Jumat, 24 Juni 2016

Sinopsis Mirror of The Witch Episode 12


Hong Joo terkejut mendengar teriakan Yeon Hee sekaligus takjub melihat perubahannya. Namun ia mulai ketakutan ketika tiba-tiba tubuhnya terangkat melayang di udara dan tanpa daya tubuhnya melayang ke arah Yeon Hee.

Yeon Hee mencekik lehernya dengan penuh kemarahan. Ia teringat pada Hae Ran.

“Mati kau! Sihir hitam yang kaugunakan suatu hari nanti akan mencabut nyawamu. Tubuhmu akan tercabik-cabik dan menjadi makanan anjing. Kau akan mati tanpa meninggalkan jejak.”

“Jika kau membunuhku kau tidak akan pernah bisa mengangkat kutukanmu,” ujarnya dengan susah payah.

“Aku tidak peduli! Bagiku kaulah kutukannya!!” seru Seo Ri marah, “Kutukan yang dengan jahatnya, liciknya, dan menjijikkan yang tidak mau pergi dariku! Jadi matilah!! Aku akan membuatmu menghilang agar tidak bisa menggangguku lagi. Aku akan membunuhmu.”

Ia mengetatkan pegangannya. Hong Joo mulai kehabisan nafas.


“Seo Ri, kau tidak boleh membunuh!” seru Yo Gwang. Jika Yeon Hee membunuh Hong Joo maka semua lilin di tempat itu akan mati. Ia membujuk agar mereka menolong Jun lebih dulu.

Yeon Hee menangis melihat Jun yang masih terkapar tak sadarkan diri. Dengan sekuat tenaga ia melempar Hong Joo. Hong Joo membentur batang pohon lalu jatuh. Yo Gwang menggendong Jun dan mereka bertiga cepat-cepat keluar dari sana.

Hong Joo memerintahkan anak buahnya agar mengejar mereka.


Ibu Suri mendatangi Hyun Seo dengan buru-buru dan menyuruhnya pergi bersama para pasukannya ke tempat Yeon Hee. Ada apa, tanya Hyun Seo.

“Semalam Hong Joo membawa pasukannya meninggalkan istana. Puteri sudah pasti berada dalam bahaya,” kata Ibu Suri.

“Apa maksud kalian dengan Puteri?” tiba-tiba terdengar suara Raja Seonjo.

Ibu Suri tidak kehilangan ketenangannya dan bertanya kenapa Raja datang ke tempat ini. Raja berkata ia melihat Ibu Suri berjalan terburu-buru. Karena khawatir ia mengikuti Ibu Suri ke sini. Ia bertanya apa yang terjadi.

“Dan apa maksudnya dengan “puteri”? Apakah ada puteri lain yang tidak kuketahui?”

Ibu Suri berkata tentu saja setidaknya mereka harus memiliki puteri karena Raja belum memiliki keturunan. Ia berbohong sedang mendiskusikan perlu tidaknya mengadakan ritual untuk meminta keturunan keluarga kerajaan.

“Dan masalah ini yang membuat Ibu Suri tergesa-gesa?” sindir Raja.

“Apa lagi yang lebih penting dari ini? Bahkan kami mempertimbangkan untuk memilih selir.”

Raja berkata senjata Ibu Suri selalu penerus keturunan. Ia bahkan sudah menyerahkan urusan pemerintahan karena penyakitnya. Menurutnya keserakahan Ibu Suri tak ada batasnya.

Hyun Seo akhirnya angkat bicara. Ia meminta Ibu Suri tidak khawatir. Raja ditakdirkan memiliki banyak keturunan. Jika Raja sudah pulih, pasti bisa menjadi ayah. Ia akan membuat ritual untuk mendoakan kesehatan Raja.


Raja pura-pura tersenyum. Jika divisi shaman dan divisi tao begitu giat mendoakannya kenapa penyakitnya malah makin memburuk? Ibu Suri berkata penyakit Raja bahkan tidak bisa diobati tabib istana, jadi bagaimana bisa terjadi perubahan hanya dalam semalam?

Raja bertanya pada Hyun Seo apakah ritual yang dilakukan Hong Joo tidak berhasil karena Hong Joo kurang pintar.

“Atau ada hal lain? Seperti niat buruk, sabotase, dan semacamnya,” Raja menatap Hyun Seo tajam.

Hyun Seo berkata langit memberitahunya bahwa Hong Joo membawa awan hitam yang menutupi langit.

“Yang Mulia sudah dibutakan oleh rencana jahatnya dan menutup telinga. Karena itu para abdi yang setia meninggalkan Yang Mulia. Karena itu hamba akan menyingkirkannya. Hamba mendoakan dari lubuk hati yang terdalam.”

Raja nampak marah. Tapi lalu ia tersenyum.

“Poong Yeon benar-benar mirip denganmu. Tapi jika apa yang kaukatakan barusan bukanlah nasihat yang tulus, maka itu artinya kau sudah melawanku secara langsung. Terlebih lagi jika kau menusukku dari belakang, Ibu Suri yang berdiri di belakangku, juga harus membayar akibatnya.”


