat berdiri dan mengambil pecahan botol untuk menyayat nadinya.

shot0202 shot0209

Maru memeganginya. Jae Hee berteriak dan meronta-ronta. Ia tidak punya alasan untuk hidup. Selama 15 tahun ia bercita-cita menjadi reporter untuk mengeluarkannya dari kemiskinan. Semuanya telah berakhir sekarang.

Maru berusaha menyuruh Jae Hee melepaskan pecahan botol itu tapi ia malah terluka. Tangannya mengeluarkan darah. Jae Hee tercekat. Ia bertanya apa Maru tidak apa-apa.

“Tidak bisakah aku menjadi alasannya?” tanya Maru. “Selama 13 tahun terakhir, kakaklah yang membuatku terus melangkah meski tidak ada harapan. Tidak bisakah seseorang sepertiku menjadi alasanmu untuk hidup?” Jae Hee menatap Maru.

shot0223 shot0224

Mereka duduk di lantai dekat tempat tidur hotel.

“Apakah menurutmu Tuhan itu ada?” tanya Jae Hee. “Mengapa Ia melakukan ini hanya padaku? Mengapa Ia hanya kejam padaku? Apa salahku?” kata Jae Hee. Jika Tuhan memang hendak kejam padanya, harusnya sedari awal. Agar ia tidak memimpikan dan memikirkan apapun. Seharusnya Tuhan menghancurkannya sejak awal. Tuhan memberinya harapan namun membawanya pada impian kosong.

“Mungkin kau bukan tipe-Nya,” sahut Maru sedikit bercanda.

Jae Hee tersenyum kecil. Ia lapar. Mungkin di kantor polisi nanti, ia bisa minta mereka memesankan sup tulang untuknya. Ia mengangkat telepon dan menghubungi polisi untuk menyerahkan diri. Belum sempat ia mengatakan apa yang terjadi, Maru merebut ponselnya.

shot0227 shot0231

“Ma-ru…,” kata Jae Hee terkejut.

Ma-ru tiba-tiba mencium Jae Hee dengan penuh perasaan. Lalu tanpa mengatakan apapun, ia bangkit berdiri dan mulai membersihkan benda-benda di kamar hotel itu.

Jae Hee bertanya apa yang sedang Maru lakukan. Maru berkata ia yang membunuh pria itu dan Jae Hee tidak tahu apa-apa. Karena itu ia membersihkan benda-benda yang mungkin memiliki sidik jari Jae Hee.

Jae Hee berusaha menghentikan Maru. Maru menyuruh Jae Hee pergi dan tidak menoleh ke belakang. Hanya memandang ke depan. Jae Hee menggeleng, ia tidak mau. Kenapa harus Maru?

shot0243 shot0248

Maru berkata ia tidak apa-apa jika tidak menjadi dokter. Tapi Jae Hee tidak bisa hidup tanpa impiannya. Jae Hee akan menderita memikirkan impiannya yang kandas dan mati muda. Jae Hee terpana menatap Maru. Wajahnya dipenuhi airmata.

Maru tersenyum kecil. Hari ini ia belum makan seharian. Ia ingin pergi ke kantor polisi dan makan di sana.

“Noona, pergilah,” kata Maru dengan tegar.

shot0258 shot0259

Di tempat lain, seorang pria keluar dari sebuah gedung (penasihat Jo!!^^) dan bersiap menaiki mobilnya. Tampaknya ia direktur sebuah perusahaan. Sebuah mobil berwarna putih tiba sambil terus membunyikan klakson.

Mobil itu berhenti tepat sejengkal di belakang mobil sang direktur. Direktur menghampiri mobil itu dan membungkuk memberi hormat saat melihat pengendara mobil itu. Seorang gadis cantik, namanya Seo Eun Gi (Moon Chae Won).

Eun Gi tersenyum ramah dan memanggil pria itu Direktur Choi. Ia bertanya apakah Direktur Choi hendak pergi menemui ayahnya untuk mendapat persetujuan. Ia menawarkan tumpangan karena ia sendiri hendak pulang ke rumah. Dan lagi ada yang ingin ia bicarakan dengan Direktur Choi. Direktur Choi terlihat senang dan bangga.

shot0263 shot0264

Dalam perjalanan, Eun Gi menjelaskan mengapa ia menawarkan tumpangan. Untuk apa membuang-buang uang menggunakan dua kendaraan jika tempat tujuan mereka sama. Meski uang yang digunakan untuk membeli bahan bakar berasal dari perusahaan.

Direktur Choi bertanya mengapa Eun Gi tidak menggunakan supir. Eun Gi tersenyum, kali ini keramahan itu tidak nampak di wajahnya. Ia memiliki temperamen. Sebulan ini saja ia sudah tiga kali berganti supir.

