Sabtu, 28 Mei 2016

Sinopsis Mirror of The Witch Episode 4



Kembali pada saat Poong Yeon menemukan Yeon Hee bersama Heo Jun. Poong Yeon menggendong Yeon Hee yang tidak sadarkan diri.

“Apa yang membawa kalian ke sini? Apa dia sakit? Tubuhnya dingin dan wajahnya pucat,” ujar Heo Jun khawatir. Ia menyarankan agar Poong Yeon membawa Yeon Hee ke tabib.

Poong Yeon nampak terganggu dengan rentetan pertanyaan Heo Jun dan meliriknya. Heo Jun mengira itu karena pakaiannya (ia sedang mengenakan pakaian wanita seperti biasa yang ia gunakan untuk berjualan di istana) dan menjelaskan kalau itu pakaian kerjanya.

Poong Yeon bertanya apa Heo Jun mengenal adiknya. Tidak, jawab Heo Jun berbohong. Mungkin karena sikap Poong Yeon yang galak. Poong Yeon berterima kasih atas bantuan Heo Jun dan berkata mulai sekarang ia yang akan mengurus Yeon Hee, jadi Heo Jun boleh pergi.


“Jadi orang yang kaku itu kakaknya,” ujar Heo Jun sambil berjalan pulang “Mereka tidak mirip sama sekali.”

Ia bertanya-tanya apa Yeon Hee baik-baik saja. Tapi ia memutuskan seharusnya ia  mengkhawatirkan dirinya sendiri saat ini.

Ia hampir tiba di kamarnya ketika ia melihat ibunya dibawa pergi dengan paksa oleh 2 orang berpenutup wajah. Ia segera mengejar mereka. Ia sempat melihat ibunya dimasukkan dalam karung kain besar sebelum kepalanya dipukul seseorang dan ia jatuh pingsan. Beberapa orang menyeretnya pergi bersama ibunya.


Kutukan Yeon Hee telah aktif. Bukan hanya mengenai dirinya tapi juga Putera Mahkota dan Poong Yeon.

Hyun Seo segera ke rumah Yeon Hee dan menemukan Yeon Hee dalam keadaan pingsan. Rambutnya telah menjadi putih.

Yeon Hee pelan-pelan sadar. Hyun Seo bertanya mengapa Yeon Hee melakukannya. Mengapa Yeon Hee tidak mendengar  perkataannya?

“Ayah… Kenapa ini terjadi padaku?” tanya Yeon Hee lirih. “Aku sangat takut, Ayah. Kumohon selamatkan aku.”

Hyun Seo memeluk Yeon Hee dengan sedih.


Putera Mahkota tidak mati tapi ia juga tidak sadarkan diri. Ibu Suri dan Ratu meminta pertanggungjawaban Hong Joo. Terutama  Ratu yang sebelumnya diyakinkan Hong Joo bahwa Putera Mahkota akan baik-baik saja.

“Tidakkah kau bilang tidak akan terjadi apa-apa padanya? Jadi apa ini? Selamatkan dia sekarang! Selamatkan dia!” Ratu mulai histeris.

Ibu Suri memerintahkan agar para dayang membawa Ratu keluar. Tapi Ratu menghambur pada puteranya dan memohon agar Putera Mahkota bangun. Karena terlalu emosi, Ratu jatuh pingsan.

Hong Joo hanya diam saja melihat semua itu.

“Choi Hyun Seo,” gumamnya.


Heo Jun sadarkan diri dan melihat ibunya dalam karung terbaring di depannya. Mereka ada di hutan dan beberapa orang memeganginya. Menghalanginya  untuk mendekati ibunya. Heo Jun berteriak-teriak memanggil ibunya.

Seseorang tiba di tempat itu. Nyonya Sohn. Ia berkata tadinya ia pikir Heo Jun seorang anak yang cerdas. Tapi sepertinya Heo Jun tidak menyadari tempatnya sendiri.

“Jadi aku akan mengajarimu baik-baik malam ini.”

