Thursday, 24 July 2014

Sinopsis It’s Okay That’s Love Episode 1 (Bagian 1)

shot0176

Agar lebih memudahkan mengenal masing-masing karakternya, silakan melihat Deskripsi Karakter para tokoh drama ini.

Hari ini adalah hari kebebasan bagi seorang napi bernama Jang Jae Beom. Melihat semua penghuni penjara mengenalnya dan menyorakinya, jelas ia seorang penghuni lama di penjara ini.

Di tempat lain, seorang DJ tampan meramaikan suasana pesta di sebuah klub. Dress code pesta itu pastilah baju renang karena semua pengunjung mengenakan baju renang, lengkap dengan kolam renang di tengah klub.

shot0005 shot0006

Pesta tersebut rupanya pesta ulang tahun sang DJ, Jang Jae Yeol. Di tengah suasana pesta yang bertambah semarak, tidak ada yang menyadari masuknya seorang pria misterius membawa sebuah garpu.

Para hadirin bersorak ketika kekasih Jae Yeol mencium Jae Yeol. Jae Yeol balas mencium kekasihnya itu untuk memenuhi permintaan para tamu agar mereka berciuman sekali lagi.

Tiba-tiba suara riuh itu terhenti dan tersisa suara satu orang. Jae Yeol berbalik untuk melihat orang tersebut. Ia tertegun melihat Jang Jae Beom.

 shot0030 shot0032

Jae Beom meninju wajah Jae Yeol lalu menusuk pundaknya dengan garpu yang dibawanya. Berkali-kali. Jae Yeol roboh ke lantai. Beberapa orang berusaha menghentikan Jae Beom tapi Jae Beom terus mengamuk dan melukai orang-orang yang hendak menghentikannya.

Kekasih Jae Yeol berteriak histeris sambil menangis meminta pertolongan untuk Jae Yeol.

“Tuan penulis! Tuan penulis!” seorang anak SMA menghampirinya sambil menangis.

 shot0039 shot0044

Sebelum kehilangan seluruh kesadarannya, Jae Yeol sempat melihat Jae Beom yang akhirnya berhasil diringkus oleh beberapa orang. Jae Beom tampak masih dipenuhi kemarahan. Anehnya, Jae Yeol malah tersenyum.

“Kakak….” Panggilnya dalam hati. “Ah, si bodoh itu.”

Air matanya mengalir lalu ia memejamkan matanya.

shot0054 shot0057

Ji Hae Soo pulang ke rumah yang nampak sepi. Seisi rumah nampak bersih tapi di meja berserakan bungkus-bungkus sisa makanan dan bak cuci piring penuh dengan alat makan kotor. Hae Soo mengernyit sedikit lalu mencuci sebuah mangkuk dan mengisinya dengan sereal. So…Hae Soo bukan tipe wanita yang mengutamakan kebersihan.

Ia memakan serealnya sambil menonton televisi (wow, jari-jari Hae Soo dihiasi cincin…cute^^). Televisi menayangkan berita mengenai keputusan final kasus penyerangan terhadap Jang Jae Yeol. Disebutkan Jae Yeol sudah meminta hakim mempertimbangkan keringana hukuman dengan alasan kakaknya masih dalam keadaan sensitif setelah mendekam lama di penjara. Tapi hakim menyatakan bahwa korban penyerangan Jae Beom bukan Jae Yeol saja tapi juga beberapa orang lainnya. Dan karena Jae Beom tidak menunjukkan pertobatan dari hukuman sebelumnya, ia dijatuhi hukuman 30 bulan penjara.

“Dia ini selebritis atau penulis?” ujar Hae Soo. “Melihat wajahnya yang berkilau, ia terlihat seperti tipe orang yang mencari keuntungan dengan wajahnya itu.”