Yeon Hee membawa Jun bersembunyi di dalam sebuah gua. Jun masih tak sadarkan diri. Yo Gwang berkata belati Hong Joo hanya merusak jimat di dada Jun, jadi ia yakin Jun akan baik-baik saja.

Yeon Hee terus menangis dan menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Jun. Ia menyesal telah memberikan hatinya pada Jun. Semua karena dirinya. Ia meminta Yo Gwang pergi pada ayahnya untuk mencari jimat lain.

Tapi Yo Gwang ragu karena Yeon Hee tidak lagi terlindungi dan berada dalam bahaya. Yeon Hee tidak peduli. Yo Gwang setuju untuk pergi.


Sol Gae membawa Hong Joo yang terluka kembali ke markas mereka. Sol Gae menanyakan keadaan Hong Joo tapi Hong Joo marah karena Sol Gae tidak pergi mengejar Yeon Hee. 

Ia berkata jika Sol Gae mengkhawatirkannya maka seharusnya itu yang Sol Gae lakukan.
Sol Gae meminta maaf. Tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Hong Joo berkata ia akan mencari Yeon Hee sendiri. Tapi baru beberapa langkah, ia sudah jatuh pingsan.

Ibu Suri menyadari Raja sudah tahu mengenai Yeon Hee. Hyun Seo berkata seluruh negeri ini akan tahu keberadaan Yeon Hee jika mereka ceroboh mengerahkan pasukan. Ia meminta Ibu Suri kembali ke kediamannya dan ia akan mencari cara terbaik menangani situasi ini.

Ibu Suri yakin Raja akan menggunakan Yeon Hee untuk menekannya. Karena itu Yeon Hee tidak boleh tertangkap demi negeri ini dan demi dirinya sendiri.


Yo Gwang melaporkan pada Hyun Seo mengenai serangan Hong Joo. Mereka tidak tahu bagaimana Hong Joo tahu tentang kuil Chungbing. Ia juga menceritakan Jun ditikam oleh Hong Joo dan jimat itu rusak. Hong Joo terluka namun pasti akan kembali mengejar mereka.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Tuan Heo terkena kutukan dan Yeon Hee sendirian bersamanya. Tuan, kita harus pergi segera.”

Hyun Seo melihat tangannya yang semakin menghitam. Ia menyuruh Yo Gwang membawa Yeon Hee bersembunyi. Prioritas utama adalah membuat jimat dan mereka harus mencari tahu caranya.

Hyun Seo mengambil sebuah buku dan membacanya. Yo Gwang terkejut saat melihat apa yang Hyun Seo pelajari. Ia melarang Hyun Seo melakukannya karena sangat berbahaya.  Tapi Hyun Seo berkata ini jalan keluar terakhir.

Yo Gwang mengingatkan saat ini Hyun Seo sekarat. Hyu Seo berkata ini hal terakhir yang bisa ia lakukan. Ia akan melakukannya begitu ia mendapat kekuatannya kembali. Sementara itu ia menyuruh Yo Gwang membawa Yeon Hee terus bersembunyi dan meminta bantuan Poong Yeon.

Meski tidak setuju akhirnya Yo Gwang menyerah. Ia berkata Jun mengenal seseorang di daerah Banchon. Ia akan membawa Yeon Hee bersembunyi di sana.

Hyun Seo berpikir sejenak lalu menyuruh Yo Gwang membawakan ramuan Lupa untuknya.


Jun sudah sadarkan diri. Tapi keadaannya parah sama seperti Poong Yeon dulu. Ia memuntahkan darah dan melihat hantu di belakang Yeon Hee. Hantu yang sama yang menghantui Poong Yeon.

Jun gemetar ketakutan. Ia terus memalingkan wajahnya dan menutupi telinganya. Yeon Hee sangat sedih melihatnya. Ia tak tahan lagi dan beranjak pergi.

Tapi Jun memegang tangannya dan memohon agar Yeon Hee tidak pergi. Yeon Hee menangis lalu memeluk Jun.  Jun menangis sambil memeluk Yeon Hee erat-erat.


Saat itulah Poong Yeon datang dan melihat mereka. Ia memalingkan wajahnya. Ia datang karena dimintai bantuan oleh Yo Gwang.

Yo Gwang menghambur pada mereka. Yeon Hee bertanya mengenai jimat. Yo Gwang berkata Hyun Seo sedang mencari jalan keluar sementara mereka harus tetap bergerak.

Yeon Hee dan Yo Gwang membantu Jun berdiri. Tapi Jun terlalu takut mendengar suara roh-roh dan melihat hantu. Ia bahkan mendorong Yo Gwang yang mendekatinya. Melihat itu, Poong Yeon maju dan menggendong Jun.

Hyun Seo memikirkan tanda kutukan yang muncul pada Jun. Hanya pengorbanan cinta sejati yang bisa menyalakan lilin terakhir.


Yo Gwang membawa Jun dan Yeon Hee ke Banchon karena Soon Deuk pernah mengatakan ia tinggal di sana. Soon Deuk terkejut saat melihat Jun tidak seperti bisanya. Jun gemetar ketakutan seperti orang gila. Ia juga terkejut melihat Yeon Hee yang berambut putih.