“Tapi, kenapa kau terus memanggil “Nona” padaku. Apakah karena kau merasa aku lebih rendah? Jika tidak, apa kau sengaja melakukannya untuk merendahkan aku?”

Direktur Choi terkejut. Eun Gi berkata ia sebagai “puteri kecil” ayahnya bekerja di perusahaan sebagai bos Direktur Choi, apakah hal itu mengganggu Direktur Choi?

Direktur Choi segera menyangkalnya. Ia mulai nampak ketakutan dan tidak berani lagi memanggil Nona. Eun Gi terus menyindir. Direktur Choi meremehkannya karena ia seorang gadis berusia 23 tahun walau ia lulusan MBA dari Harvard. Bukankah Direktur Choi mengata-ngatainya di belakangnya?

shot0274 shot0279

Direktur Choi berkata itu informasi palsu dan tidak benar. Ia terlihat gelisah. Dengan tenang Eun Gi berkata ia tidak menaruh dendam pada hal semacam itu. Tapi ada baiknya Direktur Choi memakan obat jantungnya sekarang ini.

Eun Gi mulai menekan pedal gas mobilnya. Ia terus berbicara. Ia tahu Direktur Choi membeli sebuah perusahaan melebihi harga yang seharusnya. Dan bukan hanya sekali ini saja. Ini artinya Direktur Choi telah mengambil keuntungan dari kelebihan harga pembelian perusahaan-perusahaan tersebut.

Eun Gi dengan lincah memanuver mobilnya melewati mobil-mobil lain. Ia semakin cepat memacu mobilnya. Direktur Choi ketakutan. Eun Gi hampir menabrak mobil lain.

Eun Gi membuka jendela dan memaki-maki pengemudi mobil yang hampir menabraknya dengan kasar. Lalu dengan tenang ia meminta maaf pada Direktur Choi. Sampai mana pembicaraan mereka tadi? Direktur Choi menelan ludahnya, hmmm…untung jantungnya tidak kumat.

shot0293 shot0300

Eun Gi dan Direktur Choi mendekati tempat tujuan mereka. Eun Gi bertanya pilihan mana yang hendak Direktur Choi ambil, ditangkap dan dipenjara atau mengembalikan uang yang telah dikorupsinya dan keluar dari perusahaan?

Eun Gi mendadak menginjak remnya. Mereka telah tiba di rumahnya. Ia melihat seorang wanita berdiri di depan rumahnya.Wanita itu mengenakan kemeja kotak-kotak. Kemeja yang tadi dikenakan Maru. Wanita di depan rumah Eun Gi adalah Han Jae Hee.

shot0311 shot0312

Eun Gi melihat dengan tertarik dari mobilnya. Ia melihat ayahnya keluar menghampiri Jae Hee. Wajah Eun Gi berubah suram.

Ayah Eun Gi melihat Jae Hee yang nampak kusut. Wajah bekas menangis dan rok yang robek. Jae Hee menyerahkan amplop besar coklat pada ayah Eun Gi.

“Apa Anda tahu apa yang telah saya lakukan? Demi melindungi Presdir, apa Anda tahu apa yang telah saya lakukan?” tanya Jae Hee sambil menangis. “Apa Anda tahu apa yang saya lakukan pada seorang pria yang sama pentingnya dengan hidup saya?”

Ayah Eun Gi tidak mengatakan apapun. Ia maju memeluk Jae Hee. Jae Hee terus menangis. Eun Gi menyaksikan semuanya tapi ia tetap tenang saat berbicara pada Direktur Choi yang masih duduk di sebelahnya.

shot0318 shot0332

Maru duduk di kamar hotel. Mengingat perkataan Jae Hee sebelum Jae Hee pergi. Jae Hee berkata ia tidak akan melupakan hutang budinya pada Maru seumur hidupnya. Tidak peduli bagaimanapun, ia akan membalas budi Maru.

Maru berjalan ke jendela, mengamati mobil-mobil polisi yang semakin mendekat. Ia mengangkat ponselnya.

“Choco, ini kakak. Apa kau baik-baik saja? Kakak minta maaf tapi kakak tidak bisa pulang. Kakak akan menelepon Jae Gil dan memintanya mengantarmu ke rumah sakit. Maaf, kakak tidak menepati janji,” kata Maru pelan.

Maru menutup teleponnya dan kesadaran menerpanya. Air mata merebak di matanya. Menangisi masa depannya yang hancur.

Ia dihukum 5 tahun penjara.

shot0342 shot0344

Enam tahun kemudian. Di Aomori, Jepang.