Hae Soo mematikan televisi dengan kesal karena sepertinya Jae Yeol akan menunda peluncuran novel terbarunya. Padahal ia sudah menunggu berbulan-bulan. Ia mengomel Jae Yeol tidak sopan pada para pembaca bukunya.

shot0078 shot0081

Hae Soo mengambil sebuah apel lalu menggigitnya. Belum sepat ia selesai mengunyah, seseorang merebut apelnya dan memakannya. Dong Min mengomeli Hae Soo karena sejak pagi membuat keributan dengan mengatakan akan pindah ke rumah ini. Hae Soo mengambil kembali apelnya dan berjalan pergi sambil berkata ia memang orang seperti itu.

Dong Min terus mencerocos mengomeli Hae Soo yang menyalakan TV keras-keras padahal hari masih pagi. Juga Hae Soo meninggalkan mangkuknya begitu saja di atas meja tanpa membawanya ke dapur.

“Aku ini teman serumah dan seniormu, bukan pelayanmu! Jika kau pikir ini rumah anjing di mana kau hidup sendirian, maka pikirkanlah lagi!”

shot0089 shot0095

“Rumah ini memang sudah menjadi rumah anjing,” sahut Hae Soo. “Soo Kwang-ah!! Noona pulang!!”

Dong Min kembali berteriak memarahi Hae Soo agar tidak mengganggu Soo Kwang karena sudah 4 hari Soo Kwang menangis akibat cintanya ditolak. Hae Soo tak peduli dan terus berteriak memanggil Soo Kwang.

Dong Min terpaksa menyusul Hae Soo. Hae Soo membuka pintu kamar Soo Kwang tanpa mengetuknya lebih dulu. Untung Soo Kwang masih tertidur lelap. 

Hae Soo melihat tissue berserakan di lantai. Dong Min melihat itu juga. Ia berkata Soo Kwang menggunakan tissue-tissue itu untuk membuang ingus. Hae Soo nampak kurang percaya. Dong Min mengajak Hae Soo hidup bersama dengan rukun dan bahagia, bahkan kalau bisa…saling mencintai.

shot0101shot0102

Hae Soo menghela nafas panjang dan keluar dari kamar. Giliran Dong Min menghela nafas panjang. Ia membersihkan tissue-tissue yang masih ada di tempat tidur Soo Kwang. Lalu ia melihat buku yang nampaknya sedang dibaca Soo Kwang hingga ia tertidur. “Keheningan Cinta” karya Jang Jae Yeol.

Dong Min membangunkan Soo Kwang dan bertanya apakah buku itu begitu bagus. Soo Kwang tertawa senang seperti anak kecil . Ia berkata Dong Min akan tahu setelah membaca buku itu. Dong Min membacanya sekilas dan meminta Soo Kwang meminjamkannya.

shot0112 shot0116

26 bulan kemudian….

Jae Yeol baru saja mandi. Bekas lukanya hanya menyisakan warna merah samar di pundaknya. Ia mengambil handuk di lemari. Handuknya tersusun rapi berdasarkan warnanya. Hitam, merah, kuning, biru, dan putih. Dan sleuruh apartemennya hanya tersusun dari warna-warna tersebut..

Entah kenapa ia menutup tirai kamar mandi untuk menutupi bathtub dari pandangannya. Apa ia terganggu dengan warnanya.? Atau merasa terganggu karena bathtub itu bekas digunakan? Dan yang paling aneh adalah pintu kamar mandinya pun dikunci dengan password.

Lee Pool Ib, kekasihnya, nampak sudah bersiap pergi. Semalam ia menginap. Pool Ib menceritakan teman prianya (atau saudaranya?) yang sedang mencari tempat tinggal. Ia berkata jika temannya itu tidak mendapat tempat tinggal maka ia akan tinggal bersamanya. Tidak ada reaksi dari Jae Yeol.

shot0122 shot0125

Pooil Ib berkata sebaiknya Jae Yeol membangunkannya dengan tangan lain kali. Bukan dengan membuka jendela lebar-lebar dan mneyetel musik keras-keras. Baik, jawab Jae Yeol singkat.