Di luar, Poong Yeon bertanya apa yang akan terjadi pada Jun. Yo Gwang menjelaskan Jun akan menderita selama 15 hari lalu mati jika Yeon Hee tidak mengangkat kutukannya.

“Apakah itu yang dimaksud dengan kutukan Yeon Hee?” tanya Poong Yeon.

“Kutukannya adalah tak berdaya menyaksikan orang yang dicintainya mati. Sebelumnya kau selamat karena Yeon Hee terlindungi di dalam Kuil Chungbing.”

Poong Yeon bertanya apa tidak ada tempat lain seperti kuil Chungbing. Yo Gwang tidak tahu, mereka juga susah payah menemukan kuil tersebut.  Pong Yeon menghela nafas 
panjang. Ia berkata mereka akan sulit bergerak jika terus membawa Jun yang sakit. Ia menyarankan agar mereka meninggalkan Jun.

Yo Gwang keberatan meninggalkan Jun yang sedang sakit. Tapi Poong Yeon mengingatkan kalau Jun sulit berjalan. Jika membawanya maka Yeon Hee akan semakin berada dalam bahaya. Yo Gwang akhirnya setuju.

Yeon Hee muncul dari balik tembok. Ia mendengar percakapan mereka.


Soon Deuk komat-kamit membaca mantra entah mantra apa sambil membawa tasbih besar-besar. Rencananya sih mengusir setan. Ia mengira Jun kerasukan setan.

Jun mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Soon Deuk. Itu adalah gambar lambang Jubah Merah. Ia meminta Soon Deuk menyelidiki lambang itu berasal dari mana dan terkait dengan organisasi apa.


Yeon Hee berkata ia tidak membutuhkan bantuan Poong Yeon dan menyuruhnya pergi. Poong Yeon bertanya apa Yeon Hee marah karena ia tadi menyarankan untuk meninggalkan Jun. Yeon Hee berkata ia tidak mau Poong Yeon menjadi kejam hanya karena dirinya.

“Apakah pria itu begitu penting bagimu? Begitu penting hingga kau menyingkirkanku? Kau menganggap apa diriku?”

“Kakak yang sangat kurindukan. Kakak yang mengerti saat aku sedih. Ia berhati baik dan mengatakan semua orang memiliki alasan untuk dilahirkan.”

“Yeon Hee yang selama ini kucari adalah gadis baik yang selalu mempercayaiku dan memegang tanganku,” Poong Yeon menggenggam tangan Yeon Hee.

Tapi Yeon Hee menarik tangannya. Ia berkata Poong Yeon mencari gadis bodoh yang tidak tahu apa-apa sementara terkurung di Hutan Hitam. Seorang yang hanya mengandalkan kata-kata Poong Yeon untuk mengetahui dunia. Tapi anak itu tidak ada lagi.

Poong Yeon berkata Yeon Hee menjadi seperti ini karena kutukan itu. Meski ia harus membunuh semua orang yang menjadikan Yeon Hee seperti ini, ia akan mengembalikan Yeon Hee seperti semula. Yeon Hee meneteskan air mata kecewa lalu berpaling pergi meninggalkan Poong Yeon.


Dalam kemarahan, Poong Yeon menyerbu tempat Hong Joo. Sol Gae segera bersembunyi. Poong Yeon menghunus pedangnya pada Hong Joo.

Ia menyuruh Hong Joo memberitahu bagaimana cara mengembalikan Yeon Hee seperti dulu. Ia dengar Hong Joo yang menyebabkan kutukan itu. Ia tidak peduli pada kutukan tersebut. Ia hanya ingin Yeon Hee kembali.

“Aku sangat suka tatapan mata itu. Orang yang menyakiti perasaan orang lain tidak tahu bagaimana rasa sakit itu. Mereka juga tidak menyadari betapa kejamnya mereka,” kata Hong Joo.

Ia bertanya apa Poong Yeon pikir perasaan Yeon Hee akan kembali seperti dulu setelah membunuhnya.

“Tidak,  hatinya mungkin memang bukan milikmu sejak awal.” Ugh….angkat jempol deh buat Hong Joo kalau soal membaca hati seseorang >,<

“Sihir hitammu merusak semuanya. Yeon Hee berubah dan Raja dalam keadaan sekarang semua karena sihir hitammu yang jahat, bukan?”

“Aku mempelajari bagaimana menggunakan sihir hitam yang jahat ini karena ayahmu. Apa kau tidak tahu kalau aku dulu muridnya?”

Poong Yeon tidak percaya. Tapi Hong Joo bercerita kalau dulu ia hanya seorang dayang dan mengalami banyak kesulitan. Hanya Hyun Seo satu-satunya orang yang bisa ia andalkan.


Kilas balik:

Suatu hari Hong Joo berlari masuk ke tempat Hyun Seo dalam keadaan babak beluk dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Hyun Seo menolong dan merawatnya.