Dalam sebuah kamar hotel yang mewah, Maru memandang ke luar jendela. Ia mengenakan kimono mandi. Seorang wanita memeluknya dari belakang. Mengajaknya makan malam di hotel hari ini.

Maru menoleh dan tersenyum. Wanita itu nampak tergila-gila pada Maru. Ia mendekatkan dirinya untuk mencium Maru.

“Mari kita hentikan sekarang,” ujar Maru pelan. Wanita itu terkejut.

shot0353 shot0355

Maru mengeluarkan cek 10 juta won dari dompetnya lalu mengenakan pakaiannya. Wanita itu melempar cek itu pada Maru dengan marah. Apa Maru menganggapnya pelacur?

“Tidak. Aku pikir kau wanita penipu (wanita yang mendekati para pria untuk mendapatkan uangnya). Aku tahu betapa populernya kau dalam bidang ini. Tapi kali ini kau memilih pria yang salah. Aku bukan tangkapan kaya seperti yang kauharapkan,” kata Maru. Wanita itu terkejut.

shot0360 shot0364

Maru berjalan keluar. Wanita itu mengejarnya, bertanya sejak kapan Maru tahu mengenai dirinya. Jika Maru sudah tahu, mengapa Maru tidak mengatakan apapun hingga sekrarang?

“Karena tidak masalah untukku. Entah kau wanita penipu atau tidak, aku tidak peduli,” kata Maru sambil menatap wanita itu. Fiuhh…he’s so good at lying.

Wanita itu berseru ia tidak seperti itu dengan Maru. Ia benar-benar serius dengan Maru. Ia mengaku awalnya ia mendekati Maru untuk mendapatkan uang. Tapi Maru berbeda dari pria-pria lain.

Maru melepaskan tangan wanita itu dari bajunya. Wanita itu tidak membiarkan Maru pergi. Ia benar-benar mencintai Maru. Ia tahu Maru tidak akan percaya. Wanita itu gelisah karena takut Maru akan meninggalkannya.

“Aku percaya,”’ ujar Maru lembut. Wanita itu terkejut.

“Sayang…..”

“Aku percaya padamu,” kata Maru lagi.

Wanita itu menangis dan meminta maaf pada Maru. Tanpa ekspresi, Maru balas memeluk wanita itu. Seulas senyum sinis menghiasi bibirnya.

shot0372 shot0383

Di kamar sebelah hotel itu, Eun Gi tidur dengan gelisah. Ia mengigau. Park Jun Ha, Pengacara Eun Gi, mengamati Eun Gi dengan khawatir. Pelan-pelan ia mengulurkan tangan untuk mengelap keringat di wajah Eun Gi.

Eun Gi terbangun. Pengacara Park buru-buru menarik tangannya. Eun Gi bangun saat menyadari hari sudah siang. Ia ada janji temu bisnis dengan seorang direktur. Tanpa gentar, Pengacara Park memberitahu Eun Gi kalau direktur itu telah pergi ke bandara. Eun Gi marah, mengapa sekretarisnya tidak membangunkannya?!

Pengacara Park berkata ia yang meminta sekretaris Eun Gi tidak membangunkan Eun Gi. Seminggu ini Eun Gi tidur tidak lebih dari tujuh jam. Dan itu berbahaya bagi pengidap penyakit kronis seperti Eun Gi. Wait….she’s sick?

 shot0384 shot0387

Eun Gi dengan lidahnya yang tajam berkata itu bukan urusan Pengacara Park. Tapi Pengacara Park tidak mundur. Dokter sudah mewanti-wanti soal kesehatan Eun Gi. Eun Gi berkata mengapa Pengacara Park tidak memikirkan pekerjaannya sebelum memikirkan kesehatannya. Jika perjanjian kali ini gagal, ia akan memastikan Pengacara Park dipecat lebih dulu.

Eun Gi berlalu ke kamar mandi. Pengacara Park tampaknya sudah mengenal temperamen Eun Gi. Tiba-tiba Eun Gi keluar dari kamar mandi dan menanyakan komplain produk kosmetik pada perusahaannya.

Pengacara Park menjelaskan ada kemungkinan produk itu harus ditarik peredarannya dari semua hotel di Jepang. Dengan kesal Eun Gi membentur-benturkan kepalanya ke dinding. Pengacara Park nampak khawatir. Tapi Eun Gi sudah kembali ke kamar mandi. Pengacara Park menghela nafas panjang.

shot0398 shot0703

Tak berapa lama kemudian, Eun Gi keluar. Tubuhnya hanya berbalutkan handuk. Pengacara Park berusaha mengalihkan matanya dari Eun Gi.