“Kau menyuruhku pergi, bukan? Responmu semakin pendek saja,” kata Pool Ib cemberut.

Jae Yeol memeluknya beberapa saat.

“Aku harus pergi ke acara talk show,” ujarnya. Ia mengecup kening kekasihnya lalu pergi.

Pool Ib mengangkat teleponnya yang bergetar dan menanyakan apa yang terjadi pada bukunya. Apakah ia juga seorang penulis?

shot0127 shot0131

Tiga orang dokter melongo melihat pasien mereka. Sementara Hae Soo nampak berpikir melihat keadaan pasien yang babak belur tersebut. Hae Soo menghela nafas panjang melihat kondisi wanita yang sedang tidur itu.

Seorang pria menendang tempat tidur si pasien.

“Bangun, keparat! Dokter ada di sini. Kau tidak bangun?!” makinya sambil kembali memukuli pasien itu. Dokter menegur pasien itu.

Pria itu berkata dengan penuh emosi kalau si pasien sedang berpura-pura dan tidak tidur. Ia berkata wanita itu sedang mempermalukan keluarganya.

shot0134 shot0139

Hae Soo mengamati si pasien. Nampaknya pasien itu memang tidak tidur dan mendengarkan perkataan pria tersebut. Tapi pasien itu hanya diam tak bereaksi saat si pria itu kembali mengguncangnya dan menyuruhnya bangun.

Yang lebih mengejutkan, pria itu berkata wanita tersebut sebenarnya adalah pria. Seorang pria yang sudah melakukan operasi ganti kelamin.

“Bawa psikiater! Kurung dia di rumah sakit!!”

“Dia ada di sini sekarang,” kata Hae Soo. Dengan tegas ia menegur pria itu yang telah bicara banmal (informal) pada seorang dokter. Ia berkata jika pria itu menginginkan si pasien dirawat psikiater maka pria itu harus mendaftarkannya setelah luka-lukanya dirawat.

Pria itu berteriak pada Hae Soo yang berjalan pergi bahwa pasien itu tidak perlu dirawat tapi harus dikurung sekarang juga.

shot0150 shot0157

Dokter pasien itu menjelaskan pada Hae Soo bahwa pasien tadi adalah seorang transgender yang dioperasi ganti kelamin 3 tahun lalu. Dan ia menjadi dokternya sejak 2 tahun lalu. Keluarga si pasien menganggapnya gila dan memukulinya untuk mengusir roh jahat. Lalu mereka percaya si pasien dirasuk setan dan memukulinya lagi. Sekarang tiga anggota keluarga memukulinya bergantian. Pasien itu akan mati jika terus menerus seperti ini.

Hae Soo meminta dokter itu mengirim si pasien ke ruang psikiatris dan membuat janji konsultasi. Ia juga meminta si dokter memastikan agar pasien itu dikirim ke cabang tempat Hae Soo bekerja. Jika pasien itu tetap di sini, pasti akan terus dipukuli hingga mati. Dokter itu setuju.

shot0162 shot0166

Lalu Hae Soo beralih pada trio dokter yang tadi mendampinginya. Rupanya mereka intern (dokter baru) di bawah bimbingan Hae Soo. Hae Soo bertanya pada mereka apa yang akan mereka lakukan jika mereka mendapat pasien tadi.

Seorang dari mereka berkata mereka harus melihat latar belakang si pasien. Masa kanak-kanaknya, masa remajanya, dll. Hae Soo menjitaknya dengan papan. “Apa kau sedang berusaha agar terlihat seperti seorang intern?”

Dua intern lain jadi gugup karena mereka yang ditanya berikutnya. Seorang dari mereka berkata pasien itu seharusnya dilepaskan saja. Pasien itu tidak salah. Operasi ganti kelamin bukanlah penyakit jiwa, dan mungkin pasien itu juga dioperasi setelah dokternya melihat si pasien tidak ada masalah kejiwaan.