Setelah sadar, Hong Joo bercerita bagaimana ia diseret seperti binatang dan dipaksa mengandung keturunan raja. Tapi ketika rencana itu gagal, ia hendak dibunuh.

“Aku tidak akan membiarkan mereka. Aku akan membuat mereka membayar perbuatan mereka!”

Hyun Seo berkata ia mengerti perasaan Hong Joo. Tapi Hong Joo harus menyingkirkan kebenciannya agar bisa hidup dengan damai.

“Bagaimana bisa aku melakukannya? Aku bukan lagi seorang wanita maupun manusia,” Hong Joo menangis.

Hyun Seo berkata Hong Joo cukup berbakat. Tapi jika Hong Joo menyimpan dendam, kekuatan Hong Joo bisa beralih. Ia akan membantu Hong Joo memulai hidup yang baru.


Maka sejak itu Hong Joo menjadi murid Hyun Seo. Suatu ketika Hyun Seo mengajadrinya bagaimana membuat jimat. Untuk membuat jimat dibutuhkan banyak kekuatan mental dan fisik, juga harus melepaskan energi kehidupan. Akibatnya akan sulit untuk pulih setelah membuatnya.

Bukankah itu berbahaya, tanya Hong Joo. Apa ia harus mempelajarinya. Hyun Seo berkata sihir harus digunakan untuk tujuan baik. Jika tujuannya baik pasti Hong Joo akan rela mengeluarkan energi hidupnya.

Perhatian Hong Joo teralih pada sebuah kotak di rak buku Hyun Seo. Hyun Seo menegurnya karena tidak mendengar. Hong Joo berkata ia tidak mengerti mengapa ia harus mempelajar membuat jimat untuk orang lain. Ia belajar untuk melindungi dirinya sendiri, agar ia tidak disakiti lagi.

Hyun Seo berkata Hong Joo harus melepaskan keserakahan dan keegoisannya. Hong Joo bertanya bukankah ia belajar untuk bisa menjadi lebih hebat.

“Kebencian. Kemarahan. Dan iri hati adalah hal-hal yang paling berbahaya untuk perasaan seorang shaman. Jika kau belajar dengan perasaan seperti itu, berhentilah sekarang juga,” kata Hyun Seo marah.

Hong Joo bertanya apakah sihir juga bisa digunakan untuk memenangkan hati seseorang. Hyun Seo berkata perasaan yang diraih oleh sihir pastilah bukanlah perasaan yang sebenarnya.


Rasa penasaran Hong Joo pada kotak misterius itu tidak berhenti sampai di sana. Suatu hari ia hendak menyentuh kotak tersebut. Namun ia berhenti.

“Mereka mengambil semuanya dari padamu. Dan karena mareka kau tidak mendapatkan apapun lagi,” Hong Joo mendengar suara.

Hong Joo berpaling melihat kotak itu kembali. Asap hitam menyelimuti kunci kotak tersebut. Hong Joo mengulurkan tangannya. Tiba-tiba kotak itu terbuka dengan sendirinya. Di dalamnya berisi sebuah belati. Hong Joo mengambil belati tersebut.

Itu adalah belati yang menjadi senjata Hong Joo sampai sekarang. Belati yang ia berikan pada PM Sunhoe untuk menikam Yeon Hee. Belati yang ia gunakan untuk menusuk Jun.


Hong Joo berkata pada Poong Yeon bahwa bukan Hyun Seo yang mengajarinya sihir hitam. Tapi Hyun Seo merasa bersalah karena Hong Joo adalah muridnya, karena itu berusaha menghentikannya. Karena itu ia berakhir seperti ini.

“Kesedihan yang kaurasakan sekarang dan rasa putus asa yang lebih buruk bukanlah kesalahanmu. Kau hanya membayar kesalahan yang dilakukan ayahmu. Dan siapa yang mengabaikan perasaanmu? Itu adalah kesalahan mereka yang bersalah padamu. Jadi bencilah mereka. Lampiaskan kemarahanmu pada mereka. Setelah itu kau baru bisa melupakannya. Aku mengatakannya dengan tulus demi dirimu. Agar kau bisa bertahan hidup.”

Poong Yeon berkata jika semua ini adalah salah ayahnya maka ia akan memperbaiki semuanya untuk ayahnya.

“Jadi jangan mengatakan omong kosong padaku lagi.”

“Suatu hari nanti kau akan meminta bantuanmu,” kata Hong Joo.


 Setelah itu Poong Yeon mendatangi ayahnya. Ia bertanya sebagai pengawal kerajaan kenapa Hyun Seo menyelamatkan Yeon Hee. Hyun Seo bertanya apa yang sudah didengar Poong Yeon.

“Aku bertanya sebagai putera Ayah, kenapa Ayah tidak menghentikan Hong Joo. Kenapa Ayah menyelamatkan ia yang menggunakan sihir hitam.”

“Karena aku percaya bisa mengubahnya kembali menjadi baik,” kata Hyun Seo. Karena ia gurunya, ia berharap Hong Joo bisa bertobat.