Dengan cuek Eun Gi menanyakan hasil tes produk kosmetik mereka. Tidak ditemukan bahan berbahaya, bukan? Pengacara Park membenarkan dengan gugup. Gugup karena melihat Eun Gi. Eun Gi menyuruhnya menghubungi konsumen yang mengajukan komplain pada produk kosmetik mereka. Mereka akan meminta maaf.

Ia juga meminta Pengacara Park mencari data mengenai keadaan keuangan dan keluarga konsumen tersebut. Dari senyumnya, Eun Gi sepertinya memiliki rencana.

shot0401 shot0404

Melihat Pengacara Park tak berani menatapnya, Eun Gi menyadari ia belum berpakaian. Dengan santai ia kembali berjalan ke kamar mandi.

“Kau menyukai pria, benar kan?” tanya Eun Gi penuh arti sebelum ia masuk ke kamar mandi. “Kau belum berpindah pada wanita, kan?”

“Belum,” jawab Jun Ha memberanikan diri menatap Eun Gi (Pengacara Park kepanjangan, jadi aku pakai namanya ya: Jun Ha).

“Rahasiamu aman denganku,” kata Eun Gi tersenyum penuh arti, “Tak perlu khawatir…Oppa.”

shot0414 shot0416

Eun Gi berlutut dan membungkuk memberi hormat pada seorang wanita Jepang. Wajah wanita itu dipenuhi bintik-bintik merah. Ia adalah wanita konsumen produk kosmetik perusahaan Eun Gi yang mengajukan komplain. Mereka bercakap-cakap dengan bahasa Jepang.

Eun Gi meminta maaf pada wanita tersebut. Wanita itu bertanya apakah cukup dengan permintaan maaf setelah wajahnya dibuat seperti itu. Jun Ha menaruh sebuah amplop di meja lalu meninggalkan ruangan.

Wanita itu melihat isi amplop. Isinya sejumlah uang. Dengan sinis ia bertanya apakah Eun Gi ingin memberi kompensasi dengan uang. Ia membanting amplop itu di meja.

shot0423 shot0425

Eun Gi cepat-cepat membungkuk memberi hormat. Ia bertanya dengan sopan apakah wanita itu menginginkan hal lain.

Wanita itu tersenyum puas. Ia merasa lapar, bukankah sebaiknya mereka makan dulu. Eun Gi tersenyum dan berterima kasih.

Eun Gi mengeluarkan sebuah kotak berisi kimchi. Mata wanita itu bersinar. Eun Gi berkata ia akan menyingkirkan kimchi itu jika wanita itu tidak menyukainya.

Wanita itu berkata ia sudah lama ingin mencoba kimchi Korea. Ia mencoba kimchi itu dan berkata rasanya sangat enak. Eun Gi hanya tersenyum, tapi sorot matanya berubah.

shot0429 shot0430

Tiba saatnya makanan penutup. Wanita itu mencicipinya lalu berkata ia harus pergi karena ada janji. Eun Gi meminta wanita itu untuk menunggu sebentar. Lalu menaruh sebuah kotak di atas meja.

“Bukankah itu produk kosmetik yang saya komplain?” tanya wanita itu.

“Benar, ini juga bahan yoghurt yang baru saja Anda makan,” kata Eun Gi tenang.

Wanita itu memegangi lehernya, terkejut. Eun Gi baru saja memberinya makan produk kosmetik? Ia langsung menenggak tehnya.

Eun Gi meminta wanita itu tidak khawatir. Kali ini ia berbicara dengan bahasa Korea. Bahan kosmetik perusahaan mereka sangat aman karena terbuat dari bahan organik. Jika memang terdapat logam dalam bahan kosmetiknya seperti komplain wanita tersebut, maka mereka akan bertemu lagi di rumah sakit besok pagi. Ia sendiri memiliki kulit wajah sensitif.

Wanita itu gelisah namun tetap menunjukkan wajah sangar. Ia meminta Eun Gi menggunakan bahasa Jepang.

shot0434 shot0448

Eun Gi tersenyum sinis. Ia tahu wanita itu mengerti bahasa Korea dan juga memakan kimchi dengan baik. Wanita itu berkata orang Jepang suka dengan kimchi Korea. Busted!! Eun Gi berkata wanita itu buktinya mengerti ucapannya walau ia berbicara dengan bahasa Korea.

“Hei, wanita imigran Korea dengan aksen Jepang yang aneh, hentikan omong kosong ini,” ujarnya tajam.

Jun Ha masuk menyerahkan sebuah amplop lalu berbisik pada Eun Gi. Eun Gi mengeluarkan data bank wanita itu dan menaruhnya di meja. Ia tahu sejumlah uang telah dibayarkan oleh kompetitor perusahaan mereka pada wanita itu untuk menjatuhkan perusahan Eun Gi.