Intern terakhir mengiyakan dengan bersemangat. Menjadi gay bukanlah masalah kejiwaan, tapi masalah pilihan. Semua psikolog di dunia sudah menyimpulkan bahwa mengganti jenis kelamin bukanlah penyakit jiwa.

Kedua intern itu pun mendapat jitakan dari Hae Soo. Apa mereka pikir ia tidak tahu hal itu?

“Jika seseorang dipukuli seperti anjing, sudah sewajarnya untuk melarikan diri. Tapi pasien itu terus membiarkan dirinya dipukuli. Jadi dia bermasalah atau tidak? Ia berbaring di sana seperti mayat, tampa adanya keinginan hidup, reaksi, dan harapan. Apa ada kemungkinan ia mengalami depresi atau tidak?” tanyanya.

Ketiga intern itu menunduk dan mengiyakan. Hae Soo yang galak menyuruh ketiganya untuk mempersiapkan konsultasi bagi pasien itu.

shot0168 shot0173

Hae Soo menelepon Dong Min mengenai sms yang diterimanya. Ia bertanya kenapa ia harus mengikuti talkshow. Dong Min berkata ia ada konsultasi kelompok hari ini.

Tapi Hae Soo tahu kalau Dong Min sedang bersama wanita. Karena sudah ketahuan, Dong Min memohon agar Hae Soo menolongnya. Ia baru saja bertemu istrinya lagi setelah berpisah selama 2 tahun. Dan 2 jam lagi istrinya akan naik pesawat. Bagaimana bisa ia melepas istrinya begitu saja?

Hae Soo berkata Dong Min sebaiknya pergi ke acara talk show itu.

shot0182 shot0189

Tiba-tiba terdengar suara perawat berteriak-teriak memanggil seorang pasien. Hae Soo melihat pasien itu berjalan melewatinya dan memanggilnya. Ibu si pasien menarik puterinya untuk berjalan lebih cepat. Hae Soo mengejarnya.

Istri Dong Min bertanya apakah suaminya tidak akan pergi ke acara talkshow itu. Dong Min berkata Hae Soo yang akan pergi. Istrinya tersenyum senang. Mereka pun meneruskan acara mereka di balik selimut.

Soo Kwang membuka pintu kamar Dong Min tanpa membuka pintu. Ia terkejut melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihatnya. Penyakitnya kambuh. Io mulai memgeluarkan sumpah serapah tak jelas dan gerakannya tak terkontrol.

Aktivitas Dong Min dan istrinya terhenti. Istri Dong Min agak ketakutan sementara Dong Min kasihan melihat Soo Kwang. Ia menjelaskan pada istrinya kalau Soo Kwang penderita sindrom Tourette.

 shot0202 shot0204

Hae Soo mengejar pasiennya tapi ibu si pasien memasukkan puterinya ke taksi dan berkata puterinya tidak mau dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Hae Soo berteriak bahwa itu berbahaya. Tapi si ibu tidak peduli dan membawa puterinya pergi.

Pada saat seperti itu kekasih Hae Soo menelepon. Ia adalah sutradara acara talk show yang seharusnya dihadiri Dong Min. Ia mengeluh panggung sudah disiapkan dan penonton sudah diundang, jadi Hae Soo harus membantunya dengan menggantikan Dong Min. Hae Soo sebenarnya keberatan tapi akhirnya ia mengalah.

“Baiklah, aku akan melakukannya karena aku mencintaimu.” Ia bertanya ke mana ia harus pergi.

shot0209 shot0213

Sutradara nampak lega karena acaranya akan terus berjalan. Seorang wanita muda yang sepertinya FD (Field Director) acara itu, bersorak girang begitu mendengar Hae Soo akan datang. Tapi lalu ia menarik si sutradara ke tempat sepi dan menciumnya. Dan sepertinya itu bukan pertama kali mereka melakukannya.