Heo Jun langsung ketakutan akan apa yang menimpa ibunya. Nyonya Sohn memerintahkan untuk mulai.

Beberapa orang mulai memukuli karung berisi ibu Heo Jun dengan tongkat. Heo Jun berteriak-teriak histeris memanggil ibunya. Tapi beberapa orang memeganginya hingga ia tak berdaya menyelamatkan ibunya. Heo Jun menangis dan berteriak melihat darah terlihat pada karung itu.


Ia berlutut di hadapan Nyonya Sohn dan meminta maaf. Memohon agar Nyonya Sohn menyuruh mereka berhenti memukuli ibunya.

“Kumohon biarkan ia hidup!!”

Nyonya Sohn menghentikan mereka. Ia berkata ia sudah dengar Jun bekerja keras untuk membeli surat kepemilikan ibunya.

“Jun, ada satu hal yang sering disalahpahami orang-orang. Mereka salah mempercayai bahwa mereka bisa melarikan diri dari keadaan buruk dalam hidup mereka asalkan mereka bekerja keras. Tak peduli seberapa keras kau bekerja, ada satu hal yang tidak bisa kaupungkiri. Kau tahu apa itu?

Garis keturunanmu. Orangtua yang mampu dapat memberikan kehidupan mewah untuk anak-anak mereka. Tapi orang tua yang miskin hanya bisa menurunkan hidup menyedihkan mereka. Karena itu seharusnya kau tidak pernah dilahirkan. Kau seharusnya tidak dilahirkan ke dunia ini! Itu akan lebih baik bagimu dan ibumu.

Tapi siapa yang bisa kausalahkan sekarang? Kau hanya bisa menyalahkan hidupmu yang terkutuk karena terlahir dari ibu seperti itu. Jangan lakukan apapun. Jangan berusaha melarikan diri dari takdir burukmu. Jangan berusaha melawannya. Hiduplah seakan kau sudah mati. Hanya itu caranya agar kau dan ibumu bisa bertahan hidup. Apa kau mengerti?”


Dengan gemetar dan berlinang air mata, Heo Jun mengangguk mengiyakan. Ia segera merangkak pada ibunya dan membuka karung tersebut.

Namun….isinya bukanlah ibunya, melainkan babi yang sudah mati. Ia memandang Nyonya Sohn.

“Dengar kata-kataku. Jika kau tidak mengerti apa yang kukatakan padamu hari ini, ibumu benar-benar akan ada di sana selanjutnya.”


Heo Jun cepat-cepat pulang mencari ibunya. Ia melihat ibunya sedang menjemur pakaian dengan susah payah.

Tanpa bicara, Jun membantu ibunya. Ibunya terdiam sesaat lalu melanjutkan. Jun melihat tangan ibunya membiru penuh memar dan wajahnya penuh keringat dibayangi keletihan yang amat sangat.

Jun mulai menangis tanpa suara sambil terus membantu ibunya.  Ibunya menunduk menyembunyikan tangisnya.

“Ibu….mari kita melarikan diri dari tempat ini.”


Poong Yeon terbaring dengan wajah pucat hingga urat-uratnya terlihat dan tubuhnya terus gemetaran. Ibunya berusaha menyuapkan obat. Tapi setiap kali meminumnya, Poong Yeon muntah darah. Ibu mana yang tak cemas dan takut melihat puteranya seperti itu? Ia memohon agar Poong Yeon sadar.

“I-i-ibu,” gumam Poong Yeon.

Ibunya lega melihat Poong Yeon mulai membuka matanya. Poong Yeon menoleh pada ibunya, tapi ia melihat sosok hantu menakutkan di belakang ibunya.

Ia langsung meringkuk ketakutan dan berteriak-teriak. “Hantu! Hantu! Pergi!”

Ibunya bingung karena ia tidak melihat apa-apa. Tapi Poong Yeon terus ketakutan karena hantu itu terus menatapnya dan menggapai ke arahnya.


Yeon Hee bangun dari tidurnya dan baru menyadari kalau rambutnya telah berubah menjadi putih. Ia hendak meraih cermin. Tapi cermin itu malah terdorong mundur oleh kekuatan tak terlihat dan pecah.