Eun Gi bangkit berdiri. Ia menyuruh Jun Ha melaporkan wanita itu pada polisi. Ia juga membuat pernyataan di media mengenai insiden ini. Tak lupa membalas Grup OL (kompetitor perusahaan Eun Gi) agar membayar kecurangan ini dengan setimpal.

shot0451 shot0460

Eun Gi kembali ke hotel. Ia merasa kepalanya pusing dan dadanya terasa sakit. Eun Gi membungkuk karena kesakitan.

Seorang wanita menghampirinya dengan khawatir dan bertanya apakah Eun Gi tidak apa-apa. Wanita itu Han Jae Hee. Jae Hee terlihat berbeda dari enam tahun yang lalu. Anggun dan jelas kaya.

Eun Gi tersenyum dan bertanya apakah Jae Hee menikmati air panas di hotel ini. Jae Hee berkata Eun Gi kelihatan tidak sehat. Eun Gi berkata ia memang ingin terlihat seperti itu agar terlihat ia telah bekerja keras.

 shot0474 shot0477

“Bagaimana dengan ayahku? Apakah ia masih ada di kamar?”

Jae Hee berkata ayah Eun Gi telah berangkat sejam lalu bersama Sekretaris Chang untuk menghadiri makan siang bersama para pengusaha di Blue House (White House-nya Korea).

Jae Hee mengelap keringat Eun Gi dengan sapu tangan. Ia terkejut karena Eun Gi demam. Eun Gi melepaskan tangan Jae Hee dari wajahnya. Ia menyuruh Jae Hee berhenti berpura-pura karena tidak ada lagi yang melihat aksi baik Jae Hee.

“Eun Gi...” protes Jae Hee. Eun Gi berkata ia berakting lebih baik dari Jae Hee hari ini, jadi hari ini ia menang. Jae Hee hanya menatap Eun Gi tak percaya.

shot0487 shot0490

“Ibu!! Ibu!!” seorang anak kecil berlari-lari menghampiri Jae Hee. Eun Gi memutar bola matanya. Tak terlihat senang dengan kehadiran anak itu.

Anak itu, Eun Seok, memeluk kaki Eun Gi dan mengajaknya bermain. Eun Gi tersenyum sinis, tampaknya Eun Seok menuruni sifat Jae Hee. Menempel pada siapapun yang cocok.

Jae Hee mengingatkan kalau Eun Gi bukanlah sembarangan orang. Ia adalah kakak Eun Seok. Apa salahnya jika ia menyukai kakaknya?

“Kakak apaan? Aku tidak menganggapmu sebagai adikku,” kata Eun Gi sambil melepas Eun Seok dari kakinya. Ia telah mengatakannya lebh dari seratus kali, apa Eun Seok bodoh? Eun Gi menjentikkan jarinya di dahi Eun Seok.

shot0496 shot0501

Eun Seok menangis memeluk ibunya. Jae Hee melotot, bagaimana bisa Eun Gi bersikap seperti itu pada anak kecil? Eun Seok hanya anak kecil berusia 4 tahun.

“Sebelum dia menjadi anak berusia 4 tahun, dia adalah puteramu. Pada usia 28 tahun, kau menjadi istri muda seseorang yang seusia dengan ayahmu. Kau bahkan menyingkirkan istrinya yang setia. Satu-satunya legenda, Han Jae Hee.”

Itulah sebabnya ia takut pada Eun Seok. Suatu saat nanti Eun Seok mungkin mengeluarkan taringnya dan menggigit leher Eun Gi. Eun Gi pergi meninggalkan mereka.

Jae Hee menenangkan Eun Seok yang terus menangis. Ia berkata Eun Gi hanya bercanda. Jae Hee menggendong Eun Seok masuk ke dalam.

shot0509 shot0516

Tak jauh dari mereka, Maru menghampiri Jae Gil yang sedang menunggu di jembatan. Maru tak mendengar tangisan Eun Seok karena Jae Gil sedang menangis keras.

Rupanya wanita penipu yang tergila-gila pada Maru adalah wanita yang berhasil menipu uang Jae Gil. Ia berkilah bagaimana mungkin ia menangisi wanita seperti itu. Mungkinkah ia masih memiliki perasaan pada wanita itu? Memangnya dia orang bodoh?

“Hm...” Maru membenarkan. Jae Gil terdiam, tak bisa membantah lagi.

Maru mengulurkan buku tabungan pada Jae Gil. Itu adalah milik wanita penipu itu. Maru menyuruh Jae Gil mengambil kembali uangnya yang telah ditipu wanita itu, dan sisanya dimasukkan dalam rekening Choco.