Kegiatan mereka terganggu oleh kilatan cahaya dari kamera ponsel. Keduanya terkejut dan segera melepaskan diri.

“Siapa kau?” tanya sutradara.

Jae Yeol tersenyum nakal. Si wanita segera pergi karena malu. Sutradara tidak bisa melihat wajah Jae Yeol yang tertutupi kilauan cahaya kamera, jadi ia tidak tahu kalau Jae Yeol yang baru saja memergokinya. Jae Yeol beralasan ia masuk ke kamar yang salah. Lalu ia berbalik pergi.

shot0235 shot0239

Jae Yeol segera saja menjadi pusat perhatian para wanita, termasuk para staf yang meminta tanda tangan dan memberi bunga.

Hae Soo masuk ke dalam gedung studio. Wanita FD memanggilnya dan memeluknya dengan hangat. Astaga, tadi kau baru mencium kekasihnya dan sekarang memeluknya seakan tak terjadi apapun?

Hae Soo diberitahu kalau bintang tamu hari ini adalah Jang Jae Yeol. Hae Soo mengaku ia pernah menjadi fansnya tapi tidak lagi.

“Apakah yang ia tulis sekarang disebut novel? Sejak tida tahun lalu yang ditulisnya adalah thriller yang jelek. Ia menulis tentang merobek orang, mengubur hidup-hidup, dan memotong mereka. Kuberitahu ya, dia itu gila.”

“Senior bilang kau fobia seks, tapi kau pasti fobia pria juga,” kata Lee Min Young, si wanita FD (senior yang disebutnya pastilah si sutradara kekasih Hae Soo).

“Penyakitku adalah ketidaknyamanan dan menghindarai hubungan,” Hae Soo mengakui.

Min Young berkata Hae Soo akan berubah pikiran jika sudah melihat Jae Yeol. “Ia sangat tampan!!”

shot0256 shot0263

Min Young membawa Hae Soo ke ruang tempat Jae Yeol dirias. Jae Yeol langsung mengenali Min Young sebagai gadis yang tadi dipergokinya. Hae Soo memperkenalkan dirinya.

Min Young keluar untuk menghalau seorang fans Jae Yeol yang tiba-tiba masuk, hingga Jae Yeol ditinggal berdua dengan Hae Soo. Jae Yeol berkata setahunya psikiater untuk acara ini adalah seorang pria.

“Apa kau kecewa karena aku wanita?”

“Sedikit. Aku menantikan debat yang menegangkan tapi kau terlalu cantik. Kau bisa mengalihkan perhatianku.”

Apakah Jae Yeol memaksudkannya sebagai pujian? Hae Soo tidak merasa demikian. Harga dirinya terusik karena ia hanya disebut cantik tapi dianggap tidak cukup kuat sebagai lawan debat.

Min Young datang memanggil Hae Soo. Sebelum pergi Hae Soo sempat mengamati Jae Yeol. Jae Yeol nampak serius. Tapi Hae Soo tahu bahwa Jae Yeol berkonsentrasi pada belahan dada penata riasnya. Dan pendapatnya mengenai Jae Yeol semakin jelek.

shot0281shot0291 

Acara talk show pun dimulai. MC mengatakan topik hari ini adalah ketidaksadaran manusia yang tersembunyi dari media. Jae Yeol melihat Hae Soo nampak gugup. Ia menyarankan agar Hae Soo menarik nafas panjang untuk mengatasi rasa gugup. Ia memperagakannya untuk Hae Soo. Tarik dengan hidung, hembuskan lewat mulut.

Sebagai seorang psikiater, Hae Soo semakin merasa direndahkan (psikiater pasti tahu dong cara mengatasi rasa gugup, iya kan?). Dan wajahnya tidak menunjukkan keramahan saat ia menyuruh Jae Yeol mengurus urusannya sendiri.