Yeon Hee terkejut. Ia mulai mendengar suara-suara melengking. Ia berteriak. Benda-benda di kamarnya terlempar dan berjatuhan. Yeon Hee menatap tangannya lalu jatuh pingsan.

Yo Gwang cepat-cepat masuk begitu mendengar suara teriakan Yeon Hee. Ia melihat sekeliling kamar  Yeon Hee yang berantakan.

Anak buah Hyun Seo melapor bahwa saat ini kekuatan Yeon Hee tidak stabil. Setiap kali Yeon Hee mengeluarkan energi, Yeon Hee akan kehilangan kesadaran. Pendapat pun terbagi dua.

Ada yang berpendapat mereka tidak bisa membawa Yeon Hee sekarang. Ada yang berpendapat mereka harus segera membawa Yeon Hee ke kuil Chungbing.

Tapi bagaimana jika Hong Joo mengetahui pergerakan mereka saat memindahkan Yeon Hee? Semua akan berakhir. Tapi jika mereka menunda-nunda, Yeon Hee-Putera Mahkota-Poong Yeon akan mati.

Hyun Seo benar-benar bingung memikirkan apa yang harus mereka lakukan.


Yo Gwang membereskan barang-barang Yeon Hee. Ia kasihan melihat Yeon Hee yang terus duduk menutupi wajahnya. Ia menenangkan Yeon Hee agar tidak khawatir karena Hyun Seo akan mengurus semuanya. Mereka bisa mengembalikan semuanya seperti semula jika mereka pergi ke kuil Chungbing.

Tempat apa itu, tanya Yeon Hee. Yo Gwang berkata Yeon Hee akan tahu jika mereka sudah tiba di sana.

Yeon Hee berkata ayahnya pasti sangat benci padanya saat ini. Semua ini terjadi karena ia tidak menurut pada ayahnya.

“Itu tidak benar,” kata Yo Gwang, “Beliau sangat menyayangimu jadi mengapa kau mengatakan hal seperti itu. Aku yakin ia juga mengalami masa sulit sekarang. Karena ini bukan hanya mempengaruhimu tapi juga Tuan Muda Poong Yeon.”

Yeon Hee terkejut dan bertanya apa yang terjadi pada kakaknya. Yo Gwang menyadari ia sudah kelepasan bicara.


Ibu Poong Yeon memanggil shaman untuk melepaskan puteranya dari kutukan. Tapi yang terjadi shaman yang dipanggilnya malah jatuh pingsan karena melihat hantu yang menghantui Poong Yeon.

Yeon Hee dan Yo Gwang mengintip dari luar rumah. Yo Gwang menyesal membawa Yeon Hee ke sana dan mengajak Yeon Hee pulang sebelum ketahuan Hyun Seo.

Tapi Yeon Hee tidak mau. Ia tidak tahu kapan ia bisa melihat kakaknya lagi jika tidak melihatnya hari ini. Yo Gwang menyerah dan berkata mereka hanya boleh melihatnya sebentar. Jimat yang dipasangnya di sekeliling pakaian Yeon Hee tidak akan bertahan lebih lama lagi.


Yo Gwang membawa Yeon Hee masuk ke rumah, ke kamar Poong Yeon. Yeon Hee terkejut melihat kondisi kakaknya. Ia menangis dan memanggil kakaknya. Poong Yeon bergumam tak jelas.

“Kak! Apa kau sudah sadar? Ini aku, Yeon Hee!” Yeon Hee menggenggam tangan kakaknya.
Poong Yeon membuka matanya. Tapi yang dilihatnya bukan Yeon Hee melainkan hantu itu sedang mendekatinya.

Ia langsung mendorong Yeon Hee dan meringkuk ketakutan.

“Pergi! Pergi kau, makhluk jahat!” serunya.

Yeon Hee tertegun.

“Kumohon…kumohon pergi!” Poong Yeon mulai menangis. “Kumohon tinggalkan aku! Aku…aku ingin hidup! Aku ingin hidup. Kumohon, aku ingin hidup!”