Poong Yeon berkata jika ayahnya yang menyebabkan kutukan ini maka ia akan menuntut ayahnya membayar kejahatan tersebut. Jika Hyun Seo membahayakan Yeon Hee, apa yang harus ia lakukan? Bagaimana jika Hyun Seo masih tidak juga bisa menghukum Hong Joo?

“Jangan percaya pada ayah. Kau benar. Kutukan Yeon Hee adalah karena aku melepaskan Hong Joo. Alasan kau tidak bisa menerima Yeon Hee adalah karena ayah sudah membohongimu. Jadi, jangan percaya pada ayah.”

Poong Yeon berkata ia akan mengangkat kutukan Yeon Hee.


Ia pergi menghadap raja dan mengatakan ia tidak bisa melakukan perintah menangkap Yeon Hee. Raja sangat marah dan kecewa. Bukankah Poong Yeon akan menyerahkan nyawa untuknya?

Poong Yeon berkata ia akan menanggung kesalahan karena tidak menuruti perintah Raja tidak bisa menangkap puteri. Ia juga akan menanggung kesalahan ayahnya yang tidak membunuh puteri. Ia tidak berharap diampuni.

Raja melepaskan pedangnya sambil berteriak marah dan siap mengayunkannya. Tapi ia melempar pedangnya. Ia memecat Poong Yeon sebagai pengawal istana. Dan Poong Yeon juga bukan lagi sahabatnya. Raja mengusir Poong Yeon dan melarangnya masuk ke dalam istana lagi.

Poong Yeon memberi penghormatan yang terakhir dan meminta Raja menjaga kesehatannya. Lalu ia pergi. Raja sangat terpukul dengan kepergian orang yang paling dipercayainya.


Soon Deuk sibuk melempar garam untuk mengusir roh jahat. Ketika ia melihat Yo Gwang ia juga langsung melemparinya dengan garam. Ia berkata dua orang di dalam kerasukan setan tapi kenapa Yo Gwang baik-baik saja.

Yo Gwang menjelaskan kalau Yeon Hee dan Jun tidak kerasukan setan melainkan sakit. Tentu saja Soon Deuk tidak percaya. Penyakit apa yang seperti itu? Dan lagi mereka terlalu mencurigakan.

“Heo Jun difitnah dan diburu, tapi ada apa dengan kalian berdua?”

“Kami juga diburu oleh sesuatu yang sangat menakutkan. Jadi kumohon bantu kami agar kami bisa melarikan diri dari sini dengan selamat,” Yo Gwang menggenggam tangan Soon Deuk.

Tapi Soon Deuk lagi-lagi melemparinya dengan garam. Yo Gwang menangkap tangannya. Keduanya tak mau mengalah. Soon Deuk akhirnya bisa melepaskan diri dan kabur.


Hyun Seo tiba di tempat itu dan bertanya di mana Jun. Ia menanyakan apakah Yo Gwang membawa apa yang ia minta.

Hyun Seo menemui Jun dan bersimpati melihat penderitaannya. Ia menyodorkan sebotol ramuan. Ramuan Lupa.

“Kau lebih tahu mengenai ramuan ini daripadaku. Jika kau meminumnya, ingatanmu akan Yeon Hee lenyap dan bisa menyelamatkan nyawamu. Hanya ini satu-satunya cara agar kau bisa hidup.”

Jun bertanya apa Hyun Seo ingin ia melarikan diri seperti seorang pengecut. Tapi Hyun Seo berkata Yeon Hee akan menderita sendirian. Jadi ini bukan untuk Jun tapi untuk Yeon Hee.

Jun melirik botol itu. Akhirnya ia mengambilnya dan membukanya. Lalu membuangnya.

“Maafkan aku….tapi ingatan ini adalah ingatan berharga yang ditinggalkan Yeon Hee untukku. Aku tidak bisa melupakannya. Aku akan melakukan apapun untuk bertahan hidup dan melindunginya.”

Hyun Seo tak mengatakan apapun. Namun dalam hatinya ia menyadari perasaan tulus Jun pada Yeon Hee hingga rela memberikan nyawanya. Ia berharap Jun adalah orang yang akan menyalakan lilin ke-108.


Ketika ia keluar, ia bertemu dengan Yeon Hee. Ayah, panggil Yeon Hee. Hyun Seo membungkuk hormat.  Yeon Hee meminta ayahnya tidak bersikap seperti itu.

Hyun Seo berkata Hong Joo akan segera bergerak, jadi Yeon Hee harus melarikan diri sesegera mungkin. Yeon Hee menanyakan jimat. Hyun Seo akan membuatnya setelah Yeon Hee berhasil melarikan diri dari Hong Joo. Tapi Yeon Hee tidak yakin ada tempat yang aman. Ke mana pun ia pergi, Hong Joo akan mengejarnya.

“Aku akan menulis surat untuk Ibu Suri. Tolong sampaikan padanya.”

Hyun Seo menyerahkan surat Yeon Hee pada Ibu Suri. Ibu Suri bertanya apakah itu yang diinginkan Yeon Hee. Apa tidak terlalu berbahaya. Hyun Seo berkata sepertinya ini cara terbaik. Ibu Suri berkata ia akan membantu karena ini permintaan Yeon Hee.