“Apa aku melakukan kesalahan? Jika iya, aku mau minta maaf karena kau terlihat cemberut,” kata Jae Yeol sambil sekali lagi memperagakan tarik nafas panjangnya.

shot0306 shot0312

MC memanggil mereka dan mereka pun naik ke atas panggung. Sialnya, Hae Soo tersandung. Hampir saja ia terjatuh jika Jae Yeol tidak memeganginya. Jae Yeol memamerkan senyum mautnya dan mengedipkan mata pada Hae Soo.

“Dia sungguh menyebalkan. Berusaha merayuku,” gumam Hae Soo.

MC berkata sekarang mereka berusaha memahami pikiran para kriminal yang tidak normal. Hae Soo berpendapat kejahatan tidak seluruhnya merupakan kesalahan si kriminal. Semuanya diawali dengan penyakit jiwa.

Jae Yeol memotong perkataan Hae Soo dengan mengatakan bahwa di dalam bukunya, pemerkosa dibunuh dengan cara yang sama dengan yang ia gunakan untuk menyerang korbannya. Baginya wajar jika si pelaku diganjar oleh perbuatan yang sama.

“Bukankah itu kejahatan yang lain?” kata Hae Soo. Memperkosa adalah kejahatan, tapi membunuh juga adalah kejahatan.

shot0332 shot0333

“Kejahatan atau bukan, Penuntut yang memutuskan. Sebagai penulis, menurutku itu bukan penyakit jiwa yang ekstrim,” Jae Yeol menambahkan bahwa Hae Soo sebaiknya memahami korban pemerkosaan sebelum memahami pemerkosa. Para penonton bertepuk tangan. Kang Woo, anak SMA yang menangis saat Jae Yeol ditusuk hampir 3 tahun lalu juga hadir di antara para penonton. Hmmm…aneh, ia masih seperti anak SMA.

Hae Soo terlihat kesal. Jae Yeol mengatakan bahwa melalui proyek barunya, ia ingin orang-orang mengetahui bagaimana seorang manusia bisa menjadi begitu lemah.

MC bertanya apakah seorang psikiater bisa dibohongi dengan kepura-puraan.

“Bisa. Tapi hanya jika kau tidak berhadapan dengan psikiater sekelasku,” jawab Hae Soo.

Ooooo….debat mulai memanas.

“Tidak, kecuali kau sepintarku. Jika aku pasienmu, kurasa aku bisa menipumu,” ujar Jae Yeol.

Para penonton kembali ber-oooooohh….

shot0344shot0349

Jae Yeol berkata itu sama saja dengan atlet yang menggunakan doping namun bisa menghindari tes darah.

“Kau benar-benar melihat psikiater seperti itu? Atau hanya aku?” sergah Hae Soo sambil tersenyum.

Sutradara senang karena debat itu berlangsung seru. Soo Kwang dan Dong Min juga menonton acara itu. Mereka menyemangati Hae Soo yang bisa melawan Jae Yeol. Keduanya langsung tidak suka pada Jae Yeol.

shot0355 shot0357

MC berkata Jae Yeol sepertinya harus berhati-hati dengan perkataannya jika berhadapan dengan dokter.

“Aku kalah. Mana berani aku mengatakan sesuatu pada seorang psikiater. Aku hanya akan duduk di sini sebagai penulis yang diabaikan,” ujarnya. Lalu ia menghadap kamera dan meminta maaf pada seluruh psikiater karena ia hanya seorang penulis yang tidak memahami psikologi.

Hae Soo nampak melunak setelah permintaan maaf itu. MC bertanya apakah keinginan terdalam seorang manusia, kebaikan atau kekerasan? Adakah cara untuk membuktikannya.

Ada, jawab Jae Yeol padahal Hae Soo hendak menjawabnya. Jae Yeol bertanya siapakah di antara penonton yang ingin melukai seseorang setidaknya satu kali dalam hidupnya. Seperti memukul seseorang, menyumpahi seseorang, atau membunuh seseorang? Seluruh penonton mengangkat tangan, termasuk Kang Woo.

shot0364shot0373

Hae Soo meminta para penonton yang mengangkat untuk bangkit berdiri jika mereka benar-benar memukul orang. Cukup banyak yang bangkit berdiri. Aku benar- kan, kata Jae Yeol puas.