Yo Gwang hendak membantu Yeon Hee berdiri. Tepat saat itu ibu Poong Yeon masuk dan sangat marah melihat Yeon Hee.

“Kau anak tak tahu diuntung, beraninya kau ke sini!! Ini karena kau! Semua ini karena kutukanmu! Poong Yeon jadi seperti ini karena kau dan kutukanmu! Karena itu aku tidak pernah bisa mencintaimu seperti puteriku sendiri. Kau seharusnya tidak pernah dilahirkan. Kau seharusnya tidak pernah datang ke dunia ini!”

Yo Gwang benar-benar menyesal telah membawa Yeon Hee ke sini. Sementara Yeon Hee menangis mendengar kata-kata ibu Poong Yeon.

Ibu Poong Yeon berlutut dan menangis memohon pada Yeon Hee agar pergi. Pergi jauh dari Poong Yeon. Bahkan sampai menyembah. Poong Yeon sama sekali tak mau melihat ke arah Yeon Hee.

Hyun Seo masuk. Yeon Hee menoleh dan melihat ayahnya dengan pandangan merasa dikhianati. Hyun Seo menyuruh Yo Gwang membawa Yeon Hee pergi. Yo Gwang membantu Yeon Hee berdiri dan membawanya keluar dari rumah.


Di luar, Yeon Hee bertanya bagaimana ia bisa pergi ke kuil Chungbing. Ia akan ke sana. Ia akan melakukan apapun yang diperintahkan padanya demi menyelamatkan kakaknya.

Anak buah Hyun Seo juga sepakat mereka tidak bisa menunda lagi. Hyun Seo diberitahu oleh pelayan rumahnya ada orang dari istana yang mencarinya. Sebelum menemui orang itu, Hyun Seo memerintahkan pada anak buahnya untuk pergi lebih dulu membawa Yeon Hee ke kuil Chungbing. Ia akan menyusul dengan membawa Mauigeumseo.

Hyun Seo menemui utusan istana itu yang ternyata adalah Hong Joo. Hong Joo berkata ia datang untuk meminta maaf karena sudah meremehkan Hyun Seo.

Ia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah mempercayai Hyun Seo. Hyun Seo pura-pura tak mengerti. Hong Joo bertanya di mana Puteri.

“Kau tidak membunuhnya. Aku mengerti mungkin kau merasa kasihan pada anak itu. Sekarang kau harus katakan padaku di mana kau menyembunyikan Puteri?”

“Puteri sudah mati,” kata Hyun Seo. “Kau melihatnya sendiri dengan matamu, bukan? Kau melihatnya dibakar sampai mati.”


Hong Joo berkata ia mengerti ini jawaban Hyun Seo. Ia pamit pergi. Namun di lorong ia berhenti di depan kamar Poong Yeon.

Hyun Seo menegurnya dan menunjukkan jalan keluar dari rumah. Hong Joo sengaja dengan keras berkata Hyun Seo sudah melanggar perintah Ibu Suri jika puteri masih hidup dan mengakibatkan kematian Putera Mahkota.

“Dan orang yang terkena kutukan akan sakit selama 14 hari sebelum akhirnya mati. Tapi aku yakin itu tidak akan terjadim, bukan? Tentunya kau yang begitu mempedulikan negeri ini tidak akan melakukan hal seperti itu.”

Ia sengaja berkata demikian karena tahu di dalam kamar ada Poong Yeon dan istri Hyun Seo. Istri Hyun Seo mendengar semua perkataan Hong Joo. Ia menyusul Hong Joo keluar dari rumah. Hong Joo tersenyum sinis.


Heo Jun menyelinap diam-diam keluar rumah. Ia pergi ke rumah seorang penjual tiket kapal menuju ke Cina. Itu adalah kapal gelap. Awalnya si penjual tiket pura-pura tidak tahu apa-apa tapi Heo Jun berkata ia membutuhkan 2 tiket. Akhirnya si penjual tiket menyuruh Jun datang 2 jam lagi dengan membawa uang 200 nyang.