Yeon Hee menggenggam tangan Jun. Jun bergurau ini adalah sikap tak pantas seorang gadis. Yeon Hee balas bergurau kalau Jun pria sejati hingga sanggup menahan diri.

“Cepat patahkan kutukanmu dan selamatkan aku,” kata Jun sambil tersenyum. “Karena kau sudah menggenggam tangan ini, jangan lepaskan.  Karena aku juga tidak ingin melepaskannya.”


“Besok aku akan pergi. Tidak ada lagi tempat kembali untukku.”

“Apa karena aku?”

Yeon Hee menggeleng.

“Agar aku bisa hidup. Agar aku bisa menemukan siapa diriku dan di mana tempatku.”

Jun berkata mereka berada di pihak yang sama. Ia harus menangkap Jubah Merah dan Yeon Hee menangkap Hong Joo yang menjadi dalangnya. Mereka adalah satu tim, jadi ia akan membiarkan Yeon Hee menjadi pemimpinnya.

“Dan karena kau menakutkan, aku akan menurut padamu. Jangan khawatirkan aku dan pergilah. Hanya jangan sampai kau terluka. Aku akan datang menemukanmu. Kita pasti bertemu lagi. Pasti.”

Yeon Hee tersenyum mengangguk.


Raja Seonjo memanggil Heo Ok untuk menghadap. Ia berkata sebagai pemimpin pengawal istana, Heo Ok pasti sudah siap untuk menyerahkan nyawa demi Raja. Tentu saja, jawab Heo Ok.

Raja menghunus pedangnya ke leher Heo Ok. Ia berkata beraninya Heo Ok menipunya. Heo Ok  ketakutan. Tergagap-gagap ia mengatakan kalau ia tidak tahu mayat itu palsu karena bentuk hidung dan telinganya sama.

“Bunuh aku…Bunuh aku, Yang Mulia!” seru Heo Ok.

“Karena kau yang memintanya, aku akan membunuhmu,” Raja mengayunkan pedangnya. Tapi ia berhenti begitu pedang itu menempel di leher Heo Ok. “Tapi jika kau mengabdikan hidupmu dan melakukan apa yang kuperintahkan, aku akan mempertimbangkannya lagi. Apa yang akan kaulakukan?”

Tentu saja Heo Ok berkata ia akan melakukan perintah Raja.

“Ikuti Choi Poong Yeon dan tangkap adiknya. Ia menolak membawa adik yang ia sayangi padaku. Jadi aku hanya bisa menangkapnya.”

Heo Ok berkata ia memiliki ide cemerlang. Kenapa Raja tidak mengeluarkan perintah kerajaan saja dan menjadikannya selir? Ia berhenti bicara saat melihat Raja menatapnya dengan tajam.  Tangkap dia sesuai perintahku, kata Raja.


Sol Gae mengikuti Poong Yeon dan bertanya Poong Yeon hendak ke mana. Poong Yeon berkata ia sudah mengabaikan perintah Raja jadi ia tidak akan lagi menghindari Yeon Hee. Heo Ok dan anak buahnya diam-diam mengikuti mereka.

Hong Joo mendapat laporan dari anak buahnya. Ia mengambil belatinya lalu pergi.

Poong Yeon melihat ada tandu di depan tempat Yeon Hee bersembunyi. Ia bertanya pada Yo Gwang bagaimana mereka bisa mendapatkannya. Yo Gwang ragu mengatakannya karena ada Sol Gae. Sol Gae berkata ia akan pergi melihat keadaan sekitar.

Yeon Hee bersiap untuk pergi. Ia ragu untuk mengucapkan selamat tinggal pada Jun. Di dalam, Jun duduk dengan sedih. Tiba-tiba ia mendengar suara Yeon Hee.

Jun membuka pintu dan melihat Yeon Hee diculik Jubah Merah. Ia berlari dan mendorong Si Jubah Merah sekuat tenaga. Jubah Merah melepaskan Yeon Hee. Jun berusaha sekuat-kuatnya memegangi Jubah Merah agar tidak bisa membawa Yeon Hee.


Tanpa sengaja ia memegang bagian tangan Sol Gae yang terluka. Sol Gae meronta dan memukul Jun dengan gagang pedang. Jun tetap tidak melepaskannya. Jubah Merah mengeluarkan pedangnya. Yeon Hee berteriak histeris.

Poong Yeon dan Yo Gwang berlari ke arah mereka. Jubah Merah langsung melarikan diri. Poong Yeon mengejarnya.

Jun melihat darah di tangannya. Itu bukan darahnya. Ia ingat siapa yang tangannya terluka baru-baru ini. Sol Gae.


Poong Yeon kembali karena kehilangan jejak Jubah Merah. Ia berkata mereka harus segera pergi. Ia sudah mendengar rencana mereka dari Yo Gwang. Ia akan menjaga Jun jadi mereka bisa segera pergi. Yeon Hee meninggalkan Jun dengan berat hati.