Jae Gil melihat jumlah tabungan wanita itu. Ia tak percaya Maru berhasil mengambil uang wanita itu hanya dalam waktu seminggu. Maru tak menjelaskan, ia mengajak Jae Gil kembali ke Seoul. Urusan mereka telah selesai di sini.

shot0528 shot0537

Maru berjalan pergi. Jae Gil berteriak, apakah Maru mencium mantan kekasihnya? Maru menoleh dengan tatapan: “Apakah itu perlu kautanyakan lagi?”. Jae Gil bertanya apakah Maru tidur dengan wanita itu? Maru menatapnya dengan tatapan yang sama.

Berapa kali? Seru Jae Gil. Satu kali? Dua kali? Empat kali?

“Kalikan empat dan tambahkan sepuluh!” seru Maru cuek. Whoaaaa...

Jae Gil langsung mencak-mencak. Ia hanya ingin uangnya kembali, tak pernah menyuruh Maru tidur dengan wanita itu.

shot0542 shot0543

Maru dan Jae Gil berada dalam pesawat kembali ke Korea. Maru tidur dengan mengenakan headphonenya. Jae Gil merasa bosan dan menoleh ke sana kemari. Ia melihat seorang wanita terus memandangi Maru.

Ia menulis sesuatu di koran lalu menunjukkannya pada wanita itu. Tulisannya: “Dia hidung belang dan playboy. Dia pikir semua wanita adalah pelayan.” Jae Gil menunjukkan tulisan itu sambil mengangguk menunjuk Maru.

Wanita itu sepertinya tidak percaya. Jae Gil menulis lagi. “Dia pria baik dan manis yang tidak memiliki kekasih.” Wanita itu pura-pura tidak tertarik.

shot0551 shot0558

Maru terbangun dan berjalan ke toilet pesawat. Jae Gil keluar dari kursinya dan menghampiri wanita itu. Ia meminta no ponsel wanita itu dengan menyerahkan ponselnya. Tiba-tiba ponsel itu direbut seorang pria yang berpenampilan seperti gangster.

Wanita itu menulis di tangannya dan diam-diam menunjukkan tulisan itu pada Jae Gil. “Kekasihku adalah seorang gangster.” O-ow...

shot0561 shot0564

Maru menanti toilet kosong. Tak lama pintu toilet terbuka. Seorang wanita jatuh ke dalam pelukan Maru. Maru tidak nampak terkejut. Sepertinya ia biasa didekati seorang wanita dengan tiba-tiba seperti itu. Ia berkata pesawat bukanlah tempat yang tepat.

Tapi wanita itu bukan sedang memeluk Maru. Wanita itu sangat sakit dan hampir kehilangan kesadaran. Eun Gi.

Maru membaringkan Eun Gi di lantai pesawat dan memeriksa nadinya. Para pramugari datang menghampiri Eun Gi. Maru pun kembali ke tempat duduknya, merasa itu bukan urusannya.

shot0570 shot0574

Di pesawat terdengar pengumuman mengenai penumpang yang saki parah dan mereka mencari seorang dokter. Maru mengenakan headphonenya kembali. Sayangnya, di pesawat itu tidak ada dokter.

Jae Hee duduk di samping Eun Gi. Wajahnya sangat khawatir. Pramugari terus memberi pengumuman mengenai adanya pasien darurat dalam pesawat dan mereka membutuhkan dokter.

Jae Gil menyikut Maru. Maru tak mempedulikannya. Auuch, Jae Gil mencubit Maru hingga Maru tak bisa pura-pura tak peduli lagi.

“Bukankah kau seorang dokter?” ujar Jae Gil. Maru tak menjawab.

“Kau ini seorang dokter!”

“Aku dikeluarkan dari sekolah kedokteran!”

shot0587 shot0592

Jae Gil berkata tidak ada dokter di pesawat ini, mengapa Maru tidak pergi melihat pasien itu. Maru tak peduli dan mengenakan headphonenya kembali.

Keadaan Eun Gi semakin memburuk. Jae Gil melihat pramugari terus mondar mandir di pesawat mencari dokter. Ia tak tahan lagi dan melepaskan headphone Maru. Maru kesal.

Jae Gil mengubah taktik. Ia berkata Choco hampir mati lalu pingsan di pinggir jalan. Bagaimana jika tidak ada yang mempedulikannya karena bukan urusan mereka? Pasti Choco sudah mati sejak dulu. Maru harus membalas kebaikan dengan kebaikan. Jae Gil memarahi Maru dan mengatainya orang yang egois, hanya memikirkan diri sendiri. Sementara Jae Gil memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengatai Maru, Maru akhirnya bangkit berdiri. Ia pergi ke kelas bisnis, tempat Eun Gi pingsan.