Ia mengajak ibunya berkemas. Ibunya masih ragu untuk pergi karena terlalu berbahaya jika mereka ketahuan (ingat drama Chuno? Budak yang pergi akan dikejar oleh pemburu budak).  Tapi Heo Jun berkata ia sudah membuang semua hal dengan hidup dalam rumah ini. Ia harus merendahkan dirinya hanya untuk bertahan hidup.

“Tapi aku tidak mau hidup seperti itu lebih lama lagi. Setidaknya, mari kita jalani hidup kita seperti yang kita inginkan mulai sekarang, Bu.”

Meski masih nampak keberatan dan ragu, ibu Jun akhirnya menurut. Mereka menyelinap keluar rumah diam-diam. Tapi sayangnya, seorang pelayan melihat mereka.


Heo Ok seperti biasa bersenang-senang di rumah gisaeng. Ia berfoya-foya membelikan teman-temannya cincin dari Cina.  Ia sendiri memilih cincin berwarna kuning.

Pelayan yang melihat Heo Jun datang  ke rumah gisaeng dan melaporkan pada Heo Ok apa yang dilihatnya.

Heo Jun dan ibunya tiba di tempat penampungan orang-orang yang akan menjadi penumpang gelap kapal ke Cina. Isi tempat penampungan itu adalah orang-orang miskin dan banyak yang membawa anak-anak.  Mungkin mereka juga para budak yang hendak melarikan diri.

Heo Jun membawa ibunya ke sudut dan memberinya tempat duduk yang lebih nyaman. Ia berkata ia akan pergi sebentar untuk membeli tiketnya dan meminta ibunya menunggu. 

Begitu Heo Jun pergi, ibunya berdiri hendak kembali ke rumah Nyonya Sohn. Tapi teringat perkataan Jun akhirnya menguatkan dirinya untuk kembali duduk dan menunggu.


Heo Jun menemui penjual tiket dan memberi uang 200 nyang untuk membeli tiket. Si penjual tiket memberi 2 lempengan kayu sebagai tiket. Ia berkata ia hanya menjual tiket 1 kali pada setiap orang.

“Kau tahu kenapa? Karena orang-orang di kapal mungkin selamat sampai ke Cina atau telah menjadi makanan ikan karena perjalanan yang buruk. Atau karena mereka tertangkap.

Kau tahu kebanyakan mereka berakhir bagaimana? Mereka tertangkap. Orang-orang yang mengejar kalian adalah tipe orang-orang yang jahat dan tidak kenal menyerah. Jika kalian tertangkap, kalian akan mati dengan cara terburuk yang bisa kalian bayangkan. Tapi jika kalian tidak tertangkap, maka kalian akan dalam pelarian seumur hidup kalian. Ini adalah kesempatan terakhir untuk mengubah pikiranmu.”

Tapi Heo Jun tetap ingin pergi. Ia berkata ia akan naik ke kapal bagaimanapun caranya. Penjual tiket berkata kapal akan berangkat jam 1 pagi, tidak boleh terlambat 1 menit pun.


Hyun Seo mengambil  buku Mauigeumseo dari kotak tersembunyi di kamarnya. Satu lembaran di tengah buku itu ia sobek dan ia taruh kembali di kotaknya. Kotak itu ia sembunyikan di tempat rahasia dalam lemarinya dan menutupinya dengan kotak lain.

Istri Hyun Seo menghalangi suaminya yang hendak pergi ke rumah Yeon Hee. Ia berkata semuanya sudah selesai. Ia sudah memberitahu Hong Joo semuanya.

“Kenapa kau melakukannya?” tanya Hyun Seo terkejut.

“Apa kau benar-benar tidak tahu? Tanda aneh di belakang telinga Poong Yeon adalah karena Yeon Hee, bukan? Karena Poong Yeon memiliki perasaan untuk Yeon Hee!”

“Kita harus mematahkan kutukan Yeon Hee untuk menyelamatkan negeri ini dari sihir hitam Hong Joo,” ujar Hyun Seo.