Heo Ok yang duduk  bersembunyi di depan sekilas melihat ketika Yeon Hee menaiki tandu. Ia juga sempat melihat Poong Yeon memapah Jun. Ia teringat pernah melihat Yeon Hee ketika Yeon Hee menghentikan Jun untuk membunuh Heo Ok. Ah, ini orang mah pasti mikirnya salah da >,< (pasti ia berpikir Jun melarikan gadis yang disukai Raja)


Hong Joo dan anak buahnya sempat melihat tandu Yeon Hee melintas. Mereka pun mengejar. Tapi ketika mereka akhirnya mencapai tandu tersebut, tandu itu kosong. Ibu Suri sudah menyiapkan tandu lain untuk mengalihkan perhatian.

Hong Joo sempat melihat dari kejauhan tandu Yeon Hee yang dikejarnya. Tapi pada saat bersamaan tandu Ibu Suri berjalan ke arahnya. Mau tidak mau Hong Joo menyapa Ibu Suri.

Ibu Suri bertanya kenapa Hong Joo ada di luar istana. Hong Joo bertanya apa Ibu Suri menyembunyikan puteri.

“Puteri? Maksudmu puteri yang kaubilang sudah mati?”

“Apa Yang Mulia sedang melawanku lagi?”

“Bukankah aku sudah mengalah padamu? Meski kau berbohong mengatakan puteri sudah mati, aku tidak mempermasalahkannya.”

Hong Joo berkata ia sudah mengganggu perjalanan Ibu Suri dan mempersilakannya melanjutkan perjalanan. Ibu Suri berkata ia tidak sedang buru-buru. Setelah melihat puteranya ia jadi teringat suaminya, jadi ia akan pergi ke makam suaminya.

“Apa kau mau ikut denganku?”

“Ada masalah darurat yang harus kuurus,” ujar Hong Joo tak sabar.

Ibu Suri bertanya apakah itu sangat penting hingga Hong Joo berani menolak ajakannya. Hong Joo beralasan ini menyangkut Seongsucheong. Penting baginya tapi tidak  penting untuk diketahui Ibu Suri.

Ibu Suri akhirnya melanjutkan perjalanan sambil tersenyum penuh arti.


Yeon Hee dalam perjalanan menuju istana. Itu yang ia tuliskan dalam suratnya dan ia sampaikan pada ayahnya.

“Tempat yang paling berbahaya terkadang merupakan tempat teraman. Aku tidak bisa terus melarikan diri. Aku akan membuat mereka tak bisa mengejarku lagi.”

Hyun Seo menghela nafas panjang. Ia berkata ketika ia diangkat menjadi pemimpin divisi Tao, ia bertekad di dalam hatinya untuk melindungi negeri ini dengan nyawanya. Dan ia membuat jimat untuk Yeon Hee berdasarkan keyakinan tersebut.

“Jadi meski sesuatu yang buruk terjadi padaku, Puteri tidak boleh goyah oleh perasaan bersalah.”

“Apa maksud Ayah? Jika nyawa Ayah terancam untuk membuat jimat itu, aku tidak membutuhkannya.”

Hyun Seo menenangkannya bahwa pekerjaan itu berbahaya karena itu ia memperingatkan dari awal.

“Jangan takut, Yang Mulia Puteri. Begitu jimat itu terbentuk, segera pergi pada Ibu Suri. Beliau akan membantumu.”

“Ayah….” Kata Yeon Hee khawatir.

Akhirnya Hyun Seo tersenyum. Ia merasa lega karena Yeon Hee sekarang begitu berani.


Saat Yeon Hee tiba di istana, Hyun Seo sudah menantinya di atas sebuah altar dikelilingi rangkaian jimat. Hong Joo merasakan sesuatu saat ia dalam perjalanan kembali ke istana.

Yeon Hee di altar seberang altar Hyun Seo. Hyun Seo mulai menjalankan ritual. Ia men-transfer energi kehidupannya pada Yeon Hee. Yeon Hee khawatir melihat keadaan ayahnya yang tampak bersusah payah. Air matanya mengalir.

Tanda biru jimat bersinar di keningnya. Matanya berubah biru. Jimat itu sudah terbentuk.

Poong Yeon menunggui Jun yang sedang tidur. Ia melihat tanda kutukan di leher Jun menghilang.


Hong Joo tiba di istana dan langsung ke tempat Hyun Seo. Ia menemukan Hyun Seo terduduk lemas di lantai. Ia langsung menanyakan Yeon Hee.

“Dia adalah Yang Mulia Puteri, jangan berbicara dengan tidak sopan,” ujar Hyun Seo lirih.
Hong Joo terkejut melihat tangan Hyun Seo yang memerah.

“Kau mempertaruhkan nyawamu untuk hal yang sia-sia!”

“Aku tidak menyesalinya. Kau tidak pernah mempertaruhkan hidupmu untuk melindungi seseorang, jadi kau tidak akan pernah mengerti,” Hyun Seo terbatuk-batuk dan nafasnya terengah-engah.

Hong Joo berkata bukankah ia sudah mengatakan Hyun Seo akan membusuk. Ia meminta Hyun Seo mengulurkan tangannya, ia akan menyelamatkannya.