Jae Gil tersenyum. Maru selalu tak berkutik jika menyangkut Choco.

shot0611 shot0612

Maru menghampiri Eun Gi dan memeriksanya. Eun Gi masih terbaring lemas. Ia mengenakan masker oksigen dan tekanan darahnya sangat tinggi.

Maru mengeluarkan stetoskop dan memeriksa Eun Gi. Kondisi Eun Gi cukup serius. Ia mencari pendamping Eun Gi.

Jae Hee menghampiri mereka. Maru mengangkat kepalanya. Keduanya kaget saat melihat satu sama lain.

shot0635 shot0636

“Dia adalah pendampingnya,” kata pramugari pada Maru. “Dia adalah dokter,” kata pramugari memperkenalkan Maru pada Jae Hee.

“Aku….bukan dokter,” ujar Maru pahit. “Aku pernah sekolah kedokteran tapi keluar sebelum lulus.”

Well, itu bukan sesuatu yang tidak diketahui Jae Hee. Dan Jae Hee tahu apa penyebabnya. Maru berdiri hendak kembali ke tempat duduknya tapi pramugari menahannya.

“Apa hubunganmu dengan pasien ini?” tanya Maru pada Jae Hee. Jae Hee tak menjawab.

“Kau tak bisa mempercayaiku karena aku bukan dokter?” kata Maru dengan perasaan terluka. “Haruskah aku membiarkannya mati saja?”

“Puteriku…dia puteriku.”

Maru shock. Jae Hee menjelaskan, Eun Gi adalah anak suaminya dari pernikahan sebelumnya. Ups, sepertinya Maru baru tahu kalau Jae Hee telah menikah. Padahal kukira ia menjadi dingin pada wanita karena Jae Hee menikah dengan pria lain.

“Ibu…” Terdengar Eun Seok memanggil ibunya. Jae Hee segera menenangkan puteranya. Maru bertambah shock.

shot0648 shot0655

Pramugari memanggil Maru karena kondisi Eun Gi semakin memburuk. Maru menekan perasaanya dan berlutut di dekat Eun Gi. Ia bertanya berapa lama lagi pesawat akan mendarat. Pramugari berkata bandara terdekat berjarak 30 menit lagi.

Mendengar itu, Maru mensterilisasi tangannya dengan alkohol. Ia berkata terdapat banyak udara dan air dalam paru-paru Eun Gi. Jika ia melakukan CPR sekarang, Eun Gi bisa mati. Artinya mereka tidak memiliki waktu yang cukup.

Ia harus mengeluarkan udara dari paru-paru Eun Gi dengan alat suntik. Hanya itu yang bisa mereka lakukan sekarang.

shot0661 shot0666

Maru mulai beraksi. Ia menusukka alat suntik di dada Eun Gi, lalu mengeluarkan udara dari paru-parunya. Jae Hee sangat khawatir. Alat suntik kedua, Eun Gi memuntahkan darah saat Maru menarik udara dari paru-parunya.

Jae Hee bertanya apa yang terjadi. Maru bertanya apakah Eun Gi pernah mengalami kecelakaan mobil. Jae Hee tak menjawab, terlihat jelas ia tak percaya dengan apa yang dilakukan Maru.

“Aku tanya apakah ia pernah kecelakaan mobil?”

“Aku tanya apakah ada yang salah?!” seru Jae Hee.

shot0668 shot0671

“Pernahkah rusuknya terluka karena kecelakaan?!” tanya Maru, wajahnya penuh kemarahan. “Kau bilang kau ibunya.”

Maru mengambil alat suntik ketiga. Jae Hee menghentikannya. Jika terjadi sesuatu pada Eun Gi… Jika ia mati…

Maru menepis tangan Jae Hee dan menusukkan alat suntik ketiga di dada Eun Gi.

“Hentikan, Kang Maru! Kau bahkan bukan seorang dokter! Hentikan!” seru Jae Hee.

Maru menatap Jae Hee dengan tajam. Jika pandangan bisa membunuh….

shot0684 shot0687

Komentar:

Tidak ada yang mengejutkan dalam episode pertama ini karena ceritanya sudah kita ketahui dari previewnya Tapi yang menarik, drama ini tidak semelo yang kuperkirakan sebelumnya. Tidak berlebihan, namun menyampaikan emosi dengan tepat. Akting Song Joong Ki, Moon Chae Won, dan Park Shi Yeon, patut diacungi jempol. Tatapan mata dan ekspresi wajah mereka bisa membawakan emosi mereka dengan baik. Chemistry mereka bertiga sudah terasa. Hmmm...jadi pengen lebih banyak melihat Maru dengan Eun Gi.

 shot0576shot0622  

Walau cerita episode ini sudah kita ketahui, tapi menyisakan banyak pertanyaan. Apa yang terjadi selama 5 tahun Maru di penjara? Apa yang terjadi hingga Maru berubah drastis?

shot0014 shot0582

Bagaimana Jae Hee bisa menjadi ibu tiri Eun Gi? Apakah Jae Hee memang memperhatikan Eun Gi? Atau hanya pura-pura seperti yang dikatakan Eun Gi?