“Aku tidak memerlukannya! Siapa yang peduli pada negeri terkutuk ini di saat puteraku terbaring sekarat? Shaman itu jelas mengatakan hanya jika Yeon Hee….jika saja ia mati….maka Poong Yeon kita bisa hidup,” kata istri Hyun Seo.

Hyun Seo berbalik pergi tapi istrinya menahannya. Ia berkata Hong Joo juga sudah berjanji akan menutupi pelanggaran Hyun Seo jika tidak lagi ikut campur.


Sementara itu Hong Joo dan pasukannya sudah tiba di Hutan Hitam.

Yo Gwang membantu Yeon Hee berkemas. Mereka siap untuk pergi.

Tapi saat mereka membuka pintu, mereka diserang oleh panah-panah yang ditembakkan anak buah Hong Joo. Anak buah Hyun Seo langsung menghadang mereka sementara Yeon Hee bersembunyi di dalam rumah.

“Jadi para pendeta Tao kerajaan bekerja sama untuk menyembunyikan anak yang dikutuk itu? Dan kalian masih menyebut diri kalian abdi yang setia pada negara?” ujar Hong Joo. Lah…dia ngga tau kalau Raja sendiri yang memberi perintah untuk menyelamatkan Yeon  Hee.

Pertempuran berlangsung dengan sengit. Sayangnya anak buah Hyun Seo kewalahan menghadapi anak buah Hong Joo yang begitu banyak. Satu per satu dari mereka tumbang dan mati hingga tersisa Yo Gwang.

Anak buah Hong Joo menjerat kedua kaki dan tangan Yo Gwang hingga ia tidak bisa bergerak. Seorang anak buah Hong Joo menyabetkan pedangnya. Yo Gwang pun roboh. Noooo!!


Hong Joo berjalan ke arah Yo Gwang yang terluka. Ia menyebut mereka sudah bodoh.

“Kalian mati seperti ini semua karena dia,” ujarnya.

Yeon Hee keluar.

“Apa maksud dari kata-katamu itu?” tanyanya. Hong Joo terdiam seakan takjub melihat Yeon Hee.

“Apa maksudmu semua ini karena aku?”

 “Anak malang….tidak ada yang memberitahumu mengenai kutukanmu? Semua yang kaucintai akan mati. Dan orang-orang yang mencintaimu juga akan mati. Itulah kutukanmu.”

Yeon Hee terpana. Ia melihat Yo Gwang yang terluka di tanah.

Hong Joo memeluknya dan bertanya apakah Yeon Hee sedih dan  menderita.

“Jadi kenapa kau harus dilahirkan? Tidak ada yang menginginkanmu dilahirkan. Jika kau ingin menyelamatkan semua orang, yang harus kaulakukan hanyalah mati. Hanya kau.”

Ia memberi isyarat pada anak buahnya. Anak buah Hong Joo menghunus pedang mereka ke arah Yeon Hee.


Hentikan! Seru Hyun Seo. Ia berdiri di depan Yeon Hee dan berkata mereka tidak boleh membawa Yeon Hee.

“Jangan ikut campur lagi, Tuan. Aku tidak bisa memaafkanmu jika kau ikut campur lebih jauh meski itu kau.”

Tiba-tiba Yo Gwang bangkit dan melemparkan golok panjangnya pada seorang anak buah Hong Joo. Dengan tubuh terluka ia menyuruh Hyun Seo melarikan diri bersama Yeon Hee.

Hyun Seo membawa Yeon Hee melarikan diri sementara Yo Gwang berusaha mati-matian menghalangi mereka.  Tapi lukanya terlalu parah, bahkan ia beberapa kali menerima tusukan.

Meski begitu sempat-sempatnya ia memegangi kaki Hong Joo untuk menghalanginya. Hong Joo menebasnya dengan pisau.


Hyun Seo dan Yeon Hee terus berlari menembus hutan. Anak buah Hong Joo mengejar mereka. Hong Joo memerintahkan mereka untuk menangkap keduanya dan membawa mereka ke istana.