“Aku lebih mati.”

“Sepertinya sudah takdirku untuk melihatmu mati.”

“Aku menyesal telah membiarkanmu hidup,” Hyun Seo memuntahkan darah lalu menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Hong Joo.


Hong Joo menangis. Ia mengambil belatinya.

“Kau tahu ikatan darah bukan? Takdir terikat darah…” Ia mengiris telapak tangan Hyun Seo hingga mengeluarkan darah lalu mengiris telapak tangannya sendiri, kemudian menempelkannya. Asap hitam menyelimuti kedua tangan mereka.

Mata Hyun Seo kembali terbuka. Namun warnanya berubah mengerikan.

“Mulai sekarang kau dan aku menjadi satu sampai kita mati…”


Jun yang telah pulih kembali ke kuil Chungbing. Ia membuat obat menggunakan bahan yang ditinggalkan Yeon Hee. Lalu ia pergi menemui Soon Deuk.

Soon Deuk berkata lambang itu adalah lambang untuk anak-anak pengemis Amsagol. Simbol itu banyak terdapat di bahu anak-anak perempuan. Anak-anak perempuan tersebut diculik, dibiarkan memohon untuk makanan, dan setelah mencapai usia tertentu, mereka dijual ke rumah gisaeng. Ia bertanya apa yang akan dilakukan Jun sekarang.

“Kecurigaanku sudah terbukti jadi aku akan memeriksanya sekarang apakah orang yang menemukan kuil Chungbing dan desa Banchon adalah perempuan itu.”


Jun mencegat Sol Gae di depan rumah Poong Yeon. Ia memegang bahu Sol Gae dan berkata ia datang untuk berterima kasih. Sol Gae menepis tangan Jun.

Jun mengacungkan bungkusan obat di tangannya. Ia berkata itu hadiah untuk Sol Gae karena tangan Sol Gae terluka. Waktu kecil ia sering dipukuli jadi ia tahu obat yang paling manjur.

“Aku berencana untuk membuatkannya tapi kami diserang setelah kedatangan kalian ke kuil Chungbing. Maaf terlambat.”

Sol Gae berkata ia tidak membutuhkannya dan berjalan pergi. Jun menghentikan Sol Gae dengan memegang bagian tangan Sol Gae yang terluka. Sol Gae berusaha menahan diri untuk tidak mengernyit kesakitan.

“Aku tahu kau terluka. Aku tidak bisa membiarkannya terinfeski,” kata Jun serius.


Yo Gwang pergi menemui Hyun Seo dan menanyakan keadaannya. Tiba-tiba Hyun Seo berbalik dengan mata bersinar mengerikan dan tersenyum jahat. Ia menghunus pedangnya ke leher Yo Gwang dan bertanya di mana puteri. Tuan, kata Yo Gwang ketakutan.


Hong Joo kembali ke Seongsucheong. Ia yakin Yeon Hee sudah meninggalkan ibukota. Jika mereka tidak bisa menemukannya, mereka harus memancingnya keluar. Tiba-tiba ia berhenti. Yeon Hee berdiri di hadapannya.

Yeon Hee membalikkan tubuhnya menatap Hong Joo. Rambutnya sudah kembali hitam seperti semula. Hong Joo tersenyum takjub. Yeon Hee tersenyum.


Komentar:

Ugh…akhirnya yang dikhawatirkan terjadi juga. Hyun Seo menjadi mayat hidup dan di bawah kendali Hong Joo. Tapi setidaknya ia sudah memberikan perlindungan terakhir untuk Yeon Hee.

Kuharap dengan jimat yang berada dalam tubuh Yeon Hee sendiri, Yeon Hee bisa mengendalikan kutukannya. Memang tidak mudah karena jika kutukannya aktif maka Jun akan terkena, tapi setidaknya bisa berguna untuk melawan Hong Joo.

Kita juga akhirnya mengetahui masa lalu Hong Joo yang pahit. Sayangnya kebencian dan dendam terlalu menguasai dirinya. Karena itu aku khawatir dengan Pong Yeon yang tampaknya belum bisa meredam emosinya. Apalagi ia mengetahui Yeon Hee memberikan hatinya untuk Jun.

Sebenarnya perkataan Hong Joo ada benarnya. Apakah Yeon Hee akan kembali meski kutukannya berhasil diangkat? Poong Yeon sendiri seharusnya tahu kalau cinta tidak bisa dipaksakan. Ia sendiri bertahun-tahun tidak bisa melepaskan perasaannya pada Yeon Hee meski orangtuanya terus melarangnya.

Aku menyukai hubungan yang terbangun antara Jun dan Yeon Hee. Inilah yang semakin membedakan Jun dan Poong Yeon. Jun tidak melarang ketika Yeon Hee memutuskan untuk pergi. Ia tetap memberikan dukungannya dengan sepenuh hati.


Ada yang mengatakan hubungan Yeon Hee dan Hong Joo seperti Harry Potter dan Voldemort. Hehe…kurasa ada benarnya juga ya…Keduanya saling terkait dengan sihir^^