Tokoh lainnya juga mengundang rasa penasaran. Jun Ha sepertinya akan menjadi second lead yang patah hati. Apakah ia benar-benar gay? Atau ia berbohong hanya agar bisa berada di sisi Eun Gi? Jae Gil jelas menjadi satu-satunya pencerah suasana di drama ini^^

shot0418 shot0614

Nantikan kelanjutannya di Kutudrama ya^^

19 comments:

  1. Jdi penasaran jg ma jun ha mba fanny, dia ntar dukung kubu mana ya? Klo dia suka eun gi bs jd dia bakal jd saingan ma ru dong mba fanny?
    Ditunggu kelanjutannya mba fanny,,
    gomawo sinopnya^^

    ReplyDelete
  2. whhaaa tatapannya song jong ki ...
    menusuk,
    hheu..

    bs menyampaikn emosi cm lewat tatapan,
    keren ..

    kyknya ind blm pny kyknya artis yg bs kyk gtu..

    ~tita~
    ttep semangat bkin sinops nya mba ^o^

    ReplyDelete
  3. 중기는 내거야 .. !(づ ̄ ³ ̄)づ
    ahahahahaha... XDDDDDDDDDDDD
    kayanya kalo aku beneran nonton dramanya bakal salah fokus nih.. >///<
    joongki oppa melemahkan imanku.. *mimisan*

    ReplyDelete
  4. wah jongki ada disini juga....tolong dijagain ya mbak fanny sama mbak dee...cha titip oppa jongkinya ^^

    hmm...fighting ya buat berdua ^^

    ReplyDelete
  5. keren ngeliat matanya joong ki disini

    sisi darknya keliatan banget

    ReplyDelete
  6. thanks god mba fany n mba dee dah buat sinop nya,, kaya nya keren eps 1 seru hmpir menitikkan air mata tp belom hehehe

    aq juga pengen lebih sering lihat maru sm eun gi
    hehehe :)

    gomawo

    ReplyDelete
  7. hmmmm.. dulu ad bad guy, skrg nice guy..
    jempol buat drakor ini!!

    ReplyDelete
  8. Wah, sepertinya drama.ini bagus
    Pengen nonton ah!!

    ReplyDelete
  9. wahhhh JongKi tatapannya bener2 bikin deg2an ^^ kalo yang di scene awal bisa mah jongKi yg biasa di RM kalo yang akhir BENER2 JongKi yg penuh dendam......... KWANG SOO gak di RM ato akting benar2 tokoh tertindas yg konyol dan EASY ^^

    semangat mbak FANYY & DEE bikin sinopsisnya :)

    ReplyDelete
  10. Drama ini menarik sekali ditambah acting yg bgs dari pemainnya. Semangat Fanny utk sinop selanjutnya :-)
    -anit-

    ReplyDelete
  11. @all: makasih buat semangatnya^^

    ReplyDelete
  12. great scenario and you guys have a great acting in this drama. love you guys, fighting!

    ReplyDelete
  13. great scenario and you guys have a great acting in this drama. love you guys, fighting!

    ReplyDelete
  14. kayaknya bagus,

    ReplyDelete
  15. udaa lamaa pengen nonton drama ini
    tapi lum dapet T.T

    ~khenthunk~

    ReplyDelete
  16. ada yang tahu download gratis buat drama korea gt????

    ReplyDelete
  17. baru smpat nuntun drama ini,,padahal kasetx dahhh lamaaa,,,,dl lgsg sy ungsikan,,krn temenku blg crtax kurang menarikkk,,,ternya slain crtax menarik,pemainx jg menarikkk,,heheh,,,kekx queen of ambition hampir sm crtax dgn nice guy

    ReplyDelete
  18. pelit bgt sih, di copas aja gak mau, sebagai manusia kan kita harus saling berbagi, walaupun gak saling kenal, nih sinopsis juga gak bakal dibawa sampe mati kan? dasar pelit

    ReplyDelete

Terima kasih komentarnya^^
Maaf aku tidak bisa membalas satu per satu..tapi semua komentar pasti kubaca ;)