Hyun Seo dan Yeon Hee bersembunyi di sebuah gua kecil. Hyun Seo meminta Yeon Hee mendengarnya baik-baik. Ia menyerahkan bungkusan berisi Mauigeumseo pada Yeon Hee.

“Jika mereka melihatku, kau harus berlari terus. Kau tidak boleh melihat ke belakang dan terus berlari.”

“Tidak, aku tidak mau! Ini semua salahku. Aku lebih baik daripada membiarkan lebih banyak orang tak bersalah mati!” kata Yeon Hee sambil menangis.

“Tidak! Tidak bolhe, Yeon Hee! Kau harus hidup. Kau harus pergi ke Kuil Chungbing dan mematahkan kutukan ini. Hanya itu caranya agar kita semua bisa hidup.”

Yeon Hee menggeleng. Tapi Hyun Seo berkata Yeon Hee harus pergi ke kuil Chungbing. Yeon Hee menatap ayahnya dengan berlinang air mata.

“Ayah minta maaf, Yeon Hee. Dan ayah ini sudah terlambat, tapi selamat ulang tahun,” ia menggenggam tangan Yeon Hee sambil tersenyum.


Setelah itu ia keluar dari tempat persembunyian untuk mengalihkan perhatian anak buah Hong Joo. Mereka segera mengejar Hyun Seo sambil melepaskan anak panah bertubi-tubi. Hyun Seo terus berlari hingga akhirnya  kakinya terkena pisau terbang.

Yeon Hee membuka bungkusan pemberian ayahnya dan melihat buku itu. Dengan mengingat perkataan ayahnya bahwa ia harus pergi ke kuil Chungbing, ia menguatkan dirinya untuk berlari menuruti perintah ayahnya. Anak buah Hong Joo melihat pergerakannya dan langsung mengejarnya.


Hong Joo mendekati Hyun Seo yang terluka. Ia bertanya di mana Yeon Hee. Tidak tahu, jawab Hyun Seo.

“Dia ditakdirkan untuk mati,” kata Hong Joo. “Jadi bagaimana bisa kau melepaskan segalanya untuk anak seperti itu?”

“Tidak. Anak itu harus hidup. Itu adalah kehendak langit.”

Kehendak langit? Apa itu kehendak langit? Tanya Hong Joo sinis. Menyerah pada takdir yang tidak adil? Apakah itu yang namanya kehendak langit?

“Dilahirkan tanpa apapun dan menjadi target untuk mereka yang kaya? Harus membungkuk meski mereka menginjakku dan menertawakanku? Apakah itu kehendak langit yang kaubicarakan?” tanya Hong Joo emosi.


Hyun Seo berkata semua orang yang menyembah langit memiliki tugas. Membuka jalan agar kehendak langit terlaksana.

“Tidak. Aku tidak mau lagi hidup seperti itu. Aku  yang akan menginjak mereka dan naik ke atas.”


Hyun Seo berkata ia mengerti perasaan Hong Joo tapi jalan yang ditempuhnya adalah salah. Dan ia menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi hingga peristiwa hari ini.

“Mari kita kembali ke istana bersama. Mari hentikan ini dan menebus dosa-dosa kita. Jangan jatuh lebih lagi, Hong Joo.”

Hyun Seo berusaha berjalan pergi. Tapi Hong Joo menusuk punggungnya dengan pedang hingga tembus ke perut.

“Aku minta maaf ini caraku membalas semua yang sudah kauajarkan. Tapi, mulai sekarang aku tidak percaya pada langit. Mulai sekarang, kehendakku yang akan menjadi kehendak langit,” kata Hong Joo sambil menahan tangis.

Ia menarik pedangnya dan Hyun Seo roboh ke tanah. Hong Joo memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Yeon Hee dan membunuhnya.


Heo Jun dalam perjalanan  kembali ke tempat penampungan. Ia bersembunyi saat melihat sekelompok anak buah Hong Joo berlari melintasi hutan dengan membawa pedang. Ia sempat melihat mereka mengejar sesosok gadis.