“Kalau begitu, seperti dalam novel Jang Jae Yeol, orang yang memukul orang lain dengan sebuah kapak silakan tetap berdiri. Sisanya silakan duduk,” kata Hae Soo.

Semua duduk kembali. Hae Soo tersenyum dan menjelaskan bahwa inilah keinginan murni seorang manusia. Ia menantang untuk mencobanya lagi menggunakan contoh yang disukai Jae Yeol.

 shot0379 shot0380

Jae Yeol bertanya pada para hadirin pria, siapakah di antara mereka yang bergairah saat melihat seorang wanita yang bahkan tidak mereka kenal. Sambil malu-malu para penonton pria bangkit berdiri. Termasuk Kang Woo.

Hae Soo menyuruh mereka untuk tetap berdiri jika mereka hendak melecehkan wanita yang lewat itu, entah mereka mengenalnya atau tidak. Mereka semua duduk kembali. Hae Soo tersenyum menang.

Min Young memberi jempol pada Hae Soo. Hae Soo berkata semua orang bisa memiliki pikiran buruk terhadap orang lain dalam pikiran mereka. Tapi bukan berarti mereka akan melakukannya. Sama seperti yang sudah terbukti pada penonton, manusia memiliki pengendalian diri.

“Kalau begitu ceritaku tidak bermasalah,” potong Jae Yeol. “Baru saja terbukti bahwa pikiran bukanlah masalahnya. Yang menjadi masalah adalah tindakannya. Bukuku hanya menunjukkan apa yang dipikirkan para tokoh, jadi tidak ada masalah nyata,” kata Jae Yeol. Dengan begitu bukunya tidak bisa disebut berbahaya dan sadis.

Hae Soo baru menyadari ia telah terjebak oleh permainan Jae Yeol. Ia menggelengkan kepalanya. Dong Min mematikan TV melihat kekalahan Hae Soo.

shot0388 shot0395

Jae Yeol meminta penonton juga bertepuk tangan untuk Hae Soo. Ia mencondongkan tubuhnya pada Hae Soo dan berbisik. “Terima kasih. Berkat kau, bukuku akan banyak terjual.”

“Kau ini bukan penulis, tapi penjual buku,” Hae Soo diam-diam mengumpat.

Hae Soo berkata pada para penonton untuk membaca buku Jae Yeol sebagai hiburan semata. Ia akan memberi percobaan terakhir. Hae Soo mengeluarkan dua lembar kertas kecil yang terlipat.

“Pada kedua kertas ini tertulis bahwa korban akan mati. Tapi si pelaku membohongi korbannya dengan mengatakan bahwa salah satu dari kertas itu bertuliskan mereka bisa hidup. Mereka bisa hidup jika memilih kertas tersebut.”

MC bertanya apakah korban boleh meminta si pelaku yang memilih. Tidak bisa, kata Hae Soo, karena korban yang harus selalu memilih. Ia bertanya apa yang akan dipilih Jae Yeol.

shot0405shot0412

[Bersambung ke Bagian 2]

Komentar:

Interesting....

Apa yang membuat Jae Beom begitu marah pada adiknya? Kurasa ia tidak berniat membunuh Jae Yeol. Kalau ia memang berniat membunuhnya, kenapa menggunakan garpu? Apa ia marah karena ia menderita bertahun-tahun di penjara sementara Jae Yeol hidup senang dan sukses? Lalu kenapa ia tidak nampak sedih saat ia kembali diseret ke penjara?

Selain obsesinya pada warna tertentu dan kesukaannya pada wanita, kita belum melihat keanehan dalam diri Jae Yeol. Apakah ia benar-benar mencintai Pool Ib? Sepertinya tidak begitu.