Heo Jun menggenggam tiketnya rapat-rapat dan memutuskan untuk tidak ikut campur.
Yeon Hee terus berlari. Anak buah Hong Joo menyerangnya dengan anak buah. Yeon Hee beberapa kali terjatuh namun bangkit dan terus berlari. Hingga ia mencapai ujung tebing dan tidak bisa lari lagi.


Heo Jun rupanya memutuskan untuk menolong. Ia terkejut saat mengenali Yeon Hee yang dikejar kelompok tersebut.

Melihat Yeon Hee hendak dipanah, ia berlari dan melompat. Panah itu mengenai dada Heo Jun. Heo Jung jatuh ke tanah. Yeon Hee mengenali Heo Jun.

Ia diam terpaku. Sebuah panah mengenainya. Ia jatuh dari tebing dan masuk ke dalam kolam. Entah mengapa air kolam itu membeku. Yeon Hee berusaha keluar dari kolam itu, tapi es menghalanginya.

Akhirnya ia hilang kesadaran dan semakin masuk ke dalam kolam.


Komentar:

 Huaaa….episode penuh emosi. Semua orang penuh emosi dalam episode kali ini. Dan yang pasti tidak ada yang tertawa senang >,< 

Sebenarnya Hong Joo, Heo Jun, dan Yeon Hee memiliki kesamaan. Heo Jun dan Hong Joo sama-sama berasal dari keluarga kelas terendah yang membuat mereka diinjak-injak orang kaya. Kita belum tahu detil kehidupan Hong Joo, tapi dari kata-katanya pasti telah terjadi sesuatu yang sangat menyakitkan hingga ia begitu membenci yang namanya takdir.

Nyonya Sohn juga mengatakan Heo Jun tidak bisa keluar dari takdir terlahir sebagai anak budak. Tapi Heo Jun memilih tidak menyerah dengan takdirnya dan berusaha keluar dengan caranya sendiri. Sayangnya rencana itu terancam gagal karena kebaikan hatinya untuk menolong Yeon Hee.

Yeon Hee terlahir sebagai Puteri Raja, tapi kelahirannya tidak diinginkan. Ia dikatakan memiliki takdir untuk mati menurut Hong Joo, sementara Hyun Seo percaya sebaliknya. Lalu mana yang benar?

Meski Yeon Hee ingin mati saja agar tidak ada orang lain yang mati karenanya, tapi ia berusaha hidup dan menuruti keinginan ayahnya. Ia memang terlihat pasrah dan menyerah ketika melihat Heo Jun terpanah menggantikan dirinya. Tapi di kolam, ia berusaha untuk keluar dengan memukul-mukul es yang membeku di permukaan. Ia berusaha hidup untuk memenuhi perintah ayahnya...mungkin juga karena ia merasa bersalah semua ini terjadi karena ia melanggar perintah ayahnya.

Aku senang ada momen antara Hyun Seo dan Yeon Hee yang memperlihatkan kalau Hyun Seo menyayangi Yeon Hee sebagai puterinya, bukan semata karena perintah Raja. Bukan berarti ia tidak menyayangi Poong Yeon, tapi karena ia ingin menyelamatkan semua orang.

Aku juga mengerti mengapa ibu Poong Yeon bersikap seperti itu. Bagi seorang ibu, puteranya adalah segalanya. Belum lagi suaminya terancam dihukum mati karena sudah melanggar perintah.

Cuma masa sih ya Hyun Seo dan Yo Gwang mati? Kalau Yo Gwang masih mungkin walau masih ngga rela hehe^^ Tapi Lee Sung Jae cuma muncul 4 episode kayanya ngga mungkin ya….apalagi dia juga ada di poster drama ini. Mudah-mudahan Hyun Seo tidak mati.

Oya satu lagi, akting mereka semua pada episode kali ini benar-benar terasa total. Terutama Kwak Shi Yang yang histeris melihat hantu dan Yoon Shi Yoon ketika mengira ibunya dipukuli sampai mati. Seratus jempol deh *pinjem jempolnya para pembaca yaaaa *